|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
Sejarah Masuknya Islam ke Turki (Bizantine)
http://www.historyofjihad.org/byzantine.html
Sementara Persia kalah dan di-Islamisasi, Muslim melanjutkan perhatian
ke tetangga Persia; kaum Bizantin Kristen. (634-1453)
Pertempuran Heiromyak (Al Yarmuk)
Pada pertempuran di sungai Yarmuk antara Arab dan Bizantin, Arab kalah
dlm bagian perang pd tahap pertama. Saat kemenangan hampir dekat bagi
pihak Bizantin, Arab berganti taktik dan memanfaatkan kontingen wanita
yg spt kesurupan menyerang pasukan Bizantin sambil berteriak2 histeris
dan meng-ululu (macam wanita Palestina)... Karena tidak terbiasa
menghadapi musuh wanita, tentara Bizantin bingung, apalagi saat jendral
mereka memerintahkan agar pasukan tidak menyerang wanita dan sebaiknya
mengundurkan diri.
Ketika Muslim melihat bahwa taktik ini berhasil, mereka mengirimkan
tentara Arab yg mengenakan pakaian wanita agar menyerang Bizantin. Salah
seorang jendral Arab, Khalid-ibn-Walid, juga berpura2 sbg wanita,
mendekati dan menyerang sang Jendral Bizantin, Harbis, mematahkan tulang
rusuknya dan membunuhnya. Dgn matinya jendral mereka, tentara Bizantin
kehilangan pemimpin dan perang mulai dimenangkan pihak Arab. Inilah
caranya mereka memenangkan perang Yarmuk.
Pertempuran Caesarea, Babylon (kota
Bizantin Mesir), dan Alexandria
Taktik lain yg digunakan tentara2 Allah adalah dgn menyuap para penyapu
jalan. Merkea itu memberitahu Muslim dimana letak saluran2 bawah tanah
agar bisa dimasuki di malam hari, buka pagar dan menyerang kota itu.
Taktik ini digunakan di Babylon (kota Bizantin Mesir, bukan di
Mesopotamia). Kota dgn tembok2 setinggi 10 meter dgn menara2 tinggi yg
sempat bertahan selama lebih dari 8 bulan, akhirnya diinfiltrasi Muslim
secara licik dan berakhir dgn pembantaian setiap penduduknya, sampai
tidak lagi ada yg tersisa.
Taktik pengikut Allah ini juga diterapkan di Caesarea, kota sibuk dgn
lebih dari 300 jalanan sibuk. Kota ini merupakan kota pelabuhan, jadi
serangan tidak bisa dilakukan dari bagian laut yg menghadap kota itu.
Lagi2 pihak Arab menyuap para tukang sapu dan meng-infiltrasi lewat got2
kota itu. Ini menunjukkan bahwa Arab Muslim menghalalkan segala cara,
termasuk merendahkan derajad mereka sedemikian rupa, demi kemenangan yg
dibantu Allah.
Begitu pasukan Muslim menyerang kota Caesarea, mereka tidak hanya
membantai semua tentara, tetapi memenggali kepala mereka, dan utk
menakut2i kaum wanita, mereka membelah dada tentara, mencabut jantung
dan segala isi tubuh mereka yg kemudian dipertontonkan di jalanan.
Kebiadaban ini begitu membekas di ingatan kaum Bizantin Kristen selama
berabad2. Saat perang salib membalas invasi Muslim pada abad 11 (1096-
1291M), para crusader membalas kekejaman Muslim dgn membakar tubuh
tawanan dan bak kambing guling memakan daging Muslim saat tentara
kekurangan suplai makanan.
Bagaimana Kristen Bizantin bertahan
selama 8 abad sementara Zoroastrian Persia jatuh di tangan Muslim dlm 17
tahun
Arab menyerang Konstantinopel dua kali, pd th 674 dan 717, namun kota
itu berhasil dipertahankan dgn senjata baru bernama
Greek Fire, Api Yunani. Ini
adalah cairan panas yg mengakibatkan luka2 bakar menyakitkan bagi mereka
yg dijadikan sasaran. Ini sama dng senjata napalm jaman sekarang. Pihak
Bizantin menggunakan senjata ini melawan invasi Arab pd thn 674-678 dan
717-718. Pihak Arab mencoba keras utk mempelajari rahasia Api Yunani itu
tetapi tidak berhasil. Karena senjata ini, lebih dari 300.000 Arab yg
menyerang Konstantinopel, hanya 20.000 yg kembali. Yang lainnya tewas
akibat Api Yunani.
Bizantin juga berhasil membendung serangan Muslim di Cilicia di Turki
Tenggara. Muslim2 Arab akhirnya memutuskan utk mengambil rute laut dan
menyerang pulau Rhodes dan menghancurkan patung raksasa Rhodes (patung
yg didirikan orang Yunani jaman dulu). Masih ingat Taleban menghancurkan
patung Budha Bameyan ? Persis sama kejadiannya !
Tongkat Jihad di-oper ke kaum Turki
Seljuk
Jihad Arab kemudian patah semangat ketika pd thn 732 km di Poiters
(Perancis) mereka dikalahkan kaum Franks. Serangan Arab berhenti pada
pertengahan abad ke 8, ketika sesama kalif saling cekcok karena
perbedaan shia-sunni.
Jihad kemudian dimulai lagi pada abad ke 11 dgn diserahkannya baton
jihad kpd
Turki Seljuk. Mereka menganut kepercayaan animisme dgn campuran
Zoroastrian sebelum di-Islamisasi oleh Persia (yg juga di-Islamisasi)
antara thn 651 dan 751.
Ketika orang Persia yg di-Islamisasi itu menyerang Turki, muncullah nama
seorang pendekar bernama Abu Muslim. Ia lahir dari orang tua Zoroastrian
dan ia berpura2 memeluk Islam karena ingin balas dendam terhdp penjajah
Muslim di Persia. Selain pura2 sbg muslim, ia juga menyerang bangsa
non-Muslim Turki dan malah memaksa mereka memeluk Islam. Langkah
berikutnya adalah melakukan kudeta terhdp kalifah Abbasid di Baghdad.
Tetapi ia difitnah oleh teman2 terdekatnya dan sang kalif memberi
perintah agar ia disiksa sampai mati.
Begitulah mental berdarah Islam yg ditularkannya kpd rakyat2 yg dipaksa
masuk Islam: dari Arab ke Persia, ke Turki dan lalu ke Bizantin.
Pertempuran Manzikert antara Bizantin
dan Turki Seljuk
Pemeluk baru Islam ini mencampurkan keberingasan alami mereka dgn
fanatisme Islam. Terbentuklah kombinasi maut. Kalau Arab gagal merebut
Konstantinopel dgn mendobrak pagar Cilicia, kaum Turki Seljuk dgn pelan
tapi pasti meng-korosi pinggir2 utara Bizantin di
Armenia. Disana mereka
memporakporandakan penduduk Kristen
Armenia. Tirani berdarah Turki terhdp Armenia terulang kembali dlm abad
berikutnya dan Turki tidak henti2nya menikmati pembantaian masal
penduduk sipil Kristen Armenia.
Kawasan Caucasus (atau Kavkaz) ini bertubi2 menjadi garis depan tempat
berlangsungnya bentrokan peradaban sejak saat itu sampai sekarang.
Beslan di Russia bagian Ossetia, dimana anak2 sekolah dibantai teroris
Muslim, tidak jauh dari Manzikert, tempat utama bentrokan antara
Muslim-Kristen di thn 1071.
Kaisar Bizantin ketika itu adalah Romanus IV Diogenes. Ia menduduki
tahta thn 1068. Spt biasanya, terdpt banyak komplotan kekuasaan di
Bizantin. Ini semakin nampak karena selama 400 tahun dari 640-1068, kaum
Bizantin memperkuat angkatan bersenjata mereka dgn menyewa tentara2
bayaran dari kaum Franks, Ostrogoths, Visigoths, Bulgar, Avar dan
masyarakat2 Kristen lainnya ditambah dgn kaum Latin yg selalu merupakan
lobby kuat di Konstantinopel. Tentara2 bayaran ini digunakan utk
menangani serangan Arab, tetapi dlm masa damai mereka menjadi lobby2
kuat dlm politik dalam negeri Bizantin. Utk menjaga keseimbangan
politik, beberapa raja daerah bagian Bizantin mencakupkan dlm kontingen
mereka tentara cadangan berupa ORANG2 SELJUK TURKI yg NOTABENE MUSLIM
(!!!) (guooblog banget si raja Bizantin
!). Keputusan ini terbukti membawa celaka kpd Bizantin di
Manzikert. (raja kok otaknya memble !)
Romanus membagi pasukannya menjadi dua. Ia memimpin yang satu dan yang
lainnya dipimpin oleh Joseph Tarchaniotes, orang keturunan
Turki (!!) yg secara rahasia
memeluk Islam, kepercayaan yg dianut kebanyakan rakyatnya – kaum Seljuk
Turki.
Tarchaniotes mengkomando kontingen tentara bayaran terbesar, kaum Cuman
Turki. Romanus merebut kembali kota2 yg dijajah kaum Seljuk Turki yg
akhirnya berpuncak kpd Pertempuran Manzikert.
Jendral tentara pihak musuh (pihak Seljuk Turki) adalah Alp Arslan yg
bermarkas di dekat Manzikert. Romanus menunggu jendralnya (Si Joseph yg
Turki dan Muslim itu) utk menyerang markas Turki milik Alp Arslan itu.
Tapi sang jendral Bizantin itu membelot ke pihak musuh bersama dng
kontingennya. Spt juga pembelotan tentara Persia pada Pertempuran
Qadissiyah antara Sassanid dng Arab Muslim, ini sekali lagi membuktikan
bahwa tentara Muslim TIDAK PERNAH AKAN SETIA PADA ATASAN NON-MUSLIM !
Amerika, Inggris, dsb PERHATIKAN INI !!! JANGAN PERCAYA MUSLIM !!
Dan kemenangan Muslim lagi2 dicapai dgn
kecurangan:[b]
Saat matahari terbenam, kedua pasukan menarik diri setelah seharian
bertempur. Pihak Turki membunyikan trompet mereka, menandakan
pengakhiran sementara pertempuran. Namun etika pertempuran ini tidak
diperhatikan Turki. Saat tentara Bizantin mengundurkan diri ke markas
mereka utk beristirahat, Turki menyerang mereka. Dan sebelum lonceng
menandakan pk 12 malam, Romanus sudah menjadi tawanan Alp Arslan.
Jendral Turki ini berjanji utk melepaskan sang raja itu jika ia
mengembalikan kpd Turki tanah2 Bizantin yg direbut Turki. Sang raja
tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menarik tentaranya dari seluruh
kawasan Anatolia sampai Konstantinopel. Ia hanya meminta agar Alp Arslan
berjanji bahwa pihak Seljuk Turki tidak akan mengganggu penduduk sipil
Bizantin. Romanus-pun kembali ke Konstantinopel sambil yakin bahwa Alp
Arslan tidak akan mengancam perbatasan timur kekuasaannya.
Perjanjian antara Alp Arslan dgn Romanus ini menjadikan tanah Bizantin,
Anatolia, sbg wilayah Turki yg kemudian dikenal sbg [b]Turkestan (tanah
orang Turki) atau Turki.
Karena tidak lagi menghadapi tantangan akan infiltrasinya kedalam
Anatolia yg Kristen, dalam beberapa dekade mereka berhasil merebut
kekuasaan Anatolia dari Bizantin, dan mendekati Konstantinopel dari
selat Bosporus. Merekalah yg sekarang berkuasa atas rute para peziarah
Kristen lewat Anatolia ke Tanah Suci. Dan bisa ditebak, mulai lagi
cerita2 teror Turki terhdp para peziarah Kristen. Berita ini sampai ke
raja2 Eropa, bersama dgn permintaan bantuan para raja Bizantin dan
mulailah perjuangan Kristen merebut kembali Bizantin dan Tanah Suci dari
penjajah Muslim. Inilah asal mula Perang Salib yg dimulai pada thn 1096
(dan berlanjut sampai 1291). Secara tidak langsung ini merupakan akibat
Pertempuran Manzikert th 1071.
Pelajaran dari Pertempuran Manzikert dan
jatuhnya Konstantinopel (1453)
Kristen berhasil merebut kembali Antioch, Damascus, Jerusalem,
Bethlehem, Nazareth dari tangan Muslim dan menyerahkannya kpd pemilik
asli, Bizantin. Tapi kemudian di thn 1184, para Salibi dikalahkan oleh
orang Kurdi dan sekutu Turki bernama Saladin. Tetapi para Salibi masih
bertahan sampai Konstantinopel pd th 1291 sampai pertengahan abad 14
dimana Turki dibawah dinasti Ottoman secara bertahap mendorong mundur
Salibi. Serangan Muslin terhdp Bizantin berikutnya terhp Konstantinopel
terjadi th 1350 dan kemudian pd thn 1453,
saat Turki merebut Konstantinopel dan mengakhiri kerajaan Bizantin.
Sampai sekarang. Ternyata setanpun bisa menang.//
http://www.historyofjihad.org/turkey.html
JAMAN PRA-ISLAM TURKI
Tidak banyak orang tahu ttg perjuangan berdarah kaum Turki melawan Islam
selama 300 tahun, dari 650 - 1050. Bentrokan pertama adalah ketika dalam
upaya Muslim mendobrak kawasan Persia mereka mencapai perbatasan
kerajaan Sassanid di Khorasan, di dekat Asia Tengah. Disitulah tempat
hidupnya kaum Turki selama berabad2.
Oleh Persia jaman Zoroaster, mereka diksebut sbg Turanian. Kaum Turki
dikatakan sbg perkumpulan beberapa ras yg bersatu karena persamaan
bahasa. Kelompok Hun, Bulgar, Ughir, Seljuk, Qarluq adalah beberapa
macam ras yg tergabung dlm satu bangsa Turki. Kini pihak Hun dan Bulgar
beragama Kristen dan selebihnya beragama Islam. Tapi sebelum memeluk
Islam, pada abad ke 3 dan 4, kaum Turki menyerang kerajaan Romawi,
kerajaan Sassanid dan Achemenia Persia dan juga menginvasi India. Mereka
memang bangsa yg suka perang, tidak mudah ditundukkan dan bergaya hidup
nomad. Mereka alot dan kuat dan memiliki darah Caucasia (orang putih)
dan Mongol.
Khan adalah sebutan khas keluarga kerajaan Turki dan sekarang secara
tidak sadar dianggap sbg nama Muslim. Tapi Genghis Khan dan Hulagu Khan
BUKAN Muslim, mereka non-Muslim yg sebenarnya musuh bebuyutan Muslim.
Mereka manghancurkan kawasan Islam yg luas di abad ke 13, sampai
keturunan mereka akhirnya dikalahkan dan dipaksa memeluk Islam. Oleh
karena itulah sekarang kita menganggap Khan sebuah nama Muslim, padahal
asalnya adalah dari kaum Turki dan Mughal (Mongol).
Kekalahan kerajaan Sassanid Persia ditangan Muslim membawa celaka bagi
Turki; ini membuka kesempatan bagi Jihadi utk menyerang kaum Turki di
Asia Tengah
After clearing these pockets of Persian resistance, the Arabs made the
main Persian town of Merv the target of attack. Merv was the capital of
Khurasan and here the last Sassnid king Yazdjurd held sought refuge with
his courtiers who had being fleeing before the advancing Arab Muslims,
since they ha d invaded Persia in 637 at Qadisiyyah. The Persian army
was now in tatters and in no position to put up any effective resistance
to the invading Arabs. On hearing of the Muslim advance, Yazdjurd left
for Balkh. No resistance was offered at Merv, and the Muslims occupied
the capital of Khurasan without ligtin their swords.
The Arab commander Ahnaf stayed at Merv for some time to reorganize the
administration and to await further reinforcements from Kufa. In the
meantime the Persian forces gathered in considerable strength at Balkh.
Yazdjurd sought aid from the neighboring Turksih state Farghana and the
Khan of Farghana personally led a Turkish contingent to Balkh.
Having received reinforcements, Ahnaf led the Muslim forces to Balkh.
The Muslims had experience of battling with the Persians but they had
little experience of war with the Turks. Ahnaf wanted to avoid war with
the Turks, and in this connection he thought of devious ways whereby the
Turks should abandon the cause of Yazdjurd. It was reported to Ahnaf
that the practice with the Turks were that in the morning three heralds
blew bugles and then the Turkish force marched to the battle.
One night Ahnaf hid himself in a safe place outside the Turkish camp. As
soon as the Turkish herald came out of the Turkish camp to blow the
bugle, Ahnaf overpowered him and killed the Turk with his sword. When
the second herald came he met the same fate. The third herald also met
the same fate. That day the bugles did not blow for the Turkish army.
When the bugles did not blow the Khan of Farghana came out of the camp
to see what had happened to the heralds. When he saw that all of them
were dead he regarded this as a bad omen. At the spur of the moment he
decided that the Turks should not involve themselves with the Muslims.
He ordered his force to withdraw and march back to Farghana.
This is how the Arab Muslims deceived the Turks into retreating. The
Islamic Jihad had drawn the first Turkish blood thru subterfuge. The
next three hundred years witnessed the untold story of the Turkish
resistance to Islam. Ironically the Turks had to struggle with Islam
which came to them through the medium of the Muslim Persians who had
been newly converted to Islam at the point of the sword by the Arabs.
The Persianized Muslims overthrow the
Arab Umayyad Caliphs and replace them with the Persianized Abbasid
Caliphs
In the space of 650-1050 AD a numbers of events of importance transpired
in Central Asia. These four hundred years were the fiercest in the
Turkish struggle against the Jihad. The next four hundred years were to
see the gradual transformations of the pagan Turks into Muslims. The
Turks shed their blood fighting the Jihad for four hundred years and
finally gave up and embraced Islam, to later become the tormentors to
carry the bloodied tradition of Jihad into Anatolia (modern Turkey) and
Balkans up to Austria.
In the year 750, an important event transformed Central Asia. This event
ws the overthrow of the Umayyads Calphate and its replacement by the
Abbasid Caliphate. While Umayyads of Damascus were Arabs who had
descended from Abu Sufyan the Chieftain of Mecca at the time of
Mohammed. The newly converted Zoroastrian Persians wanted to regain
their pre-eminent power in Persia. They organized themselves and marched
against the Umayyad army. The two armies met at a place called Zab. Here
the Persianized Abbasids defeated the Umayyads and established a new
caliphate near Ctesiphon the site of the ancient capital of the Sassanid
Persians. They named this city Baghdad which was to be the capital of
the Abbasids from 750 up to its sack by the Mongols in 1258.
A leading commander of the Abbasid army was a Zoroastrian convert to
Islam who had assumed the name Abu Muslim. He played a leading role in
the war and deposed the Umayyad caliph placing the Persianized Abbasids
as Caliphs and as the head of the Moslem world. With this revolution the
leadership of the uslim world had passed back from Arab hands into
Persian hands, a leadership which they had lost a century earlier, when
the Arabs had destroyed the Sassanid Persian empire. An important change
now was that the Persians who as Zoroastrians a century earlier were
victims of Islam had now embraced Islam and had become the new vanguard
of the bloodied creed of Islam. Their victims were the Turks of Central
Asia.
Abu Muslim a Zoroastrian Persian Convert
to Islam, attacked and Islamized the Turks
Shortly after victory at the battle of Zab, and the establishment of the
Abbasid Caliphate at Baghdad, Abu Muslim was commissioned to conduct
Jihad in Central Asia to exterminate the Kaffirs once and for all. It
was a great low point for the Western branch of the Blue Turks. Their
great Khan Su’lu who was a bulwark against the Moslems and the Chinese
in the wars of 720 and 723, was assassinated by the Arabs. The pagan
Turkic rulers of Samarqand and Bokhara came under a heavy assault from
the ghazis after the fall of Su’lu when the Arabs with 300 giant
trebuchets stormed the cities and forcibly imposed Islam with the
destruction of the pagan places of worship.
Defeat of the Chinese at the Battle of
the Talas River with the invading Muslims sealed the fate of the Turkish
resistance to Islam
Archaeological evidence shows that these Turkic cities were cosmopolitan
with Buddhism, Hinduism, Zoroastrianism and the Tengri cults of the
Altaics being practiced. The Arabs under Abu Muslim savagely crushed,
the last attempt made by the populations of Samarqand and Bokhara to rid
themselves of the murderous Muslim Ghazis. Abu Muslim sent his
victorious commander of these wars, Ziyad ibn Salih, with a band of
40000 ghazis, to wage a Jihad on the Chinese. The Arab army marched from
the south towards Talas. The Chinese general Kao (of Korean origin),
decided to resist the Muslim invasion and marched towards Aulie-Ata on
the Talas river with 100,000 Chinese troops in cavalry and infantry
divisions.
In the Battle of the Talas river, the Qarluq Betrayal led to the defeat
of the Chinese at Arab hands
On July 10th 751 AD the Arab and Chinese armies took to the field in
Aulie-Ata on the backs of the Talas river. The Chinese cavalry seemed to
initially overwhelm the Arab cavalry, but the Arabs had worked out a
deal with one of the many Turkish contingents of the Chinese army viz.,
the Qarluq Turks, by promising them wealth and freedom in return for
embracing Islam and betraying their Chinese masters. The Qarluqs who
held a grudge against the Chinese for having reduced them to vassalage,
viewed this as an opportunity to throw off the Chinese yoke by using the
Arabs and had planned to later throwing off the Arab yoke as well and
regaining their freedom from both the Chinese and the Arabs. The Qarluqs
later played the main role in converting other Turkish tribes notably
the Seljuks to Islam.
At the battle of the Talas river where the Arab and the Chinese armies
clashed, the Qarluqs who were a part of the Chinese army, opened a
breach in their own ranks and allowed the Arabs to ford the river and
helped them to encircle a part of the Chinese infantry butchering it to
man. The Qarluq archers then surrounded their paymaster the general of
the Chinese army Kao and shot down. Now the Arabs followed their heinous
practice of sticking the d\severe head of an enemy and parading it
before the enemy army. The Chinese not being used to such grisly war
tactics, fell into confusion and disarray, not knowing who had betrayed
them, and their General Kao. They broke ranks and fell into confusion,
shaking the Chinese center, which was rapidly assaulted by the Arab
heavy cavalry and destroyed. Thus due to Muslim subterfuge and savagery
the infallible Chinese war machine gave way under combined assault of
the Arabs and the traitor Qarluqs, and they faced a heavy rout. From
behind the treacherous Qarluqs fell upon the Chinese animals, baggage
trains and supplies carrying away all they could and receded back into
the steppe.
The Arabs rounded up tens of thousands of Chinese and their non-Qarluq
Turk allies and took them to Samarqand from where Abu Muslim sent them
to Baghdad and Damascus to be sold as slaves, each worth a dirham. One
Chinese survivor mentions being kept as cattle in the Arab prison camps.
Abu Muslim and Ziyad made huge financial gains out of this slave trade
and used it to pay their armies. More importantly the Arabs forced the
Turk and Chinese prisoners to teach them the art of making siege trains
and catapult machines, which the Islamized Turks were to use
successfully in their attacks on the Byzantine cities.
The Qarluq Turks aimed at playing the Chinese and the Muslims against
each other to gain their own independence
The Qarluq Turks wanted independence from the Chinese so they made a
pretence of embracing Islam to obtain Arab support to defeat the
Chinese. The Qarluqs had planned to later throw off the Arab yoke as
well by repudiating Islam and regaining their freedom from both the
Chinese and the Arabs. But little did the Qarluqs realize that in
working out a deal with the Arabs, while they would succeed in throwing
off the Chinese yoke, they would have to bring themselves into the fold
of Islam, from which there was no escape. The Qarluqs were forced to
remain Muslim and whenever any of them reneged their Islamic faith, they
were put to death while the luckier among them were enslaved by the
Arabs and Persian Muslims.
The later history of the Qarluqs was as Muslims who resigned themselves
to remaining as satellites of the Arabs after having thrown off the
Chinese yoke and with it also the only possibility of liberating
themselves from the grip of Islam. It was this devious conversion of the
Quarluqs that was actually a pretense to throw off the Chinese yoke on
the Turks, that led to the conversion of the greater Turkish nation to
Islam in the next three centuries from 750 to 1050.
The Turks who had retained aggressively their freedom from their
neighbors the Chinese, and the Zoroastrian Persians for more than a
millennium, finally began succumbing to Islam due to a tactical pretense
of the Qarluqs, one of their important clans to pretend to embrace Islam
for securing Arabs support and throwing off Chinese suzerainty. A deal
that proved costly for Turkish independence that was now permanently
enslaved into the prison of Islam. The Turks henceforth would remain
satellites of the Arabs, a position they sought to reverse, by
themselves becoming more aggressive champions of Islam, and reducing
their Arabs masters to vassalage status when they established their
Seljuk and later Uthman (Ottoman) dynasties.
Turkish Resistance to Islam
But before they would finally resign to their fate as Muslims the Turks
waged a bloodied war against the Muslim incursion of their homeland in
Central Asia. After the Battle of the Talas river, the Arabs captured
many of the non-Qarluq Turks who were allies of the Chinese and deported
them as salves to Baghdad. They are reported to have totaled up to
seventy thousand. Not only were these enslaved Turks were forced to
become Muslims, but enslavement was the tactic used by the Islamized
Turks to convert the non-Muslim Turks to Islam. The next Turkish clan to
be converted to Islam was the Seljuks. They were a proud imperial clan
among the Turks, and after the conversion of the Qarluqs to Islam, it
was the Seljuks who held the banner of Turkish resistance to Islam. The
Seljuks remain unsubdued for another century and half . But the Arabs,
Persian and Islamized Turks mounted many bloodied campaigns against them
and other non-Muslim Turks who were allied to the Seljuks. In this
series of battles the fortunes fluctuated from one side to the other, at
times the Muslims were victorious and at others the Turks emerged
victorious.
Tactics used by the Muslims to convert the Turks to Islam
In this unwritten chapter of the Turkish resistance to Islam, the
Muslims (who in this case were mainly the Zoroastrian Persian converts
to Islam), devised new tactics and subterfuge to enslave a proud and
fiercely independent people which characterized the Turkish clan. In
this battle the Turks did not lack in bravery, as they were born
warriors and spent a large part of their lives on horseback. But
whenever the non-Muslim Turks were victorious, they destroyed the Muslim
camps, slaughtered their armies, destroyed their cities, and torched
their fields, but it did not cross their minds, to enforce any religion
on the defeated Muslims. Those of the Muslims that the Turks set free,
either went back to the Muslim controlled cities, or stayed on in the
Turkish areas and attempted to spread Islam. A mindset that was totally
absent among the non-Muslim Turks. (It was only when the Christians of
Europe liberated Muslim lands, did they attempt to re-convert the
Muslims to Christianity.) But the pre-Islamic Turks knew of no such
tactic and they made no attempt to roll back the tide of Islam. So while
the Christens of Europe succeed in turning back the tide of Islam in the
middle ages, the Turks failed to resist Islam. Herein lies an important
factor in defeating Islam, seeking reconversion of the defeated Muslims
out of Islam. If the defeated Muslims are allowed to retain their faith
(which is nothing but a cult of death and murder), they poison of Islam
will become powerful once again to overwhelm the non-Muslim victors and
ultimately defeat the, So whenever the Muslims are defeated and
subjugated they need to made to give up Islam, at the pain of death if
necessary. But Islam has to be wiped out of peoples minds. A Muslim is
an ever present danger to any non-Islamic (civilized) way of life.
Muslim menahan pangeran2 Turki sbg
tawanan utk dibesarkan sbg Muslim
In their struggle with the pre-Islamic Turks the tactic of the Muslims
was to use every victory to press Islam on the defeated Turks. At every
negotiation with the Turks, when the Turks faced a defeat, the Muslims
would ask for custody of the princes and princesses of the Turkish royal
family on the excise of holding them as a guarantee that the Turks would
keep their word given during the negotiations. These royal captives
would be brought up in the Islamic tradition and their minds jaundiced
in favor of Islam. In many cases when their Muslim captors were
satisfied that the royal captives had mentally accepted Islam, the
Shahada (declaration of the acceptance of Islam) was pronounced to them,
and they were released to go back to their kingdoms, whenever they had
to ascend the throne in their clans and tribes. With a Muslim at the
helm in a non-Muslim Turkish clan, the conversion of the rest of the
clan to Islam was only a matter of time. This was one of the tactic used
by the Muslims to infiltrate Islam into the Turkish nation. By the
middle of the eleventh century, most of the Turks had embraced Islam,
and thenceforth it was they who became the vanguard of the Jihad to
carry the bloodied trial of Islam into Anatolia and the Balkans. It was
these Islamized Seljuk Turks who kept up a constant pressure on the
Byzantine Empire inflicting on the Byzantines a string of defeats
starting from the Battle of Manzikert in 1071 in Eastern Anantolia. It
was these steady attacks and migration of the Seljuk Turks into Anatolia
which gave the present Turkish character to Anatolia making it the
Turkey of today. The Seljuk (and later the Ottoman) Turks also carried
with them the tradition of taking child hostages and bringing them up as
Muslims, a tactic of which they had earlier been victims at the hands of
the Arab and Persian Muslims. This led to the institution of the Turkish
Jannisaries The Jannisaries (Mercenaries from Jani = Life and Nisar =
given away) were Christian children taken captive by the Turks when they
invaded Anatolia and the Balkans. This is a practice derived by the
Turks from the Arab and Persian Muslims tactics used against them (the
Turks) during their pre-Islamic days.
But the irony of history is that the Islamization of the Turks and the
Mongols also started their migration from the traditional homelands in
the Steppes of Central Asia into Anatolia and onwards in the Balkans.
Today the word Turk is not mainly identified with the Turkic peoples of
Central Asia who make up the Kazakh, Uzbek, Khirgiz and Tajik people
(all of whom were called the Turanians in ancient times). Today the word
Turk implies an inhabitant of Anatolia which is called Turkey. But in
ancient times the inhabitants of Anatolia were not the Turks, they were
Hittites (and Indo-European people) and later the Greek speaking
inhabitants who built the Hellenized kingdoms of Sardis and Troy.
Hulagu’s invasion - The Turko-Mongol attack on Muslim Iran and Middle
East was similar to the Crusades, in that it was a Non-Muslim
Counterattack on Islam
Returning to pre-Islamic Central Asia, we need to bring attention to
another curious fact that today not many historians have pointed out
that the subterfuge, savage cruelty and other foul tactics which the
Muslims used to convert the Turks to Islam, had led to a gradual
accumulation of bitterness and a desire for revenge against the Muslims
in the Turks and their related clans the Mongols. Over the centuries
many Persian Zoroastrians, the Persian Nestorian Christians, the Turks,
Chinese and the Mongols had nursed within themselves a grievance against
the Muslims expansion into Persia and Central Asia. It is this
accumulation of grievances that led to the burst of the Mongol attack on
Islamdom from 1200 that culminated in the sack and slaughter of Baghdad
in 1258 under Hulagu Khan who was egged on to this path by his Nestorian
Persian Christian wife. Historians have failed to interpret the attack
of the Mongols on Muslim Persia, and the Middle East as the Turko-Mongol
counterattack on Islam as were the Crusades, which were the Christian
counterattack against Islam in the 11th century, We shall examine this
in detail the chapter on the Mongol resistance to Islam, before some of
the Mongols succumbed to the subterfuge and savagery of Islam. Suffice
it to note here that Hulagu’s attack on Islamdom was a collective
expression of resistance to Islam from the pre-Islamic Persians who had
settled in China and Mongolia, and the Turks who had been waging a
struggle against Islam in the 8th to the 10th centuries. It was a result
of historical wrongs committed by the Arab Muslims on the Zoroastrian
Persians, and by the Arab Muslims along with the Islamized Persians on
the Turks, and in turn, by the Arabs with the Islamized Persians and the
Islamized Turks on non-Islamic Turks and Mongols and Chinese.
Sejarah: Pembantaian oleh Khalifah TURKI
The Massacres of the Khilafah
Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah
Walter Short
http://www.debate.org.uk/topics/history/xstnc-6.html
Pendahuluan
Memanglah sudah menjadi tujuan bagi kaum Muslim Sunni untuk membangun
kembali Khalifah yang dihapuskan oleh Kemal Ataturk pada 1924. Dalam
konteks yang modern, ini berkaitan dengan cita-cita para tokoh utama
Islam untuk membentuk sebuah kekuasaan hegemoni Islam yang global dan
bersatu. Tentu saja tidak bisa terhindarkan apabila dalam wilayah yang
sangat luas itu akan ada beragam kaum minoritas agama lain. Muslim
selalu ngotot menyatakan bahwa masyarakat non-muslim selalu diperlakukan
dengan adil dan hormat oleh para pemimpin Muslim sejati. Oleh karena itu
tulisan ini akan menyelidiki apakah klaim muslim tersebut benar demikian
berdasar bukti-bukti sejarah Islam.
Karena di bawah kekuasaan Ottoman (Turki)-lah sebuah negara Islam sampai
mencakup wilayah yang berpenghuni banyak orang Kristennya, dan
sesungguhnya juga menjajah wilayah yang sangat besar di Eropa, kita akan
membatasi tulisan ini kepada beberapa kejadian-kejadian penting dalam
sejarahnya, khususnya setelah Khalifah terakhir dipegang oleh bangsa
Ottoman Turki. Titik berat studi ini adalah untuk menyelidiki
pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Khalifah Ottoman Turki.
Tujuan kita adalah pembuktian, jika memang hak asasi manusia yang paling
mendasar, yakni hak untuk hidup, dengan seringnya dilanggar oleh
Khalifah Turki, maka kaum Muslim yang ingin menghidupkan kembali
Khalifah dan menggembar-gemborkan bahwa non-Muslim itu hidupnya damai
sejahtera diperlakukan manusiawi di bawah kekuasaan Islam, mestinya
mempunyai penjelasan yang lebih baik dari sekedar mengibuli.
1. Timbulnya Ottoman Turki dan
Penaklukan Konstantinopolis (Istanbul sekarang)
Kaum Turki Osmanli atau Ottoman muncul sebagai sebuah kekuatan pada abad
14M, menggantikan Emirat Turki Seljuk Konya sebelumnya [1] Mereka adalah
‘…para Muslim fanatik…Para pemimpin suku mereka disebut sebagai Ghazi,
pejuang pembela aqidah Islam. Menaklukan para kafir adalah bagi mereka
sebuah kewajiban ilahi.’ [2] Sebab itu, ciri-ciri jihad bagi kaum
Ottoman adalah sama saja baik offensive/menyerang maupun defensive, dan
sudah menjadi keyakinan mereka bahwa non-Muslim harus ditundukkan oleh
pedang. Pada 1354 mereka pun menduduki Gallipoli, dan lalu meluas ke
seluruh jazirah Balkan, menaklukan bangsa Serbia pada Perang Kosovo
1389, lalu meneruskan penjajahan ke Bulgaria dan Thessalia, 1393. Ini
berarti bahwa ibu kota Kekaisaran Byzantium (atau apalah yang tersisa
daripadanya saat itu), Konstantinopolis, sekarang sudah terkepung.
‘Tutuplah gerbang-gerbang kotamu’ kata Sultan kepada Kaisar Byzantium
Manuel II (1391-1425), ‘aku toh sudah memiliki semuanya di luar kotamu’
[3]
Saat itu tinggal masalah waktu saja kapan Konstantinopolis akan
diserang, dan di bawah kekuasaan Sultan Mehmet II yang enerjetik dan
kejam, orang2 Ottoman mulai mengepung ibu kota Byzantium pada April 1453
– ini bahkan bertentangan dengan sumpahnya sendiri pada saat naik tahta
sultan pada 1451, bahwa sultan bersumpah demi Al-Quran kepada duta besar
Byzantium bahwa dirinya akan menghormati kedaulatan wilayah yang
terakhir ini. [4]
Rupa-rupanya, sebuah sumpah kepada seorang ‘infidel/kafir’ adalah omong
kosong belaka. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa pengepungan
Konstantinopolis merupakan sebuah bentuk jihad yang membela-diri,
malahan, ini jelas adalah tindakan agresi yang sepihak. Mati-matian
membela diri, kalah jumlah dan kalah senjata, kota itu akhirnya jatuh
pada hari Senin 28 Mei 1453 (atau sumber resmi lain: Selasa 29 Mei
1453). Harus dicatat di sini bahwa pada 6 April Sultan Mehmet II
mengirimkan pesan kepada Kaisar Konstantin XI, tentang sebuah maklumat
yang kemudian ditolak oleh Konstantin, ‘menyatakan bahwa, sebagai mana
yang tertulis dalam hukum Islam, setiap warga kota akan dibiarkan hidup
jika kota diserahkan tanpa perlawanan.’ [5]
Implikasi maklumat ini sangat jelas: jika kota melawan, jiwa para
penduduk tentu akan terancam. Dan memang inilah yang terjadi pada saat
kota itu jatuh pada hari Selasa 29 Mei 1453, pasukan-pasukan Muslim
membantai, menjarah, dan memperbudak masyarakat Kristiani dalam jumlah
yang sangat besar [6] Kenyataan ini, yang jarang disebutkan oleh para
Muslim pada saat mereka merayakan event kemenangan mereka,
memperlihatkan betapa tertanamnya nilai pembantaian dan penindasan di
dalam Khalifah Ottoman, dan wajar saja beralasan bagi non-Muslim untuk
was-was prihatin kapan pun mereka mendengar Muslim bernostalgia
mengenang ‘kejayaan’ masa lalu mereka. Mehmet II lalu memasuki gereja
agung Agia Sofia, kathedral utama kaum Kristen Timur, alih-alih dari
menghormati integritas religinya, dia malah mengislamkanya, mengubahnya
secara resmi jadi masjid (sekarang namanya Aya Sofia di Istanbul).
Menjelang abad ke-16, seluruh Balkan sudah dijajah oleh penguasa Muslim.
2. Kebebasan dan Harga Diri Kaum Nasrani
di bawah Kekuasaan Turki Ottoman
Gambarannya memang tidak melulu gelap. Bangsa Turki memang mengizinkan
kaum Kristen Orthodox Yunani sebuah hak otonomi internal untuk mengatur
sendiri urusan-urusan sosial dan agama mereka – konsep
Millat namanya. Sultan sering
mengangkat seorang Yunani sebagai Grand Vizier (Wasir Agung), dan
panglima dari Angkatan Laut Ottoman seringkali adalah seorang Yunani
[7]. Namun bagaimana pun, status kewarganegaraan penuh hanya
diperuntukkan bagi mereka yang memeluk Islam. Sultan seringkali ikut
campur dalam hal pemilihan ketua gereja Orthodox (patriarch), dan bahkan
bisa-bisanya mengatur urusan mereka. Pada waktu-waktu tertentu, beberapa
patriarch malah dieksekusi mati. Tidak ada kebebasan beragama penuh
ataupun persamaan hak.
Salah satu yang praktek2 yang paling meyakinkan untuk mempertanyakan
Keagungan Khalifah Ottoman yang ‘katanya’ merupakan Masa Keemasan bagi
kaum minoritas agama lain adalah rekrutmen/caranya merekrut
Janissariyah (pasukan khusus
Ottoman), yang dimulai pada abad 14.’ …mereka secara
paksa merampas anak-anak lelaki
dari keluarga Kristen yang diperbudakkan (umumnya dari keluarga orang
Yunani, tapi lalu juga dari bangsa2 Armenia, Bulgaria, Albania, dan
Serbia), dan membesarkan anak2 ini dalam sebuah kamp khusus. Mereka lalu
melatih anak2 ini menjadi Turki fanatik, penjagal2 berdarah dingin
terhadap keluarga mereka sendiri. Anak2 ini dibesarkan untuk mempercayai
bahwa ayah mereka adalah sang Sultan dan jika mereka sampai tewas di
medan perang berarti mereka masuk surga. Jadi, karena Angkatan Perang
baru ini, Janissariah (Yeni-ceri bahasa Turkinya) orang2 Turki
melanjutkan penaklukan2 mereka.’ [8]
Pasukan2 Ottoman lalu menyerang desa-desa Kristen, menculik anak2 kecil,
yang kemudian dibawa ke Konstantinopolis sebagai serdadu-budak, dan
secara paksa di-Islamkan. Mereka
ini dilarang berhubungan dengan wanita, kecuali saat mereka menyerang
kota atau desa musuh, itulah saatnya diperkenankan untuk menjarah dan
memperkosa sepuasnya selama tiga hari berturut-turut. Hal ini berlanjut
terus sampai 1700, setelah keanggotaan lambat laun berubah menjadi
tradisi turun-temurun, dan akhirnya berakhir dengan penghapusan
Janissariyah, setelah timbul sebuah pemberontakan. Anak-anak orang
Nasrani lainnya masih saja diculik untuk dijadikan budak sebagai
pembantu-pembantu istana, kasim, dan gundik (harem). Praktek-praktek
macam inilah yang meninggalkan kenangan pahit bagi penduduk Balkan dan
Armenia tentang masa penjajahan Muslim yang berabad-abad itu.
Praktek/kebiasaan2 ini tentulah akan menjadi budaya di Eropa Barat juga
jika saja pengepungan Ottoman terhadap Vienna tahun 1683 itu sampai
berhasil dengan kemenangan. Lagi-lagi, tidak ada alasan untuk mengatakan
bahwa ini adalah jihad membela diri. Inilah agresi sepihak. Tindakan
Ottoman menyerang Austria mulai membuat orang Eropa sadar akan apa yang
akan menimpa mereka jika sampai Khalifah berhasil memperluas wilayahnya
sampai menguasai seluruh Eropah. Anggota2 pasukan Ottoman ‘membakar
habis desa-desa, memperbudak kaum wanita dan anak-anak, dan kaum lelaki
yang trampil. Yang sakit dan yang tua mereka penggal. Mereka
membumiratakan gereja2 dan menginjak2 lambang2 salib di tanah.’ [9]
Mereka sibuk ‘membakar, memperkosa, menjagal, memperbudak…’ [10]. Harus
diingat bahwa pasukan Muslim ini dipimpin oleh Wasir Agung sendiri, Kara
Mustafa. Sulit untuk dimengerti bagaimana perilaku2 semacam itu bisa
dianggap sesuatu yang membuat orang tertarik kepada Islam.
Diskriminasi terhadap kaum Nasrani terus berlanjut berabad-abad di bawah
pemerintahan Khalifah Ottoman. Sebuah contoh akan hal ini ditemukan di
dalam perjanjian damai yang mengakhiri Perang Krimea 1854-56. Perang
dimulai dari pertengkaran antar Rusia dengan Khalifah Ottoman.
Kesepakatan diulangi oleh Perjanjian Paris pada Maret 1856. Biasanya
perhatian utama diberikan kepada pasal Inggris dan Prancis yang melarang
kapal perang Rusia di Laut Hitam. Perhatian yang lebih kecil difokuskan
pada Artikel 9 dari Kesepakatan itu, yang mengharuskan Khalifah Ottoman
memperlakukan penduduk dengan adil ‘tanpa membedakan agama atau ras’.
Ini membuktikan bahwa Khalifah Ottoman memang benar2 terlibat dalam
sebuah upaya pen-diskriminasi-an yang sistematik. Alih-alih dari
menghormati kesepakatan damai, Khalifah ini malah mengeluarkan sebuah
maklumat pada tahun yang sama yang mewajibkan kaum non-Muslim untuk
mendapatkan izin dahulu dari sang Khalif sendiri kalau ingin membangun
atau memperbaiki tempat2 ibadah. Secara effektif, ini berarti sebuah
kelanjutan dari prinsip2 hukum Syari’ah
Islam, dan suatu pelanggaran dari Kesepakatan Damai Paris.
Tidak hanya kebebasan kaum Nasrani yang dibatasi oleh Khalifah,
harga-diri kaum Kristen ini juga sering kali diinjak-injak. Sampai
menjelang Perang Besar dan pembersihan etnis 1915, orang2 Nasrani
Armenia mendandani anak2 perempuan mereka supaya kelihatan seperti anak2
lelaki agar jangan sampai diperkosa atau diculik (atau dua2nya) oleh
Muslim2 Ottoman. Faktanya, setiap bocah berada di bawah bahaya
penculikan. Sebuah contoh yang khas dari kedengkian Muslim Ottoman
terhadap orang Kristen diperlihatkan oleh bukti dokumen izin-pemakaman
yang dikeluarkan oleh seorang qadi (penggawa/lurah Muslim) dalam 1855
yang diperuntukkan bagi seorang Nasrani yang wafat:
‘Kami menyatakan ini kepada pendeta gereja
Maryam, bahwa bangkai si Saideh yang najis, busuk, dan bau, terkutuklah
hari ini, sudah boleh dimakamkan.’ [11] Tidak diragukan lagi,
jika sentimen2 yang tertulis sedemikian itu dimaksudkan untuk satu saja
jasad Muslim, Muslim akan mengganggap ini sebagai kebencian dan tidak
berprikemanusiaan; jadi tidak sepantasnyalah mereka kaget jika lalu
orang2 Nasrani pun bisa bereaksi sama, dan sulit untuk meng-iya-kan
Khalifah sebagi sebuah rejim-pemerintah idaman.
3. Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah
Menjelang abad 19 kekaisaran Ottoman memudar, dan gerakan2 ke arah
kemerdekaan mulai bermunculan di antara bangsa2 Balkan. Masa ini adalah
cikal-bakal nasionalisme modern, dan ada suatu keinginan besar di antara
orang2 Nasrani Balkan untuk membebaskan diri mereka dari para penjajah
Turki (dan dalam hal bangsa Romania, dari penguasa Phanariot Yunani yang
dipakai Ottoman sebagai kaki-tangan mereka). Namun, nasionalisme saja
tidak cukup untuk memotivasi Eropa untuk membebaskan diri dari Turki.
Sebagai Kristen, orang2 Balkan paling tinggi derajatnya hanya sebagi
warga kelas dua – barang rendahan, tidak punya persamaan derajat
beragama. ‘Orang-orang Nasrani, sungguh, dijauhkan dari posisi politik,
diwajibkan membayar sebuah pajak khusus [Jizyah] dan
pelan-pelan dimusnahkan/dibasmi
secara sistematis.’ [12]
3.1 Perlawanan Yunani
Kekalahan2 Ottoman di tangan bangsa Polandia dan Austria di 1683, dan
dalam beberapa kesempatan selanjutnya oleh orang2 Rusia, dan pendudukan
sementara Morea oleh orang2 Venesia pada masa 1690an sampai 1718
membuktikan bahwa Khalifah itu bukanlah super-jagoan tanpa tanding.
Percobaan2 pertama membebaskan diri oleh bangsa Serbia dipimpin oleh
Kara George pada 1804. Perlawanan berhasil, namun kekuasaan Ottoman
terbentuk kembali pada 1813. Perlawanan lainnya pada 1815 di bawah
Milosch Obrenovitch menjadikan Serbia mendapatkan hak otonomi, dan
bahkan dirinya diberi gelar ‘Pangeran Serbia’ oleh Sultan. [13] Tonggak
sejarah utama, yang memulakan runtuhnya Ottoman adalah
perjuangan-kemerdekaan Yunani pada 1821. Sejak zaman kebudayaan klasik
Yunani, komunitas2 Yunani telah mendiami daerah2 sekitar Laut Hitam,
termasuk wilayah2 yang dikuasai oleh Rusia pada abad ke-18. Asisten
Militer untuk Tsar Rusia 1821 adalah seorang Yunani, Pangeran
Hypsilanti, yang juga adalah pemimpin dari kelompok rahasia nasionalis
Yunani yang disebut Etairia Filiki
- ‘Perkumpulan para Sahabat’, yang didirikan pada 1814 di Odessa,
memiliki 20,000 anggota, dan beroperasi di wilayah2 berpenduduk Yunani
di dalam Kekhalifahan Ottoman. [14]
Perlawanan dimulai secara setengah2, ketika Hypsilanti dan sekelompok
orang Yunani melintasi Moldavia pada bulan Maret 1821, dan mendorong
penduduk Orthodox untuk bangkit melawan penjajah Ottoman. Namun, bangsa
Romania, walaupun Orthodox, bukanlah Yunani, dan tidak senang akan
keunggulan orang Yunani dalam Kekhalifahan, dan konflik antara orang2
Yunani dan Romanian pun timbul. Jujur saja untuk dituliskan bahwa
Hypsilanti dan pengikutnya pun pernah berperangai sejahat bangsa Ottoman
yakni waktu mereka membantai sebuah komunitas Muslim lokal. [15] Karena
latar belakang inilah, tidak heran jika pada bulan Juni di Skaleni para
pejuang dikalahkan oleh kaum Ottoman.
Bagaimanapun, kejadian2 di Moldavia itu akhirnya memicu kebangkitan
besar dari bangsa Yunani di Morea bersumber dari pengaruh Etairia Filiki
. Namun sayang, sekali lagi orang Yunani menodai perjuangan mereka
dengan membantai komunitas 25,000 Muslim dalam waktu enam minggu setelah
pecahnya perlawanan. Kaum Ottoman pun membalas dendam dengan membantai
bangsa Yunani yang ada di Thessalia, Makedonia, dan di pulau-pulau
Aegean. Di salah-satu pulau ini, yaitu Chios, Ottoman menghabisi nyawa
27,000 Nasrani, termasuk kaum wanita dan anak-anak. [16]
Hampir seluruh orang Nasrani di pemukiman Yunani di Konstantinopolis
tewas dijagal. [17] Pada Hari Paskah 1822, Patriarch Orthodox di
Konstantinopolis digantung oleh Turki Ottoman, dan jenazahnya lalu
dilemparkan ke selat Bosphorus, akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal
Yunani dan dibawa ke Odessa, di mana Patriarch akhirnya dimakamkan di
sana sebagai martir. [18]
Pembunuhan Patriarch merupakan sebuah perhitungan yang sangat keliru dan
mengundang bencana bagi Khalifah, kemuakan yang besar tersebar di
mana-mana di Eropa, dan Rusia mengancam akan turun tangan. Hal
kemerdekaan Yunani kini menjadi buah-bibir masyarakat Eropa yang
prihatin melihat sesama saudaranya Nasrani ditindas, dibantai dan
tawanan2 Kristen Yunani dijual sebagai budak di Mesir. [19] Kesalehan
beragama Raja Charles X dari Prancis membawanya untuk mendukung
perjuangan kaum Nasrani Yunani. Pujangga terkenal Inggris, Lord Byron,
sebagaimana banyak orang Eropa lainnya, menjadi sukarelawan berjuang
bersama-sama orang Yunani, dan gugur di sana. Di sisi lain, banyak
Muslim mengikuti panggilan jihad melawan kafir yang dikumandangkan oleh
Khilafah pada bulan Maret 1821.
Kemenangan2 militer, terutama angkatan laut Yunani menyebabkan Khalifah
mencari bala bantuan Muhammad Ali, wakilnya di Mesir, supaya turun
tangan dengan armada Mesirnya, dia dijanjikan wilayah2 Morea, Kreta, dan
Lebanon. Putra Muhammad Ali, Ibrahim, mendarat di Pulau Kreta di mana
populasi pada waktu itu kurang-lebih sepertiganya Muslim, dan mulai
membantai masyarakat Nasrani yang mayoritas. Seperti itu juga, ketika
pasukan2 Ibrahim mendarat di Morea, ‘mulailah mereka menyapu bersih
penduduk Yunani.’ [20] Haruslah dinyatakan di sini bahwa inilah perintah
Khalifah, yang didesak oleh para ulama
Muslim, bahwa ‘para pemberontak harus diperangi secara terbuka
dan dihabisi oleh pedang, harta-milik mereka harus dirampas dan
anak-istri mereka harus dihabiskan, dijadikan budak’ [21]. Seperti yang
telah kita lihat, baik perbudakan maupun genocide (pemusnahan massal)
sebenarnya memang telah terjadi – ‘seluruh populasi penduduk Yunani
daratan terancam oleh kepunahan massal’ [22].
Pemusnahan massal dan ancaman campur-tangan Russia akhirnya menyebabkan
the Great Powers (Sekutu), yang dipimpin oleh Inggris, turun tangan
dalam pertempuran di Navarino pada 1827, yang mana mereka menghancurkan
armada2 Ottoman dan Mesir, dan memberikan jalan bagi pasukan2 Prancis
untuk menyerbu Morea, sedangkan pasukan2 Rusia maju ke daerah Trachea.
Haruslah dinyatakan di sini bahwa sebelumnya ini terjadi, Sekutu (The
Powers) telah menawarkan kepada Ottoman kesepakatan untuk membiarkan
Ottoman Turki tetap berkuasa secara simbolik dan Yunani sebagai daerah
jajahan dengan status otonomi penuh, tetapi sang Khalifah, yang kukuh
dengan prinsip Islamnya akan hal menundukkan kaum non-Muslim, menolak
tawaran tersebut. Kesalah-perhitungan ini akhirnya membawa Sekutu untuk
memperjuangkan kemerdekaan penuh Yunani di tahun 1832.
3.2 Pembantaian-pembantaian Khilafah
dari 1840-1860
Fakta, bahwa kejadian pembunuhan massal (genocide) yang berulang-ulang
yang akhirnya membawa intervensi Barat dalam urusan2 Ottoman, akhirnya
meruntuhkan pula Negara itu. Pada 1842, Muslim terlibat dalam
pembantaian2 berikut:
Badr Khan Bey, seorang pemimpin (Amir) Kurdi Hakkari, bersama2 dengan
pasukan2 Kurdi lainnya yang dipimpin Nurallah, menyerang orang2 Assyria,
bermaksud untuk membakar, membunuh, menghancurkan, dan, jika mungkin,
memunahkan seluruh bangsa Assyria dari daerah2 pegunungan. Kaum Kurdi
yang ganas ini melumatkan dan membakar apa saja yang mereka temui.
Pembantaian tanpa pandang bulu terjadi. Para wanita dibawa ke hadapan
sang Amir dan dibantai dengan darah dingin. Insiden berikut ini
menggambarkan betapa buasnya perbuatan mereka: ibunda Mar Shimun,
Patriarch (Bapa Gereja Timur) yang sudah berusia lanjut, ditangkap oleh
mereka, dan lalu setelah melakukan hal-hal biadab yang luar biasa
memuakkan kepadanya, mereka membelah tubuhnya menjadi dua bagian dan
melemparkannya ke sungai Zab, seiring dengan seruan “pergilah dan
bawalah ke putramu yang terkutuk itu pengetahuan bahwa nasib yang sama
sedang menunggunya.” Hampir sepuluh ribu orang Assyria dibunuh, dan
sejumlah yang sama banyaknya dari kaum wanita dan anak2 dibawa sebagai
tawanan, hampir seluruhnya dikirim ke Jezirah untuk dijual sebagai
budak2, untuk dipersembahkan sebagai hadiah2 bagi tokoh-tokoh Muslim
yang berpengaruh. (Death of a Nation, pp. 111-112). [23]
Kejadian yang sama berlangsung tahun 1846. [24] Dalam kedua kasus
tersebut tidak pernah sekalipun Pemerintah Ottoman maupun aparat2
keamanannya turun tangan untuk mencegah pembantaian2 atau menghukum para
pelaku pembunuhan, suatu tanda bahwa mereka justru gembira dengan
perbuatan2 tsb, jadi membuat pemerintahan Khalifah sebagai oknum
pembantu kriminal pembantaian massal. Pada 1847, pasukan2 Muslim
membantai lagi 30,000 anggota komunitas Nasrani Assyria. Sebagai satu
contoh telak betapa bersekongkolnya Pemerintah dalam pembantaian2 kaum
Nasrani bermula dari individual Muslim terjadi di Lebanon dan Syria pada
1860, yang mana akhirnya hanya bisa dihentikan lewat campur tangan
pasukan2 Perancis:
Di Lebanon, dari April sampai Juli, lebih dari 60 desa di Al-Matn dan
Al-Shuf dibumihanguskan oleh kaum Druze dan pasukan2 Kurdi. Menyusul
kemudian kota2 besar. Komandan garnisun Ottoman menawarkan lagi
perlindungan kepada penduduk Maronite (Kristen), seperti yang telah
ditawarkannya kepada desa2 yang lebih kecil, meminta mereka menyerahkan
senjata dan lalu menyembelih mereka di penginapan padang pasir lokal.
Begitulah nasib dari Dayr al-Qamar, yang kehilangan 2600 penduduknya;
Jazzin dan sekitarnya, di mana 1500 dibantai; Hasbayya, 1,000 dari 6,000
disembelih secara keji; Rashayya, 800 tewas. Perintah komando bagi
Hasbayya yaitu semua laki-laki di antara 7 sampai 70 tahun harus
disembelih. Mata buas mereka berpesta-pora menyaksikan mayat-mayat muda
dan tua yang mereka sembelih dicabik-cabik di pekarangan istana Shihabi.
Zahla, kota terbesar di antara semuanya dengan 12,000 penduduk, bertahan
sementara waktu sampai akhirnya harus tunduk di bawah serbuan pasukan
termasuk kaum penyerang dari Harwan dan suku2 Beduin dari padang pasir.
Kota itu terletak nyaman di lembah yang curam terbentuk oleh jalur
Bardawni yang mengalir dari Gunung Sannin. Tidak satu rumahpun lolos
dari amukan api. Total hilangnya jiwa dalam masa tiga bulan dan rentang
jarak beberapa kilometer diperkirakan mencapai 12,000. Dari Lebanon api
kebencian menjalar ke Damascus dan menyulut tangki kedengkian Muslim
yang terbentuk oleh kebijakan Ibrahim Pasha dan hukum2 egalitarian
Khatti Humayyun. Wilayah pemukiman Assyrian dibakar dan sekitar 11,000
penghuninya disembelih. [25]
3.3 Pembantaian-pembantaian Balkan
1870an
Di Bosnia-Herzegovina, para petani di pedesaan Kristen masih tinggal di
bawah sistem penghambaan, dan dibebankan atas mereka pajak2 yang berat
oleh Khalifah, yang tidak berlaku untuk para Muslim. Penduduk Balkan
menderita oleh panen gagal tahun 1874,
kelaparan menimpa mereka, namun
Turki Ottoman, jauh dari itikad menolong mereka, masih saja menuntut
pajak2 – sekali lagi, ini dipengaruhi oleh Syari’ah Islam. [26]
Himpitan-tekanan bathin ini akhirnya meledak pada 1875, orang Kristen
Bosnia-Herzegovina memberontak terhadap Khilafah. Perlawanan menyebar
sampai ke Serbia dan Montenegro, yang telah berstatus otonomi sejak 1829
meskipun masih bersujud kepada Ottoman. Segera saja perjuangan menyebar
juga ke Bulgaria, yang belum diberikan hak pemerintahan sendiri di bawah
Khilafah, karena adanya komunitas2 besar Turki dan Muslim di sana dan
jaraknya yang dekat ke ibukota Istanbul.
‘Sultan yang baru naik tahta, Abdul Hamid II (dikenal dalam sejarah
sebagai “Red Sultan”) tidak berkompromi sedikitpun dengan para
pemberontak.’ [27] Kebijakan Khalifah adalah pemusnahan massal
(genocidal): ‘seluruh desa diluluhlantakkan, penduduknya disembelih.
Penghuni penjara2 Bulgaria ditembak mati setelah lebih dulu disiksa
dengan sangat biadab.’ [28] Antara April sampai Agustus 1876 ribuan
warga Nasrani Bulgaria secara mengerikan dibantai oleh pasukan2 Khalifah
– dalam satu bulan Mei saja 12,000 laki2, perempuan, dan anak2
disembelih dengan brutal. [29] Sekutu mencoba membujuk Khilafah dengan
menawarkan perjanjian Andrassy (berdasarkan nama seorang menteri
Hungaria), menawarkan proposal untuk mereformasi kebijakan2 Ottoman,
yang mana secara pura-pura diterima oleh Sultan. Kaum Nasrani
Balkan,bagaimanapun, sudah kenyang dengan pahitnya pengalaman, tidak
percaya lagi dengan janji-janji Turki Ottoman yang tidak didukung oleh
jaminan penuh dari Barat.
Sekutu, dengan pengecualian Inggris, saat itu mengirimkan Memorandum
Berlin kepada Kalifah Ottoman, dengan ancaman akan turun tangan membantu
perlawanan Balkan apabila tawaran reformasi tidak juga dilaksanakan
dalam dua bulan. Namun, tanpa hadirnya Inggris, Ottoman merasa di atas
angin untuk menghiraukan saja tawaran tersebut. Russia bersiap-siap
untuk menyerbu Khalifah Ottoman, tetapi ini dicegah oleh sebuah
konferensi international di Konstantinopolis di mana Abdul Hamid II
menyetujui reformasi konstitusional, yang diajukan oleh menterinya,
Midhat Pasha, yang berpandangan liberal, yang mana dimasukkan juga di
situ perlakuan2 yang lebih manusiawi bagi orang2 Kristen/Nasrani. Namun
juga, segera saja setelah konferensi dibubarkan, Midhat Pasha dicopot
dan dibunuh beberapa waktu kemudian. Undang2 yang baru itu segera juga
dicabut kembali, bersama dengan jaminan2 perlindungan bagi umat
Kristiani. [30] Ini menunjukkan bahwa penganiayaan atas umat Kristiani
memang akan terus-menerus terjadi selama masih ada Khalifah di bumi ini.
Akhirnya, kelicikan dan pengkhianatan janji Ottoman menghasilkan
penyerbuan Russia-Romania, dan puncaknya Inggris campur-tangan, membawa
hasil akhir Perjanjian Berlin 1878 yang mengakui kemerdekaan total dari
Serbia, Romania, dan Montenegro, sedangkan Austria mengambil-alih Bosnia
dan daerah Sandjak dari Novibazar. Bulgaria mendapatkan hak pemerintahan
sendiri, dengan Rumelia timur, yang berbatasan dengan Thrakia timur,
selalu harus diperintah oleh seorang Gubernur yang Kristen. [31] Perang
telah membuat Khalifah kehilangan banyak sekali wilayah di Eropa, inilah
masa untuk bersuka bagi para umat Kristiani Balkan. Namun demikian
haruslah diakui juga, bahwa di negara2 Balkan yang baru saja merdeka
setelah 1878 itu terdapat rasa benci dan perlakuan kejam terhadap kaum
penduduk Muslim mereka, sama seperti yang dilakukan Khalifah terhadap
umat Kristiani, dan sebagai hasilnya, banyak umat Muslim setelah sering
menerima penganiayaan, hijrah ke Kesultanan Ottoman.
Kerugian yang lebih besar lagi bagi Khalifah Ottoman ialah hilangnya
dukungan Inggris. Khabar2 mengenai pembantaian2 orang Bulgaria disambut
dengan kemurkaan massa. Perdama Menteri, Disraeli, karena kuatir akan
rencana2 expansi Russia, membantah berita2 pembantaian itu sebagai
propaganda semata – ‘gossip warung kopi’ katanya. Namun pemimpin
oposisi, Gladstone, menuliskan sebuah pamflet yang terkenal dengan judul
The Bulgarian Horrors and the Question of the East , yang sangat laku
terjual. Untuk sementara waktu, Khalifah Ottoman dianggap sebagai sumber
kejijikan seperti orang memperlakukan Nazi Jerman sekarang. Situasi ini
masih saja diperparah oleh tindakan2 Sultan-Khalifah Abdul Hamid yang
melanggar janji2nya sendiri tentang perlakuan manusiawi untuk umat
Kristiani yang dia tandatangani di Kongres Berlin. [32]
3.4 Pembantaian-pembantaian tahun1890an
Di sisi lain, Turki Ottoman terus saja membantai seluruh komunitas
Kristiani, kejadian yang paling menonjol adalah pembantaian antara
1894-96 di mana ribuan umat Kristiani Armenia dan Assyria – lebih dari
300,000 – dibantai secara brutal dimulai gara-gara keinginan Sang Sultan
Merah Abdul Hamid II. Jerman telah memberinya angin untuk melawan setiap
reaksi Eropa, dan ternyata dia betul. Enam ribu umat Kristiani Armenia
dibunuh hanya Konstantinopolis saja. [33] Di Inggris, Gladstone berhenti
dari istirahat untuk menuntuk tindakan melawan Ottoman, dan Pemerintah
Inggris memang berusaha membujuk Sekutu untuk melakukan sesuatu, namun
tidak ada tindakan nyata. [34] Menghadapi partisan2 nasionalis di
Makedonia, provinsi Eropa terakhir yang masih di bawah kontrol penuh
Ottoman, pasukan2 Turki membablas tanpa rintangan. Diperhadapkan dengan
perlawanan di Pulau Kreta pada 1897, pemerintah Turki bukan saja menekan
pemberontakan tapi juga maju berperang melawan Yunani, mengalahkan musuh
lama itu, hanya kemudian Sekutu turun tangan dan menuntut pengangkatan
Gubernur yang Kristiani untuk pulau tersebut.
3.5 Pembantaian massal 1915 (yang
terkenal dan ditutup-tutupi sampai sekarang)
Pada 24 April 1915 pemerintah Ottoman memerintahkan pengusiran
(deportasi) seluruh penduduk
Kristiani Armenia dan Assyria di Asia Minor Timur ke Syria dan Iraq,
yang masa itu masih menjadi bagian Kekhalifahan Ottoman, dan
membantai banyak jumlah dari
mereka. Pembantaian berlanjut sepanjang tahun. Menjelang 1915, 1,500,000
orang Armenia dan 250,000 Assyria telah hilang nyawanya. Banyak kaum
wanita diperkosa dan anak2 diculik dan dijadikan budak untuk lalu
dibesarkan sebagai Muslim. Banyak umat Kristiani – terlebih kaum
perempuan – disalib (gambar2 fotografi masih ada sampai sekarang).
Sekitar 200,000 orang Armenia lolos dari pembantaian/pembersihan etnis
dengan cara masuk memeluk Islam. Seluruh desa masuk Islam demi
menghindari pembantaian. Gereja2 dihancurkan atau dikotori dengan cara
diubah menjadi lumbung2 tani. Upaya-upaya serius dilakukan untuk
menghancurkan setiap jengkal jejak-jejak warisan budaya Kekristenan di
wilayah2 bersangkutan. ‘Dalih’ Ottoman untuk membenarkan perbuatan
mereka adalah bahwa orang2 Armenia adalah pilar kelima dan bahwa ada
orang2 Armenia yang menjadi tentara Russia. Mereka tidak peduli
kenyataan bahwa orang2 Armenia Rusia itu tidak punya banyak pilihan,
bahwa ada orang2 Muslim Turki juga yang menjadi tentara Russia, dan
bahwa orang Assyrian ada sangat sedikit kalaupun ada yang bergabung
dengan tentara Russia. Pada 1914 orang2 Armenia Ottoman menyatakan
kesetiaan mereka kepada negara, meski ada pembelotan2 yang terisolasi
dan sebuah perlawanan kecil di Cilicia. Ottoman secara salah menuduh
bahwa ada pemberontakan di Van, dan bahwa ada pembunuhan dalam konteks
perang saudara. Pernyataan ini jelas salah, karena 250,000 orang Armenia
tergabung di dalam angkatan perang Ottoman. Bahkan, prajurit2 Armenia
menyelamatkan seorang pemimpin Ottoman, Enver Pasha, yang hampir
ditangkap tentara Russia ketika kalah berperang. [35]
Hampir semua pembantaian dilakukan oleh polisi biasa, meskipun ada
sebuah ‘Organisasi Khusus’ yang dibentuk, terdiri atas penjahat2 yang
dibebaskan dengan syarat mereka harus membunuhi orang2 Armenia. [36]
Lebih lanjut, bahkan kaum Armenia Rusia pun dibantai ketika Ottoman
menyerbu 1918 – 15,000 bangsa Armenia dibunuh di Baku. Pengungsi2
Armenia dibuat sebagai objek latihan bayonet. [37] Harus dicatat juga
dengan jujur juga bahwa banyak desa2 Arab di Syria yang menolong para
pengungsi Armenia, dan beberapa pejabat ulama Muslim melakukan protes
mengenai kebijakan2 ini. [38] Turki sampai sekarang masih membantah
kenyataan sejarah mengenai genocide mereka. Hitler melihat ini seolah
sebagai alasan untuk membenarkan perbuatannya, bahwa dunia toh tidak
mempedulikan pembantaian umat Armenia oleh bangsa Ottoman, jadi dunia
juga akan membiarkan saja dirinya membinasakan kaum apa saja yang dia
mau binasakan.
Kesimpulan
Pembantaian2 kaum Muslim yang dilakukan oleh bangsa Yunani tahun 1821
yang lalu dilakukan juga oleh bangsa2 Balkan lainnya saat mereka
mendapatkan kemerdekaan tidak dapat dibenarkan, seperti halnya juga yang
dilakukan oleh umat Muslim terhadap umat Kristiani. Namun, di sini ada
sebuah hal yang membedakan antara kejahatan yang dilakukan oleh bangsa
Yunani dan Balkan pada abad ke-19 dengan kejahatan yang dilakukan oleh
Khalifah. Pembantaian2 yang dilakukan oleh orang Yunani menodai
Nasionalisme Yunani, daripada sekedar kekristenan mereka; kejahatan2 itu
dilakukan atas nama
Nasionalisme mereka, bukan dari agama-nya. Lebih jauh lagi,
orang2 Yunani saat itu bukanlah mewakili sebuah pemerintahan, melainkan
hanya sekelompok pejuang pemberontak (tentu saja, ini tidak berlaku bagi
pembantaian2 yang terjadi kemudian setelah provinsi2 Balkan menjadi
negara2 merdeka). Pembantaian2 yang dilakukan Khalifah di sisi lain,
memiliki ciri-ciri yang berbeda. Bahkan orang2 Yunani tidak pernah
meng-klaim suatu inspirasi ilahi dari Nasionalisme Yunani mereka, dan
sedikit saja sekarang yang kira2 masih akan membenarkan pembantaian2
itu. Muslim, sebaliknya, yakin seyakin2nya bahwa Khalifah itu ada atas
ridho Allah dan bahwa jihad itu memang
sesuatu yang terinspirasi secara ilahi. Pembantaian2 mereka
dilakukan atas nama Khalifah dan jihad.
Lebih lanjut lagi, Khalifah itu dulu adalah bagaimanapun sebuah
pemerintah yang resmi berkuasa atas bangsa2 Yunani dan Balkan lainnya;
seharusnya tugasnya adalah untuk melindungi, bukan untuk berusaha
memusnahkan warganya. Sehingga terbentuklah dua masalah besar bagi umat
Muslim sekarang yang mengidam2kan bangkitnya kembali Kekhalifahan:
pertama, sebuah Pemerintahan yang merestui pemusnahan massal (atau pun
systematis) dilakukan atas nama agama adalah sebuah konsep basi yang
memuakkan bagi calon-calon korban jajahannya; kedua, karena Khalifah itu
dianggap di-ridloi oleh Allah, Muslim pun ngotot membenarkan bahwa
memang tuhan merekalah yang memerintahkan pembantaian2 kaum wanita dan
anak2 karena agama mereka. Masalahnya adalah bahwa pembantaian2 oleh
orang Yunani itu memperlihatkan kondisi kemerosotan moral manusia – dosa
umum – yang bisa terjadi dalam diri umat manusia. Orang2 Kristiani
sejati tidak akan membenarkan tindakan2 itu. Yang lebih penting, orang2
Kristen tidak ngotot bahwa Nasionalisme Yunani (atau nasionalisme
apapun) adalah ter-inspirasi secara ilahi. Muslim, sebaliknya, tidak
bisa berpendapat yang sama mengenai pembantaian2 yang mereka lakukan.
Mereka diperintakan oleh Khalifah atas nama
JIHAD – ISLAM. Itulah sebabnya,
sementara umat Nasrani dengan tidak ragu-ragu mengutuk pembantaian2 yang
dilakukan bangsa Yunani, umat Muslim justru kesulitan untuk melakukan
hal yang serupa.
References
1. Smith, Michael Llewellyn, The Fall of Constantinople, in History
Makers magazine No. 5, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson,
1969) p. 189.
2. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
3. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
4. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
5. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
6. Smith, The Fall of Constantinople, p. 192.
7. Stokes, Gwenneth and John, Europe 1850-1959, (Longman, London, 1966 &
1969), p. 129.
8. http://imia.cc.duth.gr/turkey/chro.e.html 1999.
9. Earle, Peter, Vienna 1683, in History Makers magazine No. 6, (London,
Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 261.
10. Earle, Vienna 1683, p. 261.
11. Stokes, Europe 1850-1959, p. 143.
12. Fisher, H. A. L., A History of Europe, (Edward Arnold, London, 1936
& 1965), p. 726.
13. Peacock, H. L., A History of Modern Europe, (Heinemann, London,
1971), p. 216.
14. Peacock, A History of Modern Europe, p. 218.
15. Peacock, A History of Modern Europe, pp. 218-219.
16. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
17. Fisher, A History of Europe, p. 882.
18. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
19. Fisher, A History of Europe, p. 881.
20. Peacock, A History of Modern Europe, p. 220.
21. Ye’or, Bat, The Decline of Eastern Christianity under Islam,
(Associated University Presses, USA, 1996), p. 191.
22. Fisher, A History of Europe, p. 881.
23. http://aina.org/martyr.htm 1999
24. "In Asheetha, Zinger Beg with a force of 400 Kurds practiced the
most barbarous cruelties upon the villagers of Tyari. The Assyrians bore
his tyranny patiently for some time, but finally decided to put an end
to it and decided to attack the garrison. They slew twenty of their
numbers and besieged the remainder for the space of six days. On
promising that they would immediately surrender and evacuate the
fortress they were supplied with water by the Assyrians, when suddenly
defying their besiegers a fresh conflict succeeded. In the midst of
these renewed hostilities a company of 200 cavalry arrived from Badr
Khan Beg, and turned the fortunes of the day. The Assyrians, taken by
surprise, were completely routed, no quarter was given, and men, women,
and children fell in one common massacre. The village was set on fire,
and three bags of ears were cut off from the wounded, the dying, and the
dead. And sent as trophy to Badr Khan Beg. All the chiefs of Tyari were
killed in the massacre, besides thirty priests, and sixty deacons, Mar
Shimoons’s brother Kasha Sadok, and his nephew Jesse, and many of his
relatives. In the month of October 1846, a united force of Badr Khan Beg
and Noorallah Beg entered the Tkhooma district, and committed ravages
too horrible to be related. During the invasion 300 hundred women and as
many children were brutally put to the sword in one indiscriminate
slaughter; only two girls who were left for dead on the field escaped to
relate the sad tale of this horrible tragedy.
The Kurds then attacked the men, who had taken up a most disadvantageous
position in a valley, where they were soon surrounded by their enemies,
and after fighting bravely for two hours gave up the contest. Numbers
were killed in attempting to escape, and as many as one hundred
prisoners, mostly women and children, were afterwards taken from the
houses, which were then fired by the Kurds, as were the trees and other
cultivation in the neighborhood. These unfortunate victims were then
brought before Noorallah Beg and the lieutenant governor of Jezeerah, as
they sat near one of the churches, and heard their doom pronounced by
those blood-thirsty barbarians: Make an end of them’, said they. A few
of the girls, remarkable for their beauty, were spared, the rest were
immediately seized and put to death" (Nestorians and Their Rituals, pp.
370)
http://aina.org/martyr.htm 1999
25. http://aina.org/martyr.htm 1999
26. Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
27. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 232.
28. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 195.
29. Fisher, A History of Europe, p. 1040; Stokes, Europe 1850-1959, p.
205.
30. Stokes, Europe 1850-1959, p. 206.
31. Stokes, Europe 1850-1959, pp. 209-210.
32. Stokes, Europe 1850-1959, p. 211.
33. Peacock, The Making of Modern Europe, (4th edition, Heinemann,
London, 1971), pp. 267-268.
34. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 268
35. Lang, D. M., and Walker, C.J., The Armenians, (Minority Rights
Group, London, 1987), p. 7.
36. Lang, and Walker, The Armenians, p. 8.
37. Lang,, and Walker, The Armenians, p. 8.
38. Lang,, and Walker, The Armenians, pp.7-8.
Gambar2 diambil dari sumber:
http://www.armeniapedia.org
http://www.armeniapedia.org/images/thumb/d/d4/500px-Wegner-DSC_0127.JP G

BLACK TUESDAY: 29 Mei 1453
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=31438#3143 8
http://www.greece.org/genocide/quotes/index.html
GENOCIDE BANGSA
YUNANI (The Hellenic Genocide)
Kutipan dari dokumen dan foto2 sejarah.
Pembantaian Masal Bangsa Yunani adalah penyiksaan, pembantaian dan
ethnic cleansing secara sistimatis terhdp JUTAAN orang Yunai oleh Turki
di Turki di Asia Minor, Konstantinopel (yg disebut Istanbul oleh orang
Turki), Thrace Timur, Imvros, Tenedos, Macedonia, Cappadocia dan
Pontos antara th 1890-an sampai akhir 1950-an.
JUTAAN ANAK2, lelaki dan wanita diusir dari rumah mereka hanya karena
mereka bangsa Yunani. Pada saat bersamaan, juga berlangsung pembantaian
terhdp jutaan orang Armenia dan Assyria dari segala umur.
Dosa mereka ? Karena mereka tinggal di daerah tempat peninggalan nenek
moyang mereka selama ribuan tahun sebelum invasi oleh Turki.
Dgn kekejaman yg tidak terbayangkan, mereka melaksanakan rencana mereka
yg dinamakan "Turki bagi bangsa Turki."
Kebijakan eksterminasi bangsa Yunani ini dilakukan terhdp penduduk pulau
Chios, thn 1822, persis 100 tahun sebelum tentara Turki menghancurkan
kota Bizantin, Smyrna.
Genocide yg paling dikenal, Holocaust yg dilakukan Nazi Jerman (dgn
dukungan Turki), tidak mungkin terjadi kalau Genocide oleh Turki (dgn
bantuan Nazi)with support of Germany) sudah diakui. Kami tidak dapat
mengerti sepenuhnya alasan dibelakang Holocaust tanpa sebelumnya
mengerti Genocide2 yg terjadi sebelumnya.
http://www.greece.org/genocide/quotes/q-he-cons-destr-church-agkon-el-
yps6.html
Konstantinopel-Penghancuran gereja. Foto 9 dari 44.
Patriarch Athenagoras I didepan
gerejanya, Saints Constantine and Helene di Ypsomatheion.
Perintah resmi penghancuran segala yg
bersifat Yunani dan PEMERKOSAAN WANITA YUNANI.
"Kpd Panglima Korps Pusat.
Saya meminta perhatian anda bagi yg berikut :
KEMATIAN bagi orang Yunani yg tidak memiliki kehormatan
(baca: tidak memeluk Islam).
Begitu kau diberikan tanda pertama, segera hancurkan SEGALANYA. Mengenai
wanita mereka, JANGAN RAGU2. Jangan memikirkan kehormatan ataupun
persahabatan pada saat balas dendam.
Panglima Korps
Mehmet Azit."
Mayat2 segala umur setelah disiksa.
Mustafa Kemal. Orang Turki
mengidolakannya spt orang Jerman mengidolakan Adolf Hitler.
Jerman mengikuti jejak2 Turki dan sebaliknya. Sang "Ataturk" dan "Der
Fuhrer" adalah dua pribadi yg terlibat genocide JUTAAN orang tidak
bersalah.
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |