|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
Akar Terorisme Islam
http://www.prophetofdoom.net/rot_part1.html
Akar Terorisme Islam
Bagian 1
Abul Kasem
e-mail:
abul88@hotmail.com
Peringatan: essay ini
terbagi dalam 20 bagian; isinya mungkin dapat membuat sebagian pembaca
tersinggung. Penulis tidak bertanggung jawab jika ada pembaca yang
merasa marah, tersinggung, terganggu atau terhina setelah membaca serial
ini. Anda telah diperingatkan. Silakan terus baca, resiko tanggung
sendiri.
‘Mereka bilang
kami teroris? Mereka betul — tentu saja kami teroris. Ini memang mata
pencaharian kami’—Khalid Shaikh Muhammad
Garis Besar
Artikel ini menyelidiki penerapan taktik teror yang digunakan sekitar
1.400 tahun yang lalu oleh para Jihadis Islam pertama untuk merampas
barang jarahan dan jadi cepat kaya melalui perampokan. Tujuan utama esay
ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan langsung antara Modus
Operandi para Jihadis (baca teroris Islam) di jaman Muhammad dan Jihadis
jaman sekarang.
Ada 100 kasus pertempuran
bersenjata yang diselidiki sebabnya, waktunya, tempatnya dan orang2 yang
terlibat. Hasil detail penyelidikan ini ternyata sangat mengganggu
perasaan, membuat orang jadi tercenung. Dari hasil ini tampak jelas,
tanpa keraguan sedikit pun, kesamaan yang menggiriskan antara pejuang2
Islam di jaman Muhammad dan di jaman ini. Hampir semua kasus
pertempuran, terkecuali dua atau tiga, terjadi karena serangan2 teroris
agresif oleh prajurit2 Muslim. Jihadis Islamlah yang selalu memulai
penyerangan, di banyak kasus tanpa ada alasan atau gangguan yang nyata.
Serangan teror yang dilakukan prajurit Muslim dengan buas ini termasuk
pembantaian, pemusnahan ras, pengusiran ras, pembunuhan atas balas
dendam, pembunuhan karena alasan politik, dan di banyak kasus,
semata-mata perampokan dan penjarahan belaka. Muhmmad melakukan
serangkaian teror dan penjarahan untuk menghadiahi pengikut2nya dengan
barang2 jarahan yang mudah dirampas seperti tanah, harta benda, wanita,
budak. Kegiatan teror dan perampokan ini membuat para Jihadis itu kaya,
dapat membiayai sendiri dan ini sangat penting bagi berdirinya kekuasaan
Islam di seluruh Jazirah Arabia. Jangan salah mengerti akan hal ini.
Kebanyakan penulis biografi Muhammad menulis laporan panjang tentang
perang2 yang terkenal antara prajurit Muslim dan prajurit2 non-Muslim.
Perang2 besar ini berjumlah sekitar tiga belas dan semuanya ditulis
dengan lengkap oleh ahli2 sejarah. Akan tetapi, justru pertempuran2 yang
kecil yang merupakan kejadian2 yang paling penting untuk mengungkapkan
seberapa besar kebuasan, kekejaman, sifat barbar, keserakahan tanpa
batas, penjarahan, kelicikian dan nafsu seks yang tak terpuaskan dari
orang2 Islam baru. Ini adalah penemuan yang mengejutkan dan tadinya
dirahasiakan baik2 diantara orang2 Islam. Sebenarnya agak menyedihkan
kalau diingat hanya sedikit sekali ahli sejarah yang berusaha
menyelidiki detail dari kegiatan2 teror yang “kecil” dan “tak penting”
ini.
Banyak hukum Sharia yang kejam ditulis berdasarkan contoh2 yang
ditetapkan Muhammad dan pengikutnya selama melakukan serangkaian perang
dan teror berdarah. Banyak ayat2 Qur’an yang berhubungan dengan
kejadian2 perang ini. Sejak keberadaan hukum Sharia dan Qur’an adalah
mutlak dan utuh untuk selamanya, maka tidak ada harapan isinya dirubah
agar kelihatan lebih damai.
Artikel panjang ini berdasarkan keterangan yang dikumpulkan dari
berbagai sumber informasi Islam yang sempurna. Tapi, pertama-tama,
tentunya kiita musti sadar bahwa informasi “sempurna” ini telah
disensor, disaring, dibersihkan, dicucihamakan dengan teliti dan segala
elemen yang ‘jelek’ atau ‘mengerikan’, telah dibuang sebisa mungkin
sebelum dipublikasikan untuk umum. Meskipun begitu, kita tetap saja
menemukan informasi/kejadian yang mengejutkan, sukar dipercaya, dan
barbarik yang tersembunyi dalam2 di buku2 Islam yang autentik. Jika
kebebasan informasi diterapkan dan tidak ada sensor dalam terjemahan
informasi Islam bahasa Inggris, bayangkan bagaimana isinya yang asli.
Penemuan yang menyeramkan dalam penyelidikan ini ditemukan di kumpulan
Hadis Sahih yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang membuat Islam
benar2 tampak sebagai agama penuh teror dan orang2 Bedouin memang benar2
barbar. Untuk benar2 dapat informasi lengkap, orang harus baca Hadis
Sahih dalam bahasa Arab asli dan dalam bahasa Inggris. Upaya2 bedah
plastik di buku2 Islam yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris merupakan
cara cerdik para ‘dokter’ Islam untuk menipu dunia tentang isi Islam
yang sebenarnya karena semua orang sangat ragu untuk percaya bahwa Islam
adalah agama damai.
Pada akhirnya, penelitian ini membawa penulis pada kesimpulan bahwa
Islam dan terorisme tidak dapat dipisahkan. Akar teror a la Islam memang
adalah inti ajaran Islam. Perintah ini tertanam dalam2 di khotbah,
perintah, keputusan, inspirasi, praktek dan contoh2 yang dilakukan oleh
Muhammad dan juga para pengikutnya jaman ini, yang hidup dengan pedang
menyebar teror dan menggunakannya sebagai senjata yang paling manjur
untuk menundukkan musuh yang merintangi usahanya. Jika seorang Muslim
mengikuti “Islam Sejati”, yang tidak disensor, asli Islam yang
dikhotbahkan dan dipraktekkan oleh Muhammad, orang itu tidak bisa tidak
akan jadi teroris.
B I B L I O G R A P H Y
Tidak seperti tulisan lain yang umumnya meletakkan bibliografi di bagian
belakang, aku ingin meletakkan bibliografi di depan esay ini. Ini untuk
memudahkan para pembaca. Pembaca yang serius harus dapat melihat
bibliografi dengan mudah untuk memeriksa langsung dan memastikan.
“The Holy Qur’an,” the internet version of three English translations
can be read at:
http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/]
Ali, Abdullah, Yusuf, “The Holy Qur’an: Translation and Commentary,”
Amana Corp., Brentwood, Maryland, 1983.
“The Holy Qur’an,” translated by Maulana Sher Ali, Islam International
Publications Ltd., Telford, Surrey, U.K., 1997.
“The Koran, “ Penguin Classic (1956), translated by N.J. Dawood, Penguin
Books, London reprint, 1999.
“The Koran,” translated by J.M. Rodwell; first published in 1909;
reissued by Phoenix Press, London, 1994.
Pickthall, Mohammad Marmaduke, “The Meaning of the Glorious Koran,
Translation and Explanation”; reprinted by Adam Publishers &
Distributors, New Delhi, India, 1996.
al-Hilali, Muhammad Taqi-ud-Din(Dr.) and Dr. Muhammad Muhsin Khan, “The
Noble Qur’an Transliteration in Roman Script And English Translation of
the Meanings,” Darussalam Publishers, Riyadh, Saudi Arabia, 1996. [The
internet version of the English translation by these two modern
translators can be read at: [
http://www.witness-pioneer.org/vil/ ]
Makhlaf, Ash-Shaikh Hasnain Muhammad, “Kalimatul Qur’an,” translated by
Duraid & Faiz Fatouhi, Kitab Bhavan, 1784 Kalam Mahal, Daraya Ganj, New
Delhi, 2nd. ed. 2002.
Abu Dawud, Sulayman b. al-Ash’ath, “Al-Sunaan,” a collection of Hadith,
translated in English by Prof. Ahmad Hasan:
[http://www.luc.edu/orgs/msa/abudawud/index.htm ]
al-Bukhari, Muhammad b. Ismail b al-Mughira, “Sahi al-Bukhari,”
translated in English by Dr. Muhammad Muhsin Khan:
[http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/ ]
Muslim, Abu al-Hussain b. al-Hajjaj al-Qushairi, “Sahi Muslim,”
translated in English by Adul Hamid Siddiqui:
[http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/ ]
Malik, ibn Anas ibn Malik, Abdullah al-Asbahi al-Himyari, “Muwatta,”
translated in English by A’sha Abdurrahman at-Tarjumana and Ya’qub
Johnson: [http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muwatta/
]
Ibn Ishaq, Muhammad b. Yasr, “Sirat Rasul Allah,” translated in English
by A. Guillaume; first published by Oxford University Press, London in
1955; fifteenth reprint by Oxford University Press, Karachi, Pakistan,
2001.
al-Mubarakpuri, Saifur Sahman, ”The Sealed Nectar (Ar-Raheeq
al-Makhtum),” revised edition; translated in English from Arabic by
Mahir Abu Dhahab, Darussalam Publishers, Riyadh, Saudi Arabia, 2002. [An
older edition of this book can be read online at:
http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/SM_tsn/index.htm ]
Ibn Sa’d, Abu Abd Allah Muhammad, “Kitab al-Tabaqat,” vol ii, translated
in English by S. Moinul Haq, Kitab Bhavan; 1784, Kalan Mahal, Daraya
Ganj, New Delhi, India, 1972.
al-Tabari, Abu Ja’far Muhammad b. Jarir, “Muhammad at Mecca,” vol. vi,
translated and annotated by W. Montgomery Watt and M.V. McDonald, State
University of New York Press, Albany, 1988.
al-Tabari, Abu Ja’far Muhammad b. Jarir, “The Foundation of the
Community, Muhammad at al-Medina,” vol. vii, translated and annotated by
M.V. McDonald and W. Montgomery Watt, State University of New York
Press, Albany, 1987.
al-Tabari, Abu Ja’far Muhammad b. Jarir, “The Victory of Islam,” vol.
viii, translated by Michael Fishbein, State University of New York
Press, Albany, 1997.
al-Tabari, Abu Ja’far Muhammad b. Jarir, “The Last Years of the
Prophet,” vol. ix, translated by Ismail K. Poonwala, , State University
of New York Press, Albany, 1990.
Rodinson, Maxine, “Muhammad,” translated from French by Anne Carter;
first published in 1971; The New York Press publication, 2002,
Muir, William, “Life of Mahomet” in four volumes, Smith, Elater & Co.
London, 1861: [http://www.answering-islam.org/Books/Muir/index.htm ]
Haykal, Muhammad Hussain, “The Life of Muhammad,” translated by
Isma’il Razi A. al-Faruqi:
[http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/MH_LM/default.htm ]
Dashti, Ali, “23 Years: A Study in the Prophetic Career of Mohammad,”
translated from Persian by F.R.C. Bagley, Mazda Publishers, Costa Masa,
California, 1994.
Hamidullah, Muhammad, “The Battlefields of The Prophet Muhammad,” 3rd.
ed., Kitab Bhavan; 1784, Kalan Mahal, Daraya Ganj, New Delhi, India,
4th., reprint, 1992.
Hughes, Patrick Thomas, “A Dictionary of Islam;” first published in
1886; latest reprint by Kazi Publications Inc,, Chicago, 1994.
Ibn al-Kalbi, Hisham, “The Book of Idols (Kitab Al-Asnam),” translated
in English by Nabih Amin Faris, Princeton University Press, 1952.
[http://www.answering-islam.org/Books/Al-Kalbi/index.htm ]
al-Misri, Ahmed ibn Naqib, “Raliance of the Traveller (‘Umdat
al-Salik),” revised edition, translated by Nuh Ha Mim Keller, Amana
Publications, Bettsville, Maryland, 1999.
Hamilton, Charles, “Hedaya,” translated in English in 1870 from the
Persian version; reprinted by Kitab Bhavan, 1784 Kalan Mahal, Daraya
Ganj, New Delhi, 1994.
Doi, Abdur Rahman I.,” Shari’ah: The Islamic Law;” first published
in London, in1984; Malaysia reprint by A.S. Noordin, G.P.O. Box No.
10066, 50704, Kuala Lumpur, 1998.
Fouda, Yosri and Nick Fielding, “Masterminds of Teror,” Penguin Books,
Australia, 2003.
KATA PEMBUKA
Dunia dengan cepat terbiasa dengan istilah ‘Teror Islam.’ Ini adalah
jenis baru terorisme di seluruh dunia. Karena para Jihadis, bom bunuh
diri, Hamas, Hezbollah, Al-Qaeda, Lashkar-e-Taiba, Jaishe Muhammad,
Islamists, Mullahs, Maulanas, Pirs, Hijabi Women— Islam saat ini
mendominasi setiap media berita di mana pun di dunia. Cepat atau lambat,
kata ‘Teror Islam’ akan termasuk dalam benda hara perkataan Inggris.
Dengan adanya kesadaran akan Islam ini , pertanyaan yang muncul adalah:
Apakah teror gaya Islam adalah sesuatu yang baru atau apakah ini adalah
hasil perjuangan Jihadis awal seperti yang diajarkan dan dipraktekkan
oleh Muhammad? Tanyakan hal ini pada Islam apologis manapun dan jawabnya
pasti adalah: Islam adalah agama damai, tidak pernah menganjurkan
kekerasan, ‘terorisme’-lah yang menggunakan nama Islam; Osama bin Laden
dan para Jihadisnya telah membajak Islam dan mereka bukanlah Muslim
sejati, para pembom bunuh diri tidak mewakili ajaran Islam yang
sebenarnya .. dan seterusnya dan seterusnya.
Di artikel yang rinci ini, dengan menampakan sifat ‘asli’ Islam yang
sebenarnya, aku bermaksud menghancurkan konsep pemikiran para Islamis di
atas. Karena Islam berakar kuat pada masa lampau, maka untuk mencari
akar terjadinya ‘kekacauan’ yang banyak dilakukan para pejuang Islam
saat ini, kita harus memeriksa kejadian2, perbuatan2, perilaku
berdasarkan filosofi dan agama di masa lampau pula oleh para Jihadis
awal di bawah pimpinan Muhammad, sang Rasul Allah. Saat kita terus
menelaah, kita harus tahu bahwa tidak ada yang disebut sebagai ‘moderat
Islam,’ ‘Islam masa kini’ atau ‘Islam masa depan.’ Kejadian2 1.400 tahun
yang lalulah yang menggerakan semua Muslim waktu lampau, membayangi dan
mendorong semua Muslim masa kini dan hal ini akan terus berlangsung di
masa depan. Kita harus melihat ke belakang, dan bukannya ke depan, untuk
mencari kebenaran tentang Islam. Sama seperti pohon yang hidup dan terus
tumbuh karena akarnya dengan kuat tertanam di bawah tanah – dan akar ini
tak tampak dari permukaan, begitu pula dengan Islam. Terorisme berakar
kuat dalam doktrin yang sangat megah di dunia Islam yang dibayangkan
Muhammad. Penggunaan taktik teror ini bukanlah hal yang baru dalam
Islam, dan ini adalah sumber hidup yang digunakan Muhammad untuk
memaksakan konsepnya akan terwujudnya satu dunia di bawah Islam yang
hanya menyembah satu Tuhan, yakni Allah. Di laporan panjang ini, aku
telah mencatat serentetan kejadian teror, pembunuhan, penipuan,
kebohongan, dan perang yang digunakan untuk memelihara, memajukan dan
mengembangkan intisari Islam: masuk Islam, bayar upeti (Jizya) atau
mati. Banyak pembaca yang akan kaget dan tidak percaya. Kebanyakan
Muslim akan merasa terganggu, marah, frustasi dan tentu akan menyangkal
sekuat tenaga. Bagi semua pembaca aku ingin katakan bahwa aku pun
mengalami semua tahapan perasaan ini. Waktu aku benar2 menelaah Islam
dengan serius di tahun2 pertumbuhanku, aku mulai benar2 mengerti
doktrinya dan kekuatan hidupnya. Sungguh sukar kupercaya orang yang
mengaku sebagai utusan Allah dapat menuruti hawa nafsunya sendiri, dan
juga memerintahkan pengikutnya untuk melakukan pembunuhan membabibuta,
menjarah, merampok, menyiksa dan memperkosa. Pada saat Anda membaca
episod demi episod terorisme Islam awal, Anda akan menemukan persamaan
dengan terorisme global jaman modern yang dilakukan para Jihadis saat
ini. Anda pasti akan menemukan semua unsur operasi teroris jaman
sekarang yang sama seperti seribu tahun lalu. Unsur2 ini adalah:
Penyiksaan dan pembunuhan orang2 yang tak mau menganut (Islam)
Penjarahan dan pembersihan ras
Pembunuhan karena alasan politis dan pembunuhan karena balas dendam
Pembunuhan serampangan dan pembantaian rasial
Perampasan harta benda dan pemerkosaan
Pemaksaan untuk memeluk agama Islam atau bayar Jizya
Penindasan aliran lain (penghancuran mesjid2)
Mari kita sekarang menyelidiki sejarah Islam untuk mengetahui bagaimana
dan mengapa para Jihadis awal berbuat begitu.
Benih teror a la gaya Islam ditanam ketika Muhammad menandatangani
perjanjian dengan tujuh puluh lima (73 pria dan 2 wanita) Ansar
(penduduk kota Medina) yang disebut sebagai sumpah kedua Aqaba. Aqaba
adalah sebuah gua kecil di perbatasan Mekah. Perjanjian ini dibuat
secara rahasia untuk melindungi nyawa Muhammad saat dia ingin hijrah ke
Medina. Dalam proses tawar2an, Muhammad minta sumpah tulus dari para
Ansar untuk melindungi kaum wanita dan anak2 Muslim. Ketika orang2 Ansar
bersumpah setia pada Muhammad, sampai bersedia untuk mengorbankan nyawa
mereka untuk melindunginya, Muhammad menjanjikan darah orang2 Mekah dan
surga bagi orang2 Ansar. Seperti yang dikisahkan Ibn Ishak[ii], Muhammad
berkata pada orang2 Ansar: “Tidak, darah adalah darah dan darah yang tak
dibayarkan adalah darah yang tidak dibayarkan. Aku bagian dari kalian
dan kalian adalah bagian dariku. Aku akan berperang melawan mereka yang
berperang terhadapmu dan akan berdamai dengan mereka yang berdamai
denganmu.”
Tabari[iii] menulis saat melakukan sumpah Aqaba, al-Abbas dan Ubadah b.
Nadlah berkata bahwa sumpah setia pada Muhammad merupakan pernyataan
perang terhadap dunia. Tak lama setelah sumpah kedua Aqaba, Allah
merestui pernyataan perang terhadap orang2 yang tak percaya, pertama di
ayat 22:40-42 dan lalu di ayat 2:198.
Dan seperti yang dia janjikan, hari2 Muhammad yang penuh darah dan teror
mulai tak lama setelah dia meninggalkan Mekah dengan sejumlah
pengikutnya tiba di Medina. Kecuali beberapa, para pengikut ini adalah
orang2 yang para penjahat dan pengacau yang sangat miskin dan buta huruf
tanpa kemampuan untuk mencari nafkah untuk bisa menghidupi dirinya.
Banyak dari pengikutnya yang hidup dalam keadaan yang sangat kotor
sampai2 kepala mereka berkutu dan badan mereka sangat bau. Ini Hadis
dari Sunan Abu Dawud tentang bau badan aduhai para pengikut awal
Muhammad:
Hadis dari Sunan Abu Dawud Buku 32, Nomer 4022:
Dikisahkan oleh AbuMusa al-Ash'ari:
Abu Burdah berkata: Ayahku berkata padaku: Anakku, jika kau melihat
keadaan kami ketika bersama Rasul Allah dan hujuan lalu turun ke atas
kami, kamu pasti menduga bau badan kami seperti bau domba.
Bahkan Muhammad, sang Rasul Allah juga berkutu di kepalanya! Sungguh
sukar dipercaya, bukan? Bacalah di Hadis Sahih Bukhari
Hadis Sahih Bukhari Volume 4, Buku 52, Nomer 47:
Dikisahkan oleh Anas bin Malik:
Rasul Allah biasa mendatangi Um-Haram bint Milhan yang kemudian
menawarkan makanan baginya. Um-Haram adalah istri Ubada bin As-Samit.
Rasul Allah suatu waktu mengunjunginya dan dia menyediakan makanan
baginya dan mulai mencari kutu di kepalanya. Lalu Rasul Allah tidur, dan
lalu bangun sambil tersenyum. Um-Haram bertanya, “Apa yang membuatmu
tersenyum, O Rasul Allah?” Dia berkata, “(Dalam mimpi) beberapa
pengikutku tampak di hadapanku sebagai pejuang2 bagi Allah berada di
atas kapal di tengah laut dan ini membuatku tersenyum, mereka bagaikan
raja2 di atas singgasana.” Um-Haram berkata,”O, Rasul Allah! Mohonlah
pada Allah agar aku termasuk salah satu dari para pejuang itu.” Rasul
Allah memohon Allah baginya dan lalu tidur lagi dan bangun sambil
tersenyum. Sekali lagi Um-Haram bertanya,”Apa yang membuatmu tersenyum,
O Rasul Allah?” Dia menjawab,”Beberapa pengikutku tampak di hadapanku
sebagai pejuang2 bagi Allah,’ katanya mengulangi mimpi yang sama.
Um-Haram berkata,”O Rasul Allah! Mohonlah pada Allah agar aku termasuk
salah satu dari para pejuang itu.” Rasul berkata,”Kau adalah diantara
mereka yang pertama.” Lalu suatu saat Um-Haram berlayar di laut di masa
Kalifah Mu'awlya bin Abi Sufyan, dan setelah dia turun dari kapal, dia
terjatuh dari binatang tunggangannya dan lalu mati.
Dua hal penting dalam hidup Muhammad tampak jelas di Hadis di atas.
Pertama, dia tidak hidup bersih, jarang mandi sehingga kutu2 bersarang
di kepalanya. Kedua, dia akrab dengan istri orang. Bagaimana mungkin
seorang wanita bisa menyentuh kepala seorang pria untuk mencari kutunya
jika wanita itu tidak akrab dan hangat dengannya? Dalam hukum Islam
melirik wanita asing saja sudah dianggap haram, apalagi disentuh wanita
itu. Aku persilakan pembaca untuk merenungkan perilaku moral Muhammad
terhadap istri orang dalam Hadis ini dan membandingkannya dengan hukum
moral Islam yang dia sendiri tentukan.
Sekarang kembali pada para pengikut Muhammad. Yah, memang hampir semua
pengikut2 Muhammad bau domba! Muhammad membawa mereka ke Medinah untuk
mencarikan pekerjaan bagi mereka, tapi tidak ada yang mau memperkerjakan
orang2 yang bau, miskin, dan tak berpendidikan ini. Bahkan pekerjaan
sehari-hari pun hampir tidak ada bagi mereka. Beberapa dari mereka
bekerja sebagai kuli untuk jangka waktu singkat dan setelah itu tidak
punya kerjaan lagi. Parahnya kemiskinan mereka saat itu dikisahkan oleh
Aisha, istri tersayang Muhammad di:
Hadith of Sahi Bukhari, Volume 2, Book 24, Number 499:
Dikisahkan oleh Aisha:
Seorang wanita bersama kedua anak perempuannya datang padaku minta
sedekah, tapi aku tidak punya apapun kecuali sebuah kurma yang lalu
kuberikan padanya. Dia membagi kurma itu untuk kedua anaknya, sedangkan
dia tidak makan apapun, dan lalu dia bangkit dan pergi. Lalu sang Nabi
datang dan aku beritahu dia tentang kisah ini. Dia berkata,”Siapapun
yang kelak dihakimi atau kedua anak perempuan itu dan dia bermurah hati
pada mereka, maka kedua anak ini akan jadi perisai baginya terhadap Api
Neraka.” (Lihat Hadith No. 24, Vol. 8 ).
Kejutan besar yang nantinya terjadi adalah, para Muslim yang kotor dan
miskin ini nantinya menjadi sangat kaya raya. Ini hadisnya yang
menerangkan perubahan nasib dari miskin ke kaya raya:
Sahih Bukhari, Volume 2, Buku 24, Nomer 497:
Dikisahkan oleh Abu Masud Al-Ansar:
Apabila Rasul Allah memerintahkan kami untuk berderma, kami biasa pergi
ke pasar dan bekerja sebagai buruh untuk bisa beli satu Mudd (takaran
gandum) dan lalu mendermakannya. (Saat itu adalah saat penuh kemiskinan)
dan sekarang beberapa dari kami punya seratus ribu.
Bagaimana Muhammad dapat menciptakan muzizat seperti itu? Apakah
perubahan dari kemiskinan yang sangat ke kekayaan yang melimpah dicapai
melalui kealiman, sembahyang, puasa dan anugrah dari Allah? Atau ini
dicapai melalui ‘terorisme’? Untuk tahu jawabnya, silakan baca terus.
Saat tidak punya kerjaan atau hanya punya kerjaan kasar saja, kehidupan
para pengikut Muhammad menjadi semakin tidak menyenangkan di Medina.
Muhammad harus berbuat sesuatu agar mereka dapat terus hidup, dan dia
harus melakukannya dengan cepat sebelum mereka semua jadi tidak percaya
dengan janjinya untuk dapat harta kekayaan milik Khusroo (Kaisar Persia)
dan Raja Bizantium. Rodinson (iv) menulis bahwa orang2 Muslim awal ini
tidak punya mata pencarian tetapi dan kala semua cara untuk hidup layak
sudah gagal semua, pilihan terakhir adalah merampok.
Mata pencaharian utama orang Muslim di Medina adalah dari perampokan dan
pemaksaan pungutan pajak Jizya bagi non-Muslim. Ini bisa dilihat di
Hadis berikut:
Hadith in Sahih Bukhari, Volume 4, Book 53, Number 388:
Dikisahkan oleh Juwairiya bin Qudama At-Tamimi:
Kami berkata pada,”'Umar bin Al-Khattab, O ketua kaum yang beriman!
Nasihatilah kami.” Dia berkata,”Aku menasihatimu untuk memenuhi Hukum
Allah (yang dibuat dengan kaum Dhimmi) karena itulah hukum Nabimu dan
sumber mata pencaharianmu (yakni pajak dari kaum Dhimmi).
[catatan: Hadis ini dihilangkan dari terjemahan kumpulan Hadis Sahih
Bukhari oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan. Akan tetapi Hadis ini masih ada
di versi Internet terjemahan Sahih Bukhari]
Jadi bagaimana Muhammad mendapatkan mata pencaharian di Medina?
Pekerjaan apa sih yang dilakukannya? Bidang apa yang dikerjakannya?
Bisnis apa yang dia lakukan? Pertanyaan2 ini tetap tidak terjawab. Semua
kumpulan Hadis, Sunna, Sirah (biografi Nabi) tidak memberikan keterangan
apapun tentang pekerjaan/profesi Muhammad yang terhormat untuk menafkahi
dirinya dan istri2 dan gundik2nya yang terus semakin bertambah.
Keterangan tentang pekerjaan Muhammad ada di sini:
Hadis Sahih Bukhari, Vol. IV, bab 88:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa sang Nabi berkata,”Mata pencaharianku
ada di bawah bayangan tombakku, (1) dan dia yang tidak menaati
perintahku akan dihinakan dengan membayar Jizya.”Catatan: (1) “Di
bawah bayangan tombakku” berarti “dari jarahan perang”.
Yah, memang begitulah. Muhammad, sang Rasul Allah, menafkahi dirinya
dengan cara merampok, dan Hadis di atas dengan jelas menyatakannya. Juga
patut diperhatikan bahwa Hadis ini telah dihilangkan dalam versi
Internet Sahih Bukhari. Hadis yang sukar dipercaya ini hanya dapat
ditemukan di terjemahan cetak asli “The Translation of Sahi Bukhari”
oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan. [Ref: The Translation of the Meanings of
Sahih Al-Bukhari, Arabic-English, Vol.IV (page 104) by Dr. Muhammad
Muhsin Khan, Islamic University—Al-Medina Al-Munauwara]. Silakan periksa
sendiri referensi itu kalau kau tak percaya. Menarik untuk diperhatikan
catatan kaki oleh penerjemah yang menerangkan bahwa ‘tombak’ adalah
‘barang jarahan’, sungguh pintar.
Kalau kau pikir ini sukar dipercaya – bahwa seorang utusan Allah,
ciptaan Allah yang terbaik ternyata memakai pedangnya (baca: terorisme)
untuk cari nafkah – maka teruslah baca karena banyak hal lain yang
bahkan lebih mengejutkan. Di Hadis Sahih Muslim ditulis jelas tanpa ragu
bahwa Muhammad dan pengikutnya memang menggunakan pedang untuk melakukan
terorisme (komentar dalam kurung adalah dari penerjemah Hadis ini):
Hadis Sahih Muslim, Book 004, Number 1066:
Abu Huraira melaporkan: Rasul Allah berkata aku telah dibantu teror
(dalam hati musuhnya); aku telah menerima firman2 yang pendek tapi jelas
artinya, dan ketika aku tidur aku diberikan kunci2 harta benda dunia
yang diletakkan di tanganku.
Jika Hadis2 yang sangat jelas itu belum juga terasa cukup meyakinkan
untuk membuktikan Muhammad menggunakan terorisme untuk memperkaya para
pengikutnya, ini ada satu lagi:
Hadith from Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 220:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allah berkata,”Aku telah diberi perintah2 yang sangat pendek
dengan arti yang sangat luas, dan aku telah dibuat menang melalui teror
(yang ditaruh di hati musuh), dan ketika aku tidur, kunci2 harta benda
dunia diberikan padaku dan diletakkan ke dalam tanganku.” Abu Huraira
menambahkan: Rasul Allah telah meninggalkan dunia dan sekarang kau,
orang2, membawa ke luar harta benda itu (yang tidak dinikmati oleh
Nabi).
Untuk mewujudkan perkataannya, Muhammad bahkan mengumumkan bahwa barang
jarahan atau hasil rampokan adalah halal baginya, dan ini ditegaskan di
sini:
Hadis Sahih Bukhari Volume 4, Book 53, Number 351:
Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah:
Rasul Allah berkata,”Barang jarahan adalah halal bagiku.”
Hadis berikut menerangkan bahwa Muhammad mendirikan mesjid2 dengan biaya
dari hasil rampokan, jarahan dan pungutan pajak paksa Jizya terhadap
non-Muslim. Bacalah Hadis ini dengan teliti dan kau akan mengerti
mengapa banyak orang tertarik untuk bergabung dengan Muhammad dan
Islamnya. Ya, alasannya hanyalah keserakahan dan nafsu akan uang dan
kekayaan semata-mata. Muhammad melanggar semua hukum dan aturan
masyarakat mapan yang beradab hanya untuk memuaskan keserakahan
pengikut2nya. Ini hadisnya:
Hadith Sahih Bukhari, Volume 4, Book 53, Number 390:
Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah:
Rasul Allah suatu saat berkata padaku,”Jika uang masukan dari Bahrain
tiba, aku akan beri kamu segini banyak dan segitu banyak.” Ketika Rasul
Allah telah mati, uang dari Bahrain tiba, dan Abu Bakr mengumumkan,”Bagi
yang telah dijanjikan oleh Rasul Allah, silakan datang padaku.” Lalu aku
menghadap Abu Bakr dan berkata,”Rasul Allah berkata padaku,”Jika uang
masukan dari Bahrain tiba, aku akan beri kamu segini banyak dan segitu
banyak.” Setelah mendengar itu Abu Bakr berkata padaku, “Ciduklah (uang)
dengan kedua tanganmu.” Aku ciduk uang dengan kedua tanganku dan Abu
Bakr memintaku menghitungnya. Aku menghitung dan jumlahnya adalah lima
ratus (keping emas). Jumlah seluruhnya yang dia berikan padaku adalah
seribu lima ratus (keping emas).
Dikisahkan oleh Anas: Uang dari Bahrain
dibawa kepada Nabi. Dia berkata,”Sebarkan uang itu di Mesjid.” Inilah
jumlah uang terbesar yang pernah diserahkan kepada Rasul Allah. Saat itu
Al-‘Abbas datang padanya dan berkata,”O Rasul Allah! Berilah aku uang
karena aku memberikan uang tebusan diriku dan Aqil.” Sang Nabi berkata
padanya,”Ambillah.” Dia menciduk uang dengan kedua tangannya dan
menuangkannya di atas bajunya dan mencoba mengangkatnya tapi tidak bisa
dan dia minta pada sang Nabi,”Maukah kau meminta seseorang untuk
menolongku mengangkat ini?” Nabi berkata,”Tidak.” Lalu Al-‘Abbas
berkata,”Kalau begitu, maukah kau membantuku mengangkatnya?” Nabi
berkata,”Tidak.” Lalu Al-‘Abbas membuang sebagian uang, tapi tetap saja
dia tidak kuat mengangkutnya, dan dia sekali lagi meminta pada Nabi,”
Maukah kau meminta seseorang untuk menolongku mengangkat ini?” Nabi
berkata,”Tidak.” Lalu, Al-‘abbas membuang sebagian lagi uang dan
memikulnya di pundaknya dan lalu pergi. Sang Nabi terus melihatnya
terpesona akan keserakahannya sampai dia menghilang dari penglihatan.
Rasul Allah tidak beranjak dari tempat itu sampai tidak ada satu Dirham
pun tersisa dari uang itu.
Sekarang mari kita lihat bagaimana Jihadis Muslim awal memilih korban
teror mereka. Setelah cari2 mangsa, Muhammad mengetahui bahwa dia hanya
punya dua pilihn: merampok orang2 Medina atau merampok kafilah2 orang
Mekah yang kaya raya di jalur dagang Mekah – Medina. Tidak tidak bisa
merampok sekutunya sendiri orang Medina (orang Ansar) karena ini sama
dengan bunuh diri. Pilihan lain yang sisa adalah merampok orang2 Yahudi
dan musuh bebuyutannya orang2 Mekah Quraysh yang pada umumnya menolak
ajaran agamanya. Dia tidak bisa mengganggu orang2 Yahudi terlalu awal
karena dia telah bikin perjanjian damai dengan mereka. Dia tidak punya
alasan sah untuk menyerang dan merampas tanah dan harta benda mereka.
Perlu diingat bahwa di kegiatan2 perampokan awal, Muhammad tidak mau
orang2 Ansar terlibat di dalamnya. Ini karena dia tidak mau mengecewakan
orang2 Medina dengan menampakkan belangnya yang asli. Dia juga taku jika
usaha perampokannya gagal, maka kaum Ansar tidak lagi kagum dan hormat
padanya. Karena itu, pada mulanya, dia tidak mengundang kaum Ansar untuk
ikut bagian dalam kegiatan terornya. Dia perlu menunjukkan pada tuan
tanah tempat tinggalnya bahwa terorisme memang adalah usaha yang
menguntungkan!
Karena tidak mungkin untuk menjarah orang2 Yahudi, maka pilihan satu2nya
yang sisa adalah menyerang dan menjarah kafilah2 Quraysh. Meskipun
demikian, saat itu dia hanya punya segelintir prajurit. Dia tidak akan
mampu melancarkan serangan telak terhadap tentara Quraysh yang perkasa,
dan memang perkiraannya tepat. Sebenarnya karena alasan takut akan
tentara Quraysh itulah dia meninggalkan Mekah.
Dia lalu dapat gagasan cemerlang. Rencananya adalah untuk menyergap
pedagang2 Quraysh pada saat mereka sedang lengah, yakni pada saat mereka
sedang sendirian, tidak banyak tentara, atau jauh dari tempat aman di
Mekah. Ini berarti menyerang kafilah2 pedagang Quraysh, meneror dan
merampok mereka di perjalanan dagang dengan Syria atau saat mau balik ke
Mekah. Tapi Muhammad juga penuh perhitungan dan tidak terburu-buru. Dia
sabar menunggu kesempatan baik untuk menyerang kafilah2 Quraysh yang
sedang lengah. Rencana ini memang sangat cerdik dan licik. Tidak dapat
disangkal bahwa dengan penjarahan ini Muhammad dapat mengompori
pengikutnya, para Jihadis, untuk membalas dendam pada “penyiksa” mereka
dan di waktu yang sama mereka juga dapat banyak harta jarahan yang
sebelumnya tidak dapat disediakan Muhammad pada para Muhajirs (pengikut
Nabi yang setia yang pindah dari Mekah ke Medina) yang miskin dan
kelaparan ini.
Dengan pemikiran ini, Muhammad mulai bergerak. Dia mengirim beberapa
mata2 untuk mencari tahu kegiatan2 kafilah Mekah. Akan tetapi, kafilah2
Quraysh selalu dilindungi dan dijaga baik2 oleh para tentara penjaga
keamanan untuk mencegah dirampok di jalan. Meskipun begitu, Muhammad
tetap mencoba keberuntungannya karena kafilah2 Mekah itu penuh dengan
harta benda yang sangat berharga. Biografer (penulis kisah hidup) Nabi
apologis (= berusaha menutupi kejelekan Islam) seperti Hussein Haykal,
[v] tentu mencoba mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa para
Muhajir dari Mekah rindu pulang kampung dan sedang cari kesempatan untuk
balas dendam. Memang merasa rindu kampung halaman sih wajar saja, tapi
alasan yang sangat jelas untuk merampok kafilah Quraysh adalah karena
ingin menjarah dan merampas harta benda. Sederhana saja dan sudah jelas.
Alasan Haykal ini pupus karena setelah Muhammad menaklukkan Mekah, tidak
ada satu pun Muhajir yang katanya tadi ‘rindu kampung halaman’ yang mau
balik pulang ke Mekah.
Mari kita bahas secara singkat penyergapan atau serangan teror atas
kafilah Quraysh. Ada pertentangan mana perampokan atas kafilah Quraysh
yang pertama dilakukan Muhammad. Ibn Ishak menulis bahwa Muhammad
sendiri melaksanakan serangan pertama, dan ini adalah terhadap kafilah
di Waddan. Buku Ibn Ishak tidak cukup memberi keterangan kapan hal ini
terjadi. Waqidi menulis bahwa serangan pertama dipimipin oleh Hamzah.
Biografer2 lain setuju dengan versi Waqidi tentang tanggal2 penyerangan2
Muhammad. Aku juga akan menggunakan keterangan Waqidi.
Catatan: Tanggal2 adalah perkiraan saja.
Teror Satu
Serangan atas Kafilah
Quraysh di al-Is, atau Ekspedisi Sif al-Bahr oleh Hamzah ibn
al-Muttalib--March, 623CE
Ekspedisi / Perampokan pertama terhadap kafilah Quraysh terjadi sekitar
tujuh atau sembilan bulan setelah Hijrah. Ekspedisi ini dipimpin oleh
Hamzah ibn ‘Abd al-Muttalib (paman Muhammad), dengan 30 atau 40 orang
emigran (yang pindah dari Mekah ke Medina). Tujuan ekspedisi, seperti
yang telah diterangkan sebelumnya, adalah untuk merampok kafilah
Quraysh. Gerombolan perampok yang dipimpin Hamzah ini berkumpul di tepi
pantai deka al-Is, diantara Mekah dan Medina, di mana pemimpin kafilah
Abu Jahl ibn Hashim berkemah bersama 300 orang Mekah. Hamza dengan
beberapa orang bertemu Abu Jahl di sana untuk menyerang kafilah, tapi
Majdi b. Amr al-Juhani, seorang Quraysh yang tidak ada permusuhan dengan
kedua pihak melerai keduanya sehingga mereka semua berpisah tanpa
pertempuran.
Petualangan Muhammad pertama dalam perang dan perampokan ternyata gagal.
Hamzah kembali ke Medina dan Abu Jahl melanjutkan perjalanan ke Mekah.
Usaha perampokan gagal karena para Muslim takut menghadapi konvoi
Quraysh yang kuat, dan mereka kembali ke Medina dengan tangan kosong.
Teror Dua
Serangan atas Kafilah
Mekkah di Buwat oleh Ubaydah b. al-Harith---April, 623CE
Serangan ini terjadi sembilan bulan setelah hijrah, beberapa minggu
setelah serangan pertama di al-Is gagal.
Kira2 sebulan setelah kegagalan Hamzah untuk merampok, Muhammad mengirim
60 Jihadis dipimpin oleh Ubaydah b. al-Harith (saudara sepupunya) untuk
melakukan operasi teror terhadap kafilah Quraysh yang kembali dari Syria
dan dikawal oleh 200 pasukan keamanan bersenjata. Ketua kafilah adalah
Abu Sufyan ibn Harb atau Ikrima b. Abu Jahl. Gerombolan Muslim pergi
sampai jauh ke Thanyatul-Murra, tempat mata air di Hejaz. Tidak ada
pertempuran yang terjadi karena orang2 Quraysh ternyata berada terlalu
jauh dari para Muslim. Meskipun demikian, Sa’d b. Abi Waqqas, seorang
Jihadis sejati, menembakkan sebuah panah ke orang2 Quraysh. Ini adalah
panah pertama Islam. Panah2 yang kemudian ditembakkan mengejutkan orang2
Quraysh. Ini merupakan serangan mendadak dan memperingatkan mereka akan
bahaya yang timbul kemudian. Akan tetapi, tidak ada pertempuran yang
terjadi dan orang2 Muslim kembali dengan tangan kosong. Beberapa orang
berpendapat bahwa Ubaydah adalah Jihadis yang pertama yang membawa
bendera Islam, tapi orang lain berkata bahwa Hamzah lah yang pertama.
Beberapa berpendapat Muhammad memerintah Ubaydah untuk melakukan
penyerangan ketika Muhammad sedang kembali dari perampokan al-Abwa
(lihat Teror Empat).
Teror Tiga
Serangan atas Kafilah
Mekah di Kharar, oleh Sa’d ibn Waqqas -- April, 623CE
Usaha berani Sa’d ibn Waqqas yang menembakkan panah2 pada orang2 Quraysh
(lihat Teror Dua) tentunya telah membuat Muhammad kagum. Saat itu Sa’d
berusia 20 – 25 tahun. Meskipun begitu, usia mudanya tidak jadi
penghalang bagi Muhammad untuk menunjuknya sebagai ketua gerombolan
perampok yang berjumlah 20 orang (sumber lain mengatakan 8 orang saja)
terhadap kafilah Mekkah. Semuanya adalah kaum Muhajir. Jadi satu bulan
kemudian, operasi teroris ketiga dilaksanakan di bawah pimpinan Sa’d
yang masih muda. Sa’d dan gerombolannya menyusun siasat untuk menyergap
di lembah Kharrar di jalan menuju Mekkah dan menunggu untuk menyerang
kafilah Mekkah yang kembali dari Syria.
Mereka mau menyergap diam2. Meskipun begitu, dengan kecewa berat mereka
akhirnya menyadari bahwa kafilah Mekkah telah berhasil mengelabui mereka
dan telah berlalu dari tempat itu sehari sebelumnya. Orang2 Muslim
kebali ke Medina dengan tangan hampa.
Bersambung
[i] Masterminds of Teror, p.88; Khalid was the Chief Al-Qaeda Planner of
9/11
[ii] Ibn Ishak, pp.204-205
[iii] Tabari, vol. vi, p.134
[iv] Rodinson, p.162
[v] Haykal, Ch. The First Raids and Skirmishes
Bagian Two
‘
Jika terorisme
adalah untuk membangkitkan rasa teror dalam hati musuhmu dan musuh Allah
make kami berterima kasih kepadaNya, yang Maha Pengampun, Maha
Penyayang, yang memungkinkan kami jadi teroris2’—Ramzi
BinalShibh (6)
Teror Empat
Penyerangan terhadap Kafilah Mekah dan terhadap B. Damrah di al-Abwa/
Waddan oleh Muhammad—August, 623CE
Muhammad jadi sangat frustasi dengan kegagalan2 tiga usaha penyerangan
untuk menggarong kafilah2 pedagang Quaish. Waktunya semakin mendesak,
dan dia merasakan tekanan untuk mengahasilkan duit/harta benda bagi para
pengikutnya. Dengan beban tekanan ini dalam pikirannya, dia sendiri lalu
memimpin para pengikutnya untuk merampok. Usaha ini dikenal sebagai
serangan di al-Abwa, yang juga dikenal sebagai Ghazwah dari Waddan.
Telah dikatakan sebelumnya, dia sendiri kali ini yang memimpin
penyerangan yang diarahkan ke Abwa, daerah tempat ibunya dikuburkan.
Kaget sekali dia sewaktu tiba di tempat itu dan mendapatkan kafilah
Quraish ternyata telah berlalu. Karena kecewa, dia lalu menyerang suku
B. Damra berada dekat di situ dan memaksa mereka untuk membuat
perjanjian tidak menyerang (oleh B. Damra). Perjanjian inilah yang
pertama ditulis oleh Muhammad dengan suku asing. Perjanjian ini memberi
keutungan baginya karena mencegah B. Damra menyerangnya atau membantu
musuh Muhammad yakni orang2 Quraish. Sebagai gantinya, Muhammad tidak
akan memerangi suku B. Damra. Lalu Muhammad pergi sampai ke Waddan untuk
mengejar kafilah Quraish, tapi mereka berhasil menghindarinya. Meskipun
dia gagal menjarah harta orang2 Quraish, tapi di cukup pintar untuk
membuat perjanjian dengan suku B. Damra yang merupakan suku nomad.
Perjanjian ini memberinya sekutu untuk menyerang kafilah2 Quraish.
Setelah itu, dia balik ke Medina.
[Catatan: Ghazwa berarti
gerakan militer yang dipimpin sang Rasul atau seoramg Imam.7 Ini juga
berarti serangan mendadak sebuah kafilah atau suku lain untuk merampas
harta benda dan wanita.8
Sariyah atau brigade berarti kekuaan militer kecil yang dikomando oleh
seorang dari letnan2 di bawah Imam. Ada referensi di Sahih Bukhari
tetang usaha terorisme pertama yang dilakukan oleh Muhammad secara
pribadi:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4,
Book 52, Number 256:
Dikisahkan oleh As-Sab bin Jaththama:
Sang Nabi melaluiku di tempat yang bernama Al-Abwa atau Waddan, dan
ditanyai apakah boleh menyerang pasukan pagan pada malam hari dengan
kemungkinan membahayakan kaum wanita dan anak2 mereka. Sang Nabi
berkata,”Mereka (yakni para wanita dan anak2) berasala dari mereka (kaum
pagan).” Aku juga mendengar Sang Nabi berkata,”Pembentukan Hima tidak
layak kecuali bagi Allah dan RasulNya.”
Hadis ini dengan jelas mengatakan bahwa dalam operasi terornya,
Muhammad bahkan tidak mengasihani para
wanita dan anak2 kaum pagan.
6 Master Minds of Terror, p.36
7 Hughes Dictionary of Islam, p.139
8 Dashti, p.86
9Hughes Dictionary of Islam, p.139
Teror Lima
Penyerangan terhadap Kafilah Mekah yang Banyak Harta di Bawat oleh
Muhammad—October, 623 M
Sebulan setelah dia menyerang al-Abwa, Muhammad sendiri memimpin dua
ratu orang termasuk beberapa penduduk Medina menuju Bawat, tempat dalam
jalur perjalanan kafilah pedagang Quraish. Waktu itu kafilah Quraish
berjumlah 1.500 sampai 2.500 unta, dijaga oleh 100 pengawal, di bawah
pimpinan Umayyah ibn Khalaf, yang juga orang Quraish. Tujuan penyerangan
ini sudah jelas, yakni untuk merampok kafilah Quraish yang memuat sangat
banyak harta ini.
Tidak ada pertempuran yang terjadi dan penyerangan tidak menghasilkan
barang jarahan apapun. Muhammad lalu pergi ke Dhat al-Saq, di padang
pasir al-Khabar. Dia sembahyang di sana dan sebuah mesjid didirikan di
tempat itu. Ini adalah untuk pertamakalinya orang2 Ansar al-Usharayh
mengambil bagian dalam usaha perampokan. Mereka tertarik untuk ikut
merampok karena kemungkinan bisa kaya dari penjarahan.
Teror Enam
Penyerangan terhadap Kafilah Mekah di al-Ushayrah, di daerah Yanbo oleh
Muhammad—November, 623M
Ini adalah usaha perampokan ketiga yang dipimpin Muhammad sendiri.
Sekitar 150 sampai 200 orang (perhatikan jumlah Jihadis yang bertambah
dalam usaha perampokan) ikut dalam operasi teror ini. Mereka punya 30
unta yang mereka kendarai secara bergiliran. Ketika mereka tiba di
al-Usharayh di daerah Yanbo, mereka berharap bisa menyergap kafilah
Mekah yang kaya raya yang menuju ke Syria dipimpin oleh Abu Sufyan.
Muhammad sudah mendengar dari mata2nya bahwa kafilah ini berangkat dari
Mekah. Dia menunggu selama lebih dari sebulan untuk menyergap kafilah
ini. Sayangnya, dia terlambat karena sewaktu Muhammad tiba, kafilah
Mekah sudah lewat. Para pembaca harus ingat akan penyerangan ini, sebab
kafilah yang sama inilah yang nantinya dijarah dalam perampokan Badr
yang terkenal itu saat kafilah kembali dari Syrian ke Mekah. Dalam
operasi ini, Muhammad bersekutu dengan Bani Mudlij, sebuah suku yang
tinggal di daerah al-Usharayh. Dia juga membuat perjanjian dengan Bani
Damra. Semua perjanjian2 itu membentuk hubungan politik yang baik
baginya.
Teror Tujuh
Penyerangan terhadap Unta2 Perah Muhammad di Badr (Badr I) oleh Kurz ibn
Jabir al-Fihri—December, 623M
Setelah enam usaha penyerangan terhadap kafilah2 Quraish, akhirnya orang
Quraish jadi marah. Sekarang saatnya bagi mereka untuk membalas dan
menyampaikan pesan keras pada Muhammad bahwa usaha perampokan jalanannya
tidak bisa dibiarkan untuk selamanya. Dengan alasan ini, Kurz ibn Jabir
al-Fihri dari suku Quraish menyerang daerah Medina di mana unta2 perah
Muhammad sedang merumput. Ini terjadi 10 hari setelah Muhammad kembali
ke Medina dari usaha perampokannya yang tidak berhasil terhadap kafilah
Quraish di al-Usharayh. Setelah mendengar serangan ini, Muhammad dengan
cepat mencari Kurz sampai dia mencapai lembah Safwa, dekat Badr. Ini
adalah serangan Badr pertama. Kurz berhasil melarikan diri; Muhammad
kembali ke Medina dan diam di sana sampai tiga bulan kemudian. Dikatakan
kemudian bahwa Muhammad akhirnya berhasil menangkap Kurz dan Kurz lalu
memeluk Islam.
Teror Delapan
Penyerangan Kafilah Mekah di Nakhla oleh Abd Allah ibn Jahsh, Perampokan
Pertama yang Berhasil —December, 623M
Setealh dia kembali dari Badr, Muhammad mengirim Abd Allah b. Jahsh di
Rajab dengan delapan orang emigran (yang ikut hijrah) dan tanpa orang2
Ansar untuk melakukan operasi teror lagi. Abd Allah b. Jahsh adalah
saudara sepupu Muhammad. Orang2 yang ikut dalam operasi ini adalah: 1.
Abu Haudhayfa 2. Abd Allah b Jahsh 3. Ukkash b. Mihsan 4. Utba b.
Ghazwan 5. Sa’d b. Abi Waqqas 6. Amir b.Rabia 7. Waqid b. Abd Allah and
8. Khalid b. al-Bukayr. Beberapa ahli sejarah berkata mereka berjumlah
sekitar 7 sampai 12 orang. Nama2 ini layak untuk diingat karena nama2
ini akan muncul lagi di banyak operasi2 teror lainnya. Muhammad memberi
sebuah surat kepada Abd Allah b. Jahsh, tapi tidak boleh dibaca sampai
dia telah pergi dua hari kemudian di perjalanan dan dia lalu harus
melakukan apa yang diperintahkan di surat itu tanpa memberi beban pada
kelompoknya. Abd Allah pergi sampai hari kedua dan dia kemudian membaca
surat itu yang memerintahkan agar dia bergerak sampai mencapai Nakhla,
yang terletak diantara Mekah dan Taif. Dia harus bertiarap menunggu
orang2 Quraish dan mengamati apa yang mereka lakukan. Abd Allah b. Jahsh
mengatakan kepada kelompoknya bahwa siapa yang mau memilih martirdom
(baca:terorisme) boleh bergabung dengannya, dan siapa yang tidak mau,
dipersilakan pulang. Semua anggota kelompok setuju untuk ikut dengannya
(beberapa penulis biografi menulis bahwa dua Muslim memilih untuk tidak
jadi martir dan pulang ke Medina). Sa’d b. Abi Waqqas dan Utbah b.
Ghazwan kehilangan seekor unta yang mereka kendarai secara bergiliran.
Unta ini nyasar dan pergi ke Buhran. Maka mereka pun pergi mencari unta
yang melarikan diri itu ke Buhran dan mereka ketinggalan kelompoknya.
Seperti yang diperintahkan oleh sang Nabi, Abd Allah dan kelompoknya
lalu bergerak maju dan sebentar kemudian tiba di Nakhla. Nakhla adalah
sebuah lembah di bagian timur Mekah, separuh perjalanan ke Taif. Ini
adalah jalur umum ke Syria yang digunakan kafilah2 Mekah. Muhammad
dengar dari pengintainya bahwa kafilah Mekah yang memuat banyak harta
dan dikawal sedikit penjaga, membawa kismis2 kering, anggur, kulit dan
berbagai harta benda sebentar lagi akan lewat melalui jalur ini.
Empat penjaga Quraish mengawal kafilah keledai ini. Mereka adalah:
Amr b. al-Hadrami. Dia adalah pemimpin kafilah.
Uthman b. Abd Allah b. al-Mughirah.
Nawfal b. Abd Allah b. al-Mughirah, saudara laki Uthman.
Al-Hakam b. Kaysan, budak yang dimerdekakan (Mawla) oleh Hisham b.
al-Mughirah.
Tak lama kemudian, kafilah Mekah tiba di Nakhla dijaga oleh empat orang
Quraish. Ketika mereka melihat orang2 Muslim, mereka jadi waspada. Satu
dari orang2 Abd Allah b. Jahsh, yakni Ukkash b Mihsan menggunduli rambut
kepalanya untuk menutupi maksud mereka yang sebenarnya dan untuk membuat
orang Quraish mengira mereka baru saja naik Haji (Umra), karena memang
pada saat itu adalah bulan suci (Rajab) di mana tidak diperbolehkan
melakukan perang. Ketika orang Quraish melihat kepala botak Ukkash,
mereka mengira orang2 Muslim ini baru kembali dari naik haji dan mereka
merasa lega dan mulai menyiapkan makanan bagi mereka sendiri. Ini adalah
cara bagaimana Jihadis Muslim mengelabui korban2nya. Adalah
kebiasaan/tradisi yang kuat bahwa pada bulan suci, yaitu di awal atau
akhir bulan Rajab (pendapat para ahli sejarah berbeda-beda), Rajab
adalah salah satu dari empat bulan suci di mana tidak diperbolehkan sama
sekali untuk mengadakan perang atau pertumpahan darah di Jazirah Arabia.
Abd Allah b. Jahsh juga tahu akan tradisi ini dan dia merasa ragu untuk
menyrang. Meskipun begitu, setelah berkali-kali gagal, orang2 Muslim ini
tidak mau membiarkan kafilah yang banyak harta ini lewat begitu saja.
Karenanya, mereka memutuskan untuk membunuh orang2 Quraish sebanyak
mungkin dan mengambil hasil jarahan sebanyak-banyaknya. Mereka menyerang
orang2 Quraish pada saat mereka sedang sibuk menyiapkan makanan. Dalam
pertempuran itu, Waqid b. Abd Allah membunuh Amr b. Hadrami, ketua
kafilah Quraish. Nawfal b.Abd Allah melarikan diri. Orang2 Muslim
menangkap Uthman b. Abd Allah dan al-Hakam b. Kaysan.
Abd Allah b. Jahsh kembali ke Medina dengan barang jarahan dan dua
tawanan Quraish. Dia sudah mengambil keputusan untuk memberikan
seperlima barang jarahan kepada Muhammad, dan membagi sisanya diantara
mereka. Pembagian yang umum bagi pemimpin kelompok perampok saat itu
adalah seperempat barang jarahan. Tidak jelas mengapa Abd Allah b. Jahsh
memberi seperlima barang jarahan, karena Allah sendiri sebenarnya belum
menentukan pembagian Khumus (jatah jarahan buat kepala perampok) untuk
Muhammad di Q 8:41. Ayat ini dikeluarkan setelah perang Badr, yang
terjadi setelah perampokan di Nakhla.
.
Q 8:041
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang
dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima
untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin
dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami
turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari
bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Karena pertumpahan darah ini terjadi di bulan suci, Muhammad tidak mau
untuk memulai pembunuhan balas dendam yang tak kunjung selesai. Orang2
Quraish juga menyebarkan berita ke mana2 tentang perampokan dan
pembunuhan yang dilakukan Muhammad id bulan suci. Karena itu, dia
menegur orang2 Muslim yang berperang di bulan suci dan dia tidak mau
menerima jatah jarahan perampokan. Lalu ayat Q 2:217 tentang perang di
bulan suci pun muncul.
Q 2:217
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang
pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa
besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada
Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari
sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah
lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya
memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu
(kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka
itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Ayat ini mengijinkan Muhammad untuk melaksanakan perang selama bulan2
suci. Setelah itu Abd Allah b. Jahsh membagi-bagi barang jarahan,
seperlima bagi Muhammad. Muhammad juga ingin mendapat uang lebih dengan
meminta uang tebusan bagi dua tawanan. Akan tetapi, Muhammad tidak mau
menerima uang tebusan dari orang2 Quraish sebelum dua orangnya, yakni
Sa’d b. Abi Waqqas and Utbah b. Ghazwan kembali dari mencari unta
mereka. Dia takut orang2 Quraish membunuh mereka berdua jika menemukan
mereka. Ketika Sa’d dan Utbah kembali tanpa luka, Muhammad membebaskan
dua tawanan Quraish dengan bayaran 1.600 Dirham (1 Dirham = 1/10 Dinar;
1 Dinar adalah 4.235 gram emas) per kepala. Dilaporkan kemudian bahwa
setelah dibebaskan, Hakam b. Kaysan jadi Muslim, mungkin karena melihat
sendiri betapa mudah jadi kaya melalui terorisme a la gaya Islam.
Nantinya dia lalu mati di pertempuran Bir Mauna. Tawanan lain, Uthman b.
Abd Allah kembali ke Mekah dan mati sebagai non-Muslim.
Nama Islam yang bagi perampokan yang berhasil ini adalah ‘Serangan
Nakhla.’ Ini adalah serangan pertama di mana orang2 Muslim menangkap
tawanan, dan pertama kali mereka mengambil nyawa. Karena sukses ini, Abd
Allah digelari Amir al-Mominun, yakni pemimpin yang beriman. Setelah
sukses merampok di Nakhla, Muhammad merasa kuat secara militer dan
menegakkan aturan yang mengesahkan pembagian jarahan perang. Dia
sebenarnya melegalkan dan mengesahkan perampokan.
Keberhasilan merampok ini membuat orang2 Mekah jadi sangat waspada,
sebab kemakmuran mereka bergantung sepenuhnya atas perdagangan rutin dan
tidak terputus dengan Syria. Perdagangan dengan Abyssinia dan Yemen
kurang penting. Bahkan kafilah pedagang menuju Abyssinia dan Yemen tidak
aman pula dari serangan tentara Muhammad. Serangan Nakhla itu muga
membuat jengkel orang2 Mekah. Mereka sekarang percaya bahwa Muhammad
tidak menghormati nyawa orang dan sama sekali tidak mengindahkan
peraturan damai di bulan2 suci. Karenanya, orang2 Mekah ingin membalas
dendam dengan pertumpahan darah. Akan tetapi, orang Quraish menahan
kemarahan mereka. Muhammad masih punya beberapa pengikut yang tinggal di
Mekah, termasuk anak perempuannya sendiri yakni Zaynab.
Orang2 Quraish tidak membalas dendam
atas pengikut2 Muhammad dan anaknya di Mekah dan tidak pula berusaha
menyakiti Zaynab.
Sebaliknya dengan Muhammad.
Setelah sukses di Nakhla, dia merencanakan untuk melakukan serangan yang
lebih hebat lagi terhadap orang2 Quraish. Allah sekarang memberinya ijin
untuk berperang melawan non-Muslim di ayat2 22:39-42, 2:190-194.
Serangan di Nakhla dianggap sah karena orang Mekah dianggap mengusir
keluar orang2 Muslim. Akan tetapi, alasan sebenarnya adalah “sampai
agama yang ada hanyalah agama Allah”. Ini berarti, sampai semua orang
Mekah (atau seluruh dunia) memeluk Islam.
Q 22:39
Telah diizinkan berperang bagi orang2 yang
diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya dan sesungguhnya
Allah Maha Kuasa menolong mereka.
Q 22.40
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari
kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka
berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah
dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang
Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,
Q 22:41
(yaitu) orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Q 22.42
Dan jika mereka (orang-orang musyrik)
mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum
mereka kaum Nuh, 'Aad dan Tsamud,
Q 2.190
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang
yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Q 2:191
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu
jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu
(Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan
janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka
memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat
itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
Q 2:192
Kemudian jika mereka berhenti (dari
memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Q 2:193
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak
ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk
Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada
permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
Q 2.194
Bulan haram dengan bulan haram, dan pada
sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu
barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan
serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa
Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Bagi mereka yang ragu2 untuk ikut perampokan akan dimarahi. Wahyu Allah
bagi hal ini datang di ayat Q 47:20-21. Ayat2 ini memberi garansi surga
bagi mereka yang berperang (atau menteror dan merampok) bagi Islam,
yakni Jihad, dan mereka mati terbunuh.
Q 47:20
Dan orang-orang yang beriman berkata:
"Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu
surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang,
kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang
kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan
kecelakaanlah bagi mereka.
Q 47.21
Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik
(adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang
(mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya)
terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.
Allah kemudian menyuruh para teroris ini untuk “pancunglah batang leher
mereka yang tak beriman, kalahkan mereka semua, dan ikat mereka erat2”
di ayat Q 47:3-4.
Q 47: 3
Yang demikian adalah karena sesungguhnya
orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang
mu'min mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat
untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
Q 47: 4
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang
kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga
apabila kamu telah mengalahkan mereka semua maka ikatlah mereka kuat2
dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan
sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya
Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian
kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan
Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
Lebih jauh lagi, para Muslim diharapkan untuk tidak hanya berperang,
tapi juga menyumbang secara material untuk menutupi biaya perang (Q
4:66-67, 9:88, 9:111), untuk membunuh dan dibunuh. Siapa saja yang mau
melakukan hal ini dijanjikan kedudukan tinggi di surga (Q 4:74, 4:95).
Para Muslim diminta untuk mempersiapkan kemampuan apapun yang mereka
miliki, tentara2, kuda2, dll. untuk mewujudkan teror di dalam hati
non-Muslim (ingat kata2 Dr. Mahathir yang terkenal tentang orang Yahudi
di konferensi OIC di akhir 2003?) (Q 9:73, 123, 8:60).
Q 4:66
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan
kepada mereka : "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu",
niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari
mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang
diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi
mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),
Q 4:67
dan kalau demikian, pasti Kami berikan
kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,
Q 9:88
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman
bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka
itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.
Q 9:111
Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk
mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau
terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam
Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Q 4: 74
Karena itu hendaklah orang-orang yang
menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan
Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau
memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang
besar.
Q 4:95
Tidaklah sama antara mu'min yang duduk
(yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan
orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan
jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing
mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang
besar,
Q 9:73
Hai Nabi, berjihadlah (melawan)
orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat
kembali yang seburuk-buruknya.
Q 9:123
Hai orang-orang yang beriman, perangilah
orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui
kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama
orang-orang yang bertaqwa.
Q 8:60
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat
untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh
Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan
pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu
tidak akan dianiaya (dirugikan).
Pesan2 ini disebarluaskan dalam waktu dua atau tiga tahu setelah
Muhammad hijrah ke Medina. Pesan2 ini tidak hanya untuk para Muhajir
(yang hijrah dari Mekah ke Medinah) tapi juga bagi semua lelaki di
Medina.
(Catatan: Mulai
sekarang, untuk menghemat tempat, yang akan saya sebut hanyalah nomer
ayat saja)
http://www.mukto-mona.com/Articles/kasem/
Bagian Tiga (Perang Badr)
Oleh Abul Kasem
‘Kekejaman
adalah sifat pertama Tuhan'—Andre Gide (1869-1951)[10]
Teror Sembilan
Perang Badr II Dipimpin oleh Muhammad—March, 624M
Telah disebutkan sebelumnya (Teror 6, Bagian 2) bahwa Muhammad dan
gerombolannya meleset sedikit dalam usaha merampok kafilah Quraish
pimpinan Abu Sufyan. Seperti yang telah ditulis sebelumnya, ketika
Muhammad tiba di al-Ushayra untuk menyerang kafilah ini, dia tertegun
waktu tahu bahwa rombongan kafilah banyak harta ini sudah berlalu dua
hari sebelum dia sampai di sana. Tentu saja, gerombolannya yang haus
jarahan perang merasa kecewa dengan kegagalan ini. Akan tetapi Muhammad
sudah memperkirakan bahwa kafilah yang sama mungkin dapat diserang
sewaktu kembali dari al-Sham (Syria). Yang dibutuhkan sekarang adalah
kesabaran menunggu selama tiga bulan untuk menyerang kafilah itu waktu
kembali. Dengan kemungkinan ini, Muhammad mulai merekrut anggota Jihadis
baru untuk perampokannya yang berikut.
Di mesjidnya, dia memanggil orang2 Muslim dan meng-iming2i mereka untuk
menyerang kafilah Quraish yang memuat banyak harta benda. Dia berkata
pada kelompoknya,”Kafilah Quraish ini memuat harta kekayaan kita.
Pergilah dan seranglah mereka, mungkin Tuhan akan memberikan mereka
sebagai mangsa kita.” Meskipun begitu, dia tidak pernah sekalipun
menyebutkan hal ini kepada penduduk lokal Medina tentang usaha
perampokan untuk dapat barang jarahan. Mereka selalu mengira dia itu
Nabi yang rendah hati, sangat suci, terhormat, cinta damai, tak suka
berperang, penuh kasih sayang dan belas kasihan. Banyak Muslim yang
sangat kaget dengan apa yang dikatakan Muhammad saat berkumpul di mesjid
itu dan mereka tidak percaya ketika dia mengajak mereka untuk bergabung
dengannya dalam usaha merampok. Mereka benar2 kaget. Akan tetapi, angan2
dapat harta jarahan lalu menguasai pikiran mereka dan akhirnya banyak
yang bergabung untuk dapat kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi mereka
dengan cara merampas harta orang lain.
Tentang kekayaan hasil curian ini, Rodinson menulis (Rodinson, hal.
162):
“Ketika usaha perampokan mulai menghasilkan
kekayaan, banyak orang Medina yang bergabung meskipun pada kenyataannya
persetujuan antara pihak mereka dan Muhammad tidak mengharuskan mereka
untuk ikut serta dalam usaha perampokannya.”
Reaksi dari ajakan Muhammad berbeda-beda. Banyak orang yang mau ikut
kelompoknya, tapi banyak pula yang harus dipaksa dan ditekan untuk jadi
bandit Muslim. Muhammad mengatur sedemikian rupa sehingga hanya orang2
Muslim saja yang diperbolehkan bergabung dalam kampanye teror ini.
Banyak non-Muslim yang mencoba bergabung, tapi Muhammad bersikeras bahwa
yang bukan Islam tidak akan kebagian barang jarahan. Dengan in pula,
kampanyenya berlangsung dengan sukses diantara orang2 lokal Muslim
Medina (Ansar). Sampai saat ini, tiada orang Ansar yang bergabung dengan
Muhammad dalam usaha perampokan jalanan sebelumnya. Kesuksesan Abdullah
ibn Jahsh di Nakhla telah menambah hasrat untuk dapat barang rampokan
dalam pikiran banyak orang Ansar. Keinginan dan keserakahan untuk
menjarah barang2 berharga milik orang Quraish begitu besar sehingga
banyak orang2 Medina yang mau bergabung menjadi Jihadis. Jumlah semuanya
adalah 313 orang, terdiri dari 77 Muhajirs (yang hijrah) dan 236 orang2
Ansar. Sekarang orang2 Ansar adalah sebagian besar dari gerombolan
perampok Jihadis.
10 The Counterfeiters
11 Ibn Ishaq, p.293
Beberapa minggu sebelum keberangkatannya ke Badr, dan ketika kafilah
Quraish datang ke daerah Medina, Muhammad mengirim dua pengintai, yakni
Talhah ibn Ubaydullah dan Said ibn Zayd untuk mencari tahu di manakah
kafilah tsb. Kedua orang ini tiba di perkemahan Kashd al-Juhany dan
bersembunyi di sana sampai kafilah berlalu. 40 orang menjaga kafilah
Mekah itu.[12] Kedua orang Muslim itu mengintai dan memperkirakan harta
benda bawaan kafilah berharga sekita 50.000 Dinar (ingat bahwa 1 Dinar
berharga 4,235 gram emas. Dalam harga emas saat ini, harta benda kafilah
itu berharga US$ 2.725.000, belum termasuk harga2 para tawanan, unta2
dan barang2 lain). Sungguh suatu sasaran perampokan yang menggiurkan.
Kedua pengintai itu bergegas kembali untuk menyampaikan kabar baik ini
kepada Muhammad. Tapi Muhammad sudah meninggalkan Badr sehari sebelum
kedua pengintai kembali ke Medina. Dia sudah tidak sabar lagi untuk
cepat2 dapat menjarah, sehingga dia tidak menunggu kedua pengintai itu
kembali. Lalu Talhah ibn Ubaydullah dan Said ibn Zayd harus tinggal di
Medina dan tidak sempat ikut tentara Muslim pergi. Meskipun demikian,
Muhammad tidak mengecewakan keduanya karena telah menjalankan tugas
pengintaian dengan baik. Keduanya nantinya dapat jatah jarahan ketika
Muhammad kembali ke Medina. Yang juga tinggal di Medina adalah menantu
Muhammad yang bernama Uthman b. Affan. Istri Uthman, yakni Ruqayyah
(anak perempuan Muhammad) sakit pada saat itu dan Uthman mengurusnya.
Muhammad memberi jatah jarahan padanya pula. Betul2 murah hati sang Nabi
ini! Sahih Bukhari menulis janji Muhammad pada menantunya seperti ini:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4,
Buku 53, Nomer 359:
Dikisahkan oleh Ibn 'Umar:
'Uthman tidak ikut perang Badr karena dia menikah dengan salah satu anak
perempuan Rasul Allah dan dia (Ruqayyah) sedang sakit. Karena itu, sang
Nabi berkata kepadanya: “Kamu akan dapat upah dan bagian (barang
jarahan) sama dengan upah dan bagian orang yang ikut ambil bagian dalam
perang Badr.”
Di lain pihak, melalui mata2 dan sumber2 yang dapat dipercaya, kabar
tentang persiapan Muhammad untuk menyerang kafilah Quraish sampai di
telinga Abu Sufyan. Dia jadi sangat waspada. Dia tahu tentang
perjanjian2 yang dibuat Muhammad dengan banyak suku di jalur perjalanan
kafilah, jadi ada kemungkinan besar suku2 itu menyerang mereka tiba2
pula. Dia segera mengirim Damdam b. Amr al-Ghifari ke Mekah untuk
meminta bantuan. Ketika Damdam sampai di Mekkah, dia segera mengumumkan
rencana Muhammad untuk menyerang kafilah Abu Sufyan. Mendengar ini, Abu
Jahl memanggil semua orang2 Mekah untuk ikut operasi penyelamatan
kafilah Quraish. Saat itu, suku2 Banu Kinanah dan Banu Bakr sedang
bermusuhan dengan Quraish. Karenya, mereka tidak mempedulikan ajakan Abu
Jahl. Tadinya suku2 ini mau mengambil kesempatan dari kesusahan orang2
Quraish dan menyerang mereka dari belakang, tapi akhirnya ketua suku
Quraish yakni Suraqa b. Malik mengambil keputusan untuk tidak
mengkhianati orang2 Quraish. Penulis biografi Muslim seperti Ibn Ishaq
menyebut Suraqa sebagai Iblis.[13]
12 Mubarakpouri, p.251
13 Ibn Ishaq, p.292
Setelah yakin tidak akan ada serangan dari kedua suku ini, Abu Jahl dan
Amir ibn al-Hadrami (saudara laki Amr ibn Hadrami; ingat? Amr dibunuh
orang2 Muslim di Nakhla) meyakinkan orang2 Mekah bahwa mereka akan
menang melawan Muhammad. Jadi, setiap orang yang bisa bertempur ikut
bergabung, kecuali Abu Lahab. Dia menggantikan posisinya dengan al-As b.
Hisham (paman Umar b. Khattab) yang berhutang padanya 4.000 Dirham dan
tidak bisa bayar utang kembali. Abu Lahab menyewanya untuk perang atas
nama dirinya supaya utangnya lunas. [14]
Ketika orang2 Quraish sedang siap2 perang, Muhammad tidak tahu akan
persiapan orang2 Mekah untuk melawan dia secara militer. Dia yakin
sekali bahwa dia akan menang dan akan berhasil merampas harta benda
Quraish.
Dengan banyak harapan dan penuh percaya diri, hari Minggu, tanggal 10
Mare, 624 M (12 Ramadan, AH2), Muhammad beserta 313 orang (jumlahnya
berkisar antara 307 sampai 318) Jihadis, pergi ke luar Medina menuju
Badr. Di barisan depan orang2 Muslim dipegang dua bendera hitam, satu
dibawa oleh Ali ibn Talib dan yang satu lagi dibawa orang Ansar. 70 unta
berbaris bersama mereka dan 300 lebih tentara Muslim bergiliran
menaikinya. Mereka hanya punya dua kuda. Muhammad meminta Abu Lababa
berjaga-jaga di Medina. Untuk menghindari pengamatan musuh, Muhammad
tidak langsung pergi ke Mekah, tapi dia memakai jalur jalan yang tidak
lazim yang dilalui oleh Irqul Zabya, Saffra and Dhafiran. [15]
Pada hari Senin, tanggal 11 Maret, Muhammad tiba di Saffra. Dia lalu
mengirim dua pengintai, yakni Basbas b. Amr al-Juhani and Adi b. Abu
Zaghba ke Badr untuk mengetahui posisi kafilah Quraish. Sebenarnya di
sinilah Muhammad berharap untuk bertemu dengan kafilah itu dan melakukan
serangan mendadak. Ketika berada di sana, kedua pengintai mendengar
percakapan dua wanita dekat sumur bahwa kafilah Quraish akan datang
dalam waktu satu atau dua hari. Mereka cepat2 kembali ke Muhammad dan
memberitahu tentang berita ini.
Di waktu subuh hari Selasa, tanggal 12 Maret [16], Abu Sufyan datang
lebih dahulu dari kafilah dan berhenti di sumur tempat ambil air dan dia
tahu tentang orang2 Muhammad dari memeriksa kotorang unta milik Basbas
dan Adi yang berisi biji kurma, khas makanan unta dariYathrib (Medina).
Abu Sufyan jadi sangat khawatir dan cepat2 kembali ke rombongan
kafilahnya, balik ke arah jalur pantai sehingga menghindari serangan
tentara2 Muhammad. Memang setelah itu Muhammad luput berjumpa dengan
kafilah itu dalam beda waktu beberapa jam saja.[17] Abu Sufyan sendiri
terus mengawal kafilah agar bisa sampai ke Mekah dengan selamat. Dia
mengirim utusan kedua, yakni Qays b. Imea al-Qays [18] untuk memberitahu
pasukan Mekah yang makin mendekat tentang keputusannya mengambil jalur
jalan lain dan menyampaikan pesan bahwa bahaya telah lewat. Saat itu,
Muhammad tiba di Rooha dan minum dari sumur yang ada di sana.
Pada hari Rabu, tanggal 13 Maret, utusan kedua Abu Sufyan bertemu dengan
pemimpin tentara Mekah yakni Abu Jahl di Johfa. Abu Jahl siap memberikan
bantuan menjaga kafilah Quraish yang terancam perampokan. Utusan datang
padanya dan mengatakan bahwa Abu Sufyan tidak merasa perlu mengadakan
pertumpahan darah karena kafilah berhasil diselamatkan. Dia minta Abu
Jahl dan orang2nya untuk kembali ke Mekah.
14 Ibn Ishaq, p.291
15 Hamidul, p.30
16 Ibid
17 Ibid
18 Ibn Sa’d, vol.ii, p.11
Tapi Abu Jahl memaksa terus bergerak ke Badr karena ingin melakukan
suatu perdagangan dan juga bersenang-senang makan minum di sana. Gadis2
penyanyi yang ikut dalam rombongan ini dikirim balik ke Mekah.[19] Dua
suku Quraish yakni suku Z. Zohra (suku ibu Muhammad) dan suku B. Adi
(suku Umar) juga mengambil keputusan untuk balik ke Mekah. Sisa tentara
Mekan terus bergerak dan tiba di Badr malam hari Kamis, tanggal 14
Maret. Mereka berkemah di daerah luar sumur Badr dan di belakang gunung.
Pada saat itu, Muhammad bergerak mendekat. Di pagi hari Kamis, tanggal
14 Maret, dia tiba di Dhafiran, tak jauh dari Badr. Dia tertegun waktu
mendengar berita tentara Quraish maju untuk melindungi kafilah mereka
yang banyak harta. Dia sangat frustasi dengan kemungkinan adanya
pertumpahan darah dan bukannya perampokan mudah dengan banyak jarahan.
Para Jihadis juga mendengar kabar buruk bahwa kafilah yang kaya raya itu
telah lewat. Kabar datangnya tentara Mekah juga benar2 tak diduga orang2
Muslim. Muhammad sendiri tidak yakin apakah dia harus maju terus atau
tidak karena barang jarahan ternyata sudah berlalu. Dengan dilema bahwa
melakukan serangan terhadap orang Quraish bisa melanggar perjanjian
perlindungan dengan orang2 Ansar (perjanjian ini berisi persetujuan
bahwa orang2 Ansar akan melindungi Muhammad jika dia diserang di Medina
dan daerah sekitarnya – lihat Bagian 1), Muhammad lalu mengadakan rapat
dengan panglima2 perangnya dan minta pendapat dari semua orang Muslim,
terutama orang2 Ansar. Dia takut orang2 Ansar tidak akan melindunginya
di luar Medina. Abu Bakr dan Umar dipanggil untuk mengadakan pertemuan
umum. Ternyata orang2 Ansar bersumpah untuk mendukung pasukan Muhammad.
Ketua orang2 Ansar, yakni Sa’d b. Muadh (dari Bani al-Aws) menjanjikan
bahwa jika Muhammad memimpin mereka terjun ke laut sekalipun, mereka
akan ikut terjun dan tenggelam. Setelah itu, semua orang Ansar bersumpah
untuk berperang bersama Muhammad. Dengan rasa sangat puas, Muhammad
meminta orang2nya untuk terus maju. Dia
menjanjikan pembantaian para musuh.
Untuk menyenangkan hati para
Jihadis yang haus barang jarahan, dia mengatkan bahwa Allah telah
menjanjikan mereka tentara Quraish atau kafilah seperti tercantum
di Q 8:7.
Akhirnya Muhammad dan gerombolannya tiba di Badr di pagi hari Kamis,
lebih dahulu daripada tentara Mekah dan berkemah di situ. Tenda darurat
dari dahan2 pohon palm didirikan baginya. Dia yang duluan minum air
sumur di situ. Sesuai nasihat veteran perang bernama al-Hubab, Muhammad
menimbuni semua sumur di daerah sekitar kecuali satu sumur terdekat
baginya. Para Muslim lalu membuat tempat penampungan dan mengisi penuh
dengan air. Dengan ini, para Muslim mengontrol penuh persediaan air di
daerah itu. Musuh tidak bisa mengambil air tanpa melalui Muhammad. Dan
tentara2 Muhammad sudah siap membunuh orang Mekah mana pun yang berani
mendekat ke tempat penampungan air untuk minum.
19 Ibid, p.11
20 Mubarakpouri, p.257
Segera setelah tiba pada pagi hari di Badr, Muhammad berusaha mencari
tahu keadaan tentara Mekah. Dia pergi bersama Abu Bakr untuk
mengintai.[30] Mereka bertemu dengan seseorang di jalanan dan berusaha
menanyakan keadaan di situ. Orang itu tidak mau menjawab sampai Muhammad
memberitahu siapa dirinya. Keterangan yang didapat ternyata tidak banyak
membantu. Pada petang harinya, dia mengirim Ali dan beberapa orang lain
untuk menelaah keadaan di sekitar sumber mata air. Di sana mereka
melihat dua budak Quraish pembawa air. Ali dan kawan2nya menculik kedua
budak ini dan membawa mereka menghadap Muhammad. Budak2 memberitahu
orang2 Muslim bahwa mereka adalah pengangkut air untuk tentara Quraish.
Ini bukan berita baik bagi orang Muslim karena mereka berharap para
budak ini datang dari perkemahan Abu Sufyan. Setelah disiksa, akhirnya
kedua budak memberitahu tempat dan kekuatan tentara Quraish. Dari
informasi ini, juga dengan kenyataan bahwa orang2 Quraish telah
menyembelih 9 unta di hari pertama dan 10 unta di hari kedua, Muhammad
tahu kira2 berapa besar tentara Quraish. Dia memperkirakan mereka
berjumlah 900 sampai 1.000 orang. Dugaan ini tepat, karena jumlah
tentara Quraish sebenarnya adalah 950 orang. Mereka menunggangi 700 unta
dan 100 kuda. Ketika Muhammad mengetahui banyak orang terkemuka Quraish
yang ikut dalam kekuatan tentara ini, dia berkata,
“Mekah rupanya telah melemparkan daging dan
darah mereka yang paling berharga bagimu.’ [21]
Pada malam hari, Muhammad dan Abu Bakr kembali ke perkemahan mereka dan
mulai sembahyang minta syukur dari Allah. Sa’d b. Muadh berjaga-jaga di
pintu muka. Orang2 Muslim merasa lelah karena lama dan beratnya
perjalanan yang mereka lakukan beberapa hari ini. Rasa lelah dan kantuk
melanda mereka sehingga akhirnya mereka terlelap. Malam itu turun hujan
tapi lebih lebat di daerah tentara Mekah. Karena air hujan, alas Wadi
jadi empuk tapi tidak becek dan ini memberi keuntungan pada pihak
Muslim. Air hujan ini disinggung dalam Qur’an ayat
8:11 sebagai pemurnian dari
Allah. Malam harinya, sebagaimana yang disebut di
Q 8:45, Muhammad membayangkan
tentara Quraish lemah.
Kedua pihak gelisah sampai pagi hari. Menjelang subuh, ketika Muhammad
sedang mengatur orang2nya sesuai tingkatan, beberapa orang Quraish yang
merasa haus mendekati sumur air. Muhammad berdoa pada Allah untuk
kematian mereka.
Orang2 Muslim mengangkat tiga panji2, satu untuk para pengungsi (yang
ikut hijrah), dipegang oleh Musab, satu untuk orang2 Khazarite, dipegang
oleh al-Hobab dan satu lagi untuk Bani Aw, dipegang oleh Sad ibn Muadh.
Para Quraish juga membuat batas mereka dan mulai bergerak maju. Akan
tetapi, mereka berbeda pendapat tentang aturan berperang melawan orang2
dari kalangan mereka sendiri. Shayba dan Utba, dua ketua kelompok
Quraish mendesak keras agar tidak menyerang. Perlu diingat bahwa Utba
adalah ayah Hind, yakni istri Abu Sufyan b. Harb dan Shayba adalah kakak
laki Utba (yakni paman Hind). Mereka menyediakan tempat [21] berteduh
bagi Muhammad ketika dia diusir dari Taif oleh anak2 jalanan yang
melemparinya dengan batu. Utba dan Shayba hanya menginginkan uang darah
karena pembunuhan yang dilakukan orang Muslim atas Amr b. al-Hadrami.
Maka Utbah mengirim pesan pada Abu Jahl untuk mundur dan tidak memerangi
saudara sepupu Abu Jahl, yakni Muhammad.
Tabari, vol.vii, p.44
Salah satu anak2 laki Utba, yakni Abu Hudhayfah adalah Jihadis baru dan
berada bersama pihak Muhammad. Karena inilah Utbah tidak mau melawan
Muhammad – Abu Jahl menyebarkan hal ini dan mencela Utba pengecut karena
tidak mau berperang melawan tentara Muslim. Saudara laki Amr b. Hadrami
yang bernama Amir b. al-Hadrami membujuk orang2 untuk membalaskan dendam
kematian saudaranya. Meskipun sangat ragu, akhirnya Utba bersedia maju
perang, tapi dia berkata tidak ingin membunuh Muhammad meskipun adanya
kebencian yang besar di kedua pihak Quraish dan Muslim. Pada saat itu
pula Omayr, pemanah Quraish, datang membawa berita bahwa tentara2 Muslim
ber-siap2 untuk perang. Dia mengajukan ajakan damai dengan kaum Muslim
tapi Abu Jahl menolaknya. Jadi, tentara Quraish juga bersiap untuk
perang. Mereka bergerak maju perlahan di atas bukit2 pasir yang susah
dilalui karena hujan tadi malam. Akan tetapi, seperti yang telah disebut
sebelumnya, hujan mendatangkan keuntungan bagi Muhammad karena tanahdi
tempatnya jadi empuk tapi enak untuk dijalani. Yang juga jelek buat
pihak Quraish adalah mereka bergerak melawan sinar matahari, sedangkan
pihak Muhammad bergerak ke arah Barat, membelakangi matahari
Segera setelah Muhammad selesai mengatur pasukannya, dia melihat barisan
orang Quraish muncul dari gundukan pasir di depan. Ketika sembahyang
pada Allah minta bantuanNya agar tentaranya yang kecil tidak punah, dia
sangat khawatir dan pergi masuk tendanya yang kecil untuk berkonsultasi
dengan Abu Bakr. Untuk menunjukkan tuntunanNya yang kokoh, Allah
menyatakan Q 8:46. Ayat ini
menambah semangat tentara2 Muslim untuk maju menang. Ayat lain
Q 2:42-44 juga ke luar. Ayat2 lain yang juga penting yang
berhubungan dengan perang Badr adalah melipatduakan tentara Medina di
Q 3:18, dll.
Tentara Quraish sekarang bergerak maju, tapi tentara Muslim tidak
beranjak dari posisinya di mana mereka berada di tempat yang lebih
tinggi dari tentara Quraish dan karenanya memberi lebih banyak
keuntungan untuk melepaskan anak panah dan tombak pada pihak musuh.
Muhammad mengamati kekuatan musuh dan jadi panik dan mulai sembahyang
dengan penuh semangat. Kali ini, Allah mengirim dia jaminan: seperti 20
jadi 200 … dll melalui ayat2 Q 8:65, 66.
Allah juga melarang para Jihadis di ayat
Q 8:15-16, untuk lari dari medan perang. Sejak perang Badr, ayat
ini jadi bagian dari hukum Sharia dalam perang (Reliance of The
Traveller, p.659).
Sewaktu persiapan ini berlangsung, Hakim b. Hizam, diikuti beberapa
orang Quraish pergi untuk minum air dari tempat penampungan air yang
dibuat orang2 Muhammad. Setiap orang Quraish yang datang untuk minum
dibunuh pada hari itu, kecuali Hakim b. Hizam. Tidak diketahui mengapa
Muhammad tidak membunuhnya. Tidak ada satu pun keterangan dari para
penulis biografi tentang alasan Muhammad mengampuni nyawanya. Akan
tetapi nanti kita ketahui bahwa Hakim b. Hizam jadi Muslim. Setelah tahu
nasib 30 orang Quraish yang haus, Abd al-Aswad Makhzami dari Quraish
mencoba menghancurkan tempat penampungan air itu dan bersumpah untuk
minum air dari situ. Ketika ia pergi menuju tempat penampungan itu,
Hamzah menyerangnya dan menebas putus pergelangan kakinya dan membabat
putus setengah kakinya yang lain. Abd al-Aswad Makhzami merangkak dengan
badannya yang penuh darah ke tempat air dan menjebur ke dalam lalu minum
airnya. Hamzah memukul dia sampai mati di tempat itu juga. Sekarang
perang dimulai. Hari itu adalah hari Jum’at, tanggal 15 Maret, 624 M (17
Ramadan, AH2). Meskipun saat itu bulan puasa, tidak ada satu pun orang
Jihadis termasuk Rasul Allah yang puasa saat itu.[22]
22 Ibn Sa’d, vol ii, p.22
Pada awalnya, tiga orang Quraish, yakni Utbah b. Rabiah, saudara lakinya
yang bernama Shaybah b. Rabiah dan anak Utba yang bernama al-Walid
menantang orang2 Muslim untuk bertempur dengan mereka. Utbah b. Rabiah
tidak mau bertempur dengan orang2 Ansar dan menantang orang2 Quraish
yang bergabung dengan tentara Muhammad (yang dulu ikat Muh hijrah ke
Medina) untuk berkelahi melawannya satu lawan satu. Mereka ingin melawan
orang sesama suku saja, yang adalah saudara2 sepupunya, dari anak2
al-Muttalib. Ketika tiga orang Medina maju ke muka, Muhammad memanggil
mereka mundur dan menggantinya dengan orang2 sesukunya yakni anak2
Hashim untuk bangun dan berkelahi. Hamzah, Ali dan Obaydah (paman dan
saudara sepupu Muhammad) menuruti perintah Muhammad, bangkit dan maju.
Hamzah mengenakan bulu2 burung unta di dadanya, dan Ali mengenakan
rambut kuda di topinya.
Lalu Utba memanggil anaknya, Walid, untuk bangkit dan berkelahi. Dia
lalu melawan Ali. Pertarungan singkat terjadi. Ali melukai parah Walid
dengan pedangnya. Ketika Utba maju, Hamzah pun maju dan membunuhnya.
Shayba lalu melawan Obaydah. Keduanya sangat tua. Mereka berkelahi untuk
sesaat dan akhirnya Shayba berhasil membabat kaki Obaydah sampai hampir
putus. Melihat ini Hamzah dan Ali maju serentak dan membunuh Shayba.
Obaydah masih bisa hidup beberapa hari setelah itu sebelum akhirnya
mati.
Pertempuran sekarang berlangsung umum dan bebas. Orang Muslim pertama
yang mati adalah budak Umar yang telah dimerdekakan yang bernama Mihja.
Mihja dibunuh oleh Amir ibn al-Hadrami [23]. Lalu Haritha b. Suraqah
dibunuh. Untuk menyemangati
pengikutnya, Muhammad mengiming-imingi surga bagi mereka yang mati.
Ini memberi semangat bahkan untuk anak remaja berusia 16 tahun yang
bernama Umayr b. al-Humam [24] yang saat itu sedang makan kurma. Dia
melempar kurmanya dan bergabung dalam perang.
Anak ini kaget waktu mendengar
Muhammad bahwa yang harus dilakukannya untuk bisa ke surga adalah ikut
berjihad dan mati terbunuh. Tak lama kemudian, dia pun mati
terbunuh. Muhammad sekarang menyerukan bahwa Allah mencintai para
Jihadis fanatik. Mendengar ini, seorang ekstremis Jihadis bernama Auf b.
Harith bertanya pada Muhammad,“O Rasul Allah, apakah yang membuat Tuhan
tertawa bahagia bagi hambaNya?” Dia menjawab,”Ketika hamba itu masuk
dalam pertempuran dengan musuh tanpa baju perang.” Auf membuang baju
pelindung tubuhnya, mengambil pedangnya dan melawan musuh sampai dia
terbunuh.[25] Jika kau melihat
di TV bagaimana pembom bunuh diri bekerja, ingatlah kata2 sang Nabi yang
penuh kasih dan kamu akan segera mengerti kekuatan apa yang mendorong
orang2 fanatik ini untuk melakukan teror yang sungguh di luar akal sehat
dan memeledakkan tubuh mereka berkeping-keping.
Pertempuran semakin sengit. Untuk menambah semangat para Jihadis,
Muhammad jongkok dan mengambil kerikil2 dan melemparkannya ke arah
orang2 Quraish sambil menjerit keras2,”Biarlah muka2 kalian jadi
rusak”[26] Allah menyatakan bahwa ini bukan tindakan Muhammad, tapi
tindakannya sendiri di ayat Q 8:17,
dan Dia benar2 merestui tindakan simbolis Muhammad. Tentara Muslim
sekarang jadi hebat semangatnya dan bertempur mati2an sampai2 tentara
Quraish tidak kuat melawannya. Ketika pertempuran sedang menghebat,
Muhammad mengirim perintah pada para tentaranya untuk tidak membunuh
kedua paman Muhammad yakni Abul Bakhtari and al-Abbas [27]. Dikabarkan
bahwa al-Abbas adalah agen rahasia Islam di Mekah [28], tapi alasan
mengampuni nyawa Abul Bakhtari tidak diketahui, meskipun Ibn Ishak
menulis bahwa Abul Bakhtari menunjukkan simpati kepada Muhammad sewaktu
kaum Pagan mengganggu Muhammad di Ka’ba.
23 Ibid, p.16
24 Tabari vol.vii, p.55
25 Ibn Ishaq, p.300
26 Tabari, vol.vii. p.56
27 Ibn Ishaq, p.301
28 Hamidul, p.40
Ketika para Jihadis protes atas keputusan ini, Umar mengancam memenggal
kepala mereka. Karenanya mereka tidak punya pilihan dan menurut perintah
ketuanya. Ibn Ishaq [29] menulis bahwa di samping pembantaian umum di
perang itu, yang jadi target utama untuk dibantai adalah empat orang
Quraish yang murtad. Keempat orang ini memeluk Islam tapi tidak mau ikut
hijrah ke Medina bersama Muhammad karena anggota keluarga mereka
menghalangi kepergian mereka dengan menyekapnya di dalam rumah mereka.
Setelah itu, mereka meninggalkan Islam dan bergabung dengan orang2
Quraish di Badr. Muhammad tidak memberi ampun pada mereka. Keempat orang
ini dibunuh semua oleh para Jihadis. Muhammad bahkan menciptakan sebuah
ayat (Q 4:97) untuk membenarkan
pembunuhan atas mereka.
Q 4.097:
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam
keadaan bagaimana kamu ini ?". Mereka menjawab : "Adalah kami
orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata :
"Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu
?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali,
Semangat membunuh diantara para Jihadis begitu hebat sampai2 Hazrat Umar
membunuh paman kandungnya sendiri, yakni al-As b. Hisham b.
al-Mughira.(Ingat? Dialah yang menggantikan Abu Lahab, musuh besar
Islam!)
Ketika peperangan berlanjut, Muhammad tetap tinggal dalam tendanya
bersama Abu Bakr sambil berdoa pada Allah untuk kemenangan. Dia meminta
Allah untuk mengirim bantuanNya bagi orang2 Muslim. Maka Allah menjawab
dengan ayat Q 8:9 untuk membantu
Muhammad dengan ribuan malaikat! Saat itu adalah musim dingin yang penuh
dengan angin topan keras bertiup kesana kemari. Tiga topan keras melanda
medan perang dan Muhammad segera menganggapnya sebagai malaikat2 suruhan
Allah untuk menolong para Jihadis. Dia mengatakan pada para tentaranya
bahwa topan pertama adalah seribu malaikat dipimpin oleh malaikat
penghulu Jibril, dan topan kedua adalah seribu malaikat dipimpin oleh
malaikat penghulu Mikhael dan topan ketiga adalah seribu malaikat lagi
dipimpin oleh malaikat penghulu Sarafel.[30] Maka, seperti yang
ditegaskan di aya Q 3:124, Allah
mengirim tiga ribu malaikat tentara untuk menolong tentara2 Muslim.
Ketika peperangan bertambah sengit, Muhammad meminta pertolongan lebih
lanjut dari Allah-nya dan Allah segera nurut dengan mengirim dua ribu
lagi malaikat. Jadi seperti yang dikatakan di
Q 3:125, semuanya berjumlah 5.000
malaikat yang tidak kelihatan dari Allah yang maha perkasa, untuk
membantu 300 lebih Jihadis untuk mendapatkan kemenangan. Para Jihadis
yang fanatik mengaku bahwa tanda2 dari para malaikat di Badr adalah
sorban putih [31] atau turban kuning, ya?[32]
Ini Hadis Sahih Bukhari yang mengatakan bahwa Jibril turun menolong
Muhammad:
Volume 5, Book 59, Number 330:
Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas:
Sang Nabi berkata pada hari Perang Badr,”Ini Jibril memegang kepala
kudanya, lengkap bersenjata untuk berperang.”29 Ibn Ishaq p.307
30 Ibn Sa’d, vol ii, p.15
31 Ibn Ishaq, p.303, Tabari vol. vii, p.61
32 Ibn Sa’d, vol.ii, p.29
Dengan bantuan Jibril, orang2 Quraish mulai terdesak kalah. Pasir becek
tempat mereka berdiri mempersulit gerakan mereka. Beberapa dari mereka
melarikan diri. Mereka bingung dan mulai mundur dan lari. Para Muslim
mengejar mereka dan menangkap orang2 Quraish yang tidak terbunuh di
medan perang. Orang2 Muslim mengikuti jejak mereka yang melarikan diri,
membunuh atau menangkap mereka. Dalam usahanya melarikan diri, orang2
Quraish melemparkan baju perang mereka dan meninggalkan binatang beban,
kemah dan segala perlengkapannya. 70 (ada yang bilang 45) orang Quraish
dibunuh dan jumlah yang sama dijadikan tawanan perang. Orang2 Muslim
hanya kehilangan 14 orang, 8 dari Medina dan 6 yang ikut hijrah. Mereka
juga menangkap banyak orang penting Quraish. Muhammad memerintahkan
untuk tidak membunuh pamannya, al-Abbas. Ketika Abu Hudhayfah (ingat?
Ayahnya, Utbah bin Rabiah, dibunuh oleh Ali) protes akan perintah
Muhammad yang berstandard dua ini dan ingin membunuh al-Abbas, Umar lalu
mengancam akan memancung Abu.[33] Tentara2 Muslim menangkap Abu
al-Bakhtari (paman Muhammad yang lain) bersama kawannya. Para Jihadis
setuju untuk tidak membunuhnya (sesuai perintah Muhammad) tapi mereka
ingin membunuh kawan Abu al-Bakhtari. Ketika Bakhtari minta temannya
jangan dibunuh, para Muslim menolaknya. Maka Bakhtari pun melawan para
Muslim dan terbunuh. Kabar ini disampaikan kepada Muhammad. Semua
tawanan berjumlah 70 (ada yang bilang 44) orang Quraish dijadikan
tawanan perang. Sa’d b. Muadh ingin membunuh semua tawanan perang dan
dia berkata,”Ini adalah kekalahan pertama yang diberikan Allah kepada
kaum pagan, dan membunuh para tawanan lebih menyenangkan hatiku daripada
membiarkan mereka hidup.”[34] Meskipun begitu, para tawanan
dibagi-bagikan diantara tentara Muslim untuk uang tebusan sampai
Muhammad kembali ke Medina.
Ada suatu kisah yang menceritakan kekejaman kaum Jihadis dalam
memperlakukan beberapa tawanan perang. Umayah b. Khalaf adalah orang
pagan, tapi dia adalah kawan Abd Umar, yang baru saja memeluk Islam.
Karenanya, Umayah dan anaknya Ali merelakan diri untuk jadi tawanan Abd
Umar. Jihadis terkenal Abd al Rahman b. Awf mengambil alih tawanan Abd
Umar dengan harapan dapat uang tebusan besar. Dikisahkan bahwa Umayah
suka menyakiti Bilal, yakni orang
Negro terkenal yang suka meneriakkan adhzan. Ketika Bilal melihat Umayah
dan anaknya, Ali, dibawa pergi oleh Abd al Rahman b. Awf, dia berteriak
memanggil orang2 Muslim untuk membunuh orang yang dulu sering
menyakitinya. Abd al Rahman b. Awf dengan cepat mencegah Bilal dengan
memakinya anak perempuan Negro dan memerintahkan dia untuk tidak
membunuh Umayah dan anaknya. Akan tetapi perintah ini tidak didengar.
Beberapa Muslim lalu membacoki Umayah b. Khalaf dan anaknya Ali sampai
mati dan me-motong2 badan mereka. Abd al Rahman b Awf lalu memaki Bilal
karena membunuh tawanannya sehingga Abd al Rahman kehilangan kesempatan
dapat uang tebusan besar.
Menantu pria Muhammad yang bernama Abu al-Aas juga ditawan. Khadija
(istri pertama Muhammad) adalah bibinya. Ibu Abu adalah Hala d.
Khuwaylid. Khadija dulu biasa menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Abu
al-Aas tidak memeluk Islam dan tidak mau menceraikan istrinya yang
bernama Zaynab, yakni anak wanita Muhammad yang tertua. Abu al-Aas lalu
bergabung dengan orang2 Quraish melawan Muhammad di Badr. Tawanan
Quraish lain yang juga terkenal adalah Amr, putra Abu Sufyan (bukan dari
istrinya Hind tapi dari istri lain Abu Sufyan b. Harb) dan Amir b.
Al-Hadrami, yakni teman dekat Abu Sufyan. Anak Abu Sufyan yang lain yang
bernama Hanzala mati terbunuh di Badr.[35]
33 Tabari, vol.vii, p.57
34 Ibid
Segera setelah pertempuran berakhir, terjadi penjarahan besar2an oleh
tentara2 Muslim. Para Jihadis juga menceritakan kisah yang sukar
dipercaya tentang kepala2 orang pagan puts sebelum pedang2 orang Muslim
menyentuhnya. Ini katanya adalah pertolongan para malaikat. Abu Jahl,
yang adalah paman Muhammad sendiri, adalah musuh bebuyutan Muhammad.
Muhammad begitu benci padanya sehingga memberinya julukan Abu Jahl
(biang tolol), sedangkan nama aslinya adalah Abul Hakam (ayah dari
hikmat). Karena begitu besar rasa bencinya, Muhammad memerintahkan Abu
Jahl untuk dibunuh.[36] Untuk melaksanakan perintah Muhammad, Muadh b.
Amr dan dua anak muda Medina yakni Auf b. Afra dan Muwawwidh b. Afra,
yang merupakan anak2 laki Afra, pergi mencari Abu Jahl untuk
membunuhnya. Muadh menemukan Abu Jahl di dalam semak2 dan lalu
menyerangnya. Dia memukul jatuh Abu Jahl ke tanah dan memotong kakinya
sampai putus. Anak laki Abu Jahl yang bernama Ikrima membabat salah satu
lengan Muadh sampai bergelantungan hanya pada kulitnya saja. Muadah lalu
menggunakan kakinya untuk menarik putus lengan itu dan melanjutkan
pertempuran sampai rasa sakit yang luar biasa membuatnya berhenti
berkelahi. Saat itu Muwawwidh b. Afra dan saudaranya Auf b. Afra tiba di
tempat dan mereka membunuh Abu Jahl yang sudah terluka berat. Setelah
membunuh Abu Jahl, mereka kembali untuk memerangi orang Quraish sampai
akhirnya mereka sendiri mati terbunuh.[37] Ketika kabar tentang Abu Jahl
yang sekarat hampir mati terdengar oleh Muhammad, dia menyuruh budaknya
yang bernama Abd Allah b. Masud untuk mencari mayat Abu Jahl. Abd Allah
b. Masud pergi dan menemukan Abu Jahl yang sekarat, tersengal-sengal,
siap menghembuskan nafas terakhir. Abu Jahl masih bernafas ketika Abd
Allah b. Masud berlari menyerbu dan memenggal kepalanya dan membawa
kepala itu kepada majikannya. Dengan penuh rasa suka cita Muhammad
berkata,”Kepala musuh Allah.” Abd Allah lalu melemparkan kepala Abu Jahl
yang penuh darah ke kaki majikannya. Muhammad berkata,”Ini lebih
berharga bagiku daripada unta2 terbaik di seluruh Arabia.” Lalu Muhammad
menghadiahi Abd Allah b. Masud dengan pedang yang digunakan untuk
membunuh Abu Jahl.
35 Ibn S’ad, vol.ii, p.18
36 Ibn Ishaq, p.304
37 Ibid
Hadis Sunaan Abu Dawud, Book
14, Number 2716:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Mas'ud:
Di perang Badr, Rasul Allah memberiku pedang Abu Jahl, karena aku telah
membunuhnya.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4,
Book 53, Number 369:
Dikisahkan oleh 'Abdur-Rahman bin 'Auf:
Ketika aku berdiri di barisan hari itu di (perang) Badr, aku melihat ke
sebelah kananku dan kiriku dan melihat dua anak muda Ansari dan aku
berharap diriku lebih kuat dari mereka berdua. Seorang dari mereka
berkata padaku,”O Paman! Apakah kau tahu Abu Jahl?” Aku berkata,”Ya, apa
yang kau inginkan dari dia, O keponakanku?” Dia berkata, “Aku dikasih
tahu bahwa dia suka menghina Rasul Allah. Demi Tuhan yang Tangan2Nya
memiliki hidupku, jika aku melihatnya, maka tubuhku tidak akan
meninggalkan tubuhnya sampai salah satu dari kami mati.” Aku terkejut
mendengarnya. Lalu anak muda satunya juga mengatakan hal yang sama.
Sesaat kemudian aku melihat Abu Jahl berjalan diantara orang2. Aku
berkata (kepada kedua anak muda itu), “Lihat! Itu orang yang kau cari.”
Maka keduanya langsung menyerang dia dengan pedang2 mereka dan membabat
dia sampai mati dan lalu menghadap Rasul Allah untuk memberitahu
kejadian itu. Rasul Allah bertanya,”Siapa diantara kalian berdua yang
membunuhnya?” Keduanya berkata,”Aku telah membunuh dia.” Rasu Allah
bertanya, “Sudahkah kau bersihkan pedang2mu?” Mereka menjawab,”Belum.”
Dia lalu melihat pedang2 mereka dan berkata,”Tidak ragu lagi, kau berdua
telah membunuh dia dan barang2 milik yang mati akan diberikan kepada
Muadh bin Amr bin Al-Jamuh.”
Kedua anak muda ini adalah Muadh bin 'Afra dan Muadh bin Amr bin
Al-Jamuh. Ini Hadis yang mengisahkan akhir hayat Abu Jahl:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5,
Book 59, Number 300:
Dikisahkan oleh Anas:
Sang Nabi berkata,”Siapa yang mau pergi dan melihat apa yang terjadi
pada Abu Jahl?” Ibn Mas’ud pergi dan mendapatkan bahwa kedua anak Afra
telah melukainya dengan fatal (dan dia masih bernapas walaupun hampir
mati). 'Abdullah bin Mas'ud berkata, “Apakah kau Abu Jahl?” sambil
menjambak janggutnya. Abu Jahl berkata, “Adakah orang yang lebih hebat
dari orang yang telah dibunuhnya atau orang yang telah dibunuh
kelompoknya?”
Pertempuran sudah selesai, Muhammad memerintahkan agar semua mayat2
musuh, termasuk mayat Abu Jahl dan kepalanya, dibuang ke dalam sebuah
sumur. 24 mayat kafir dibuang ke dalam sumur. (Lihat
Sahih Bukhari, vol. 5, book 59,
number 314). Ketika ini selesai dilakukan, Muhammad berdiri di
pinggir sumur, berkata pada mayat2 orang Quraish itu [38], berpidato
panjang lebar pada mereka karena tidak percaya dan menolak dia sebagai
Rasul Allah. Ketika para Muslim bertanya padanya apakah orang mati bisa
mendengar, Muhammad menjawab bahwa orang mati bisa mendengar lebih baik
daripada orang hidup, tapi mereka tidak bisa menjawab balik. Tubuh
Umayyah b. Khalaf tidak dibuang ke dalam sumur. Tubuhnya mulai membusuk.
Karena itu mereka menimbuninya dengan batu.
38 Ibn Ishaq, pp.305-306
Hadis Sahih Bukhari Volume 2,
Book 23, Number 452:
Dikisahkan oleh Ibn 'Umar:
Sang Nabi melihat pada (mayat) orang2 dalam sumur (tempat pembuangan
mayat pagan di perang Badr) dan berkata,”Apakah kau telah menemukan apa
yang Tuhanmu janjikan padamu?” Seseorang berkata,”Kau bicara sama orang
mati.” Dia menjawab,”Kau tidak mendengar lebih baik daripada mereka,
tapi mereka tidak dapat menjawab.”
Diantara tumpukan mayat orang adalah mayat Utba b. Rabiah, ayah dari Abu
Hudhayfa, seorang Jihadis Islam yang baru saja bergabung. Ketika
Muhammad melihat kesedihan di wajah Abu Hudhayfa, dia memberkatinya
karena berpikir bahwa Hudhayfa merasa sedih melihat kematian ayahnya.
Tapi Hudhayfa menjawab bahwa dia merasa sedih karena ayahnya tidak
memeluk Islam, dan bukan karena ayahnya telah mati! Memang begitulah
pengabdian dan kebutaan fanatik para Jihadis.
Setelah penguburan selesai dilakukan, orang2 Muslim tetap tinggal di
medan perang sampai hari itu berakhir. Lalu mereka membawa kawan2 mereka
yang mati dan terluka ke sebuah lembah, beberapa mil dari Badr dan
menguburkan yang mati di sana. Sekarang waktunya membagi-bagi jarahan
perang. Ketika tentara Quraish melarikan diri, para Muslim mengumpulkan
harta benda mereka. Muhammad menjanjikan setiap Jihadis bahwa dia boleh
mengambil jarahan perang milik musuh yang dibunuhnya sendiri. Jihadis
yang tidak ikut perang secara langsung karena menjaga Muhammad juga
ingin mendapat bagian yang sama banyaknya atas jarahan perang. Beberapa
mengeluh karena Muhammad mengambil kain merah yang indah tanpa
pengetahuan orang lain. Maka Allah lalu mengeluarkan
Q 3:161:”Sang Nabi tidak akan
menyembunyikan jarahan …, “ membebaskan Muhammad dari kecurangan
pengambilan barang jarahan. Pertengkaran terjadi dalam pembagian barang
jarahan tentang siapa yang dapat lebih banyak atau lebih sedikit.
Muhammad harus menengahi dengan ayat Q
8:41 dari Allah. Di ayat ini, yang maha kuasa mengumumkan
seperlima barang jarahan harus diserahkan bagiNya dan Rasul
kesayangannya. Muhammad malahan juga mengatakan bahwa barang jarahan
adalah sah hanya bagi dia dan tidak bagi nabi2 lain karena dialah yang
paling dikasihi Allah. Dengan perintah seperti ini dari Allah, sisa
barang jarahan dikumpulkan jadi satu untuk dibagi-bagi kemudian. Seorang
perwira bernama Abdullah b. Ka’b ditunjuk sebagai penjaga barang
jarahan. Tentara Muslim lalu berbaris kembali ke Medina.
Hari berikutnya, barang2 jarahan dibagi-bagi di bawah pohon dekat
Saffra. Semua orang dapat bagian yang sama setelah seperlima dipisahkan
untuk Muhammad. Tentara berkuda dapat dua porsi ekstra untuk kuda
mereka. Setiap orang dapat unta, kursi berlapis kulit, dan barang2 lain.
Muhammad mengambil unta yang terkenal milik Abu Jahl. Dia kemudian
menggunakannya untuk pergi menyerang daerah lain dan sebagai pejantan
untuk menghasilkan unta2 baru. Dengan ayat
Q 55:45, dia menyatakan bahwa
barang jarahan adalah hadiah dari Allah, dan dia juga mengambil pedang
Dhu al-Faqr milik Munabbih b. al-Hajjaj. Untuk aturan pembagian jarahan,
dia memberi hak khusus bagi dirinya sendiri untuk boleh memilih barang
yang paling dia sukai sebelum barang2 jarahan dibagi-bagikan. Tawanan2
perang juga dibagi-bagikan diantara orang2 Muslim dan nasib mereka nanti
akan ditentukan di Medina.
Sifat sebenarnya Muhammad yang haus darah tampak saat tentara2 Muslim
berhenti di Saffra. Ketika sedang membagi-bagikan tawanan, Muhammad
mengenali al-Nadr b. al-Harith, penyair Quraish yang ditangkap Jihadis.
Dulu waktu Muhammad masih tinggal di Mekah, al-Nadr menyusun ayat2 yang
lebih bagus daripada Qur’an. Muhammad benci sekali terhadap komposisi
ayat al-Nadr. Sebagaimana disinggung di
Q 8:31 (Dashti, hal. 47), Al-Nadr b. al-Harith juga mengritik
ayat2 Qur’an dengan mengatakan ayat2 itu hanyalah dongeng kuno yang
telah didengar orang2 Mekah. Muhammad tidak punya ampun bagi Al-Nadr b.
al-Harith. Untuk memuaskan keinginan balas dendamnya, sang Nabi penuh
kasih ini memerintahkan agar Al-Nadr yang telah tak berdaya itu dibunuh.
Ali melaksanakan perintah
Muhammad dengan memenggal kepala Al-Nadr di Saffra, tepat di hadapan
Muhammad.[39] Inilah contoh toleransi dari ciptaan Allah yang terbaik
terhadap lawannya yang berani menantangnya secara intelektual.
Rodinson [40] menulis bahwa
Muhammad sangatlah sensitif (gampang tersinggung) pada celaan
intelektual terhadap dirinya. Setelah menghabisi pengritiknya,
Muhammad dengan puas memerintahkan rombongan melanjutkan perjalanan ke
Medina.
Dua hari kemudian, tentara Muslim berhenti di Irqu’l-Zabya, jalan di
tengah2 Badr dan Medina. Di sini Rasul Allah sekali lagi ingin memuaskan
nafsunya akan darah dan dendam. Tawanan perang bernama ‘Uqbah b. Abi
Muyat yang anak perempuannya menikah dengan anak laki Abu Sufyan yang
bernama Amr b. Abi Sufyan, diperintahkan untuk dibunuh. ‘Pelanggar
hukum’ ini meminta ampun dengan menyebutkan nama anak perempuannya. Tapi
Muhammad tidak memberikan ampun baginya. Apakah yang dilakukan ‘Uqba
sehingga dia layak menerima hukuman yang sangat berat dari sang Nabi
yang penuh belas kasihan dan kebaikan ini? Muhammad mengaku bahwa ‘Uqba
menyakitinya ketika dia berkhotbah tentang agamanya yang penuh cinta dan
kasih sayang (Islam) di Ka’aba. Tanpa menunjukkan setitik pun belas
kasih terhadap musuhnya yang sudah kalah, Muhammad memerintahkan
pembunuhan atas ‘Uqba. Ini yang ditulis oleh Ibn Ishaq: “Ketika sang
Rasul memerintahkan agar dia dibunuh, ‘Uqba berkata, ‘Tapi siapa yang
akan mengurus anak2ku, O Muhammad?’ ‘Neraka’, jawab Muhammad dan setelah
itu ‘Asim b. Thabit b. Abul-Aqlah al-Ansari membunuhnya. Demikianlah
yang dikatakan Abu ‘Ubayda b. Muhammad b. ‘Ammar b. Yasir padaku.
Biografer lain menulis bahwa Ali-lah yang membunuh ‘Uqba.
Tentang pembunuhan terhadap kedua tawanan ini, Rodinson [41] (Rodinson,
hal. 168) menulis, “Di lain pihak dia
mengumbar kemarahannya terhadap dua orang yang sudah menyerangnya secara
intelektual. Kedua orang ini telah mempelajari sumber2 Yahudi dan Persia
dan mereka menanyakan banyak pertanyaan yang sulit dijawab Muhammad.
Mereka menghinanya dan pesan ilahinya sekalian. Tiada ampun bagi
keduanya.”
Dua tawanan lain yang juga dibunuh adalah Naufal b. Khuweilid (dibunuh
Ali) dan Mabad b. Wahb (dipancung Umar). Dilaporkan bahwa Mabad b. Wahb
tidak mau mengaku kalah dan memuji-muji al-Lat dan al-Uzza (dua dewa
berhala) di hadapan Muhammad.[42] Alasan pembunuhan terhadap Naufal
tidak diketahui. Jadi semuanya ada 7 tawanan perang yang dibunuh sebelum
tentara Muslim dan tawanan lain tiba di Medina.
Untuk menyebarkan berita kemenangan Muslim di Badr, Muhammad mengirim
Zayd b. Harith ke Medina duluan sebelum kedatangan rombongan tentara
Muslim. Ketika Zayd tiba di Medina, dia mendengar berita kematiah
Ruqayyah, anak perempuan Muhammad. Orang2 sedang mempersiapkan
kuburannya ketika Zayd datang membawa berita kemenangan Muhammad di
Badr.
39 Ibn Ishak, p.337
40 Rodinson, p.168
41 Rodinson, p.168
42 Muir, p.109, footnote 48
Sehari kemudian Muhammad tiba di Medina dengan jarahan perang dan
menerima berita sedih tentang kematian dan penguburan anaknya Ruqayyah
sewaktu dia tidak berada di sana. Seperti telah disebutkan sebelumnya,
suami Ruqayyah adalah Uthman b. Affan yang tidak bisa ikut merampok
karena istrinya sakit. Meskipun begitu, Muhammad menghadiahi menantunya
jatah jarahan yang sama dengan tentara yang ikut perang. Beberapa bulan
kemudia Uthman menikah dengan anak perempuan Muhammad yang belum
menikah, yakni Umm Kulthum, yang sebelumnya menikah dengan anak Abu
Lahab, tapi akhirnya berpisah dengannya. Ketika orang2 memberi selamat
kepada para Jihadis atas barang2 jarahan, para Jihadis membual tentang
pembantaian kaum pagan. Banyak
Jihadis yang mengaku bahwa membantai kafir ternyata menyenangkan.[43]
Keesokan harinya di waktu malam, kelompok akhir Jihadis datang dengan
para tawanan di Medina. Melihat keadaan para tawanan yang menyedihkan
ini, banyak orang2 Medina yang jatuh kasihan terhadap mereka. Bagaimana
pun juga para tawanan itu adalah dari suku yang sama dengan mereka dan
sedarah. Belas kasihan ini bisa dilihat dari sikap yang ditunjukkan
Sauda, yakni istri kedua Muhammad, kepada seorang tawanan. Sauda pergi
untuk menghibur anggota keluarga Afra, warga Medina yang berduka cita
karena kehilangan dua putra di Badr. Waktu dia kembali, dia melihat Abu
Yazid Suhayl b. Amr, saudara laki suaminya yang dulu (jadi Abu Yazid
adalah saudara ipar Sauda), dan sekarang Abu Yazid jadi tawanan perang
berdiri di depan rumah Sauda dengan kedua tangan terikat di belakang
lehernya. Sauda berkata daripada jadi tawanan perang, seharusnya Abu
Yazid lebih baik memilih mati dengan terhormat di medan perang. Muhammad
menegurnya karena berkata begitu. Dengan penuh rasa kasihan dan sayang,
Sauda hendak melepas ikatan tangan Abu Yazid, tapi Muhammad dengan galak
melarangnya melakukan hal itu. Dari cerita Sauda kita tahu bahwa saat
itu para wanita Arabia tidak diharuskan memakai jilbab dan mereka bisa
bebas pergi ke mana mereka mau.[44] Penggambarannya tentang sikap keras
Muhammad juga membantah anggapan orang bahwa hubungan Muhammad dan
istri2nya penuh kasih dan ramah tamah. Sauda dengan jelas berkata bahwa
dia benar2 takut akan Muhammad. Inilah kata2nya yang asli:
“Tiba2 suara Muhammad mengejutkanku: “Sauda, kamu mau cari masalah
melawan Tuhan dan RasulNya?” Aku berkata,”Demi Tuhan, aku tidak dapat
menahan diri waktu aku melihat Abu Yazid dalam keadaan seperti itu dan
kukatakan apa yang kulakukan.” [45]
Meskipun begitu, secara keseluruhan orang2 Medina memperlakukan para
tawanan dengan baik. Mereka diberi makan dan naungan dan tidak disiksa,
meskipun dilaporkan bahwa Hazrat Umar ingin mencabut gigi2 Suhayl
(tawanan perang) dengan berkata pada Rasul Allah: ‘Biarkan saya cabut
dua gigi depan Suhayl agar lidahnya keluar dan dia tidak bisa berkata
melawanmu.’[46] Tapi Muhammad melarang penyiksaan ini. Perlakuan baik
terhadap tawanan Medina juga perlu dilakukan orang2 Muslim jika mereka
ingin dapat uang tebusan yang besar dari sanak saurdar para tawanan –
dan mereka (para Muslim) tahu akan hal ini. Kebaikan orang2 Muslim
menarik hati beberapa orang Medina untuk masuk Islam dan tinggal menetap
di Medina kemudian, dikabarkan begitu. Dikisahkan bahwa ketika Muhammad
memerintah agar semua tawanan diikat, paman Muhammad yang bernama
al-Abbas juga dirantai. Muhammad tidak bisa tidur sampai pengikutnya
melepas rantai al-Abbas.[47]
43 Tabari, vol. vii, p.65
44 Ibn Ishaq, p.309
45 Ibid
46 Ibn Ishaq, p.312; Tabari, vol.vii, p.71
47 Tabari, vol.vii, p.69
Ketika rasa sukacita kemenangan oleh tentara Muslim perlahan berakhir,
maka sekarang waktunya untuk mengambil keputusan tentang nasib para
tawanan. Telah disebutkan sebelumnya bahwa sejak semula, Jihadis fanatik
bernama Sa’d b. Muadah ingin membunuh semua tawanan Muslim. Hazrat Umar
juga ingin memancung semua tawanan, dan dia mengusulkan saudara membunuh
saudara, dan Abu Rawaha ingin membakar mereka hidup2. Muhammad tidak
bisa mengambil keputusan akan hal ini. Dia pun ingin membunuh semua
tawanan kecuali beberapa orang. Abu Bakr mengusulkan untuk meminta uang
tebusan bagi para tawanan. Tiba2 Muhammad melihat keuntungan dari usul
Abu Bakr. Dia melihat kesempatan dapat uang bagi pengikutnya yang miskin
papa itu. Seketika itu pula dia mengaku bahwa Allah (melalui Jibril)
telah mengirim ayat Q 8:6-7 yang
mengijinkan dia untuk meminta uang tebusan setelah membantai musuh, dan
di ayat Q 8:68, Allah mengijinkan
dia untuk menikmati harta jarahan. Dua ayat ini membuat kompromi antara
hal membantai semua tawanan dan mengambil uang tebusan untuk membebaskan
tawanan.
Sekarang yang paling dipikirkan Muhammad adalah Abu al-Aas, menantunya,
yang (seperti telah ditulis sebelumnya) jadi tawanan perang. Ketika anak
perempuan Muhammad yang tertua, Zaynab (yakni istri Abu al-Aas yang
tinggal di Mekah), mendengar bahwa suaminya ditangkap, dia mengirim uang
dan kalung Khadijah (ibunya, dan istri pertama Muhammad) sebagai tebusan
agar suaminya dibebaskan. Akhirnya hati Muhammad melembut (meskipun
hanya sedikiiiiit saja) ketika melihat kalung almarhum istrinya
Khadijah. Dia khawatir dan mulai memikirkan tentang Abu al-Aas dan anak
perempuannya. Keesokan harinya, di mesjidnya, dia meminta pendapat para
Jihadis akan hal ini. Mereka setuju untuk membebaskan Abu al-Aas tanpa
tebusan dan dia boleh kembali ke Mekah. Muhammad jadi lega dan
membebaskan Abu al-Aas, tapi dengan syarat waktu dia tiba di Mekah, Abu
al-Aas harus menceraikan Zaynab dan mengirimnya ke Medina untuk hidup
bersama Muhammad. Abu al-Aas berjanji akan membiarkan Zaynab pergi ke
Muhammad di Medina dan memang begitulah yang dia lakukan ketika tiba di
Mekah. Dia lalu mengatur kepergian Zaynab dari Mekah. Saat itu, Hind
(istri Abu Sufyan) bersikap ramah pada Zaynab. Meskipun ada permusuhan
besar diantara Muhammad dan Abu Sufyan, Hind dengan suka rela
menyediakan segala kebutuhan untuk membantu Zaynab pergi menemui
ayahnya. Tapi Zaynab ingin pergi diam2. Jadi pada saat yang tepat,
Zaynab meminjam seekor unta untuk pergi ke Medina. Kakak laki iparnya
menemani dia. Ketika mengetahui kepergian Zaynab, dua orang Quraish
mengejar unta Zaynab dan menangkapnya di Dhu Tuwa. Seorang Quraish yang
bernama Habbar b. al-Aswad mengancam dia dengan tombaknya. Saat itu
Zaynab sedang hamil. Dilaporkan bahwa dia jatuh dari unta dan mengalami
keguguran. Lalu Habbar menyakiti Zaynab, tapi Abu Sufyan menengahi dan
membiarkan Zaynab luput dari serangan Habbar. Abu Sufyan sama sekali
tidak punya rasa dendam terhadap Zaynab dan dia menasehati Zaynab untuk
meninggalkan Mekah diam2. Beberapa hari kemudian, ketika ribut2 tentang
perang Badr telah mereda, Zaynab diam2 melarikan diri dari Mekah di
malam hari.
Berikutnya adalah menentukan nasib al-Abbas, yakni paman Muhammad. Para
Jihadis membawa al-Abbas yang telanjang ke hadapan Muhammad. Muhammad
harus mencari baju bagi pamannya yang telanjang. Ini Hadisnya.
Hadith Sahih Bukhari, Volume 4,
Book 52, Number 252:
Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah:
Saat di hari perang Badr, para tawanan perang dibawa termasuk Al-Abbas
yang telanjang. Sang Nabi mencari baju baginya. Lalu didapatkan bahwa
baju 'Abdullah bin Ubai cocok ukurannya, lalu sang Nabi mengijinkan dia
(Al-Abbas) memakainya. Inilah alasan mengapa sang Nabi pergi dan
menyerahkan bajunya sendiri kepada ‘Abdullah (pencerita menambahkan,”Dia
membantu sang Nabi dan karenanya Nabi suka menghadiahi dia.”)
Karena al-Abbas adalah orang yang kaya, Muhammad menentukan bahwa
al-Abbas harus menebus dirinya sendiri, dan juga kemenakan2 dan
rekan2nya. Mendengar ini, al-Abbas mengaku bahwa diam2 dia juga adalah
seorang Muslim dan dia dipaksa perang melawan Muslim. Muhammad tetap
ingin minta uang tebusan dari al-Abbas. Sebenarnya Muhammad pun
berhutang pada al-Abbas, tapi ketika al-Abbas meminta agar utang
Muhammad dijadikan uang tebusan dirinya, Muhammad menolak. Begitulah
rakusnya sang Nabi penuh kasih ini kalau sudah urusan duit. Akhirnya
Muhammad mengambil 20 ons emas (sekitar US$ 8.000 dalam nilai uang
sekarang) dari al-Abbas untuk membebaskan dirinya.
Pada awalnya, orang2 Quraish menurut saja untuk membayar uang tebusan
agar orang2 Muslim tidak meminta harga mahal untuk membebaskan mereka.
Abu Sufyan menolak membayar uang tebusan apapun bagi anak lakinya ‘Amr.
Ketika seorang Muslim bernama Sa’d b. al-Numan pergi ke Mekah untuk
ibadah Umroh, Abu Sufyan menangkap dan menyaderanya untuk ditukar dengan
anak lakinya, ‘Amr. Muhammad tidak punya pilihan selain membebaskan ‘Amr
b. Abi Sufyan untuk kebebasan Sa’d. Muhammad ngotot minta uang tebusan
tinggi bagi seorang Mekah karena anaknya adalah pedagang kaya. Anaknya
lalu membayar uang tebusan sebesar 4.000 Dirham agar ayahnya dibebaskan.
Secara keseluruhan, Muhammad menerima banyak uang dari tebusan tawanan
Quraish. Jumlah uang tebusan bagi setiap tawanan berkisar antara 1.000
Dirham sampai 4.000 Dirham. Dilaporkan bahwa orang2 Quraish membayar
250.000 Dirham [ya, seperempat
juta Dirham; pakailah calculator-mu dan perkirakan berapa besar jumlah
uang ini dalam nilai uang saat ini; gunakan perbandingan ini: 1 Dirham =
1/10 Dinar, 1 Dinar = 4.235 grams emas; dan jangan lupa bahwa 1 ons =
32.1 gram] untuk membebaskan kawan2 dan sanak saudara mereka yang
ditawan di perang Badr II.
Rata2 uang tebusan setiap tawanan adalah 4.000 Dirham.[48]
Sahih Bukhari menyatakan bahwa
di samping uang jarahan dan tebusan, setiap Jihadi menerima uang pensiun
sebesar 5.000 Dirham setiap tahun. (komentarku: Wah, jelas saja
banyak yang masuk Islam, ini sih jauh lebih top daripada sekedar
semangkuk supermi)
Hadith from Sahih Bukhari,
Volume 5, Book 59, Number 357:
Dikisahkan Qais:
Prajurit2 (yang bertempur di) Badr masing2 diberi 5.000 Dirham setiap
tahun. ‘Umar berkata,”Aku pasti akan memberi mereka lebih daripada
memberi orang lain.”
Beberapa tawanan yang tidak punya uang tebusan menawarkan diri untuk
mengajar sepuluh anak2 laki Muslim membaca dan menulis bagi setiap
tawanan. Ketika masa pengajaran tuntas, para tawanan kemudian
dibebaskan. Dikatakan bahwa Zayd ibn Thabit yang adalah seorang penyair
(nantinya jadi juru tulis Muhammad) belajar menulis dari kesempatan ini.
Ini memberitahu kita bahwa banyak orang Mekah yang bisa membaca
sedangkan para pengikut Muhammad kebanyakan buta huruf. Meskipun begitu
para Muslim menyebut orang Mekah ‘tak berpengetahuan’!
48 Hamidullah, p.43
Kemenangan Badr membuka babak baru dalam perkembangan dalam timbulnya
iman Islam. Setelah menyadari ampuhnya kekuatan pedang,
Muhammad sekarang yakin bahwa untuk
memenangkan doktrin fasisme-nya, dia harus menggunakan cara militer.
Sejak saat itu,
pedang menjadi bahasa Islam (lihatlah bendera Saudi
Arabia) dan melakukan peperangan untuk
merampas barang jarahan dan sandera jadi modus operandi para Jihadis
baru sebagai mata pencarian dan menambah kekayaan. Maxine
Rodinson [49] mengomentari hal ini dengan menulis bahwa
satu2nya tujuan perang Badr II adalah
barang jarahan. Kemenangan Badr menjadi titik awal agama
Muhammad, dan orang2 non-Muslim melihat Islam sekarang berhubungan
dengan rasa takut, teror, perampokan dan pertumpahan darah. Di lain
pihak, orang2 Quraish dan pagan jadi sadar akan perlunya kemenangan
militer untuk menahan menyebarnya ancaman Islam.
49 Rodinson, p.164
http://www.mukto-mona.com/Articles/kasem/
Bagian Empat
'Kalau
dijabarkan dengan istilah psykologi, seorang fanatik adalah orang yang
secara sadar mematikan keraguan dalam hatinya’ ---Aldous Huxley
(1894-1963)50
Teror Sepuluh
Pembunuhan atas Asma bt. Marwan di Medina oleh Umayr b. Adiy al-Khatmi
—March, 624M
Seketika setelah dia mendapat kemenangan di Badr, Muhammad merasa cukup
kuat untuk menutup mulut para pengritiknya yang tidak suka akan
kehadirannya di Medina, dan juga gerombolan perampoknya yang menakutkan
bagi penduduk Medina dan memecah belah mereka semua. Banyak orang Yahudi
yang merasa khawatir akan kekuatan tentara Muslim dan merasa takut kalau
mereka jadi korban Muhammad yang berikutnya karena para Yahudi itu kaya
raya. Di waktu itu, cara yang paling sukses dalam mengutarakan pendapat
dan kritik kepada lawan adalah melalui puisi. Kalau dibandingkan, para
penulis puisi jaman itu adalah seperti jurnalis pada jaman ini. Salah
satu penulis puisi waktu itu adalah Asma bint Marwan. Dia berasal dari
suku B. Aws dan dia tidak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap
Islam. Dia menikah dengan Yazid b. Zayd yang berasal dari Banu Khatma,
dan punya lima anak laki dan seorang bayi yang sedang menyusui. Beberapa
penulis biografi mengatakan bahwa ayahnya mungkin adalah seorang Yahudi.
Setelah perang Badr, dia menulis puisi satir. Syair2 puisi itu menyebar
dari satu mulut ke mulut yang lain sehingga akhirnya sampai ke telinga
para Muslim dan mereka sangat tersinggung. Muhammad paling tidak tahan
kata2 sindiran atau makian.[51] Karena itu Muhammad yang sangat marah
akan syair2 itu memutuskan sudah saatnya untuk menyingkirkan Asma.
Di mesjidnya malam itu, Muhammad mencari seorang sukarelawan untuk
membunuh Asma bt. Marwan. Seorang buta bernama Umayr b. Adiy al-Khatmi
yang berasal dari suku yang sama dengan suku suami Asma (yakni Banu
Khatma) bersedia melaksanakan pekerjaan itu. Di tengah malam, dia
mengendap-endap masuk ke rumah Atma. Anak2nya yang masih kecil tidur
mengelilingi Asma ketika dia sedang tidur. Saat itu bayinya sedang
menyusu di dadanya. Orang buta itu
meraba diam2 dengan tangannya, memindahkan bayi itu dari dada Asma dan
dengan sekuat tenaga membenamkan pedangnya ke perut Asma sampai menembus
punggungnya. Tusukan pedang yang kuat ini langsung mematikan Asma
saat itu juga. Ini terjadi lima hari sebelum bulan suci puasa Ramadan
berakhir di mana seharusnya Muslim tidak boleh menumpahkan darah.[52]
Setelah membunuh Asma, keesokan harinya Umayr sang pembunuh pergi
sembahyang ketika Muhammad juga berada di situ. Muhammad sangat ingin
tahu apakah tugas pembunuhan berhasil dilaksanakan atau tidak. Dia
bertanya pada Umayr, “Apakah kau sudah membunuh anak perempuan Marwan?”
Ibn S’ad [53] berkomentar bahwa inilah kalimat yang pertama didengar
Umayr dari Muhammad di hari itu. Ketika
Umayr berkata bahwa Asma telah dibunuh, Muhammad berkata, “Kau telah
menolong Tuhan dan RasulNya, O Umayr!” Ketika Umayr bertanya
apakah dia nantinya harus menanggung dosa pembunuhan yang dilakukannya
atas Asma, sang Rasul menjawab,”Dua kambing tidak akan saling
menumbukkan kepalanya tentang dia.”[54] Muhammad lalu memuji Umayr atas
pembunuhan itu di depan semua orang yang berkumpul hendak sembahyang.
Lalu Umayr kembali ke tempat tinggalnya. (Catatan: beberapa biografer
berpendapat bahwa Umayr adalah bekas suami Asma). Lima hari kemudian
para Muslim merayakan Eid yang pertama (puasa berakhir)!
50 Proper Studies (1927)
51 Rodinson, p.176
52 Ibn Sa’d, vol. ii, p.30
53 Ibn S’ad, vol. ii, p.31
54 Ibn Ishak, p.676
Ketika Umayr kembali ke Medina, dia berjumpa dengan anak2 laki Asma yang
sedang menguburkan jenazah ibunya. Mereka menuduh Umayr membunuh ibu
mereka. Tanpa ragu, Umayr mengaku
pembunuhan itu dengan sombon dan mengancam akan membunuh seluruh
keluarga mereka jika mereka berani mengejek sang Nabi yang penuh kasih
dan pengampunan. Ancaman ini ternyata mujarab sekali. Seluruh
suku suami Asma (Banu Khatma) yang diam2 membenci Islam, sekarang
terang2an jadi taat agar nyawa mereka selamat. Ibn Ishak menulis,
“Itulah hari pertama di mana Islam menjadi kuat diantara B. Khatma. Hari
di mana Bint Marwan dibunuh menjadi saat orang2 B. Khatma jadi Muslim
karena mereka melihat kekuatan Islam.”.[55]
Muhammad dan pengikutnya sekarang yakin bahwa teror, perampokan,
pembunuhan politik memang benar2 berhasil untuk Islam.
Teror Sebelas
Pembunuhan Abu Afak di Medina oleh Salim b. ‘Umayr—April, 624M
Abu Afak adalah seorang Yahudi di Medina yang telah sangat tua usianya,
yakni sekitar 120 tahun. Dia aktif melawan agama Muhammad. Dia juga
menyusun puisi satir yang menjengkelkan orang2 Muslim. Sebulan setelah
kemenangannya di Badr, Muhammad menunjukkan batas toleransinya pada
lawan intelektualnya dengan mengutarakan keinginannya untuk mengenyahkan
orang tua ini. Di mesjidnya, Rasul Allah mencari sukarelawan dengan
berkata, “Siapa yang mau berhadapan dengan bangsat ini demi aku?”[56]
Seorang yang baru saja memeluk Islam yang bernama Salim b.‘Umayr, kakak
laki B. ‘Amr b.’Auf dari suku B. Amr menyatakan bersedia melakukan tugas
itu. Dia membunuh Abu Afak dengan satu tebasan pedangnya ketika orang
tua itu sedang tidur di luar rumahnya. (Beberapa biografi menulis bahwa
Abu Afak-lah yang duluan dibunuh sebelum Asma). Ibn S’ad menuliskan
pembunuhan kejam ini:
“Dia menunggu kesempatan sampai malam hari
yang panas tiba, dan Abu Afak tidur di luar rumah. Salim b. ‘Umayr
mengetahui akan hal ini, jadi dia
menempatkan pedangnya di posisi hati Abu Afak dan membenamkannya sampai
tembus ke ranjangnya. Musuh Allah menjerit dan orang2 pengikut
Muhammad menyerbunya, membawanya ke dalam rumah dan menguburnya.”[57]
Pembunuhan licik ini membuat takut semua orang Medina yang benci
Muhammad dan agamanya. Orang2 Yahudi juga jadi takut.
55 Ibid
56 Ibid, p.675
57 Ibn Sa’d. vol.ii, p.31
Teror Dua Belas
Peristiwa al-Sawiq di Qarkarat al-Qudr oleh Muhammad—April, 624M
Operasi militer ini adalah usaha penelaahan keadaan oleh orang2 Quraish
untuk mengukur kekuatan dan kesiapan Muhammad untuk melakukan serangan2
baru terhadap orang2 Mekah. Setelah mengalami kekalahan memalukan di
Badr II di tangan kekuatan baru Jihadis Islam, Abu Sufyan b Harb, sang
pemimpin Quraish bersumpah untuk tidak akan menyentuh wanita sampai dia
menghancurkan suku2 al-Aws dan al-Khazraj.[58] Dia mengumpulkan 200
pasukan, mengambil jalan timur menuju Nejd dan diam2 tiba di malam hari,
di daerah tempat tinggal suku Yahudi, Banu Nadir. Akan tetapi, ketua
suku Yahudi yang bernama Huwey tidak mau menerima mereka di daerah
Yahudi. Lalu Abu Sufyan pergi bermalam di tempat Sallam b. Mishkan (yang
juga dikenal sebagai Abu Rafi), yakni orang Yahudi terkemuka lainnya
dari B Nadir. Sallam dengan ramah menerima Abu Sufyan dan kelompoknya
malam itu dan memberi informasi tentang keadaan di Medina. Di waktu
subuh, Abu Sufyan bergerak diam2 dan tiba di ladang jagung dan kebun
palem Urayd, suatu tempat yang jauhnya sekitar 2 atau 3 mil ke arah
timur laut Medina. Dia membakar perkebunan ini dan membunuh dua
petaninya. Lalu dia kembali ke Mekah. Berita ini menyebar ke Medina dan
orang2 Muslim pun bersiap-siap. Muhammad mengikuti jejak tentara Abu
Sufyan dan pergi sampai jauh ke Qarkarat al-Qudr. Akan tetapi usahanya
nihil. Orang2 Muslim mengumpulkan barang2 bawaan yang dibuang oleh
orang2 Quraish untuk memperingan beban kudanya sewaktu kembali ke Mekah.
Orang2 Muslim membawa kembali barang2 itu yang kebanyakan adalah gandum
dan sejenisnya. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Sawiq.
Terror Tiga Belas
Penyerangan di Qarkarat al-Qudr Melawan orang2 Ghatafan dan Banu Sulaym
dipimpin oleh Muhammad—May, 624M
Penyerangan ini dilakukan melawan suku nomad Sulaym dan Ghatafan yang
tinggal di daerah Nejd, sebelah Timur Medina. Suku2 ini berasal dari
keturunan yang sama dengan suku Quraish. Muhammad mendengar dari
mata2nya bahwa ada kemungkinan suku2 ini melakukan hal yang sama seperti
yang dilakukan Abu Sufyan terhadap daerah sekitar Medina beberapa saat
yang lalu. Lalu Muhammad bertekad untuk menyerang mereka secara tiba2.
Dia mengumpulkan 200 orang dan pergi sampai ke Qarkarat al-Qudr tapi
menemukan tempat itu sepi tak berpenghuni. Yang tampak hanyalah 500 ekor
unta yang dijaga seorang anak laki. Muhammad mengambil ke 500 unta itu
sebagai barang rampasan [59] dan membagi-baginya diantara pengikutnya,
dan mengambil 1/5 jumlah unta bagi dirinya sendiri (Berapakah harga
seekor unta? Menurut perkiraanku adalah seharga $300/ekor. Jadi rampokan
ini berharga sekitar $150.000). Ini berarti dari rampokan ini dia
mendapat 100 unta (kira2 seharga $30.000) untuk dirinya sendiri. Jihadis
lain mendapat dua unta per orang.[60] Anak gembala unta disandera tapi
kemudian dibebaskan karena menerima Islam. Setelah merampok unta2 itu,
Muhammad tinggal di Qarkarat al-Qudr selama tiga malam dan kembali ke
Medina tanpa pertempuran. Setelah kembali ke Medina, dia menerima semua
uang tebusan dari tawanan2 perang Quraish di perang Badr II.[61]
Uang tebusan yang besar dari Quraish dan unta2 dari Qarkarat al-Qudr
membuat Muhammad jadi amat kaya raya dalam waktu yang sangat singkat;
dan ini meniadakan kesulitan ekonomi bagi dirinya dan pengikutnya,
setidaknya untuk sementara waktu. Ini
sungguh merupakan alasan yang meyakinkan untuk tetap memeluk Islam, jika
ingin tetap kaya!
58 Ibn Ishaq, p.362
59 Haykal
60 Ibn Sa’d, vol.ii, p.35
61 Ibn Ishak, p.360
Meskipun begitu, uang dan barang2 jarahan ini tidak cukup memuaskan
keserakahan akan harta para Jihadis yang baru direkrut. Muhammad
sekarang mencari kesempatan untuk dapat uang lebih banyak lagi dan hanya
orang2 Yahudi di Medina yang dapat menyuplai uang sebanyak itu. Dia tahu
akan kekuatan fisik para pengikutnya yang fanatik dan dia sedang
menunggu kesempatan untuk menggunakan kekuatan ini untuk menyerang dan
menguasai tanah dan kekayaan orang2 Yahudi. Tak lama kemudian kesempatan
ini datang.
Teror Empat Belas
Pembersihan Ras Yahudi Banu Quaynuqa dari Medina oleh Muhammad—July,
624M
Seperti yang telah ditulis sebelumnya, dengan kemenangan penting dalam
perang Badr II dan setelah pembunuhan atas para kritikus intelektualnya
di Medina, Muhammad dengan cepat menyadari bahwa inilah waktunya untuk
membuktikan bahwa “siapa kuat, dialah yang benar.” Dia juga tahu betul
bahwa orang2 yang bisa menghalangi cita2nya untuk mendirikan kekuasaan
dirinya dan Allahnya adalah kaum Yahudi. Kebanyakan orang2 Yahudi adalah
pemilik perkebunan yang sukses di daerah pinggir Medina. Banyak diantara
mereka yang bekerja sebagai pekerja ahli, pandai besi, tukang emas dan
pedagang. Mereka adalah masyarakat yang kaya dan makmur, hidup di daerah
mereka sendiri yang dibentengi di luar Medina dan hidup rukun dengan
masyarakat Medina.
Yang paling terkemuka diantara masyarakat Yahudi adalah suku2 Banu
Qaynuqa, Banu Nadir dan Banu Qurayza. Ketika Muhammad datang ke Medina,
suku2 Yahudi ini membuat perjanjian dengannya untuk hidup damai dan
membantunya jika Muhammad diserang. Meskipun begitu, kemenangannya di
Badr II dan pembunuhan brutal yang dilakukan orang2 Muslim terhadap para
intelek Medina membuat kaum Yahudi gelisah dan takut diserang.
Memang rasa takut mereka beralasan. Muhammad sekarang siap untuk
membatalkan perjanjiannya dengan kaum Yahudi dan merampok mereka,
merampas tanah mereka yang subur, produktif, dan kekayaan mereka yang
melimpah. Bahkan Gabriel membawa pesan (8:58 ) dari Allah bahwa Muhammad
bebas untuk membatalkan perjanjian dengan orang Yahudi. Dengan Allah di
sisinya, Muhammad mulai mengancam B. Qaynuqa dengan konsekuensi Badr II
jika mereka tidak mau masuk Islam. Suku B. Qaynuqa adalah yang terlemah
diantara semua suku2 Yahudi di Medina. [62] Inilah yang dikatakan nabi
‘agama yang toleran’ kepada para Yahudi B. Qaynuqa di pasar mereka:
“O orang2 Yahudi, takutlah akan pembalasan yang Tuhan akan timpakan
padamu seperti yang Dia timpakan kepada orang2 Quraish. Terimalah Islam,
karena kau tahu aku adalah nabi yang dikirim Tuhan. Kau akan temukan ini
juga di Alkitabmu dan di Perjanjian Tuhan denganmu”[63]
Mendengar ancaman Muhammad, orang2 Yahudi di pasar itu membalas dengan
tidak mempedulikan ajakannya masuk Islam dan menantangnya secara
militer. Ini jawaban mereka terhadap Muhammad:
“Muhammad, kaupikir kami ini seperti orang2mu? Jangan tertipu karena kau
bertemu dengan orang2 yang tidak tahu berperang dan kau sedang dapat
kesempatan baik. Demi Tuhan, jika kau berperang melawan kami, kamu akan
tahu bahwa kami benar2 pria sejati!”[64] Maka Muhammad minta pajak Jizya
dari orang Yahudi tapi mereka menghina Muhammad dengan mengatakan
Allah-nya miskin. Allah yang marah di ayat
Q 3:181 seketika menjanjjkan
pembalasanNya terhadap orang2 Yahudi.[65]
62 Rodinson, p.172
63 Tabari, vol.vii, p.85
64 Ibid
Sikap menentang ini ternyata merupakan kesalahan fatal bagi pihak B.
Qaynuqa karena sikap tak hormat ini sudah cukup buat Muhammad dan para
Jihadisnya yang lapar akan barang jarahan untuk menunggu kesempatan
menyerang mereka. Allah juga sudah memberikan ayat
Q 3:12, 13, memastikan bahwa
Muhammad akan menang melawan orang2 Yahudi. Lebih lagi, orang2 Muslim
mengeluh akan perselisihan yang terjadi diantara B. Aws dan B. Khazraj
karena orang2 Yahudi yang menceritakan tentang perang Buath, sehingga
kedua suku ini berperang dengan sengitnya. Pada saat inilah Allah di
Q 5:57 melarang orang Muslim
berteman dengan orang2 Yahudi dan Kristen.[66] Ketika perseteruan antara
orang Muslim dan Yahudi mulai ada, sebuah kecelakaan terjadi dan
Muhammad mengambil kesempatan yang sudah dia tunggu2 untuk menyerang
orang2 Yahudi. Kecelakaannya adalah begini:
Seorang gadis Arab menikah dengan seorang Muslim Medina pergi ke toko
ahli emas Yahudi di pasar tempat B. Qaynuqa. Ketika sedang menunggu
pesanan, dia duduk. Seorang tetangga yang iseng diam2 mengikat ujung
bawah roknya. Ketika dia berdiri, roknya lepas dan semua orang tertawa
melihatnya. Dia menjerit malu. Seorang Muslim yang melihat kejadian ini
lalu membunuh Yahudi iseng itu. Saudara laki Yahudi itu lalu membunuh
Muslim ini. Keluarga Muslim yang terbunuh ini lalu minta orang2 Muslim
Medina untuk membalas dendam.
Perseteruan sekarang menjadi umum dan Muhammad tidak melakukan apapun
untuk meredakan situasi atau membawa orang yang bertanggung jawab untuk
diadili. Dia dengan cepatnya mengumpulkan para pengikutnya di bawah
bendera putih yang dipegang Hamzah dan berbaris pergi untuk menyerang
suku Yahudi. Orang2 Yahudi berlinding dalam benteng mereka. Lalu
Muhammad mengepung dan mengurung tempat tinggal mereka selama 15 hari.
Orang2 Yahudi berharap dapat bantuan dari sekutu mereka suku Khazraj.
Tapi pertolongan tidak datang. Karenanya mereka tidak punya pilihan lain
kecuali menyerah pada Muhammad. Tangan mereka diikat di belakang
punggung dan mereka sudah siap dibantai. Pada saat itu, Abd Allah ibn
Ubayy yang adalah orang Khazraj yang baru masuk Islam (dia musuh besar
Muhammad di Medina dan Muhammad memanggilnya seorang yang munafik)
menengahi keadaan. Dia tidak tahan melihat sekutu lamanya orang Yahudi
yang setia itu dibunuh dengan darah dingin. Dia memohonkan ampun kepada
Muhammad, tapi Muhammad memalingkan mukanya. Abd Allah memaksa. Akhirnya
Muhammad setuju dan tidak membunuh orang2 Yahudi. Dia lalu mengutuk
Yahudi dan Abd Allah ibn Ubayy dengan kutukan Tuhan. Lalu Muhammad
memerintah orang2 Yahudi B. Qaynuqa untuk meninggalkan Medina selama
tiga hari.[67] Mereka digiring ke tempat pembuangan oleh Ubadah b.
al-Samit ibn Samit, salah satu ketua suku Khazarite sampai sejauh ke
Dhubab. Lalu orang2 Yahudi melanjutkan perjalanan ke Wadi al-Qura.
Mereka juga dapat bantuan dari orang2 Yahudi yang tinggal di daerah itu
dengan angkutan sampai mereka mencapai Adriat, daerah Syria di mana
mereka tinggal secara permanen.
Jadi orang2 Yahudi B. Qaynuqa menyerahkan persenjataan dan mesin2
pertukangan emas dan dibuang dari Medina. Tentang hal ini Tabari
menulis[68]: “Allah memberi mereka barang2 orang Yahudi sebagai barang
jarahan bagi RasulNya dan orang2 Muslim. Orang2 Banu Qaynuqa tidak punya
tanah karena mereka adalah ahli pandai besi. Rasul Allah mengambil
banyak persenjataan yang mereka miliki dan peralatan mereka untuk
berdagang.”
Terima kasih atas ijin Allah untuk menjarah dan merampok, sekarang
Muhammad dan pengikut Muslimnya yang tadinya miskin papa sekarang jadi
sangat amat kaya di Medina.
65 Rodwell, p.440, note 50
66 Ibn Ishaq, p.363
67 Rodinson, p.173
68 Tabari, vol.vii, p.87
Bagian Lima
‘Fasisme
adalah sebuah agama; abad ke 20 akan dikenal dalam sejarah sebagai abad
Fasisme’ ---Benito Mussoline (1883-1945)[69]
Teror Lima Belas
Penyerangan atas Suku Ghatafan di Dhu Amarr daerah Nejd oleh
Muhammad—June, 624M
Sebulan setelah usaha penyerangan di al-Sawiq, Muhammad mendengar bahwa
sekelompok orang dari suku Ghatafan mengumpulkan tentara di Dhu Amarr di
daerah Nejd dan tampaknya akan bertindak agresif. Karena itu Muhammad
memimpin penyerbuan bersama 450 tentara [70] untuk mencari musuh dan
menghancurkannya. Ini adalah pasukan tentara yang terbesar yang dipimpin
Muhammad sebelum pertempuran Uhud.[71] Akan tetapi, pihak musuh
mendengar keberangkatan pasukan Muhammad dan mereka lalu bersembunyi.
Tentara Muhammad berhasil menangkap seseorang yang memberikan informasi
tentang persembunyian orang2 Ghatafan; orang2 Jihadis Muslim lalu
bergerak untuk menangkap mereka. Orang yang tertangkap tadi dipaksa
masuk Islam dan Muhammad menggunakan dia sebagai pemandu. Pihak musuh
mendengar kedatangan Muhammad dan mereka mencari perlindungan dengan
pergi ke puncak bukit2. Tidak ada pertempuran yang terjadi. Muhammad
menghabiskan waktu 11 hari untuk usaha penyerangan ini dan kemudian
kembali ke Medina. Ibn Sa’d melaporkan bahwa seorang berusaha membunuh
Muhammad ketika dia sedang tidur dan Allah menyatakan ayat Q 5:11 ketika
orang itu gagal membunuh karena Muhammad mencari perlindungan Allah.[72]
Teror Enam Belas
Penyerangan Kedua terhadap Banu Sulaym di al-Qudr daerah Buhran oleh
Muhammad—July, 624M
Tak lama setelah pengusiran suku Yahudi B. Qaynuqa dari Medina, Muhammad
mendengar bahwa pasukan besar suku Banu Sulaym dari Buhran di al-Qudr
bergerak menuju Medina. Panggilan Jihad dikeluarkan dan sekali lagi
pasukan Muslim berjumlah 300 sampai 350 berkumpul dan bergerak untuk
menyerang B. Sulaym di Buhran. Muhammad gagal menyergap mereka dan
ketika dia tiba di tempat, pasukan musuh sudah berpencar. Dia tinggal di
tempat itu selama tiga malam (atau 10 malam menurut Ibn Sa’d [73]) dan
kembali tanpa bertemu musuh. Setelah kembali ke Medina, dia menerima
seluruh uang tebusan dari para tawanan Quraish di perang Badr II.[74]
69 In Seldes, Sawdust Caesar
70 Haykal
71 Mubarakpuri, p.286
72 Ibn S’ad, p.40
73 Ibn Sa’d, p.41
74 Ibn Ishak, p.360
Teror Tujuh Belas
Pembunuhan atas Ka’b b. Ashraf di Medina oleh Muhammad b.
Maslama—August, 624M
Ka’b adalah seorang penulis puisi, anak laki dari orangtua Yahudi B.
Nadir. Dia sangat sedih akan kemenangan para Muslim di Badr II. Dia
tidak berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan cepatnya Muslim
berkuasa di Medina. Dia pergi ke Mekah dan melalui puisinya, orang2
Quraish jadi ingin balas dendam. Sekembalinya ke Medina, dia membuat
orang2 Muslim marah dengan mengarang puisi yang mengejek kaum Muslimah.
Muhammad sangat jengkel dengan pernyataan perasaan bebas seperti ini
yang bisa melemahkan moral pengikutnya. Dia berdoa kepada Allah untuk
kematian Ka’b. Allah di ayat Q 4:52
juga mengutuk mereka yang berani mengritik Muhammad. Di
mesjidnya, dia minta
sukarelawan untuk membunuh Ka’b b. Ashraf. Muhammad b. Maslama
yang berasal dari suku Banu Aws berdiri dan bersumpah untuk membunuh
Ka’b b. Ashraf. Dia memilih empat orang lain dari suku B. Aws untuk
menemaninya. Ketika pemimpin kelompok
pembunuh ini mengatakan pada Muhammad bahwa untuk membunuh Ka’b mereka
mungkin harus menipu dan berbohong, Muhammad tanpa ragu mengijinkan
mereka untuk melakukan hal itu (baca kutipan Hadis di bawah).
Kelompok pembunuh ini lalu merencanakan untuk menjebak Ka’b b. Ashraf
dengan kata2 manis dan janji2 palsu. Mereka mengajak Abu Naila, saudara
angkat Ka’b b. Ashraf untuk tujuan ini. Abu Naila bertemu Ka’b dan pura2
pinjam uang darinya dan menjelek-jelekan Muhammad sang Nabi. Ka’b
percaya padanya dan minta jaminan atas uang pinjaman. Abu Naila setuju
untuk menggadaikan senjata2 mereka dan lalu diatur sebuah pertemuan di
larut malam di rumah Ka’b. Di malam hari kelompok pembunuh berkumpul di
rumah Muhammad sang Nabi. Sang Nabi pergi bersama mereka sampai di
daerah luar kota. Mereka bersembunyi di bahwa semak2 di kuburan Muslim.
Sang Nabi lalu pergi setelah memberkati mereka agar sukses melakukan
misinya. Kelompok ini lalu bergerak maju dan tiba di rumah Ka’b. Ka’b
sedang istirahat di tempat tidurnya bersama pengantin barunya. Abu
Naila, saudara angkatnya, memanggil dia untuk ke luar rumah. Ketika Ka’b
hendak turun, istrinya mencegahnya dengan selimutnya dan membujuknya
agar tidak pergi. Ka’b menenangkan dia dengan mengatakan yang
memanggilnya adalah saudara angkatnya sendiri. Dia lalu turun dan tidak
curiga karena orang2 yang memanggilnya tidak membawa senjata. Mereka
lalu berjalan bersama dan membicarakan jeleknya nasib Medina setelah
Muhammad datang sampai mereka mencapai sebuah air terjun. Saudara angkat
Ka’b mencium bau wangi dari rambut Ka’b dan Ka’b mengatakan bahwa itu
adalah aroma pengantin barunya. Tiba2 Muhammad b. Maslama menjenggut
rambut Ka’b dan menariknya ke tanah sambil berteriak, “Bunuh dia! Bunuh
musuh Tuhan.” Orang2 lain lalu menusukkan pedang mereka ke tubuh Ka’b
sampai dia mati sambil menjerit. Para pembunuhnya lalu memotong kepala
Ka’b dan cepat2 pergi. Ketika mereka mencapai daerah kuburan,
mereka mengucapkan Takbir
(Allahu Akbar). Muhammad mendengar Takbir dan tahu bahwa tugas
pembunuhan berhasil dilaksanakan. Para pembunuh melemparkan kepala Ka’b
b Asharf di hadapan Muhammad. Seorang dari kelompok ini terluka saat
melakukan pembunuhan. Sang Nabi memuji
Allah akan apa yang telah terjadi dan menghibur yang terluka.
Inilah Hadis Sahih Bukhari yang mengisahkan tentang pembunuhan atas
Ka’b.
Hadith Sahih Bukhari, Volume 5,
Book 59, Number 369:
Ditulis Jabir bin Abdullah:
Rasul Allah berkata “Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang
telah menyakiti Allah dan RasulNya?” Berdirilah Maslama dan berkata,”O
Rasul Allah! Maukah kamu agar aku membunuhnya?” Sang Nabi berkata,”Iya”.
Maslama berkata, “Maka izinkan saya untuk berkata sesuatu (yang menipu
Ka`b).” Sang Nabi berkata, “Silakan katakan.” Maslama mengunjungi Ka`b
dan berkata,”Orang itu (Muhammad) menuntut Sadaqa (zakat) darim kami,
dan dia telah menyusahkan kami, dan aku datang untuk meminjam sesuatu
dari kamu.” Ka`b menjawab, “Demi Allah, engkau akan merasa lelah
berhubungan dengan dia!” Maslama menjawab,”Sekarang karena kami sudah
mengikuti dia, kami tidak mau meninggalkan dia kecuali dan sampai kami
melihat bagaimana nasibnya akhirnya. Sekarang kami mau engkau
meminjamkan dua ekor unta dengan satu atau dua buah bekal makanan.” Ka`b
berkata, “Iya, tapi kalian harus menggadaikan sesuatu denganku.” Maslama
dan kawannya berkata,”Apa yang kau inginkan?” Ka’ b menjawab,
“Gadaikanlah istri2mu padaku.” Mereka menjawab, ”Bagaimana kami dapat
menggadaikan istri2 kami padamu sedangkan kamu adalah orang yang paling
tampan diantara orang2 Arab?” Ka`b berkata, "Kalau begitu gadaikan anak2
lakimu padaku.” Mereka berkata, “Bagaimana kami dapat menggadaikan anak2
laki kami padamu? Nanti mereka akan diejek orang2 yang mengatakan ini
dan itu dan mereka telah digadaikan dengan seekor unta penuh bekal
makanan. Ini akan membuat kami sangat malu, tapi kami mau menggadaikan
senjata2 kami padamu.” Maslama dan kawannya berjanji pada Ka`b bahwa
Maslama akan kembali padanya. Dia kembali pada Ka`b pala malam harinya
bersama saudara angkat Ka`b, yakni Abu Na'ila. Ka`b mengajak mereka ke
bentengnya dan dia pergi bersama mereka. Istrinya bertanya, "Hendak ke
manakah kau selarut ini?" Ka`b menjawab,"Maslama dan saudara (angkat) ku
Abu Na'ila telah datang." Istrinya menjawab, "Aku mendengar suara
seperti darah mengucur dari dirinya." Ka`b menjawab, "Mereka tidak lain
adalah saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu Na'ila. Orang dermawan
seharusnya menjawab permintaan (untuk datang) di malam hari meskipun
(permintaan itu) adalah undangan untuk dibunuh." Maslama pergi dengan
dua orang dan berkata pada mereka, "Jika Ka`b datang, aku akan menyentuh
rambutnya dan mengendusnya (menghirup bau rambutnya), dan jika kalian
melihat aku telah mencengkeram kepalanya, tusuklah dia. Aku akan biarkan
kalian mengendus kepalanya." Ka`b bin al-Ashraf datang pada mereka,
pakaiannya membungkus badannya dan menebarkan bau parfum. Maslama
berkata, "Aku belum pernah mencium bau yang lebih enak daripada ini."
Ka`b menjawab, "Aku kenal wanita2 Arab yang tahu bagaimana menggunakan
parfum kelas atas." Maslama minta pada ka`b, "Maukah engkau
mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b menjawab, "Boleh." Maslama
mengendusnya dan mengajak kawannya melakukan hal yang sama. Lalu ia
minta pada Ka`b lagi, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?"
Ka`b berkata, "Ya". Ketika Maslama berhasil mencengkeram kepala Ka`b
erat2, dia berkata (pada kawan2nya), "Bunuh dia!" Lalu mereka
membunuhnya dan pergi melaporkan hal itu pada sang Nabi.
Untuk mengetahui detail lain tentang pembunuhan ini, silakan baca
consult Ibn Ishaq, p.368 or Tabari, vol.vii, pp.94-97. Hadis lain yang
juga mengisahkan tentang pembunuhan ini adalah
Hadis Sahih Muslim, Book 19,
Hadis number 4436.
Teror Delapan Belas
Pembunuhan atas Ibn Sunaynah di Medina oleh Muhayyish b. Masud —July,
624M
Ibn Sunaynah adalah pedagang Yahudi yang ramah dan suka menolong orang2
Muslim. Tapi keramahan Ibn Sunaynah tidak menghalangi Jihadis2 fanatik
untuk membunuhnya, hanya karena dia itu orang Yahudi. Inilah kisahnya.
Di suati pagi setelah pembunuhan Ka’b b. Ashraf, Muhammad memberi ijin
pada para pengikutnya untuk membunuh Yahudi mana saja yang mereka
temukan. Tabari [75] mengisahkan tentang perintah pembunuhan atas Yahudi
manapun sebagai berikut:
Rasul Allah berkata, “Yahudi
manapun yang jatuh ke tanganmu, bunuh dia.” Jadi ketika Muhayyish
b. Masud bertemu Ibn Sunaynah, yakni seorang pedagang Yahudi yang kenal
dekat dengan mereka dan biasa berdagang dengan mereka, Muhayyish pun
lalu membunuh Ibn Sunaynah. Kakak laki Muhayyish yang bernama Huwayyish
b. Masud belum memeluk Islam saa itu dan ketika Huwayyish tahu akan
pembunuh yang dilakukan adiknya Muhayyish, dia lalu mulai memukuli
Muhayyish sambil berkata, “O musuh Tuhan, kau membunuh dia? Demi Tuhan,
perutmu itu jadi gemuk karena kekayaan dari dia (Ibn Sunaynah).”
Muhayyish berkata, “Kukatakan padanya, ‘Demi Tuhan, jika dia yang
memerintahku untuk membunuhnya (Ibn Sunaynah) lalu memerintahku untuk
membunuhmu, maka aku akan memenggal kepalamu.’” Dan demi Tuhan, itu
adalah saat awal Huwayyish menerima Islam. Dia (Huwayyish) berkata,
“Jika Muhammad memerintahmu untuk membunuhku, apakah kau akan
membunuhku?” dan aku jawab, “Ya, demi Tuhan, jika dia memerintahku untuk
membunuhmu, aku akan memotong kepalamu.” “Demi Tuhan,” kata dia
(Huwayyish), “sungguh luar biasa imanmu itu.” Lalu Huwayyisah memeluk
Islam.
Kisah di atas mengingatkan kita akan
pemenggalan terhadap Daniel Pearl, wartawan WSJ. Jihadis Islam
membunuhnya seketika ketika dia mengatakan dia itu Yahudi. Orang2
fanatik ini hanya menjalankan apa yang telah diperintahkan Muhammad
terhadap orang2 Yahudi!
Hadis Sahih Sunaan Abu Dawud,
Buku 19, Nomer 2996:
Dikisahkan oleh Muhayyisah:
Rasul Allah (SAW) berkata: Jika kau
berhasil menguasai orang2 Yahudi, bunuh mereka. Karenanya
Muhayyisah menyergap Shubaybah, seorang dari para pedagang Yahudi. Dia
kenal dekat dengan mereka. Dia lalu membunuhnya. Saat itu Huwayyisah
(kakak laki Muhayyisah) belum memeluk Islam. Dia lebih tua daripada
Muhayyisah. Ketika dia (Muhayyisah) membunuhnya (Shubaybah), Huwayyisah
memukulnya dan berkata: “O musuh Allah, aku bersumpah demi Allah, kamu
punya banyak lemak di perutmu karena hartanya.”75 Tabari vol.vii,
pp.97-98
Teror Sembilan Belas
Perampokan Kafilah Quraish di Nejd oleh Zayd b. Haritha—September, 624M
Orang2 Mekah hidup dari perdagangan, dan itu nafkah hidupnya, terutama
perdagangan dengan Syria. Ekonomi mereka tidak akan berhasil jika
gerombolan perampok Muhammad memotong jalur perdagangan mereka. Serangan
terus-menerus para Jihadis Muslim yang fanatik benar2 bisa menghentikan
usaha perdagangan mereka dan ini berarti kehancuran bagi Mekah dan
Arabia. Orang2 Quraish dan orang2 Mekah lainnya dengan cepat memahami
kenyataan ini. Pengalaman Badr II telah memberi pelajaran berharga dan
mereka tidak mau mengulangi pengalaman buruk ini lagi. Karena itu mereka
lalu mencari jalur perdagangan lain bagi kafilah mereka yang kaya harta
diantara Mekah dan Syria. Rute lain adalah melewati Nejd, melintasi
padang pasir, dan melalui Irak. Meskipun perjalanannya lebih lama dan
melelahkan, rute ini dianggap lebih aman dari tangan Muhammad.
Setelah menetapkan rute ini, orang2 Quraish mempersiapkan kafilah untuk
melalui padang pasir. Safwan mengetuai kafilah yang mengangkut bejangan2
dan balok2 perak. Pemandu kafilah adalah Furat b. Hayaan yang mengaku
bisa mencarikan jalan bagi kafilah yang tidak diketahui Muhammad.
Melalui mata2nya, Muhammad tahu tentang perjalanan kafilah ini dan
segera memerintah Zayd b. Haritha untuk merampoknya. Zayd ibn Haritha
adalah budak yang dimerdekakan Muhammad dan diangkat jadi anak angkat
Muhammad. Nantinya Muhammad mengawini istri anak angkatnya Zayd yang
bernama Zaynab. Ini adalah perampokan pertama yang dipimpin Zayb b.
Haritha. Dia ditemani 100 tentara bersenjata lengkap. Dia mengikuti
kafilah dan menyerangnya tiba2. Ternyata serangannya sukses. Para
pemimpin kafilah melarikan diri dan Zayd membawa semua harta rampasan
dan 2 tawanan ke Medina. Barang jarahan berharga 100.000 Dirham
(pakailah kurs uang US$ jaman sekarang dan kau akan kaget melihat
nilainya). Muhammad mengambil seperlima (yakni 20.000 Dirham yang
tentunya merupakan harga yang sangat besar pada saat itu). Setiap
tentara menerima 800 Dirham. Furat jadi tawanan. Orang2 Muslim berkata,
“Jika kau masuk Islam, Rasul Allah tak akan membunuhmu.” Dia lalu masuk
Islam dan dibebaskan pergi.[76]
Teror Dua Puluh
Pembunuhan atas Abu Rafi di Khaybar oleh Abd Allah b. Unays---December,
624M
Abu Rafi (yang juga dikenal sebagai Sallam ibn Abul-Huqayq) adalah
sekutu Ka’b b. al-Ashraf. Dia adalah ketua orang2 Yahudi Khaybar dan
tinggal di Hijaj. Sama seperti Ka’b b. al-Ashraf, dia pun mengeluhkan
kehadiran Muhammad di Medina dan menulis sajak2 dan satir2 yang
menjengkelkan Muhammad. Muhammad mencari jalan untuk membunuh Abu Rafi
sama seperti dia membunuh Ka’b b. al-Ashraf, dan dia mencari sukarelawan
untuk melakukan ini. Tak lama kemudian, kesempatan datang dalam cawan
emas.
Kita tahu di Teror 17 tentang kelompok pembunuh terdiri dari orang2 suku
B. Aws yang membunuh Ka’b b. al-Ashraf, sang penulis puisi Yahudi.
Ketika orang Khazaraj mendengar bahwa al-Aws membunuh Ka’b b. al-Ashraf,
mereka mau menyamai prestasi ini dengan membunuh Yahudi lain, dan Abu
Rafi jadi pilihan mereka. Lalu, kompetisi pembunuhan berlangsung
diantara suku Aws dan Khazaraj. Tak lama kemudian mereka minta ijin
Muhammad untuk membunuh Abu Rafi. Muhammad tentu saja mengijinkan
rencana pembunuhan mereka dengan sepenuh suka hati.
76 Tabari, vol vii, p.99
Sebuah kelompok pembunuh berjumlah lima orang pergi untuk membunuh Abu
Rafi. Muhammad memilih Abd Allah b. Atik sebagai ketua kelompok. Setelah
kelompok ini tiba di Khaybar, mereka pergi ke rumah Abu Rafi pada malam
hari dan naik ke tingkat dua melalui tangga melingkar dan meminta ijin
masuk kamar Fafi. Istri Abu Rafi ke luar dan bertanya siapa mereka.
Mereka berpura-pura menjadi pedagang Arab, sehingga istri Abu Rafi
mempersilakan mereka masuk. Mereka masuk dan mengunci pintu. Istri Abu
Rafi menjerit dan mereka mau membunuhnya tapi tidak jadi karena ingat
pesan Muhammad untuk tidak membunuh wanita. Di bawah ancaman, istri Abu
Rafi harus tutup mulut dan para pembunuh lari dengan pedang terhunus ke
kamar Abu Rafi yang sedang berbaring di tempat tidur. Lalu Abdullah b.
Unays menusukkan pedangnya ke perut Abu Rafi sampai menembus tubuhnya.
Ketika melarikan diri, Abd Allah b. Atik jatuh dari tangga melingkar dan
kakinya terluka berat. Kawan2nya membawa dia pergi ke tempat air yang
tak jauh dari situ dan merawatnya. Orang2 Yahudi mencari pembunuh Abu
Rafi tapi tidak menemukan apa2 dan mereka kembali menjenguk Abu Rafi
yang sedang sekarat. Untuk meyakinkan apakah Abu Rafi benar2 telah mati,
Abd Allah b. Unays pergi bercampur dengan orang2 yang berkumpul untuk
melihat apa yang terjadi. Istri Abu Rafi berkata bahwa dia mengenali
suara pembunuh yakni Abd Allah b. Atik tapi dia tidak yakin kalau Abd
Allah b. Atik akan datang jauh2 dari Medina ke Khaybar untuk membunuh
Abu Rafi. Lalu dia mengumumkan kematian Abu Rafi. Setelah yakin
korbannya telah mati, kelompok pembunuh itu kembali ke Muhammad dan
setiap orang mengaku telah membunuh Abu Rafi. Muhammad minta mereka
menunjukkan pedang mereka untuk diperiksa. Dari darah di pedang,
Muhammad menyatakan bahwa Abdullah b. Unays telah membunuh Abu Rafi
(Sallam Ibn Abi al-Huqayq). Atas pembunuhan ini, Muhammad berkata,
“Pedang Abd Allah b. Unays telah membunuhnya. Aku bisa melihat sisa
tulang yang melekat di pedang itu.”[77]
Hassan b. Thabit mengarang sebuah puisi untuk memuji pembunuhan atas
Ka’b b. al-Ashraf dan Sallam b. Abi al-Huqyaq (Abu Rafi). Kisah
pembunuhan ini ditulis di
Hadith Sahih Bukhari 5.59.371.
77 Tabari, vol vii, p.103
[Note: Beberapa biografer menulis bahwa pembunuhan ini terjadi tak lama
sebelum penyerangan Muhammad atas Khaybar]
Bagian Enam
‘
Anak muda
tersenyum menghadapi kematian, karena kau sedang menuju Surga ---
dari Manual Teror[78]
Teror Dua Puluh Satu
Pertempuran Uhud, Dipimpin oleh Muhammad—March, 625M
Orang2 Quraish bertekad untuk membalas kekalahan mereka di Badr II.
Kebutuhan untuk mendapat kemenangan secara militer terhadap ancaman
Islam dan para Jihadisnya yang fanatik jadi semakin mendesak setelah
Zayd b. Haritha merampok kafilah mereka yang mengangkut banyak harta
dalam perjalanan melalui rute lain menuju Nejd (lihat Teror 19, Bagian
5). Kaum Quraish sekarang yakin bahwa tidak ada yang melindungi usaha
perdagangan mereka dari serangan teror dan rampok yang dilakukan
Muhammad. Mereka menghubungi suku2 bangsa tetangga dan mengumpulkan uang
untuk membentuk kekuatan militer yang tangguh melawan Muhammad. Melalui
sumbangan dari berbagai bagian di Arabia, mereka mengumpulkan 250.000
Dirham (mereka sebenarnya telah mengeluarkan 250.000 Dirham untuk
membayar sandera yang ditahan Muhammad) untuk serangan militer membalas
kekalahan mereka. [79] Mereka juga bersekutu dengan suku2 Bedouin
sekitar Mekah. Di samping sumbangan dari berbagai sumber, mereka juga
menggunakan seluruh keuntungan yang tersisa dari perampokan Badr II
untuk digunakan melawan terorisme Muhammad. Keuntungan ini adalah 1.000
unta dan 50.000 Dirham (sekitar US$550.000 seluruhnya jika menggunakan
kurs uang modern), dan ini adalah jumlah uang yang sangat besar di jaman
itu.[80] Dengan dana yang besar ini, kaum Quraish tidak punya kesulitan
membangun pasukan yang kuat yang berjumlah 3.000 orang, terdiri dari 700
pasukan bersenjata lengkap dan 200 pasukan berkuda, siap untuk memerangi
teror yang dilakukan Muhammad dan pengikutnya yang fanatik. Juga
terdapat sekelompok kecil 50 warga Medina yang dipimpin Abu Amir,
seorang biarawan Kristen, yang pergi ke Mekah karena muak dengan adanya
Muhammad di Medina. Selain orang2 militer ini, sejumlah 15 orang wanita
Quraish juga ikut dalam operasi militer ini. Pemimpin kelompok wanita
ini adalah Hind bt. Utbah, istri Abu Sufyan Shakhr b. Harb. Di Badr II,
dia kehilangan ayahnya (Utbah), pamannya (Shaybah), dan anaknya
(Hanzala). Dia terutama ingin membalas dendam pada Hamzah yang telah
membunuh ayahnya di Badr II. Inilah saatnya melampiaskan dendamnya. Dia
mengajak seorang budak Abysia milik Jubayr b. Mut’im yang bernama Wahshi
yang punya keahlian menggunakan lembing, untuk membunuh Hamzah dengan
janji kemerdekaan jika Wahshi berhasil dalam tugas.
Saat itu adalah 12 bulan setelah Badr II dan di bulan Ramadan. Kaum
Quraish tetap teguh dengan tekad mereka untuk membalas kekalahan di Badr
II. Sekaranglah waktu untuk melampiaskan dendam mereka. Mereka
merencanakan serangan besar2an terhadap Muhammad. Berita serangan besar
ini telah terdengar oleh Muhammad melalui mata2nya di Mekah. Dia bahkan
menerima wahyu Allah di Q 3:128
tentang persiapan ini. Berita ini dipertegas ketika Muhammad menerima
surat tertutup dari pamannya, al-Abbas, ketika Muhammad sedang berada di
mesjidnya di Quba, tak jauh dari Medina. Seorang utusan dari Mekah
menyerahkan surat itu kepada Muhammad. Isi surat adalah keterangan bahwa
kaum Quraish dengan 3.000 tentara bermaksud menyerang Muhammad. Dia
merahasiakan isi surat (komenter Adadeh: nah ini kan tandanya Muhammad
bisa baca) dan segera kembali ke Medina untuk membahas hal ini dengan
para penasehatnya di sana. Akan tetapi berita ini terdengar oleh istri
Sa’d b Muadh, ketua Khazaraj, yang menguping pembicaraan antara suaminya
dan Muhammad. Tak lama kemudian berita tentang rencana serangan Quraish
ini tersebar
78 Masterminds of Terror; The manual of terror was found in the
possession of 9/11 terrorist
79 Hamidullah, p.43
80 Mubarakpuri, p.292
Di Mekah, kaum Quraish sekarang benar2 siap untuk menghadapi Muhammad.
Akhirnya, di akhir bulan Ramadan, tentara Quraish mulai berbaris dengan
3.000 tentara di bawah pimpinan Abu Sufyan b. Harb. Pemimpin2 lain suku2
Quraish juga maju bersama tentara Mekah.
Setelah bergerak selama 10 sampai 12 hari, tentara Mekah yang mengambil
jalur jalan yang tak umum dekat pantai, tiba di Dhul Hulaifa, yang
jauhnya 5 mil sebelah Barat Medina. Dilaporkan ketika sedang berada di
al-Abwa, Hind bt. Utbah (istri Abu Sufyan) menganjurkan mereka untuk
menggali kubur ibu Muhammad, tapi kaum Quraish menolak melakukan
penghinaan seperti itu. Saat itu adalah Kamis pagi dan setelah berhenti
di tempat ini sebentar, tentara Quraish bergerak ke utara sejauh
beberapa mil, melewati kota Medina dan bergerak lagi sejauh tiga mil ke
Utara dan berkemah di Uhud yang merupakan daerah pegunungan dengan tanah
lapang datar tempat para unta merumput. Orang mungkin heran mengapa suku
Quraish tidak menyerang kota Medina, padahal mereka dapat melakukan hal
itu dengan mudah dan dapat banyak barang jarahan. Alasannya adalah
karena kaum Quraish tidak tertarik untuk melakukan penjarahan atau
perampokan. Pada kenyataannya, mereka tidak punya rasa dendam terhadap
kebanyakan penduduk Medina. Mereka marah terhadap satu orang saja,
Muhammad, yang merupakan bekas warga kota Mekah yang sekarang tinggal di
Medina.[81] Tak lama setelah tiba di dataran Uhud, orang2 memotong
pepohonan untuk makan kuda2 dan unta2 mereka. Mereka juga melepaskan
kuda2 dan unta2 mereka untuk merumput. Hari Juma’at datang dan berlalu
tanpa ada kejadian apa2.
Di Medina, Muhammad terus menerima berita tentang gerakan2 tentara
Mekah. Seorang pengintainya yang bernama Hobab ibn al Mundhir mengamati
perkemahan Quraish pada hari Kamis dan membawa berita tentang kekuatan
tentara Quraish yang hebat. Muhammad merahasiakan keterangan dari
pengintai ini. Pada hari Jum’at, Muhammad membicarakan dengan
pengikutnya apa yang harus dilakukan. Dia bermimpi buruk malam
sebelumnya dan mengatakan di pertemuan dengan para Jihadisnya tentang
perlunya melindungi Medina dan diri Muhammad sendiri. Karena mimpi
buruknya, Muhammad yang suka takhayul ini jadi ragu untuk pergi perang.
Pada mulanya diambil keputusan untuk membawa para wanita dan anak2 di
luar kota untuk masuk ke dalam kota. Jika para musuh menyerbu, mereka
akan melawan dengan panah2, batu2, dan senjata lontar lain yang
dilemparkan dari atap2 rumah. Musuh besar Muhammad yang bernama Abd
Allah ibn Ubayy, setuju dengan keputusan untuk mempertahankan Medina
jika tentara Quraish menyerang. Tapi anak2 muda yang baru saja masuk
Islam ingin maju menyerang dan bertempur dengan musuh di medan perang,
sama seperti yang terjadi di Badr II. Para Jihadis muda yang tidak
sempat ikut Badr II dan tidak kebagian jarahan rampokan merasa lebih
bersemangat untuk memerangi tentara Quraish. Khayalan tentang surga dan
mati sebagai martir bagi Allah terbayang di depan mata mereka seperti
yang dikatakan di Q 56:25-26.
[82] Hamzah dengan yakin mengatakan, ”Demi
Allah yang telah menurunkan Buku kepadamu, aku tidak akan makan sampai
aku melawan mereka dengan pedangku di luar kota Medina.” [83]
Banyak orang yang mendukung keinginan anak2 muda Jihadis. Pada akhirnya
Muhammad menuruti keinginan mereka dan memerintahkan untuk siap
berperang.
81 Hamidullah, p.47
82 Haykal, Ch. Uhud
Setelah sholat magrib, orang2 berkumpul di lapangan mesjid dan mereka
bersenjata siap untuk berperang. Muhammad sendiri memakai baju perang
dua lapis bertumpuk. Ketika kaum Jihadis muda mengetahui bahwa Muhammad
merasa ragu untuk berperang, mereka jadi menyesal dan ingin membatalkan
rencana perang. Atas sikap itu Muhammad berkata, [84] “Ini tidak layak
dilakukan seorang Nabi begitu dia sudah mengenakan baju perang. Dia
harus melepaskannya sampai Allah memutuskan diantara dia dan pihak
musuh.” Beberapa orang merasa ragu, tapi Muhammad jalan terus. Istri
Muhammad yang masih anak2, Aisha, secara sukarela bergabung dengan para
Jihadis dan Muhammad mengijinkannya.[85] Aisha merawat yang terluka,
mengambilkan air bagi yang haus, dan melakukan berbagai macam
bantuan.[86]
Lalu kaum Muslim memasang tiga bendera pada tiga tongkat. Satu bendera
untuk yang ikut hijrah, dibawa oleh Musab b. Umayr (biografer lain
mengatakan Ali), bendera kedua dibawa ketua B. Aws yakni Usayd ibn
Hudayl, dan bendera ketiga dibawa ketua B. Khazraj yakni al-Hubab ibn
al-Mundhir. Abdallah ibn Umm Maktum ditunjuk untuk menjaga kota Medina
dan memimpin sembahyang kala Muhammad sedang tidak ada di tempat.
Tentara Muslim terdiri dari 1.000 (seratus memakai baju perang), dan dua
kuda (milik Muhammad). Lalu Muhammad memberi perintah agar tentara
berbaris bergerak menuju Utara ke daerah Uhud. Dua bersaudara Sa’d b.
Muadh dan Sa’d b. Ubadah lari di depan tentara Muslim.
Muhammad bergerak sampai mencapai al-Shaykhayn dan melihat tentara yang
lengkap sedang menunggu di situ. Setelah mengamati, Muhammad tahu bahwa
tentara ini adalah orang2 pagan
dan Yahudi yang siap bergabung dengan tentara Muslim untuk
berperang melawan tentara Mekah. Mereka adalah sekutu Abd Allah ibn
Ubay. Muhammad menolak mereka sebagai sekutunya dengan berkata,
“Jangan minta dukungan orang pagan untuk
melawan orang pagan.”[87] Lalu dia berhenti di al-Shaykhayn dan
mengamati kekuatannya, dan menolak mereka yang fisiknya tak mampu atau
yang terlalu muda untuk berperang. Di malam hari, tentara Muslim dan
Muhammad berkemah di sana. Abd Allah ibn Ubayy juga berkemah tak jauh
dari situ. Dia tidak senang dengan sikap Muhammad yang tak ramah
terhadap kawan2nya kaum Yahudi. Kaum Quraish juga berkemah tak jauh dari
situ. Sebuah lembah memisahkan kedua tentara.
Di pagi hari, tentara Muslim mulai berbaris maju ke arah Uhud. Ketika
mereka mencapai tempat yang bernama Ash Shawt [88], mereka dapat melihat
tentara Quraish dari jarak jauh. Di tempat inilah Abd Allah ibn Ubayy
memberontak melawan Muhammad dengan menarik 300 pasukannya dari pihak
Muslim dan meninggalkan Muhammad sehingga jumlah pasukan Jihadis tinggal
sekitar 700 orang. Dua kelompok lain di pihak Muhammad jadi terpengaruh
oleh keputusan Abd Allah ibn Ubayy. Mereka tadinya juga mau ikut pergi
dengan Abd Allah ibn Ubayy, tapi di jam yang ke 11, mereka berubah
pendapat dan tetap berada dalam pasukan Muhammad. Seperti yang dikatakan
di Q 3:122, Muhammad menganggap
perubahan hati ini sebagai kehendak Allah. Ketika Abd Allah ibn Ubayy
pergi, beberapa pengikut Muhammad mengejar dan memohonnya untuk
berperang bagi Allah, tapi ibn Ubayy terus saja kembali ke Medina
sehingga membuat pengikut Muhammad jadi kecewa. Allah di
Q 3:187 mengutuk kemunafikan Abd
Allah ibn Ubayy. Jadi sekarang Muhammad harus maju sendiri dengan 700
pasukannya. Meskipun dia sudah berada dekat sekali dengan Uhud dan dapat
melihat jelas pasukan Quraish yang berkemah di dataran Uhud, dia pikir
tidaklah aman untuk memakai jalan utama ke Uhud, karena ini akan
membuatnya menghadapi musuh secara langsung dan terbuka.
83 Mubrakpuri, p.295-296
84 Ibn Ishaq, p.372
85 Hamidullah, p.50
86Iibid, p.50
87 Ibn Sa’d, p.45
88 Mubarakpuri, p.298
Muhammad sekarang mencari pertolongan dari pemandu lokal yang bernama
Abu Khaitamah untuk mencapai Gunung Uhud guna mengelakkan pertempuran
langsung dengan kaum Quraish. Pemandu ini membawa tentara Muslim lewat
jalan yang melalui tanah pertanian milik seorang buta bernama Marba b
Qyizi. Ketika Jihadi hendak melalui tanahnya tanpa minta ijin, orang
buta itu protes sambil melemparkan debu tanah kepada mereka dan berkata,
“Kau mungkin saja nabi Tuhan, tapi aku tetap tidak akan mengijinkanmu
melalui kebunku. Demi Tuhan, Muhammad, jika aku bisa melempar dengan
tepat, aku lempar ini ke mukamu.” Para Jihadis minta ijin Muhammad untuk
memotong-motong orang buta itu. Muhammad tidak mengijinkan, tapi
terlambat sudah. Seorang
Jihadis sudah menebas kepala orang buta itu dengan pedangnya dan lalu
membelah kepalanya jadi dua.[89] Demikianlah belas kasihan para
prajurit Allah!
Ketika mereka sampai di Uhud, para Muslim berkemah di kaki gunung dan
mengatur ranking mereka untuk menghadapi kaum Quraish. Muhammad mengirim
50 pemanah ke bukit Aynayan yang berlawan arah dengan daerah pegunungan
Uhud untuk menjaga bagian belakang tentara Muslim. Dia menunjuk Abd
Allah ibn Jubayr sebagai ketua kelompok dan memberi perintah tegas agar
mereka tidak meninggalkan posisi mereka, tidak peduli kalah atau menang,
sampai mereka menerima perintah dari dia. Dia juga memerintahkan agar
tidak menyerang musuh sampai dia memberi aba2. Muhammad sendiri
mengambil kedudukan di tempat tinggi dengan banyak panah yang siap untuk
ditembakkan kepada musuh. Sahih Bukhari menceritakan bahwa beberapa
Jihadis minum anggur agar lebih siap melakukan Jihad.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 6,
Book 60, Number 142:
Dikisahkan oleh Jabir:
Beberapa orang minum minuman beralkohol in pagi hari di perang Uhud dan
di hari yang sama mereka terbunuh sebagai martir, dan ini terjadi
sebelum minum anggur dilarang.
Muhammad membakar semangat perang para Jihadis dan memberikan pedangnya
pada seorang yang bernama Abu Dujana yang terkenal karena kebuasannya
dan naluri membunuhnya. Lalu Muhammad duduk dan mulai melemparkan
panah2. Dia dilindungi oleh sekelompok Jihadis yang bertugas mengusir
segala serangan terhadap Muhammad. Akan tetapi sahabat2nya yang paling
penting (Abu Bakr, Ali, Hamzah, Umar dll) disuruh memimpin tentara2
Muslim untuk bertempur sengit. Muhammad lalu menunggu kedatangan musuh.
Saat ini, Abu Sufyan b. Harb, yakni ketua tentara Quraish, membawa
pasukannya ke hadapan Muhammad. Khalid b. al-Walid memimpin pasukan
sayap kanan, sedangkan Ikrimah b. Abu Jahl memimpin pasukan sayap kiri,
dan Abu Sufyan memimpin tentara bagian tengah. Awalnya, kaum wanita
berada di baris depan dan membuat suara ribut dengan botol air minumnya
dan melafalkan ayat2 pertempuran, tapi ketika tentara bergerak maju,
kaum wanita ada di posisi belakang.
89 Ibn Ishaq, p.372-373
Bendera Mekah dipegang oleh Talha ibn Abi Talhah. Dia berasal dari marga
Quraish Abdud Dar yang tugasnya adalah membawa bendera Quraish selama
perang. Hari itu hari Sabtu, Shawwal 7, AH 3 dan sama dengan 23 Maret,
625 M. Dua pasukan sekarang sudah berhadapan.
Sebelum pertempuran terjadi, Abu Sufyan mengirim pesan damai pada orang2
al-Aws dan al-Khazaraj, meminta mereka untuk tidak ikut campur dan
membiarkan perang terjadi antar saudara saja (yakni kaum Quraish saja).
Dia tidak mau berperang dengan suku al-Aws dan al-Khazraj. Tapi kedua
suku ini menolak ajakan damai Abu Sufyan, sehingga pertempuran sengit
tidak bisa dielakkan.
Orang pertama dari pihak Quraish yang maju untuk bertempur satu lawan
satu adalah Abu Amir (Muhammad biasa memanggilnya al-Fasiq – pelaku
kejahatan) dengan kelompoknya yang berjumlah 50 orang. Mereka saling
lempar batu dengan pihak Muslim. Ini terus berlangsung sampai pihak
Muslim lebih unggul dan Abu Amir dan kelompoknya mundur. Untuk menambah
semangat tentaranya, para wanita Quraish berbaris maju, memukul2 simbal,
drum dan tambur dan menyanyikan lagu2 perang. Pertempuran selanjutnya
berlangsung satu lawan satu, mengikuti tradisi perang Arab tahap
awal.[90] Prajurit Quraish bernama Talha ibn Abu Talhah maju menghadapi
prajurit Muslim bernama Az- Zubair b. al-Awwam (biografer lain
mengatakan Ali ibn Talib) dan Az-Zubair berhasil membunuh Talha.
Mendengar tewasnya musuh yang pertama, Muhammad bersukacita lewat Takbir
(Allahu Akbar) dan berkata,”Setiap Nabi punya
murid dan muridku adalah Az-Zubari, “[91] dan lalu memberi
garansi Az-Zubair tempat di surga tidak peduli dia hidup atau mati dalam
Jihad.
Setelah kematian Talhah, saudara lakinya yang bernama Abu Shaybah Uthman
b. Abi Talhah maju mewakili pihak Quraish sambil melafalkan ayat2.
Hamzah menyerang dengan pedangnya, memotong tangan dan bahunya dan
menebas tubuhnya sampai paru2nya tampak. Tak lama kemudian Abu Shaybah
Uthman pun mati. Lalu saudara lakinya yang bernama Abu Sa’d b. Abi
Talhah ganti memegang bendera Quraish tapi dia lalu dibunuh Asim b.
Thabit. Sekarang tujuh anggota keluarga yang sama telah dibunuh. Mereka
adalah: Talhah, dan saudara2 lakinya, Shaybah dan Abu Sa’d; empat anak
laki Talha, yakni Musafi, Al-Harith, Kilab and Julas. Ketika ibu Musafi
mengetahui pembunuhan kedua anak lakinya oleh Asim b. Thabit, dia
bersumpah untuk membalas kematian mereka dengan minum air anggur dari
batok kepala Asim.[92]
Pembunuhan terus berlangsung dan pihak Quraish kalah angin. Ketika semua
saudara2 dan anak2 Talhah yang berani telah dibunuh, Artat Shurahbil
mengangkat bendera Quraish dan seorang Jihadis yang tak dikenal
membunuhnya. Tongkat bendera Quraish tergeletak di tanah dan tiada
seorangpun yang menegakkannya. Garis depan Quraish berantakan, mereka
panik dan rasa teror masuk ke dalam pikiran mereka dan mereka mulai
mundur. Mereka sadar bahwa mereka melakukan kesalahan dengan melakukan
perang satu lawan satu dengan pihak Muslim. Akan tetapi, terlambat
sudah. Hanzala b. Abu Amir (anak dari biarawan Kristen) bertarung
melawan Abu Sufyan dan ketika hampir membunuh Abu Sufyan, Shaddad b.
al-Aswad memukul Hanzala b. Abu Amir dan membunuhnya. Peristiwa ini
nantinya diingat oleh Abu Sufyan dalam syair puitis ‘Hanzala bagi
Hanzala.’ (Ingat? Anak Abu Sufyan yang bernama Hanzala dibunuh Muslim di
Badr II).
90 Rodinson, p.180
91 Mubarakpuri, p.3
92 Ibn Ishaq, p.377
Begitu pihak Quraish menyadari kesalahan mereka bertarung satu lawan
satu dengan Jihadis Muslim, mereka lalu melakukan serangan total.
Awalnya, pihak Muslim berhasil memerangi pihak Quraish dengan bertarung
sangat sengit. Setiap kali pihak Quraish maju, pemanah2 Muslim yang
berada di atas bukit kecil menghujani mereka dengan panah dan membuat
pasukan Quraish mundur lagi ke belakang. Mereka sudah hampir putus asa.
Abu Dujana dengan pedang pemberian Muhammad, Hamzah dan Ali bertarung
dengan ganas. Mereka berhasil membunuh beberapa orang Quraish. Pasukan
Quraish jadi kewalahan dan mulai meninggalkan medan perang dan bendera
mereka tergeletak di tanah dan tiada seorang pun yang mengambilnya. Ini
akhir dari bagian pertama perang Uhud.
Tentara Muslim mengetahui bahwa pihak Quraish berhasil dipukul mundur.
Maka tanpa menunggu lagi, mereka berlarian maju mengumpulkan barang
jarahan perang. Begitu serakahnya mereka saling berebutan peralatan
perang sehingga begitu para pemanah Muslim dari atas bukit melihat
kawan2nya menjarah, mereka pun meninggalkan posisi mereka dan ikut
berlari mengambili barang jarahan perang. Hanya 10 pemanah yang dipimpin
oleh Abd Allah ibn Jubayr yang tetap berada di posisi mereka seperti
yang diperintahkan Muhammad. Selebihnya tidak mempedulikan lagi perintah
Muhammad karena terlalu tergiur oleh barang jarahan. Inilah yang ditulis
Tabari tentang bagaimana besarnya nafsu para Jihadis terhadap barang
jarahan perang.[94]
Ketika para Jihadis yang menjaga bagian belakang tentara2 Muslim melihat
tentara Quraish dan para wanitanya melarikan diri dan melihat barang
jarahan perang, mereka jadi bernafsu mengambilnya dan berkata, “Mari
kita pergi ke Rasul Allah dan mengambil jarahan perang sebelum yang lain
merebutnya duluan dari kita.” Kelompok lain ingin mentaati perintah
Muhammad dan yang lain ingin meninggalkan posisi mereka. Pertentangan
kedua kelompok ini dikatakan Tuhan di Q
3:145 “Siapa yang bernafsu … Alam Baka . Menyaksikan keserakahan
akan barang jarahan perang, Ibn Masud berkata, “Aku sebelumnya tidak
pernah menyadari bahwa ada pengikut2 Nabi yang begitu bernafsu akan
dunia dan kekayaannya sampai pada hari itu.”
Keserakahan tanpa kendali para Jihadis akan barang jarahan perang
menyebabkan Khaild b. Walid, komandan pasukan berkuda Quraish dapat
menyerbu pasukan Muslim yang sedang mabuk barang jarahan dari belakang
dan mengubah keadaan perang. Dia lalu menyerang dengan ganas sisa2
pemanah yang masih berada di tempat dan membunuh mereka semua, termasuk
pemimpin para pemanah Abd Allah ibn Jubayr. Khalid b. Walid diikuti oleh
Ikrimah b Abu Hakam (anak laki Abu Jahl; Abu Jahl dibunuh secara brutal
di Badr II). Dikatakan bahwa para malaikat ada tapi mereka tidak
membantu para Muslim.[95] Sudah jelas alasannya mengapa para malaikat
ragu2 untuk menolong tentara Allah. Ketika tentara Muslim berantakan dan
terpukul mundur, Muhammad mencoba mengatur peperangan. Dia berusaha
memanggil orang2 untuk berperang demi Rasul Allah. Tapi panggilannya
tidak dihiraukan dan tentara Muslim terus mundur. Para musuh dengan
cepat bergerak mendekati posisi Muhammad. Sekelompok Jihadis yang setia
berusaha melindunginya. Muhammad tidak bisa lari lagi. Ketika dalam
keadaan penuh kebingungan inilah muncul suatu berita bahwa Muhammad
telah dibunuh, dan ini mematahkan semangat tentara Muslim. Para
biografer Muhammad menulis hal yang bertentangan dan membingungkan akan
hal ini di Perang Uhud. Inilah yang kumengerti setelah mempelajari
beberapa versi kisah ini.
93 Ibid
94 Tabari, vol.vii, p.114
95 Ibn S’ad, p.49
Melihat perubahan keadaan perang di bagian depan dan tentara Muslim yang
tercerai-berai, pihak Quraish segera bangkit lagi semangatnya dan maju
lagi bertempur. Seorang Quraish wanita bernama Umrah bt. Alqamah
Al-Harithya mengangkat bendera Quraish yang tergeletak dan menegakkannya
di atas tanah. Kali ini pihak Quraish menguasai keadaan peperangan.
Mereka berkumpul kembali dan mulai mencari Muhammad.
Sekelompok tentara Quraish yang telah membunuh pasukan panah Muslim,
mengejar Muhammad dan para bodyguard-nya. Pada saat itu kebanyakan
Jihadis sedang sibuk mengumpulkan barang jarahan. Hanya 9 orang Jihadis
yang melindungi Muhammad, 7 dari mereka adalah orang Ansar (Medina) dan
2 adalah Muhajir (yang hijrah dari Mekah). Sebagian tentara Khalid yang
dipimpin oleh ibn Qamia melempari kelompok pelindung Muhammad dengan
batu. Sebuah batu menerjang mulut Muhammad dan melukai gigi taring kanan
bawah dan bibir bawahnya. Serangan pedang tentara Quraish yang bernama
Utbah b. Abi Waqqas (saudara laki Sa’d b. Abi Waqqas, orang Muslim)
melukai jidat dan bahunya sehingga mengeluarkan banyak sekali darah.
Pasukan Mekah menyerang tentara Muslim dari belakang sehingga tentara
Muslim kocar-kacir. Banyak tentara Muslim yang dibunuh tentara Mekah.
Beberapa Muslim terluka sangat parah, dan banyak yang mulai melarikan
diri dari medan perang. Dengan luka di mulut dan badannya dan hati yang
terluka, Muhammad memanggil para pengikutnya untuk terus berperang, tapi
tidak ada yang mendengarkannya. Maka Allah mengirim
Q 3:128, “It is no concern at all
of thee (Muhammad), whether He relent toward them or punish them: for
they are evildoers.” Muhammad yang sudah tak berdaya berteriak,
“Siapa yang bersedia menjual nyawanya bagi
kami?” Mendengar jeritan putus asanya, Ziyad b. al-Sakani (atau
Umarah b. Ziyad al-Sakani), dan 5 orang Jihadis datang untuk melindungi
Muhammad. Mereka semua mati satu per satu di hadapan Muhammad sehingga
tinggal Ziyad b. al-Sakani yang masih hidup.[96]
Dikisahkan bahwa Hatib b. Baltah mengikuti Utbah b. Abi Waqqas dan
membunuhnya meskipun sebenarnya Sa’d b. Abi Waqqas yang ingin membunuh
saudara lakinya sendiri (Utbah). Meskipun serangan terhadap Muhammad
tidak mematikan (karena Muhammad memakai baju perang dua lapis), pukulan
yang diterimanya begitu keras sehingga dua cincin helmnya menusuk masuk
pipinya. Muhammad yang terluka dengan hebatnya mengutuki orang yang
menyerangnya. Para bodyguard-nya berperang dengan sengit untuk
melindunginya, tapi tentara Quraish terus menyerang tanpa berhenti
sehingga akhirnya ke tujuh bodyguard Muhammad tewas semua. Sekarang
tinggal 2 Muhajir yang bernama Ubaidullah dan Sa’d b. Abi Waqqas yang
melindungi Muhammad. Dalam waktu singkat, tentara Quraish melukai Talhah
b. Ubaidullah. Pemegang bendera Muslim yang bernama Musab b. Umayr
berdiri tak jauh dari situ. Kebetulan muka dan sosok dia mirip dengan
Muhammad. Ibn Qamiah menyerang dan membunuhnya. Karena dia mengira yang
dibunuhnya adalah Muhammad, maka dia berteriak sekuat tenaga, “Muhammad
sudah dibunuh.” Mendengar kabar naas ini, tentara Muslim jadi kacau;
karena kebingungan, mereka jadi bertempur satu sama lain. Satu korban
dari kejadian saling serang antar kawan ini adalah ayah Hudhayfa yang
bernama Al-Yaman. Ketika Hudhayfa melihat ayahnya akan dibunuh tentara
Muslim lain, dia menjerit untuk menahannya, tapi terlambat dan ayahnya
yang Muslim tewas di tangan tentara Muslim. Nantinya Hudhayfa memaafkan
pembunuh ayahnya dan tidak menuntut uang darah. Banyak Muslim yang
melarikan diri dari medan perang dan kembali ke Medina. Beberapa dari
mereka membawa bangkai kawan seperjuangannya untuk dikubur di Medina.
Beberapa Muslim bahkan mencoba untuk menghubungi Abd Allah ibn Ubayy
untuk bertarung melawan tentara Quraish, agar mereka tidak dibunuh
tentara Quraish. Tapi usaha ini gagal. Setelah mengetahui pihaknya kalah
dan dirinya tidak ada yang melindungi,
Muhammad pun lari menyelamatkan
nyawanya. Seorang Jihadis yang bernama Ka’b b. Malik melihat
Muhammad yang lari ketakutan dan berteriak gembira, “Rasul Allah masih
hidup.” Muhammad yang sedang ketakutan meminta Ka’b untuk tutup mulut,
tapi tentara Quraish berhasil mendengar bahwa musuh besar mereka masih
hidup. Seorang Quraish yang bernama Ubay b. Khalaf memacu kudanya ke
arah Muhammad untuk membunuhnya. Muhammad mengambil sebilah tombak dari
tentaranya dan menusukannya ke arah Ubay b. Khalaf dan melukainya. Ubay
kembali ke posisi tentara Quraish dengan luka di tenggorokan dan
lehernya sambil berkata, “Demi Tuhan, Muhammad telah membunuhku.” Orang2
Quraish tidak melihat adanya luka yang serius mengancam jiwa pada diri
Ubayy. Tapi Ubayy bersikeras mengatakan bahwa kutukan Muhammad telah
melukainya. Ubay b. Khalaf mati karena lukanya dalam perjalanan kembali
ke Mekah. Walaupun tidak ada bukti bahwa Muhammad telah membunuh
siapapun dengan tangannya sendiri, Ibn Sa’d menulis,
“Ubayyi Ibn Khalaf al-Jumahi, yang dibunuh
Muhammad dengan tangannya sendiri ….” [98]
96 Tabari, vol. vii, p.120
97 Mubarakpuri, p.3
Ketika sedang lari menyelamatkan diri, Muhammad jatuh ke sebuah lubang
jebakan yang digali Abu Amir, sang biarawan Kristen, untuk menjebak
serdadu Muslim. Sekarang setelah mendengar teriakan gembira Ka’b,
sekitar 30 tentara Jihadis termasuk sahabat dekat Muhammad yakni Abu
Bakr, Ali, Umar, dll berlari ke arahnya. Ketika mereka sampai ke lubang
jebakan, dengan lega mereka menemukan bahwa Muhammad masih hidup.
Muhammad meminta mereka tidak ribut tapi bergerak menuju ke Utara ke
sebuah gua di sisi bukit. Ali mengulurkan tangan untuk membantu Muhammad
ke luar dari lubang itu. Bersama Muhammad, kelompok itu lalu bergerak
diam2 ke arah bukit dan berlindung di situ, untuk mengatur rencana
mundur bagi tentara Muslim dan terutama merawat luka Muhammad dan
serdadu lain. Dikabarkan bahwa Aisha dan beberapa Muslimah bergabung
bersama kelompok Muhammad. Fatima (anak perempuan Muhammad) tiba di
tempat pertempuran dan menolong membalut luka ayahnya. Dibutuhkan waktu
sebulan sampai semua lukanya sembuh.
Saudara perempuan Hamzah yang bernama Safiya juga datang. Dia sangat
sayang dan dekat dengan Hamzah. Perang Uhud juga menunjukkan bahasa yang
sangat kasar dan vulgar, terutama dari pihak Muslim. Misalnya:
Ketika keadaan tentara Muslim sedang kacau balau, Hamzah terus bertempur
dengan gagah berani membunuhi beberapa orang Quraish. Budak Abisinia
yang bernama Wahsi (Ingat? Dia disewa Hind bt. Utbah untuk membunuh
Hamzah) mengamatinya dari jarak dekat dan mengambil posisi strategis
untuk mengarahkan lembing mautnya ke arah Hamzah. Pada saat iut, Abd
al-Uzza al-Ghubshani (Abu Niyar) berlalu di hadapan Hamzah. Abu Niyar
adalah anak dari pesunat anak perempuan yang bernama Umm Ammar yang
adalah budak Shariq b. Amr b. Wahb al-Thaqafi yang dimerdekakan. Jadi
Hamzah membentaknya, “Ke sini kamu, anak tukang potong klitoris.”[99]
Ketika Wahsi, budak of Jubayr b. Mutim melihat Hamzah membentak Abu
Niyar, dia (Wahsi) dengan cepat melemparkan lembingnya dan menusuk
bagian bawah perut Hamzah dan tembus ke luar diantara kakinya. Hamzah
dengan cepat mati dan Wahsi mengambil kembali lembingnya dan balik
menuju tempat kemah Quraish. Dia sudah memenuhi tugasnya membunuh
Hamzah. Mayat Hamzah tergeletak di tanah.
Jadi sekarang kita tahu bahwa FGM (Female Genital Mutilation = sunat
bagi wanita) ternyata umum dilakukan diantara bangsa Arab di jaman
Muhammad. Muhammad tidak berupaya apapun untuk mencegah praktek ini.
98 Ibn Sa’d vol.ii, p.50
Seperti yang dikatakan sebelumnya, setelah Muhammad dikeluarkan dari
lubang, Abu Bakr, Umar, Ali dan orang2 Muslim lain membawanya ke sebuah
gua untuk merawat luka2nya. Seorang Jihadis mengeluarkan cincin yang
menembus pipi Muhammad. Sewaktu sedang melakukan ‘operasi’ primitif itu,
dia memutuskan gigi taring Muhammad yang sudah rusak sejak tadi. Darah
mengucur deras keluar dari luka Muhammad membasahi mukanya. Malik b.
Sinan menghisap darah itu dan menelannya.[100] Melihat ini Muhammad
berkata, “Dia yang darahnya bercampur dengan
darahku tidak akan tersentuh api neraka.” [101] Abu Bakr, Umar,
Ali dan sahabat2 dekat Muhammad berusaha menghibur Muhammad dan Talhah
b. Ubaidullah yang terluka berat. Bagi mereka yang menyebarkan berita
palsu tentang kematiannya, Allah mengeluarkan ayat
Q 3:144, “Muhammad is but a
messenger, messengers (the like of whom) have passed away before him.
Will it be that, when he dieth or is slain, ye will turn back on your
heels! He who turneth back doth no hurt to Allah, and Allah will reward
the thankful.”
Para Jihadis di sekeliling Muhammad jadi sangat lelah dan banyak yang
jatuh tertidur di gua itu. Dalam waktu singkat Muhammad akhirnya
meninggalkan medan perang dan berlindung di pegunungan Uhud.
Pada saat itu, setelah pihak Quraish menyadari bahwa pihak Muslim telah
dikalahkan dan mereka (pihak Muslim) telah melarikan diri ke pegunungan,
mereka mulai memeriksa musuh2nya yang tewas di medan perang. Saat itu
adalah tengah hari. Setelah siang berlalu, kaum Quraish mulai mencari
mayat Muhammad, tapi tidak menemukannya sehingga mereka mulai curiga
jangan2 dia tidak mati. Beberapa tentara Quraish memotong-motong mayat2
Muslim. Mereka memotong kuping2 dan hidung2 (bahkan juga alat kelamin)
korban2 mereka dan dijadikan kalung. Hind bt Utbah sangat dikuasai rasa
dendam sehingga dia tidak hanya mengenakan kalung2 dan gelang2 anggota
badan musuhnya Hamzah, tapi juga terus melanjutkan dengan
memotong-motong badan Hamzah. Dia robek perutnya, mengambil hati dan
memakannya tapi rasanya sangat tak karuan sehingga dia memuntahkannya
kembali. Abu Sufyan mengutuk perbuatan liar Hind itu.[102]
Lalu Abu Sufyan mendekati daerah dekat gua tempat Muhammad dkk
berlindung dan bertanya siapa yang berada dalam gua. Tidak ada yang
menjawabnya. Karena itu Abu Sufyan lalu meneriakkan bahwa orang2 Quraish
telah membunuh semua ketua kelompok Muslim, termasuk Muhammad. Karena
tidak tahan hinaan ini, Umar dengan marah berteriak balik dan mengatakan
mereka semua masih hidup, selamat dan sehat, termasuk Muhammad. Meskipun
agak kaget, Abu Sufyan ragu2 untuk melanjutkan pertumpahan darah dan
mengatakan pada Umar bahwa tentara Quraish sedang memuaskan kemarahan
dengan memotong-motong mayat2 Muslim, tidak peduli Umar suka atau tidak.
Abu Sufyan sudah puas membayar kematian anak lakinya Hanzalah b. Abu
Sufyan yang mati di Badr II. Dia lalu menantang Muhammad untuk bertemu
lagi di tahun depan di Badr. Muhammad menerima tantangan ini. Setelah
berteriak memuja Hubal (dewa terbesar di Ka’aba) dan Uzza (dewa lain
dari Nakhla) atas kemenangan pihak Mekah, Abu Sufyan memerintahkan
prajuritnya berbaris kembali ke Mekah. Akan hal ini, Muhammad
mengumumgkan Allah sebagai pelindung kaum Jihadis.
99 Tabari, vol.vii, p.121
100 Mubarakpuri, p.323
101 Ibn Ishaq, p.754; Ibn Hisham’s note
102 Heykal, Ch. Uhud
Setelah Abu Sufyan pergi jauh dari tempat perlindungan kaum Muslim,
Muhammad memerintah Ali untuk menyelidiki kepergian tentara Quraish. Ali
melaporkan kembali bahwa orang2 Quraish menunggangi unta2 dan kuda2
mereka. Berita ini melegakan Muhammad karena ini menunjukkan tentara
Quraish sudah pasti kembali ke Mekah dan tidak berencana untuk kembali
ke Uhud/Medina. Setelah yakin tidak ada serangan lagi dari pihak
Quraish, Muhammad memerintah para pengikutnya untuk ke luar dari tempat
persembunyian. Jadi sekali lagi pihak Muslim kembali ke medan perang
yang sekarang penuh dengan mayat2 kaum Jihadis yang dipotong-potong. Ini
sungguh pemandangan yang mengerikan. Ketika Muhammad melihat tubuh paman
dan saudara angkatnya, Hamzah, yang berceceran, dia sangat sedih dan
mulai menangis. Keadaan tubuh Hamzah sungguh mengerikan sehingga
Muhammad melarang bibinya, Saffiya untuk melihat mayat saudara lakinya
Hamzah. Tapi Saffiya tetap datang dan melihat mayat saudara lakinya
tergeletak di tanah dengan sebagian anggota badannya hilang atau
terpotong-potong. Saffiya tenang, menguasai diri dan meminta Allah
mengampuni Hamzah. Muhammad memerintahkan agar mayat Hamzah dikubur di
tempat dia mati. Muhammad lalu bersumpah untuk membalas dendam dengan
memotong-motong 30 orang Quraish bagi Hamzah. Ada yang bilang dia
bersumpah untuk memotong 70 orang. Akan tetapi, praktek potong memotong
ini dilarang kemudian di ayat Q 16:126.
Muhammad lalu melarang pemotongan mayat tapi mengumumkan: “Jihadi yang
terluka akan dibangkitkan di hari akhir dengan darah menetes dari
lukanya dan bau lukanya akan seperti bau musk (wewangian).”[103] Selain
itu dia juga berkata: “Tuhan menaruh roh2 mereka yang mati di Uhud dalam
sekelompok burung2 hijau dan para Jihadis ingin kembali dari surga dan
dibunuh lagi, lagi, dan laig.”[104]
Pesan yang sama bisa dilihat di
Hadis Sunaan Abu Dawud, Book
14, Number 2514:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Sang Nabi berkata: Ketika saudara2mu dibunuh di perang Uhud, Allah
menaruh roh2 mereka dalam sekelompok burung2 hijau yang terbang ke
sungai2 di surga, makan buah2nya dan bertelur di lampu2 emas di naungan
Takhta (Allah). Lalu ketika mereka merasakan manisnya makanan mereka,
minum dan istirahat, mereka bertanya: Siapa yang dapat mengatakan kepada
saudara2 kami bahwa kami hidup di Surga, sehingga mereka tidak takut
untuk melakukan Jihad dan tidak mau berperang? Allah yang Maha Tinggi
berkata: Aku akan memberitahukan mereka tentang kamu; jadi Allah
mengirim turun, “Dan jangan mengira mereka yang mati di jalan Allah… “
sampai akhir ayatnya.
103 Ibn Ishak, p.388
104 Ibn Ishak, p.400
Setelah mengubur rekan2 mereka, para Muslim termasuk Muhammad kembali ke
Medina. Dalam perjalanan pulang ke Medina, banyak orang, terutama kaum
wanita yang sangat ingin tahu nasib orang2 yang mereka cintai atau dekat
dengan mereka. Muhammad tak punya pilihan lain kecuali menceritakan
nasib buruk kekasih dan saudara2 mereka. Ketika dia melewati tempat
tinggal para Ansar, Muhammad mendengar para wanita menangisi orang2 yang
mereka kasihi. Dia sendiri menangis tapi tidak menemukan seorang pun
yang menangis bagi Hamzah, paman Muhammad.
Di malam harinya (Sabtu, 7 Shawal), Muhammad bersama dengan tentara
Muslim kembali ke Medina. Ketika Muhammad masuk ke rumah keluarganya,
dia dan Ali memberikan pedang2 mereka kepada Fatima (anak Muhammad dan
istri Ali) untuk membersihkan bercak darah pada pedang itu. Dilaporkan
70 Muslim mati di perang Uhud. Pihak Quraish kehilangan 23 orang.[105]
Ada beberapa kecelakan pembunuhan Muslim yang dilakukan pihak Muslim
sendiri. Misalnya seperti yang sudah disebutkan bahwa Husayl b. Jabir
al-Yaman dibunuh oleh pihak Muslim yang tidak mengenalinya. Muhamad
membayar uang darah pada anak laki Husayl yang bernama Hudhayfah. Lalu
Hudhayfah memberikan uang itu kepada para Muslim yang memerlukannya.
Anak laki Hatib yang bernama Yazid menderita luka parah dan dihibur oleh
para Muslim lainnya dengan janji surga bagi yang mati sebagai martir.
Mendengar hal ini, Hatib jadi marah dan menyalahkan pihak Muslim yang
salah bunuh dan mengakibatkan anaknya mati. Muslim lain yang bernama
Quzaman telah berperang dengan gagah berani dan membunuh 8 sampai 9
orang pagan dan dia sendiri luka parah. Ketika orang2 menyelamatinya
karena keberaniannya, dia hanya berkata bahwa dia melakukan itu untuk
membela masyarakatnya sendiri. Ketika rasa sakit yang ditanggungnya jadi
tak terperikan, dia akhirnya bunuh diri dengan memotong urat nadi
tangannya dengan mata anak panah. Muhammad sangat tidak suka akan Quzman
yang berkata bahwa dia berperang dan mati untuk negaranya dan bukan
untuk Allah dan RasulNya. Ketika para pengikut Muhammad tanya padanya
tentang nasib Quzman setelah mati, Muhammad menjawab, “Dia jadi penghuni
neraka.”[106]
105 Ibn Sa’d, vol.ii, p.50
106 Mubarakpuri, p.334
Seorang Yahudi yang bernama Mukhayriq juga mati di Uhud. Dia berperang
bagi Muslim dan mengajak orang2 Yahudi lain untuk bertempur bersama
Muhammad. Tapi kebanyakan Yahudi tidak ikut perang karena menghormati
hari Sabbath (Sabtu). Melalui pengakuannya, Muhammad mengatakan bahwa
Mukhayriq adalah Yahudi terbaik. Sahih Bukhari mencatat bahwa istri
Muhammad yakni Aisha dan wanita lain bernama Umm Sulaim (tidak jelas
apakah dia ini istri Muhammad atau bukan) menyediakan air bagi tentara
Muslim di Uhud. Ini hadisnya:
Sahih Bukhari Volume 4, Book
52, Number 131:
Dikisahkan oleh Anas:
Di hari (perang) Uhud, ketika beberapa
orang mundur dan meninggalkan sang Nabi, aku melihat 'Aisha bint Abu
Bakr dan Um Sulaim, dengan jubah mereka terikat sehingga gelang2 kaki
mereka tampak, membawa kantung2 air (di kisah lain ditulis “membawa
kantung2 air di pundak mereka”). Lalu mereka menuangkan air ke mulut
orang2, dan kembali mengisi kantung2 lagi dan kembali lagi menuangkan
air ke mulut orang2.
Di malam hari setelah mereka kembali ke Uhud, tentara Muslim tetap siaga
di kota Medina untuk berjaga-jaga andaikata pihak Quraish menyerang
lagi. Di sepanjang malam Muhammad memikirkan lagi apa yang telah terjadi
dan bagaimana masa depannya dan para pengikutnya. Kekalahan di Uhud
teramat menyakitkan baginya dan kredibilitasnya sebagai Rasul Allah
sekarang terancam – Muhammad tahu betul akan hal ini. Dia harus tetap
tenang, berkepala dingin dan menguasai diri, dan harus menentukan
langkah apa yang harus dia ambil untuk memulihkan kredibilitasnya dan
rasa terpesona para pengikutnya terhadap dirinya. Bagi mereka, dia tak
terkalahkan dan dekat dengan Allah – hal ini merupakan kebenaran mutlak
bagi mereka. Muhammad bersumpah untuk tidak akan kehilangan kekuatan
kharisma dan hipnotisnya terhadap para Jihadis. Di saat yang sama dia
pun sadar akan bahaya tentara Quraish kembali dan menyerang Medina
tiba2. Satu2nya pilihan baginya adalah ke luar untuk mencari tahu
tentang tentara Quraish dan memasukkan teror dalam hati mereka dengan
segala cara yang bisa dia lakukan – dia tahu benar akan hal ini.
Bagian Tujuh
‘Kita harus
bayar pajak untuk pergi ke Surga’ ---Ramzi Binalshibh [107]
Teror Twenty-two
Penyerangan atas Hamra al-Aswad oleh Muhammad—March, 625M
Seperti yang telah ditulis sebelumnya, Muhammad sangat gundah akan
kekalahan pihak Muslim di Uhud. Karena itu, untuk mengangkat moral para
Muslim dan tetap membuat takur orang2 Yahudi dan orang2 munafik, dia
merencanakan beberapa serangan terhadap musuh untuk membalas kekalahan
di Uhud.
Jadi pada hari Minggu, tanggal 8 Shawaal, AH 3 (24 March, 625), sehari
setelah perang Uhud, ketika para Muslim bangun, mereka mendengar
Muhammad memanggil mereka untuk mengejar tentara Quraish. Dia
memerintahkan para tentara untuk bersiap, tapi hanya mereka yang ikut
perang Uhud di hari sebelumnya yang boleh bergabung dengan operasi
militer baru ini. Tak dapat disangkal bahwa dia melakukan hal ini untuk
membangkitkan semangat para Jihadis, untuk menghilangkan ingatan
kekalahan mereka yang memalukan di Uhud dan untuk membakar moral
prajurit2nya yang tadinya hilang. Seorang Muslim yang tidak ikut perang
Uhud karena ayahnya tidak memberi ijin baginya untuk berperang Jihad,
diijinkan ikut masuk tentara Muslim. Seorang anak laki dari Jihadis yang
mati terbunuh di Uhud minta ijin Muhammad untuk ikut operasi militer ini
dan dia pun diijinkan ikut. Selain mereka, beberapa Jihadis yang terluka
juga ikut barisan tentara ini.
Tak lama sebelum Muhammad mengejar tentara Mekah, dia mengirim tiga
orang pengintai yang semuanya berasal dari B. Aslam untuk memeriksa
jejak kaki tentara Mekah. Dua dari mereka bertemu dengan tentara Mekah
di Hamra al-Asad, sekitar 8 (atau 10 menurut Ibn S’ad) mil dari Medina.
Abu Sufyan sudah mengetahui tentang usaha Muhammad untuk mengejar
tentara Mekah. Dua pengintai mendengar percakapan diantara orang2
Quraish: apakah mereka harus kembali dan menghabisi para Muslim sekali
untuk selamanya atau kembali ke Mekah. Abu Sufyan sebenarnya ingin
kembali dan menghancurkan tentara Muslim tapi setelah bertukar pikiran
dengan Safwan ibn Umayyah, dia tidak jadi melakukan hal itu dan
melanjutkan perjalanan kembali ke Mekah. Ini terjadi sehari sebelum
Jihadis Muslim tiba di Hamra al-Asad. Sebelum berangkat dari Hamra
al-Asad, tentara Quraish menemukan dua pengintai Muslim, menangkap dan
membunuh mereka, lalu melemparkan mayat2 mereka di jalan. Tidak
diketahui bagaimana nasib pengintai ketiga. Tampaknya dia melarikan diri
kembali ke Muhammad.
Para Jihadis di bawah pimpinan Muhammad yang berbalut perban pergi ke
Hamra al-Asad dan menemukan dua mayat pengintai yang dikirim Muhammad
untuk mengintai tentara Quraish. Setelah Muhammad tahu bahwa tentara
Quraish tidak ada di sana untuk menyerangnya lagi, dia merasa lega dan
mengambil keputusan untuk diam di tempat itu selama 3 malam (atau 5,
menurut Ibn Sa’d) sampai hari Rabu (25-27 March, 625) sebelum kembali ke
Medina. Ketika dia sedang menunggu kesembuhan dari luka yang didapatnya
di perang Uhud, dai memerintahkan pembakaran 500 kayu bakar yang
ditumpuk tinggi untuk mengirim pesan pada tentara Quraish bahwa dia
masih tetap kuat.
Ketika Muhammad sedang berada di Hamra al-Asad, dia membuat persetujuan
dengan Mabad al-Khuzaah di Tihamah. Orang2 Muslim dan pagan dari Tihamah
adalah sekutu terpercaya Muhammad. Mereka setuju untuk tidak
menyembunyikan apapun dari Muhammad.
107 Masterminds of terror, p116; Ramzi Binalshibh was one of the
planners of 9/11
Lalu, Mabad pergi ke Mekah dan bertemu dengan Abu Sufyan. Mabad memberi
keterangan palsu bahwa Muhammad sedang mengumpulkan kekuatan untuk
memerangi Abu Sufyan. Pada saat itu Abu Sufyan dan kawan2nya sedang
merencanakan serangan hebat ke Medina untuk menghabisi pihak Muslim sama
sekali. Mendengar bualan Mabad tentang kekuatan militer Muhammad, Abu
Sufyan menarik kembali rencananya untuk segera menyerang para
Muslim.[108] Jadi Muhammad sekali lagi membuktikan bahwa penggunaan
teror dan tipuan memang berguna untuk tujuannya.
Setelah menunjukkan keberaniannya di Hamra al-Asad, Muhammad kembali ke
Medina. Seorang serdadu Quraish berkeliaran di Hamra al-Asad. Dia adalah
penulis puisi yang bernama Abu Azzah al-Jumahi, yang adalah seorang yang
miskin yang mempunyai 5 anak perempuan. Dia tertinggal rombongan tentara
Quraish. Sebelumnya, dia adalah tawanan perang Badr II. Karena dia
miskin dan tidak mampu membayar uang tebusan bagi dirinya sendiri, maka
dia memohon untuk dimerdekakan. Muhammad membebaskannya asalkan dia
berjanji tidak akan melawan pihak Muslim lagi. Akan tetapi dia tergoda
oleh orang2 Mekah untuk berperang lagi melawan Muslim karena dijanjikan
upah yang besar kalau menang atau untuk mengurus ke 5 anaknya jikalau
dia mati terbunuh. Setelah pihak Muslim kalah telak di Uhud, dia memohon
ampun kepada Muhammad, tapi Muhammad tidak menaruh kasihan padanya dan
memerintahkan agar Abu Azzah dibunuh karena dia telah melanggar
janjinya. Hazrat Ali lalu membunuhnya.[109]
Seoarang Quraish lain ketika kembali ke Mekah kesasar di jalan dan
bermalam di dekat Medina. Di pagi harinya dia pergi ke rumah Uthman ibn
Affan (menantu Muhammad). Uthman menjumpainya, memberinya kemurahan hati
selama 3 hari, menyediakan unta dan kebutuhannya untuk perjalanan
kembali ke Mekah. Setelah sepakat tentang itu, Uthman berangkat dengan
Muhammad ke Hamra-al-Asad. Orang Quraish yang sial ini berlambat-lambat
dan tinggal di Medina lebih dari 3 hari. Muhammad yang mendengar
keterlambatannya lebih dari sehari itu menangkapnya dan memerintahkan
agar dia dibunuh.
Al-Harith b. Suwayd adalah seorang yang munafik. Dia pergi ke Uhud
bersama Muslim tapi membunuh beberapa Muslim. Lalu dia lari ke Mekah,
bergabung dengan kelompok Quraish. Setelah itu, Al-Harith mengirim
saudara lakinya menghadap Muhammad untuk minta ampun, sehingga dia boleh
kembali ke Medina. Muhammad mengijinkannya kembali, tapi belum mengambil
keputusan tentang nasibnya, dan memilih menunggu sampai dia kembali dari
Hamra al-Asad. Atas keraguannya ini, Allah dengan cepat mengirim ayat Q
3:86 yang memutuskan bahwa siapa yang menolak iman Islam setelah
menerimanya harus dihukum mati. Karenanya, setelah kembali ke Medina,
Muhammad memerintahkan pembunuhan atas al-Harith b. Suwayd karena dugaan
pembunuhan atas al- Mujaddzir of B. Aws. Pembunuhan (yakni dugaan
pembunuhan yang tak terbukti atas al-Mujaddzir) terjadi 9 atau 10 tahun
sebelumnya. Muhammad memerintahkan Uthman b Affan, menantunya, untuk
memenggal kepala al-Harith. Hazrat Uthman memenggal al-Harith di pintu
gerbang mesjid, tepat di hadapan Muhammad.[110]
108 Tabari, vol. vii, p.140
109 Tabari, vol. vii, p.141-142
Sukses perampokan Badr II dilihat orang sebagai bukti pengakuan ilahi
Muhammad. Sekarang, kekalahan di Uhud menjatuhkan pengakuan bahwa
dirinya adalah nabi. Orang2 Yahudi mulai menyebarkan pertentangan ini.
Muhammad sekarang sangat perlu untuk menegakkan reputasinya yang goyah
dan membangkitkan moral para pengikutnya. Dia mulai berkhotbah bahwa
kekalahan di Uhud adalah karena para munafik. Dia mengaku bahwa Allah di
Sura 3 telah memberitahu kebenaran baginya. Lalu dia melanjutkan dengan
memisahkan para pengikutnya yang sejati dari para munafik dengan
menyalahkan mereka yang tinggal di rumah dan tidak ikut Jihad di Uhud.
Dengan menyatakan bahwa andaikata dia mati sekalipun, tujuan tindakannya
tetap berlaku, dia menjanjikan keberhasilan di masa depan kepada para
pengikutnya jika mereka tetap teguh dan berani. Tujuannya itu sendiri
adalah kehidupan fana dan ilahi – dia sangat tegas akan hal ini.
Nasehatnya memberi pengaruh yang kuat pada para Jihadis sejati, dan
mereka sekarang jadi lebih yakin. Muhammad merasa puas karena dia benar2
dapat membuat para pengikutnya yang gampang dikibulin itu menerima teori
apapun yang dikarangnya sebagai suatu kebenaran.
Teror Dua Puluh Tiga
Perampokan atas B. Asad ibn Khuzaymah di Katan daerah Nejd oleh Abu
Salma b. Abd al Asad al-Makhzumi —April, 625M
Bani Asad ibn Khuzaymah, yakni para penduduk di Katan, di dekat daerah
Fayd yang ada sumber mata airnya, adalah suku bangsa yang kuat yang
punya hubungan erat dengan kaum Quraish. Mereka tinggal di bukit Katan
di daerah Nejd. Muhammad mengaku bahwa dia menerima laporan pengintainya
tentang rencana suku ini untuk menyerang Medina. Jadi dia mengirim 100
pasukan tentara di bawah pimpinan Abu Salma b. Abd al Asad al-Makhzumi
untuk menyerang suku ini tiba2. Di hari pertama Muharram [111] ketika
mereka sedang tidak siap sama sekali, Abd al-Asad menyerang dan meneror
mereka and merampas jarahan rampokan.
Akan tetapi operasi teror ini tidak sukses besar. Ketika para Jihadis
tiba di tempat itu, para calon korban melarikan diri dan orang2 Muslim
hanya menemukan tiga gembala dengan kelompok unta dan kambing yang
besar. Mereka mengambil semua ternak itu sebagai barang jarahan, dan
ketiga gembala sebagai tawanan. Lalu para unta, kambing, dan ke 3
tawanan dibawa ke Medina. Muhammad mengambil seorang tawanan (sebagai
budak) bagi dirinya sendiri, mem-bagi2kan unta dan kambing diantara para
Jihadis sambil mengambil 1/5 bagian barang jarahan untuk dirinya
sendiri. Keberhasilan usaha perampokan ini mengembalikan harga diri
sebagian Muslim yang tadinya hilang setelah perang Uhud. Abu Salamah
tidak hidup lebih lama lagi setelah perampokan ini karena infeksi luka
yang diterimanya di perang Uhud.
Sehubungan dengan penjarahan ini, perlu diutarakan bahwa berdasarkan
hukum Islam tentang penjarahan, semua barang jarahan yang dapat
dipindahkan harus dibawa dan dipindahkan dari tempat penjarahan.
Berdasarkan hukum Islam, tidak merampas kekayaan kafir setelah
keberhasilan perampokan adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum.
Dalam aturan Ghanimah (penjarahan), Dictionary of Islam menulis, “Jika
Imam atau ketua tentara Muslim menaklukkan suatu negara dengan kekuatan
bersenjata, dia bebas untuk membiarkan tanah tetap dimiliki pemilik
aslinya, selama orang ini bayar upeti, atau dia (Imam/ketua tentara
Muslim) harus membagi-bagikannya diantara orang2 Muslim; tapi tentang
barang2 yang dapat dipindahkan, adalah termasuk pelanggaran hukum jika
dia(Imam/ketua tentara Muslim) membiarkan barang2 ini tetap dimiliki
kafir, jadi dia harus mengambilnya ke luar bersama tentara Muslim dan
membagi-bagikannya diantara para tentara Muslim.”[112]
110 Ibn Ishaq, pp.755- 756, Ibn Hisham’s note
111 Ibn Sa’d, vol.ii, p.150
Teror Dua Puluh Empat
Pembunuhan atas Sufyan ibn Khalid, ketua Banu Lihyan di Urana (serangan
pertama atas Banu Lihyan) oleh Abd Allah b. Unays—April, 625 M
Banu Lihyan adalah cabang dari suku kuat Hudhayl (bagian dari kaum
Quraish), yang menempati daerah sekitar Mekah. Ketika teror Jihadis
Muhammad menjadi tak tertahankan, mereka membujuk ketua suku mereka yang
bernama Khalid ibn Sufyan al-Hudhayli di Urana untuk melakukan perang
mencontoh dari kemenangan perang Uhud.
Empat hari setelah perampokan di Katan (yakni hari ke 6 Muharram),
Muhammad mengetahui bahwa Sufyan ibn Khalid (atau Khalid b. Sufyan)
sedang mengumpulkan orang2 di Nakhla untuk menyerangnya. Jadi dia
memanggil Abd Allah b. Unays untuk pergi ke Nakhla atau Urana untuk
membunuh ibn Khalid. Ketika Abd Allah b. Unays menanyakan seperti apa
sosok calon korbannya, Muhammad menjawab, “Kalau kau melihat dia, kau
akan takut dan terkejut dan kau akan ingat Setan.”[113] Abd Allah b.
Unays berkata ia tidak takut akan ibn Khalid, tapi untuk membunuhnya,
dia (Abd Allah) harus menggunakan tipu muslihat. Dia minta ijin Muhammad
untuk berbohong dan melakukan penipuan. Muhammad tanpa ragu
mengijinkannya berbuat itu.[114] Abd Allah b. Unays sembahyang pada
Allah sebelum pergi untuk membunuh musuhnya. Dia menghabiskan hampir 18
hari untuk mencari jalan untuk masuk ke dalam tentara baru yang direkrut
ibn Khalid. Lalu dia menemukan ibn Khalid di suatu tempat perhentian.
Ketika dia bertemu dengannya, dia menundukkan kepala tanda hormat pada
ibn Khalid. Lalu ibn Khalid menanyakan siapa dia, dan Abd Allah menjawab
bahwa dia adalah orang Arab yang ingin bergabung sebagai sukarelawan
dalam tentara ibn Khalid untuk bertempur melawan Muhammad. Sufyan ibn
Khalid percaya padanya dan menyediakan tempat bernaung baginya. Lalu
ketika sedang bercakap-cakap, Abd Allah b. Unays berjalan dekat ibn
Khalid, dan ketika kesempatan datang, dia menikamnya dengan pedangnya
dan membunuhnya. Setelah membunuh ibn Khalid, dia memenggal kepalanya
dan membawanya kepada Muhammad. Ketika itu Muhammad sedang berada di
mesjid. Abd Allah melemparkan kepala ibn Khalid ke dekat kaki Muhammad.
Ketika dia menceritakan detail upaya pembunuhan, Muhammad memujinya dan
memberinya hadiah sebuah tongkat sebagai tanda antara Muhammad dan Abd
Allah di hari akhir. Abd Allah mengikatkan tongkat itu pada pedangnya
dan tongkat itu terus bersamanya sampai ajalnya. Ketika dia mati,
tongkat itu pun dikubur bersama mayatnya.[115]
Pembunuhan ini berakibat diamnya Banu Lihyan untuk beberapa saat. Tapi
cabang lain Banu Liyhan ingin balas dendam atas kematian ketua mereka
Sufyan ibn Khalid.
112 Hughes, dictionary of Islam, p.459
113 Ibn Sa’d, vol.ii, p.60
114 Ibid
115 Ibn Ishaq, p.664-665
Teror Dua Puluh Lima
Pembunuhan di al-Rajii—May atau July, 625 M
Ini adalah bagian penting dalam awal sejarah Islam. Di bagian teror dan
pembunuhan ini kita bisa melihat sedikit tentang masyarakat Bedouin Arab
yang sangat gampang melakukan kekerasan. Mencurahkan darah adalah
kegiatan rutin dalam budaya barbar, tidak peduli siapa yang memulainya
atau siapa yang salah atau benar. Pada saat kau membaca bagian ini
tentang Islam yang ‘damai’, ingatlah kekerasan yang tak kunjung reda
yang terjadi di seluruh dunia, dilakukan oleh Jihadis Islam. Ada
beberapa versi dari kisah ini – sukar untuk menentukan dari perbedaan
kisahnya. Ini adalah versi yang kusarikan, terutama dari versi Tabari
dan Ibn Ishaq. Variasi ditandai dengan referensi yang sesuai.
Tak lama setelah perang Uhud, sekelompok orang dari Adal dan al-Qarah
datang menghadap Muhammad, memintanya untuk mengirim untuk mereka
beberapa guru untuk mengajar Islam kepada masyarakat mereka yang ingin
memeluk Islam. Muhammad dengan segera menyetujui hal ini, dan dengan
cepat mengirim 6 orang (atau 10 menurut Ibn Sa’d [116]) bersama mereka.
Tapi sebenarnya, kelompok orang ini dikirim oleh Banu Lihyan yang ingin
balas dendam atas pembunuhan ketua mereka, Sufyan ibn Khalid al-Hudhayli
(lihat Teror 24). Orang2 ini adalah agen2 bayaran dari Bany Lihyan.
Diantara 6 guru yang dipilih Muhammad adalah Asim b. Thabit, saudara
laki dari B. Amr b. Awf, Marthad b. Abi Marthad (atau Asim b. Thabit
menurut Ibn Sa’d [117]) ditunjuk sebagai ketua kelompok guru ini.
Ketika rombongan Muslim tiba di al-Raji, mereka bermalam di situ. Orang2
Adal dan Qarah yang adalah sekutu Hudhayl, pemilik sumber mata air,
tiba2 menyerang dengan pedang mereka kepada ke 6 guru Muslim untuk
merampok uang yang mereka miliki. Mereka berjanji untuk tidak membunuh,
tapi minta uang. Akan tetapi orang2 Muslim tidak percaya akan janji
mereka dan balik melawan. Semua Muslim kecuali Zayd b. al-Dathinnah,
Khubyab b. Adi dan Abd Allah b. Tariq dibunuh. Ketiga orang Muslim ini
menyerah dan dibawa sebagai tawanan untuk dijual di Mekah. Setelah
membunuh Asim b. Thabit, Hudhayl ingin menjual kepalanya kepada Sulafah
bt. Sad b. Shuhayd karena Sulafah telah bersumpah untuk minum dari batok
kepala Asim b. Thabit. Ini adalah tindakan balas dendam atas kematian
anak2 lakinya (Ingat? Kedua anak Sulafah yang bernama Musafi dan Julas
dibunuh Asim b. Thabit di Uhud) di Uhud. Mereka tidak dapa memotong
kepala Asim b. Thabit karena lebah2 penyengat melindunginya dan Allah
mengirim banjir yang lalu membawa tubuh Asim! Dikatakan bahwa Asim
bersumpah bahwa tiada satupun dari orang pagan yang layak menyentuh
tubuhnya atau tubuhnya tidak akan bersentuhan dengan tubuh orang pagan.
Ketika rombongan dan para tawanan perang tiba di al-Zahran, Abd Allah b.
Tariq mencoba melarikan diri, tapi para penawannya membunuhnya dengan
melempari batu sampai mati. Kedua tawanan lain dibawa ke Mekah dan
dijual sebagai budak. Hujayr b. Abi Ihab membeli Khubayb atas nama Uqbah
b. al-Harith, sehingga Uqbah dapat membunuh Khubyab sebagai balas dendam
atas pembunuhan ayahnya di Uhud. Safwan b. Umayyah membeli Zayd b.
al-Dathinah untuk dibunuh sebagai balas dendam atas pembunuhan ayahnya
yang bernama Umayyah b. Khalaf di Badr II.
116 Ibn Sa’d vol.ii, p.66
117 Ibid
Sejarawan Islam seperti Ibn Ishak menyatakan bahwa Khubyab adalah budak
yang dapat dipercaya karena dia tidak melukai anak laki yang masih kecil
milik keluarga al-Harith sewaktu anak itu bersamanya dan Khubyad sedang
memegang pisau untuk memotong rambutnya. Di kemudian hari, ibu anak itu
mengaku bahwa dia belum pernah bertemu dengan seorang tawanan yang
budinya seluhur Khubyab. Tentu saja kisah2 ini dilebih-lebihkan dan
terserah pada pembaca untuk menilai. Khubyab dipenjara sambil menunggu
waktu disalib dan tetap dipenjara sampai bulan2 suci berlalu, dan lalu
orang2 Quraish membunuhnya.[118] Pada waktu dia akan dibunuh di Ka’aba,
Khubyab mohon diijinkan sembahyang. Dia diijinkan sembahyang dan ini
jadi tradisi bagi kaum Muslim untuk sembahyang dulu sebelum mereka
dihukum mati. Setelah selesai sembahyang, Abu Sirwaah b. al-Harith b.
Amir membawa Khubyab ke luar dan memancungnya. Tawanan lain Zayd b.
al-Dathinah diberikan pada pelayan Safwan yang bernama Nastas untuk
dibunuh. Sebelum pembunuhan Zayd b. al-Dathinah, Abu Sufyan ingin
menyelamatkan nyawanya untuk ditukar dengan nyawa Muhammad. Tapi kasih
Zayd terhadap Muhammad demikian besar sehingga dia tidak mau Muhammad
disakiti sedikit pun. Akhirnya Nastas membunuh Zayd b. al-Dathinah.
Muhammad dan masyarakat Muslim sangat sedih mendengar berita kematian ke
6 Jihadis. Hassan ibn Thabit, sang penulis puisi Muslim mengarang sebuah
puisi untuk mengingat mereka. Muhammad sadar bahwa hal ini dapat
menggoyahkan kewibawaan Muslim andaikata terulang lagi. Untuk melawan
rasa takut itu, Allah dengan cepatnya mengirim jaminanNya di ayat
Q 2:204.
Ketika berita penculikan dan penjualan kedua budak Muslim itu terdengar
Muhammad, dia dengan segera mengirim Abu Kurayb ke Quraish untuk
mengintai. Dikisahkan bahwa dia melepaskan ikatan pada mayat Khubyab
yang tergantung di kayu salib. Dikisahkan pula bahwa tubuh Khubyab jatuh
ke tanah dan hilang untuk selamanya.
Teror Dua Puluh Satu
Usaha Pembunuhan atas Abu Sufyan b. Harb oleh ‘Amr b. Umayyah
al-Damri—July, 625M
Setelah pembunuhan atas Khubyab (setelah pembunuhan di al-Rajii) dan
kawan2nya, Muhammad memerintah seorang pembunuh bayaran yang bernama Amr
b. Umayyah al-Damri [119] bersama dengan seorang Ansar untuk membunuh
Abu Sufyan b. Harb. Dikisahkan pula bahwa pada waktu yang bersamaan Abu
Sufyan juga mengirim seorang pembunuh untuk menghabisi Muhammad. Orang2
Muslim menangkap pembunuh ini dan dia minta diampuni. Muhammad
mengampuninya dan dia pun lalu memeluk Islam.[120] Tapi Muhammad mau
membalas dendam kepada Abu Sufyan. Dia mengirim dua orang pembunuh yang
dipimpin oleh pembunuh sewaan Amr b. Umayyah untuk membunuh Abu Sufyan
secara diam2 ketika dia sedang istirahat atau tidur. Dua Jihadis
pembunuh ini lalu pergi naik unta. Menurut Tabari, orang Ansar yang ikut
serta menderita sakit kaki. Mereka melanjutkan perjalanan naik unta
sampai di lembah Yajaj di mana mereka sepakat bahwa Amr harus pergi ke
rumah Abu Sufyan untuk membunuhnya. Jika ketahuan atau ada bahaya, maka
orang Ansar itu harus segera kembali ke Muhammad untuk melaporkan dan
mendapat perintah selanjutnya. Usaha Amr untuk membunuh Abu Sufyan gagal
dan dia kembali kepada kawannya orang Ansar.
118 Ibn Ishak, p.761
119 Tabari vol. vii, p.148
120 Ibn Sa’d, vol ii, p.116
Mereka masuk Ka’aba dan melakukan ibadah haji. Ketika ke luar, seorang
(yang menurut Ibn Sa’d bernama Muawiyah) mengenal Amr b. Umaya dan
berteriak keras karena Amr adalah orang yang sangat ganas dan liar.
Orang2 di sekitar Ka’aba mulai mengepung Amr. Amr dan kawannya orang
Ansar lari ke gunung lalu masuk suatu gua sehingga berhasil menghindari
orang2 Mekah dan mereka bermalam di gua itu. Ketika mereka berada di
gua, seorang Quraish pergi ke sana untuk memotong rumput bagi
keledainya. Dia pergi dekat dengan letak gua di mana Amr berlindung. Amr
ke luar dari gua dan membunuhnya tanpa alasan apapun. Jeritan orang
Quraish ini menarik perhatian orang2 Mekah yang sedang mencari Amr.
Ketika orang2 Mekah datang untuk menolong, orang Quraish yang terluka
parah ini mengatakan bahwa Amr menusuknya lalu dia pun mati. Orang2
Mekah begitu sibuk menolong orang Quraish itu sehingga mereka tidak
sempat mencari Amr. Setelah dua hari berdiam di gua itu, Amr dan
kawannya ke luar, dan ketika mereka mencapai al-Tanim, mereka menemukan
salib Khubyab. Seorang menjaga salib itu. Amr menasehati orang Ansar
temannya yang ketakutan untuk naik unta dan kembali ke Muhammad dan
melaporkan apa yang terjadi. Amr sendiri lalu mendekati salib dan
melepas ikatan tali di mayat Khubyab dan memanggul mayat itu. Tapi tak
lama kemudian orang2 Mekah mengetahuinya sehingga Amr cepat2 membuang
mayat Khubyab dan melarikan diri ke arah al-Safra dan berhasil
menghindar orang2 Mekah. Kawannya orang Ansar berhasil kembali ke
Muhammad dan melaporkan apa yang terjadi.
Amr melanjutkan jalan kaki sampai tiba di sebuah gua lain dan berlindung
di situ dengan membawa panah dan busurnya. Seorang gembala yang bermata
satu dari Banu al-Dil datang untuk bernaung di gua itu pula. Amr
berbohong padanya dengan mengatakan dirinya berasal dari Banu Bakr
(teman suku Quraish). Orang bermata satu itu juga mengaku berasal dari
Banu Bakr. Lalu dia berbaring di samping Amr dan menyanyikan lagu yang
menyatakan dia tidak akan pernah mau jadi Muslim seumur hidupnya.
Nyanyian ini membuat Amr marah dan ingin menghabisi orang mata satu itu.
Segera setelah orang itu tidur, Amr bangun dan membunuh orang itu dengan
menusukkan anak panahnya ke mata orang itu yang masih bagus, menembus ke
dalam sampai ke luar dari lehernya. Setelah membunuh gembala Bedouin
itu, Amr lari ke lua gua dan menuju ke dusun yang tak jauh dari situ,
lalu ke Rakubah dan akhirnya ke al-Naqi. Ketika di sana, dia melihat dua
mata2 Mekah yang dikirim untuk mengawasi Muhammad. Amr meminta mereka
menyerah. Satu orang tidak mau dan Amr membunuhnya dengan panahnya. Yang
satu lagi menyerah dan Amr mengikatnya dan membawanya pada Muhammad.
Ketika Amr tiba menghadap Muhammad dengan tawanan seorang Mekah,
Muhammad memberkati Amr karena melaksanakan tugas dengan baik.
Teror Dua Puluh Tujuh
Pembunuhan di Bir Maunah—July, 625M
Bagian ini merupakan kisah tragis orang2 Muslim. Ini melibatkan
pembantaian 40 (menurut Ibn Ishaq) atau 70 misionaris Muslim yang
dibunuh oleh kafir. Meskipun begitu, jika kita melihat penghancuran dan
teror yang dilakukan Muhammad terhadap mereka yang tidak percaya
padanya, sudahlah jelas bahwa Muhammad memang membangkitkan keinginan
korban2nya untuk membalas dendam padanya. Bagaimana pun juga tidak ada
orang yang tahan dan bisa terus menahan diri atas kegiatan perampokan,
teror, penyiksaan, pembunuhan politik, penyerangan, dll yang dilakukan
tanpa henti oleh Muhammad. Sudah saatnya bagi para kafir untuk membalas
dendam dan memberi pelajaran yang layak bagi Muhammad.
Sewaktu aku memeriksa beberapa sumber2 Islam tentang detail kisah ini,
aku menemukan banyak kisah yang bertentangan dan tidak jelas. Tulisanku
ini adalah hasil kesimpulanku yang terbaik tentang kejadian penting awal
sejarah Islam.
Empat bulan setelah perang Uhud, dan kembalinya pembunuh bayaran Amr b.
Umayyah, ketua rombongan Banu Amir b Sasaah yang bernama Abu Bara yang
telah lanjut usia datang menghadap Muhammad dan memberinya hadiah. Abu
Bara menginap di Medinah. Muhammad tidak bersedia menerima hadiah sebab
pemberinya adalah orang pagan dan meminta Abu Bara untuk memeluk Islam.
Abu Bara menolak meskipun dia menyadari beberapa hal yang baik dalam
Islam. Dia meminta Muhammad untuk mengirim beberapa Muslim kepada orang2
Najd agar mereka memeluk Islam. Awalnya, Muhammad sangat ragu akan
permintaan ini karena takut hal buruk akan menimpa orang2 Muslim
(misionaris Islam) yang dikirim ke sana. Karena melihat keraguan
Muhammad, Abu Bara menjamin keselamatan misionaris Islam. Setelah
mendengar itu, Muhammad mengirim 40 pengkhotbah Islam (yang lain bilang
70), dan menunjuk al-Mundhir b. Amr sebagai ketua tim misionaris ini.
Dikisahkan bahwa mereka adalah Muslim2 terbaik dalam kelompok Muhammad.
Para ahli Qur’an ini naik kuda sampai mereka mencapai sumur Bir Maunah.
Bir Maunah terletak dekat perbatasan B. Amir dan B. Sulaym. Di Bir
Maunah, orang2 Muslim mengirim utusan yang membawa sebuah surat dari
Muhammad untuk Amir b. Tufayl, yakni saudara sepupu Abu Bara dan
pemimpin B. Amir. Ketika utusan itu bertemu dengan Amir b. Tufayl, Amir
segera membunuh utusan itu tanpa membuka surat dari Muhammad. Amir b.
Tufayl lalu meminta suku B. Amir untuk menolongnya memerangi orang2
Muslim. Mereka menolak memenuhi permintaan Amir b. Tufayl karena tidak
mau mengkhianati janji keselamatan yang telah mereka berikan untuk Abu
Bara bagi orang2 Muslim. Jadi Amir b. Tufayl minta tolong pada B. Sulaym
untuk melawan orang2 Muslim. Permintaan dipenuhi dan mereka lalu
bersama-sama menyerang orang2 Muslim. Pihak Muslim melawan kembali tapi
akhirnya semuanya mati kecuali Ka’b b. Zayd. Dia dalam keadaan sekarat
sewaktu musuh meninggalkannya. Tapi dia tidak mati dan akhirnya bisa
kembali ke Medina.
Sahih Bukhari mengisahkan kejadian ini.
Hadith Sahih Bukhari Volume 2,
Book 16, Number 116:
Dikisahkan oleh 'Asim:
Aku bertanya pada Anas bin Malik tentang Qunut. Anas menjawab, “Itu
pasti dilafalkan.” Aku bertanya, “Setelah atau sebelum menyembah?” Anas
menjawab, “Sebelum menyembah.” Aku berkata lagi, “Orang ini dan itu
memberitahuku bahwa kau memberitahu mereka setelah menyembah.” Anas
menjawab, “Dia bohong (atau salah mengerti, menurut dialek Hijazi).
Rasul Allah melafalkan Qunut setelah menyembah dalam suatu periode dalam
sebulan.” Annas menambahkan, “Sang Rasul mengirim 70 orang (yang tahu
dan hafal tentang Qur’an) kepada kaum pagan (di Najd) yang jumlahnya
lebih sedikit daripada mereka dan ada perjanjian damai diantara mereka
dan Rasul Allah (tapi orang pagan melanggar perjanjian itu dan membunuh
ke 70 orang Muslim). Lalu Rasul Allah melafalkan Qunut selama suatu
periode dalam satu bulan meminta Allah untuk menghukum mereka.”
Ketika berita pembantaian itu didengar Muhammad, dia sangat sedih dan
mengirim Amr. b. Umayyah (Ingat? Sang pembunuh bayaran) dan seorang
Ansar untuk menyelidiki seluruh kejadian itu. Mereka mendekati tempat
pembunuhan dan menemukan mayat2 para Muslim dari melihat burung2 bangkai
yang terbang di atasnya. Mereka menyaksikan mayat2 itu terbaring dalam
genangan darah dan para pembunuhnya berdiri tak jauh dari situ. Dengan
marahnya kedua orang itu menyerang orang pagan. Tapi orang2 pagan dengan
cepat sekali membunuh orang Ansar dan menangkap Amr b. Umayyah sebagai
tawanan. Tapi tak lama kemudian dia dibebaskan oleh Amir b. Tufayl
karena mereka saudara dekat. Sebelum membebaskan Amr, Amir memotong
rambut bagian depannya.
Setelah dibebaskan, Amr b. Umayyah kembali ke Medina. Di tengah jalan,
dia berhenti di Qarkarat yakni tempat sebuah oasis. Di sini dia bertemu
dengan dua orang dari B. Amir yang berhenti di dekat Amr b. Umayyah.
Suku B. Amir punya perjanjian perlindungan dengan Muhammad, tapi Amr b.
Umayyah tidak tahu akan hal ini. Ketika kedua orang dari B. Amir ini
tertidur, Amr menyerang dengan cepat dan membunuh kedua orang ini dengan
berpikir bahwa dia sudah membalas dendam. Ketika Muhammad tahu apa yang
telah Amr perbuat, dia berkata pada Amr bahwa dirinya (Muhammad) harus
membayar uang darah. Muhammad menyalahkan semua peristiwa pembunuhan
pada Abu Bara. Ketika Abu Bara mendengar hal ini, dia sangat menyesal
akan pengkhianatan Amir b. Tufayl.
Orang mungkin akan bertanya mengapa hanya Muhammad yang harus bayar uang
darah untuk pembunuhan kedua orang B. Amir tapi dia (Muhammad) sendiri
tidak menerima uang darah atas pembunuhan misionaris Muslim? Tabari
menjelaskan aturan uang darah yang membingungkan ini dalam catatan
kaki.[121] Dia menulis:
“Muhammad harus membayar uang darah atas pembunuhan kedua orang dari
suku B. Amir karena kedekatan hubungannya dengan suku B. Amir. Dia tidak
bisa menuntut uang darah bagi para Muslim yang tampaknya dibunuh oleh
orang2 B. Sulaym bahkan meskipun jika Amir b. Tufayl meminta B. Sulaym
untuk melakukannya.”
Untung mengenang pembantaian para misionari Muslim, Hassan b. Thabit
(penulis puisi pribadi Muhammad) menyusun sebuah puisi tentang nasib
naas mereka dan membujuk anak2 laki Abu Bara untuk melawan Amir b.
al-Tufayl. Ketika anak laki Abu Bara yang bernama Rabiah mendengar puisi
Hassan b. Thabit, dia menyerang Amir b. Tufayl tapi gagal membunuhnya.
Amir lalu menyalahkan Abu Bara dan bersumpah untuk balas dendam dengan
membunuh sendiri atau dengan orang lain.
Muhammad tentu saja sedih sekali dengan terjadinya pembunuhan di Bir
Maunah. Para pengikutnya patah semangat ketika mengetahui kejadian ini.
Untuk membangkitkan moral mereka, Allah dengan cepat mengirim ayat2
Q 3:169-173, di mana Dia
mengumumkan bahwa para Jihadis tidak mati, dan tetap hidup bersamaNya di
surga. Dikatakan bahwa Allah mengeluarkan ayat satu lagi yang mengatakan
para Jihadis memberitahu orang2 bahwa mereka telah bertemu Allah, tapi
ayat ini kemudian dibatalkan.[122] Mubarakpuri [123] mendapat penjelasan
dari para ahli Islam yang mengutip ayat yang dibatalkan itu berbunyi
seperti ini: “Beritahu orang2 kami bahwa kami telah bertemu Tuhan. Dia
sangat senang akan kami dan Dia telah membuat kami bahagia.” Tidak
diketahui mengapa Allah tiba2 berubah pikiran dan membatalkan ayat ini.
Pembatalan ayat ini tidak dikisahkan dalam Qur’an.
121 Tabari, vol. vii, p.153, footnote 219
122 Tabari, vol. vii, p.156
123 Mubarakpuri, p.354
Muhammad sekarang mulai cari dukungan untuk mengumpulkan uang darah bagi
para Muslim dan sekutu2nya orang Yahudi. Karena orang2 Yahudi jauh lebih
kaya daripada orang2 Muslim, Muhammad mengatur rencana cerdik untuk
meminta uang darah dari kaum Yahudi B. Nadr, yang hidup di tempat mereka
yang tak jauh dari tempat orang2 Muslim. Muhammad telah mengambil
keputusan untuk mengenyahkan orang2 Yahudi dan merampas tanah dan harta
benda mereka, dan tidak hanya untuk membayar uang darah, tapi juga untuk
memperkaya para Jihadisnya yang sedang merosot moralnya karena tragedi
di Bir Maunah. Muhammad harus cepat2 berbuat sesuatu untuk membangkitkan
semangat mereka dan menyelematkan mukanya sendiri di hadapan para
pengikutnya yang fanatik. Pengalamannya dengan B. Qaynuqa (baca Teror
14) membuatnya sadar betapa mudahnya untuk menteror seluruh masyarakat
kafir, mencuri tanah dan harta mereka tanpa ada hukuman apapun bagi
dirinya dan tanpa sedikitpun rasa sesal. Muhammad sekarang siap
menggunakan teror lagi untuk mencapai tujuannya.
Bagian Delapan
‘Iman
seseorang adalah khayalan belaka bagi orang lain’---Dr. Anthony
Storr (1920-2001)
Teror Dua Puluh Delapan
Pembersihan Etnis Yahudi Banu Nadir dari Medina oleh Muhammad — July,
625 M
Kaum Yahudi B. Nadir tinggal di tanah subur tak jauh dari Medina. Mereka
adalah kaum Yahudi yang makmur, menguasai tanah pertanian yang luas dan
menanam perkebunan kurma di tanah itu. Mereka merupakan sekutu suku B.
Amir. Seperti yang telah disebut di Bagian 7, Muhammad hendak bertemu
dengan Yahudi B. Amir untuk minta ganti uang darah dari mereka atas
pembunuhan 2 orang B. Amir yang dibunuh karena salah sangka oleh
pembunuh bayaran Amr b. Umayya al-Damri.
Jadi Muhammad dan beberapa pengikutnya, termasuk Abu Bakr, Ali dan Umar
mengunjungi daerah tempat tinggal B. Nadir, yang letaknya 2 sampai 3 mil
dari Medina dan meminta ketua B. Nadir untuk membayar ganti uang darah
yang telah Muhammad bayar kepada B. Amir. Para Yahudi B. Nadir menerima
Muhammad dengan hormat dan memintanya duduk. Mereka mendengarkan dengan
seksama atas permintaannya dan setuju untuk memenuhi permintaan
Muhammad. Mendengar bahwa B. Nadir dengan cepat menyatakan setuju untuk
membayar, Muhammad merasa sangat tidak senang. Sebenarnya dia berharap
agar kaum Yahudi B. Nadir menolak permintaannya, sehingga dia punya
alasan bagus untuk menyerang mereka dan merampas tanah dan harta
bendanya.[124] Setelah setuju dengan permintaan Muhammad untuk mengganti
uang darah, orang2 Yahudi B. Nadir pergi ke ruang lain untuk berdiskusi
diantara mereka sendiri. Hal ini membuat Muhammad merasa takut. Waktu
itu dia sedang duduk di dekat tembok rumah, dan dia mengira orang2
Yahudi B. Nadir sedang merencanakan untuk membunuhnya. Dia menuduh
orang2 Yahudi ingin membunuhnya dengan menjatuhkan batu dari atas rumah.
Seperti biasanya, dia berpura-pura malaikat Jibril memberitahu dia akan
hal itu.[125] Maka dia tiba2 berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu,
seperti ingin cepat2 buang air [126] dan meminta yang lain, termasuk Abu
Bakr, Umar dan Ali tidak meninggalkan tempat itu sampai dia kembali.
Ketika kawan2nya menunggu lama dan Muhammad tetap juga tidak kembali,
mereka pergi mencari dia. Dalam perjalanan ke Medina mereka bertemu
dengan orang yang mengatakan bahwa dia melihat Muhammad menuju Medina.
Ketika mereka bertemu Muhammad di Medina, dia mengatakan pada mereka
tentang persepsinya bahwa B. Nadir merencanakan untuk membunuhnya dan
memerintah orang2 Muslim bersiap untuk menyerang B. Nadir.
Dengan keinginan jelas untuk melakukan perang dan merampas harta benda
Yahudi dalam pikirannya, Muhammad memerintah salah satu pembunuh
bayarannya yakni Muhammad ibn Maslamah (Ingat? Orang inilah yang
membunuh Ka’b b. Ashraf, lihat Teror 17, Bagian Lima) untuk pergi
menghadap orang2 Yahudi B. Nadir untuk mengumumkan pada mereka perintah
untuk meninggalkan Medina. Dia memberikan waktu 10 hari bagi orang2
Yahudi untuk meninggalkan Medina dan jika mereka melampaui batas waktu,
mereka akan dibunuh – begitulah ancaman dari Muhammad. Orang2 Yahudi B.
Nadir kaget ketika mendengar perubahan hati Muhammad yang tiba2 itu.
Mereka sukar percaya akan hal ini bisa dilakukan oleh Muhammad yang
ngaku2 sebagai utusan Tuhan. Mereka lebih kaget lagi ketika mendengar
ancaman itu dikatakan oleh Muhammad ibn Maslamah yang tidak punya
permusuhan apapun dengan orang2 Yahudi. Ketika para Yahudi B. Nadir
mengatakan keheranan mereka atas sikap Muhammad ibn Maslamah, dia
berkata, “Hati telah berubah, dan Islam sudah menghapuskan perjanjian
damai yang ada.”[127]
124 Heykal, Ch. B. Nadir
125 Mubarakpuri, p.355
126 Rodinson, p.192
Ketika Abd Allah ibn Ubayy mengetahui keadaan genting yang dihadapi kaum
Yahudi B. Nadir, dia mengirim pesan kepada mereka bahwa dia sendiri akan
datang dengan bantuan 2.000 tentara Yahudi dan Arab. Tapi kaum Yahudi B.
Nadir ingat bahwa orang yang sama ini pula yang menjanjikan bantuan pada
kaum Yahudi B. Qaynuqa tapi akhirnya janjinya tidak ditepatinya sendiri.
Maka pada awalnya kaum Yahudi B. Nadir mengambil keputusan untuk
mengungsi ke Khaybar atau daerah sekitaranya. Mereka mengira mereka
masih bisa datang ke Yathrib (Medina) untuk menuai hasil perkebunan
mereka dan kembali ke pengungsian mereka di Khaybar. Huyayy ibn Akhtab,
ketua B. Nadir, akhirnya mengambil keputusan untuk tidak mengambil
keputusan itu. Dia mengirim pesan kepada Muhammad bahwa kaum Yahudi
menolak perintahnya dan masuk ke dalam benteng mereka dan mengumpulkan
bahan makanan sampai cukup untuk waktu setahun dan bersiap-siap untuk
mempertahankan diri mereka sendiri. Jadi tidak ada seorang pun Yahudi
yang meninggalkan Medina sampai batas waktu 10 hari lewat. Muhammad
sekarang punya alasan kuat untuk menyerang kaum Yahudi.
Begitu Muhammad ibn Maslamah kembali ke Medina dengan berita dari orang
Yahudi, Muhammad di mesjidnya segera memerintahkan para Jihadisnya yang
fanatik untuk mempersenjatai diri dan bergerak untuk mengepung benteng
kaum Yahudi B. Nadir. Tentara Muslim yang dipimpin Muhammad mulai
berbaris menuju B. Nadir yang sudah berlindung dalam benteng mereka yang
kokoh. Pada awalnya, kaum Yahudi menyerang para pengepung Muslim dengan
panah dan batu dan bertahan dengan gagah. Meskipun sudah diduga
sebelumnya, mereka tetap merasa sangat kecewa ketika bantuan yang
dijanjikan Abd Allah ibn Ubayy, atau dari sumber2 yang tadinya dapat
dipercaya. Pengepungan berlangsung dari 15 sampai 20 hari, dan Muhammad
jadi semakin tak sabar. Akhirnya, agar musuh cepat menyerah,
Muhammad melanggar aturan perang Arab
dengan memotong pohon2 kurma di sekeliling daerah itu dan membakarnya.
Ketika kaum Yahudi protes atas pelanggaran aturan perang itu, Muhammad
memohon wahyu spesial dari Allah (Q 59:4)
yang dengan segera dikirim turun, yang memperbolehkan penghancuran
pohon2 kurma milik musuh. Di ayat ini
Allah dengan murah hatinya memberi ijin pada kaum Muslim untuk membabat
habis pohon2 kurma: katanya ini bukan penghancuran tapi pembalasan dari
Allah dan untuk merendahkan para pelaku kejahatan.[128] Dengan
ini pula diperbolehkan untuk membabat ladang pertanian dan membakarnya
dalam perang. Penyair Muslim (atau penulis berita perang pada jaman itu)
yang bernama Hassan b. Thabit ternyata menikmati penghancuran ladang
kehidupan kaum Yahudi B. Nadir dan mengarang syair tentang tindakan
biadab para Jihadis. Ini Hadis Sahih Bukhari yang menunjukkan suasana
hati Hassan:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 3,
Buku 39, Nomer 519:
Dikisahkan oleh Abdullah:
Sang Nabi memerintahkan pembakaran pohon2 palem suku Bani-An-Nadir dan
menebangnya di tempat yang bernama Al-Buwaira. Hassan bin Thabit
menuliskan dalam sebuah syair puitis: “Para ketua Bani Lu'ai dengan
leluasa melihat api menyebar di Al-Buwaira.” 127 Tabari, vol.
vii, p.158-159
128 Ibn Ishaq, p.438
Setelah Muhammad menghancurkan sumber hidup satu2nya milik mereka, B.
Nadir merasa tak berdaya dan tidak punya pilihan lain selain menyerah
dan meninggalkan tanahnya. Sebagai gantinya, mereka meminta Muhammad
agar tidak membunuh mereka. Muhammad menyetujui permintaan mereka dengan
syarat mereka hanya diperbolehkan membawa harta benda yang bisa diangkut
oleh unta2 mereka. Muhammad juga menuntut kaum Yahudi menyerahkan
senjata2 mereka. Kaum Yahudi menuruti persyaratan yang merendahkan ini
dan mereka memuati 600 unta mereka dengan harta benda mereka dan lalu
pergi dari tanah tempat tinggal mereka. Sebagian dari mereka, termasuk
para pemimpin mereka yang bernama Huyey, Sallam dan Kinana pergi ke
Khaybar. Sebagian lagi pergi ke Yerikho dan dataran tinggi Syria
Selatan. Hanya dua orang dari mereka memeluk Islam dan kedua orang ini
memperoleh kembali tanah dan semua harta bendanya.
[Catatan: Hukum Sharian
(Hukum Islam) tentang penghancuran barang2 milik musuh mengatakan
sebagai berikut: Dalam Jihad diijinkan untuk memotong pohon2 musuh dan
menghancurkan rumah2 mereka.[129] ]
Segera setelah pengusiran kaum Yahudi B. Nadir selesai dilaksanakan,
Muhammad mengambil alih pemilikan atas kekayaan mereka dan menjadikannya
barang miliknya pribadi yang dapat diperlakukan sekehendaknya. Dia
menyatakan bahwa barang jarahan dari B. Nadir adalah milik Allah dan
dia[130], tanpa menerapkan hukum pembagian barang jarahan yang biasa
sebab barang2 jarahan ini didapatkan tanpa pertempuran. Dia membagi-bagi
tanah sesuai dengan pertimbangannya, dan memilih daerah yang terbaik
bagi dirinya sendiri. Kemudian sisa tanah yang lain dibagi-bagikan
kepada kaum Muhajir (yang hijrah dari Mekah ke Medinah) dan dua orang
warga Medinah (Ansar). Dengan begini, kaum Muhajir jadi bisa berdikari
dan makmur. Muhammad, Abu Bakr, Umar, Zubayr dan sahabat2 Muhammad
mendapat banyak lahan yang sangat bagus. Barang jarahan lain terdiri
dari 50 baju perang, 50 perlengkapan perang dan 350 pedang. Karena itu
pengusiran kaum Yahudi B. Nadir merupakan sukses pendapatan material
yang besar bagi Muhammad. Seluruh Sura 59:al- Hashr berhubungan dengan
permasalahan dengan B. Nadir, di mana Allah berkata bahwa kaum Yahudi B.
Nadir tunduk karena dimasukkannya teror dalam hati mereka. Teror sebagai
hukuman dari Allah menjadi senjata andalah yang sah bagi Muhammad.
Hussain Haykal menulis tentang keberhasilan teror dan penjarahan ini
sebagai hadiah terbesar bagi kaum Muslim. Barang jarahan tidak
dibagi-bagikan diantara seluruh Muslim tapi dianggap sebagai barang yang
dipercayakan kepada kaum Muhajir setelah mengambil sebagian untuk
membantu Muslim yang miskin dan kekurangan. Dengan begitu keadaan
ekonomi kaum Muhajirun jadi jauh membaik untuk pertama kalinya. Sekarang
kaum Muhajirun mempunyai kekayaan yang sama dengan kekayaan warga
Medina.[131]
Hussain Haykal menulis akan hal ini:
Setelah pengusiran kaum Yahudi B. Nadir,
Muhammad membagi-bagikan tanah mereka kepada kaum Muhajir dan dengan ini
mereka merasa sangat puas dengan tanah mereka yang baru. Kaum Ansar pun
sama puasnya karena mereka tidak lagi harus menyokong dana bagi kaum
Muhajir.[132]
Dengan hasil penjarahan ini Muhammad menjadi orang yang amat kaya raya
di Medina dan kaum Muhajir sekarang punya tempat tinggal permanen bagi
hidup mereka.
129 Reliance of the Traveler, law o9.15, p.604
130 Ibn Ishaq, p.438
131 Heykal, Ch. B. Nadir
132 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud
Sampai saat keluarnya kaum Yahudi B. Nadir dari Medina, sekretaris
Muhammad adalah orang Yahudi. Muhammad memilih dia karena ketrampilannya
dalam menulis surat dalam bahasa Ibrani, Syria dan Arab. Setelah
pengusiran B. Nadir, Muhammad tidak percaya lagi terhadap non-Muslim
untuk menulis suratnya. Karena itu dia meminta Zayd ibn Thabit, seorang
Medina muda, untuk belajar dua bahasa dan menunjuknya sebagai sekretaris
untuk semua hal. Zayd ibn Thabit inilah yang nantinya mengumpulkan ayat2
dan dijadikan satu buku Qur’an pada jaman kalifah Abu Bakr dan Uthman.
Muhammad juga mengaku bahwa kekayaan B. Nadir adalah hadiah spesial dari
Allah untuknya. Dia menjual jarahan barang2 B. Nadir untuk membeli
peralatan perang, kuda2, menafkahi istri2nya dan menggunakan barang2
milik B. Nadir untuk kebutuhan istri2nya. Ini Hadis Sahih Bukhari
tentang hal tsb.:
Hadis Sahih Bukahri, Volume 6,
Book 60, Number 407:
Dikisahkan oleh Umar:
Harta benda milik Bani An-Nadir merupakan
sebagian barang jarahan yang diberikan Allah pada RasulNya (karena)
barang2 jarahan seperti itu tidak didapat dari peperangan yang dilakukan
kaum Muslim, atau dengan pasukan berkuda, atau dengan pasukan berunta.
Jadi barang2 ini adalah milik Rasul Allah saja, dan dia menggunakannya
untuk memenuhi kebutuhan tahunan para istrinya, dan menggunakan sisa
dana untuk membeli persenjataan dan kuda sebagai peralatan perang yang
digunakan untuk Tujuan Allah.
Ini Hadis Sunaan Abu Daud tentang hak tunggal Muhammad akan barang
jarahan milik B. Nadir, Fadak dan Khaybar:
Hadith from Sunaan Abu Dawud,
Book 19, Number 2961:
Dikisahkan oleh Umar ibn al-Khattab:
Malik ibn Aws al-Hadthan berkata: Salah satu pertentangan yang diajukan
Umar adalah bahwa dia berkata bahwa Rasul Allah menerima tiga hal bagi
dirinya sendiri: Banu an-Nadir, Khaybar dan Fadak. Kekayaan Banu
an-Nadir dimiliki semuanya bagi kebutuhannya yang semakin banyak, Fadak
bagi para pengelana, dan Khaybar dibagi oleh Rasul Allah dalam tiga
bagian: dua untuk kaum Muslim, dan satu sebagai sumbangan bagi
keluarganya. Jika ada yang sisa setelah disumbangkan bagi keluarganya,
dia membaginya diantara para Emigran (Muhajir) yang miskin.
Sekali lagi kita melihat bahwa terorisme memberi banyak kekayaan bagi
Muhammad dan pengikutnya para Jihadis yang fanatik.
Banyak ahli Islam yang seringkali mengatakan: “Tidak ada paksaan dalam
agama” (Q 2:256) untuk
menunjukkan kebebasan beragama dalam Islam. Akan tetapi mereka dengan
cerdiknya menghindari konteks penggunaan ayat ini. Ayat ini berhubungan
dengan anak dari orangtua Muslim yang dibesarkan oleh orang2 Yahudi B.
Nadir. Ini terjadi karena di jaman itu, orang2 Muslim yang kesulitan
punya anak biasa bersumpah bahwa jika Allah memberi mereka anak, maka
mereka akan menyerahkan anak2 mereka untuk dibesarkan oleh kaum Yahudi.
Ketika Muhammad melakukan pembersihan rasial kaum Yahudi B. Nadir,
orangtua2 Muslim dari anak2 ini bertanya padanya apa yang harus mereka
perbuat dengan anak2 mereka. Muhammad memperbolehkan anak2 ini untuk
tetap jadi Yahudi dengan berkata, “Tidak ada paksaan dalam agama.”
Karena itu pula, ayat 2:256 tidak ada hubungannya dengan kebebasan
beragama sama sekali. Ini Hadisnya:
Hadith Sunaan Abu Dawud, Book
14, Number 2676:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Ketika anak2 dari seorang wanita (jaman pre-Islam) tidak selamat
(meninggal dunia), dia bersumpah atas dirinya sendiri jika anak2nya
dapat terus hidup, dia mau menjadi Yahudi. Ketika Banu an-Nadir diusir
(dari Arabia), terdapat beberapa anak2 Ansar diantara mereka. Mereka
(para Ansar) berkata: Kami tidak mau meninggalkan anak2 kami. Jadi Allah
yang Maha Tinggi menyatakan, “Tidak ada paksaan dalam beragama.
Kebenaran tampak nyata (berbeda) dari kesalahan.”
Teror Dua Puluh Sembilan
Penyerangan terhadap B. Ghatafan di Dhat al-Riqa oleh Muhammad—October,
625M
Setelah pengasingan atas kaum Yahudi B. Nadir, Muhammad tinggal di
Medina selama dua bulan. Dia menerima berita bahwa beberapa suku B.
Ghatafan sedang berkumpul di Dhat al Riqa untuk tujuan yang
mencurigakan. Ghatafan adalah suku Arabia, keturunan dari Qais.[133].
Muhammad memimpin tentaranya menuju Nakhl untuk menyerang B. Muhamrib
dan B. Thalabah, cabang suku Ghatafan. Operasi militer ini disebut
sebagai Dhat al-Riqa’ (gunung tambal) karena gunung di mana peristiwa
ini terjadi punya warna bertambal hitam, putih dan merah di
permukaannya. Muhammad melakukan serangan mendadak pada mereka dengan
kekuatan 400 (atau 700) tentara. Kaum Ghatafan lari ke gunung2,
meninggalkan kaum wanita mereka di tempat tinggalnya. Tidak terjadi
pertempuran tapi Muhammad menyerang tempat tinggal mereka dan membawa
semua kaum wanita termasuk seorang gadis yang sangat cantik.[134] Ketika
waktu sembahyang tiba, kaum Muslim takut jika orang2 Ghatafan akan turun
gunung dan melakukan serangan mendadak ketika mereka sembahyang. Dalam
menangani rasa takut ini, Muhammad memperkenalkan ‘sembahyang dalam
waktu bahaya’. Diatur agar beberapa tentara menjaga tentara lain yang
melakukan sembahyang. Setelah selesai, yang tadi berjaga mengambil
giliran sembahyang. Jadi sembahyang umum dilakukan dua kali. Sebuah
wahyu datang dari Allah (Q 4:100-102)
tentang mempersingkat waktu sembahyang.
Ketika Muhammad sedang beristirahat di bawah naungan sebuah pohon di
Dhat al-Riqa, seorang pagan datang padanya dengan maksud untuk
membunuhnya. Orang itu memainkan pedang Muhammad dan mengarahkan pedang
itu padanya sambil bertanya apakah Muhammad merasa takut atau tidak.
Muhammad mengaku bahwa Allah akan melindunginya dan dia tidak takut sama
sekali. Orang pagan itu lalu menyarungkan pedang dan mengembalikannya
pada Muhammad. Atas kejadian ini, Allah mengeluarkan
Q 5:11, yang menyatakan
perlindunganNya atas Muhammad saat ada orang yang bermaksud mengambil
nyawanya. Setelah 15 hari kemudian, Muhammad kembali ke Medina. Tapi dia
merasa tidak tenang. Dia menduga orang2 B. Ghatafan akan menyerang
mendadak untuk mengambil kembali kaum wanita mereka.
133 Dictionary of Islam, p.139
134 Ibn Sa’d, p.74
Anehnya, Sirah (biografi Muhammad) tidak menulis sama sekali tentang apa
yang terjadi atas para tawanan wanita Ghatafan itu. Aku mencari
informasi akan hal ini dari berbagai sumber Islam yang terkemuka, tapi
mereka semua membisu bagaikan ikan. Jika aku harus mengikuti hukum2
Islam, maka aku sangat yakin bahwa kaum wanita ini akan dibagi-bagikan
kepada kaum Jihadis untuk dinikmati atau dijual sebagai budak2 untuk
mengumpulkan dana bagi perang sebagaimana hukum barang jarahan berlaku.
Teror Tiga Puluh
Penyerangan Badr III oleh Muhammad—January, 626M
Seperti yang telah disetujui di Uhud (lihat Teror 21, Bagian Enam),
tentara2 Mekah dan Medina berjanji untuk bertemu lagi di Badr dalam
waktu setahun. Waktu setahun ini dengan cepat datang. Tahun itu terjadi
kekeringan besar. Abu Sufyan b. Harb berpendapat tidaklah tepat untuk
mengadakan perang tahun itu karena adanya kelaparan dan karena itu dia
menunda pertemuan sampai tahun yang lebih baik. Dia mengirim seorang
wakilnya yang bernama Nuaym ke Medina untuk membesar-besarkan berita
persiapan orang Mekah. Abu Sufyan melakukan itu dengan maksud agar
orang2 Muslim enggan untuk berperang, apalagi jika mengingat kekalahan
di Uhud. Meskipun begitu, tentara Quraish tetap berangkat dari Mekah
dengan 2.000 tentara jalan kaki dan 50 tentara berkuda. Abu Sufyan
memimpin mereka dari Mekah sampai tiba di Usfan, tapi lalu mengambil
keputusan untuk kembali setelah berjalan selama 2 hari karena dia tidak
menemukan padang rumput yang bagus. Tahun itu memang terjadi kemarau
hebat. Tentara Mekah hanya makan tepung dan air saja. Karena itu
kejadian ini juga dikenal dengan nama operasi Sawick (bubur gandum).
Kabar dari Nuaym membuat kaum Muslim di Medina khawatir. Banyak dari
mereka yang tidak ingin bertemu lawan tangguh itu lagi. Tapi Muhammad
mengambil keputusan untuk pergi perang. Dia mengumpulkan 1.500 tentara
dan bersiap berangkat ke Badr. Ini adalah untuk ketiga kalinya kedua
tentara sedianya bertemu di Badr. Tentara Muslim akhirnya tiba di Badr
dan berkemah di sana selama 8 hari. Mereka membawa banyak barang2 karena
tadinya mengira ada perayaan di sana. Tetapi setelah ditunggu, ternyata
tentara Quraish tidak muncul. Muhammad menunggu kedatangan Abu Sufyan b.
Harb. Ketika yang ditunggu tidak kunjung muncul, dia bertemu dengan
Makashi b. Amr al-Damri dan menyatakan keinginannya untuk membatalkan
perjanjian damai diantara mereka berdua, jika B. Damri memang
menginginkan juga. Sebenarnya Muhammad ingin berperang dengan suku B.
Damri karena dia pikir dia cukup kuat untuk meneror suku kecil ini. Tapi
masyarakat B. Damri ingin tetap mempertahankan perjanjian damai
dengannya.
Tentara Muslim menukarkan barang2 mereka dan dapat banyak untung,
setelah itu mereka kembali ke Medina. Muhammad puas sekali dengan
kegiatan ini dan dia menganggapnya sebagai tanda dari Allah. Dia
menerima wahyu Q 3:172-175
tentang Setan yang memasukkan rasa takut dalam pikiran Muhammad.
Ketika kaum Quraish mendengar bahwa Muhammad merasa gembira, mereka jadi
khawatir bahwa dia akan terus meneror mereka. Mereka lalu mulai
merencanakan serangan besar melawan Muhammad. Dibutuhkan waktu setahun
untuk merencanakan dan melaksanakan serangan itu. Dalam masa setahun
itu, Muhammad disibukkan banyak hal.
Teror Tiga Puluh Satu
Serangan Pertama atas Dumat al-Jandal oleh Muhammad—July, 626M
Di musim panas tahun 626 M, Muhammad mengaku menerima laporang mata2
yang mengatakan bahwa suku Ghatafan sekali lagi telah mengumpulkan para
tentara mereka di Dumat al-Jandal untuk menyerangnya. Dumat al-Jandal
adalah tempat oasis (sumber mata air) di perbatasan antara Hijaz dan
al-Sham, pertengahan antara Laut Merah dan Selat Persia di perbatasan
Syria. Kemarau hebat menyebabkan daerah ini mengalami kelaparan. Tanpa
menghabiskan banyak waktu, Muhammad tiba2 menyerang suku Ghatafan dan
menangkap ternak2 mereka yang sedang merumput di daerah itu. Dia
memimpin operasi penjarahan ini dengan 1.000 tentara dan bergerak sampai
mencapai perbatasan Syria. Tidak ada pertempuran yang terjadi karena B.
Ghatafan melarikan diri tanpa melawan sama sekali. Tentara Muslim
kembali ke Medina dengan hewan2 jarahan. Usaha penjarahan ini
membangkitkan nafsu menjarah yang besar dalam hati orang2 Muhammad.
Dalam perjalanan pulang, Muhammad membuat perjanjian damai dengan Uyanah
b. Hisn, ketua suku B. Fazarah, yang merupakan bagian suku yang kuat
dari suku Ghatafan, sehingga Uyanah b. Hisn b. Hudhayfah dapat membawa
ternaknya merumput di daerah sekitar yang bernama Taghlaman, yang
dikuasai oleh Muhammad karena daerah Uyanah sendiri gersang. Tanah
Taghlaman berumput subur karena hujan di sana.
Bagian Sembilan
Teror Tiga Puluh Dua
Pertempuran Parit Dipimpin oleh Muhammad—February, 627M
‘Diantara
segala kesalahan, peramalan adalah yang ngawur’ ---George Eliot
(1819-1880)[135]
Setelah sukses dalam menjarah, kaum Muslim di Medina merasa aman dan
tenteram. Kebutuhan nafkah mereka dipenuhi dari usaha2 perampokan ini.
Muhammad punya kekuatan militer yang kuat setelah mengusir kaum Yahudi
Banu Qaynuqa dan Banu Nadir dari tanah tempat tinggal mereka di
Medina.[136] Akan tetapi, Muhammad selalu waspada karena khawatir atas
serangan musuh tiba2. Dan memang kekhawatirannya beralasan karena pihak
musuh benar2 menyerangnya tidak lama setelah dia dengan bersantai
menikmati barang jarahan di tengah kekuatan militernya. Ketika musim
dingin tiba, kaum Quraish bersiap-siap untuk menyerang Muhammad. Ini
dikenal sebagai perang Parit atau perang Ahzab (sekutu).
Pertempuran ini terjadi di bulan Februari, 627 M (Shawal, AH 5). Alasan
utama terjadinya perang ini adalah karena pembersihan rasial Yahudi B.
Nadir dari Medina. Setelah pengasingan kaum Yahudi B. Qaynuqa dan B.
Nadir dari Medina, para pemimpin Yahudi yang terusir yakni Salam b. Abi
al-Huqayq al-Nadri, Huyayy b. Akhtab al-Nadri, Kinanah b. al-Rabi b. Abi
al-Huqayq… dll pergi ke Mekah dan bertemu dengan para pemimpin Quraish
dan membentuk persekutuan untuk melawan Muhammad yang mengancam keamanan
mereka. Pada mulanya kaum Quraish bersikap ragu akan orang2 Yahudi
karena agama Yahudi serupa (tapi tak sama) dengan Islam. Mereka bertanya
pada orang2 Yahudi agama mana yang lebih baik – pagan atau Islam? Kaum
Yahudi menjawab agama Quraish (pagan) lebih baik daripada agama baru
monotheism milik Muhammad. Jawaban ini menyenangkan kaum Quraish, dan
mereka tanpa ragu menerima kaum Yahudi sebagai sekutu. Akan hal ini,
Allah menurunkan ayat Q 4:51-55,
mengutuk kaum Yahudi yang bersekutu dengan kaum pagan dan Dia
menjanjikan neraka bagi kaum Yahudi.
Setelah bertemu dengan para pemimpin Yahudi, pihak Quraish bersiap untuk
melancarkan serangan hebat kepada Muhammad dan Jihadis fanatiknya itu.
Setelah mengadakan perjanjian dengan pihak Quraish, para pemimpin Yahudi
bertemu dengan orang2 Ghatafan dan beberapa suku di sekitar Mekan dan
meyakinkan mereka agar melakukan serangan bersama dengan orang2 Quraish.
Maka tentara Quraish di bawah pimpinan Abu Sufyan b. Hard dan tentara
Ghatafan di bawah pimpinan Uyanah b. Hisn b. Hudhayfah (lihat Teror 31,
Bagian 8 ) berbaris menuju Medina. Beberapa penulis biografi menulis
Unayah sebagai pempimpin B. Fazarah, dan suku ini adalah cabang suku
Ghatafan.[137] Suku2 lain yang bergabung dengan mereka adalah B. Murrah
dan Masud b. Rukhaylah dari suku Ashja. Pihak Quraish sendiri membawa
4.000 tentara, 300 kuda, 1.500 unta. Seluruh kekuatan Mekah adalah
10.000 orang. Mereka berbaris dalam tiga kelompok yang terpisah.
Komandan utama adalah Abu Sufyan b. Harb. Bendera perang dibawa oleh
Uthman ibn Talhah yang ayahnya dibunuh di perang Uhud.[138]
135 Middle march (1827)
136 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud
137 Mubarakpuri, p.363
Tak lama kemudian berita serangan ini didengar oleh Muhammad. Dia benar2
tidak siap akan serangan mendadak dari pihak Quraish dan sekutunya.
Pengalaman akan perang Uhud masih segar terbayang dalam benak orang2
Muslim. Perang baru melawan Quraish sungguh tidak mereka inginkan.[139]
Melihat bahaya ini, Muhammad mengadakan rapat dengan para pemimpin
tentaranya yang terpercaya. Dalam rapat ini, Salman yang adalah seorang
Persia yang masuk Islam, mengajukan usul untuk menggali parit sekitar
Medina untuk melindungi kota itu dari serangan pihak Mekah. Dia tadinya
adalah seorang tawanan beragama Kristen dari Mesopotamia, yang dibawa
oleh seorang Yahudi dari Bani Kalb. Lalu dia ditebus dan beralih ke
Islam. Dia tahu akan teknik mempertahankan diri seperti ini di negara2
lain. Ini merupakan teknik bela diri yang baru sama sekali bagi orang
Arab dan sebelumnya tidak pernah dilakukan. Muhammad dan para
pengikutnya dengan cepat setuju akan usul ini. Pekerjaan yang harus
dilakukan adalah menggali parit yang dalam, mungkin sekitar 10 yard 30
kaki lebarnya dan 5 yard (15 kaki) dalamnya dan panjangnya adalah ½ mil
[140] di sekeliling kota Medina. Agar pekerjaan cepat selesai, tugas
dibagi dan dilakukan oleh beberapa kelompok keluarga.
Muhammad sekarang mengumpulkan orang2nya untuk menggali parit ini dan
meng-iming2i mereka hadiah surga. Saat itu adalah bulan puasa Ramadan
dan Muhammad menyewa peralatan gali lubang dari kaum Yahudi B. Qurayzah.
[141] Sekitar 1.000 [142] sampai 3.000 [143] Muslim bekerja dari subuh
sampai petang untuk menyelesaikan penggalian dan mereka bergabung
bersama untuk menghadapi tentara Quraish dan sekutunya yang berjumlah
10.000 orang. Muhammad mulai mengutuki orang2 Mekah, mengundang murka
Allah atas mereka seperti yang tercantum di
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5,
Book 59, Number 415:
Dikisahkan oleh Anas:
Rasul Allah mengucapkan Al-Qunut selama sebulan setelah membungkuk
(sembahyang), menimpakan kesialan atas beberapa suku Arab.
Beberapa orang munafik juga bergabung tapi mereka tidak tekun dan
akhirnya meninggalkan pekerjaan kembali ke keluarga mereka tanpa ijin
dari Muhammad. Meskipun begitu, yang taat tetap menggali dengan tekad
bulat, dan hanya berhenti sekali2 untuk bergabung dengan keluarga mereka
setelah dapat ijin dari pemimpin rohaninya. Dalam hal ini, Allah
menurunkan Q 24:62, memuji para
Jihadis sejati dan menjanjikan pengampunaNya. Bagi yang munafik, Allah
menurunkan Q 24:63-64, yang
menyatakan bahwa Dia tahu apa yang mereka lakukan diam2. Setelah bekerja
keras selama beberapa hari (yang lain mengatakan 8 hari), para Muslim
yang fanatik menyelesaikan penggalian parit di sekeliling Medina, lebih
awal dari kedatangan bala tentara Mekah. Sekarang mereka benar2 puas
dengan parit yang baru saja digali atas usul Salman orang Parsi. Setiap
keluarga mengakui bahwa Salman adalah bagian dari pihak mereka. Tentang
hal ini, Muhammad berkata, “Salman adalah salah seorang dari kita semua,
masyarakat dari sebuah keluarga (ahl al-bayt).”[144]
138 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud
139 Muir, vol.iii, ch.17, p.256
140 Hamidullah, p.68
141 Hamidullah, p71
142 Mubarakpuri, p.364
143 Tabari vol. viii, p.8.9
Ahli sejarah Muslim, Tabari dan Ishak [143] mengisahkan cerita yang
sukar dipercaya bahwa waktu parit digali, Allah memunculkan sebuah batu
putih dari dasar parit. Muhammad dan Salman pergi de parit itu, lalu
menghancurkan batu tersebut dengan kampaknya dan sebuah sinar memancar
menyinari dua jalur menuju gunung2 hitam Medina! Muhammad menerangkan
hal ini sebagai tanda dari Allah bagi kemenangan Muslim. Dia bahkan juga
menyatakan bahwa kilau cahaya itu menyinari Byzantine dan kekaisaran
Khusroo (Kaisar Persia), dan berarti dia (Muhammad) akan menang pula
atas mereka. Bualan Muhammad ini membakar semangat para penggali lubang
Muslim. Sekarang mereka yakin sekali bahwa Allah telah menjanjikan
kemenangan bagi mereka. Kisah lain yang ajaib adalah bertambahnya
persediaan makanan ketika jatah makanan tentara Muslim habis seperti
yang dikatakan dalam Sahih
Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428. Untuk mempersingkat, aku
tidak mengutip Hadis yang panjang ini. Sejak awal, para munafik merasa
ragu atas pernyataan Muhammad dan mereka berusaha melemahkan moral para
Jihadis yang fanatik. Akan hal ini, wahyu Allah turun dalam ayat
Q 33:12 yang menyatakan pikiran
rusak orang2 munafik.
Sekarang penggalian parit sudah selesai di hari ke-8 Dzul Kada (2 Maret,
626 M), dan tentara Medina berjaga-jaga di dalam parit. Rumah2 di luar
kota dikosongkan dan penduduknya ditempatkan di tempat aman di atas
rumah2 bertingkat duadi dekat parit yang baru saja digali. Selama proses
pengosongan ini berlangsung, dilaporkan bahwa tentara Mekad sudah
mencapai Uhud. Tentara Muhammad terdiri dari 3.000 prajurit dan
ditempatkan di seberang jalan yang menuju Uhud, dengan posisi parit di
depan mereka.
Bala tentara Mekah tadinya berkemah di Uhud dan karena tidak menjumpai
perlawanan apapun, mereka dengan cepat bergerak ke jalan menuju Medina.
Tak lama kemudian mereka tiba di dekat parit yang baru saja digali dan
merasa kaget dengan siasat pertahanan Muhammad. Mereka tidak dapat
mendekat ke pusat kota Medina. Jadi mereka mulai menyerang dengan panah
dalam jarak tertentu.[146]
Di lain pihak, Huyayy b. Akhtab, ketua dari kaum Yahudi B. Nadir yang
diasingkan, bertemu dengan Ka’b b. Asad, ketua kaum Yahudi B. Qurayzah,
untuk meminta Ka’b membatalkan perjanjian damai dengan Muhammad. Pada
mulanya, Ka’b tidak mau menemui Huyayy, tapi akhirnya mau setelah Huyayy
tanpa henti memohonnya.
Huyayy memberitahu Ka’b tentang bergabungnya tentara Quraish dan
Ghatafan untuk menghadapi Muhammad sekali untuk selamanya dan membujuk
Ka’b untuk membatalkan semua perjanjian dengan Muhammad. Dia minta Ka’b
untuk mau melakukan itu, dan berjanji untuk memberikan dukungan yang
teguh andaikata pihak Ghatafan dan Quraish mundur sebelum menghabisi
Muhammad. Pada mulanya, Ka’b ragu2 atas permintaan Huyayy, tapi akhirnya
setuju setelah Huyayy menjamin jika Ka’b menghadapi kesukaran, maka
Huyayy akan bergabung dalam benteng Ka’b sehingga apapun yang terjadi
pada Ka’b akan dihadapi Huyayy pula. Setelah itu Ka’b memutuskan untuk
tidak melangsungkan perjanjian damai dengan Muhammad dan Huyayy masuk ke
dalam benteng kaum Yahudi B. Qurayzah untuk tinggal bersama mereka.
144 Ibid
145 Tabari, vol.viii, p.11 and Ibn Ishak
146 Muir, vol iii, Ch.17, p.259
Ketika berita ini terdengar Muhammad, dia mengirim Jihadisnya yang
dipercaya yakni Sa’d b. Muadh dan beberapa orang penting lain untuk
memeriksa diam2 tentang perkembangan ini. Ketika Sa’d b. Muadh bertemu
dengan ketua kaum Yahudi B. Qurayzah Ka’b b. Asad, dia (Ka’b) seketika
menghentikan perjanjian dengan Muhammad. Dia menuntut pihak Muslim
mengembalikan kaum Yahudi B. Nadir ke tempat asal mereka di dekat
Medina. Mendengar ini, Sa’d b. Muadh yang punya hubungan dekat dengan
kaum Yahudi B. Qurayzah memperingatkan mereka bahwa hal yang lebih jelek
daripada yang terjadi dengan B. Nadir mungkin akan terjadi atas B.
Qurayza jika mereka bersikeras untuk membatalkan perjanjian dengan kaum
Muslim.[147] Meskipun diancam keras oleh Sa’d b. Muadh, Ka’b tetap tidak
merubah pendiriannya.
Maka dengan kecewa Sa’d b. Muadh kembali menghadap Muhammad dan
menyampaikan berita jelek ini. Muhammad menganggap ini sebagai
pengkhianatan dari pihak B. Qurayzah dan Allah seketika menegaskan hal
itu dengan ayat Q 33:20. Akan tetapi, perlu diingat bahwa B. Qurayzah
tidak wajib untuk menghormati perjanjian itu jika mereka tidak mau lagi,
karena Muhammad di waktu lampau telah berkali-kali membatalkan
perjanjian serupa. Lagi pula, kaum Yahudi B. Qurayzah tidak pernah
berencana untuk memerangi Muhammad. Mereka hanya tidak mau lagi berpihak
pada Muhammad.
Ketika Muhammad mendengar apa yang disampaikan Sa’d b. Muadh, dia merasa
gundah tapi tidak menunjukkan perasaannya dan berkata, “Tuhan Maha
Besar! Bersukacitalah wahai orang2 Muslim!”[148] Ini tentunya
dilakukannya untuk membuat tentaranya tetap tenang dan terus
bersemangat. Allah dengan cepatnya menurunkan ayat
Q 33:10 yang berkata, “The enemy
came upon them from above and from beneath…..” tentang bahaya ganda
(dari atas dan bawah) yang dihadapi kaum Muslim.
Meskipun tidak menunjukkan kegelisahannya, Muhammad benar2 takut kalau
kalah perang lagi. Dia terus merasa khawatir apabila paritnya dapat
dilampaui dan kaum Yahudi akan menyerang dari belakang. Orang2 Medina
sangat kecewa akan perkembangan ini. Banyak dari mereka yang memohon
untuk diperbolehkan pergi untuk mengurus harta bendanya. Mereka
menganggap Muhammad lemah dan tak berdaya, mempertanyakan pertolongan
ilahi untuk dia dan meragukan janji2nya tentang kekayaan Khusroo dan
Caesar. Sekarang mereka merasa takut dengan kemungkinan yang akan
terjadi atas kota mereka.[149] Banyak yang menyatakan tidak mau perang
dengan menggunakan alasan bahwa rumah2 mereka terancam musuh di ayat
Q 33:13.
Tentara sekutu Quraish dan tentara Muslim berdiam di posisi mereka
selama 20 hari (yang lain menyebut sebulan) berhadapan satu sama lain,
berseberangan dengan parit tanpa melakukan peperangan kecuali dengan
meluncurkan panah satu sama lain. Di pihak Quraish adalah Khalid b.
Walid dan Wahshi, budak Negro Abyssinian Negro. [150]
147 Haykal, Ch. The Campaign of Khandaq and B. Qurayzah
148 Tabari, vol. viii, p.16
149 Haykal, Ch. The Campaign of Khandaq and B. Qurayzah
150 Ibn Sa’d, vol.ii, p.84
Karena mulai merasa tidak sabar dengan keadaan yang berlarut-larut ini,
Muhammad mencoba menyogok suku Ghatafan untuk meninggalkan medan tempur.
Dia secara rahasia mengirim utusan kepada Uyanah b. Hisn, ketua kaum
Ghatafan (atau Fazarah) dan menawarkan 1/3 panen kurma Medina jika dia
mau menarik tentaranya meninggalkan medan tempur. Uyanah menunjukkan
rasa tertarik untuk menerima bujukan itu dan menawar ½ hasil panen
kurma. Akan tetapi ketika Muhammad menyampaikan permintaan tambahan
bagian panen kurma dari Unayah ini kepada B. Aws dan B. Khazraj, kedua
suku ini menolak dan tidak mau menawarkan apapun bagi Uyanah kecuali
pedang bagi kaum Quraish dan sekutunya. Orang kepercayaan Muhammad Sa’d
b. Muadh menentang tawaran Muhammad kepada kaum Ghatafan. Dia berjanji
untuk tidak menawarkan apapun kecuali pedang dan berkata, “Rasul Allah,
kita dan orang2 ini dahulu adalah orang2 pagan, mempersekutukan Tuhan
dan menyembah berhala2, dan kita tidak menyembah atau mengenal Tuhan,
dan mereka tidak berharap dapat sebuah pun dari kurma kita kecuali dalam
keadaan damai atau karena membeli. Sekarang Tuhan sudah menyatakan Islam
bagi kita, membimbing kita pada Islam, dan memperkuat kita melalui
engkau, haruskah kita memberikan mereka kekayaan kita? Kita tidak perlu
melakukan itu! Demi Tuhan, kita hanya akan menawarkan mereka pedang,
sampai Tuhan menghakimi antara kita dan mereka.”[151] Karena itu,
Muhammad dengan ragu mengesampingkan keputusannya untuk menyogok
Ghatafan.
Di lain pihak, bala tentara Quraish yang meskipun jumlahnya sangat besar
itu merasa sangat frustasi dengan pertahanan kuat tentara Quraish.
Ketika keadaan berhadap-hadapan ini semakin tidak tertahankan, beberapa
orang Quraish, diantaranya adalah Ikrimah b. Abi Jahl (Abu Jahl dibunuh
secara brutal di Badr), memerintahkan tentara sekutu untuk mempersiapkan
diri untuk menyerang. Dengan perintah ini, mereka mulai maju dan ketika
sudah dekat parit, mereka terhadang dengan pertahanan diri para Muslim
dengan cara yang unik dan tidak pernah dilakukan sebelumnya di Arabia.
Mereka lalu mengadakan serangan umum ke bagian parit yang tidak dijaga
kuat. Ikrimah membersihkan bagian parit itu dan melompat ke depan
menghadapi musuh. Diantara para Quraish yang menyebrangi parit adalah
Amr b. Abd Wudd. Ibn Sa’d [152] melaporkan bahwa Amr berusia 90 tahun!
Ali maju ke depan menghadapi musuh. Ketika melihat Amr, Ali mengajaknya
untuk bergabung dengan Islam, tapi Amr tidak mau. Lalu Ali menantang Amr
untuk bertarung, tapi Amr menjawab bahwa dia tidak ingin membunuh
keponakannya (Ali adalah anak dari saudara laki Amr, yakni Abu Talib).
Tapi Ali menunjukkan keinginan untuk membunuh Arm, pamannya sendiri.
Mengetahui akan hal ini, Amr turun dari kudanya dan menyerang Ali.
Pertarungan terjadi antara Ali dan Amr, dan akhirnya Ali membunuh Amr.
Para tentara kawan Amr yang lain jadi panik dan mulai bercerai-berai.
Ali berhasil membunuh beberapa orang pagan, melukai parah seseorang yang
berhasil meloncati parit, dan orang ini nantinya tewas karena lukanya di
Mekah. Seorang pagan Quraish jatuh dalam parit pada saat berusaha untuk
meloncatinya. Dia jatuh ke dalam parit yang dalam itu. Para tentara
Muslim mengerubutinya dan merajamnya dengan batu. Ketika orang ini
menjerit kesakita, Ali turun ke dalam parit dan memenggalnya. Tentara
Muslim membawa mayat orang ini ke Muhammad, dan minta ijin darinya untuk
menjual mayat itu. Tapi Muhammad melarangnya dan memerintahkan para
Jihadisnya untuk melakukan apapun yang mereka maui atas mayat itu. Tidak
ada keterangan apa yang dilakukan para Jihadis atas mayat orang pagan
itu. Dilaporkan bahwa Wahsi sang budak Negro dengan lembingnya membunuh
seorang Jihadis yang bernama al-Tufayl b. al-Numan dan Dirar ibn
al-Khattab (saudara Umar?) membunuh seorang Muslim lain yang bernama Kab
ibn Zayd.[153] Pihak Quraish tidak berusaha untuk terus menyerang
menyeberangi parit pada hari itu, tapi mereka membuat persiapan di malam
harinya. Keesokan paginya, mereka melakukan penyerangan besar, tapi
serangan mereka tidak banyak memberi hasil. Mereka tidak dapat melampaui
parit. Ketua B. Aws yang bernama Sa’d ibn Muadah menderita luka parah di
tangannya (atau bahunya menurut Muir [134]) oleh panah. Dia bersumpah
untuk membalas B. Qurayzah, karena orang yang memanahnya bersahabat
dekat dengan B. Qurayzah. Pihak Quraish kehilangan tiga orang, sedangkan
pihak Muslim lima orang.
Tentara Muslim tidak dapat sembahyang hari itu. Mereka terlalu sibuk
berperang. Pada malam harinya, ketika pihak musuh kembali ke perkemahan
mereka, pihak Muslim berkumpul dan mengadakan sembahyang khusus bagi
mereka yang tidak sempat sembahyang.
151 Tabari, vol.viii, p.17
152 Ibn Sa’d, vol.ii, p.83
153 Ibn Sa’d, vol.ii, p.84
Melalui tulisan2 Ibn Ishaq dan Tabari, bisa diketahui bahwa para wanita
Arab saat itu tidak mengenakan Hijab (kerudung). Ketika perang Ahzab
berlangsung sengit, Aisha ada di benteng B. Haritha dan ibu Sa’d b.
Muadh ada bersamanya. Aisha tidak mengenakan Hijab ketika Sa’d b. Muadh
berjalan melewatinya, mengenakan baju kulit sehingga Aisha bisa melihat
seluruh lengan Sa’d b. Muadh.[155]
Pada saat itu, Saffiyah bt. Abd al-Muttalib, yakni bibi Muhammad sedang
berada di Fari, benteng milik Hassan b. Thabit, penulis syair
Muhammad.[156] Saffiyah melihat seorang Yahudi mengelilingi benteng itu.
Ketika Saffiya meminta Hassan b. Thabit untuk pergi ke lantai bahwa dan
membunuh orang Yahudi yang mencurigakan itu, Hassan menolak. Karena itu
Saffiya turun sendiri dan memukul orang Yahudi itu sampai mati. Dia lalu
meminta Hassan b. Thabit untuk melucuti orang Yahudi itu dan mengambil
persenjataan dan bajunya sebagai barang jarahan. Hassan b. Thabit
menolak melakukan itu karena dia tidak butuh barang jarahan.
Selama masa pengepungan oleh tentara Quraish dan sekutu berlangsung,
Muhammad semakin merasa perlu mencari jalan ke luar. Pada saat itu,
seorang mata2/agen dobel (bekerja untuk kedua pihak yang bermusuhan)
yang bernama Nuaym b. Masud b. Amir dari Ghatafan menghadap Muhammad
untuk menawarkan servisnya untuk memata-matai musuh Muhammad. Dia
mengaku sudah meemluk Islam dan bisa memberi bantuan dengan menjadi agen
dobel. Muhammad menerima tawaran Nuaym dan mengatakan padanya bahwa
“perang adalah penipuan”. Dia berkata pada Nuaym, “Kamu hanyalah satu
diantara kami semua. Buatlah mereka meninggalkan satu sama lain, jika
kamu bisa, sehingga mereka meninggalkan kita, karena perang adalah
penipuan.”[157] Ini Hadisnya yang menegaskan pandangan Muhammad bahwa
perang adalah usaha penipuan:
Hadis Sahih Bukhari Volume 4,
Book 52, Number 269:
Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah:
Sang Nabi berkata, "Perang adalah
penipuan."
Hadis Sahih Sunaan Abu Dawud,
Book 14, Number 2631:
Dikisahkan oleh Ka'b ibn Malik:
Ketika sang Nabi ingin pergi ke suatu tempat, dia selalu berpura-pura
pergi ke tempat lain, dan dia akan berkata: Perang adalah penipuan.
154 Muir, vol.iii, p.263
155 Ibn Ishaq, p.457, Tabari, vol. viii, p.19
156 Tabari, vol.viii, p.22, footnote 113
157 Tabari, vol. viii, p.23
Setelah mendengar perkataan Muhammad yang berpengaruh itu, Nuaym pergi
ke B. Qurayzah dan membujuk mereka untuk tidak percaya akan persekutuan
antara B. Quraish dan B. Ghatafan. Dia berkata pada mereka jika pihak
sekutu menang perang, maka mereka mungkin akan mengambil tanah milik B.
Qurayzah sebagai jarahan perang, tapi kalau Muhammad menang, makan pihak
sekutu akan meninggalkan B. Qurayzah, membiarkan mereka sendiri
menghadapi tentara Muslim yang kuat.
Lalu Nuaym menasehati B. Qurayzah untuk mengambil sandera dari pihak
Quraish dan Ghatafan sebagai jaminan keamanan agar mereka mau membantu
B. Qurayzah menghadapi Muhammad. Ketua2 B. Qurayzah merenungkan yang
dikatakan Nuaym dan berpendapat bahwa itu sangat masuk akal.
Setelah bicara dengan kaum Yahudi B. Qurayzah, Nuaym langsung menghadap
tentara Quraish dan Ghatafan, dan mengumumkan bahwa dia telah
meninggalkan Islam dan Muhammad dan berkata pada mereka bahwa kaum
Yahudi B. Qurayzah menyesal dengan apa yang mereka lakukan dan sekarang
bergabung bersama Muhammad. Nuaym juga menambahkan bahwa B. Qurayzah
menawarkan Muhammad perjanjian bahwa sandera manapun yang mereka ambil
dari suku Quraish dan Ghatafan akan mereka berikan pada Muhammad untuk
dipancung dan Muhammad tentunya dengan senang hati akan memancung
mereka. Berita ini membuat marah orang2 Mekah dan mereka percaya setiap
kata yang diucapkan Nuaym. Sekarang rasa curiga tumbuh subur dalam
pikiran mereka tentang B. Qurayzah, dan mereka mengambil keputusan
berdasarkan nasehat Nuaym untuk tidak memberikan sandera manapun yang
diminta B. Qurayzah dari mereka.
Pada hari Sabbath petang (yakni malam Jum’at, Sabbath adalah Sabtu
menurut tradisi Yahudi), Abu Sufyan mengirim Ikrimah b. Abi Jahl dan
sekelompok orang mengunjungi B. Qurayzah untuk meminta kaum Yahudi ke
luar dan melakukan perang bersama keesokan harinya (hari Sabtu). Kaum
Yahudi menolak bertempur di hari Sabbath dengan mengatakan bahwa ketika
mereka dulu melanggar tradisi larangan perang di hari Sabbath, mereka
lalu dirubah jadi monyet dan babi.[158] Lagi pula, kaum Yahudi juga
menuntut sandera dari kaum Quraish dan Ghatafan sebagai persyaratan
untuk mau bersama-sama perang melawan Muhammad.
Ketika berita tentang permintaan sandera ini disampaikan kepada Abu
Sufyan dan para pemimpin Ghatafan, mereka merasa kaget dengan tepatnya
dugaan yang disampaikan oleh Nuaym. Pihak sekutu berkeputusan tidak mau
memberikan satupun sandera untuk B. Qurayzah dan ini pun disampaikan
kepada kaum Yahudi B. Qurayzah. Setelah mendengar ini, pihak Yahudi B.
Qurayzah merasa yakin bahwa pihak Quraish dan Ghatafan hendak memperdaya
mereka andaikata nantinya mereka berhasil menaklukan pihak Muslim.
Karena itu kaum Yahudi tidak mau ikut perang, kecuali ada sandera untuk
jaminan bahwa pihak sekutu dan mereka menyampaikan keputusan ini pada
kaum Quraish dan Ghatafan.
Mendengar ini, pihak sekutu tidak merasa senang. Persediaan makanan
mereka mulai surut. Rencana mereka untuk menyerang pihak Muslim dari
belakang kota dengan pertolongan B. Qurayza jadi tidak jelas lagi.
Setiap hari beberapa unta2 dan kuda2 mereka mati. Kesusahan mereka
bertambah karena udara juga tidak nyaman. Udara dingin, berangin dan
hujan terus menerpa perkemahan mereka. Angin keras menjadi badai,
menerbangkan panci2 masak dan tenda2 mereka. Mereka menganggap udara
jelek ini sebagai pertanda buruk dan mulai melarikan diri untuk
menyelamatkan nyawanya. Dengan banyaknya masalah yang dihadapi, Abu
Sufyan tiba2 mengambil keputusan untuk membongkar perkemahan dan pulang.
Pembubaran pasukan ini dimulai oleh kaum Quraish dan diikuti kaum
Ghatafan. Abu Sufyan naik untanya dan memimpin rombongan pergi
meninggalkan daerah musuh. Tak lama kemudian, seluruh tentara Quraish
menuju Mekah dengan menggunakan jalur melalui Uhud. Di pagi hari, tidak
satupun tentara Quraish yang tampak. Seperti biasa, Muhammad mengaku
bahwa Jibril telah membawa topan badi dan menyebabkan pihak sekutu Mekah
melarikan diri. Ibn Sa’d menulis bahwa ketika Jibril bertemu Muhammad,
Jibril berkata padanya, “O! Berbahagialah.” [159] Pesan dari Allah
menegaskan hal itu (Q 33:9).
Allah menengahi perang ini dengan memasukkan rasa teror dalam hati para
kafir melalui angin yang dahsyat dan udara dingin yang menusuk.
158 Ibn Sa’d, vol.ii, p.85
Akan tetapi, alasan sebenarnya pihak Mekah meninggalkan medang perang
sama sekali berbeda. Waktu itu adalah awal bulan Dzul Qaedah, yakni
bulan pertama dari tiga bulan suci berdasarkan tradisi Arab dan tidak
boleh melakukan perang di bulan2 suci ini. Pihak Mekah harus kembali dan
menunaikan ibadah haji yang akan segera dimulai di Mekah. [160]
Kabar bubarnya persatuan antara tentara sekutu dan B. Qurayzah didengar
Muhammad. Dia mengirim pengintai untuk mengetahui kegiatan musuh dengan
menjanjikan orang ini surga dan jarahan perang andaikata dia kembali
tepat waktu. Atas hal ini Hadis mengatakan:
Hadith Sahih Bukhari Volume 9,
Book 93, Number 555:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allah berkata, "Allah menjamin (orang yang melakukan Jihad untuk
Allah dan tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali Jihad untuk Allah
dan iman akan FirmanNya) bahwa Allah akan menerimanya di surga (mati
sebagai martir) atau mengupahi dia dengan hadiah atau jarahan perang
yang telah diterimanya dari tempat dia pergi.”
Muhammad harus menjanjikan surga bagi pengintainya karena tidak ada
seorang pun yang bersedia jadi sukarelawan untuk mengunjungi perkemahan
Quraish dan membawa kembali berita yang sebenarnya. Pada saat ini, rasa
takut, lapar dan kedinginan dialami pihak Muslim dan mereka tidak punya
keinginan untuk berperang. Sebenarnya, ketika tidak ada yang mau jadi
sukarelawan, Muhammad memilih pengintai itu sendiri dan memerintahkannya
untuk ke luar dan cari kabar yang sebenarnya. Pengintai itu ke luar dan
melihat pembantu Allah (para malaikat) menghukum pihak Quraish dan
Ghatafan dengan badai dan udara dingin.
Pengintai ini melihat keberangkatan Abu Sufyan dan pihak sekutu dan
membawa berita gembira ini pada Muhammad. Muhammad sangat lega dengan
kepergian pihak musuh. Tentara Muslim juga sangat bersukacita di pagi
hari, mereka membubarkan tenda2 mereka dan kembali ke rumah2 mereka.
Muhammad tidak mau mengejar tentara Quraish karena bertempur dengan
mereka di tempat terbuka akan sangat riskan baginya. Tak lama kemudian
dia mengatakan pada kaum Muslim bahwa Allah telah mengirim pesan untuk
menyerang B. Qurayza, dengan mengatakan bahwa Jibril datang padanya
dengan menyaru sebagai Dihya, orang Kalbit. Segera Muhammad mengirim
Bilal untuk mengumumkan ajakan atas seluruh kota untuk bersiap melakukan
perang baru.
159 Ibn Sa’d, vol.ii, p.88
160 Hamidullah, p.77
Setelah perang Parit selesai, Muhammad bersumpah untuk jadi semakin
agresif dan menyerang duluan dan tidak bertahan. Ini Hadisnya yang
menunjukkan Islam adalah agama yang menyerang dan tidak bertahan diri:
Hadith Sahih Bukhari Volume 5,
Book 59, Number 435:
Dikisahkan oleh Sulaiman bin Surd:
Di hari Al-Ahzab (kumpulan keluarga) sang Nabi berkata, (Setelah perang
ini) kita akan menyerang mereka (para kafir) dan tidak akan membiarkan
mereka menyerang kita."
[Catatan: Hadis ini tidak akan dapat ditemukan dalam versi Sahih
Al-Bukhari yang telah disensor dan “dibersihkan”, akan tetapi bisa
didapat dalam kumpulan Hadis Sahih Bukhari asli Internet}
Bagian Sepuluh
‘Anggota LET
(Lashkar-e-Toiba) tidak boleh mencukur atau memotong rambut mereka dan
mereka diajari untuk membunuh sesuai aturan yakni dengan memancung atau
memotong tenggorokan’ --- seorang anggota LET [161]
Teror Tiga Puluh Tiga
Pembantaian rasial atas kaum Yahudi Bani Qurayzah oleh
Muhammad—February-March, 627
Setelah Muhammad meninggal medan perang parit di pagi hari dia kembali
ke Medina, dan ketika dia sedang mencuci kepalanya di rumah Umm Salamah,
yakni salah satu istri2nya, Gabriel datang padanya di siang hari dan
memberi tahu dia bahwa perang belum selesai, dan Allah memerintah
Muhammad untuk menyerang B. Qurayzah. Dia berkata bahwa Gabriel datang
dalam bentuk Dhiyah b. Khalifah al-Kalbi, seorang pedagang Medina yang
ganteng dan kaya. Gabriel juga menyatakan dukungannya yang teguh kepada
Muhammad dalam rencana serangan ini. Ditulis bahwa Gabriel datang naik
kuda dan pakai sorban kain emas.[162]
Setelah mendengar petunjuk Gabriel, Muhammad meninggalkan sembahyang Asr
(siang hari) dan memerintahkan para Jihadisnya untuk bergerak langsung
ke wilayah B. Qurayzah. Ali diperintahkan bergerak mendahului yang lain.
Muhammad memerintahkan pengikutnya bahwa dalam perang, sembahyang dapat
tidak dilaksanakan, karena perang seperti ini lebih penting daripada
sembahyang. Dalam perjalanan, Ali mendengar orang2 bicara buruk dan
mengejek Muhammad. Dengan rasa tidak senang, Ali menyampaikan hal ini
kepada Muhammad. Muhammad menghibur Ali dengan mengatakan orang2 itu
tidak akan berani menghinanya jika dia ada di hadapan mereka. Mendengar
ini, Ali merasa puas dan dia kembali melakukan tugasnya. Di petang hari,
tentara2 Muslim berbaris menuju perbentengan B. Qurayzah yang terletak
sejauh 3 mil sebelah tenggara Medina. Muhammad naik keledai, dan 3.000
tentara Muslim dengan 36 kuda mengikutinya. Sebuah tenda di halaman
mesjid Medina didirikan sebagai tempat berteduh bagi Sa’d b. Muadh dan
untuk merawat lukanya yang parah (lihat Teror 32).
Ketika Muhammad berada dekat benteng kaum Yahudi B. Qurayzah, dia
memanggil mereka sambil berteriak, “kau saudara2 kera.”[163] Panggilan
ini menjelaskan ayat2 Q 2:65,
5:60 dan
7:166, yang mengatakan Allah
mengubah Yahudi jadi kera2. Jadi bagi Islam, kaum Yahudi dianggap kera2,
dan ini dinyatakan oleh Allah, dan Muhammad menegaskan hal ini lagi
dalam persengketaan dengan B. Qurayzah. Ibn Sa’d menulis [164]:
“O saudara2 monyet dan babi! Takutlah padaku,
takutlah padaku.”
161 Masterminds of Terror, p.45
162 Ibn Sa’d, vol. ii, p.94
163 Tabari, vol viii, p.28
164 Ibn Sa’d, vol.ii, p.95
Masih belum puas dengan kata2 kutukan itu, Muhammad meminta penulis
puisinya yakni Hassan b. Thabit untuk memakai bahasa makian bagi orang
Yahudi melalui puisi. Ini Hadisnya yang menjabarkan isi pikiran utusan
Allah:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5,
Book 59, Number 449:
Dikisahkan ole Al-Bara,”Hina mereka
(dengan puisimu), dan Gabril ada bersamamu (yakni mendukungmu).”
(Melalui kelompok orang lain yang menyampaikan hal ini) Al-Bara bin Azib
berkata, “Pada hari pengepungan Quraiza, Rasul Allah berkata pada Hassan
bin Thabit, “Hina mereka (dengan puisimu), dan Gabriel ada bersamamu
(yakni untuk mendukungmu).”
Walaupun dicacimaki oleh Muhammad, kaum Yahudi B. Qurayzah tetap sabar
dan bersikap sopan terhadap Muhammad, dan memanggilnya dengan nama Abu
al-Qasim (ayah dari Qasim, yakni anak Muhammad yang meninggal dunia).
Percakapan ini terjadi diantara Muhammad dan kaum Yahudi B. Qurayzah
seperti yang ditulis oleh Tabari:[165]
‘Ketika Rasul Allah mendekati benteng mereka,
dia berkata: “Kamu saudara2 monyet! Sudahkah Tuhan mempermalukanmu dan
mengirimkan pembalasan padamu?” Mereka berkata, “Abu al-Qasim, kau
bukanlah orang yang suka bertindak serampangan.”’
Kamu Muslim lalu menyerang kaum Yahudi dengan panah2 tapi tidak ada
hasilnya. Seorang Muslim mendekati benteng tanpa menghiraukan bahaya dan
dibunuh oleh seorang Yahudi yang melemparkan batu ke bawah sehingga
menimpa orang itu. Muhammad lalu memerintahkan pengepungan atas kaum
Yahudi. Sudah jelas bahwa Muhammad ingin melakukan pertumpahan darah
untuk balas dendam dan tidak mau berunding dengan pihak Yahudi.
Setelah dikepung selama 25 hari, kaum Yahudi jadi gelisah, lelah dan
takut akan nasib mereka. Mereka pun mulai terancam bahaya kelaparan.
Dikatakan bahwa Allah, melalui tindakan terorisme Muhammad, menaruh
teror dalam hati mereka. Diantara kaum Yahudi adalah Huyayy b. Akhtab
(lihat Teror 32) yang memenuhi sumpahnya kepada B. Qurayzah untuk
menghadapi kemungkinan apapun, dan dia tidak ikut pergi bersama kaum
Quraish dan Ghatafan, tapi tinggal bersama kaum Yahudi B. Qurayzah.
Karena tidak tahan melihat penderitaan kaum wanita dan anak2, maka Ka’b
b. Asad, ketua Qurayzah, mengajukan usul pada orang2 Yahudi untuk
memeluk Islam untuk menyelamatkan nyawa mereka. Hampir seluruh kaum
Yahudi menolak usul itu demi agama nenek moyang mereka. Ka’b yang cemas
mengajukan usul agar mereka membunuh kaum wanita dan anak2 mereka
sendiri, lalu semua pria ke luar dan bertempur melawan Muhammad secara
terbuka. Tapi kaum Yahudi tidak membunuh orang2 yang paling dikasihi
dengan tangan mereka sendiri. Tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan
hal itu, lagipula mereka pikir apa artinya hidup tanpa istri2 dan anak2
mereka. Ka’b lalu mengajukan usul untuk menyerang Muhammad keesokan
harinya, yakni hari Sabbath (Sabtu). Kaum Yahudi juga menolak untuk
melakukan hal ini karena menghormati hari Sabbath.
Karena kaum Yahudi tidak dapat memutuskan nasib mereka, maka mereka
mengirim seorang utusan kepada Muhammad, meminta agar Abu Lubabah b. Abd
al-Mundhir, kawan mereka dari B. Aws, dikirim kepada kaum Yahudi untuk
berdiskusi dan memberi nasihat. Seketika setelah Lubabah tiba dalam
benteng orang Yahudi, kaum wanita dan anak2 datang padanya dan
memeluknya, memohon agar dia berbelas kasihan kepadanya. Abu Lubabah
merasa sedih dan kasihan kepada mereka. Ketika mereka bertanya padanya
apakah yang akan Muhammad jika mereka menyerah, Abu Lubabah membuat
gerakan dengan tangannya seakan memotong tenggorokannya sebagai tanda
bahwa Muhammad berpikir untuk membunuh mereka dan dia (Abu Lubabah)
tidak dapat berbuat apapun akan hal itu.
165 Tabari, vol.viii, p.28
Tabari menulis: [166]
‘Ketika mereka melihat dia (yakni Abu
Lubabah), orang2 bangkit untuk menemuinya, dan kaum wanita dan anak
menyerbu memeluknya, menangis di hadapannya, sehingga dia merasa iba
atas mereka. Mereka berkata padanya, “Abu Lubabah, kau pikir kami harus
menyerang pada Muhammad?” “Ya,” katanya, tapi dia menunjukkan tangannya
ke arah tenggorokannya, yang berarti akan terjadi pembantaian.’
Haykal menulis [167] bahwa kaum Yahudi mengira sekutu mereka yang duku
suku al-Aws akan memberi perlindungan dan jika mereka mengungsi sendiri
ke Adhriat di al Sham, Muhammad akan membiarkan mereka pergi. Jadi B.
Qurayzah mengirim usul untuk mengungsi dari daerah mereka dan pergi ke
Adhriat. Muhammad dengan tegas menolak usul mereka dan bersikeras bahwa
mereka harus tunduk pada keputusannya. Setelah menunjukkan kepada kaum
Yahudi apa yang ada dalam pikiran Muhammad dengan memakai bahasa tangan,
Abu Lubabah merasa bersalah karena telah membocorkan rahasia rencana
Muhammad. Untuk membalas ‘kesalahannya’, dia langsung pergi ke mesjid
dan mengikat dirinya sendiri dengan tali di salah satu pilar mesjid.
Inilah pilar yang dikenal sebagai ‘pilar penyesalan’ atau ‘pilar2 Abu
Lubabah.’ Allah mengutarakan ketidaksukaannya akan perbuatan Abu Lubabah
di ayat Q 8:27. Ketika Muhammad
mendengar apa yang telah Abu Lubabah lakukan, dia menunggu Allah untuk
mengampuni Abu Lubabah. Abu tetap terikat di pilar selama 6 malam.
Istrinya melepaskan ikatannya setiap kali dia mau sembahyang. Allah
mengampuni Abu Lubabah dengan ayat Q
9:104. Jadi Muhammad pergi kepadanya saat sembahyang subuh dan
melepaskan ikatannya. [168]
Karena merasa tidak punya pilihan lain, pada pagi harinya kaum Yahudi B.
Qurayzah menyerah pada Muhammad dan keputusannya. Kaum pria Yahudi
dirantai dan ditempatkan di dalam benteng sampai ada keputusan tentang
nasib mereka. Kaum B. Aws punya hubungan baik dengan kaum Yahudi B.
Qurayzah. Mereka memohon belas kasihan Muhammad dan keputusan yang adil
bagi sekutu mereka orang Yahudi. Akan hal ini, Muhammad mengajukan usul
agar keputusan ditetapkan oleh Sa’d b. Muadh yang adalah ketua B. Aws,
yang sedang beristirahat karena lukanya yang parah di tenda di dekat
Medina. Kaum B. Aws dan B. Qurayzah setuju atas usul Muhammad, dengan
berharap agar Sa’d b. Muadh memberi ampun. Muhammad lalu mengirim
beberapa orang B. Aws untuk menjemput Sa’d untuk menyampaikan
keputusannya. Dengan naik keledai, Sa’d tiba di tempat di mana 700-800
orang Yahudi dan banyak orang2 B. Aws berdiri untuk mendengarkan
keputusannya. Banyak orang2 B. Aws yang meminta Sa’d untuk berbelas
kasihan terhadap orang2 Yahudi. Sa’d lalu bertanya apakah mereka akan
menerima keputusan apapun yang dia putuskan. Orang2 mengiyakan.
166 Tabari, vol.viii, p.31
167 Haykal, Ch. The Campaign of Khandaq and B. Qurayzah
168 Ibn Ishaq, p.463
The Root of Terrorism a la Islamic Style 93
Lalu Muhammad bertanya Sa’d b. Muadh untuk mengutarakan keputusannya.
Sa’d menjawab, “Aku putuskan bahwa para
pria dibunuh, harta benda dibagi-bagikan, kaum wanita dan anak2
dijadikan tawanan.” Semua orang kaget mendengar keputusan
berdarah ini kecuali Muhammad.
Dia memuji Sa’d dengan mengatakan keputusannya adalah keputusan dari
yang Maha Kuasa. Dia bersikap dingin dan tidak tergerak sedikitpun dan
mengatakan lagi bahwa keputusan Sa’d adalah adil, katanya,
”Kau telah memutuskan nasib mereka dengan
keputusan Tuhan dan keputusan RasulNya.” [169] Perkataan Muhammad
ini jelas menunjukkan bahwa dia memang ingin membantai orang2 Yahudi ini
dengan darah dingin tanpa ampun.
Sahih Bukhari Volume 5, Book
58, Number 148:
Dikisahkan oleh Abu Said Al-Khudri:
Beberapa orang (yakni kaum Yahudi Bani bin
Quraiza) setuju untuk menerima keputusan dari Sad bin Muadh sehingga
sang Nabi menyuruh orang untuk menjemputnya (Sad bin Muadh). Dia datang
naik keledai, dan ketika dia mendekati Mesjid, sang Nabi berkata,
“Berdirilah bagi yang terbaik diantaramu.” Atau berkata, “Berdirilah
bagi pemimpinmu.” Lalu sang Nabi berkata, “O Sad! Orang2 ini telah
setuju untuk menerima keputusan darimu.” Sad berkata, “Aku memutuskan
agar para prajurit mereka dibunuh dan anak2 dan kaum wanita mereka
dijadikan tawanan.” Sang Nabi berkata,”Kau telah memberikan keputusan
yang sama dengan keputusan Allah (atau keputusan Raja).”[Catatan:
Hadis ini tidak dapat dijumpai dalam kumpulan Sahih Bukhari yang telah
“disetrilkan”, “dibersihkan”. Akan tetapi Hadis ini bisa dibaca di
Original Sahih Al-Bukhari versi Internet]
Para wanita dan anak2 dipisahkan dari para suami dan saudara2 laki
mereka, dan yang lain diawasi oleh Abdullah, seorang pelarian Yahudi.
Semua harta benda milik B. Qurayzah, unta2 dan ternak mereka dibawa
sebagai jarahan perang untuk dibagi-bagikan diantara para Muslim. Air
anggur dan cairan anggur yang diawetkan dibuang.
169 Tabari, vol.viii, p.33
Setelah Sa’d b. Muadh menyampaikan keputusan akan pembantaian, kaum
Yahudi B. Qurayzah dibawa ke luar dari tempat tinggal mereka, para pria
diikat tangannya di belakang punggung merek, dan kaum wanita dan anak2
dipisahkan dari kaum pria. Kaum pria di bawah pengawasan Mohammad ibn
Maslama, pembunuh Ka’b ibn Ashraf, untuk dibawa ke Medina ke pekarangan
milik anak wanita dari seorang Muslim fanatik yang bernama al-Harith
sebelum pembantaian dilakukang. Sebuah parit panjang digali di daerah
pasar Medina. Para tawanan dibawa ke sana, disuruh berlutut dan
dipancung dalam kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 orang. Muhammad
berada di sana untuk menyaksikan semua adegan pemancungan ini. Ali dan
Zubayr memotong kepala2 orang2 Yahudi di hadapan Muhammad. Dengan
mengutip tulisan Al-Waqidi, Tabari menulis:
“ … sang utusan Allah memerintahkan untuk
menggali parit di atas tanah untuk B. Qurayzah. Lalu dia duduk, dan Ali
dan al-Zubayr mulai memancungi kepala2 mereka di hadapan Muhammad.”
[170] Ibn Ishaq [171] menulis bahwa orang2 Yahudi dikelompokkan dan
dihadapkan Muhammad untuk dipancung di depannya.
Tabari lebih lanjut menusli: [172]
“Rasul Allah ke luar menuju pasar Medina dan
memerintahkan penggalian parit. Lalu dia memerintahkan orang2 Yahudi
dibawa ke situ untuk dipancung di atas parit. Mereka dibawa ke hadapan
mereka dalam kelompok2. Diantara mereka adalah musuh Allah, yakni Huyayy
b. Akhtab dan Ka’b b. Asad, yakni ketua B. Qurayza. Jumlah mereka adalah
600-700, yang lain menulis 800-900. Tatkala mereka dibawa dalam kelompok
menghadap utusan Tuhan, mereka berkata kepada Ka’b b. Asad, “Ka’b, apa
yang kau mengerti. Tidakkah kau melihat tidak ada yang dibebaskan dan
siapa yang diambil tidak akan kembali? Demi Tuhan, ini adalah kematian!”
Proses pemancungan berlangsung terus sampai Rasul Allah selesai
menyaksikan semuanya.”
Sir William Muir [173] menuliskan adegan pemancungan yang mengerikan ini
sebagai berikut:
“Orang2 dijejerkan di sebuah halaman yang
tertutup, pada saat kuburan atau parit2 digali untuk mereka di pasar
utama kota. Ketika parit2 sudah selesai digali, Mahomet sendiri menjadi
saksi tragedi ini, dia memerintah para tawan dibawa ke hadapannya dalam
kelompok 5 – 6 orang. Setiap kelompok diperintahkan untuk berlutut di
tepi parit yang ditakdirkan untuk jadi kuburan mereka, dan lalu mereka
dipancung. Kelompok demi kelompok dibawa ke luar, dipancung dengan darah
dingin, sampai mereka semua habis dibantai. Seorang wanita juga
dipancung, karena dialah yang melempar batu di saat perang.”
Kejadian yang mengenaskan terjadi ketika Huyayy b. Akhtab, ketua kaum
Yahudi B. Nadir yang diasingkan, dibawa ke tempat pemancungan. Tabari
menuliskan pemancungan atas dirinya sebagai berikut:
‘Huyayy b. Akhtab, musuh Tuhan, dibawa ke luar. Dia mengenakan baju
berwarna merah yang robek2 sehingga tidak bisa diambil sebagai barang
jarahan, dan tangannya terikat dengan tali di sekitar lehernya. Ketika
dia melihat Rasul Allah, dia berkata, “Demi
Tuhan, aku tidak menyalahkan diriku karena memusuhimu, tapi barang siapa
yang meninggalkan Tuhan akan ditinggalkan.” Lalu dia berpaling
menghadap rakyatnya dan berkata, “Wahai orang2, tidak ada yang cacat
dalam perintah Tuhan. Itu tertulis dalam buku Tuhan (Alkitab),
PenghakimanNya, dan perang dengan pembantaian besar2an terhadap Anak2
Israel.” Lalu dia duduk dan dipancung.”
Hanya satu wanita dari B. Qurayzah dibunuh. Dia adalah istri Hasan
al-Qurazi [174] dan bersikap ramah terhadap Aisyah. Aisyah mengisahkan
tentang pemancungan itu sebagai berikut:
‘Hanya satu dari wanita2 yang dibunuh. Demi
Tuhan, dia ada bersamaku, bicara denganku dan tertawa tak terhankan saat
Rasul Allah membunuhi pria2 mereka di pasar, tatkala tiba2 ada suara
yang memanggil namanya, “Di mana orang ini dan ini?” Dia (wanita itu)
berkata, “Aku akan dibunuh.” “Mengapa?”, tanyaku. Dia berkata karena dia
melakukan kesalahan. Dia lalu dibawa dan dipancung. (Aisyah menambahkan:
aku tidak akan pernah melupakan rasa heranku akan keriangannya, bahkan
pada saat dia tahu dia akan dibunuh.)’ [175]
170 Tabari, vol viii, p.41
171 Ibn Ishaq, p.464
172 Tabari, vol viii, pp.35-36
173 Muir, vol. iii, p.276…
174 Dashti, p.91
Hadis Sahih Abu Daud, Book 14,
Number 2665:
Dikisahkan Aisha, Ummul Mu'minin:
Tidak ada wanita Banu Qurayzah yang dibunuh, kecuali seorang. Dia ada
bersamaku, bicara dan tertawa terbahak-bahak, ketika Rasul Allah
membunuhi orang2nya (wanita itu) dengan pedang. Tiba2 seorang pria
memanggil namanya: “Di mana si ini dan itu?” Dia berkata: “Aku di sini.”
Aku bertanya:”Ada apa denganmu?” Dia berkata:”Aku berbuat sesuatu.”
Orang yang lalu membawanya pergi dan memancungnya. Aku tidak akan pernah
lupa bagaimana dia tertawa terpingkal-pingkal meskipun dia tahu dia akan
dibunuh.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, wanita Yahudi malang ini
membunuh satu tentara Muslim dengan melemparkan batu ke atas kepalanya
sewaktu Rasul Allah mengepung benteng B. Qurayzah. Ada pula kisa seorang
Yahudi tua bernama Az-Zabir. Az-Zabir menyelamatkan nyawa seorang Muslim
yang bernama Thabit b. Qays di perang Bu’at. Sekarang ketika giliran
Az-Zabir akan dipancung. Thabit b. Qays meminta Muhammad untuk
menyelamatkan nyawa orang tua ini dan keluarganya sebagai balas budi.
Muhammad ragu2 tapi mengabulkan permintaan ini. Az-Zabir lalu menanyakan
Thabit b. Qays tentang nasib ketua2 Yahudi seperti Ka’b b. Asad dan
Huayy b. Akhtab, karena Az-Zabir lebih memilih mati daripada hidup tanpa
mereka. Az-Zabir berkata, “Kalau begitu aku meminta padamu sebagai balas
jasa pertolonganku padamu agar aku bisa bergabung dengan orang2 dari
sukuku, karena demi Tuhan, tiada lagi gunanya hidup ini tanpa mereka
semua. Aku tidak akan menunggu dengan sabar akan (waktu) Tuhan, tidak
pula akan menunggu waktu (yang dibutuhkan) ember penuh selesai diisi
air, sampai aku bertemu dengan orang2 yang kukasihi.” [176]
Maka Thabit membawanya ke muka dan Az-Zabir pun dipancung. Ketika Abu
Bakr mendengar apa yang dikatakan orang tua itu sebelum dipancung, dia
berkata, “Dia akan bertemu mereka semua, demi Tuhan, di Gehenna
(neraka), tempat mereka tinggal untuk selama-lamanya.” [177]
175 Ibn Ishak, pp.464-465
176 Tabari, vol.viii, p.37
177 ibid
Muhammad memerintahkan semua pria Yahudi yang sudah punya bulu kemaluan
untuk dibunuh. Seorang anak laki Yahudi minta perlindungan kepada
seorang wanita Muslim yang bernama Salma bt. Qays. Salma minta agar
Muhammad mengampuni anak Yahudi ini. Dikabarkan bahwa Muhammad
mengabulkan permintaannya.
Hadith Sahih Sunaan Abu Dawud
Book 38, Number 4390:
Dikisahkan oleh Atiyyah al-Qurazi:
Aku termasuk diantara tawanan Banu Qurayzah. Mereka (orang2 Muslim)
memeriksa kami, dan orang2 yang sudah tumbuh bulu kemaluannya dibunuh,
dan yang belum tidak dibunuh. Aku ada diantara mereka yang belum tumbuh
bulu kemaluannya.
Mohon diingat bahwa pengisah Hadis ini , Atiyyah al-Qurazi, mungkin
adalah adik laki yang masih sangat muda dari Hasan al-Qurazi, orang
Yahudi yang dipancung.
Setelah selesai memancung semua pria dewasa kaum Yahudi B. Qurayzah,
sang Nabi yang penuh pengampunan ini lalu menyibukkan dirinya dengan
membagi-bagi barang jarahan milik orang Yahudi. Dia membagi-bagi
kekayaan, para istri dan anak2 B. Qurayzah diantara para pengikutnya.
Tidak perlu diceritakan lagi bahwa tentunya dia tidak lupa akan Khums
(seperlima barang jarahan) bagi dirinya sendiri.
Aturan pembagian barang jarahan sedikit berubah. Pengendara kuda
menerima tiga upah: dua untuk kudanya dan satu untuk pengendaranya.
Jihadis yang jalan kaki dan tidak punya kuda menerima satu upah. Dari
barang jarahan pertamalah upah2 dibagikan dan Khums diambil. Ini
menyederhanakan aturan pembagian barang jarahan (fai) yang kemudian
diterapkan dalam penjarahan2 selanjutnya. Terdapat 36 pasukan berkuda
dalam serangan ini. Jika seseorang punya lebih dari dua kuda, dia tidak
akan menerima upah lebih daripada pemilikan dua kuda.
[Catatan: Fai adalah jarahan yang diambil dari daerah yang tunduk kepada
Islam tanpa perlawanan. [178]]
Setelah membantai semua pria dewasa Yahudi, Muhammad mengirim Sa’d b.
Zayd al-Ansari dengan beberapa tawanan (wanita dan anak2) dari B.
Qurayzah ke Najd untuk menjual para tawanan ini di pasar budak. Meskipun
tidak diketahui dengan persis berapa harga seorang budak wanita saat
itu, Ibn Sa’d [179] menulis bahwa Khadijah, istri pertama Muhammad,
membeli seorang budak baginya yang bernama Zayd b. Haritha (yang
nantinya jadi anak angkat Muhammad, tapi istrinya (Zainab) diembat sama
Muhammad itu lho) seharga 400 Dirham di pasar budak di Ukaz, Mekah. Di
Sunan Abu Daud kita baca bahwa harga seorang budak muda (laki atau
wanita) berkisar dari 500 sampai 800 Dirham, atau US$2.500 sampai US$
4.000 (lihat Sunan Abu Daud
nomer 3946 dan 4563). Jadi harga yang wajar bagi seorang budak
adalah sekitar US$2.500 dalam harga modern saat ini, dan ini adalah
harga yang cukup mahal. Kalau dikalikan dengan jumlah budak wanita dan
anak2, misalnya 1.000 orang, maka harga total adalah
US$ 2.500.000 (atau ¼ juta dollar U.S.).
Ini adalah uang yang besar sekali bagi
para teroris di jaman itu. Dari uang penjualan budak ini,
Muhammad membeli kuda2 dan persenjataan perang. Diantara para tawanan
wanita, Muhammad menemukan seorang gadis yang sangat cantik yang bernama
Rayhanh bt. ‘Amr b. Khunafah dan Muhammad mengambil gadis ini sebagai
gundiknya. Dikatakan bahwa Muhammad menawarkan Rayhanh untuk jadi
istrinya dengan memeluk Islam, tapi dia tidak mau. Dia memilih untuk
tetap jadi gundik saja daripada jadi Muslim.
Rayhanh berkata, “Rasul Allah, lebih baik aku
jadi gundikmu, karena ini lebih mudah bagiku dan bagimu.” [180]
Muhammad sangat sedih ketika Rayhanh menolak Islam dan lebih memilih
tetap sebagai orang Yahudi. Beberapa biografer lain menulis bahwa
akhirnya Rayhanh memeluk Islam.
178 Hughes Dictionary of Islam, p.114
179 Ibn Sa’d, vol.i, p.591
180 Tabari, vol.viii, p.39
Penjabaran tentang kekejaman Muhammad dan nafsunya akan daun muda
ditulis oleh Sir William Muir sebagai berikut:
‘Setelah memuaskan dendamnya, dan membanjiri
pasar dengan darah 800 orang korban, dan memerintahkan agar parit
ditutup dengan tanah, Mahomet meninggalkan ladang pembantaian untuk
menghibur dirinya sendiri dengan kejelitaan Rihana, yang suami dan sanak
saudara prianya baru saja dipenggal hari itu. Dia mengajaknya (Rihana)
untuk jadi istrinya, tapi dia menolak, dan lebih memilih untuk tetap
(memang setelah menolak untuk dinikahi, Rihana tidak punya pilihan lain
kecuali) jadi budak atau gundiknya. Rihana juga menolak untuk melakukan
Shahadat dan tetap memeluk agama Yahudinya, dan ini membuat sang Nabi
sangat gundah. Akan tetapi dikatakan di kemudian hari, Rihana akhirnya
mau memeluk Islam. Dia hidup bersama Mahomet sampai dia (Mahomet) mati.’
[181]
Setelah menyampaikan keputusannya, Sa’d dibawa kembali naik keledai ke
tendanya. Lukanya sangat parah. Dia berbaring menunggu kematiannya.
Muhammad segera datang menjenguknya. Dia berdoa pada Allah untuk
menyelamatkan nyawa Sa’d. Tapi kali ini Allah tidak menjawab doanya. Tak
lama kemudian, Sa’d mati. Mayatnya dibawa ke rumahnya dan setelah
sembahyang maghrib, dia dikuburkan. Tandu jenazahnya terasa ringan saat
diangkat. Muhammad mengaku bahwa para malaikat mengangkat tandu jenazah
Sa’d.
Jibril mengatakan pada Muhammad bahwa Sa’d B. Muadh sudah berada di
surga [182], dan berkata bahwa takhta Allah bergetar saat Sa’d B. Muadh
mati. Kita baca Hadinya:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5,
Book 58, Number 147:
Dikisahkan oleh Jabir:
Aku mendengar sang Nabi berkata, “Takhta (Allah) bergetar pada saat
kematian Sad bin Muadh." Melalui kelompok penulis lain, Jabir
menambahkan, “Aku mendengar sang Nabi berkata, “Takhta yang Mulia
bergetar karena kematian Sa’d bin Muadh."
Apakah yang Muhammad lakukan atas tanah2 kaum Yahudi B. Qaynuqa, B.
Nadir, dan B. Qurayzah? Dia menggunakan jarahan dari tanah B. Qurayzah
dan B. Nadir untuk mengambalikan pemberian (utang) yang diterimanya dari
kaum Ansar di Medina. Dia memberikan sebagian jatah jarahannya kepada
Umm Ayman, budak wanita yang mengurusnya saat dia masih bayi.
181 Muir, vol.iii, p.278
182 Ibn Ishaq, p.469
Hadis Sahih Muslim, Book 019,
Number 4376:
Telah dikisahkan oleh Anas bahwa (setelah
hijrah ke Medina) seseorang memberi sang Nabi beberapa kurma hasil dari
kebunnya sampai tanah2 Quraiza dan Nadir ditaklukkan. Lalu dia mulai
mengembalikan apapun yang diterimanya. (Karena itu) orang2ku mengatakan
padaku untuk menemui Rasul Allah dan meminta bagian dari apa yang
didapatnya dari para pengikutnya, tapi Rasul Allah menganugerahkan
pohon2 kurma itu untuk Umm Aiman. Lalu aku datang menghadap sang Nabi
dan dia memberikannya kembali padaku. Umm Aiman juga datang pada saat
itu. Dia menaruh kain di sekeliling leherku dan berkata, “Tidak, demi
Alah, kita tidak akan memberikan padamu yang telah dia (Muhammad)
berikan padaku.” Sang Nabi berkata, “Umm Aiman, biarkan dia memilikinya
dan untukmu adalah pohon2 yang ini dan itu sebagai gantinya.” Tapi dia
berkata, “Demi Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Tidak, tidak akan
pernah.” Sang Nabi terus berkata, “(Kamu akan mendapat) ini dan itu”
sampai dia (Umm Aiman) mendapat 10 kali lebih banyak daripada pemberian
awal.
Muhammad sekarang menjadi amat kuat secara militer dan menjadi warlord
(pemimpin militer suatu daerah) di Jazirah Arabia. Tidak perlu dikatakan
lagi, ini semua adalah hasil siasat terornya.
Silakan baca versi Islam tentang pembantaian kaum Yahudi B. Qurayzah:
[
http://forum.bismikaallahuma.org/viewtopic.php?t=956 ]
Bagian Sebelas
‘Kamu hidup di
sini, tapi aku hidup diantara para kafir. Ijinkan aku membersihkan
sebagian dosa2ku’ ---Ziad al-Jarrah [183]
Teror Tiga Puluh Empat
Perampokan Atas al-Qurata di Dariyaah oleh Muhammad ibn Maslama--July,
627 M
Para pembaca mungkin ingat nama Muhammad ibn Maslama. Dia adalah
pembunuh yang disewa untuk membunuh Ka’b b. al-Ashraf, penulis puisi
Yahudi (lihat Teror 17, Bagian 5). Sejak itu, Muhammad ibn Maslama jadi
orang yang sangat spesial bagi Muhammad, sang utusan Allah. Kapanpun
Muhammad butuh orang untuk melakukan pembunuhan, dia (Muhammad ibn
Maslama) adalah orang yang paling dipercaya untuk melaksanakan tugas
pembunuhan. Setelah puas atas kemampuan Muhammad ibn Maslama dalam
melaksanakan tugas Islam yang sempurna (via teror), maka Muhammad sang
Rasul Allah mengambil keputusan untuk menugaskannya melakukan pekerjaan
yang lebih menantang dan lebih menguntungkan, yakni (apa lagi kalau
bukan) melakukan penjarahan atau Ghanimah.
Maka dia mengirim Muhammad ibn Maslama, sang pembunuh bayaran, untuk
mengepalai 30 Jihadis [184] untuk mengepung dan merampok al-Qarata,
cabang dari suku Kilab yang tinggal di tempat bernama Dariyyah, sekitar
50 atau 60 mil dari Medina. Muhammad ibn Maslama berangkat di malam
hari, bersembunyi di siang hari, dan ketika tiba di Dariyyah, dia
menyerang suku al-Qurata secara tiba2, mengakibatkan kepanikan dan teror
diantara masyarakat suku tersebut. Dalam perampokan ini, pihak Muslim
membunuh 10 orang sedangkan yang lain melarikan diri tanpa melawan.
Barang jarahannya besar jumlahnya: 150 unta (sekitar US$52.000) dan
3.000 kambing (sekitar US$ 105.000) ditambah harta benda rumah tangga
(jumlahnya tidak disebutkan pasti, mungkin sekitar US$ 50.000). Muhammad
ibn Maslama terus melaksanakan penjarahan sampai 19 hari, lalu dia
kembali ke Medina membawa barang jarahan. Muhammad sang Rasul Allah
mengambil bagiannya (Khums, seperlima barang jarahan) dan
membagi-bagikan sisanya diantara pengikutnya. Seekor unta berharga sama
dengan 10 kambing. Pihak Muslim juga membawa seorang tawanan yang
merupakan murid Musaylamah, saingan Muhammad yang juga mengaku sebagai
utusan Allah. Muhammad sang Rasul Allah menuduh tawanan ini bekerja sama
dengan Musaylamah untuk membunuhnya. Dikatakan bahwa kemudian orang ini
akhirnya memeluk Islam. [185]
Teror Tiga Puluh Lima
Serangan Pertama Atas B. Thalabah di Dhu al-Qassah oleh Muhammad ibn
Maslama—July, 627 M
Setelah sukses melakukan beberapa perampokan, unta2 milik Muhammad jadi
bertambah banyak sekali. Dia mengirim unta2 ini untuk merumput di dekat
daerah Hayfa, [186] tempat yang jauhnya sekitar 7 mil dari Medina yang
punya ladang rumput yang subur. Karena kemarau terus-menerus di daerah
sekitarnya, suku B. Thalabah, yang merupakan bagian dari suku Ghatafan,
tampaknya ingin mencuri unta2 Muhammad. Muhammad merasa curiga atas
orang2 dari suku Thalabah, dan dia mengirim letnannya yang terpercaya,
Muhammad ibn Maslama dengan 10 orang untuk merampok di daerah Dhu
al-Qassah tempat tinggal B. Thalabah. Mereka melakukan perjalanan di
malam hari dari Medina. Orang2 B. Thalabah sudah mendengar akan rencana
penyerangan ini, jadi mereka bertiarap di tanah menunggu tentara Muslim.
Ketika akhirnya Muhammad ibn Maslama dan tentaranya tiba di daerah
tujuan, 100 orang B. Thalabah menyerang mereka pada saat tentara Muslim
sedang bersiap-siap untuk tidur. Setelah pertempuran singkat, orang2 B.
Thalabah berhasil membunuh semua tentara Muhammad ibn Maslama. Dia
sendiri terluka parah di pergelangan kakinya dan dia tidak bisa
bergerak. Dia ditinggalkan di tempat itu untuk mati. Seorang Muslim yang
kebetulan lewat tempat itu menemukannya dan membantunya kembali ke
Medina.
183 Masterminds of Terror, p.128; Ziad was a 9/11 terrorist
184 Mubarakpuri, p.382
185 Mubarakpuri, p.382
186 Ibn Sa’d, vol.ii, p.106
Teror Tiga Puluh Enam
Serangan Kedua Atas B. Thalabah di Dhu al-Qassah oleh Ubayda b.
al-Jarrah—August, 627M
Ketika Muhammad sang Rasul Allah mendengar tentang peristiwa ini (Teror
35), dia segera mengirim 40 tentara bersenjata lengkap di bawah pimpinan
Abu Ubayda b. al-Jarrah untuk menghukum orang2 B. Thalabah. Kelompok
tentara ini tiba di Dhu al-Qassah sebelum subuh. Begitu sampai, mereka
segera menyerang penduduk suku itu yang akhirnya melarikan diri ke
gunung2. Tentara Muslim mengambil ternak2, pakaian2 mereka dan menangkap
seorang tawanan. Mereka membawa barang jarahan kepada Muhammad. Setelah
mengambil bagiannya, dia membagi-bagikan sisanya kepada para
pengikutnya. Tawanan itu akhirnya memeluk (mungkin dengan paksa) Islam
dan Muhammad membebaskannya.
Teror Tiga Puluh Tujuh
Perampokan Atas B. Asad di al-Ghamr oleh Ukkash b. Mihsan—August, 627M
Muhammad mengirim 40 Jihadis di bawah pimpinan Ukkash b. Mihsan untuk
menjarah daerah al-Ghamr (dekat perbatasan Syria), daerah mata air milik
B. Asad b. Khuzaymah. Ketika Ukkash tiba di daerah itu, masyarakat B.
Asad sudah melarikan diri. Para Jihadis merampas ternak mereka, termasuk
200 ekor unta (berharga sekitar US$70.000) dan membawanya ke Medina.
Mereka juga menangkap seorang pengintai yang kemudian mereka bebaskan.
Teror Tiga Puluh Delapan
Penyerangan Kedua Atas Banu Lihyan di Ghiran by Muhammad —September,
627M
Enam bulan setelah pembantaian B. Qurayza, Muhammad pergi untuk membalas
dendam kepada kaum B. Lihyan yang membunuh orang2nya yakni Khubayb b.
Adi dan Zayd b. al-Dathinnah (lihat Teror 25, Bagian 7) di al-Rajii.
Setelah dapat bertahan di perang Parit dan membersihkan ras Yahudi B.
Qurayzah, Muhammad merasa dia kuat secara militer untuk melakukan
pembalasan dendam atas suku ini.
Dia memilih 200 tentara berunta dan berkuda. Untuk menipu dan mengadakan
serangan mendadak yang mengejutkan musuh, dia pura2 bergerak ke utara ke
arah Syria. Setelah bergerak sebentar ke arah utara dan ketika dia sudah
merasa aman bahwa baik pihak Quraish atau daerah tetangga tidak sadar
akan tujuan aslinya, dia tiba2 bergerak ke arah kiri dan menuju jalur
langsung ke Mekah yang akhirnya ke kota Ghiran, tempat tinggal suku B.
Lihyan. Tapi masyarakat B. Lihyang sudah tahu niat Muhammad, dan begitu
mereka melihat tentara Muslim, mereka melarikan diri ke puncak2 gunung
sambil membawa ternak mereka untuk menghadapi tentara Muslim. Muhammad
mengirim orang2nya untuk melacak jejak masyarakat B. Lihyan, tapi tidak
dapat menemukan apa2.
Setelah gagal menyerang B. Lihyan secara tiba2 dan teror, Muhammad
merasa frustasi. Supaya perjalanan tidak sia2, dia pikir dia perlu
menakut-nakuti orang2 Mekah dengan mendekati Mekah dan memamerkan
kekuatan militernya yang baru. Lalu dia pergi dengan 200 tentaranya dan
berhenti di Usfan. Di Usfan, dia mengirim 2 tentara berkuda menuju
Mekah. Mereka tiba di Kuraul Ghamin dan lalu kembali ke Usfan. Kemudian
Muhammad balik ke Medina. Ibn Sa’d [187] menulis bahwa Muhammad mengirim
Abu Bakr dan 10 tentara berkuda ke Mekah untuk meneror mereka.
Teror Tiga Puluh Sembilan
Perampokan Atas Unta Perah Milik Muhammad di al-Ghabah oleh Uyana b.
Hisn—September, 627M
Beberapa hari setelah Muhammad kembali ke Medina setelah gagal merampok
B. Lihyan, sekelompok orang bersenjata Ghatafan dipimpin oleh Uyanah b.
Hisn menyerang daerah pinggir kota. Mereka merampok [188] 20 unta perah
milik Muhammad yang sedang merumput di daerah al-Ghabah. Mereka juga
membunuh gembala unta dan mengambil istrinya sebagai tawanan. Seorang
Muslim bernama Amr ibn al Akwa melihat perampokan ini dan dibawanya
unta2 tsb. Dia menembakkan panah2 pada mereka dan minta pertolongan.
Muhammad mendengar permintaan tolongnya yang menyiagakan orang2 Medina.
Teror Empat Puluh
Penyerangan Kedua Atas Ghatafan di Dhu Qarad oleh Sa’d b.
Zayd/Muhammad—September, 627M
Ketika Muhammad mendengar untanya dirampok di al-Ghabah oleh Uyanah b.
Hisn, dia segera mengirim 500 tentara di bawah pimpinan Sa’d b. Zayd
untuk mencari dan menghabisi Uyanah b. Hisn dan orang2nya. Dia
mengatakan pada mereka bahwa dia akan menjumpai mereka tak lama
kemudian. Tentara Muslim berjumlah jauh lebih banyak daripada para
perampok. Mereka mengejar dan mendapatkan para perampok sedang
beristirahat di lembah Dhu Qarad. Setelah satu atau dua hari, Muhammad
menyusul orang2nya dan berhenti di lembah Dhu Qarad untuk bergabung
dengan para tentara Muslim. Setelah itu mereka menyerang orang2 B.
Ghatafan dan membunuh beberapa perampok dan mendapatkan kembali unta2
mereka. Di pertempuran ini, anak Uyanah yang bernama Abd al-Rahman
dibunuh. Tentara Muslim hanya kehilang seorang tentara. Dia adalah anak
laki Abu Dhar Ghifari, salah satu panglima perang Muhammad yang paling
dipercaya. Tentara Muhammad mengejar para perampok sampai jauh ke
Khaybar. Setelah menang bertempur, mereka membebaskan tawanan wanita dan
mengambil persenjataan kaum perampok sebagai barang jarahan. Kemudian
Muhammad tinggal di Dhu Qarad selama sehari semalam, dan lalu kembali ke
Medina dengan unta2 yang berhasil dirampas kembali.
187 Ibn Sa’d, vol.ii, p.97
188 Ibn Sa’d, vol.ii, p.99
Bersambung ke:
Akar
Terorisme Islam 2
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |