Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto

Sejarah Masuknya Islam ke Turki (Bizantine)

http://www.historyofjihad.org/byzantine.html

Sementara Persia kalah dan di-Islamisasi, Muslim melanjutkan perhatian ke tetangga Persia; kaum Bizantin Kristen. (634-1453)

Pertempuran Heiromyak (Al Yarmuk)

Pada pertempuran di sungai Yarmuk antara Arab dan Bizantin, Arab kalah dlm bagian perang pd tahap pertama. Saat kemenangan hampir dekat bagi pihak Bizantin, Arab berganti taktik dan memanfaatkan kontingen wanita yg spt kesurupan menyerang pasukan Bizantin sambil berteriak2 histeris dan meng-ululu (macam wanita Palestina)... Karena tidak terbiasa menghadapi musuh wanita, tentara Bizantin bingung, apalagi saat jendral mereka memerintahkan agar pasukan tidak menyerang wanita dan sebaiknya mengundurkan diri.

Ketika Muslim melihat bahwa taktik ini berhasil, mereka mengirimkan tentara Arab yg mengenakan pakaian wanita agar menyerang Bizantin. Salah seorang jendral Arab, Khalid-ibn-Walid, juga berpura2 sbg wanita, mendekati dan menyerang sang Jendral Bizantin, Harbis, mematahkan tulang rusuknya dan membunuhnya. Dgn matinya jendral mereka, tentara Bizantin kehilangan pemimpin dan perang mulai dimenangkan pihak Arab. Inilah caranya mereka memenangkan perang Yarmuk.

Pertempuran Caesarea, Babylon (kota Bizantin Mesir), dan Alexandria

Taktik lain yg digunakan tentara2 Allah adalah dgn menyuap para penyapu jalan. Merkea itu memberitahu Muslim dimana letak saluran2 bawah tanah agar bisa dimasuki di malam hari, buka pagar dan menyerang kota itu. Taktik ini digunakan di Babylon (kota Bizantin Mesir, bukan di Mesopotamia). Kota dgn tembok2 setinggi 10 meter dgn menara2 tinggi yg sempat bertahan selama lebih dari 8 bulan, akhirnya diinfiltrasi Muslim secara licik dan berakhir dgn pembantaian setiap penduduknya, sampai tidak lagi ada yg tersisa.

Taktik pengikut Allah ini juga diterapkan di Caesarea, kota sibuk dgn lebih dari 300 jalanan sibuk. Kota ini merupakan kota pelabuhan, jadi serangan tidak bisa dilakukan dari bagian laut yg menghadap kota itu. Lagi2 pihak Arab menyuap para tukang sapu dan meng-infiltrasi lewat got2 kota itu. Ini menunjukkan bahwa Arab Muslim menghalalkan segala cara, termasuk merendahkan derajad mereka sedemikian rupa, demi kemenangan yg dibantu Allah.

Begitu pasukan Muslim menyerang kota Caesarea, mereka tidak hanya membantai semua tentara, tetapi memenggali kepala mereka, dan utk menakut2i kaum wanita, mereka membelah dada tentara, mencabut jantung dan segala isi tubuh mereka yg kemudian dipertontonkan di jalanan.

Kebiadaban ini begitu membekas di ingatan kaum Bizantin Kristen selama berabad2. Saat perang salib membalas invasi Muslim pada abad 11 (1096- 1291M), para crusader membalas kekejaman Muslim dgn membakar tubuh tawanan dan bak kambing guling memakan daging Muslim saat tentara kekurangan suplai makanan.

Bagaimana Kristen Bizantin bertahan selama 8 abad sementara Zoroastrian Persia jatuh di tangan Muslim dlm 17 tahun

Arab menyerang Konstantinopel dua kali, pd th 674 dan 717, namun kota itu berhasil dipertahankan dgn senjata baru bernama Greek Fire, Api Yunani. Ini adalah cairan panas yg mengakibatkan luka2 bakar menyakitkan bagi mereka yg dijadikan sasaran. Ini sama dng senjata napalm jaman sekarang. Pihak Bizantin menggunakan senjata ini melawan invasi Arab pd thn 674-678 dan 717-718. Pihak Arab mencoba keras utk mempelajari rahasia Api Yunani itu tetapi tidak berhasil. Karena senjata ini, lebih dari 300.000 Arab yg menyerang Konstantinopel, hanya 20.000 yg kembali. Yang lainnya tewas akibat Api Yunani.

Bizantin juga berhasil membendung serangan Muslim di Cilicia di Turki Tenggara. Muslim2 Arab akhirnya memutuskan utk mengambil rute laut dan menyerang pulau Rhodes dan menghancurkan patung raksasa Rhodes (patung yg didirikan orang Yunani jaman dulu). Masih ingat Taleban menghancurkan patung Budha Bameyan ? Persis sama kejadiannya !

Tongkat Jihad di-oper ke kaum Turki Seljuk

Jihad Arab kemudian patah semangat ketika pd thn 732 km di Poiters (Perancis) mereka dikalahkan kaum Franks. Serangan Arab berhenti pada pertengahan abad ke 8, ketika sesama kalif saling cekcok karena perbedaan shia-sunni.

Jihad kemudian dimulai lagi pada abad ke 11 dgn diserahkannya baton jihad kpd
Turki Seljuk.
Mereka menganut kepercayaan animisme dgn campuran Zoroastrian sebelum di-Islamisasi oleh Persia (yg juga di-Islamisasi) antara thn 651 dan 751.

Ketika orang Persia yg di-Islamisasi itu menyerang Turki, muncullah nama seorang pendekar bernama Abu Muslim. Ia lahir dari orang tua Zoroastrian dan ia berpura2 memeluk Islam karena ingin balas dendam terhdp penjajah Muslim di Persia. Selain pura2 sbg muslim, ia juga menyerang bangsa non-Muslim Turki dan malah memaksa mereka memeluk Islam. Langkah berikutnya adalah melakukan kudeta terhdp kalifah Abbasid di Baghdad. Tetapi ia difitnah oleh teman2 terdekatnya dan sang kalif memberi perintah agar ia disiksa sampai mati.

Begitulah mental berdarah Islam yg ditularkannya kpd rakyat2 yg dipaksa masuk Islam: dari Arab ke Persia, ke Turki dan lalu ke Bizantin.

Pertempuran Manzikert antara Bizantin dan Turki Seljuk

Pemeluk baru Islam ini mencampurkan keberingasan alami mereka dgn fanatisme Islam. Terbentuklah kombinasi maut. Kalau Arab gagal merebut Konstantinopel dgn mendobrak pagar Cilicia, kaum Turki Seljuk dgn pelan tapi pasti meng-korosi pinggir2 utara Bizantin di Armenia. Disana mereka memporakporandakan penduduk Kristen
Armenia. Tirani berdarah Turki terhdp Armenia terulang kembali dlm abad berikutnya dan Turki tidak henti2nya menikmati pembantaian masal penduduk sipil Kristen Armenia.

Kawasan Caucasus (atau Kavkaz) ini bertubi2 menjadi garis depan tempat berlangsungnya bentrokan peradaban sejak saat itu sampai sekarang. Beslan di Russia bagian Ossetia, dimana anak2 sekolah dibantai teroris Muslim, tidak jauh dari Manzikert, tempat utama bentrokan antara Muslim-Kristen di thn 1071.

Kaisar Bizantin ketika itu adalah Romanus IV Diogenes. Ia menduduki tahta thn 1068. Spt biasanya, terdpt banyak komplotan kekuasaan di Bizantin. Ini semakin nampak karena selama 400 tahun dari 640-1068, kaum Bizantin memperkuat angkatan bersenjata mereka dgn menyewa tentara2 bayaran dari kaum Franks, Ostrogoths, Visigoths, Bulgar, Avar dan masyarakat2 Kristen lainnya ditambah dgn kaum Latin yg selalu merupakan lobby kuat di Konstantinopel. Tentara2 bayaran ini digunakan utk menangani serangan Arab, tetapi dlm masa damai mereka menjadi lobby2 kuat dlm politik dalam negeri Bizantin. Utk menjaga keseimbangan politik, beberapa raja daerah bagian Bizantin mencakupkan dlm kontingen mereka tentara cadangan berupa ORANG2 SELJUK TURKI yg NOTABENE MUSLIM (!!!) (guooblog banget si raja Bizantin !). Keputusan ini terbukti membawa celaka kpd Bizantin di Manzikert. (raja kok otaknya memble !)

Romanus membagi pasukannya menjadi dua. Ia memimpin yang satu dan yang lainnya dipimpin oleh Joseph Tarchaniotes, orang keturunan Turki (!!) yg secara rahasia memeluk Islam, kepercayaan yg dianut kebanyakan rakyatnya – kaum Seljuk Turki.
Tarchaniotes mengkomando kontingen tentara bayaran terbesar, kaum Cuman Turki. Romanus merebut kembali kota2 yg dijajah kaum Seljuk Turki yg akhirnya berpuncak kpd Pertempuran Manzikert.

Jendral tentara pihak musuh (pihak Seljuk Turki) adalah Alp Arslan yg bermarkas di dekat Manzikert. Romanus menunggu jendralnya (Si Joseph yg Turki dan Muslim itu) utk menyerang markas Turki milik Alp Arslan itu. Tapi sang jendral Bizantin itu membelot ke pihak musuh bersama dng kontingennya. Spt juga pembelotan tentara Persia pada Pertempuran Qadissiyah antara Sassanid dng Arab Muslim, ini sekali lagi membuktikan bahwa tentara Muslim TIDAK PERNAH AKAN SETIA PADA ATASAN NON-MUSLIM !

Amerika, Inggris, dsb PERHATIKAN INI !!! JANGAN PERCAYA MUSLIM !!

Dan kemenangan Muslim lagi2 dicapai dgn kecurangan:[b]
Saat matahari terbenam, kedua pasukan menarik diri setelah seharian bertempur. Pihak Turki membunyikan trompet mereka, menandakan pengakhiran sementara pertempuran. Namun etika pertempuran ini tidak diperhatikan Turki. Saat tentara Bizantin mengundurkan diri ke markas mereka utk beristirahat, Turki menyerang mereka. Dan sebelum lonceng menandakan pk 12 malam, Romanus sudah menjadi tawanan Alp Arslan.

Jendral Turki ini berjanji utk melepaskan sang raja itu jika ia mengembalikan kpd Turki tanah2 Bizantin yg direbut Turki. Sang raja tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menarik tentaranya dari seluruh kawasan Anatolia sampai Konstantinopel. Ia hanya meminta agar Alp Arslan berjanji bahwa pihak Seljuk Turki tidak akan mengganggu penduduk sipil Bizantin. Romanus-pun kembali ke Konstantinopel sambil yakin bahwa Alp Arslan tidak akan mengancam perbatasan timur kekuasaannya.

Perjanjian antara Alp Arslan dgn Romanus ini menjadikan tanah Bizantin, Anatolia, sbg wilayah Turki yg kemudian dikenal sbg [b]Turkestan (tanah orang Turki) atau Turki
.
Karena tidak lagi menghadapi tantangan akan infiltrasinya kedalam Anatolia yg Kristen, dalam beberapa dekade mereka berhasil merebut kekuasaan Anatolia dari Bizantin, dan mendekati Konstantinopel dari selat Bosporus. Merekalah yg sekarang berkuasa atas rute para peziarah Kristen lewat Anatolia ke Tanah Suci. Dan bisa ditebak, mulai lagi cerita2 teror Turki terhdp para peziarah Kristen. Berita ini sampai ke raja2 Eropa, bersama dgn permintaan bantuan para raja Bizantin dan mulailah perjuangan Kristen merebut kembali Bizantin dan Tanah Suci dari penjajah Muslim. Inilah asal mula Perang Salib yg dimulai pada thn 1096 (dan berlanjut sampai 1291). Secara tidak langsung ini merupakan akibat Pertempuran Manzikert th 1071.

Pelajaran dari Pertempuran Manzikert dan jatuhnya Konstantinopel (1453)

Kristen berhasil merebut kembali Antioch, Damascus, Jerusalem, Bethlehem, Nazareth dari tangan Muslim dan menyerahkannya kpd pemilik asli, Bizantin. Tapi kemudian di thn 1184, para Salibi dikalahkan oleh orang Kurdi dan sekutu Turki bernama Saladin. Tetapi para Salibi masih bertahan sampai Konstantinopel pd th 1291 sampai pertengahan abad 14 dimana Turki dibawah dinasti Ottoman secara bertahap mendorong mundur Salibi. Serangan Muslin terhdp Bizantin berikutnya terhp Konstantinopel terjadi th 1350 dan kemudian pd thn 1453, saat Turki merebut Konstantinopel dan mengakhiri kerajaan Bizantin. Sampai sekarang. Ternyata setanpun bisa menang.//

http://www.historyofjihad.org/turkey.html

JAMAN PRA-ISLAM TURKI

Tidak banyak orang tahu ttg perjuangan berdarah kaum Turki melawan Islam selama 300 tahun, dari 650 - 1050. Bentrokan pertama adalah ketika dalam upaya Muslim mendobrak kawasan Persia mereka mencapai perbatasan kerajaan Sassanid di Khorasan, di dekat Asia Tengah. Disitulah tempat hidupnya kaum Turki selama berabad2.

Oleh Persia jaman Zoroaster, mereka diksebut sbg Turanian. Kaum Turki dikatakan sbg perkumpulan beberapa ras yg bersatu karena persamaan bahasa. Kelompok Hun, Bulgar, Ughir, Seljuk, Qarluq adalah beberapa macam ras yg tergabung dlm satu bangsa Turki. Kini pihak Hun dan Bulgar beragama Kristen dan selebihnya beragama Islam. Tapi sebelum memeluk Islam, pada abad ke 3 dan 4, kaum Turki menyerang kerajaan Romawi, kerajaan Sassanid dan Achemenia Persia dan juga menginvasi India. Mereka memang bangsa yg suka perang, tidak mudah ditundukkan dan bergaya hidup nomad. Mereka alot dan kuat dan memiliki darah Caucasia (orang putih) dan Mongol.

Khan adalah sebutan khas keluarga kerajaan Turki dan sekarang secara tidak sadar dianggap sbg nama Muslim. Tapi Genghis Khan dan Hulagu Khan BUKAN Muslim, mereka non-Muslim yg sebenarnya musuh bebuyutan Muslim. Mereka manghancurkan kawasan Islam yg luas di abad ke 13, sampai keturunan mereka akhirnya dikalahkan dan dipaksa memeluk Islam. Oleh karena itulah sekarang kita menganggap Khan sebuah nama Muslim, padahal asalnya adalah dari kaum Turki dan Mughal (Mongol).

Kekalahan kerajaan Sassanid Persia ditangan Muslim membawa celaka bagi Turki; ini membuka kesempatan bagi Jihadi utk menyerang kaum Turki di Asia Tengah

After clearing these pockets of Persian resistance, the Arabs made the main Persian town of Merv the target of attack. Merv was the capital of Khurasan and here the last Sassnid king Yazdjurd held sought refuge with his courtiers who had being fleeing before the advancing Arab Muslims, since they ha d invaded Persia in 637 at Qadisiyyah. The Persian army was now in tatters and in no position to put up any effective resistance to the invading Arabs. On hearing of the Muslim advance, Yazdjurd left for Balkh. No resistance was offered at Merv, and the Muslims occupied the capital of Khurasan without ligtin their swords.

The Arab commander Ahnaf stayed at Merv for some time to reorganize the administration and to await further reinforcements from Kufa. In the meantime the Persian forces gathered in considerable strength at Balkh. Yazdjurd sought aid from the neighboring Turksih state Farghana and the Khan of Farghana personally led a Turkish contingent to Balkh.

Having received reinforcements, Ahnaf led the Muslim forces to Balkh. The Muslims had experience of battling with the Persians but they had little experience of war with the Turks. Ahnaf wanted to avoid war with the Turks, and in this connection he thought of devious ways whereby the Turks should abandon the cause of Yazdjurd. It was reported to Ahnaf that the practice with the Turks were that in the morning three heralds blew bugles and then the Turkish force marched to the battle.

One night Ahnaf hid himself in a safe place outside the Turkish camp. As soon as the Turkish herald came out of the Turkish camp to blow the bugle, Ahnaf overpowered him and killed the Turk with his sword. When the second herald came he met the same fate. The third herald also met the same fate. That day the bugles did not blow for the Turkish army. When the bugles did not blow the Khan of Farghana came out of the camp to see what had happened to the heralds. When he saw that all of them were dead he regarded this as a bad omen. At the spur of the moment he decided that the Turks should not involve themselves with the Muslims. He ordered his force to withdraw and march back to Farghana.

This is how the Arab Muslims deceived the Turks into retreating. The Islamic Jihad had drawn the first Turkish blood thru subterfuge. The next three hundred years witnessed the untold story of the Turkish resistance to Islam. Ironically the Turks had to struggle with Islam which came to them through the medium of the Muslim Persians who had been newly converted to Islam at the point of the sword by the Arabs.

The Persianized Muslims overthrow the Arab Umayyad Caliphs and replace them with the Persianized Abbasid Caliphs

In the space of 650-1050 AD a numbers of events of importance transpired in Central Asia. These four hundred years were the fiercest in the Turkish struggle against the Jihad. The next four hundred years were to see the gradual transformations of the pagan Turks into Muslims. The Turks shed their blood fighting the Jihad for four hundred years and finally gave up and embraced Islam, to later become the tormentors to carry the bloodied tradition of Jihad into Anatolia (modern Turkey) and Balkans up to Austria.

In the year 750, an important event transformed Central Asia. This event ws the overthrow of the Umayyads Calphate and its replacement by the Abbasid Caliphate. While Umayyads of Damascus were Arabs who had descended from Abu Sufyan the Chieftain of Mecca at the time of Mohammed. The newly converted Zoroastrian Persians wanted to regain their pre-eminent power in Persia. They organized themselves and marched against the Umayyad army. The two armies met at a place called Zab. Here the Persianized Abbasids defeated the Umayyads and established a new caliphate near Ctesiphon the site of the ancient capital of the Sassanid Persians. They named this city Baghdad which was to be the capital of the Abbasids from 750 up to its sack by the Mongols in 1258.

A leading commander of the Abbasid army was a Zoroastrian convert to Islam who had assumed the name Abu Muslim. He played a leading role in the war and deposed the Umayyad caliph placing the Persianized Abbasids as Caliphs and as the head of the Moslem world. With this revolution the leadership of the uslim world had passed back from Arab hands into Persian hands, a leadership which they had lost a century earlier, when the Arabs had destroyed the Sassanid Persian empire. An important change now was that the Persians who as Zoroastrians a century earlier were victims of Islam had now embraced Islam and had become the new vanguard of the bloodied creed of Islam. Their victims were the Turks of Central Asia.

Abu Muslim a Zoroastrian Persian Convert to Islam, attacked and Islamized the Turks

Shortly after victory at the battle of Zab, and the establishment of the Abbasid Caliphate at Baghdad, Abu Muslim was commissioned to conduct Jihad in Central Asia to exterminate the Kaffirs once and for all. It was a great low point for the Western branch of the Blue Turks. Their great Khan Su’lu who was a bulwark against the Moslems and the Chinese in the wars of 720 and 723, was assassinated by the Arabs. The pagan Turkic rulers of Samarqand and Bokhara came under a heavy assault from the ghazis after the fall of Su’lu when the Arabs with 300 giant trebuchets stormed the cities and forcibly imposed Islam with the destruction of the pagan places of worship.

Defeat of the Chinese at the Battle of the Talas River with the invading Muslims sealed the fate of the Turkish resistance to Islam

Archaeological evidence shows that these Turkic cities were cosmopolitan with Buddhism, Hinduism, Zoroastrianism and the Tengri cults of the Altaics being practiced. The Arabs under Abu Muslim savagely crushed, the last attempt made by the populations of Samarqand and Bokhara to rid themselves of the murderous Muslim Ghazis. Abu Muslim sent his victorious commander of these wars, Ziyad ibn Salih, with a band of 40000 ghazis, to wage a Jihad on the Chinese. The Arab army marched from the south towards Talas. The Chinese general Kao (of Korean origin), decided to resist the Muslim invasion and marched towards Aulie-Ata on the Talas river with 100,000 Chinese troops in cavalry and infantry divisions.

In the Battle of the Talas river, the Qarluq Betrayal led to the defeat of the Chinese at Arab hands

On July 10th 751 AD the Arab and Chinese armies took to the field in Aulie-Ata on the backs of the Talas river. The Chinese cavalry seemed to initially overwhelm the Arab cavalry, but the Arabs had worked out a deal with one of the many Turkish contingents of the Chinese army viz., the Qarluq Turks, by promising them wealth and freedom in return for embracing Islam and betraying their Chinese masters. The Qarluqs who held a grudge against the Chinese for having reduced them to vassalage, viewed this as an opportunity to throw off the Chinese yoke by using the Arabs and had planned to later throwing off the Arab yoke as well and regaining their freedom from both the Chinese and the Arabs. The Qarluqs later played the main role in converting other Turkish tribes notably the Seljuks to Islam.

At the battle of the Talas river where the Arab and the Chinese armies clashed, the Qarluqs who were a part of the Chinese army, opened a breach in their own ranks and allowed the Arabs to ford the river and helped them to encircle a part of the Chinese infantry butchering it to man. The Qarluq archers then surrounded their paymaster the general of the Chinese army Kao and shot down. Now the Arabs followed their heinous practice of sticking the d\severe head of an enemy and parading it before the enemy army. The Chinese not being used to such grisly war tactics, fell into confusion and disarray, not knowing who had betrayed them, and their General Kao. They broke ranks and fell into confusion, shaking the Chinese center, which was rapidly assaulted by the Arab heavy cavalry and destroyed. Thus due to Muslim subterfuge and savagery the infallible Chinese war machine gave way under combined assault of the Arabs and the traitor Qarluqs, and they faced a heavy rout. From behind the treacherous Qarluqs fell upon the Chinese animals, baggage trains and supplies carrying away all they could and receded back into the steppe.

The Arabs rounded up tens of thousands of Chinese and their non-Qarluq Turk allies and took them to Samarqand from where Abu Muslim sent them to Baghdad and Damascus to be sold as slaves, each worth a dirham. One Chinese survivor mentions being kept as cattle in the Arab prison camps. Abu Muslim and Ziyad made huge financial gains out of this slave trade and used it to pay their armies. More importantly the Arabs forced the Turk and Chinese prisoners to teach them the art of making siege trains and catapult machines, which the Islamized Turks were to use successfully in their attacks on the Byzantine cities.

The Qarluq Turks aimed at playing the Chinese and the Muslims against each other to gain their own independence

The Qarluq Turks wanted independence from the Chinese so they made a pretence of embracing Islam to obtain Arab support to defeat the Chinese. The Qarluqs had planned to later throw off the Arab yoke as well by repudiating Islam and regaining their freedom from both the Chinese and the Arabs. But little did the Qarluqs realize that in working out a deal with the Arabs, while they would succeed in throwing off the Chinese yoke, they would have to bring themselves into the fold of Islam, from which there was no escape. The Qarluqs were forced to remain Muslim and whenever any of them reneged their Islamic faith, they were put to death while the luckier among them were enslaved by the Arabs and Persian Muslims.

The later history of the Qarluqs was as Muslims who resigned themselves to remaining as satellites of the Arabs after having thrown off the Chinese yoke and with it also the only possibility of liberating themselves from the grip of Islam. It was this devious conversion of the Quarluqs that was actually a pretense to throw off the Chinese yoke on the Turks, that led to the conversion of the greater Turkish nation to Islam in the next three centuries from 750 to 1050.

The Turks who had retained aggressively their freedom from their neighbors the Chinese, and the Zoroastrian Persians for more than a millennium, finally began succumbing to Islam due to a tactical pretense of the Qarluqs, one of their important clans to pretend to embrace Islam for securing Arabs support and throwing off Chinese suzerainty. A deal that proved costly for Turkish independence that was now permanently enslaved into the prison of Islam. The Turks henceforth would remain satellites of the Arabs, a position they sought to reverse, by themselves becoming more aggressive champions of Islam, and reducing their Arabs masters to vassalage status when they established their Seljuk and later Uthman (Ottoman) dynasties.

Turkish Resistance to Islam

But before they would finally resign to their fate as Muslims the Turks waged a bloodied war against the Muslim incursion of their homeland in Central Asia. After the Battle of the Talas river, the Arabs captured many of the non-Qarluq Turks who were allies of the Chinese and deported them as salves to Baghdad. They are reported to have totaled up to seventy thousand. Not only were these enslaved Turks were forced to become Muslims, but enslavement was the tactic used by the Islamized Turks to convert the non-Muslim Turks to Islam. The next Turkish clan to be converted to Islam was the Seljuks. They were a proud imperial clan among the Turks, and after the conversion of the Qarluqs to Islam, it was the Seljuks who held the banner of Turkish resistance to Islam. The Seljuks remain unsubdued for another century and half . But the Arabs, Persian and Islamized Turks mounted many bloodied campaigns against them and other non-Muslim Turks who were allied to the Seljuks. In this series of battles the fortunes fluctuated from one side to the other, at times the Muslims were victorious and at others the Turks emerged victorious.

Tactics used by the Muslims to convert the Turks to Islam

In this unwritten chapter of the Turkish resistance to Islam, the Muslims (who in this case were mainly the Zoroastrian Persian converts to Islam), devised new tactics and subterfuge to enslave a proud and fiercely independent people which characterized the Turkish clan. In this battle the Turks did not lack in bravery, as they were born warriors and spent a large part of their lives on horseback. But whenever the non-Muslim Turks were victorious, they destroyed the Muslim camps, slaughtered their armies, destroyed their cities, and torched their fields, but it did not cross their minds, to enforce any religion on the defeated Muslims. Those of the Muslims that the Turks set free, either went back to the Muslim controlled cities, or stayed on in the Turkish areas and attempted to spread Islam. A mindset that was totally absent among the non-Muslim Turks. (It was only when the Christians of Europe liberated Muslim lands, did they attempt to re-convert the Muslims to Christianity.) But the pre-Islamic Turks knew of no such tactic and they made no attempt to roll back the tide of Islam. So while the Christens of Europe succeed in turning back the tide of Islam in the middle ages, the Turks failed to resist Islam. Herein lies an important factor in defeating Islam, seeking reconversion of the defeated Muslims out of Islam. If the defeated Muslims are allowed to retain their faith (which is nothing but a cult of death and murder), they poison of Islam will become powerful once again to overwhelm the non-Muslim victors and ultimately defeat the, So whenever the Muslims are defeated and subjugated they need to made to give up Islam, at the pain of death if necessary. But Islam has to be wiped out of peoples minds. A Muslim is an ever present danger to any non-Islamic (civilized) way of life.

Muslim menahan pangeran2 Turki sbg tawanan utk dibesarkan sbg Muslim

In their struggle with the pre-Islamic Turks the tactic of the Muslims was to use every victory to press Islam on the defeated Turks. At every negotiation with the Turks, when the Turks faced a defeat, the Muslims would ask for custody of the princes and princesses of the Turkish royal family on the excise of holding them as a guarantee that the Turks would keep their word given during the negotiations. These royal captives would be brought up in the Islamic tradition and their minds jaundiced in favor of Islam. In many cases when their Muslim captors were satisfied that the royal captives had mentally accepted Islam, the Shahada (declaration of the acceptance of Islam) was pronounced to them, and they were released to go back to their kingdoms, whenever they had to ascend the throne in their clans and tribes. With a Muslim at the helm in a non-Muslim Turkish clan, the conversion of the rest of the clan to Islam was only a matter of time. This was one of the tactic used by the Muslims to infiltrate Islam into the Turkish nation. By the middle of the eleventh century, most of the Turks had embraced Islam, and thenceforth it was they who became the vanguard of the Jihad to carry the bloodied trial of Islam into Anatolia and the Balkans. It was these Islamized Seljuk Turks who kept up a constant pressure on the Byzantine Empire inflicting on the Byzantines a string of defeats starting from the Battle of Manzikert in 1071 in Eastern Anantolia. It was these steady attacks and migration of the Seljuk Turks into Anatolia which gave the present Turkish character to Anatolia making it the Turkey of today. The Seljuk (and later the Ottoman) Turks also carried with them the tradition of taking child hostages and bringing them up as Muslims, a tactic of which they had earlier been victims at the hands of the Arab and Persian Muslims. This led to the institution of the Turkish Jannisaries The Jannisaries (Mercenaries from Jani = Life and Nisar = given away) were Christian children taken captive by the Turks when they invaded Anatolia and the Balkans. This is a practice derived by the Turks from the Arab and Persian Muslims tactics used against them (the Turks) during their pre-Islamic days.

But the irony of history is that the Islamization of the Turks and the Mongols also started their migration from the traditional homelands in the Steppes of Central Asia into Anatolia and onwards in the Balkans. Today the word Turk is not mainly identified with the Turkic peoples of Central Asia who make up the Kazakh, Uzbek, Khirgiz and Tajik people (all of whom were called the Turanians in ancient times). Today the word Turk implies an inhabitant of Anatolia which is called Turkey. But in ancient times the inhabitants of Anatolia were not the Turks, they were Hittites (and Indo-European people) and later the Greek speaking inhabitants who built the Hellenized kingdoms of Sardis and Troy.

Hulagu’s invasion - The Turko-Mongol attack on Muslim Iran and Middle East was similar to the Crusades, in that it was a Non-Muslim Counterattack on Islam

Returning to pre-Islamic Central Asia, we need to bring attention to another curious fact that today not many historians have pointed out that the subterfuge, savage cruelty and other foul tactics which the Muslims used to convert the Turks to Islam, had led to a gradual accumulation of bitterness and a desire for revenge against the Muslims in the Turks and their related clans the Mongols. Over the centuries many Persian Zoroastrians, the Persian Nestorian Christians, the Turks, Chinese and the Mongols had nursed within themselves a grievance against the Muslims expansion into Persia and Central Asia. It is this accumulation of grievances that led to the burst of the Mongol attack on Islamdom from 1200 that culminated in the sack and slaughter of Baghdad in 1258 under Hulagu Khan who was egged on to this path by his Nestorian Persian Christian wife. Historians have failed to interpret the attack of the Mongols on Muslim Persia, and the Middle East as the Turko-Mongol counterattack on Islam as were the Crusades, which were the Christian counterattack against Islam in the 11th century, We shall examine this in detail the chapter on the Mongol resistance to Islam, before some of the Mongols succumbed to the subterfuge and savagery of Islam. Suffice it to note here that Hulagu’s attack on Islamdom was a collective expression of resistance to Islam from the pre-Islamic Persians who had settled in China and Mongolia, and the Turks who had been waging a struggle against Islam in the 8th to the 10th centuries. It was a result of historical wrongs committed by the Arab Muslims on the Zoroastrian Persians, and by the Arab Muslims along with the Islamized Persians on the Turks, and in turn, by the Arabs with the Islamized Persians and the Islamized Turks on non-Islamic Turks and Mongols and Chinese.

Sejarah: Pembantaian oleh Khalifah TURKI

The Massacres of the Khilafah
Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah


Walter Short
http://www.debate.org.uk/topics/history/xstnc-6.html

Pendahuluan

Memanglah sudah menjadi tujuan bagi kaum Muslim Sunni untuk membangun kembali Khalifah yang dihapuskan oleh Kemal Ataturk pada 1924. Dalam konteks yang modern, ini berkaitan dengan cita-cita para tokoh utama Islam untuk membentuk sebuah kekuasaan hegemoni Islam yang global dan bersatu. Tentu saja tidak bisa terhindarkan apabila dalam wilayah yang sangat luas itu akan ada beragam kaum minoritas agama lain. Muslim selalu ngotot menyatakan bahwa masyarakat non-muslim selalu diperlakukan dengan adil dan hormat oleh para pemimpin Muslim sejati. Oleh karena itu tulisan ini akan menyelidiki apakah klaim muslim tersebut benar demikian berdasar bukti-bukti sejarah Islam.

Karena di bawah kekuasaan Ottoman (Turki)-lah sebuah negara Islam sampai mencakup wilayah yang berpenghuni banyak orang Kristennya, dan sesungguhnya juga menjajah wilayah yang sangat besar di Eropa, kita akan membatasi tulisan ini kepada beberapa kejadian-kejadian penting dalam sejarahnya, khususnya setelah Khalifah terakhir dipegang oleh bangsa Ottoman Turki. Titik berat studi ini adalah untuk menyelidiki pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Khalifah Ottoman Turki. Tujuan kita adalah pembuktian, jika memang hak asasi manusia yang paling mendasar, yakni hak untuk hidup, dengan seringnya dilanggar oleh Khalifah Turki, maka kaum Muslim yang ingin menghidupkan kembali Khalifah dan menggembar-gemborkan bahwa non-Muslim itu hidupnya damai sejahtera diperlakukan manusiawi di bawah kekuasaan Islam, mestinya mempunyai penjelasan yang lebih baik dari sekedar mengibuli.

1. Timbulnya Ottoman Turki dan Penaklukan Konstantinopolis (Istanbul sekarang)

Kaum Turki Osmanli atau Ottoman muncul sebagai sebuah kekuatan pada abad 14M, menggantikan Emirat Turki Seljuk Konya sebelumnya [1] Mereka adalah ‘…para Muslim fanatik…Para pemimpin suku mereka disebut sebagai Ghazi, pejuang pembela aqidah Islam. Menaklukan para kafir adalah bagi mereka sebuah kewajiban ilahi.’ [2] Sebab itu, ciri-ciri jihad bagi kaum Ottoman adalah sama saja baik offensive/menyerang maupun defensive, dan sudah menjadi keyakinan mereka bahwa non-Muslim harus ditundukkan oleh pedang. Pada 1354 mereka pun menduduki Gallipoli, dan lalu meluas ke seluruh jazirah Balkan, menaklukan bangsa Serbia pada Perang Kosovo 1389, lalu meneruskan penjajahan ke Bulgaria dan Thessalia, 1393. Ini berarti bahwa ibu kota Kekaisaran Byzantium (atau apalah yang tersisa daripadanya saat itu), Konstantinopolis, sekarang sudah terkepung. ‘Tutuplah gerbang-gerbang kotamu’ kata Sultan kepada Kaisar Byzantium Manuel II (1391-1425), ‘aku toh sudah memiliki semuanya di luar kotamu’ [3]

Saat itu tinggal masalah waktu saja kapan Konstantinopolis akan diserang, dan di bawah kekuasaan Sultan Mehmet II yang enerjetik dan kejam, orang2 Ottoman mulai mengepung ibu kota Byzantium pada April 1453 – ini bahkan bertentangan dengan sumpahnya sendiri pada saat naik tahta sultan pada 1451, bahwa sultan bersumpah demi Al-Quran kepada duta besar Byzantium bahwa dirinya akan menghormati kedaulatan wilayah yang terakhir ini. [4]

Rupa-rupanya, sebuah sumpah kepada seorang ‘infidel/kafir’ adalah omong kosong belaka. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa pengepungan Konstantinopolis merupakan sebuah bentuk jihad yang membela-diri, malahan, ini jelas adalah tindakan agresi yang sepihak. Mati-matian membela diri, kalah jumlah dan kalah senjata, kota itu akhirnya jatuh pada hari Senin 28 Mei 1453 (atau sumber resmi lain: Selasa 29 Mei 1453). Harus dicatat di sini bahwa pada 6 April Sultan Mehmet II mengirimkan pesan kepada Kaisar Konstantin XI, tentang sebuah maklumat yang kemudian ditolak oleh Konstantin, ‘menyatakan bahwa, sebagai mana yang tertulis dalam hukum Islam, setiap warga kota akan dibiarkan hidup jika kota diserahkan tanpa perlawanan.’ [5]

Implikasi maklumat ini sangat jelas: jika kota melawan, jiwa para penduduk tentu akan terancam. Dan memang inilah yang terjadi pada saat kota itu jatuh pada hari Selasa 29 Mei 1453, pasukan-pasukan Muslim membantai, menjarah, dan memperbudak masyarakat Kristiani dalam jumlah yang sangat besar [6] Kenyataan ini, yang jarang disebutkan oleh para Muslim pada saat mereka merayakan event kemenangan mereka, memperlihatkan betapa tertanamnya nilai pembantaian dan penindasan di dalam Khalifah Ottoman, dan wajar saja beralasan bagi non-Muslim untuk was-was prihatin kapan pun mereka mendengar Muslim bernostalgia mengenang ‘kejayaan’ masa lalu mereka. Mehmet II lalu memasuki gereja agung Agia Sofia, kathedral utama kaum Kristen Timur, alih-alih dari menghormati integritas religinya, dia malah mengislamkanya, mengubahnya secara resmi jadi masjid (sekarang namanya Aya Sofia di Istanbul). Menjelang abad ke-16, seluruh Balkan sudah dijajah oleh penguasa Muslim.

2. Kebebasan dan Harga Diri Kaum Nasrani di bawah Kekuasaan Turki Ottoman

Gambarannya memang tidak melulu gelap. Bangsa Turki memang mengizinkan kaum Kristen Orthodox Yunani sebuah hak otonomi internal untuk mengatur sendiri urusan-urusan sosial dan agama mereka – konsep Millat namanya. Sultan sering mengangkat seorang Yunani sebagai Grand Vizier (Wasir Agung), dan panglima dari Angkatan Laut Ottoman seringkali adalah seorang Yunani [7]. Namun bagaimana pun, status kewarganegaraan penuh hanya diperuntukkan bagi mereka yang memeluk Islam. Sultan seringkali ikut campur dalam hal pemilihan ketua gereja Orthodox (patriarch), dan bahkan bisa-bisanya mengatur urusan mereka. Pada waktu-waktu tertentu, beberapa patriarch malah dieksekusi mati. Tidak ada kebebasan beragama penuh ataupun persamaan hak.

Salah satu yang praktek2 yang paling meyakinkan untuk mempertanyakan Keagungan Khalifah Ottoman yang ‘katanya’ merupakan Masa Keemasan bagi kaum minoritas agama lain adalah rekrutmen/caranya merekrut Janissariyah (pasukan khusus Ottoman), yang dimulai pada abad 14.’ …mereka secara paksa merampas anak-anak lelaki dari keluarga Kristen yang diperbudakkan (umumnya dari keluarga orang Yunani, tapi lalu juga dari bangsa2 Armenia, Bulgaria, Albania, dan Serbia), dan membesarkan anak2 ini dalam sebuah kamp khusus. Mereka lalu melatih anak2 ini menjadi Turki fanatik, penjagal2 berdarah dingin terhadap keluarga mereka sendiri. Anak2 ini dibesarkan untuk mempercayai bahwa ayah mereka adalah sang Sultan dan jika mereka sampai tewas di medan perang berarti mereka masuk surga. Jadi, karena Angkatan Perang baru ini, Janissariah (Yeni-ceri bahasa Turkinya) orang2 Turki melanjutkan penaklukan2 mereka.’ [8]

Pasukan2 Ottoman lalu menyerang desa-desa Kristen, menculik anak2 kecil, yang kemudian dibawa ke Konstantinopolis sebagai serdadu-budak, dan secara paksa di-Islamkan. Mereka ini dilarang berhubungan dengan wanita, kecuali saat mereka menyerang kota atau desa musuh, itulah saatnya diperkenankan untuk menjarah dan memperkosa sepuasnya selama tiga hari berturut-turut. Hal ini berlanjut terus sampai 1700, setelah keanggotaan lambat laun berubah menjadi tradisi turun-temurun, dan akhirnya berakhir dengan penghapusan Janissariyah, setelah timbul sebuah pemberontakan. Anak-anak orang Nasrani lainnya masih saja diculik untuk dijadikan budak sebagai pembantu-pembantu istana, kasim, dan gundik (harem). Praktek-praktek macam inilah yang meninggalkan kenangan pahit bagi penduduk Balkan dan Armenia tentang masa penjajahan Muslim yang berabad-abad itu.

Praktek/kebiasaan2 ini tentulah akan menjadi budaya di Eropa Barat juga jika saja pengepungan Ottoman terhadap Vienna tahun 1683 itu sampai berhasil dengan kemenangan. Lagi-lagi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ini adalah jihad membela diri. Inilah agresi sepihak. Tindakan Ottoman menyerang Austria mulai membuat orang Eropa sadar akan apa yang akan menimpa mereka jika sampai Khalifah berhasil memperluas wilayahnya sampai menguasai seluruh Eropah. Anggota2 pasukan Ottoman ‘membakar habis desa-desa, memperbudak kaum wanita dan anak-anak, dan kaum lelaki yang trampil. Yang sakit dan yang tua mereka penggal. Mereka membumiratakan gereja2 dan menginjak2 lambang2 salib di tanah.’ [9]

Mereka sibuk ‘membakar, memperkosa, menjagal, memperbudak…’ [10]. Harus diingat bahwa pasukan Muslim ini dipimpin oleh Wasir Agung sendiri, Kara Mustafa. Sulit untuk dimengerti bagaimana perilaku2 semacam itu bisa dianggap sesuatu yang membuat orang tertarik kepada Islam.

Diskriminasi terhadap kaum Nasrani terus berlanjut berabad-abad di bawah pemerintahan Khalifah Ottoman. Sebuah contoh akan hal ini ditemukan di dalam perjanjian damai yang mengakhiri Perang Krimea 1854-56. Perang dimulai dari pertengkaran antar Rusia dengan Khalifah Ottoman. Kesepakatan diulangi oleh Perjanjian Paris pada Maret 1856. Biasanya perhatian utama diberikan kepada pasal Inggris dan Prancis yang melarang kapal perang Rusia di Laut Hitam. Perhatian yang lebih kecil difokuskan pada Artikel 9 dari Kesepakatan itu, yang mengharuskan Khalifah Ottoman memperlakukan penduduk dengan adil ‘tanpa membedakan agama atau ras’. Ini membuktikan bahwa Khalifah Ottoman memang benar2 terlibat dalam sebuah upaya pen-diskriminasi-an yang sistematik. Alih-alih dari menghormati kesepakatan damai, Khalifah ini malah mengeluarkan sebuah maklumat pada tahun yang sama yang mewajibkan kaum non-Muslim untuk mendapatkan izin dahulu dari sang Khalif sendiri kalau ingin membangun atau memperbaiki tempat2 ibadah. Secara effektif, ini berarti sebuah kelanjutan dari prinsip2 hukum Syari’ah Islam, dan suatu pelanggaran dari Kesepakatan Damai Paris.


Tidak hanya kebebasan kaum Nasrani yang dibatasi oleh Khalifah, harga-diri kaum Kristen ini juga sering kali diinjak-injak. Sampai menjelang Perang Besar dan pembersihan etnis 1915, orang2 Nasrani Armenia mendandani anak2 perempuan mereka supaya kelihatan seperti anak2 lelaki agar jangan sampai diperkosa atau diculik (atau dua2nya) oleh Muslim2 Ottoman. Faktanya, setiap bocah berada di bawah bahaya penculikan. Sebuah contoh yang khas dari kedengkian Muslim Ottoman terhadap orang Kristen diperlihatkan oleh bukti dokumen izin-pemakaman yang dikeluarkan oleh seorang qadi (penggawa/lurah Muslim) dalam 1855 yang diperuntukkan bagi seorang Nasrani yang wafat: ‘Kami menyatakan ini kepada pendeta gereja Maryam, bahwa bangkai si Saideh yang najis, busuk, dan bau, terkutuklah hari ini, sudah boleh dimakamkan.’ [11] Tidak diragukan lagi, jika sentimen2 yang tertulis sedemikian itu dimaksudkan untuk satu saja jasad Muslim, Muslim akan mengganggap ini sebagai kebencian dan tidak berprikemanusiaan; jadi tidak sepantasnyalah mereka kaget jika lalu orang2 Nasrani pun bisa bereaksi sama, dan sulit untuk meng-iya-kan Khalifah sebagi sebuah rejim-pemerintah idaman.

3. Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah

Menjelang abad 19 kekaisaran Ottoman memudar, dan gerakan2 ke arah kemerdekaan mulai bermunculan di antara bangsa2 Balkan. Masa ini adalah cikal-bakal nasionalisme modern, dan ada suatu keinginan besar di antara orang2 Nasrani Balkan untuk membebaskan diri mereka dari para penjajah Turki (dan dalam hal bangsa Romania, dari penguasa Phanariot Yunani yang dipakai Ottoman sebagai kaki-tangan mereka). Namun, nasionalisme saja tidak cukup untuk memotivasi Eropa untuk membebaskan diri dari Turki. Sebagai Kristen, orang2 Balkan paling tinggi derajatnya hanya sebagi warga kelas dua – barang rendahan, tidak punya persamaan derajat beragama. ‘Orang-orang Nasrani, sungguh, dijauhkan dari posisi politik, diwajibkan membayar sebuah pajak khusus [Jizyah] dan pelan-pelan dimusnahkan/dibasmi secara sistematis.’ [12]

3.1 Perlawanan Yunani

Kekalahan2 Ottoman di tangan bangsa Polandia dan Austria di 1683, dan dalam beberapa kesempatan selanjutnya oleh orang2 Rusia, dan pendudukan sementara Morea oleh orang2 Venesia pada masa 1690an sampai 1718 membuktikan bahwa Khalifah itu bukanlah super-jagoan tanpa tanding. Percobaan2 pertama membebaskan diri oleh bangsa Serbia dipimpin oleh Kara George pada 1804. Perlawanan berhasil, namun kekuasaan Ottoman terbentuk kembali pada 1813. Perlawanan lainnya pada 1815 di bawah Milosch Obrenovitch menjadikan Serbia mendapatkan hak otonomi, dan bahkan dirinya diberi gelar ‘Pangeran Serbia’ oleh Sultan. [13] Tonggak sejarah utama, yang memulakan runtuhnya Ottoman adalah perjuangan-kemerdekaan Yunani pada 1821. Sejak zaman kebudayaan klasik Yunani, komunitas2 Yunani telah mendiami daerah2 sekitar Laut Hitam, termasuk wilayah2 yang dikuasai oleh Rusia pada abad ke-18. Asisten Militer untuk Tsar Rusia 1821 adalah seorang Yunani, Pangeran Hypsilanti, yang juga adalah pemimpin dari kelompok rahasia nasionalis Yunani yang disebut Etairia Filiki - ‘Perkumpulan para Sahabat’, yang didirikan pada 1814 di Odessa, memiliki 20,000 anggota, dan beroperasi di wilayah2 berpenduduk Yunani di dalam Kekhalifahan Ottoman. [14]

Perlawanan dimulai secara setengah2, ketika Hypsilanti dan sekelompok orang Yunani melintasi Moldavia pada bulan Maret 1821, dan mendorong penduduk Orthodox untuk bangkit melawan penjajah Ottoman. Namun, bangsa Romania, walaupun Orthodox, bukanlah Yunani, dan tidak senang akan keunggulan orang Yunani dalam Kekhalifahan, dan konflik antara orang2 Yunani dan Romanian pun timbul. Jujur saja untuk dituliskan bahwa Hypsilanti dan pengikutnya pun pernah berperangai sejahat bangsa Ottoman yakni waktu mereka membantai sebuah komunitas Muslim lokal. [15] Karena latar belakang inilah, tidak heran jika pada bulan Juni di Skaleni para pejuang dikalahkan oleh kaum Ottoman.

Bagaimanapun, kejadian2 di Moldavia itu akhirnya memicu kebangkitan besar dari bangsa Yunani di Morea bersumber dari pengaruh Etairia Filiki . Namun sayang, sekali lagi orang Yunani menodai perjuangan mereka dengan membantai komunitas 25,000 Muslim dalam waktu enam minggu setelah pecahnya perlawanan. Kaum Ottoman pun membalas dendam dengan membantai bangsa Yunani yang ada di Thessalia, Makedonia, dan di pulau-pulau Aegean. Di salah-satu pulau ini, yaitu Chios, Ottoman menghabisi nyawa 27,000 Nasrani, termasuk kaum wanita dan anak-anak. [16]

Hampir seluruh orang Nasrani di pemukiman Yunani di Konstantinopolis tewas dijagal. [17] Pada Hari Paskah 1822, Patriarch Orthodox di Konstantinopolis digantung oleh Turki Ottoman, dan jenazahnya lalu dilemparkan ke selat Bosphorus, akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal Yunani dan dibawa ke Odessa, di mana Patriarch akhirnya dimakamkan di sana sebagai martir. [18]

Pembunuhan Patriarch merupakan sebuah perhitungan yang sangat keliru dan mengundang bencana bagi Khalifah, kemuakan yang besar tersebar di mana-mana di Eropa, dan Rusia mengancam akan turun tangan. Hal kemerdekaan Yunani kini menjadi buah-bibir masyarakat Eropa yang prihatin melihat sesama saudaranya Nasrani ditindas, dibantai dan tawanan2 Kristen Yunani dijual sebagai budak di Mesir. [19] Kesalehan beragama Raja Charles X dari Prancis membawanya untuk mendukung perjuangan kaum Nasrani Yunani. Pujangga terkenal Inggris, Lord Byron, sebagaimana banyak orang Eropa lainnya, menjadi sukarelawan berjuang bersama-sama orang Yunani, dan gugur di sana. Di sisi lain, banyak Muslim mengikuti panggilan jihad melawan kafir yang dikumandangkan oleh Khilafah pada bulan Maret 1821.

Kemenangan2 militer, terutama angkatan laut Yunani menyebabkan Khalifah mencari bala bantuan Muhammad Ali, wakilnya di Mesir, supaya turun tangan dengan armada Mesirnya, dia dijanjikan wilayah2 Morea, Kreta, dan Lebanon. Putra Muhammad Ali, Ibrahim, mendarat di Pulau Kreta di mana populasi pada waktu itu kurang-lebih sepertiganya Muslim, dan mulai membantai masyarakat Nasrani yang mayoritas. Seperti itu juga, ketika pasukan2 Ibrahim mendarat di Morea, ‘mulailah mereka menyapu bersih penduduk Yunani.’ [20] Haruslah dinyatakan di sini bahwa inilah perintah Khalifah, yang didesak oleh para ulama Muslim, bahwa ‘para pemberontak harus diperangi secara terbuka dan dihabisi oleh pedang, harta-milik mereka harus dirampas dan anak-istri mereka harus dihabiskan, dijadikan budak’ [21]. Seperti yang telah kita lihat, baik perbudakan maupun genocide (pemusnahan massal) sebenarnya memang telah terjadi – ‘seluruh populasi penduduk Yunani daratan terancam oleh kepunahan massal’ [22].

Pemusnahan massal dan ancaman campur-tangan Russia akhirnya menyebabkan the Great Powers (Sekutu), yang dipimpin oleh Inggris, turun tangan dalam pertempuran di Navarino pada 1827, yang mana mereka menghancurkan armada2 Ottoman dan Mesir, dan memberikan jalan bagi pasukan2 Prancis untuk menyerbu Morea, sedangkan pasukan2 Rusia maju ke daerah Trachea. Haruslah dinyatakan di sini bahwa sebelumnya ini terjadi, Sekutu (The Powers) telah menawarkan kepada Ottoman kesepakatan untuk membiarkan Ottoman Turki tetap berkuasa secara simbolik dan Yunani sebagai daerah jajahan dengan status otonomi penuh, tetapi sang Khalifah, yang kukuh dengan prinsip Islamnya akan hal menundukkan kaum non-Muslim, menolak tawaran tersebut. Kesalah-perhitungan ini akhirnya membawa Sekutu untuk memperjuangkan kemerdekaan penuh Yunani di tahun 1832.

3.2 Pembantaian-pembantaian Khilafah dari 1840-1860

Fakta, bahwa kejadian pembunuhan massal (genocide) yang berulang-ulang yang akhirnya membawa intervensi Barat dalam urusan2 Ottoman, akhirnya meruntuhkan pula Negara itu. Pada 1842, Muslim terlibat dalam pembantaian2 berikut:
Badr Khan Bey, seorang pemimpin (Amir) Kurdi Hakkari, bersama2 dengan pasukan2 Kurdi lainnya yang dipimpin Nurallah, menyerang orang2 Assyria, bermaksud untuk membakar, membunuh, menghancurkan, dan, jika mungkin, memunahkan seluruh bangsa Assyria dari daerah2 pegunungan. Kaum Kurdi yang ganas ini melumatkan dan membakar apa saja yang mereka temui. Pembantaian tanpa pandang bulu terjadi. Para wanita dibawa ke hadapan sang Amir dan dibantai dengan darah dingin. Insiden berikut ini menggambarkan betapa buasnya perbuatan mereka: ibunda Mar Shimun, Patriarch (Bapa Gereja Timur) yang sudah berusia lanjut, ditangkap oleh mereka, dan lalu setelah melakukan hal-hal biadab yang luar biasa memuakkan kepadanya, mereka membelah tubuhnya menjadi dua bagian dan melemparkannya ke sungai Zab, seiring dengan seruan “pergilah dan bawalah ke putramu yang terkutuk itu pengetahuan bahwa nasib yang sama sedang menunggunya.” Hampir sepuluh ribu orang Assyria dibunuh, dan sejumlah yang sama banyaknya dari kaum wanita dan anak2 dibawa sebagai tawanan, hampir seluruhnya dikirim ke Jezirah untuk dijual sebagai budak2, untuk dipersembahkan sebagai hadiah2 bagi tokoh-tokoh Muslim yang berpengaruh. (Death of a Nation, pp. 111-112). [23]
Kejadian yang sama berlangsung tahun 1846. [24] Dalam kedua kasus tersebut tidak pernah sekalipun Pemerintah Ottoman maupun aparat2 keamanannya turun tangan untuk mencegah pembantaian2 atau menghukum para pelaku pembunuhan, suatu tanda bahwa mereka justru gembira dengan perbuatan2 tsb, jadi membuat pemerintahan Khalifah sebagai oknum pembantu kriminal pembantaian massal. Pada 1847, pasukan2 Muslim membantai lagi 30,000 anggota komunitas Nasrani Assyria. Sebagai satu contoh telak betapa bersekongkolnya Pemerintah dalam pembantaian2 kaum Nasrani bermula dari individual Muslim terjadi di Lebanon dan Syria pada 1860, yang mana akhirnya hanya bisa dihentikan lewat campur tangan pasukan2 Perancis:
Di Lebanon, dari April sampai Juli, lebih dari 60 desa di Al-Matn dan Al-Shuf dibumihanguskan oleh kaum Druze dan pasukan2 Kurdi. Menyusul kemudian kota2 besar. Komandan garnisun Ottoman menawarkan lagi perlindungan kepada penduduk Maronite (Kristen), seperti yang telah ditawarkannya kepada desa2 yang lebih kecil, meminta mereka menyerahkan senjata dan lalu menyembelih mereka di penginapan padang pasir lokal. Begitulah nasib dari Dayr al-Qamar, yang kehilangan 2600 penduduknya; Jazzin dan sekitarnya, di mana 1500 dibantai; Hasbayya, 1,000 dari 6,000 disembelih secara keji; Rashayya, 800 tewas. Perintah komando bagi Hasbayya yaitu semua laki-laki di antara 7 sampai 70 tahun harus disembelih. Mata buas mereka berpesta-pora menyaksikan mayat-mayat muda dan tua yang mereka sembelih dicabik-cabik di pekarangan istana Shihabi. Zahla, kota terbesar di antara semuanya dengan 12,000 penduduk, bertahan sementara waktu sampai akhirnya harus tunduk di bawah serbuan pasukan termasuk kaum penyerang dari Harwan dan suku2 Beduin dari padang pasir. Kota itu terletak nyaman di lembah yang curam terbentuk oleh jalur Bardawni yang mengalir dari Gunung Sannin. Tidak satu rumahpun lolos dari amukan api. Total hilangnya jiwa dalam masa tiga bulan dan rentang jarak beberapa kilometer diperkirakan mencapai 12,000. Dari Lebanon api kebencian menjalar ke Damascus dan menyulut tangki kedengkian Muslim yang terbentuk oleh kebijakan Ibrahim Pasha dan hukum2 egalitarian Khatti Humayyun. Wilayah pemukiman Assyrian dibakar dan sekitar 11,000 penghuninya disembelih. [25]

3.3 Pembantaian-pembantaian Balkan 1870an

Di Bosnia-Herzegovina, para petani di pedesaan Kristen masih tinggal di bawah sistem penghambaan, dan dibebankan atas mereka pajak2 yang berat oleh Khalifah, yang tidak berlaku untuk para Muslim. Penduduk Balkan menderita oleh panen gagal tahun 1874, kelaparan menimpa mereka, namun Turki Ottoman, jauh dari itikad menolong mereka, masih saja menuntut pajak2 – sekali lagi, ini dipengaruhi oleh Syari’ah Islam. [26] Himpitan-tekanan bathin ini akhirnya meledak pada 1875, orang Kristen Bosnia-Herzegovina memberontak terhadap Khilafah. Perlawanan menyebar sampai ke Serbia dan Montenegro, yang telah berstatus otonomi sejak 1829 meskipun masih bersujud kepada Ottoman. Segera saja perjuangan menyebar juga ke Bulgaria, yang belum diberikan hak pemerintahan sendiri di bawah Khilafah, karena adanya komunitas2 besar Turki dan Muslim di sana dan jaraknya yang dekat ke ibukota Istanbul.

‘Sultan yang baru naik tahta, Abdul Hamid II (dikenal dalam sejarah sebagai “Red Sultan”) tidak berkompromi sedikitpun dengan para pemberontak.’ [27] Kebijakan Khalifah adalah pemusnahan massal (genocidal): ‘seluruh desa diluluhlantakkan, penduduknya disembelih. Penghuni penjara2 Bulgaria ditembak mati setelah lebih dulu disiksa dengan sangat biadab.’ [28] Antara April sampai Agustus 1876 ribuan warga Nasrani Bulgaria secara mengerikan dibantai oleh pasukan2 Khalifah – dalam satu bulan Mei saja 12,000 laki2, perempuan, dan anak2 disembelih dengan brutal. [29] Sekutu mencoba membujuk Khilafah dengan menawarkan perjanjian Andrassy (berdasarkan nama seorang menteri Hungaria), menawarkan proposal untuk mereformasi kebijakan2 Ottoman, yang mana secara pura-pura diterima oleh Sultan. Kaum Nasrani Balkan,bagaimanapun, sudah kenyang dengan pahitnya pengalaman, tidak percaya lagi dengan janji-janji Turki Ottoman yang tidak didukung oleh jaminan penuh dari Barat.

Sekutu, dengan pengecualian Inggris, saat itu mengirimkan Memorandum Berlin kepada Kalifah Ottoman, dengan ancaman akan turun tangan membantu perlawanan Balkan apabila tawaran reformasi tidak juga dilaksanakan dalam dua bulan. Namun, tanpa hadirnya Inggris, Ottoman merasa di atas angin untuk menghiraukan saja tawaran tersebut. Russia bersiap-siap untuk menyerbu Khalifah Ottoman, tetapi ini dicegah oleh sebuah konferensi international di Konstantinopolis di mana Abdul Hamid II menyetujui reformasi konstitusional, yang diajukan oleh menterinya, Midhat Pasha, yang berpandangan liberal, yang mana dimasukkan juga di situ perlakuan2 yang lebih manusiawi bagi orang2 Kristen/Nasrani. Namun juga, segera saja setelah konferensi dibubarkan, Midhat Pasha dicopot dan dibunuh beberapa waktu kemudian. Undang2 yang baru itu segera juga dicabut kembali, bersama dengan jaminan2 perlindungan bagi umat Kristiani. [30] Ini menunjukkan bahwa penganiayaan atas umat Kristiani memang akan terus-menerus terjadi selama masih ada Khalifah di bumi ini.

Akhirnya, kelicikan dan pengkhianatan janji Ottoman menghasilkan penyerbuan Russia-Romania, dan puncaknya Inggris campur-tangan, membawa hasil akhir Perjanjian Berlin 1878 yang mengakui kemerdekaan total dari Serbia, Romania, dan Montenegro, sedangkan Austria mengambil-alih Bosnia dan daerah Sandjak dari Novibazar. Bulgaria mendapatkan hak pemerintahan sendiri, dengan Rumelia timur, yang berbatasan dengan Thrakia timur, selalu harus diperintah oleh seorang Gubernur yang Kristen. [31] Perang telah membuat Khalifah kehilangan banyak sekali wilayah di Eropa, inilah masa untuk bersuka bagi para umat Kristiani Balkan. Namun demikian haruslah diakui juga, bahwa di negara2 Balkan yang baru saja merdeka setelah 1878 itu terdapat rasa benci dan perlakuan kejam terhadap kaum penduduk Muslim mereka, sama seperti yang dilakukan Khalifah terhadap umat Kristiani, dan sebagai hasilnya, banyak umat Muslim setelah sering menerima penganiayaan, hijrah ke Kesultanan Ottoman.

Kerugian yang lebih besar lagi bagi Khalifah Ottoman ialah hilangnya dukungan Inggris. Khabar2 mengenai pembantaian2 orang Bulgaria disambut dengan kemurkaan massa. Perdama Menteri, Disraeli, karena kuatir akan rencana2 expansi Russia, membantah berita2 pembantaian itu sebagai propaganda semata – ‘gossip warung kopi’ katanya. Namun pemimpin oposisi, Gladstone, menuliskan sebuah pamflet yang terkenal dengan judul The Bulgarian Horrors and the Question of the East , yang sangat laku terjual. Untuk sementara waktu, Khalifah Ottoman dianggap sebagai sumber kejijikan seperti orang memperlakukan Nazi Jerman sekarang. Situasi ini masih saja diperparah oleh tindakan2 Sultan-Khalifah Abdul Hamid yang melanggar janji2nya sendiri tentang perlakuan manusiawi untuk umat Kristiani yang dia tandatangani di Kongres Berlin. [32]

3.4 Pembantaian-pembantaian tahun1890an

Di sisi lain, Turki Ottoman terus saja membantai seluruh komunitas Kristiani, kejadian yang paling menonjol adalah pembantaian antara 1894-96 di mana ribuan umat Kristiani Armenia dan Assyria – lebih dari 300,000 – dibantai secara brutal dimulai gara-gara keinginan Sang Sultan Merah Abdul Hamid II. Jerman telah memberinya angin untuk melawan setiap reaksi Eropa, dan ternyata dia betul. Enam ribu umat Kristiani Armenia dibunuh hanya Konstantinopolis saja. [33] Di Inggris, Gladstone berhenti dari istirahat untuk menuntuk tindakan melawan Ottoman, dan Pemerintah Inggris memang berusaha membujuk Sekutu untuk melakukan sesuatu, namun tidak ada tindakan nyata. [34] Menghadapi partisan2 nasionalis di Makedonia, provinsi Eropa terakhir yang masih di bawah kontrol penuh Ottoman, pasukan2 Turki membablas tanpa rintangan. Diperhadapkan dengan perlawanan di Pulau Kreta pada 1897, pemerintah Turki bukan saja menekan pemberontakan tapi juga maju berperang melawan Yunani, mengalahkan musuh lama itu, hanya kemudian Sekutu turun tangan dan menuntut pengangkatan Gubernur yang Kristiani untuk pulau tersebut.

3.5 Pembantaian massal 1915 (yang terkenal dan ditutup-tutupi sampai sekarang)

Pada 24 April 1915 pemerintah Ottoman memerintahkan pengusiran (deportasi) seluruh penduduk Kristiani Armenia dan Assyria di Asia Minor Timur ke Syria dan Iraq, yang masa itu masih menjadi bagian Kekhalifahan Ottoman, dan membantai banyak jumlah dari mereka. Pembantaian berlanjut sepanjang tahun. Menjelang 1915, 1,500,000 orang Armenia dan 250,000 Assyria telah hilang nyawanya. Banyak kaum wanita diperkosa dan anak2 diculik dan dijadikan budak untuk lalu dibesarkan sebagai Muslim. Banyak umat Kristiani – terlebih kaum perempuan – disalib (gambar2 fotografi masih ada sampai sekarang).

Sekitar 200,000 orang Armenia lolos dari pembantaian/pembersihan etnis dengan cara masuk memeluk Islam. Seluruh desa masuk Islam demi menghindari pembantaian. Gereja2 dihancurkan atau dikotori dengan cara diubah menjadi lumbung2 tani. Upaya-upaya serius dilakukan untuk menghancurkan setiap jengkal jejak-jejak warisan budaya Kekristenan di wilayah2 bersangkutan. ‘Dalih’ Ottoman untuk membenarkan perbuatan mereka adalah bahwa orang2 Armenia adalah pilar kelima dan bahwa ada orang2 Armenia yang menjadi tentara Russia. Mereka tidak peduli kenyataan bahwa orang2 Armenia Rusia itu tidak punya banyak pilihan, bahwa ada orang2 Muslim Turki juga yang menjadi tentara Russia, dan bahwa orang Assyrian ada sangat sedikit kalaupun ada yang bergabung dengan tentara Russia. Pada 1914 orang2 Armenia Ottoman menyatakan kesetiaan mereka kepada negara, meski ada pembelotan2 yang terisolasi dan sebuah perlawanan kecil di Cilicia. Ottoman secara salah menuduh bahwa ada pemberontakan di Van, dan bahwa ada pembunuhan dalam konteks perang saudara. Pernyataan ini jelas salah, karena 250,000 orang Armenia tergabung di dalam angkatan perang Ottoman. Bahkan, prajurit2 Armenia menyelamatkan seorang pemimpin Ottoman, Enver Pasha, yang hampir ditangkap tentara Russia ketika kalah berperang. [35]

Hampir semua pembantaian dilakukan oleh polisi biasa, meskipun ada sebuah ‘Organisasi Khusus’ yang dibentuk, terdiri atas penjahat2 yang dibebaskan dengan syarat mereka harus membunuhi orang2 Armenia. [36] Lebih lanjut, bahkan kaum Armenia Rusia pun dibantai ketika Ottoman menyerbu 1918 – 15,000 bangsa Armenia dibunuh di Baku. Pengungsi2 Armenia dibuat sebagai objek latihan bayonet. [37] Harus dicatat juga dengan jujur juga bahwa banyak desa2 Arab di Syria yang menolong para pengungsi Armenia, dan beberapa pejabat ulama Muslim melakukan protes mengenai kebijakan2 ini. [38] Turki sampai sekarang masih membantah kenyataan sejarah mengenai genocide mereka. Hitler melihat ini seolah sebagai alasan untuk membenarkan perbuatannya, bahwa dunia toh tidak mempedulikan pembantaian umat Armenia oleh bangsa Ottoman, jadi dunia juga akan membiarkan saja dirinya membinasakan kaum apa saja yang dia mau binasakan.

Kesimpulan

Pembantaian2 kaum Muslim yang dilakukan oleh bangsa Yunani tahun 1821 yang lalu dilakukan juga oleh bangsa2 Balkan lainnya saat mereka mendapatkan kemerdekaan tidak dapat dibenarkan, seperti halnya juga yang dilakukan oleh umat Muslim terhadap umat Kristiani. Namun, di sini ada sebuah hal yang membedakan antara kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Yunani dan Balkan pada abad ke-19 dengan kejahatan yang dilakukan oleh Khalifah. Pembantaian2 yang dilakukan oleh orang Yunani menodai Nasionalisme Yunani, daripada sekedar kekristenan mereka; kejahatan2 itu dilakukan atas nama Nasionalisme mereka, bukan dari agama-nya. Lebih jauh lagi, orang2 Yunani saat itu bukanlah mewakili sebuah pemerintahan, melainkan hanya sekelompok pejuang pemberontak (tentu saja, ini tidak berlaku bagi pembantaian2 yang terjadi kemudian setelah provinsi2 Balkan menjadi negara2 merdeka). Pembantaian2 yang dilakukan Khalifah di sisi lain, memiliki ciri-ciri yang berbeda. Bahkan orang2 Yunani tidak pernah meng-klaim suatu inspirasi ilahi dari Nasionalisme Yunani mereka, dan sedikit saja sekarang yang kira2 masih akan membenarkan pembantaian2 itu. Muslim, sebaliknya, yakin seyakin2nya bahwa Khalifah itu ada atas ridho Allah dan bahwa jihad itu memang sesuatu yang terinspirasi secara ilahi. Pembantaian2 mereka dilakukan atas nama Khalifah dan jihad.

Lebih lanjut lagi, Khalifah itu dulu adalah bagaimanapun sebuah pemerintah yang resmi berkuasa atas bangsa2 Yunani dan Balkan lainnya; seharusnya tugasnya adalah untuk melindungi, bukan untuk berusaha memusnahkan warganya. Sehingga terbentuklah dua masalah besar bagi umat Muslim sekarang yang mengidam2kan bangkitnya kembali Kekhalifahan: pertama, sebuah Pemerintahan yang merestui pemusnahan massal (atau pun systematis) dilakukan atas nama agama adalah sebuah konsep basi yang memuakkan bagi calon-calon korban jajahannya; kedua, karena Khalifah itu dianggap di-ridloi oleh Allah, Muslim pun ngotot membenarkan bahwa memang tuhan merekalah yang memerintahkan pembantaian2 kaum wanita dan anak2 karena agama mereka. Masalahnya adalah bahwa pembantaian2 oleh orang Yunani itu memperlihatkan kondisi kemerosotan moral manusia – dosa umum – yang bisa terjadi dalam diri umat manusia. Orang2 Kristiani sejati tidak akan membenarkan tindakan2 itu. Yang lebih penting, orang2 Kristen tidak ngotot bahwa Nasionalisme Yunani (atau nasionalisme apapun) adalah ter-inspirasi secara ilahi. Muslim, sebaliknya, tidak bisa berpendapat yang sama mengenai pembantaian2 yang mereka lakukan. Mereka diperintakan oleh Khalifah atas nama JIHAD – ISLAM. Itulah sebabnya, sementara umat Nasrani dengan tidak ragu-ragu mengutuk pembantaian2 yang dilakukan bangsa Yunani, umat Muslim justru kesulitan untuk melakukan hal yang serupa.

References

1. Smith, Michael Llewellyn, The Fall of Constantinople, in History Makers magazine No. 5, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 189.
2. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
3. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
4. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
5. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
6. Smith, The Fall of Constantinople, p. 192.
7. Stokes, Gwenneth and John, Europe 1850-1959, (Longman, London, 1966 & 1969), p. 129.
8. http://imia.cc.duth.gr/turkey/chro.e.html 1999.
9. Earle, Peter, Vienna 1683, in History Makers magazine No. 6, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 261.
10. Earle, Vienna 1683, p. 261.
11. Stokes, Europe 1850-1959, p. 143.
12. Fisher, H. A. L., A History of Europe, (Edward Arnold, London, 1936 & 1965), p. 726.
13. Peacock, H. L., A History of Modern Europe, (Heinemann, London, 1971), p. 216.
14. Peacock, A History of Modern Europe, p. 218.
15. Peacock, A History of Modern Europe, pp. 218-219.
16. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
17. Fisher, A History of Europe, p. 882.
18. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
19. Fisher, A History of Europe, p. 881.
20. Peacock, A History of Modern Europe, p. 220.
21. Ye’or, Bat, The Decline of Eastern Christianity under Islam, (Associated University Presses, USA, 1996), p. 191.
22. Fisher, A History of Europe, p. 881.
23. http://aina.org/martyr.htm 1999
24. "In Asheetha, Zinger Beg with a force of 400 Kurds practiced the most barbarous cruelties upon the villagers of Tyari. The Assyrians bore his tyranny patiently for some time, but finally decided to put an end to it and decided to attack the garrison. They slew twenty of their numbers and besieged the remainder for the space of six days. On promising that they would immediately surrender and evacuate the fortress they were supplied with water by the Assyrians, when suddenly defying their besiegers a fresh conflict succeeded. In the midst of these renewed hostilities a company of 200 cavalry arrived from Badr Khan Beg, and turned the fortunes of the day. The Assyrians, taken by surprise, were completely routed, no quarter was given, and men, women, and children fell in one common massacre. The village was set on fire, and three bags of ears were cut off from the wounded, the dying, and the dead. And sent as trophy to Badr Khan Beg. All the chiefs of Tyari were killed in the massacre, besides thirty priests, and sixty deacons, Mar Shimoons’s brother Kasha Sadok, and his nephew Jesse, and many of his relatives. In the month of October 1846, a united force of Badr Khan Beg and Noorallah Beg entered the Tkhooma district, and committed ravages too horrible to be related. During the invasion 300 hundred women and as many children were brutally put to the sword in one indiscriminate slaughter; only two girls who were left for dead on the field escaped to relate the sad tale of this horrible tragedy.
The Kurds then attacked the men, who had taken up a most disadvantageous position in a valley, where they were soon surrounded by their enemies, and after fighting bravely for two hours gave up the contest. Numbers were killed in attempting to escape, and as many as one hundred prisoners, mostly women and children, were afterwards taken from the houses, which were then fired by the Kurds, as were the trees and other cultivation in the neighborhood. These unfortunate victims were then brought before Noorallah Beg and the lieutenant governor of Jezeerah, as they sat near one of the churches, and heard their doom pronounced by those blood-thirsty barbarians: Make an end of them’, said they. A few of the girls, remarkable for their beauty, were spared, the rest were immediately seized and put to death" (Nestorians and Their Rituals, pp. 370) http://aina.org/martyr.htm 1999
25. http://aina.org/martyr.htm 1999
26. Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
27. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 232.
28. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 195.
29. Fisher, A History of Europe, p. 1040; Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
30. Stokes, Europe 1850-1959, p. 206.
31. Stokes, Europe 1850-1959, pp. 209-210.
32. Stokes, Europe 1850-1959, p. 211.
33. Peacock, The Making of Modern Europe, (4th edition, Heinemann, London, 1971), pp. 267-268.
34. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 268
35. Lang, D. M., and Walker, C.J., The Armenians, (Minority Rights Group, London, 1987), p. 7.
36. Lang, and Walker, The Armenians, p. 8.
37. Lang,, and Walker, The Armenians, p. 8.
38. Lang,, and Walker, The Armenians, pp.7-8.

Gambar2 diambil dari sumber: http://www.armeniapedia.org









http://www.armeniapedia.org/images/thumb/d/d4/500px-Wegner-DSC_0127.JP G















BLACK TUESDAY: 29 Mei 1453
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=31438#3143 8

http://www.greece.org/genocide/quotes/index.html
GENOCIDE BANGSA YUNANI (The Hellenic Genocide)
Kutipan dari dokumen dan foto2 sejarah.

Pembantaian Masal Bangsa Yunani adalah penyiksaan, pembantaian dan ethnic cleansing secara sistimatis terhdp JUTAAN orang Yunai oleh Turki di Turki di Asia Minor, Konstantinopel (yg disebut Istanbul oleh orang
Turki), Thrace Timur, Imvros, Tenedos, Macedonia, Cappadocia dan
Pontos antara th 1890-an sampai akhir 1950-an.

JUTAAN ANAK2, lelaki dan wanita diusir dari rumah mereka hanya karena mereka bangsa Yunani. Pada saat bersamaan, juga berlangsung pembantaian terhdp jutaan orang Armenia dan Assyria dari segala umur.

Dosa mereka ? Karena mereka tinggal di daerah tempat peninggalan nenek moyang mereka selama ribuan tahun sebelum invasi oleh Turki.
Dgn kekejaman yg tidak terbayangkan, mereka melaksanakan rencana mereka yg dinamakan "Turki bagi bangsa Turki."

Kebijakan eksterminasi bangsa Yunani ini dilakukan terhdp penduduk pulau Chios, thn 1822, persis 100 tahun sebelum tentara Turki menghancurkan kota Bizantin, Smyrna.

Genocide yg paling dikenal, Holocaust yg dilakukan Nazi Jerman (dgn dukungan Turki), tidak mungkin terjadi kalau Genocide oleh Turki (dgn bantuan Nazi)with support of Germany) sudah diakui. Kami tidak dapat mengerti sepenuhnya alasan dibelakang Holocaust tanpa sebelumnya mengerti Genocide2 yg terjadi sebelumnya.

http://www.greece.org/genocide/quotes/q-he-cons-destr-church-agkon-el- yps6.html
Konstantinopel-Penghancuran gereja. Foto 9 dari 44.


Patriarch Athenagoras I didepan gerejanya, Saints Constantine and Helene di Ypsomatheion.


Perintah resmi penghancuran segala yg bersifat Yunani dan PEMERKOSAAN WANITA YUNANI.

"Kpd Panglima Korps Pusat.
Saya meminta perhatian anda bagi yg berikut :
KEMATIAN bagi orang Yunani yg tidak memiliki kehormatan (baca: tidak memeluk Islam). Begitu kau diberikan tanda pertama, segera hancurkan SEGALANYA. Mengenai wanita mereka, JANGAN RAGU2. Jangan memikirkan kehormatan ataupun persahabatan pada saat balas dendam.

Panglima Korps
Mehmet Azit."


Mayat2 segala umur setelah disiksa.

 


Mustafa Kemal. Orang Turki mengidolakannya spt orang Jerman mengidolakan Adolf Hitler.

Jerman mengikuti jejak2 Turki dan sebaliknya. Sang "Ataturk" dan "Der Fuhrer" adalah dua pribadi yg terlibat genocide JUTAAN orang tidak bersalah.


 

Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto

stats

Hosted by T35 Free Web Hosting. Indian Bridal Makeup - Casino Review - Drug Rehab - Online Colleges - Domain Names - Gucci Shoes - SEO Services - Empirestyle.net Fashion Clothes