|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
BUKTI
QUR’AN ADALAH KARANGAN MUHAMMAD
oleh:
Adadeh (Faithfreedom)
Bukti2 bahwa Mamat hanya ngarang
Qur’an bisa dilihat dari:
-
Ide2 dan Doktrin2 dalam
Qur’an:
-
Kisah2 dan Legenda2 dalam
Qur’an
Ide2 dan Doktrin2 dalam Quran:
Kata2 agama Yahudi dalam Qur’an:
-
Tabut –
kata yang berakhiran –ut merupakan kata asli agama Yahudi karena
tiada kata Arab asli yang berakhiran –ut.
-
Torah (Taurat) – wahyu illahi bagi kaum
Yahudi
-
Jannatu And – surga, taman Eden
-
Jahannam (Gehinnom) – Neraka (berasal dari
kata Lembah Hinnom tempat munculnya penyembahan berhala, sehingga
kemudian kata Hinnom diartikan sebagai Neraka)
-
Ahbar – guru
-
Darasa – untuk mengerti maksud asli naskah
agama melalui penyelidikan yang persis dan seksama
-
Rabbani – guru
-
Sabt – hari peristirahatan (Sabbath)
-
Sakinat – kehadiran Tuhan
-
Taghut – kesalahan
-
Furqan – penebusan, penyelamatan
-
Maun – pengungsi
-
Masani – pengulangan
-
Malakut – pemerintahan, hukum Tuhan
Pengambilan kata2 Yahudi merupakan bukti jelas bahwa kang
Mamat tidak sanggup mencari kata yang tepat dalam bahasa Arab. Selain
itu, Qur’an sarat dengan kata2 Aramaik dan Syria dan ini juga
menyiratkan pencurian ide2 agama. Misalnya kata2 Swat (bencana), Madina,
Masjid (tempat ibadah), Sultan, Sullam (tangga), Nabi.
Pandangan tentang Doktrin2 Islam
Doktrin
utama Islam juga dipinjam dari agama Yudaisme, dan ini beberapa contoh
yang paling jelas:
KEESAAN TUHAN
Seperti yang telah ditulis dalam sejarah,
keesaan Tuhan merupakan hal yang baru bagi kaum pagan Arabia. Meskipun
begitu paham Tuhan yang esa dari Yudaisme yang tak kenal kompromi begitu
mempesona Muhammad sehingga akhirnya dia pun berkhotbah tentang Tuhan
yang Esa.
WAHYU YANG DITURUNKAN
Ide bahwa Allah membimbing dan menolong umat
manusia melalui wahyu yang ditulis oleh orang2 yang dipilih Tuhan adalah
hal utama bagi penciptaan agama Muhammad. Secara terus terang dia kagum
atas kaum Yahudi terpelajar yang punya pengetahuan sangat dalam tentang
agamanya. Ini diungkapkannya di ayat 6:20 yang bunyinya “Mereka mengerti
Kitab bagaikan mengerti anak mereka sendiri!” Dia mengambil keputusan
untuk punya buku Arab yang harus dihafal dan dimengerti pengikutnya
dengan cara yang sama kaum Yahudi mengenal kitab suci mereka. Akhirnya
si Mamat menggombal bahwa Qur’an adalah buku jiplakan dan buku yang asli
ada di surga (85:22). Ide ini diambil dari Pirke Aboth volume 6 yang
juga mengatakan bahwa terdapat meja2 surgawi yang bertuliskan hukum2.
PENCIPTAAN
Ide Muhammad tentang penciptaan sudah jelas
diambil dari Keluaran 20:11 dan ini tampak di Q 50:38 yang
berbunyi “Dan sesungguhnya telah Kami
ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam
masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” Di surah2
lainnya, Qur’an menyatakan bumi dibentuk dalam waktu dua hari (Q
41:9-11).
TUJUH SURGA, TUJUH NERAKA
Qur’an sering menyebut tentang tujuh surga
(2:29; 41:12, 65:12), dan hal serupa juga ditemukan di Chegiga 9:2.
Di dalam Qur’an, neraka punya tujuh pintu
Q 15:44
Jahannam itu
mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan
yang tertentu dari mereka.
Dan hal yang sama juga terdapat di
Zohar 2:150
Kitab Zohar (Yudaisme
זהר
"Splendor, radiance") dianggap sebagai kitab yang paling penting dalam
Kabbalah (Yudaisme mistik)
Hal
neraka punya tujuh pintu ini bisa dilacak jauh kembali ke belakang, ke
sumber Indo-Iran, karena dalam kitab suci agama Hindu dan Zoroastria
terdapat pula keterangan tujuh surga dan tujuh neraka. Di Sura 11:7 kita
baca bahwa takhta Allah terapung di atas air.
Q11:7
Dan Dia-lah yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya
(sebelum itu) di atas air, ….
Bandingkan ini dengan Kejadian 1:2
Bumi belum
berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya, dan Roh Allah
melayang-layang di atas permukaan air.
Di sura 43:77 kita baca Malik
adalah penjaga neraka yang mengatur penyiksaan terhadap orang2 berdosa
Q 43:77
Mereka berseru:
"Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab:
"Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)".
Hal serupa tampak pada kepercayaan Yudaisme
tentang Pangeran Kegelapan. Nama Malik sudah jelas diambil dari
nama Dewa Api bangsa Amalek yakni Molekh yang dinyatakan di
Letivicus, 1 Raja2, dan Yeremia.
Di Sura 7:46 tertulis pembatas surga dan
neraka bernama A’raaf
Q 7:46
Dan di antara
keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf itu
ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan
tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun
'alaikum". Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera
(memasukinya).
Bandingkan ini dengan Midrash Yahudi di
Eklesia 7:14
“Berapa besarnya
ruangan antara surga dan neraka? Rabbi Jokhanan berkata terdapat sebuah
tembok, Rabbi Akha berkata terdapat sebuah sekat; guru2 mereka
menyatakan bahwa keduanya terletak sangat berdekatan sehingga orang2
dapat saling melihat dari tempat mereka berada.”
Hal serupa juga dinyatakan di agama Zoroastria:
“Jaraknya seperti
antara gelap dan terang.”
Ayat
Qur'an 50:30 dinyatakan:
Suatu Hari Kami
akan bertanya pada Neraka,”Apakah kau sudah penuh?” Ia menjawab,”Apakah
masih ada tambahan lagi (yang datang)?”
Di buku Othioth Derabbi Akiba 8:1 tertulis:
“Pangeran Neraka
akan berkata, hari demi hari, berikan makanan sampai aku kenyang.”
Perihal sulitnya masuk ke Surga, para Rabbi
Yudaisme menggambarkannya bagaikan sulitnya gajah masuk ke lubang jarum,
sedangkan Q 7:40 menyatakan unta masuk ke lubang jarum.
Q 7:40
Sesungguhnya
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri
terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu
langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang
jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang
berbuat kejahatan.
Bandingkan dengan perkataan Yesus di Matius
19:24
Sekali lagi Aku
berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum
dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Juga Markus 10:25 dan Lukas 18:25
Menurut Talmud, anggota badan manusia akan
bersaksi tentang diri manusia itu sendiri (Chegiga 16, Taanith 11). Satu
pasal menyebut, “Anggota2 tubuh manusia
akan bersaksi tentang dirinya, karena telah dikatakan: ‘Dirimulah
sendiri yang akan menjadi saksiKu, kata Tuhan’”.
Sekarang bandingkan dengan Q 24:24
pada hari
(ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka
terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
Ayat Qur’an 22:47 menyatakan:
Dan mereka meminta
kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan
menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti
seribu menurut perhitunganmu.
Bandingkan dengan ini:
Mazmur 90:4
Sebab di mata-Mu
seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti
suatu giliran jaga di waktu malam.
HUKUM MORAL DAN IBADAH
Ada aturan moral dari Talmud yang dipinjam oleh
Muhammad. Anak2 tidak perlu menuruti nasehat orangtuanya jika orang tua
mereka menginginkan sang anak untuk melakukan kejahatan. Ini terdapat di
Jebhamoth 6 dan di Q 29:8.
Tentang makan dan minum saat puasa di bulan
Ramadhan, Q 2:187 menyatakan
Dihalalkan bagi
kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu;
mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.
Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu
Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang
campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu,
dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,
(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam
mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya
mereka bertakwa.
Di Mishnah Berachoth 1:2 tertulis bahwa
doa Shema dilakukan “pada saat seseorang
dapat membedakan benang biru dengan benang putih”.
Q 4:46 menyatakan bahwa Muslim tidak
boleh sembahyang jika mereka mabuk, habis be’ol, atau menyentuh wanita.
Q 4:46
Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk,
sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri
mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu
saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir
atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan,
kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah
yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pema'af lagi Maha Pengampun.
Larangan2 yang sama bisa dilihat di Berachoth
31:2 dan 111:4 dan Erubin 64.
Shalat dapat dilakukan pada saat berdiri,
berjalan atau bahkan sedang mengendarai. Hal ini tertulis di
Berachoth 10 dan dipinjam Muhammad di Q 2:239, 3:39
dan 10:89.
Q 2:239
Jika kamu dalam
keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau
berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah
(shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang
belum kamu ketahui.
Ketaatan melakukan ibadah tidaklah mutlak jika
dalam keadaan terjepit, dan hal ini tidak dianggap dosa. Pesan ini
tercantum di Mishnah Berchoth 4:4 dan Q 4:102 pun
menyatakan hal yang sama.
Q 4:102
Dan apabila kamu
berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan
shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka
berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila
mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka'at),
maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)
dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu
bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap
senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.
Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu
mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit;
dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang
menghinakan bagi orang-orang kafir itu.
Aturan wudhu di Q 5:6 sama dengan aturan
membersihkan diri di Berachoth 46
Q 5:6
Hai orang-orang
yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah,
dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang
air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi
Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur.
Di Q 5:6 tercantum bahwa jika tidak ada
air hendaklah bersihkan diri dengan tanah. Talmud Berachoth 46
menyatakan bahwa “orang dapat membersihkan diri dengan tanah”.
Q 17:110 menyatakan bahwa sembahyang
tidak boleh dilakukan dengan suara yang keras. Aturan yang sama
tercantum di Berachoth 31:2.
Q 2:228 menetapkan masa tunggu selama 3
bulan sebelum wanita yang baru bercerai dapat menikah lagi. Misha
Jabhamoth 4:10 menyatakan hukum yang persis sama.
Hukum nikah di Q 2:221 serupa dengan
Talmud Kethuboth 40:1.
Baik Islam maupun Yudaisme menuntut wanita untuk
menyusui bayinya sampai usia 2 tahun. Ini tertera di Q 31:14,
2:233 dan di Kethuboth 60:1.
Doktrin2 lain yang dipinjam Muhammad dari agama
Yudaisme adalah kebangkitan orang2 mati, baik yang beriman atau tidak
beriman. Hal ini sudah disebut di Daniel 12:2.
Daniel 12:2
Dan banyak dari
antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun,
sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami
kehinaan dan kengerian yang kekal.
Juga doktrin tentang Hari Akhir yakni yom dina
rabba, ketika kitab penghakiman dibuka, dan setiap orang akan dihakimi.
Hadiah surga, taman dan hukuman neraka, dengan api membara di Gehinnam;
ini semua berasal dari agama Yahudi yang kemudian dilebih-lebihkan di
dalam imajinasi Muhammad yang memang sudah rada miring sejak awal.
Doktrin2 tentang malaikat dan roh2 jahat; terutama yang disebut sebagai
Iblis, dan juga Gabriel, sang malaikat penyampai wahyu. Muhammad
tampaknya sangat terpesona dengan bab pertama kitab Kejadian, dan ini
bisa dilihat dari banyaknya ruang dalam Qur’an yang menerangkan
penciptaan surga dan bumi, manusia dan berbagai benda2 di alam raya.
KISAH2 DAN
LEGENDA2
Tampaknya sejak kecil Muhammad doyan
mendengarkan dongeng2 Yahudi yang tercantum di Talmud, Targum dan
Midrash. Karena ngebetnya punya versi dongeng miliknya sendiri, Muhammad
tidak segan2 mengambil nama para tokoh dari kisah asli Yahudi dan
memasukkannya ke dalam Qur’an
Aaron menjadi Harun
Abel menjadi Habil
Abraham menjadi Ibrahim
Adam tetap sebagai Adam
Kain menjadi Qabil
David menjadi Daud
Elias menjadi Ilyas
Elijah menjadi Alyasa
Enoch menjadi Idris
Ezra menjadi Uzair
Gabriel menjadi Jibril
Gog menjadi Yajuj
Goliath menjadi Jalut
Isaac menjadi Ishaq
Ishmael menjadi Ismail
Jakob menjadi Yakub
Job menjadi Aiyub
Jonah menjadi Yunus
Joshua menjadi Yusha’
Joseph menjadi Yusuf
Korah menjadi Qarun
Lot menjadi Lut
Magog menjadi Majuj
Michael menjadi Mikail
Moses menjadi Musa
Noah menjadi Nuh
Pharaoh menjadi Firaun
Saul menjadi Talut
Salomo menjadi Sulaiman
Terah menjadi Azar
Kisah2 Alkitab Perjanjian Lama yang dicatut
dalam Qur’an adalah sebagai berikut:
Aaron dan kisah patung lembu --> Q 20:90
Kain dan Abel --> Q 5:30
Abraham dikunjungi malaikat2 --> Q 11:69, 15:51
Adam jatuh dalam dosa --> Q 7:18, 2:37
Korah dan rekan2nya --> Q 28:76, 29:38, 40:25
Penciptaan dunia --> Q 16:3, 13:3, 35:1,12
David memanjatkan pujian bagi Tuhan --> Q 34:10
Air bah --> Q 54:9; 69:11; 11:42
Jacob pergi ke Mesir --> Q 12:99
Jonah dan ikan besar --> Q 6:86; 10:98; 37:139;
68:48
Sejarah Joseph --> Q 6:84; 12:1; 40:86
Roti manna dan burung puyuh ŕ Q 7:160; 20:82
Moses memukul batu --> Q 7:160
Bahtera Noah --> Q 11:40
Pharaoh --> 2:49; 10:75; 43:46;
40:24,26,s8,29,45
Keputusan Salomo --> Q 21:78
Ratu Sheba --> Q 27:29
Sudah jelas bahwa Muhammad berusaha membuat
“hubungan yang jelas dan tegas dengan agama2 Kitab (Yahudi dan Kristen),
terutama dari kitab2 suci Yahudi.” Karena Muhammad hanya mendengar saja
dan tidak terlalu banyak tahu agama Yahudi secara mendalam, banyak kisah
Yahudi yang dijiplaknya menjadi salah makna, salah kronologi, salah
nama, salah keturunan, pokoknya memalukan banget. Muhammad tahu urutan
raja2 Israel seperti Saul, David, dan Salomo, tapi dia payah abizz dalam
menerangkan urutan waktu munculnya tokoh seperti Elijah, Elisha, Job,
Jonah, dan Enokh. Muhammad juga tidak tahu banyak tentang sejarah
munculnya agama Kristen, kakek moyang Yesus dan para pengikut Yesus
(hanya Yohanes Pembabtis saja yang disebutnya). Muhammad membandingkan
Musa dengan Yesus, dan hal ini jelas menunjukkan bahwa dia mengira tak
lama setelah Musa menerima Taurat dari surga, Yesus pun menerima buku
ajaib serupa (Injil) dari surga. Kesalahpahaman ini tampak nyata pula
pada saat dia tertukar dalam menyebut nama Maria ibunda Yesus dengan
Miriam adik perempuan Musa dan Aaron. Hihihi… tobat, nabi palsu kurang
modal.
Muhammad salah kaprah pula dalam mengisahkan
waktu sejarah Salomo berkuasa sama dengan waktu nabi Noah masih hidup.
Muhammad menyebutkan bahwa Noah berusia 950 tahun ketika bencana air bah
terjadi (Q 29:14), padahal seharusnya usia Noah seluruhnya adalah
950 tahun (Kejadian 9:22). Muhammad juga bingung kapan saat Ham
anak Noah melakukan dosa, yang dinyatakan di Kejadian 9:22
terjadi setelah bencana air bah. Tidak dijelaskan oleh Muhammad mengapa
istri Noah dinyatakan sebagai orang berdosa. Dalam Qur’an juga terdapat
kebingungan Muhammad yang jelas antara Saul dan Gideon. Silakan
bandingkan Q 2:249 dengan Hakim2 7:5.
Q 2:249
Maka tatkala
Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan
menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum
airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya,
kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian
mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala
Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi
sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan
kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang
meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak
terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak
dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."
Hakim2 7:5
Lalu Gideon
menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya:
"Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat,
haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang
berlutut untuk minum.” Jumlah orang yang menghirup dengan membawa
tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari
rakyat itu semuanya berlutut minum air.
PENCIPTAAN ADAM
Dalam Q 2:30-33 kita baca:
Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat
lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar!"
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada
yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah
kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada
mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?"
Mari kita telusuri dari mana asal kisah ini.
Berfirmanlah
Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,
supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata
yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26)
Apakah manusia,
sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau
mengindahkannya? (Mazmur 8:5)
Apakah yang akan
menjadi keistimewaannya?
(tanya
para malaikat pada Tuhan - Adadeh)
Dia
(Tuhan -
Adadeh)
menjawab bahwa hikmahNya jauh melebihi
hikmah dirimu. Maka dibawaNya binatang ternak, binatang2, dan burung2 ke
hadapan mereka
(para
malaikat – Adadeh)
dan bertanya kepada mereka apa nama
mereka, tapi para malaikat tidak tahu. Setelah manusia diciptakanNya,
Dia membawa binatang2 itu ke hadapan manusia dan menanyakan nama2
binatang tersebut dan dia menjawab, ini adalah sapi, itu adalah keledai,
ini adalah kuda, dan itu adalah unta. Tapi siapakah namaku? Aku
sejadinya dipanggil sebagai tanah bumi, karena dari bumilah aku
diciptakan (Midrash Rabbah di Leviticus, Parashah 19, dan
Kejadian, Parashah 8; dan Sanhedrin 38).
Berbagai sura Qur’an juga menyatakan Allah
memerintahkan para malaikat memberi hormat kepada Adam (7:10-26;
15:29-44; 18:50; 20:116). Semua malaikat tunduk dan memberi hormat
kepada Adam kecuali Setan. Dan ini sama dengan yang tercantum dalam
Midrash dari Rabbi Moses.
KAIN DAN HABIL
Gaya cerita Muhammad yang amburadul seringkali
meninggalkan pesan utama yang tertulis dalam kitab suci Yahudi. Hal ini
tampak jelas dalam kisah Kain dan Habil yang tercantum di Q 5:31,32
Q 5:31
Kemudian Allah
menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan
kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku
ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.
Q 5:32
Oleh karena itu
Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia
telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka
rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas,
kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui
batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
Tidak tampak jelas hubungan antara Q 5:31
dengan Q 5:32 karena memang keterangan yang menghubungkannya
telah dihilangkan. Hubungan ini baru jelas kalau kita membaca Mishna
Sanhedrin 4:5 yang berbunyi:
Kita dapatkan dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Kain terhadap
adiknya: suara tangisan darah adikmu. Di sini tidak dinyatakan darah
sebagai hal yang tunggal, melainkan hal yang majemuk yakni darahnya
sendiri dan darah benih keturunannya.
Manusia diciptakan sebagai makhluk tunggal untuk menjelaskan padanya
bahwa siapa yang membunuh seseorang, hal itu bagaikan membunuh seluruh
keturunan manusia; tapi orang yang memelihara nyawa seseorang berarti
memelihara seluruh keturunan manusia.
Tanpa penjelasan kata2 yang ditebalkan, maka
sukar melihat hubungan antara Q 5:31 dan 5:32, sehingga
pesannya jadi kabur dan tidak tajam.
Karena
butuh banyak sumber untuk membuat agama barunya, Muhammad pun tak
menolak ide2 cerita yang berasal dari agama Zoroastria dari Persia.
Kitab suci Zoroastria bernama Hadhoxt Nask. Masyarakat
Arab banyak berhubungan dengan masyarakat Persia untuk keperluan
perdagangan. Banyak kata Persia yang terserap ke dalam perbendaharaan
kata Arab. Salah satu contoh pengaruh Persia dalam Islam yang paling
jelas tampak pada kisah Isra Miraj
yang ditulis di
Hadis Sahih Bukhari, Volume 9, Book 93,
Number 608.
Hadisnya panjang sekali, silakan baca sendiri.
Ini versi pendeknya yang ditulis oleh Tisdal, W., “Original Sources of
Islam”, hal. 78
Muhammad berkata:
Jibril menaikkanku ke atas Buraq yang kemudian
membawaku naik ke surga lapisan terbawah. Jibril meminta gerbang pintu
dibuka. “Siapakah itu?” tanya sebuah suara. “Ini adalah Jibril.”
“Siapakah yang datang bersamamu?” “Ini adalah Muhammad.” “Apakah dia
dipanggil?” “O iya!” jawab Jibril. “Kalau begitu persilakan dia masuk;
sungguh bagus dia telah datang ke sini.” Dan dengan begitu pintu gerbang
dibuka. Silakan masuk, kata Jibril, Ini adalah ayahmu Adam, beri salam
padanya. Maka aku memberi salam padanya, dan dia pun membalas salamku
sambil berkata “Selamat datang wahai Nabi yang hebat.” Lalu Jibril
membawaku ke surga tingkat dua, dan lihat ada Isa A.S. Di surga tingkat
tiga terdapat Yusuf; di surga tingkat empat terdapat Idris (Enokh); di
surga tingkat lima terdapat Harun; dan di surga tingkat enam terdapat
Musa. Setelah Musa membalas salam dariku, dia menangis dan menerangkan
sebabnya mengapa dia menangis: “Aku menangis karena lebih banyak
pengikutmu yang masuk surga dibandingkan pengikutku.” Lalu kami menuju
ke surga ke tingkat tujuh. “Ini adalah ayahmu Abraham,” kata Jibril, dan
pertukaran salam pun terjadi seperti sebelumnya. Akhirnya kami sampai ke
bagian akhir di mana terdapat buah2an yang indah dan dedaunan seperti
kuping gajah. “Ini,” kata Jibril, “adalah surga yang terakhir; dan
lihat! Ada empat sungai, dua di dalam, dan dua di luar.” “Apakah ini,
wahai Jibril” tanyaku. Yang di dalam, katanya adalah sungai2 surgawi,
dan yang di luar adalah sungai Nil dan Eufrata.
Kisah Isra Miraj ini dapat dibandingkan dengan
kitab Pahlavi (bagian dari ajaran Zoroastria dari Persia Tengah)
yang berjudul Arta (atau juga disebut Artay) Viraf yang
ditulis ratusan tahun sebelum Muhammad
menciptakan Islam (Tisdal, hal. 80). Pendeta2 Zoroastria
merasa iman mereka berkurang sehingga mereka mengirim Arta Viraf ke
surga untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sana. Arta mengunjungi
setiap lapisan surga dan akhirnya kembali ke bumi untuk memberitahu
pengikutnya apa yang telah dia lihat:
Tempat pertama yang
kami kunjungi adalah surga lapisan terbawah;… dan di sana kami melihat
Malaikat yang diberi Sang Maha Suci cahaya yang menyala, indah, dan
agung. Dan aku bertanya kepada Sorash yang suci dan Azar sang malaikat:
“Tempat apakah ini, dan siapakah mereka itu? “[Arta juga kemudian naik
ke surga lapisan ke dua dan ke tiga.] “Bangkit dari singgasananya yang
berlapiskan emas, Bahman sang Malaikat Penghulu membimbingku, sampai
dirinya dan aku bertempu Ormazd bersama kawanan malaikat dan pemimpin2
surgawi, semua bercahaya sangat kemilau dan aku belum pernah melihat hal
ini sebelumnya. Pemimpinku berkata: Ini adalah Ormazd. Aku memberi salam
kepadanya, dan dia berkata dia gembira menyambutku dari dunia fana ke
tempat yang terang dan sempurna…. Akhirnya, kata Arta, pengantarku dan
sang Malaikat yang bercahaya selesai menunjukkan surga padaku dan mereka
lalu membawaku untuk melihat neraka; dan dari tempat yang gelap dan
mengerikan itu, mereka membawaku ke atas ke tempat indah di mana
terdapat Ormazd dan kawanan malaikatnya. Aku ingin memberi salam
padanya, tapi Ormazd dengan anggunnya berkata: Arta Viraf, kembalilah ke
dunia fana, kau telah melihat dan mengenal Ormazd, karena akulah dia;
aku mengenal siapapun yang jujur dan bajik.

Selain ceritanya sama, coba lihat gambar Buraq
yang ditunggangi Muhammad. Buraq ini jelas merupakan tiruan dari Gyphron
(binatang dongeng dari Assyria).
Dalam
Hadis Isra Miraj
Hadis Sahih Bukhari, Volume 9, Book
93, Number 608 tercantum bagian ini:
Diantara hal2 yang
Allah sampaikan pada dirinya adalah: “Lima puluh kali sembahyang harus
dilakukan pengikutnya setiap hari dan malam.”
Lalu Muhammad pergi sampai dia bertemu Musa, dan
lalu Musa bertanya padanya, “Wahai Muhammad! Apa yang kau dengar dari
Tuhan?” Sang Nabi menjawab, “Dia menyuruhku sembahyang lima puluh kali
sehari dan semalam.” Musa berkata, “Pengikutmu tidak bisa melakukan hal
itu. Kembalilah pada Tuhan dan semoga Dia menguranginya bagimu dan
pengikutmu.” Maka sang Nabi kembali ke Jibril untuk membicarakan hal ini
dengannya. Jibril mendengar pendapat Muhammad dan lalu berkata,
“Baiklah, seperti yang kau kehendaki.” Maka Jibril membawanya (Muhammad
– Adadeh) menghadap Yang Maha Kuasa dan berkata lalu dia berkata, “Wahai
Tuhan, mohon peringan bebanku karena pengikutku tidak mampu melakukan
hal itu.” Lalu Allah menguranginya menjadi sepuluh kali sembahyang dan
sewaktu dia kembali dia bertemu dengan Musa lagi yang menghentikannya
dan mengirimnya kembali kepada Tuhan hingga jumlah perintah sembahyang
dikurangi sampai hanya lima kali sembahyang.
Tuhan mana yang tidak tahu bahwa tiada umat
manusia yang mampu melakukan 50 kali sembahyang setiap hari? Masakan
Tuhan harus diberitahu manusia dahulu baru bisa ngerti?
Anway, bandingkan tawar-menawar antara Muhammad
dengan Allah tentang jumlah sembahyang itu dengan tawar-menawar Abraham
dengan YHWH tentang Sodom dan Gomora di Kejadian 18:22-33.
Lalu berpalinglah
orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih
tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata:
"Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang
fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota
itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau
mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?
Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang
benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu
seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari
pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"
TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang
benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena
mereka."
18:27 Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah
memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.
Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah
Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?"
Firman-Nya: "Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di
sana."
Lagi Abraham melanjutkan perkataannya
kepada-Nya: "Sekiranya empat puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku
tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu."
Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau
aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?"
Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh
di sana."
Katanya: "Sesungguhnya aku telah memberanikan
diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?"
Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu."
Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau
aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?"
Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu."
Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai
berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
Muhammad juga tidak langsung menetapkan aturan
sembahyang 5 kali sehari bagi Muslim. Awalnya, Muhammad menentukan
dua kali sembahyang per hari. Lalu, seperti yang tercantum dalam
Qur’an, sembahyang ketiga ditambahkan menjadi sembahyang pagi hari
(sholat subuh), sembahyang malam hari (sholat magrib), dan sembahyang
diantara sholat subuh dan sholat magrib. Hal ini sama persis dengan
sembahyang yang dilakukan kaum Yahudi yakni shakharith, minkah,
dan arbith. Tapi setelah mengenal ajaran Zoroastria yang
mengharuskan umatnya melakukan sembahyang (gash) kepada Tuhan
mereka (Ahura Mazda) sebanyak lima kali sehari, Muhammad
tentunya tidak mau kalah sehingga dia dengan gampangnya mengadopsi
jumlah sembahyang per hari agama Zoroastria.
YUSUF
Jika kita bandingkan kisah Yusuf dalam Qur’an
dan versi aslinya di Midrash Yalqut dan Kejadian, maka tampak jelas ada
beberapa bagian kisah asli yang tidak disampaikan oleh Muhammad. Hal ini
mengakibatkan kisah Yusuf dalam Qur’an kurang jelas.
Istri Potifar (majikan Yusuf) mencoba menggoda
Yusuf. Pada awalnya, Yusuf menolak godaan tapi akhirnya dia hampir
menyerah kalau dia tidak melihat suatu penglihatan (vision) di
hadapannya. Dalam Qur’an tidak dijelaskan penglihatan apa yang dilihat
Yusuf. Akan tetapi di sumber aslinya yakni Sotah 36:2 tertulis:
“Rabbi Yokhanan
berkata, ‘Keduanya hendak melakukan dosa; dengan mencengkeram baju
Yusuf, dia
(istri
Potifar – Adadeh)
berkata,”Tidurlah denganku.” … Lalu muncul
di hadapannya
(Yusuf –
Adadeh)
penglihatan akan wujuh ayahnya di jendela
yang berkata padanya, “Yusuf! Yusuf! Nama2 saudara2mu akan dipahat di
atas batu Efod, juga namamu sendiri; apakah kau ingin namamu
dihapuskan?” ‘ “
Kisah lain tentang Yusuf dalam Qur’an juga tidak
akan jelas tanpa melihat dari sumber aslinya yakni Midrash Yalkut 146.
Kisahnya dimulai dari istri Potifar mengundang semua wanita yang
menertawakannya karena tergila-gila akan Yusuf. Para wanita tersebut
akhirnya melihat sendiri betapa gantengnya Yusuf sehingga tanpa sengaja
mereka memotong diri sendiri dengan pisau. Dalam Qur’an tidak dijelaskan
mengapa mereka memegang pisau. Tapi di Midrash Yalkut tertulis jelas
bahwa pisau itu digunakan untuk memotong dan memakan buah.
Dalam Qur’an tercantum bahwa Yakub berpesan pada
putra2nya untuk masuk pintu2 gerbang yang berbeda. Hal ini juga
tercantum pada Midrash Rabbah di Parashah 19:
“Yakub berkata
kepada mereka, jangan masuk satu pintu gerbang yang sama.”
Kisahnya berlanjut seperti ini:
Ketika piala ditemukan di dalam kantong milik
Benyamin, dia dituduh sebagai pencuri. Saudara2nya berkata,
“Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah
pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Komentar cerdik ini
dikatakan untuk menerangkan bahwa ada kemungkinan Yusuf sendiri yang
memasukkan piala itu ke dalam kantung Benyamin. Keterangan ini
dilengkapi dalam Midrash yang menjelaskan bahwa di masa lalu pun
ibu Benyamin telah pernah mencuri piala pula. Keterangan tentang kisah
ini bisa dibaca dalam riwayat Rakhel (ibu Benyamin) yang mencuri terafim
milik ayahnya di Kejadian 31:19-35.
Di kisah Yusuf lainnya dalam Qur’an diterangkan
bahwa Yakub mengetahui melalui Allah bahwa anaknya Yusuf masih hidup.
Q 12:86
Ya'qub menjawab:
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada
mengetahuinya."
Tapi di Midrash Yalkut 143, tertulis
jelas siapa yang memberi tahu Yakub:
“Seorang yang tak
beriman bertanya kepada tuan kami
(Yakub –
Adadeh),
Apakah orang mati akan terus hidup?
Orang2tuamu tidak percaya akan hal ini, dan masakan kau percaya akan hal
itu? Dikatakan tentang Yakub yang tidak mau dihibur: jika dia percaya
bahwa orang mati masih akan terus hidup, tentunya dia tidak akan
menangisinya. Tapi dia
(Yakub –
Adadeh)
menjawab, bodoh, aku tahu dari Roh Kudus
bahwa dia
(Yusuf –
Adadeh)
masih hidup, dan orang yang masih hidup
tidak perlu ditangisi.
Di sini jelas bahwa Muhammad mengganti Roh Kudus
yang tercantum di sumber asli cerita dengan tuhan ciptaannya sendiri,
yakni Allah.
Abraham Diselamatkan dari Api Nimrod
Kisah ini tercantum di berbagai surah dalam
Qur’an, misalnya di Surah 2:260, 6:74-84, 21:52-72, 19:42-50, 26:69-79,
24:15-16, 37:81-95, 43:25-27, 60:4. Sekarang siapapun yang membaca
artikel ini akan tahu bahwa kisah Ibrahim dari Qur’an sudah jelas
diambil dari kisah Abraham buku agama Yahudi Midrash Rabbah.
Untuk bisa melihat dengan jelas, kita harus melihat keseluruhan tulisan
Qur’an tentang Ibrahim dan lalu membandingkannya dengan kisah Yahudi
tentang Abraham di Midrash Rabbah.
Di buku berjudul “Sejarah Kuno dari Mukhtasar
fi Akhbâr il Bashar” karangan Abdul Feda kita baca kisah sebagai
berikut. Ayah Ibrahim yang bernama Azar biasa membuat benda2 berhala,
dan lalu menyerahkannya kepada putranya agar dijual. Ibrahim lalu pergi
dan berteriak, “Siapa yang mau membeli benda yang merugikan dan tidak
membawa untung bagi pembelinya?” Lalu ketika Tuhan memerintahkannya
untuk memanggil orang2nya menjadi kesatuan jemaat illahi, ayah Ibrahim
menolak panggilan itu dan begitu pula orang2nya. Lalu hal ini terdengar
oleh Nimrod, putra Kush yang adalah raja tanah itu… yang lalu menangkap
Ibrahim dan melemparkannya ke dalam kobaran api; tapi api jadi dingin
dan nyaman bagi Ibrahim, yang lalu ke luar dari api tersebut beberapa
hari kemudian. Setelah itu orang2nya mempercayainya.
Di Qur’an 6:76-79 (ayat2 Qur’an ditulis dalam
huruf italik) tercantum: Ketika malam
telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah
Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak
suka kepada yang tenggelam."
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia
berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia
berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang yang sesat."
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia
berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari
itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri
dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb
yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang
benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Mereka mengatakan bahwa ayah Ibrahim membuat benda2 berhala dan
memberikannya pada putranya Ibraham untuk dijual. Lalu Ibrahim membawa
benda2 itu dan berteriak: “Benda2 ini tidak akan menyakiti atau menolong
siapa yang membelinya,” sehingga tiada seorang pun yang mau membeli dari
dia. Dan setelah tidak ada yang membeli, dia membawa benda2 itu ke
sungai, memukul bagian kepalanya dan berkata,”Minum, kau benda yang
malang’ sampai orang2 sekitarnya mendengarnya. Ketika orang2 itu
menegurnya, (Q 6:80-85) dia berkata:
"Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah
telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka
dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di
kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan
Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya)?" Akhirnya Ibrahim menang berdebat
dengan orang2 tersebut. Lalu dia meminta ayahnya Azar untuk memeluk
agama yang sejati, (Q 19:42) katanya: "Wahai
bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Tapi
ayahnya menolak permintaannya, sehingga Ibrahim menyatakan kepada
orang2nya secara lantang bahwa dia tidak menyembah berhala2 masyarakat
tersebut dan mengumumkan agamanya kepada mereka. Dia berkata (Q
26:75-77) Maka apakah kamu telah
memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu
yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah
musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam. Mereka berkata, “Kalau
begitu siapa yang kau sembah?” Dia menjawab,”Tuhan semesta alam.”
“Apakah yang kau maksud Nimrod?” “Bukan, tapi Dia yang menciptakan
diriku dan membimbingku,” dan seterusnya. Hal ini menyebar diantara
orang2 sampai akhirnya terdengar sang penguasa daerah, yakni Raja
Nimrod, yang kemudian memanggil Ibrahim dan berkata: “Wahai Ibrahim!
Apakah kau menganggap Dia sebagai rajamu yang menciptakan dirimu; apakah
kau beribadah padaNya dan berkata tentang kekuasaanNya pada mereka yang
tidak menyembahNya? Siapakah Dia itu?”
Ibrahim: (Q 2:258 )
"Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan
mematikan,"
Nimrod: "Aku dapat menghidupkan dan mematikan."
Ibrahim: "Bagaimana caranya kau menyelamatkan
nyawa dan mengakibatkan kematian?”
Nimrod: “Aku ambil dua orang yang patut dibunuh,
seorang aku bunuh dan lalu dia mati; satu orang lainnya aku ampuni
sehingga dia hidup.”
Akan hal itu Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya
Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,"
Mendengar ini Nimrod tidak menjawab.
Orang2 lalu pergi untuk merayakan hari besar
keagamaan mereka. Ibrahim mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan
semua patung2 berhala kecuali yang terbesar, dan ceritanya lalu
berlanjut seperti ini:
Ketika mereka mempersiapkan makanan, mereka
menyajikannya di hadapan dewa2 mereka dan berkata, “Saat kami nanti
kembali, dewa2 telah memberkati makanan ini yang nanti akan kami makan.”
Maka ketika Ibrahim memandang pada dewa2 tersebut dan apa yang tersaji
di depan mereka, dia berkata (Q 37:91-93):
Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak
menjawab?" Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan
tangan kanannya (dengan kuat). (Q 21:58 )
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu
hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari
patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.
Akhirnya ketika orang2 kembali dari tempat
perayaan mereka ke bangunan tempat berhala2 berada dan melihat keadaan
berhala2 tersebut, (Q 21:59-60)
“Mereka
berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim"
Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda
yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim
".
Kami pikir, dialah yang telah berbuat kerusakan
ini. Ketika berita ini terdengar oleh Raja Nimrod dan pembantu2nya, (Q
21:61) mereka berkata: "(Kalau
demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar
mereka menyaksikan".
Mereka khawatir untuk menangkapnya tanpa bukti.
Jadi mereka membawa Ibrahim dan (Q 21:62)
mereka bertanya: "Apakah kamu, yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”
(Q 21:63) Ibrahim menjawab: "Sebenarnya
patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada
berhala itu, jika mereka dapat berbicara"; kepala berhala itu
marah karena kalian memujanya bersama-sama berhala kecil lainnya,
padahal dia jauh lebih besar daripada mereka semua, sehingga dia
akhirnya menghancurkan semua berhala2 yang lebih kecil.Sekarang tanyakan
pada mereka apakah mereka bisa bicara. Ketika dia berkata begitu,
orang2 membalikkan punggung mereka dan
berkata (satu sama lain), “Sudah jelas bahwa merekalah
perusaknya.” Maka mereka menghancurkan semua kepala berhala2 tersebut
dan merasa heran karena para berhala tersebut tidak bicara atau
melakukan perlawanan. Lalu mereka berkata kepada Ibrahim (Q21:65) "Sesungguhnya
kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak
dapat berbicara." Maka setelah itu, (Q21:66-67)
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu
menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at
sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah
(celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu
tidak memahami?
Karena tidak bisa menjawab lagi (Q 21:68 )
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak".
Abdallah menulis bahwa orang yang berteriak itu adalah seorang Kurdi
yang bernama Zeinun; dan Allah membelah bumi tempatnya berpijak sehingga
dia terkubur di dalamnya sampai di Hari Penghakiman. Nimrod dan
masyarakat kemudian menangkap Ibrahim untuk membakarnya. Mereka
memenjarakannya di dalam sebuah rumah, dan menumpuk kayu bakar yang
tinggi seperti yang dapat dibaca di Q 37:97
Mereka berkata:
"Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah
dia ke dalam api yang menyala-nyala itu".
Lalu mereka mengumpulkan banyak kayu dan benda2
untuk dibakar; tapi kemudian, karena kemurahan Allah, Ibrahim ke luar
dari api dengan selamat dan dia berkata: (Q 39:39) "Cukuplah
Allah bagiku.(Q 3:37)
Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a". Karena Allah
berkata, “Hai Api! Menjadi dingin dan
nyamanlah bagi Ibrahim".
Sekarang mari kita bandingkan dengan kisah
Abraham dari kaum Yahudi dan lihat di mana persamaan dan perbedaannya.
Tulisan berikut ini diambil dari Midrash Rabbah tentang Abraham
yang ke luar dari daerah Ur-Kasdim (Kejadian 15:7).
Terah biasa
membuat berhala2. Pada suatu hari, dia memberitahu putranya yakni
Abraham untuk menjual berhala2 tsb. Ketika seorang pria berminat untuk
membelinya, Abraham bertanya berapakah usia orang itu. Lima puluh atau
enam puluh tahun, jawabnya. Aneh, kata Abraham, masakan orang berusia 60
tahun mau menyembah benda yang usianya hanya beberapa hari saja!
Mendengar hal itu, pria itu merasa malu dan kemudian berlalu. Seorang
wanita yang membawa sebuah mangkuk berisi tepung berkata: Letakkan ini
di hadapan para berhala. Mendengar itu Abraham berdiri dan mengambil
kampaknya dan menghancurkan berhala2 itu dengan kampak itu, meletakkan
kampak itu di tangan berhala yang terbesar. Ayahnya datang dan sambil
menangis dia bertanya, “Siapakah yang melakukan hal ini?” Abraham
menjawab, “Apa yang tidak jelas bagimu? Seorang wanita membawa mangkuk
berisi tepung dan dia memintaku meletakkannya di hadapan berhala2; aku
mengambilnya dan meletakkannya di hadapan berhala2; sebuah berhala
berkata, aku akan makan tepung itu terlebih dahulu, dan yang lain
berkata, aku dulu yang memakannya. Maka berhala yang besar mengambil
kampak, dan menghancurkan berhala2 yang lain sampai berkeping-keping.”
Ayahnya berkata: “Mengapa kau ceritakan padaku kisah yang konyol itu?
Tahu apakah berhala2 ini?” Abraham menjawab, “Apakah kupingmu dapat
mendengar apa yang dikatakan oleh mulut2 mereka?” Mendengar itu ayahnya
menangkapnya dan membawanya ke hadapan Nimrod, yang lalu menyuruh
Abraham untuk memuja Api.
Abraham: “Lebih baik menyembah Air yang dapat
memadamkan Api.”
Nimrod: “Kalau begitu, sembahlah Air.”
Abraham: “Lebih baik menyembah yang bisa
memberikan Air.”
Nimrod: “Kalau begitu sembahlah Awan.”
Abraham: “Kalau begitu, marilah kita sembah
Angin yang mendatangkan Awan.”
Nimrod: “Kalau begitu, sembahlah Angin.”
Abraham: “Lebih baik menyembah Orang yang
menghadang Angin.”
Mendengar ini Nimrod berkata: “Jika kau berdebat
dengan diriku tentang benda2 yang tidak dapat kusembah kecuali Api yang
mana kau nanti akan kumasukan ke dalamnya; maka biarlah Tuhan yang kau
sembah menyelamatkanmu dari api itu.” Maka Abraham lalu dimasukkan ke
dalam api, tapi dia tetap selama dan tidak terluka.
Bandingkan sekarang kisah Yahudi ini dengan apa
yang tercantum dalam Qur’an. Ada sedikit perbedaan. Sudah jelas bahwa
Muhammad mendengar kisah ini dari kaum Yahudi. Hal yang paling tampak
jelas adalah nama ayah Ibrahim dalam Qur’an yakni Azar, padahal baik
Midrash dan Torah menyebut nama ayah Abraham sebagai Terah. Ada
kemungkinan besar Muhammad mendengar nama itu dari ucapan dialek Syria
yang terdengar bagaikan nama Azar, sehingga dia mengingatnya seperti
itu.
Tentu saja para Muslim mengaku bahwa Nabi mereka
dapat kisah tentang Abraham dimasukkan dalam api ini bukan dari kaum
Yahudi atau kaum Kristen, tapi langsung dari Jibril yang turun dari
langit. Karena kaum Yahudi, yang adalah anak2 keturunan Abraham,
menerima kebenaran kisah itu, maka tentunya kaum Muslim menganggap kisah
Ibrahim dalam Qur’an adalah benar. Tapi
sebenarnya hanya orang2 Yahudi awam saja yang percaya akan hal itu,
karena yang benar2 berpengetahuan tentang naskah aslinya akan mengetahui
kesalahan konyol dari cerita itu.
Asal kisah keseluruhan ditemukan di dalam
Kejadian 15:7
Lagi firman TUHAN
kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim
untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu."
Kata Ur dalam bahasa Babilonia berarti
sebuah “kota”, sama seperti penggunaan Ur dalam Ur-Shalim (yakni
Yerusalem), “Kota Damai.” Ur-Kasdim adalah tempat tinggal Abraham.
Kata “Ur” ini mirip bunyinya dengan kata “Or”, yang berarti
cahaya atau api. Beberapa abad kemudian setelah naskah kitab
Kejadian dibuat (2000 SM), seorang komentator Yahudi bernama Jonathan
ben Uzziel yang tidak begitu tahu tentang bahasa Babilonia, telah
melakukan kesalahan menerjemahkan kata Ur-Kasdim dari ayat Kejadian,
sehingga bunyi ayat itu menjadi:
Akulah Tuhan, yang
membawa engkau keluar dari tungku api Kasdim.
Kesalahan yang sama terdapat dalam catatan kaki
Kejadian 11:27:
Hal ini terjadi di
saat Nimrod melemparkan Abraham ke dalam tungku api, karena dia tidak
mau menyembah berhala2, tapi api tidak dapat membakarnya.”
Catatan kaki ini dibuat karena penerjemah
tertukar mengerti makna kata “Ur” (kota) dengan kata “Or” (cahaya atau
api).
Dari salah terjemahan ini, kaum Yahudi
menjadikan kata api sebagai fondasi untuk mengarang dongeng besar
tentang Abraham yang dibakar dalam tungku api.
Tapi sungguh sukar dipercaya bahwa seorang Nabi
seperti Muhammad tidak mengetahui tentang kekeliruan ini dan bahkan
mengaku sebagai kisah yang diwahyukan dari surga. Bukti2
kesalahan sudah dicantumkan para penulis Yahudi. Dari kitab Kejadian
diketahui bahwa Raja Nimrod ternyata hidup berabad-abad sebelum
Abraham lahir. Nama Nimrod memang tidak disebut dalam Qur’an, tapi
dicantumkan secara bebas oleh pengarang dan penulis tradisi Muslim.
Kesalahan seperti ini bagaikan menulis tokoh Alexander Agung melemparkan
Nadir Shah ke dalam api, tanpa mengetahui bahwa terdapat perbedaan waktu
hidup berabad-abad diantara keduanya, atau bahkan sebenarnya Nadir tidak
pernah dilemparkan ke dalam api.
KISAH ASHAABUL KAHFI
Dongeng rakyat tentang “Tujuh Orang Efesus
yang Tertidur” (“Seven Sleepers of Ephesus”) dikenal sekitar akhir
abad ke lima Masehi dan dengan cepat dongeng ini menyebar ke seluruh
Asia Barat dan Eropa. Para ahli sejarah menduga bahwa dongeng ini
pertama kali pertama kali ditulis oleh Yakub dari Sarug (dikenal
pula dengan nama Jacob of Sarug). Yakub adalah pendeta dari Syria yang
lahir di Kurtam, daerah Efrata, di akhir tahun 451 M dan meninggal dunia
pada tanggal 29 November, 521 M. Kisahnya kemudian diterjemahkan dalam
bahasa Latin oleh Gregory dari Tours (sekitar 540-590), dalam
bukunya yang berjudul “De Gloria Maryrum”. Kisah ini dikenal luas oleh
masyarakat Syria dan Muhammad sering berkunjung ke Syria untuk urusan
dagang. Sudah jelas dia sering mendengar tentang dongeng ini dan lalu
diakuinya sebagai firman illahi seperti yang tercantum di Qur’an
18:8-26.

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan
(yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami
yang mengherankan?
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari
tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami,
berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami
petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun
dalam gua itu,
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami
mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam
menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini
dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman
kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka
berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh
langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia,
sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat
jauh dari kebenaran".
Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia
sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan
alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih
zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah?
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa
yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam
gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu
dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit,
condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam
menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang
luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang
mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak
akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya.
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal
mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri,
sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan
jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka
dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh
ketakutan terhadap mereka.
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar
mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah
seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)".
Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari".
Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya
kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk
pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat
manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu
untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali
menceritakan halmu kepada seorangpun.
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui
tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu
kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan
beruntung selama lamanya".
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia)
dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar,
dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika
orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu
berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka
lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan
mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah
peribadatan di atasnya".
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah
mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain)
mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing
nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi)
mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah
anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak
ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu
janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali
pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka
(pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang
sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali
(dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu
lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk
kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". Dan mereka tinggal
dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Katakanlah: "Allah lebih
mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah
semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang
penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang
pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil
seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan".
Menurut legenda Syria, beberapa pemuda Kristen
menyelamatkan diri dan berlindung dalam sebuah gua di daerah pegunungan
untuk menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan yang diperintahkan oleh
Kaisar Decius (Romawi). Para pengejarnya menemukan tempat persembunyian
mereka dan lalu menutup rapat lubang gua. Tapi secara ajaib, para pemuda
itu selamat dan muncul kembali sekitar 200 tahun kemudian.

Sept Dormants murés par Dčce (The Seven Sleepers
Walled in By Decius). Cote : Français 185 , Fol. 234v. Vies de saints,
France, Paris, XIVe sičcle, Richard de Montbaston et collaborateurs
Keterangan lain bisa dibaca di Wikipedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Seven_Sleepers
Kisah Tujuh Orang
dari Efesus yang Tertidur adalah legenda dari mithologi Kristen. Kisah
ini juga muncul di Qur’an 18:9-26.
Garis besar kisah ini terdapat dalam tulisan
Gregory dari Tours dan juga tulisan karya Paul the Deacon yang berjudul
Sejarah Keluarga Lombard (History of the Lombards). Versi terbaik dari
kisah ini ditulis oleh Jacobus de Voragine dalam bukunya yang berjudul
Golden Legend.
Silakan baca pula pembahasan kisah yang sama
oleh Saudara Vivaldi:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=6137
Sekarang yang patut dipertanyakan adalah
bagaimana mungkin legenda/dongeng rakyat
Kristen berusia seabad lebih akhirnya diakui sebagai firman illahi dalam
Qur’an? Hal ini jelas hanyalah akal2an Muhammad saja untuk
menambah isi Qur’an yang memang kurang berisi dan tipis, apalagi
dibandingkan kitab2 suci agama lain.
RATU SABA DAN NABI SULAIMAN
Kisah pertemuan Ratu Saba (Balqis) dengan Nabi
Sulaiman ditulis panjang lebar dalam Qur’an. Kisah yang sama kita
temukan di kitab Targum Ester yang jelas menjadi sumber cerita Muhammad.
Dalam Qur’an, tokohnya adalah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba atau Balqis,
sedangkan Targum menyebutnya sebagai Raja Salomo dan Ratu Sheba.
Berikut adalah kisah pertemuan Ratu Saba dan
Nabi Sulaiman yang tercantum dalam Surah Semut (Q 27:20-44)
(20) Dan dia
memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat
hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (21) Sungguh aku
benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar
menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan
alasan yang terang". (22) Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud),
lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum
mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting
yang diyakini. (23) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang
memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai
singgasana yang besar. (24) Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah
matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang
indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan
(Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, (25) agar mereka tidak
menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di
bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu
nyatakan. (26) Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang
mempunyai 'Arsy yang besar". (27) Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat,
apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. (28 )
Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka,
kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka
bicarakan" (29) Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar,
sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. (30)
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (31) Bahwa
janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (32) Berkata dia
(Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku
(ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada
dalam majelis(ku)". (33) Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang
memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam
peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa
yang akan kamu perintahkan". (34) Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja
apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan
menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang
akan mereka perbuat. (35) Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan
kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang
akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu". (36) Maka tatkala utusan
itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu
menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih
baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga
dengan hadiahmu. (37) Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan
mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya,
dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan
terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina".(38 )
Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu
sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka
datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (39) Berkata
'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat
dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat
dipercaya". (40) Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab:
"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka
tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun
berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku
bersyukur atau mengingkari (akan ni'mat-Nya). Dan barangsiapa yang
bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya
sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya
lagi Maha Mulia". (41) Dia berkata: "Robahlah baginya singgasananya;
maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk
orang-orang yang tidak mengenal(nya)". (42) Dan ketika Balqis datang,
ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Dia menjawab:
"Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri". (43) Dan apa
yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan
keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang
yang kafir. (44) Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka
tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar,
dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya
ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku
berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".
Begitulah kisah versi Qur’an mengenai Ratu Saba.
Singgasana yang disebut dalam Qur’an berbeda sedikit dengan yang disebut
dalam Targum. Dalam Targum dikatakan bahwa singgasana tersebut milik
Salomo, dan tidak ada seorangpun di dunia yang memiliki singgasana
semewah itu. Terdapat tangga emas enam tingkat untuk menuju ke atas
singgasana, di setiap tingkat terdapat 12 patung singa emas, dan
sekelilingnya terdapat 12 elang emas. Dua puluh empat elang lainnya
menaungi sang Raja dengan bayangan mereka, dan jika Raja berpindah
tempat, maka elang2 perkasa ini akan mengangkat singgasana ke manapun
Raja menentukan. Jadi elang2 dalam Targum ini melakukan hal yang yang
seperti para Jin lakukan dalam Qur’an.
Isi cerita tentang Ratu Saba, kunjungannya
kepada Sulaiman, surat yang dikirim Sulaiman pada Ratu Saba merupakan
hal2 yang sama terdapat baik dalam Qur’an dan Targum. Perbedaannya
hanyalah Qur’an menyebut burung hud, sedangkan Targum menyebut ayam
jantan merah. Inilah versi dari Targum:
Pada suatu waktu,
ketika hati Salomo girang setelah minum anggur, dia memerintahkan
binatang2 daratan, burung2 di udara, binatang2 menjalar di tanah, dan
makhluk2 halus dari atas dan jin2 untuk datang ke hadapannya, agar
mereka menari di sekelilingnya, agar raja2 yang lain melihat
kebesarannya. Semua bangsawan dipanggil; kecuali mereka yang jadi
tawanan dan yang menjaga mereka. Pada saat itu sang ayam jantan merah
tidak datang dan Raja Salomo berkata bahwa ayam itu harus ditangkap dan
dibawa dengan paksa, dan dia harus dibunuh karenanya. Tapi saat itu pula
sang ayam muncul di hadapan Raja dan berkata: Wahai Yang Mulia, Raja
dunia! Dengarlah perkataanku. Tiga bulan yang lalu aku bersumpah untuk
tidak makan rempah roti sedikitpun, tidak minum setetes air sekalipun
sampai aku melihat seluruh dunia dan terbang di atasnya, untuk mencari
setiap kota dan kerajaan yang tidak tunduk padamu, wahai Rajaku. Lalu
aku menemukan kota berbenteng kuat Qitor di dataran Timur dan kota ini
dikelilingi batu2 emas dan perak, jalanannya penuh batu2 rubi, pohon2
dari awal bumi ditanamkan, dan sungai2 mengairinya, mengalir ke luar
dari taman Eden. Banyak orang mengenakan karangan bunga dari taman yang
tak jauh dari situ. Mereka melontarkan panah2, tapi tidak bisa
menggunakan busur. Mereka dipimpin oleh seorang wanita yakni Ratu Sheba.
Sekarang jikalau kau berkenan wahai Rajaku, pelayanmu, setelah menahan
diri, akan berangkat menuju benteng Qitor di Sheba, dan “mengikat Raja2
mereka dengan rantai dan bangsawan2 mereka dengan tali besi,” dan
membawa mereka ke hadapanmu. Usul ini disukai sang Raja, dan ia menulis
surat panggilan yang lalu diletakkan di bawah sayap burung, dan burung
itu terbang tinggi ke angkasa. Ia terbang dikelilingi kumpulan burung2,
dan akhirnya ia tiba di Benteng Sheba. Pada pagi itu kebetulan Ratu
Sheba sedang berada di luar untuk menyembah sang laut; dan udara lalu
menjadi gelap karena banyaknya jumlah burung yang datang, dia jadi panik
dan lalu merobek pakaiannya dengan rasa takut dan tertekan. Pada saat
itu, sang ayam jantan hinggap padanya dan dilihatnya sebuah surat di
bawah sayapnya yang terbentang dan surat ini berisi sebagai berikut:
“Raja Sulaiman menyampaikan padamu salamnya, dan berkata, Yang Maha
Tinggi dan Suci telah memberiku kuasa atas binatang2; dan raja2 dari
empat penjuru datang untuk memohonkan kebahagiaanku. Sekarang jika kau
berkenan datang dan memohonkan kebahagiaanku, aku akan menempatkan
dirimu lebih tinggi daripada yang lain. Tapi jika kau tak berkenan, aku
akan mengirim raja2 dan tentara2 untuk melawanmu; -binatang2 di daratan
adalah miliku, burung2 di udara adalah tungganganku, makhluk2 halus dan
jin2 adalah musuhmu, - untuk memenjarakanmu, untuk membunuhmu dan
memakanmu.” Ketika Ratu Sheba mengetahui hal ini, dia kembali merobek
pakaiannya, dan memanggil para penasehatnya untuk minta nasehat. Mereka
tidak mengenal Salomo, tapi menasehatinya untuk mengirim kapal2 lewat
laut, penuh dengan hiasan dan batu2 mulia, juga 6000 anak laki dan
perempuan berpakaian ungu, yang semuanya lahir di waktu yang bersamaan;
juga sebuah surat janji berkunjung di akhir tahun. Akan makan waktu
tujuh tahun untuk sampai di tujuan, tapi dia berjanji untuk datang dalam
waktu tiga tahun. Pada saat akhirnya dia datang, Sulaiman mengirim
utusan yang mengenakan pakain berkilauan seperti matahari terbit untuk
menjumpainya. Sewaktu mereka berjumpa, dia (Ratu Sheba) ke luar dari
keretanya. “Mengapa kau lakukan itu?” tanya sang utusan. “Apakah kau
bukan Salomo?” tanya Ratu Sheba. “Bukan, aku adalah pelayan yang berdiri
di hadapanmu.” Sang Ratu seketika menyampaikan pujian baginya pada para
pengikutnya, dan sang utusan kemudian membawanya ke Istana. Salomo yang
mendengar bahwa Ratu Sheba telah tiba, bangkit dan duduk di Istana kaca.
Ketika Ratu Sheba melihat ini, dia mengira kaca tersebut adalah air,
sehingga dia mengangkat bajunya untuk melewatinya. Ketika Salomo melihat
bulu kaki Ratu Sheba, dia berkata: Kecantikanmu adalah kecantikan
wanita, tapi bulumu seperti bulu pria; bulu tubuh baik bagi pria, tapi
tidak bagi wanita. Mendengar hal ini Ratu Sheba berkata: Yang Mulia, aku
punya tiga teka-teki bagimu. Jika kau dapat menjawab semuanya, maka aku
akan yakin bahwa kau adalah orang yang bijaksana, tapi jika tidak, maka
kau hanyalah orang biasa saja. Ketika Raja Salomo menjawab ketiga
teka-teki tersebut, Ratu Sheba terpesona dan berkata: Terpujilah
Tuhanmu, yang menempatkanmu di singgasana di mana kau memerintah dengan
kebenaran dan keadilan. Dan dia memberi Salomo banyak emas dan perak;
dan Salomo pun memberikan apapun yang diinginkan Ratu Sheba.
Dalam versi Yahudi, kita baca bahwa sang Ratu
mengajukan tiga teka-teki pada Salomo untuk dijawab, tapi hal ini tidak
disebutkan dalam Qur’an, sedangkan Hadis (Muslim tradition) menyebutnya.
Tentang bulu kaki sang Ratu tertulis dalam Arâish al Majâlis sebagai
berikut:
Ketika sang ratu
akan masuk Istana, dia mengira lantai kaca adalah air, sehingga dia
memperlihatkan kakinya, untuk menuju Salomo, dan tampak kaki2nya
dipenuhi bulu; ketika Salomo melihatnya, dia memalingkan muka dan
berkata bahwa lantai terbuat dari kaca.
Sekarang bagaimana kita tahu bagian cerita mana
yang berupa kenyataan dan mana yang hanyalah dongeng belaka, baik dalam
versi Qur’an maupun versi Targum. Mari kita lihat Kisah Raja2 I
10:1-10
(1) Ketika ratu
negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama
TUHAN, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki. (2) Ia
datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan
unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu
permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo,
dikatakannyalah segala yang ada dalam hatinya kepadanya. (3) Dan Salomo
menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang
tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu. (4) Ketika ratu
negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah
didirikannya, (5) makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya,
cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban
bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah
ratu itu. (6) Dan ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang
kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, (7) tetapi aku
tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya
dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan
kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang
kudengar. (8 ) Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu
ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu! (9) Terpujilah
TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia
mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN
mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat
engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran." (10) Lalu
diberikannyalah kepada raja seratus dua puluh talenta emas, dan sangat
banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah
datang lagi begitu banyak rempah-rempah seperti yang diberikan ratu
negeri Syeba kepada raja Salomo itu.
Kitab Kisah Raja2 merupakan bagian dari
kitab suci Yudaisme yang ditulis oleh para Nabi Yahudi. Targum merupakan
bagian dari catatan tradisi dan budaya bangsa Yahudi yang ditulis oleh
para rabi atau ketua agama Yahudi. Dengan demikian, kitab suci Yudaisme
lebih tinggi kedudukannya dibandingkan catatan tradisi Talmud. Dalam
kitab Kisah Raja2 tertulis fakta bahwa sang Ratu memang datang
berkunjung menghadap Raja Salomo. Di luar fakta tersebut, kisah2 yang
lain seperti burung hud atau ayam jantan, lantai kaca yang dikira air,
singgasana yang bisa terbang, memanggil jin, bicara dengan binatang2,
adalah karangan atau dongeng belaka. Kaum Yahudi sekalipun juga mengakui
akan hal ini.
Qur’an menyebutkan Nabi Sulaiman berkuasa atas
makhluk halus dan para jin. Kisah ini jelas diambil persis dari Targum.
Para Yahudi terpelajar mengungkapkan bahwa sebenarnya kata jin atau
makhluk halus ini merupakan kesalahan yang terjadi akibat penyatuan tak
sengaja dua kata Ibrani yang berarti “wanita dan wanita2” ((ש"ע)
גברת,
אישה;
ליידי)
seperti yang terdapat di
Pengkotbah 2:8)
digabung menjadi satu sehingga berubah arti menjadi kata “jin” atau
“makhluk halus”.
Kisah penuh
keajaiban tentang proses pertemuan Raja Sulaiman dan Ratu Sheba dalam
Targum Yahudi hanyalah dongeng belaka seperti banyak dongeng lain yang
bisa kita temukan dalam kisah “1001 Malam”. Tapi anehnya,
Muhammad tidak menyadari akan hal ini. Begitu dia mendengar kisah
ini dari kaum Yahudi, dia tampaknya mengira kisah fantasi ini terdapat
dalam kitab suci Yudaisme, sehingga akhirnya dia pun memasukkannya ke
dalam Qur’an.
DAFTAR CONTEKAN MUHAMMAD
Sumber2 Dongeng Arab yang dipakai Muhammad
(G.G. Pfander, Balance of Truth, pp. 283).
1. Kisah unta betina yang jadi nabi telah lama
dikenal sebelum Muhammad mengumumkan dirinya sebagai nabi (Suras
7:73-77,85; 91:14; 54:29).
2. Kisah seluruh masyarakat desa dirubah jadi
kera karena melanggar peraturan hari Sabbath dengan memancing ikan
merupakan legenda popular di jaman Muhammad (Suras 2:65; 7:163-166).
3. Kisah 12 mata air memancar di Sura 2:60
merupakan legenda Arab pra Islam.
4. Kisah Ashaabul Kahfi di mana tujuh orang dan
binatang2 peliharaannya tidur selama 309 tahun dalam gua dan lalu bangun
segar bugar (Sura 18:9-26) diambil dari dongeng masyarakat Kristen Syria
kuno tentang “Tujuh Orang Efesus yang Tertidur” (“Seven Sleepers of
Ephesus”) atau bahkan di dunia Barat dikenal juga kisah yang sama
berjudul “Rip Van Winkle”.
5. Kisah empat ekor burung dicincang dan
kemudian hidup lagi (Sura 2:260) telah banyak dikenal masyarakat Arab di
jaman Muhammad.
6. Sudah jelas Muhammad menggunakan karya sastra
Saba Moallaqat oleh Imra’ul Cays untuk mengarang Suras 21:96; 29:31,46;
37:59; 54:1, dan 93:1.
Sumber2 kisah,
dongeng, kitab suci Yahudi yang dipakai Muhammad
Seperti yang sudah saya jelaskan di posting2
sebelumnya, banyak kisah dalam Qur’an yang diambil dari buku tradisi dan
budaya Yahudi Talmud, Midrash, dan kitab suci Yudaisme Taurat dan kitab2
Perjanjian Lama. Hal ini juga diterangkan oleh Abraham Geiger (1833),
dan lalu dibukukan oleh ilmuwan Yahudi bernama Dr. Abraham Katsh,
diterbitkan oleh New York University, tahun 1954. (The Concise
Dictionary of Islam, p. 229; Jomier, The Bible and the Quran -- Henry
Regency Co., Chicago, 1959, 59ff; Sell, Studies, pp. 163ff.; Guillaume,
Islam, p. 13.
1. Sumber Sura 3:35-37 adalah buku berjudul The
Protevangelion's James the Lesser. Buku apokripa dongeng Kristen Koptik
ini ditulis di abad ke 2 M. Dalam buku ini tertulis kisah tentang
Zachariah, istrinya, dan Yohannes Pembaptis.
2. Sumber Sura 87:19 adalah Taurat Kitab
Kejadian tentang Abraham dan Musa.
3. Sumber Sura 27:17-44 adalah Kitab Kedua
Targum Esther.
4. Kisah fantasi Tuhan membuat orang mati selama
seratus tahun dan menghidupkannya kembali (Sura 2:259) berasal dari
dongeng masyarakat Yahudi.
5. Kisah Musa dibangkitkan kembali (Sura 2:55,
56, 67) berasal dari kitab Talmud Yahudi.
6. Kisah dalam Sura 5:30,31 berasal dari karya2
tulisan bangsa Yahudi pra-Islam seperti Pirke Rabbi Eleazer, Targum
Yonathan ben Uzziah dan Targum Yerusalem.
7. Kisah Abraham yang diselamatkan dari api
Nimrod (see Suras 21:51-71; 29:16, 17; 37:97,98 ) diambil dari Midrash
Rabbah. Perlu diingat bahwa Abraham dan Nimrod tidak hidup dalam jaman
yang sama; Nimrod hidup beberapa abad lebih dahulu daripada Abraham.
Muhammad seringkali menyatukan kisah2 para tokoh yang hidup di waktu
yang berlainan.
8. Kisah kunjungan Ratu Saba (Sheba) di Sura
27:20-44 diambil dari kitab Kedua Targum Esther.
9. Sumber Sura 2:102 sudah pasti Midrash Yalkut
bagian 44.
10. Kisah dalam Sura 7:171 di mana Tuhan
mengangkat Gunung Sinai ke atas kepala bani Yahudi sebagai ancaman untuk
menggencet mereka jika menolak hukum Tuham sudah pasti diambil dari
kitab Yahudi Abodah Sarah.
11. Kisah pembuatan anak lembu emas di padang
gurun (Suras 7:148; 20:88 ) diambil dari Pirke Rabbi Eleazer.
12. Tujuh neraka dan tujuh surga dalam Qur’an
diambil dari kitab Yahudi Zohar Kabalah dan Mishnah Hagigah.
13. Muhammad mengambil ide dari kitab Perjanjian
Abraham tentang hari akhir untuk mengisahkan timbangan yang digunakan di
Hari Kiamat untuk menimbang perbuatan jahat dan baik untuk menentukan
siapa yang akan masuk surga dan neraka (Suras 42:17; 101:6-9).
Sumber Injil
Gnostik yang dipakai Muhammad
Dongeng2 dari Injil Gnostik (yang tidak diakui
umat Kristen karena dianggap takhayul atau heretik) yang lalu digunakan
dalam Qur’an. Encyclopedia Britannica berkomentar: “Injil yang digunakan
Muhammad terutama diambil dari sumber2 apokripa dan heretik” (15:648 ).
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh berbagai ahli sejarah dan
budaya seperti Richard Bell, Introduction to the Quran, pp. 163ff. Juga
lihat: Bell, The Origin of Islam in Its Christian Environment, pp.
110ff, 139ff; Sell, Studies, pp. 216ff. See also Tisdall and Pfander).
Contohnya, dalam Sura 3:49, bayi Yesus bisa
bicara dari tempat tidurnya, membuat burung dari tanah liat dan lalu
menghidupkannya. Ini semua diambil dari buku Koptik Kristen Injil
Thomas. Kisah2 ini bertentangan dengan Injil yang diakui kaum Kristen
(Mathius, Markus, Lukas, Yahya) yang menyatakan bahwa muzizat pertama
yang dilakukan Yesus adalah merubah air jadi anggur di Kanaan (Yohanes
2:11).
Sumber agama Sabean
yang dipakai Muhammad
Muhammad mengambil sebagian upacara agama Sabean
ke dalam Islam (Encyclopedia off Islam (ed. Eliade), pp. 303ff.;
International Standard Bible Encyclopedia, pp. 1:219ff.). Upacara2 pagan
yang dimasukkan Muhammad ke dalam Islam antara lain adalah:
1. Menyembah Ka’abah
2. Sembahyang lima waktu menghadap Mekah.
Muhammad mengambil jumlah sembahyang lima kali dari agama Sabean dan
Zoroastria.
3. Puasa setengah hari selama sebulan penuh.
Sumber2 agama2
Zoroastria dan Hindu yang dipakai Muhammad
Muhammad mengambil gagasan2 supernatural dan
dongeng2 dari agama2 Timur seperti Zoroastria dan Hindu untuk memperkaya
agama barunya. Semua yang disebut di bawah ini sudah ada dan beredar di
masyarakat Timur Tengah dan Asia lama sekali sebelum Muhammad lahir.
(Sell, Studies, pp. 219ff.).
1. Kisah Isra Mi’raj di mana Muhammad
menunggangi buraq untuk mengunjungi tujuh lapis surga.
2. Para houris di surga bagi Muslim.
3. Azazil dan makhluk gaib lainnya yang ke luar
dari Neraka (Hades).
4. Jembatan Sirat.
5. Surga penuh dengan anggur, wanita, dan lagu
6. Raja Neraka.
BERBAGAI VERSI QUR'AN
As-Suyuti (wafat 1505), salah seorang pakar
Quran yg paling dihormati mengutip Ibn ‘Umar al Khattab :
"Janganlah ada diantara kalian yg
mengatakan bahwa ia mendapatkan seluruh Quran, karena bgm ia tahu bahwa
itu memang keseluruhannya ? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena
itu, kalian harus mengatakan ‘Saya mendapatkan bagian Quran yg ada’"
(As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72).
A’isha, isteri tersayang nabi mengatakan, juga
menurut sebuah tradisi yg diceritakan as-Suyuti, "Selama masa Nabi, saat
dibacakan, bab ttg ‘the Parties’ berisi 200 ayat. Ketika Usman
mengedit Quran, hanya ayat2 sekarang ini (73) yg tertinggal."
As-Suyuti juga menceritakan ini ttg Uba ibn
Ka’b, salah seorang sahabat Muhamad:
Sahabat terkenal
ini meminta salah seorang Muslim, "Berapa ayat yang ada dalam surah ‘the
Parties’?" Katanya, "73 ayat." Ia (Uba) mengatakan padanya, "Dulunya
jumlah ayatnya hampir sama dgn Surah ‘Al Baqarah’ (sekitar 286 ayat) dan
termasuk ayat perajaman". Lelaki itu bertanya, "Apa ayat perajaman itu
?" Ia (Uba) mengatakan, "Jika lelaki tua atau wanita melakukan zinah,
rajam mereka sampai mati."
Spt dikatakan sebelumnya, setelah kematian
Muhamad di 632M, tidak ada satupun dokumen tunggal yg memuat kesemua
wahyu. Banyak pengikutnya mencoba mengumpulkan semua wahyu yg
dikenal dan mencatatkan mereka dalam satu bentuk mushaf. Timbullah
kemudian mushaf2 milik sejumlah pakar spt Ibn Masud, Uba ibn Ka’b, ‘Ali,
Abu Bakr, al-Aswad, dll (Jeffery, bab 6, mencatat 15 mushaf utama dan
sejumlah besar mushaf sekunder). Saat Islam menyebar, kami akhirnya
memiliki apa yg kemudian dikenal sbg mushaf metropolitan di pusat2
Mekah, Medinah, Damascus, Kufa dan Basra.
Spt yg kita lihat sebelumnya, Usman mencoba
mengatasi situasi kacau ini dgn kanonisasi codex/mushaf Medinah, yang
copy2nya dikirim kesemua pusat2 metropolitan diiringi perintah utk
menghancurkan kesemua codex lain.
Codex Usman ini dianggap sbg standar teks
konsonan, tapi yg kita temukan malah berbagai variasi teks konsonan yg
masih hidup juga sampai abad Islam ke 4.
Masalah semakin diperuncing karena teks konsonan
tidak dibarengi dgn titik, yaitu titik yg membedakan huruf "b" dari "t"
atau "th". Huruf2 lainnya (f dan q; j, h, dan kh; s dan d; r dan z; s
dan sh; d dan dh, t dan z) tidak dapat dibedakan. Dgn kata lain, Quran
tertulis secara ‘scripta defectiva’/huruf2 defektif alias tidak
sempurna. Akibatnya, timbullah berbagai macam arti tergantung dari letak
titik.
Vowels membuat masalah yg lebih pelik. Tadinya,
Arab tidak memiliki tanda2 bagi
Vowel pendek: teks Arab adalah konsonantal.
Walaupun vowel2 pendek ini kadang dihindarkan, mereka bisa ditulis dgn
tanda2 orthographical diatas atau dibawah hurufnya—totalnya 3 tanda
petunjuk (three signs in all), mengambil bentuk spt komma. Setelah
menentukan konsonannya, Muslim masih harus memutuskan vowel mana yg
digunkaan: menggunakan vowel berbeda tentunya menghasilkan pembacaan yg
berbeda.
Scripta plena, yg memungkinkan teks yg vowel
penuh dan teks dgn titik, belum disempurnakan sampai akhir abad ke 9.
Problem yg diakibatkan ‘scripta defectiva’ itu
dgn sendirinya mengakibatkan tumbuhnya pusat2 berbeda dgn masing2
tradisi ttg bgm teks itu harus diberi titik atau di-vowel.
Walaupun Usman memerintahkan dihancurkannya
semua Quran selain Quran versinya, ternyata masih ada saja mushaf yg
lebih tua yg selamat. Spt dikatakan Charles Adams,
"Harus
ditekankan bahwa dalam ketiga abad pertama Islam, bukannya terdapat satu
bentuk teks tunggal yg diturunkan tanpa perubahan dari jaman Usman,
melainkan ribuan versi. Variasi2 ini bahkan mempengaruhi Codex
Usman, shg mempersulit perkiraan bagaimana sebenarnya bentuk aslinya."
Ada juga Muslim yg menginginkan codex selain
codexnya Usman. Contoh, milik Ibn Mas’ud, Uba ibn Ka’b, dan Abu Musa.
Pada akhirnya, dibawah pengaruh Ibn Mujahid (wafat 935), terdapat
kanonisasi satu sistim konsonan dan batasan pada variasi vowel yg bisa
digunakan dalam teks yg mengakibatkan diterimanya 7 sistim. Namun pakar2
lainnya menerima 10 cara bacaan, sedang masih ada saja yg menerima 14
cara bacaan. Dan bahkan ketujuh codex versi Ibn Mujahid memberikan 14
kemungkinan karena masing2 dari ketujuh codex itu bisa dilacak kpd dua
transmitter berbeda, yi,
1. Nafi dari Medinah menurut Warsh dan Qalun
2. Ibn Kathir dari Mekah menurut al-Bazzi dan
Qunbul
3. Ibn Amir dari Damascus menurut Hisham dan Ibn
Dakwan
4. Abu Amr dari Basra menurut al-Duri dan
al-Susi
5. Asim dari Kufa menurut Hafs dan Abu Bakr
6. Hamza dari Kufa menurut Khalaf dan Khallad
7. Al-Kisai dari Kufa menurut al Duri dan Abul
Harith
Pada akhirnya 3 sistim bertahan, sistimnya Warsh
(d. 812) milik Nafi dari Medina, Hafs (d. 805) milik Asim dari Kufa, dan
al-Duri (d. 860) milik Abu Amr dari Basra. Jaman sekarang, 2 versi
nampaknya digunakan versi Asim dari Kufa lewat Hafs, yg diberikan ijin
resmi dgn diadopsi sbg Quran edisi Mesir th 1924; dan milik Nafi lewat
Warsh, yg digunakan di bagian2 Afrika selain Mesir.
AYAT2 RAJAM QUR'AN HILANG DIMAKAN KAMBING
Aisha melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran
yang berisi 2 ayat, termasuk ayat-ayat rajam, ditulis dalam lembaran
yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman nabi
SAW, seekor binatang memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam
bahasa Arab “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba
ataupun unggas.
Sumber :
• Ibrahim b. Ishaq al Harbis, Gharib al hadith
menyebutkan “shal” yang berarti domba
• Zamakshari, al Kashaf, vol 3 p 518, footnote
• Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b.
Qays, p 108
• Al Fadl b. Shadahn, al Idah, p 211
• Abd al Jalil al Qazwini, p 133
Peristiwa hilangnya ayat-ayat Al-Qur’an akibat
dimakan binatang sungguh menggelikan, menyedihkan dan membuktikan bahwa
Allah SWT adalah pembohong kelas kakap karena tidak bisa memenuhi apa
yang dia janjikan dalam ayat berikut :
QS 15:9
Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.
Peristiwa terjadi saat rumah sedang sibuk dengan
pemakaman nabi SAW.
Sumber :
• Ahmad b. Hanbal, vol 4 p 269
• Ibn Maja, Sunan, vol 1 p 626
• Ibn Qutayba, Tawil, p 310
• Shafi'i, Kitab al Umm, vol 5 p 23, vol 7 p 208
Menurut laporan dari Ibn Maja menceritakan bahwa
Aisyah berkata : ayat al-Radha'ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh
Allah SWT dan ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala
wafat Rasulullah dan kami sibuk dengan pemakamannya maka ayat-ayat
tersebut HILANG.
Satu contoh adalah laporan dari Suyuthi dalam
Al-Itqan sbb :
Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab 33 : 56 pada
masa Nabi adalah LEBIH PANJANG yaitu dibaca "Wa'ala al-Ladhina Yusaluna
al-Sufuf al-Uwal" selepas "Innalla ha wa Mala'ikatahu Yusalluna 'Ala
al-Nabi..." Aisyah berkata,"Yaitu sebelum USMAN MENGUBAH
mushaf-mushaf."
Aisha dilaporkan menyatakan bahwa saat nabi SAW
hidup, sura 33 (al-Ahzab) adalah 3 kali lebih panjang daripada yang ada
dalam mushaf Usman.
Sumber :
• Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol
4 p 434
• Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180
• Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p
226
Kutipan dari Suyuthi:
Aisyah berkata,
"Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAW SEBANYAK 200 AYAT,
tetapi pada masa Usman menulis mushaf surah tersebut TINGGAL 173 AYAT
SAJA."
HARUT DAN MARUT
Terdapat banyak kisah fantasi dalam Qur’an
yang diambil dari Talmud Yahudi. Mari kita telaah kisah Harut dan Marut
dalam Qur’an dan Hadis, dan lalu bandingkan dengan kisah serupa yang
ditulis oleh penulis Yahudi dalam Talmud. Inilah Qur’an, Sűrah
al-Baqarah, ayat 102.
Q 2:102
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh
syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa
Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak
mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan
sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan
kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang
keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum
mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu
jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu
apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang
(suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi
mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah.
Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan
tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa
barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah
baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka
menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
Yang berikut diambil dari Arâish al Majâlis (keterangan tentang
ayat):
Jika malaikat2 melihat tindakan2 jahat yang
dilakukan manusia membumbung ke surga (dan ini terjadi di jaman nabi
Idris), mereka merasa sedih dan lalu mengeluh karenanya: Kau telah
memilih manusia menjadi penguasa bumi dan mereka berdosa melawanMu. Sang
Maha Kuasa berkata: Jika Aku mengirim kalian ke bimi dan memperlakukan
kalian sebagaimana Aku memperlakukan mereka, kalian pun akan melakukan
hal yang sama seperti mereka. Para malaikat berkata, O Tuhanku, kami
tidak akan berdosa padaMu. Lalu Tuhan berkata: Pilihlah dua malaikat
terbaik dari antara kalian, dan Aku akan kirim mereka ke bumi. Mereka
lalu memilih Harut dan Marut, karena keduanya merupakan malaikat2
tersuci diantara mereka.
Sekarang mari kita lihat kisah serupa yang terdapat dalam beberapa
bagian kitab Yahudi Talmud. Yang ini diambil dari Midrash Yalkut
bagian 44:
Rabbi Joseph ditanya oleh murid2nya
tentang Azael, dan inilah jawabnya: Setelah bencana Air Bah, penyembahan
berhal terjadi di mana-mana, dan Yang Maha Kudus marah. Dua malaikat
yakni Shamhazai dan Azael maju dan menyatakan padaNya: O Tuhan Semesta
Alam, pada waktu Kau ciptakan dunia, bukankah kami sudah katakan padaMu,
siapakah manusia sehingga Kau begitu peduli pada mereka? Dan sekarang
kami khawatir akan mereka. Tuhan menjawab: Aku tahu jika kau dikirim
untuk menguasai bumi, nafsu jahatmu akan menguasai dirimu, dan kau akan
jadi penindas manusia. Mereka menjawab: Jika kau ijinkan kami pergi, dan
kami tinggal bersama mereka, kau akan lihat betapa bijaksananya kami
memuliakan namaMu. Kata Tuhan: Kalau begitu, silakan pergi, dan hidup
diantara manusia.
Tak lama kemudian, Shamhazai melihat seorang gadis rupawan bernama
Esther dan mengajaknya datang dan tinggal bersamanya. Gadis itu berkata:
Aku tidak bisa menyerahkan diriku padamu sebelum kau mengajarkan padaku
nama besar yang kau sembah di surga. Dia lalu memberitahu gadis itu, dan
begitu gaids itu menyebut nama tersebut, gadis itu lalu naik ke surga
dalam keadaan tanpa cela. Tuhan lalu berkata: Karena gadis ini menjaga
diri dari dosa, dia akan ditinggikan diantara Tujuh Bintang, untuk
memuliakan Tuhan. Tak lama kemudian, kedua malaikat bertemu dan kawin
dengan para wanita yang cantik, dan anak2 mereka pun lahir. Dan Azael
lalu menghiasi para wanita yang dulu dia tolak dengan berbagai hiasan
indah.
Jika kita bandingkan kedua cerita ini, maka sudah jelas bahwa
Harut (dalam Qur’an) adalah Shamhazai (dalam Talmud)
Marut (dalam Qur’an) adalah Azael (dalam Talmud)
Tapi jika kita cari asal nama Harut dan Marut yang disebut dalam Qur’an
dan Hadis, maka jelas nama
Harut dan Marut diambil dari dua nama dewa
Horot dan Morot dari agama Zoroastria
dari Persia dan Armenia kuno.
Tuhan dalam agama Zoroastria bernama Aramazd (Ahura Mazda), sang
pencipta langit dan bumi. Istrinya bernama Spandaramet (Spenta
Armaiti), sang dewi bumi. Dua pembantunya adalah
dewa-dewi kesuburan yakni
Horot and Morot (HaurvataT and AmeretaT)
yang tinggal di puncak Gunung Massis (dikenal juga dengan nama Gunung
Ararat). Dewa Horot dan dewi Morot dianggap sebagai yang berkuasa
mendatangkan hujan yang menyuburkan ladang pertanian, dan juga penguasa
angin. Masyarakat Armenia kuno menganggap nama Morot berasal dari kata
Mor, yang sama artinya dengan kata Mair = Ibu. Sedangkan Horot berasal
dari kata Hair = Ayah.
Dalam bahasa Ibrani, Zohra dikenal dengan nama Ishtar atau Esther. Zohra
adalah nama dewa kesuburan yang sama yang disembah di Babilonia dan
Syria. Kaum Yahudi kuno rupanya senang mengarang dongeng2 yang kemudian
tersebar luas di luar masyarakat mereka. Dalam tulisan Yahudi tentang
Enoch tertulis bahwa Samyaza (Shamhazai) memimpin 200 malaikat turun
dari surga untuk melakukan perzinahan di bumi. Ini tulisannya:
Para malaikat surgawi melihat para wanita
dan jatuh cinta pada mereka. Para malaikat berkata pada satu sama lain:
marilah kita berhubungan dengan para wanita ini, dan punya anak2 dari
mereka. Dan Samyaza ketua malaikat berkata …. Azaziel mengajarkan para
pria menggunakan pedang, belati, dan perisai, dan mengajarkan mereka
memakai baju pelindung tubuh. Dan bagi para wanita, malaikat2 ini
membuat berbagai perhiasan2, gelang, berlian, kolirium untuk memperindah
kelopak mata mereka, batu2 berharga, baju2 indah warna-warni, dan uang
yang berlaku.
Dalam Q 2:102 tertulis:
Dalam pada itu ada juga orang-orang yang
mempelajari dari mereka berdua (Harut dan Marut - Adadeh): Ilmu sihir
yang boleh menceraikan antara seorang suami dengan isterinya, padahal
mereka tidak akan dapat sama sekali memberi mudarat (atau membahayakan)
dengan sihir itu seseorang pun melainkan dengan izin Allah dan
sebenarnya mereka mempelajari perkara yang hanya membahayakan mereka dan
tidak memberi manfaat kepada mereka dan demi sesungguhnya mereka (kaum
Yahudi itu) telahpun mengetahui bahawa sesiapa yang memilih ilmu sihir
itu tidaklah lagi mendapat bahagian yang baik di akhirat. Demi
sesungguhnya amat buruknya apa yang mereka pilih untuk diri mereka,
kalaulah mereka mengetahui.
Isi ayat ini serupa dengan apa yang terdapat dalam Midrash Yalkut yang
menyatakan bagaimana Azael menghiasi para wanita dengan berbagai
perhiasan untuk membuat mereka tampak cantik dan menarik.
Sudah jelas bahwa
kisah Harut dan Marut dalam Qur’an diambil dari Talmud Yahudi dan nama
Harut dan Marut sendiri diambil dari nama dewa-dewi kesuburan Horot dan
Morot dalam legenda agama pagan Zoroastria.
SURGA DAN NERAKA ISLAM
Qur’an dan Hadis menyatakan bahwa dalam Surga terdapat Houris dan
pemuda2 bermata hitam, dan dalam Neraka terdapat Malaikat Maut.
Q 55:72
Dia itu bidadari-bidadari yang hanya
tinggal tetap di tempat tinggal masing-masing.
Q 56:22-23
Dan (mereka dilayani) bidadari-bidadari
yang bermata hitam jeli, [23] Seperti mutiara yang tersimpan dengan
sebaik-baiknya.
Q 56:10-21
“Dan orang-orang yang paling dahulu
beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang
yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan.
Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil
dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang
bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya
berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda lelaki yang
tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman
yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan
tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging
burung dari apa yang mereka inginkan.”
Sumber keterangan ini sebenarnya berasal dari kitab suci agama
Zoroastria.
Alkitab tidak menyebutkan hal2 seperti itu sepatah kata pun. Alkitab
hanya mengatakan bahwa ada tempat yand disebut Surga yang disediakan
Tuhan bagi umatNya, tapi tiada seorang pun Nabi Yahudi atau penulis
Alkitab Perjanjian Baru yang menyebut Houris atau pemuda2 pemberi
kepuasan seksual di sana. Akan tetapi buku2 agama Zoroastria dan
Hindu penuh dengan keterangan seperti ini dan banyak persamaannya dengan
yang tercantum dalam Qur’an dan Hadis.
Mari sekarang kita bandingkan Qur’an dan Hadis menyebut di dalam Surga
terdapat “Houris (bidadari) bermata hitam
jeli,” dan “Houris (bidadari)
bermata besar hitam, bagaikan mutiara yang tersimpan dalam kerang.”
Dalam agama Zoroastria pun dikatakan terdapat Peri (Pairikan
(bahasa Persia)) yang adalah bidadari indah berwarna cemerlang, untuk
memikat hati pria. Kata "Houry" diambil dari sumber Persia
yakni Avesta atau Pehlavi. Demikian pula kata Jinn (jin)
dan Bihisht (Surga) yang dalam Avestic diterangkan sebagai tempat
yang indah. Dalam agama Hindu pun terdapat keterangan yang serupa
yang menerangkan Surga dipenuhi oleh anak2 muda lelaki dan wanita yang
mirip dengan Houris dan Ghilmân dalam Qur’an.
Nama Malaikat Muat dipinjam oleh Muhammad dari legenda/mithologi
masyarakat Yahudi. Kaum Yahudi menamakan Malaikat Maut sebagai
Sammâel, sedangkan Muhammad menamakannya sebagai Azrael (Azazel).
Kedua nama Sammael dan Azrael adalah nama2 Yahudi dan bukan Arab. Kisah
Azrael dalam Qur’an tidak diambil dari Alkitab atau Taurat Yahudi,
melainkan dari agama Zoroastria. Menurut Hadis, Allah menciptakan
Azrael, yang tinggal di neraka tingkat tujuh memuliakan Allah selama
seribu tahun. Dia lalu turun ke tingkat lebih bawah, menghabiskan waktu
yang sama di setiap tingkat, sampai akhirnya dia mencapai bumi.
Dalam bagian kitab Zoroastria berjudul Bundahis, bagian I dan II,
tercantum kisah tentang Setan yang bernama Ahriman:
Ahriman tinggal di lembah sangat dalam dan
gelap untuk melakukan penyiksaan dan kesakitan terhadap semua makhluk
yang melakukan berbagai dosa. Ormazd yang Maha Tahu, mengetahui
keberadaan dan kegiatan Ahriman… Keduanya tidak berhubungan selama 3000
tahun, tanpa ada perubahan atau tindakan apapun. Ahriman yang jahat
tidak peduli akan keberadaan Ormazd, tapi dia kemudian naik ke luar dari
lembah kegelapan, dan berhadapan dengan cahayang terang Ormazd… Lalu,
dengan penuh kebencian dan dengki, dia mulai melakukan pekerjaannya
untuk menghancurkan.
Ada perbedaan yang jelas dalam versi Islam dan versi Zoroastria. Islam
menyatakan Azazel menyembah Tuhan (Allah), sedangan Zoroastria
menyatakan bahwa Ahriman tidak peduli akan Tuhan (Ormazd). Meskipun
demikian, persamaan kedua versi jelas tampak, karena keduanya menyatakan
bahwa makhluk jahat ini ke luar dari lembah tempat tinggalnya untuk
menghancurkan ciptaan Tuhan.
Terdapat pula sebuah dongeng yang dikenal bagi oleh kaum Muslim maupun
kaum Zoroastrian yang berjudul Sang Merak. Inilah kisahnya dalam Islam:
Azazel duduk di pintu gerbang Surga, ingin
segera masuk. Sang Merak saat itu sedang duduk di sebuah puncak ketika
dia melihat seseorang yang berkali-kali memanggil nama Tuhan. “Siapakah
kamu?” tanya sang Merak. “Aku adalah salah satu malaikat Yang Maha
Kuasa”. “Lalu mengapa kau duduk di situ?” “Aku memandang Surga dan ingin
masuk.” Sang Merak berkata, “Aku tidak diberi perintah untuk mengijinkan
siapapun masuk selama Adam masih berada di sana.” “Jika kau
mengijinkanku masuk,”katanya, “Aku akan ajari kamu suatu doa yang jika
diikuti orang lain, maka tiga permintaan akan jadi miliknya: dia tidak
akan pernah tua; tidak akan pernah memberontak, dan tidak akan
dikeluarkan dari surga.” Iblis lalu mengucapkan doanya. Sang merak pun
mengikuti doa itu dari puncaknya, dan lalu terbang bertemu dengan sang
Ular dan memberitahukan apa yang didengarnya dari Iblis.
Kita lalu tahu bahwa Allah mengeluarkan Adam dan Hawa bersama Iblis dari
Surga. (al Anbia.) Sang merak pun juga dikeluarkan dari surga.
Kisah dari Zoroastria juga menyatakan tentang Ahriman berkata sebagai
berikut:
Bukannya aku tidak mampu melakukan apapun
yang baik, tapi aku memang tidak mau, dan untuk memastikan hal itu, aku
membuat burung merak.
Dongeng versi Zoroastria menyatakan bahwa sang Merak adalah ciptaan dan
pembantu Ahriman, dan akhirnya Ahriman dan sang Merak dikeluarkan pula
dari Surga. Hal ini sama dengan versi Qur’an.
CAHAYA MUHAMMAD
Dalam Hadis Rauza-tul-Ahbab dikatakan bahwa Muhammad berkata:
Ketika Adam diciptakan, Allah meletakkan
terang cahaya di dahinya. Katanya, “O, Adam, cahaya yang kuletakkan di
dahimu adalah bagi kebesaran dan kebaikan keturunanmu, cahaya Ketua
Nabi2 yang akan segera datang. Cahaya ini diwariskan dari Adam kepada
Seth, dan pada keturunan Abdullah, dan dari dia kepada Amina pada saat
mengandung Muhammad.
Lalu dalam Hadis Qissas Al anbia tertulis bahwa :
Yang Maha Kuasa membagi cahaya dalam empat
bagian, dan dari setiap bagian diciptakannya kahyangan, pena, surga, dan
umatnya; dari setiap seperempat bagian dibaginya jadi empat lagi: dari
bagian pertama dia menciptakan diriku, yakni seorang Nabi; dari bagian
kedua dia menciptakan akal yang diletakannya di kepala orang yang
beriman; dari yang ketiga diciptakannya kesederhanaan dalam mata orang
yang beriman; dan dari bagian yang keempat diciptakannya kasih sayang
dalam hatinya.
Mari kita bandingkan dengan kisah dari agama
Zoroastria.
Di dalam buku kuno Zoroastria yang berjudul Mînűkhirad (sama
tuanya dengan buku Sâsânides), Ormazd (Ahura Mazda =
Tuhan) dikisahkan sedang membentuk bumi dan alam semesta, malaikat2,
malaikat2 penghulu, dan kecerdasan surgawi, semuanya berasal dari
cahayanya sendiri, dengan pujian Waktu Abadi.
Yang ini dari kitab yang lebih kuno lagi 1 Yesht 19: 31-37.
Lingkaran cahaya yang megah dan agung
melekat pada diri Jamshid, sang dewa umat yang berbakti, di mana dia
berkuasa atas Tujuh kelompok yakni setan2, manusia, peri2, tukang2
sihir, tukang2 tenung, dan para penjahat… Ketika dia merestui perkataan
yang salah dan tidak benar, maka lingkaran cahaya pada dirinya
meninggalkannya dalam bentuk seekor burung terbang… Ketika Jamshid, dewa
umat yang berbakti, tidak melihat lagi lingkaran cahaya itu, dia sedih,
dan dalam kesedihannya dia melakukan banyak kejahatan di dunia. Pada
saat pertama kali meninggalkan diri Jamshid, lingkaran cahaya itu pergi
dari diri Jam putra Vîvaghân (sang matahari) dalam bentuk seekor burung
Varâgh, dan Mithra lalu mengambil lingkaran cahaya itu. Ketika untuk
keduakalinya meninggalkan Jamshid, lingkaran cahaya itu pergi dalam
bentuk seekor burung, dan lalu Faridűn yang perkasa mengambilnya….
Ketika meninggalkan Jamshid untuk ketigakalinya, lingkaran cahaya itu
lalu diambil oleh Keresâspa (Garshâsp) yang adalah orang yang bijaksana
dan gagah perkasa.
Mari kita bandingkan kisah Cahaya Muhammad dalam Hadis dengan kisah
dalam Minukhirad Zoroastria, maka kita dapatkan beberapa persamaan.
Menurut Islam, Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan, jadi
Adam adalah kakek moyang umat manusia. Menurut Zoroastria, Jamshid
adalah orang pertama ciptaan Tuhan, jadi dia, seperti Adam, adalah
kakek moyang umat manusia. Lingkaran cahaya
milik Jamshid diwariskan kepada keturunannya yang terbaik. Hal ini sama
dengan cahaya di dahi Adam yang diwariskan kepada keturunan Adam yang
terbaik, seperti yang dikatakan Hadis tentang cahaya di dahi Muhammad.
Dengan ini jelas sudah bahwa kisah cahaya Muhammad ternyata diambil dari
lingkaran cahaya Jamshid dari agama Zoroastria.
Kisah tentang pembagian cahaya jadi empat
bagian dalam Hadis Qissas Al anbia sama persis dengan kisah yang
tercantum dalam buku Zoroastria yang berjudul Dasâtîr-i Âsmanî.
Selain itu, dalam kitab Zoroastria dinyatakan bahwa Jamshid berkuasa
atas umat manusia, jin, raksasa, dll. Kisah ini kemudian dikutip oleh
masyarakat Yahudi dalam kisah dongeng mereka tentang Raja Salomo, dan
kemudian dikutip pula oleh Muhammad dalam Qur’an.
JEMBATAN SIRAT
Muhammad mengatakan bahwa di Hari Kiamat, setiap manusia harus meniti
jembatan Sirat yang setipis rambut dibelah tujuh dan lebih tajam
daripada mata pedang. Yang berdosa akan jatuh dari jembatan itu dan
masuk neraka. Sekarang yang perlu dipertanyakan adalah: dari mana
asal nama Sirat itu? Ternyata kata Sirat diambil Muhammad dari kitab
Zoroastria
dalam bahasa Persia dan nama aslinya
Chinvat
(huruf “ch” dibaca sebagai huruf “s”). Arti Chinvat sebenarnya adalah “garis
hubung” (the connecting link). Dalam buku kuno Zoroastria yang
berjudul Dinkart tertulis sebagai berikut:
Aku menjauhkan diri dari banyak dosa dan
menjaga diri untuk tetap suci. Melakukan kemurnian enam perintah utama
yakni kelakuan, perkataan, pikiran, kecerdasan, akal sehat, hikmat,
sesuai dengan kehendakMu, wahai Empunya kekuasaan untuk melakukan hal2
yang baik, dengan kebijaksanaan aku lakukan itu, sebagai pelayanan
bagiMu, dalam berpikir, berbicara dan bertindak. Adalah baik bagi diriku
untuk berada dalam jalan yang Terang, sehingga jika aku menjumpai
hukuman berat Neraka, aku akan berhasil menyeberangi Chinvat dan
berhasil mencapai tempat yang diberkati, harum aromanya, terang
benderang diliputi cahaya.
Dari kisah di atas, sudah jelas terbukti bahwa Muhammad mengambil ide
jembatan neraka dari agama Zoroastria.



NUBUAT TENTANG NABI MASA DATANG
Dalam Islam dipercaya bahwa setiap Nabi sebelum mati memberi nubuat
tentang nabi yang akan datang setelah dirinya. Misalnya Abraham
menubuatkan kedatangan Musa, Musa menubuatkan kedatangan Daud, dan
seterusnya. Informasi seperti ini tidak tercantum dalam Alkitab.
Sebaliknya seluruh nabi2 Perjanjian Lama dari awal sampai akhir
menubuatkan kedatangan sang Mesiah (Juru Selamat). Karena tidak ada
dalam kitab Yudaisme dan Kristen, dari mana dong Muhammad mendapatkan
anggapan setiap nabi menubuatkan nabi yang akan datang? Jawabannya dapat
dilihat dalam buku
Zoroastria
yang bernama Dasâtîr-i Âmânî yang ditulis di jaman Khxur Parwez
dan diterjemahkan dalam bahasa Dari.
Buku Dasâtîr-i Âmânî terdiri dari 15 kitab yang katanya diturunkan
kepada 15 Nabi, dan nabi yang terakhir datang adalah nabi Zoroaster
sendiri. Seteiap buku menyebut nama nabi berikut yang akan datang
kemudian. Buku2 ini tidak diragukan lagi hanyalah buku dongeng kuno
belaka, tapi ternyata kemudian Muhammad mengambil gagasan nubuat
tentang nabi masa depan.
Di kalimat kedua dalam setiap buku ini tercantum kalimat:
Dalam nama Tuhan, Sang Pemberi anugrah,
Yang Maha Pemurah
Kalimat ini mirip dengan kalimat awal di Surah2 Qur’an (kecuali Surah
9):
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyanyang
Kalimat pertama dalam buku Zoroastria lainnya yang berjudul Dînkart juga
mencantumkan hal yang serupa:
Dalam nama Ormazd Sang Pencipta
Jadi kebiasaan mencantumkan awal kalimat “demi nama Tuhan” atau “dalam
nama Tuhan” lazim dalam kitab2 agama Zoroastria. Muhammad mencatut
gagasan ini dan memasukkannya dalam Qur’an.
Selain
dari kitab2 suci dan catatan tradisi Yudaisme dan Kristen,
ternyata Muhammad pun mencatut banyak sekali gagasan agama
Zoroastria
(dari Persia). Saya sudah menyebut contohnya di posting2 terdahulu,
misalnya ide tentang houris di surga, nama2 malaikat yang turun ke bumi
dan berbuat dosa, cahaya di jidat Mamat, jembatan Sirat, sembahyang lima
waktu, keesaan Tuhan, dll. Sekarang saya ajukan contoh baru yakni nama2
Tuhan dalam Islam dan Zoroastria. Dalam Qu’an, Muhammad berkata bahwa
terdapat 99 nama Tuhan. Dalam kitab suci Zoroastria berjudul Avesta
(vol. Iii, hal. 23) dinyatakan terdapat 72 (angka keramat bagi kaum
Parsis) nama Tuhan (Ahura Mazda). Mari kita bandingkan beberapa nama
keduanya:
Nama Tuhan dalam Qur’an……………Nama Tuhan dalam Avesta
____________________________________________________________
Sang Pencipta (vi. 102) .................Sang Pencipta (Ormazd Yast, 8,
13)
Tuhan (the Lord) (xli. 30, 46)..........Ahura (the Lord, Ormazd Yast, 8
).
Yang Maha Tahu (xli. 36; xv. 25)…….Mazdau (Yang Maha Tahu, Ormazd Yast,
12)
Yang Maha Melihat (xxii. 60,75).......Yang Maha Melihat(Ormazd Yast, 8,
12)
Maha Kuat (xxii. 40).......................Maha Kuat (Ormazd Yast, 7)
Maha Terpuji (xxxiv. 6)...................Maha Terpuji (Ormazd Yast, 12)
Maha Kuasa (xiii. 16)......................Maha Kuasa (Ormazd Yast, 8 )
Yang Adil (v. 42)............................Maha Adil (Ormazd Yast, 15)
Maha Cepat (v. 6)..........................Dia Yang Menghitung Cermat
(Ormazd Yast, 8 )
Maha Besar (xxxi. 30)....................Maha Besar (Ormazd Yast, 15)
Kalimat awal setiap Sura (kecuali Sura 9) dalam Qur’an berbunyi:
“Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani”
Ide ini ternyata diambil dari agama Zoroastria. Dalam kitab suci
kuno Zoroastria yang Dasatir i Asmani yang terdiri dari 15
bagian. Dalam setiap bagian, di ayat ke dua, tercantum kalimat:
“Dalam nama Tuhan, Sang Pemberi, Sang Pemaaf, Sang Pengampun, dan
Yang Adil.
Kitab Bundahishnih juga menyebutkan kalimat yang sama:
"Dalam Nama Ormazd, Sang Pencipta."
Kitab2 Yahudi juga banyak yang dimulai dengan kalimat:
“Dalam nama Tuhan”
“Dalam Nama yang Maha Kuasa”
Tapi menurut Sale dan Palmer (2 Sale's Koran, Prel. Disc., p. 45:
Palmer’s Qur'an, p. lxviii. Personal inquiries of Parsi friends in
India), Muhammad lebih banyak meminjam dari kepercayaan Zoroastria
daripada kepercayaan Yahudi tentang ucapan Bismillah ini.
Setelah
Muhammad habis2an mencuri ide dari agama satu ke agama yang lain untuk
menciptakan agama barunya, dia lalu mengirimkan tentara2 Muslim untuk
menyerang umat2 agama lain (non-Islam) tersebut. Ini semua terjadi
sewaktu Muhammad tinggal di Medinah. Hanya kematian saja yang
menghentikan dirinya untuk memerangi umat agama lain (disebut KAFIR
dalam Islam). Sialnya, peperangan atas nama Islam dengan menyerang umat
agama lain terus dilakukan kalifah2 selanjutnya pengganti Muhammad.
Kita sudah tahu bahwa Muhammad banyak mencuri informasi dari agama
Zoroastria (dari kekaisaran Persia) untuk mempertebal Qur'an
busuknya itu. Lalu apakah yang kemudian terjadi atas Persia? Jika kita
menggali sedikit buku2 sejarah, kita bisa membaca ajakan paksa masuk
Islam juga dikirim untuk Raja di Raja, Sinar Bangsa Arya, yakni
Yazdgird III, Raja Persia, yang pada itu dianggap orang yang sangat
berkuasa). Mungkin saat itu adalah saat menentukan bagi Islam dan
penaklukkan atas dunia.
Sejarah menyatakan
bahwa 1.400 tahun yang lalu, Umar Ibn Al Khattab, Kalifah Islam
kedua, mengirim surat kepada Raja Yazdgrid III dari Persia untuk
melakukan Bei’at (bergabung bersama Kalifah dan menerima Islam). Umar
menulis:
“Di jaman dahulu, kekuasaanmu mencapai
separuh dunia yang dikenal, tapi apa yang terjadi sekarang? Tentaramu
telah dikalahkan di semua pihak dan negaramu hampir runtuh. Aku
menawarkan padamu jalan untuk menyelamatkan dirimu. Mulailah sembahyang
pada Allah, Tuhan yang Esa, Tuhan satu2nya yang menciptkan seluruh alam
semesta. Kami bawa pesan Allah padamu dan dunia. Sembahlah Allah, Tuhan
yang sejati.”

Raja Yazdgird III lalu menulis surat balasan kepada Umar yang isinya:
“Dalam nama Ahura Mazda, pencipta
Kehidupan dan Kecerdasan:
Kau, dalam suratmu menulis bahwa kau ingin mengarahkan kami kepada
Tuhanmu, Allah tanpa tahu siapa kami sebenarnya dan siapa yang kami
sembah. Sungguh mengherankan jika kau berkedudukan sebagai Kalifah
(Penguasa) Arab, tapi pengetahuanmu setingkat dengan orang Arab kelas
rendah yang berkeliaran di padang pasir Arabia, dan sama pula dengan
orang suku padang pasir!
”Kau menganjurkan kami menyembah Tuhan yang esa tanpa tahu bahwa ribuan
tahun masyarakat Persia telah menyembah Tuhan yang esa dan mereka
menyembahNya lima kali sehari!
“Kala kami telah mendirikan kebudayaan penuh kemakmuran dan perlakuan
luhur di dunia dan menegakkan Pikiran2 Baik, Kata2 Baik, Perbuatan2 Baik
dengan tangan2 kami, kau dan kakek moyangmu masih berkeliaran di padang
pasir, makan kadal, dan kau tidak punya apa2 untuk menafkahi dirimu dan
kalian mengubur bayi2 perempuan kalian yang tanpa dosa hidup2.” (Ini
adalah tradisi Arab kuno, karena mereka lebih memilih punya anak laki
daripada anak perempuan)
”Kalian pancung anak2 Tuhan, bahkan pula tawanan2 perang, memperkosa
kaum wanita, merampoki kafilah2, melakukan pembunuhan massal, menculik
istri orang dan mencuri harta benda mereka! Hati kalian terbuat dari
batu, kami kutuk segala kekejian yang kalian lakukan. Bagaimana mungkin
kau mengajari kami Jalan2 Tuhan jika kau melakukan perbuatan2 keji itu?”
”Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk membunuh, merampoki dan
menghancurkan? Apakah kalian sebagai umat Allah yang melakukan ini dalam
namaNya? Ataukah kalian berdua?”
”Katakan pada kami. Dengan segala kekuatan miltermu, kelakuan barbarmu,
pembunuhan dan perampoka dalam nama Allah yang Akbar, apakah yang telah
kau ajarkan pada tentara Muslim ini? Pengetahuan apakah yang
kausampaikan pada Muslim yang ingin kau paksa untuk ajarkan pada
non-Muslim? Budaya apakah yang kau dapatkan dari Allahmu, sehingga kau
berani2nya memaksakan itu kepada orang lain?”
”Aku mohon kau tetap bersama Allahmu yang Akbar di padang pasirmu dan
tidak bergerak mendekat ke kota2 kami yang beradab, karena agamamu
mengerikan dan kelakuanmu amat biadab!”
(Salinan surat asli (632 AD - 651 AD) bisa dilihat di London Museum)
Dengan surat ini, perang pun dimulai dan pasukan Arab Islam di bawah
komandan perang yang bengis yang bernama Sa'd ibn Abi Waqqas
bergerak mendekat. Tentara Persia dikalahkan dalam Perang Qadisiyah.
Rostam Farokhzad, komandan perang Persia yang gagah berani dibunuh dan
usaha akhir Yazdgird untuk membalas kekalahan ternyata tidak berhasil,
sehingga Islam pun memasuki saat kemenangan baru.
Orang2 Arab lalu memaksa masyarakat Persia memeluk Islam. "La ilah
ilallah Mohammed ur Rasulallah" (Tiada Tuhan selain Awloh dan Muhammad
adalah RasulNya). Mereka yang tidak mau mengucapkan syahada (kalimat
pengakuan di atas) diancam bunuh atau dipaksa bayar pajak yang berat dan
hukuman2 tidak adil lainnya.
Sebelum Islam masuk dan menjajah Persia, kekaisaran Persia merupakan
budaya unggul, terutama, termakmur dan terbaik di seluruh tanah Timur
Tengah. Begitu disentuh Islam, maka mundurlah sudah semua prestasi yang
dicapai masyarakat Persia saat itu. Kemunduran terus berlangsung sampai
detik ini. Hal yang sama juga terjadi pada Kerajaan Mesir yang tadinya
unggul dan penuh prestasi. Begitu dijajah Islam, maka mundurlah sudah
Mesir sampai detik ini di titik terendah, tidak punya harga diri lagi,
harus disuapin kafir Barat untuk bisa hidup. Hal yang sama juga terjadi
pada Indonesia yang tadinya jaya, disegani, dihormati di seluruh Asia
Tenggara. Begitu Islam masuk, musnahlah sudah segala prestasi
mengagumkan itu. Yang tersisa hanyalah kebobrokan, kemiskinan,
ketidakberdayaan, yang menghasilkan rasa malu dan pilu belaka karena
harus utang kanan-kiri untuk menghidupi diri sendiri.
ISLAM ADALAH AGAMA PADANG PASIR CIPTAAN ARAB BARBAR. SEMUA YANG DISENTUH
ISLAM BERUBAH JADI PADANG PASIR YANG KERING KERONTANG, JAUH DARI
KEMAKMURAN, KESEJAHTERAAN, DAN KEDAMAIAN.

Saat Muhammad menaklukkan Mekah, dia masuk Ka’abah dan lalu
menghancurkan gambar2 Abraham dan malaikat2 yang berada di dinding2
Ka’abah. Dia menghancurkannya dengan kedua tangannya sebuah patung
merpati terbuat dari kayu dan lalu melemparkannya. Allah cepat2
menurunkan ayat Q 3:67 tentang Abraham yang mensahkan
penghancuran yang dilakukan Muhammad atas patung2 berhala dan gambar2.
Setelah itu Muhammad memerintahkan panglima2 perangnya mengunjungi suku2
Arab di sekitar Mekah untuk melakukan penghancuran terhadap rumah2
ibadah non-Islam dan berhala2nya pula:
Penghancuran berhala Yakut milik Bani (suku) Tayii di al-Fuls oleh Ali
b. Talib atas perintah Muhammad pada bulan September, 630M
Penghancuran berhala dewa Yaghuth di Dhu al-Kaffyan oleh Tufayl ibn ‘Amr
al-Dawsi atas perintah Muhammad pada bulan January, 630 M
Penghancuran berhala dewa al-Manat di al-Kadid oleh Sa’d b. Zayd
al-Ashhali atas perintah Muhammad —January, 630M
Penghancuran berhala dewa al-Lat di Taif oleh Abu Sufyan b. Harb—April,
631M
Penghancuran berhala dewa Wadd di Dumat al-Jandal oleh Khalid ibn Walid
atas perintah Muhammad pada bulan April, 631M.
(ref. Ibn al-Kalbi, Hisham, “The Book of Idols (Kitab Al-Asnam))
dan masih banyak lagi daftarnya. Beli aja bukunya kalo penasaran.
Jadi kalau Muhammad masih hidup dan melihat Piramid atau Borobudur
berdiri tegak, apakah yang akan dilakukannya? Apakah akan didiamkan saja
patung2 Budha yang sedemikian banyaknya itu? Masih ingat penghancuran
patung Buddha setinggi gedung bertingkat di Afghanistan oleh Taliban?
Nah, yang dilakukan para Taliban itu adalah 100% sunnah nabi!!!
DALAM
QURAN ALLAH BERSUMPAH
Keimanan
Islami bahwa:
"ISI AL QUR'AN ADALAH 100% WAHYU ALLAH YANG DIDIKTE/DI-IMLAKAN LANGSUNG
OLEH ALLAH KEPADA NABI MUHAMMAD (atau dengan perantaraan Malaikat
Jibrail) SECARA KALIMAT DEMI KALIMAT DAN KATA DEMI KATA, SEHINGGA OLEH
KARENANYA ISI AL QUR'AN ITU TIDAK ADA SECUILPUN HASIL PEMIKIRAN,
REKAYASA DAN PERBUATAN TANGAN MANUSIA TERMASUK MUHAMMAD SENDIRI".
Kalau hal ini benar adanya (100% Wahyu Allah Yang Maha Sempurna),
PASTILAH tidak akan terdapat kejanggalan-kejanggalan, perbedaan dan
pertentangan-pertentangan antara nats/ayat yang satu dengan nats/ayat
yang lainnya dalam Al Qur'an, karena ALLAH YG SATU itu HANYA mewahyukan
Al Quran kepada SATU ORANG saja yaitu Muhammad sendiri.
Baiklah, sekarang akan kita amati nats 68 - Al Qalam - 10 untuk menguji
kebenaran pandangan di atas.
Nats 68 - Al Qalam - 10:
"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang
yang banyak bersumpah lagi hina"
Ayat ini sengaja kupilih karena kuanggap sebagai
satu faktor inti yang secara tidak disadari
oleh Muhammad telah dia masukkan dalam Al Qur'an sebagai Wahyu Allah
yang sekaligus mengungkapkan kedoknya sendiri dan sekaligus pula
mengungkapkan bahwa Al Qur'an itu tidak boleh dipercayai karena penuh
dengan dusta.
Kenapa aku berkesimpulan demikian ?
a. Terus terang saja, selama ini belum pernah ditemukan satu
kitab-pun yang beredar selain dari Al Qur'an yang isinya penuh dengan
segala jenis SUMPAH.
- Dari sejak awal sampai akhir dari 30 juz, 114 nats/surat dan 6.666
ayat yang ada dalam Al Qur'an itu, banyak sekali kata-kata "SESUNGGUHNYA"
(jumlahnya ada 2257 kali atau +/- 34% dari 6.666 ayat), dan kalau
ditambah dengan sumpah secara langsung, jumlahnya menjadi kurang lebih
2/5 atau 40%, yang artinya adalah ALLAH secara tidak langsung BERSUMPAH
bahwa ayat yang DIA turunkan itu tidak bohong melainkan benar-benar
dapat dipercaya adanya (alangkah ragu-ragunya ALLAH itu ?)
- Secara khusus pula, karena masih juga ragu-ragu meskipun sudah
melafazkan ribuan kali kata "SESUNGGUHNYA", ALLAH menurunkan satu
nats/surat KHUSUS yaitu 52-ATH THUUR yang
terdiri dari 49 ayat, yang isinya hampir seluruhnya (99%) terdiri dari
SUMPAH-SUMPAH dan BANTAHAN-BANTAHAN dari ALLAH terhadap umat manusia
yang daif, hina dan kotor-berdosa. Alangkah rendahnya derajat
dan integritas ALLAH yang harus menurunkan nats/surat "SUMPAH" untuk
meyakinkan manusia yang adalah ciptaanNya sendiri.
b. Apa yang Allah sumpahkan di butir - a di atas, rupa-rupanya belum
ALLAH anggap cukup memadai, sehingga perlu lagi ALLAH tambahkan dengan
SUMPAH-SUMPAH jenis lain yang tersebar ke 30 Juz dari Al Qur'an
tersebut, yaitu dengan kata-kata:
- Demi ALLAH (ALLAH yang mana lagi??)
- Demi Al Qur'an yang penuh hikmah
- Demi MALAIKAT-MALAIKAT
- Demi LANGIT
- Demi GUGUSAN BINTANG2
- Demi BINTANG-BINTANG
- Demi MATAHARI
- Demi ANGIN
- Demi AWAN
- Demi MALAM
- Demi SIANG
- Demi SUBUH
- Demi FAJAR
- Demi KIAMAT
- Demi BUMI
- Demi KOTA MEKKAH
- Demi MASA
- Demi KALAM
- Demi JIWA MANUSIA (91 -ASY SYAMS-7)
- Demi BUAH TIN
- Demi BUAH ZAITUN
- Demi KUDA PERANG
Dan "DEMI-DEMI" lainnya, yang tidak perlu ditambahkan di sini lagi
karena deretannya sudah cukup panjangnya.
Tegasnya, dengan begitu banyaknya ALLAH
BERSUMPAH dalam Al Qur'an terhadap umat manusia yang daif, hina,
kotor-berdosa yang adalah hasil ciptaanNya sendiri, maka sama saja
artinya bahwa Al Qur'an telah menghina ALLAH dengan tidak
tanggung-tanggung.
Bagi setiap orang Muslim yang sedikit saja mau memakai akal-budi dan
rationya serta mau jujur mengikuti suara hari nurani, pada hakekatnya
sudah cukup alasan dan dalil untuk menolak Al Qur'an itu Wahyu ALLAH,
karena kalau kita toh masih tetap mau menerimanya sebagai Wahyu ALLAH,
maka berarti kita mengakui bahwa ALLAH umat muslim itu : TIDAK MAHA
KUASA lagi, TIDAK MAHA MENGETAHUI lagi, TIDAK MAHA KONSISTEN lagi,
melainkan sudah turun posisi dan integritasnya sebagai seorang oknum
yang “RAGU-RAGU dan HINA".
Apakah benar begitu?? PASTI TIDAK BENAR!!! Mana mungkin Tuhan tidak Maha
Kuasa, tidak Maha Mengetahui, tidak Maha Konsisten. Yang benar ialah
bahwa Muhammad-lah yang tidak maha
mengetahui, yang ragu-ragu, yang inkonsisten, yang tidak percaya dirinya
sendiri, yang plin-plan, sehingga untuk membela dirinya atas tudingan
lawan-lawan dan musuh-musuhnya perlu dan harus ber-SUMPAH dengan 1001
macam "DEMI" untuk meyakinkan mereka dengan wahana Al Qur'an ciptaannya
sendiri, yang dia nyatakan sebagai Wahyu ALLAH itu, dan oleh karena
saking bingungnya atau satu usaha untuk pembenaran yang tidak benar,
dengan sadar diturunkannya-lah dalam Al Qur'an nats 68 Al Qalam 10,
tersebut diatas: "DAN JANGANLAH KAMU IKUTI SETIAP ORANG YANG BANYAK
BERSUMPAH LAGI HINA,"
Kesimpulan:
Muhammad menipu Muslim dengan mengatakan Allah bersumpah berkali-kali
untuk meyakinkan manusia bahwa Qur'an adalah benar2 wahyu Allah.
Tuhan sejati tidak akan melakukan tindakan menghina diri sendiri seperti
itu.
Belum
pernah ditemukan kitab agama selain Al Qur'an yang isinya membeberkan
bahwa ALLAH itu adalah Oknum yang paling tidak percaya diri, paling
ragu-ragu dan paling tidak konsisten, sehingga perlu sampai ratusan kali
harus mengulang-ulang SabdaNya, spt:
a. Bahwa Al Qur'an itu benar-benar WahyuNya
(ALLAH) dan tidak bikin-bikinan manusia.
b. Bahwa Muhammad itu adalah benar-benar NabiNya (ALLAH) yang Dia
utus/suruh dan bukan Nabi aku-akuan saja.
Sehingga, entah darimana asal-usul tudingan keraguan akan Al Quran &
Muhammad, mendadak ALLAH menjadi kalap sehingga menurunkan dengan
BERSUMPAH WahyuNya : 81 At Takwir 15-25 yang berbunyi demikian:
"Sungguh, Aku (ALLAH) bersumpah demi :
bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah
hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai
menyingsing, sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang
dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang
mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy (Tahta),
yang dita'ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu
(Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya
Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad)
bukanlah seorang yang bakhil (pendusta) untuk menerangkan yang ghaib.
Dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk"
Apakah anda sebagai seorang Muslim yang berakal-budi yang punya akal dan
ratio sehat, yang jujur terhadap suara hati-nurani anda yang paling
dalam, masih dapat menerima bahwa ALLAH yang Mahabesar, yang Mahakuasa,
yang Maha Esa, yang ada dengan sendirinya, yang Kekal dan tidak pernah
berobah-obah menjadi begitu kecil, begitu lemah dan tidak berdaya,
sehingga harus mengeluarkan pernyataan dengan SUMPAH seperti yang
tersurat dalam 81 At Atakwir 15-25 tersebut diatas terhadap tudingan
orang-orang yang tidak percaya bahwa Muhammad itu Nabi dan Al Qur'an itu
Wahyu Allah, sedangkan orang-orang yang menuding-nuding itu adalah
notabene hasil ciptaan Allah itu sendiri??
Aku yakin bahwa anda dengan perasaan yang tersinggung berat dengan suara
lantang akan menjawab :"INI PENGHINAAN BERAT TERHADAP ALLAH, INI TIDAK
MUNGKIN TERJADI, INI TIDAK MASUK DIAKAL, INI BEYOND REASON dan APA YANG
TERSURAT DALAM 81 AT AKWIR 15-25 TERSEBUT ITU BUKANLAH WAHYU ALLAH",
AMIN.
Terkecuali tentunya kalau mendadak sontak telah terjadi pertukaran
STATUS/POSISI antara Allah dan Muhammad, yaitu bukan
Muhammad lagi yang Pesuruh Allah melainkan
Allah-lah yang telah berobah menjadi pesuruhnya Muhammad. Hal
ini tentu saja TABU dan MUSTAHIL karena mengarahkan pikiran ke-arah itu
saja sudah merupakan raja-nya-Syirik!!
Jadi dengan sendirinya tertinggal satu kesimpulan yaitu : "BAHWA AL
QUR'AN ITU BUKAN WAHYU ALLAH"!!!
Yang benar tentang hal ini adalah bahwa berdasarkan logika dan ratio
dari siapa saja yang mau berlaku jujur pada dirinya sendiri pasti
berpendapat seperti dibawah ini:
"Pada waktu sebelum adanya nats 81 At Takwir 15-25 tersebut, Muhammad
telah dituding dan diolok-olokkan oleh orang Arab musuh-musuhnya, bahwa
dia adalah seorang yang sinting dan gila serta pendusta, dan Al Qur'an
yang katanya Wahyu Allah itu dicemooh sebagai perkataan / ayat-ayat
setan belaka alias bukan Wahyu Allah. Untuk membela dirinya dari tuduhan
dan tudingan musuh-musuhnya tersebut, satu dan lain hal karena dia
sendiri tidak mampu berbuat mujizat apapun sebagai counter balik, maka
disuruhnyalah sekretarisnya Zaid bin Tsabit untuk menuliskan bantahannya
yaitu nats 81 At Takwir 15-25 tersebut ke dalam Al Qur'an dengan
mengatas-namakan WAHYU ALLAH agar kelihatannya menjadi BERBOBOT".
Skenario atau analisa seperti dijabarkan di atas inilah yang masuk
diakal siapapun yang berpikiran sehat dan tidak tenggelam dalam
fanatisme dan taklik buta. Muhammad pada waktu itu sudah berada dalam
posisi apa yang kita sebut sekarang ini "SUDAH TERLANJUR BASAH" dan
"SUSAH TIDAK ADA JALAN MUNDUR LAGI". Karena terlanjur menyatakan "SEMUA
YANG TERTULIS DALAM AL QUR'AN ITU ADALAH 100% WAHYU ALLAH", sedangkan
sebenarnya adalah hasil pemikiran, rekaan, imajinasi, sangka-sangkaan
dia sendiri sebagai seorang insan biasa yang tidak luput dari
kesalahan-kesalahan. Dan hal inilah yang membuat isi Al Qur'an itu penuh
dengan sumpah-sumpah, penuh dengan pengulangan-pengulangan, penuh dengan
dualisme dan kejanggalan-kejanggalan, kontroversial dan axiomalistis
(bertentangan satu dengan yang lain), ragu-ragu dan inkonsisten yang
akibat lanjutnya ialah bahwa semua hal negatif tersebut itu secara
tragis dan menyedihkan seluruhnya TERPULANG KEPADA ALLAH DAN TANGGUNG
JAWAB ALLAH SEMATA-MATA.
Atau dengan perkataan lain yang lebih tegas dan gamblang : "Adanya
sumpah-sumpah, pengulangan-pengulangan, kejanggalan-kejanggalan,
dualisme, kontradiksi-kontradiksi, axioma-axioma dan inkonsistensi2
dalam Al Qur'an bukanlah tanggung jawab Muhammad, melainkan tanggung
jawab ALLAH semata-mata karena kesemuanya itu adalah WahyuNya, sedangkan
Muhammad hanya menulis dan menyampaikannya saja !"
INTINYA, AL QURAN BUKAN WAHYU ALLAH YG BENAR!
KAABAH
SEBELUMNYA KUIL HINDU
Kabah
dulunya justru Kuil Hindu….
Hajar aswad adalah lingga syiwa ( Sanskrit : Sanghey Ashweta atau batu
yang tidak putih)
Sedangkan maqam Ibrahim adalah jejak kaki Brahma (jejak kaki Brahma dan
Wishnu sering dijumpai di kuil Hindu). Muhammad kerena kebodohannya
menganggap Brahma itu Ibrahim…..kerena mirip bunyinya…Dasar Muhammad
tidak terpelajar (sesuatu yang justru dibanggakan oleh Muslim).
Hal ini
banyak diakui oleh umat Hindu sendiri, dan tampaknya betul. Sebaliknya,
umat Yahudi dan Kristen sangat menentang pernyataan Muhammad bahwa
Ka'abah didirikan oleh Abraham. Umat Hindu yakin bahwa patung dewa Hubal
yang terbesar di Ka'abah tak lain adalah patung Hanuman. Mari tengok
salah satu keterangan dari pihak Hindu:
The Vedic Past of
Pre-Islamic Arabia
kutipan:

The Pre-Islamic deity "Hubal" was
derived from the red
skinned Ba-Hubali, another name for Lord Hanuman (Dewa
"Hubal" pra-Islam berasal dari dewa Ba-Hubali (nama lain Dewa Hanuman)
yang berkulit merah.
Hubal is none other than Ba-Hubali, another
name for Hanuman. The First Encyclopaedia of Islam relates that "Hubal
was an idol, made of red carnelian, in the form of a man". These clues
cannot be overlooked. Anybody who is familiar with Hindu temples knows
that BaHubali (Hanuman) is the great Monkey God, the son of the
Wind-God. He is always represented in red, and adorns the roof of the
temple pinnacle.
terjemahan:
Hubal tak lain adalah Ba-Hubali, yang
adalah nama lain Hanuman. Ensiklopedia Islam pertama menyatakan bahwa
"Hubal adalah dewa berhala, berwarna merah, dalam bentuk manusia". Ciri2
ini khas. Setiap orang yang mengerti kuil2 Hindu akan tahu bahwa
Ba-Hubali (Hanuman) merupakan Dewa Monyet agung adalah putra dari Dewa
Angin. Dia selalu digambarkan dengan warna merah dan ditempatkan di
puncak kuil. (Hubal di Mekah juga ditempatkan di atap Ka'abah).
Jadi awalnya, Ka'abah adalah kuil Hindu. Muhammad lalu mengganti
fungsinya menjadi kuil Islam tempat Allah tinggal. Dia pun lalu mencatut
nama nabi Abraham dari kitab suci Yahudi dan lalu mengarang cerita bahwa
Abrahamlah yang mendirikan Ka'abah. Sungguh Arab celaka tak tahu malu.
Dalam
Islam, tidak cukup hanya beriman saja, tapi setiap Muslim harus
melakukan lima kewajiban Islam. Kewajiban2 ini dikenal juga sebagai 5
pilar Islam yang terdiri atas:
(1) Shahadah
(2) Salat lima kali sehari ke arah Ka’abah di Mekah
(3) Puasa selama bulan Ramadan
(4) Bayar zakat
(5) Naik haji di Mekah
Shahadah

Shahadah di bendera Saudi Arabia
Shahadah adalah pengucapan kalimat “La-ilaha il-lallahu
Muhammadu'r-Rasulu'llah” yang artinya adalah “Tiada Tuhan selain
Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Kalimat yang menyatakan
keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad ini berulang kali dinyatakan dalam
Qur’an. Lihat ayat2 ini: Suratu'l-Baqara (ii) 158; Suratu Ali 'Imran
(iii) 1, 4, 16; Suratu'n-Nisa' (iv) 89,169[171]; Suratu't-Tauba (ix)
130; Suratu Ta Ha (xx) 7[8], 14, 98; Suratu'l-Anbiya' (xxi) 87; Suratu
Sad (xxxviii) 65; Suratu'd-Dukhan (xliv) 7; Suratu'l-Ikhlas (cxii).
Apostleship of Muhammad: Suratu'l-Hujurat (xlix) 14, 15; Suratu'n-Nur
(xxiv) 46, 51, 53, 55, 62; Suratu'l-Ahzab (xxxiii) 29, 31, 66, 70[71];
Suratu'l-Hadid (lvii) 7, 18[19], 21, 28; Suratu'l-Mudjadala (lviii) 5;
Suratu'l-Fath (xlviii) 9, 13, 28, 29; Suratu's-Saff)
Kalimat ini harus diucapkan sehari sekali, diulang dua kali sewaktu
Adhan (panggil orang sembahyang). Muslim harus mengucapkan kalimat ini
setiap hari saat sembahyang. Kalimat ini juga diserukan pada saat Muslim
berperang dan untuk mengipasi fanatisme buta. Ingat takbir malam
Lebaran? Muslim mengucapkan kalimat ini semalam suntuk pakai megaphone.
Hasilnya apa ya?
Sekarang dari mana Muhammad dapat gagasan pengucapan kalimat seperti
itu?
Silakan buka buku sejarah Islam tertua Sirat Rasul Allah karangan
Ibn Ishaq dan diedit oleh Ibn Hisham, edisi Mesir, bagian pertama, hal.
27 dan 28. Di buku itu tertulis bahwa kaum Arab pagan Quraish
(suku Muhammad sendiri di Mekah) di jaman pra-Islam, biasa mengadakan
ibadah agama yang dinamakan Ihlal dan mereka pun mengucapkan kalimat
yang menyatakan keesaan Tuhan yang berbunyi:
“Labbaika, Allahumma: Kami datang ke
hadiratMu, wahai Tuhan; kami datang ke hadiratMu. Kau tidak berpasangan,
kecuali pasangan yang ada padaMu; Kau memilikinya dan apapun yang dia
miliki.”
Kalimat atau pengakuan agama ini mirip dengan kalimat pertama Shahada
(tiada Tuhan selain Allah) dan kalimat ini sudah sering diucapkan bangsa
Arab ratusan tahun sebelum Muhammad lahir. Meskipun Quraish
beragama pagan dan menyembah banyak dewa, tapi mereka percaya akan
ketunggalan Tuhan utama mereka yakni Allah Ta-ala sang dewa Bulan.
Dewa Bulan ini adalah Tuhan yang Maha Kuasa bagi pagan Quraish.
Kalimat serupa juga diucapkan kaum Yahudi dalam upacara agama Yudaisme.
Kalimat ini disebut sebagai
עַמ
ֶ_
Shema'
dan dimulai seperti ini:
“Dengar wahai Israel, Tuhan kita adalah
Esa”
Kalimat ini diulang setiap hari oleh kaum Yahudi. Bagian pertama Talmud
berisi diskusi tentang kalimat ini. (1 Deut. vi. 4; Berakhoth fols.
2a-13a; vide ante, p. 28.).
Pengakuan atas keesaan Tuhan juga dinyatakan putra2 Yakub sebelum Yakub
mati dan hal ini dikutip Muhammad dalam Suratu'l-Baqara (ii) 127.
Sudah jelas kalimat pertama Shahadah diambil dari tradisi agama pagan
Quraish dan agama Yudaisme kaum Yahudi. Lalu kalimat kedua (“dan
Muhammad adalah Rasul Allah”) diambil dari mana dong? Dari mana lagi
kalau bukan dari angan2 muluknya sendiri.
Salat
Salat berasal dari kata Arab yang berarti sembahyang, merupakan
kewajiban ibadah kedua yang dinyatakan dalam Qur’an untuk dilakukan
Muslim lima kali sehari. Inilah pembagian waktu salat:

Ibadah salat merupakan kewajiban bagi Muslim karena ditulis di Qur’an
dan dengan begitu diperintahkan oleh Tuhan. Ibadah salat harus diucapkan
dalam bahasa Arab, tidak boleh dalam bahasa Indonesia. Selain
lima kali sehari, ada tiga kali lagi ibadah sembahyang yang dapat
dilakukan, meskipun bukan kewajiban (‘nafl) dan tidak dianggap dosa jika
tidak dilakukan. Salat sukarela ini disebut sebagai Salatu'l-'Ishraq,
setelah matahari terbit; Salatu'd-Duha sekitar jam 1 siang; and
Salatu't-Tahajjud, setelah jam 12 malam. Tentang nafl bisa dibaca
keterangannya di Hadis Sahih Bukhari vol. 1, hal. 4.
Selain salat setiap hari, para Muslim pun hari melakukan Salatu'l-Jum'a
(Sembahyang Jum’at) dan ini dinyatakan di Qur’an dalam Suratu'l-Jumu'a
62: 9
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila
diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat,
maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan
mengerjakan sembahyang jumaat) dan tinggalkanlah berjual beli (pada saat
itu); yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat
yang sebenarnya)
Selain itu masih ada beberapa Salat yang lain yakni:
Salatul-Musafir yakni sembahyang bagi yang melakukan perjalanan
Salatu'l-Khauf yakni sembahyang untuk mengatasi takut (Suratu'n-Nisa'
(iv) 102-3.)
Salatu'l-Janaza yakni sembahyang untuk menguburkan jenazah
Salatu'l-Istikhara yakni sembahyang untuk dapat bimbingan sebelum
melakukan pekerjaan penting
Salatu't-Tauba yakni sembahyang untuk minta ampun (Suratu Ali 'Imran
(iii) 129, 130)
Masih ada pula Salatu'l-Kusuf, 2 rak’at waktu gerhana matahari,
Salatu'l-Khusuf, 2 rak’at waktu gerhana bulan; Salatu'l-Istisqa' yakni
salat di musim kemarau; dan Salatu'l-Tarawih, 20 ra’kat setiap malam di
bulan Ramadan.
Sekarang pertanyaannya dari mana Muhammad
mengarang kewajiban sembahyang lima kali sehari?
Muhammad banyak berhubungan dengan kaum Yahudi di masa awal dirinya
merasa jadi nabi. Pada saat itu, di Mekah, hubungan Muhammad dan kaum
Yahudi masih dalam taraf damai. Musuhnya pada saat itu baru satu yakni
kaum pagan Quraish. Dia sengaja berbaik-baikan, agar diakui sebagai nabi
baru oleh kaum Yahudi. Baca sendiri ayat2 Qur’an awal tentang pujian2
Muhammad terhadap orang2 Kitab (Yahudi, Kristen, Sabean). Pujian2 ini
nantinya digantinya sendiri dengan caci maki, kutuk, ancaman neraka,
bahkan tuduhan tanpa bukti memalsu kitab suci sendiri terhadap orang2
Kitab dalam ayat2 Medinah. Semuanya ini terjadi karena tiada orang2
Kitab yang cukup sinting untuk percaya akan kenabian Muhammad.
Dalam usahanya memupuk hubungan baik, dia pun tak segan2 mencontek tata
cara ibadah dan jumlah sembahyang dalam
Yudaisme
dan diterapkannya dalam agama baru ciptaannya sendiri. Dalam Surat
Hud (11) ayat 116 (masa akhir Mekah), Muhammad berkata:
Dan dirikanlah sembahyang (wahai Muhammad,
engkau dan umatmu), pada dua bahagian siang (pagi dan petang) dan pada
waktu-waktu yang berhampiran dengannya dari waktu malam.
Dalam Suratu'l-Qaf (50) ayat 39,40 (masa awal Mekah) dinyatakan
pula:
(39) … bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu
(terutama) sebelum terbit matahari dan sebelum matahari terbenam.
(40) Serta bertasbihlah kepadaNya pada
malam hari dan sesudah mengerjakan sembahyang.
Dalam Suratu Bani Isra'il (17) ayat 79 (masa awal Mekah)
dinyatakan:
Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu
malam serta kerjakanlah sembahyang tahajud padanya, sebagai sembahyang
tambahan bagimu; semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari
akhirat di tempat yang terpuji
Ayat2 di atas (11:116; 50:39,40; 17:79) menyatakan perintah
sembahyang 3 kali sehari. Jelas sudah bahwa Muhammad mencontek agama
Yudaisme, karena hal ini sama persis dengan jumlah ibadah sembahyang per
hari yang dinyatakan di Kitab Perjanjian Lama dan buku Talmud Yahudi.
Silakan buka Daniel 6:11 dari Perjanjian Lama. Di ayat itu
dinyatakan bahwa meskipun dilarang oleh Raja Babilonia, Daniel tetap
sembahyang:
Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap
yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa
serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
Dalam Kitab Mazmur, Daud berkata:
Pada malam hari, pagi hari, dan siang
hari, aku akan berdoa dan menangis keras.
Perintah sembahyang 3 kali sehari juga dinyatakan dalam Talmud
Berakhoth, (bagian dari Talmud Yerusalem) fol. 7b, kolom 1:
Dari manakah mereka (kakek moyang Yahudi)
mengetahui perintah sembahyang tiga kali? Mereka melakukan sembahyang
tiga kali sehari …pagi…siang hari…malam hari… Yehoshuah ben Levi
berkata: “mereka tahu (sembahyang tiga kali sehari) dari kakek moyan
mereka … Abraham… Ishak… Yakub.” “Sumpah puasa...harus diucapkan setiap
kali sembahyang (malam, pagi, dan siang hari).”
Terdapat pula keterangan yang sama dalam kitab Apocrypha (1 Esdras v.
50; Judith ix. 1; xi. 17; xii. 6-8 ) tentang ibadah sembahyang untuk
pembakaran korban (binatang) di malam dan pagi hari.
Tapi di ayat2 Qur’an di masa berikutnya, Muhammad menambah jumlah waktu
sembahyang yang harus dilakukan Muslim setiap hari. Hal ini terjadi
setelah dia mengaku pergi ke surga (Isra Mi’raj) dan katanya Allah
memerintahkannya sembahyang lima kali sehari. Silakan baca
Suratu'r-Rum (30) 17, 18,
(17) Setelah kamu mengetahui yang
demikian) maka bertasbihlah kepada Allah semasa kamu berada pada waktu
malam dan semasa kamu berada pada waktu Subuh. [18]
Serta pujilah Allah yang berhak menerima
segala puji (dari sekalian makhlukNya) di langit dan di bumi dan juga
(bertasbihlah kepadaNya serta pujilah Dia) pada waktu petang dan semasa
kamu berada pada waktu Zuhur
Juga sembahyang 4 kali sehari di Suratu Ta Ha (20) 130
Oleh itu, bersabarlah engkau (wahai
Muhammad) akan apa yang mereka katakan dan beribadatlah dengan memuji
Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya dan beribadatlah
pada saat-saat dari waktu malam dan pada sebelah-sebelah siang; supaya
engkau reda (dengan mendapat sebaik-baik balasan).
Jadi pertama-tama Muhammad memerintahkan sembahyang 3 kali sehari,
lalu 4 kali sehari dan diganti lagi jadi 5 kali sehari. Jika
sembahyang 3 kali sehari merupakan gagasan dari agama Yudaisme, maka
dari manakah gagasan sembahyang 5 kali sehari? Jawabannya bisa dilihat
dari agama
Sabean
yang dianut masyarakat Arabia di masa pra Islam. Penulis Arab bernama
Abu’l-Fida dalam bukunya yang berjudul At-Tawarikhu'l-Qadimah (History,
Ante-Islamica), hal 148, mengutip pernyataan penulis Arab kuno brenama
Abu 'Isa'l-Maghribi sebagai berikut:
Kaum Sabian melakukan ibadah tertentu, yang
antara lain adalah tujuh kali sembahyang, dan lima kali dari tujuh kali
sembahyang itu sama pula dengan yang dilakukan para Muslim. Sembahyang
keenam adalah sembahyang subuh, dan sembahyang ke tujuh dilakukan pada
akhir jam keenam malam hari… Tata cara sembahyang mereka, sama seperti
kaum Muslim, membutuhkan ketulusan hati dan perhatian khusuk sewaktu
melakukannya. Mereka sembahyang bagi orang mati tanpa membungkuk atau
bersimpuh.
Jika Muslim melakukan sembahyang nafl (tak wajib), maka genap sudah
sembahyang 7 kali sehari, persis seperti yang dilakukan kaum Sabean.
Pernyataan Abu 'Isa'l-Maghribi dan jumlah sembahyang yang berubah dari 3
jadi 5 dan bisa juga 7, jelas menerangkan bahwa Muhammad mengambil ide
sembahyang Yahudi dan lalu Sabean.
Apakah ada lagi agama besar lain yang juga
melakukan sembahyang lima kali sehari di jaman pra Islam? Jawabnya: ada,
yakni agama
Zoroastria.
Jika kita baca salah satu bagian dari kitab suci Zoroastria yang
berjudul Avesta maka sudah jelas dinyatakan bahwa umat Zoroastria
pun melakukan sembahyang lima kali sehari:
1. Ushahina (dari jam 12 malam sampai 6 pagi)
2. Havani (dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang)
3. Rapithwina (dari jam 12 siang sampai 3 sore)
(4) Uzayeirina (dari jam 3 sore sampai 6 sore).
(5) Aiwisruthrima (dari jam 6 sore sampai 12 malam).
Sewaktu melakukan ibadah sembahyang, umat Zoroastria harus mengucapkan
kalimat2 sembahyang bahasa Parsi yang disebut ‘gah’ yang ditulis
oleh nabi Zoroastria yakni Zarathustra. Kalimat ini serupa bunyinya
dengan ucapan2 sembahyang dalam agama Budha Veda. Ke lima ibadah
sembahyang ditujukan untuk menyembah matahari, tuhan Mithra, bulan,
air, dan api. Ucapan ‘nyanyis’ (yang berarti doa permohonan;
diambil dari kata sitayis (doa pujian)) harus dilafalkan sewaktu
melakukan sembahyang lima kali. Nyanyis matahari dilakukan tiga kali
sehari pada waktu matahari terbit (gah havan), pada siang hari (gah
rapitvin), pada sore hari jam 3 siang (gah uziren). Nyanyis Mithra
dengan nyanyis matahari, dan nyanyis air dan nyanyis api harus
dilafalkan setiap hari.
Agama Zoroastria adalah agama besar yang dianut masyarakat Persia di
jaman pra-Islam. Pada saat itu, Persia merupakan salah satu kekaisaran
terbesar di dunia. Pengaruh budaya dan agamanya tersebar luas sampai ke
Timur Tengah, termasuk Jazirah Arabia. Sudah jelas bahwa Muhammad
terpengaruh gagasan sembahyang lima waktu dari agama Zoroastria.
Berikut: dari manakah asal-usul tatacara sembahyang Muslim yang
sujud, bungkuk, cium lantai, tengok kanan-kiri, dll itu?
BERSAMBUNG HALAMAN 2
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |