|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
ISLAM, Alat Imperialisme Bangsa Arab
http://www.Islam-watch.org/AnwarSheikh/Islam-Arab-Imperialism7.htm
oleh Anwar Sheikh
17 June, 2007
(Anwar Shaikh adalah mantan Jihadi yang
murtad dari Islam dan menjadi kritikus Islam yang pertama dan paling
terkenal di jaman modern ini. Ini adalah sebagian dari bukunya : “Islam,
The Arab Imperialism’. (Islam Imperialisme Arab).)
Bab 7:
Islam, Alat Penyebaran Imperialisme Arab
Muhamad bukan satu-satunya orang di Arab yang mengaku sebagai utusan
Tuhan. Ada Taliha, kepala suku
Bani Asad, yang mengaku punya kekuatan ilahi. Dia dikalahkan oleh Khalid
dalam beberapa pertempuran hebat.
Museilima juga salah seorang 'nabi' penantangnya. Dia melakukan
mukjijat2 dan mengaku dikirim oleh Allah utk saling membagi martabat
kenabian bersama Muhamad. Dia bahkan berani mengatakan bahwa Muhamad
juga mengakui pengakuannya ini. Pada akhirnya, dia terbunuh dalam
pertempuran di Al-Yemama, yang hampir jadi bencana bagi kelanjutan
Islam. Al-Aswad, yg dikenal
sebagai “Nabi Bercadar” dari
Yaman, juga mengaku sbg nabi. Dia pejuang berani dan tangguh, namun juga
arogan dan dengan demikian kurang menarik dan kurang populer. Dia tewas
akibat tipu daya pengikut Islam.
Keberadaan beberapa nabi dalam waktu yang sama dinegara yang sama
menunjukkan bahwa urusan kenabian ini tidak ada hubungannnya dengan
TUHAN; ini hanyalah sebuah alat utk menghipnotis orang melalui penipuan2
supernatural. Tuhan tidak akan mengirim
begitu banyak nabi2 ke Arab diwaktu bersamaan. Orang2 ini, jelas, adalah
“self-designated prophets” (jadi nabi atas pengakuan sendiri).
Muhamad menang karena dia memakai pendekatan nasional, yang menarik bagi
orang2 berjiwa patriot seperti Abu Bakar dan Umar. Para kontestan nabi
lainnya gagal karena mereka terlalu menganggap rendah orang lain.
Sebaliknya Muhamad menjanjikan martabat tinggi bagi bangsa Arab, yang
tidak tahu apa-apa kecuali kemiskinan, penderitaan dan turunnya harkat.
Kejayaan ini adalah sebuah mimpi yang mereka anggap bisa diwujudkan
lewat seorang Muhamad. Kesuksesannya
membuktikan pepatah evolusi: [b]Siapa yg
Kuat, Dialah yang bertahan. Semua ini sama sekali tidak
ada hubungannya dgn Allah, yg sendirinya tergantung pada Muhamad utk
disembah-sembah. Mari kita lihat rencananya bagi Imperialisme Arab:
Dia mengaku bahwa dia adalah utusan Allah dan tidak ada yang tidak biasa
dalam pengakuannya karena :
“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila
telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan
adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (10.4
Tema ini juga diulang dalam 2.148. Jelaslah, seorang nabi datang kepada
bangsanya utk menyelesaikan masalah2 dengan adil utk tujuan menyatukan
mereka menjadi sebuah bangsa yang hebat. Tapi, menurut Quran, cara
paling efektif utk mengamankan kesatuan sebuah bangsa adalah dengan
menunjuk satu Kiblat,
satu arah utk memuja tuhan: semua orang beriman yang memuja tuhan yg
sama menghadap kearah yang sama dan menunjukkan satu kesatuan. Inilah
alasan bahwa hadits Bukhari Vol 6, no. 20 mengatakan bahwa setiap bangsa
punya kiblatnya sendiri. Ini juga dibenarkan oleh Quran.
Nabi telah menyatakan Yerusalem, kota Yahudi paling sakral, sebagai
Kiblat bagi para muslim arab. Tapi setelah sekitar 16 bulan, dia
mengubahnya ke Ka'bah, sebuah tempat perlindungan di Mekah, kampung
halamannya sang nabi. Perubahan ini didiktekan oleh keinginan/dorongan
sang nabi utk melayani tujuan2 nasionalnya. Quran menyatakan:
“Orang-orang yang kurang akalnya di antara
manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari
kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?"
Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. ” (2.142)
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh
Kami akan memalingkan kamu ke kiblat
yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan
di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (2.144)
Dari ayat2 ini, jelas bahwa perubahan
kiblat dari Yerusalem ke Ka'bah dipengaruhi BUKAN karena kehendak Allah
tapi atas permohonan Muhamad. Hadits Muslim no. 5903 menunjukkan
bahwa perubahan kiblat ini disarankan oleh Umar, Kalif kedua, yang
dibunuh oleh seorang budak Persia karena ia (Umar) dituduh sbg seorang
rasis.
Kalau begitu omong kosong saja pepatah Allah : “Timur
dan Barat adalah Milik Allah.” Jika Timur dan Barat punya arti
yang sama, lalu kenapa Dia paksa orang utk mengubah arah sholat dari
Yerusalem ke Kabah? Kenapa mereka tidak bisa menghadap kearah yang
mereka suka?
Jadi, langkah ini diambil oleh nabi yg menyamar sebagai Allah utk
melayani kepentingan imperialisme Arab. Malah, pengubahan Kiblat telah
menghancurkan nasib Yahudi, membawa maut bagi sejarah umat manusia dan
hanya menguntungkan bagi imperialisme Arab.
Muhamad memang lihai. Ia mengatakan bahwa tiap bangsa punya nabinya
sendiri, TAPI dirinya berbeda. Katany, hanya dia yg bukan hanya nabi
bagi bangsa Arab tapi juga bagi SEMUA bangsa:
"Tiap Nabi ditunjuk bagi bangsanya sendiri
tapi aku ditunjuk menjadi nabi bagi
semua bangsa." (Mishkat, 5500, Vol.3)
Julukan 'nabi internasional' ini beserta dgn perubahan arah kiblat dari
Yerusalem ke Ka'bah menunjukkan apa sebenarnya maksud Muhamad:
muslim2 non Arab tidak boleh punya
kiblat yg menunjukkan sifat khas mereka sbg sebuah bangsa tersendiri.
Mereka harus menganggap Kiblat
Arab sebagai kiblat mereka dan dengan demikian menerima hukum2
serta kebudayaan Arab
dan menanggalkan tradisi2 nenek moyang asal mereka. Tahukah anda apa
artinya ini dalam praktek ?
Tindakan ini mengangkat derajad
Mekah menjadi tempat penghormatan spiritual tertinggi. Muslim
dari berbagai bangsa menyembah kearahnya, tidak hanya lima kali sehari
namun setiap saat sesuai dgn zona waktu berbeda2 mereka diplanet ini.
Tindakan kebiasaan menyembah ini memperbudak jiwa mereka, membuat mereka
secara tidak sadar patuh ke Mekah, menyembah tempat kelahiran Muhamad &
mengurangi kekuatan mereka memakai akal.
Biasanya satu bangsa harus menundukkan bangsa lain dengan kekuatan
senjata; yang ditundukkan membenci yang menaklukkan dan ingin bebas,
tapi dalam hal ini, semua Muslim non arab mengucurkan air mata memohon
agar diterima sebagai budak2 budaya Arab ! Bukankah ini contoh klasik
seekor domba yang memohon pada
penjagalnya agar segera dituntun kerumah jagal ? Inilah kebijakan
dari Muhamad – may piss be upon him.
Sadar akan kerapuhan manusia, sang nabi memaksakan tekanan psikologis
pada para pengikut non arab dgn mewajibkan mereka utk melepaskan budaya
asal usul mereka dan sbg gantinya memakai budaya arab. Dia mencapai
tujuan ini dengan mengangkat martabat spiritual dari institusi2 Arab.
Berikut ini beberapa diantaranya:
1. Kabah adalah rumah Tuhan karena Yang Maha Kuasa telah memerintahkan
Adam membangun rumah itu baginya, dan ini juga dibangun kembali oleh
Abraham.
2. Kuburan orang muslim harus digali sedemikian sehingga bila mayatnya
dikubur, wajahnya menghadap kearah Mekah.
3. Begitu keramatnya Mekah hingga tak seorangpun boleh BAB (buang air
besar) menghadap kota ini, dimanapun dia berada diplanet ini. Jika
melakukan ini dianggap kafir.
4. Allah bicara dengan bahasa Arab, dan Quran juga dalam bahasa Arab,
yang merupakan bahasa yang sulit; semua muslim harus mempelajarinya agar
diberi karunia. Betapa berat sebelahnya Allah terhadap Arab.
5. Hadits Mishkat Vol. 3, no. 5751 melaporkan bahwa rasul berkata:
“Cintailah Arab karena tiga alasan karena (1)
Aku orang Arab (2) Quran dalam Bahasa Arab dan (3) lidah para penghuni
surga akan juga berbahasa Arab.”
6. Kabah adalah pusat dari berkat Allah karena disinilah 120 Doa Ilahi
turun tiap hari, dan lalu disebarkan keseluruh dunia!
7. Ibn Majah melaporkan dalam Hadis no. 1463, bahwa seorang Namaz
(sholat didalam mesjid) di Medinah membawa berkah 100 kali lebih banyak
dari sholat dimesjid lain, dan sholat dalam Kabah membawa rahmat 100.000
kali lebih banyak dibanding sholat di mesjid lain!
8. Bahkan kuburan orang Arab yang dikenal sebagai Jannat-ul-Mualla dan
Jannat-ul-Baquee adalah tempat keramat. Menurut sebuah hadis, kuburan2
itu terlihat bersinar dimata para penghuni angkasa, sama seperti
matahari dan bulan terlihat oleh para penghuni bumi. Mereka yang
dikuburkan disana akan masuk surga tanpa segala kesulitan dan masing2
diberi hak utk intersesi (menjadi perantara) utk 70.000 orang lainnya!
9. Baca ayat berikut ini:
“(O Rasul) Katakanlah: "Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali
Imran, 3:31)
Bacalah ayat diatas dgn Hadits pd nomor 5 dan kau akan melihat bahwa non
Arab harus hidup seperti orang Arab agar masuk kualifikasi utk
mendapatkan cinta dan pengampunan Allah !
10. Sudah menjadi bagian dari iman Islam bahwa setiap muslim, dimanapun
dia tinggal, harus datang ke Mekah sedikitnya satu kali seumur hidupnya,
asal dia mampu.
Lebih dari dua juta muslim seluruh dunia datang ke Mekah tiap tahun utk
“naik” haji. Mungkin, jumlah yang sama juga melakukan Umroh per tahun.
Upacara2 ini menghasilkan begitu banyak kekayaan bagi orang Arab sampai
mereka bisa hidup lebih dari gaya hidup orang2 Eropa.
Padahal, upacara ‘naik’ haji sudah menjadi bagian dari kebudayaan Arab
sejak jaman dulu kala yg dikembangkan dari prinsip2 penyembahan ala
India seperti Trimurti, Sabeanisme, takhyul2 lokal dan pengaruh2 Yunani.
Tidak ada bukti2 sejarah bahwa kuil Kabah pernah dibangun kembali oleh
Abraham. Bahkan ketika awal kebangkitan Muhamad, Kabah menjadi pusat
penyembahan berhala. Begitu pula dgn kebiasaan kuno mencium
Hajar-E-Aswad yang disarankan oleh nabi karena hubungannya yang erat
dengan budaya nasional Arab. Praktek berhala yang menarik hati orang
Arab ini, jelas menolong sang nabi utk mendapatkan umat baru bagi
kepercayaannya.
Upacara haji memang sudah ada di jaman sebelum Islam dan dari dulu
sampai sekarang tidak lain dari tindakan penyembahan berhala. Orang2
melakukan ritual mencium Batu Hitam termasuk mengelilingi Kabah tujuh
kali, yang dianggap melambangkan revolusi bintang2 yang dihubungkan
dengan tradisi kaum berhala di Yaman.
'Allah' Sendiri adalah nama dari Patung Kepala (pemimpin patung) dalam
Kabah milik suku Quraish, sukunya Muhamad.
Ayah Muhamad (sebelum lahirnya Islam)
bernama 'Abdi Allah' (Abdullah)
yg berarti 'budak/pelayan Allah.' Dia (Muhamad) mempertahankan nama ini
karena memang menarik bagi orang2 Quraish. Lagipula, Allah adalah tuhan
Arab, dan tiap orang bersumpah demi namaNya terlepas dari agamanya.
Dengan demikian sang Nabi telah melimpahkan kesucian yg lebih besar kpd
Mekah dibandingkan dgn orang Yahudi dengan Bait Allahnya di Yerusalem.
Ke'suci'an Mekah ini mencipratkan kesucian kpd orang2 Arab yang
dijelaskan secara gamblang dalam hadis bahwa semua muslim harus
mencintai Arab, dan mereka yang membenci/iri akan ditolak, tidak akan
diakui oleh sang Nabi saat dia menjadi intersesor (perantara) nanti, dan
alhasilnya, ia akan membusuk dineraka.
Dalam Rencana Besar Arabisasi ini, sang nabi mempertahankan dirinya utk
tetap berada paling atas: meski dia katakan cuma orang biasa dan pelayan
Allah, tapi Allah-lah, bersama dengan para malaikatnya yang bershalawat
bagi Muhamad, dg kata lain memuja dia. Dg demikian, cinta dan kepatuhan
pada Muhamad adalah Islam yang sebenarnya dan Allah hanya menjadi
sekedar alasan bagi Muhamad; kepercayaan pada Allah tidak ada artinya
tanpa mengakui Muhamad sebagai utusanNya!
Cara terbaik utk mempraktekkan Islam adalah dengan mengambil Muhamad
sebagai model, suri tauladan:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (Al Ahzab, 33.20)
Artinya, meniru sang nabi,
dalam hal2 kecilpun spt cara berpikir & bertingkah laku seperti sang
nabi; bahkan makan, minum, bicara, melangkah, tidur, berpakaian dan
penampilan harus meniru nabi.
Akhirnya kita menyadari bahwa doktrin 'nabi sebagai contoh suri
tauladan' ini adalah alat yang membuat Islam menjadi alat Imperialisme
Arab. Dibawah ini adalah gambaran singkat dari prinsip dan praktek si
Nabi:
Prinsip dasar dari Islam adalah
divide et impera,
atau “Pecah-Belah dan Jajah,” yang membelah bangsa2 secara sosial dan
politik, antara mereka yg mukmin dari mereka yg kafir. Quran ayat 58.19
menyatakan fakta ini dgn sangat jelas : non muslim di-cap sebagai
“golongan setan” dan para pengikut Allah dan Muhamad disebut sebagai
“golongan Tuhan.”
Lebih jauh lagi, Quran menyebut anggota2 dari “golongan setan” sebagai
“orang-orang yang sangat hina” dan menyatakan bahwa “mereka sesungguhnya
golongan pecundang.” Tapi tentang “golongan Tuhan,” ditambahkannya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang
beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang
itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga
mereka. …… Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap
mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya.
Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan
Allah itulah golongan yang beruntung.” (Q 58.22)
Untuk pengertian yang lebih jelas dari ayat ini, fakta berikut mungkin
bisa ditelaah dengan baik:
1. Anggota “golongan setan” ditakdirkan jadi pecundang. Mereka makhluk
paling hina karena mereka tidak mengakui Allah dan Muhamad.
2. Anggota “golongan tuhan” adalah orang yang tidak mencintai musuh
Allah dan Muhamad, meskipun
mereka itu adalah ayah, anak, saudara atau bangsa mereka sendiri.
Ini adalah orang2 yang akan makmur kehidupannya dan akan dijadikah
penghuni surga didunia yang berikutnya.
Disini perpisahan abadi muslim dan non muslim didasarkan pada konflik
sosial dan politik yang tak berkesudahan dan mencoba meyakinkan para
muslim akan kemenangan akhir mereka. Betapapun, seseorang tidak dapat
jadi bagian dari “golongan tuhan’ sampai dia memutuskan hubungan dengan
orang tua, anak, saudara, orang2 sebangsa mereka, jika mereka semua itu
tidak menerima Islam. Inilah nasib bagi semua negara non-Arab dimanapun
Islam masuk lewat pedang, migrasi atau propaganda. Diwilayah2 itu,
Muslim berkewajiban memberlakukan dominasi kebudayaan ARAB, dgn cara
menempatkan semua tradisi budaya setempat mereka dibawah Arab,
mengadopsi hukum Islam, mempelajari bahasa dan gaya arab; mencintai
Mekah dan Arab, mengakui Muhamad sebagai suri tauladan karena sebagai
orang Arab, dia (Muhamad) mencintai dan memberlakukan apapun yang berbau
Arab.
Lebih parah lagi, mereka harus membenci
budaya dan tanah air mereka sendiri sedemikian sehingga tanah
airnya menjadi Dar-ul-Harb,
yakni Medan Perang. Ini berarti bahwa mereka harus mendirikan tenda
musuh ditanah air mereka sendiri dan memerangi bangsa mereka sendiri
sampai bangsa mereka semua menyerah pada imperialisme budaya arab dengan
cara memeluk Islam. Hanya jika demikian sajalah maka negara tersebut
akan menjadi Dar-ul-Islam, yakni Medan Damai. Jika tidak maka tanah air
tersebut akan terus menjadi Medan Perang (Dar-ul-Harb) dimana pembunuhan
dan pemerkosaan non muslim dianggap sbg perbuatan baik; penipuan
dianggap perlu dan malah dijadikan bagian dari moralitas Muslim pribumi.
Tanah Air ! Apa itu Tanah Air? Tanah dimana seseorang lahir, dibesarkan,
tinggal dan menghabiskan hidupnya, itu semua dianggap sebagai lelucon
besar di mata mereka yg kena Arabisasi. Para muslim non arab ini
mengembangkan perasaan benci kesumat kepada budaya dan tanah air mereka
sendiri.
Contoh, lihatlah Mesir, tanah dari para
Firaun yang perkasa, dimana keunggulan kekaisaran mereka
menjangkau masa 3000 tahun. Tanah indah penuh sains, seni, budaya dan
tingkah laku para dewa ini berubah dan menukik tajam hingga hampir
menyentuh titik nadirnya ketika Islam mengambil alih. Tidak ada orang
Mesir asli lagi. Mereka semua berubah menjadi orang Arab!
Atau simaklah halaman2 bersejarah dari orang
Persia. Kerajaan megah mereka
berlangsung berpuluh2 abad lamanya. Begitu besar kerajaan mereka hingga
tidak ada yang menyamainya dalam ukuran sampai Inggris muncul dalam
kancah internasional 3000 tahun kemudian. Sumbangan mereka bagi
perkembangan hukum di Romawi, kebudayaan Yunani dan tradisi2 di Asia
tidak dapat dihitung. Mereka menghasilkan pemimpin2 spiritual seperti
Zaratushtra yang kebijakannya sampai mempengaruhi agama2 seperti
Yudaisme dan Kristen.
Tapi begitu Islam menjajah Persia, orang Arab menyita semua kekayaan2nya
melalui sistem yang telah terbukti keefektifannya, yaitu melalui
penjarahan, termasuk menjarah wanita2 cantik molek dan merebut karya
penyair2 ternama Iran yang telah banyak menyumbang keindahan bagi
tradisi2 Asia maupun Eropa.
Setelah itu, budaya Persia LENYAP total dari muka bumi. Semua kejayaan
budaya dan politiknya dimusnahkan oleh orang2 Iran sendiri yang
di-Arabisasi dan akhirnya membenci kebudayaan mereka sendiri. Mereka
lebih suka menjadi muslim dengan janji2 72 perawan abadi, anak2 lelaki
cantik dan arak2 lezat yang disebut2 dalam Quran. Mereka menghujat nabi2
mereka sendiri, Zaratushtra dan Mani. Mereka membangun mitologi mereka
sendiri yang dikenal sebagai Shi’ah, yang secara total berdasar pada
lambang, cinta dan tradisi para pahlawan Arab, khususnya anggota
keluarga langsung sang Nabi Muhamad. Sejak itu, orang2 Iran kehilangan
jiwa Persia mereka. Mereka telah dicerabut dari kebesaran Persia, mereka
bukan lagi orang2 Iran yang hebat seperti sebelumnya. Tidak ada lagi
yang bisa jadi sumber inspirasi mereka kecuali jika hal itu didasarkan
pada penjilatan terhadap orang Arab. Revolusi Islam dari Imam Khomeini
adalah contohnya.
India adalah korban lain Islam.
Saat Muhamad bin Qasim menginvasi wilayah Sindh adalah saat yg paling
buruk, paling menjijikan dan paling tidak menyenangkan dalam sejarah
India. India, obor peradaban dunia yang
punya tradisi hebat yg sebelumnya menikmati kehangatan 'ahimsa'
kemudian disengat oleh penjajah Arab yang doyan merampok dan memperkosa.
Ironisnya adalah, semua yang mereka lakukan itu diatasnamakan pada Allah
yang mereka sebut ‘maha adil dan penyayang,’ yang menganggap orang2
golongan tuhan ini sebagai orang2 yang bertindak adil dengan menyiksa
orang2 kafir. Lalu, tanah ini tidak lagi seperti semula.
Patut dicatat bahwa kerusakan yang ditimbulkan para pembunuh, penjarah
dan pemerkosa ini mungkin bisa dilupakan. Tapi luka yang telah mereka
timbulkan dengan ideologi mereka, yakni Islam, tidak bisa dihilangkan
dari ingatan karena luka itu telah berubah menjadi penyakit yang lebih
parah lagi. Meski 95% Muslim berasal dari populasi pribumi dan sisa
5%nya bisa dianggap sebagai orang asing yang tinggal di India selama
berabad-abad, mereka semua ingin memisahkan diri membentuk negara muslim
tersendiri, mendedikasikan kepercayaan mereka pada tanah air sebagai
Dar-ul-Harb. Filosofi amoral inilah yang menyebabkan terpisahnya India.
Upaya divide et impera yang gagal dilakukan oleh orang Arab justru
sukses ditangan orang2 India sendiri. Itu sebabnya Islam adalah alat
abadi penyebaran Imperialisme Arab; tidak lagi diperlukan pedang, tidak
lagi diperlukan senjata: cukup dgn daya tarik hipnotis, yang secara
mental dan emosional merendahkan manusia ketingkat monyet.
Orang harus ingat bahwa Islam adalah duta permanen dari agama, sosial
dan politik; Islam menyatakan:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian … sampai mereka
membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (9.29)
Kesiapan perang terhdp non muslim ini memang telah menjadi motivasi
Islam, tapi hal ini akan musnah dgn datangnya nabi lain. Tapi inipun
sudah dipikirkan Muhamad. Dia menutup lubang kelemahan ini dengan
kelicikan yang lazim. Dia umumkan dirinya sebagai nabi Terakhir, yakni
tidak akan ada nabi2 lain lagi setelah dia dan dengan demikian tak
seorangpun dapat mengubah hukum2 kebenciannya sesuai dgn masing2 tanah
air mereka bangsa2 terjajah itu sampai tanah itu berubah menjadi
Dar-ul-Salaam. Disinilah inti masalahnya: sebuah bangsa bisa dibenci,
disakiti dan dipermalukan jika tidak memeluk Islam, tapi begitu mereka
memeluk Islam mereka menjadi budak budaya Arab karena didalamnya
terdapat rumus2 penolakan terhdp tradisi tanah airnya sendiri .
Benar-benar sebuah strategi imperialisme yang sulit dikalahkan!
Tapi, saya harus menunjukkan bahwa doktrin “nabi terakhir” ini
bertentangan dengan prinsip dasar dari Quran, yang mengatakan bahwa
Allah mengirim nabi2 utk
membimbing umat manusia (baca : tidak ada kata2 'nabi terakhir').
Lihatlah sendiri:
“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu”
(2.38)
Inilah yg dikatakan Allah pada Adam. Jika sebelum adanya Muhamad, ada
nabi2 yang berbeda dijaman yang berbeda, kenapa setelah kedatangannya,
pesan2 yg mereka bawakan kemudian dirusak ? Lagipula, kenapa Allah tidak
mengutus satu nabi saja bagi segala jaman sejak permulaan jaman utk
menghindarkan prasangka dan perang yang bisa diciptakan karena perbedaan
ideologi masing2 nabi? Tuhan tidak mungkin bisa menciptakan kekacauan
dan kehancuran bagi makhluknya. Utk dihormati, TuhanPUN harus
menghormati mahluk2nya.
Karena tiap budaya punya tradisi masing2, kenabian, sebagai bagian dari
budaya Timur Tengah, punya keabsahan bagi masyarakatnya. Tapi
memaksakannya pada bangsa lain, seperti yang dilakukan Islam, untuk
mendirikan hegemoni Arab, adalah sebuah tindakan agresif dan tidak
diinginkan. Bandingkan dgn nabi2 Yahudi yg tidak mencari umatnya lewat
perang, hukuman dan janji2 surgawi.
Lebih parah lagi adalah sikap Islam yang menjadikan kehancuran Yahudi
sebagai jalan keselamatan iman Muslimin. Hal ini telah menyebabkan
permusuhan panjang dan tidak manusiawi antara muslim dan Yahudi, yg juga
tidak mau berpangku tangan saja menghadapi ancaman Muslim.
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |