Mengenal
Muhammad
Sebuah
Psychobiography dari nabi Allah
Oleh
Ali
Sina
Diterjemahkan oleh:
Team Translator FFI
© Ali Sina.
All Rights Reserved
![]()
Aku adalah warga negara Kanada keturunan
Setelah belajar sejarah filosofi Barat dan
melihat perkembangannya yang mengakibatkan terjadinya Renaisans dan Pencerahan,
aku mengambil kesimpulan bahwa dunia Muslim terbelakang karena mereka tidak
memiliki kebebasan dalam berpikir. Akan tetapi, baru setelah membaca
Qur’an dari halaman pertama sampai akhir, aku untuk pertama kalinya
menyadari alasan keterbelakangan Muslim adalah Islam.
Setelah membaca Qur’an, aku kaget
sekali. Aku sangat terkejut melihat kekerasan, kebencian, ketidaktepatan,
kesalahan sains, kesalahan matematika, logika yang jungkir balik, kesalahan
tata bahasa dan ketetapan etika yang tidak jelas. Setelah masa penuh rasa
bimbang, bersalah, tak tentu arah, bathin tertekan, dan marah, akhirnya aku
mengambil kesimpulan bahwa Qur’an bukanlah buku Tuhan, tapi buku penuh
ayat2 setan, kepalsuan dan hasil dari pikiran yang sakit jiwa. Aku merasa
seperti terjaga dan menyadari apa yang kualami bagaikan mimpi.
Setelah mempelajari literatur2 Islam yang
diakui Muslim, seperti hadis dan Sirat Rasul Allah (biografi Muhammad), aku
jadi yakin bahwa penyakit2 yang dialami dunia Muslim disebabkanoleh Islam dan
agama ini merupakan ancaman serius bagi umat manusia. Seperti yang selanjutnya
dapat dibaca di buku ini, Islam adalah paham yang menghancurkan dan anti
kemanusiaan yang langsung mencerminkan pikiran Muhammad.
Aku melancarkan anti-jihad di tahun 1998.
Pikiran untuk merubah Islam tidaklah mungkin. Islam bagaikan batu yang keras.
Kau tidak dapat membentuknya, tapi kau bisa menghancurkannya berkeping-keping
dan menggerusnya. Para Muslim sadar akan kelemahan Islam dan itulah sebabnya
mereka begitu tidak toleran pada kritik akan Islam. Islam itu bagaikan rumah
kartu, yang ditunjang kebohongan2; yang dibutuhkan untuk menghancurkannya
adalah menantang satu dari kebohongan2 yang saling berkaitan menopang Islam. Islam
bagaikan gedung yang tinggi, yang berdiri di atas pasir; begitu pasir
disingkirkan dan fondasi diperlihatkan maka struktur bangunan akan runtuh
dengan sendirinya.
Di tahun 2001, aku mengumumkan bahwa Islam
akan lenyap bagaikan kenangan buruk dalam waktu sekitar tiga dekade dan akan
banyak yang menyaksikan akhir Islam di masa hidupnya. Pernyataanku mengejutkan
banyak orang. Aku akui akupun awalnya ragu untuk menyatakan hal itu karena akan
banyak orang yang mengatakan hal itu tidak masuk akal dan bahkan ngawur. Tapi
semakin aku memikirkan hal itu, semakin yakin pula aku. Saat ini, banyak orang
lain yang juga melihat proses kematian Islam yang tidak dapat dihindari lagi.
Bisikan2 kritik Islam terdengar di mana2, baik dari mereka yang lahir di dunia
Islam atau bukan. Sudah semakin jelas tampak bahwa masalahnya bukan terletak
pada diri Muslim dan bagaimana mereka mengertikan Islam, tapi pada Islam itu
sendiri.
Muslim adalah korban utama dari Islam.
Tujuanku menulis buku tidak hanya untuk menunjukkan bahaya Islam, tapi juga
menyelamatkan Muslim dari belenggu kebohongan ini. Aku ingin menyelamatkan
mereka dari usaha meledakkan dunia, membuat mereka sadar bahwa umat manusia
adalah satu keluarga, dan menolong mereka bersatu kembali dengan umat manusia,
untuk hidup makmur dan damai. Aku mengharapkan kesatuan umat manusia, tidak
dengan menawarkan paham kepercayaan baru yang akhirnya malah sering
memecahbelah manusia, tapi dengan menunjukkan dan menghapus kepercayaan penuh
kebencian yang terutama di dunia.
Banyak Muslim yang bingung dan tidak tahu
harus mencari jawaban ke mana. Mereka sudah siap untuk meninggalkan Islam tapi
tidak tahu harus berbuat apa. Mereka memerlukan jawaban dan kelompok yang
mendukungnya. Site yang kudirikan yakni www.faithfreedom.org bertujuan untuk
memberi keterangan yang dibutuhkan Muslim yang bingung. Teknologi internet
memungkinkan seorang netter merahasiakan jati diri dan jadi anonim. Internet
merupakan tempat ideal bagi murtadin untuk bertukar pikiran, menjelaskan
keraguan yang dialami, membagi pengalaman, mendukung dan meneguhkan satu sama
lain. Islam sudah runtuh sejak dulu jika Muslim dapat bertanya secara kritis
akan ajaran ini tanpa merasa takut kehilangan nyawanya. Islam terus ada sampai
kini hanya karena Islam berhasil memberangus semua kritik.
www.faithfreedom.org dibaca jutaan orang
di seluruh penjuru dunia. Site ini jadi ajang pertemuan mereka yang khawatir
akan ancaman Islam dan ingin tahu apa yang menyebabkan beberapa Muslim begitu
membenci dan melakukan perbuatan2 biadab. Faith Freedom International (FFI)
telah berkembang menjadi suatu gerakan. FFI adalah gerakan murtadin yang
bertujuan untuk (a) mengungkapkan Islam yang sebenarnya dan menunjukkan
ideologi penjajahannya yang sama seperti Nazisme tapi dibungkus rapi dalam
kedok agama, dan (b) untuk menolong Muslim meninggalkan Islam, menghentikan
budaya benci yang menyebabkan timbulnya anggapan “kami” (Muslim)
lawan “mereka” (non-Muslim) dan merangkul umat manusia secara
damai. Murtadin baru bermunculan setiap hari dan mereka pun pada gilirannya
menjadi prajurit2 terang lawan kegelapan dan jumlah mereka semakin banyak. Yang
awalnya hanyalah riak sekarang telah menjadi gelombang. Dalam perang ini, pihak
musuh beralih menjadi rekan dan bahkan sekutu terbaik!
Jim Ball yang adalah penyiar radio utama
Aku sekarang adalah Humanis Sekuler dan
Pendukung Demokrasi. Secara politik, aku tidak berpihak pada paham politik kiri
atau kanan. Tapi aku bersikap kritis atas politik kiri yang tidak mengerti dan
mendukung Islam padahal itu berarti bunuh diri. Dalam pandangan mereka yang
keliru, pihak politikus kiri yakin siapapun yang menentang Kristen Yudaisme
harus didukung. Sedangkan yang mendukung Islam layak dikecam.
Ali Sina
![]()
Aku berterima kasih atas banyak orang yang
menolongku menulis buku ini. Mereka memperbaiki Inggrisku dan menawarkan kritik
membangun yang berharga. Sayangnya, aku tidak dapat menyebut nama2 mereka. Ini
karena aku sendiri tidak tahu nama asli mereka. Meskipun mereka tetap tanpa
nama, aku berhutang budi sangat banyak pada mereka.
Aku juga ingin mengucapkan terima kasih
kepada rekan2 yang menyumbangkan waktu mereka untuk mengawasi kelangsungan
faithfreedom.org sebagai administrator, editor, dan moderator di forum2 FFI.
Bantuan mereka memungkinkan aku untuk menyelesaikan buku ini.
Perang melawan terorisme Islam dilakukan
oleh pahlawan2 tanpa nama. Orang2 inilah yang menyumbangkan waktu dan bakat
mereka untuk menyadarkan dunia atas ancaman Islam. Mereka tidak minta apa2
sebagai imbalan dan tetap tanpa nama.
Oleh Ibn Warraq
![]()
Dr.
Ali Sina lahir dari keluarga Muslim Iran. Beberapa anggota keluarganya adalah
Ayatollah2. Seperti kebanyakan orang
Pihak Barat dapat
memanfaatkan murtadin seperti Dr. Sina, sama seperti dulu pihak Barat
memanfaatkan orang2 yang meninggalkan Komunisme.
Sewaktu aku menulis
Leaving Islam,[1] (Meninggalkan
Islam), kutemukan analogi2 yang berguna untuk menggambarkan Komunisme dan
Islam, seperti yang ditulis Maxime Rodinson[2] dan Bertrand Russell
ketika membandingkan pemikiran Komunis di tahun 1930-an dan Islamis di antara
tahun 1990-an dan abad ke 21. Russell berkata, ”Diantara agama2,
Bolshevism (Komunisme) lebih mirip dengan agama Muhammad, dibandingkan dengan
Kristen dan Budha. Kristen dan Budha adalah kepercayaan2 pribadi semata dengan
doktrin mistis dan paham kasih.
Muhammadisme dan
Bolshevisme adalah gerakan sosial, tanpa paham rohani, yang mengutamakan
kemenangan mendirikan kekuasaan di seluruh dunia.”[3] Karena itu keadaan Islam saat ini serupa
dengan Komunisme yang dianut pemikir2 Barat di tahun 1930-an. Sebagaimana yang
dikatakan Koestler, “Kau benci tangisan2 Cassandra kami dan menolak kami
sebagai sekutumu, tapi pada akhirnya, kami eks-Komunis adalah satu2nya orang
yang berpihak padamu, kamilah yang mengetahui apa sebenarnya Komunis
itu.”[4] Sebagaimana yang
ditulis Crossman di Kata Pendahuluannya, “Silone (seorang eks-Komunis)
bergurau ketika berkata pada
Komunisme telah dikalahkan, setidaknya saat ini, tapi
Islamisme belum kalah. Sebelum ada bentuk Islam yang disesuaikan, penuh
toleransi, dan liberal, maka mungkin perang akhir akan terjadi antara Islam dan
Demokrasi Barat.
Kita yang hidup di negara Barat menikmati kebebasan
mengungkapkan pendapat dan kemajuan ilmu pengetahuan harus mengajak orang untuk
melihat Islam secara logis dan melakukan kritik atas Qur’an. Hanya kritik
Qur’an saja yang dapat menolong Muslim untuk meninjau kembali kitab suci
mereka dengan penilaian yang lebih masuk akal dan obyektif, dan mencegah
Muslim2 muda untuk bersikap fanatik taat pada ayat2 keras Qur’an. Sudah
menjadi kewajiban semua orang yang hidup di dunia Barat untuk mengerti tentang
Islam yang sebenarnya. Tapi jika mereka mencari tahu tentang Islam di toko2
buku utama, yang mereka dapatkan hanyalah Islam yang tampak lunak dari luar.
Hanya dengan membaca tulisan2 yang disusun secara rinci dan sarat keterangan
oleh Dr. Sina dan tim penulisnya saja kita bisa mendapat keterangan lebih jelas
tentang Islam. Sekarang kita memiliki buku Dr. Sina dan kuanjurkan semua warga
negara yang bertanggungjawab yang tadinya mengira Islam adalah agama damai
untuk membacanya dengan seksama. Karena usaha2 berani ilmuwan independen
seperti Dr. Ali Sina, sekarang orang tidak lagi buta terhadap agama yang dapat
memusnahkan segala yang kau sayangi dan hargai.
Ibn Ibn
Warraq adalah penulis Leaving Islam,
What the Koran Really Says, The Quest for the Historical Muhammad, The Origins
of the Koran dan Why I Am Not a
Muslim, buku yang membuka mata banyak Muslim dan mempertanyakan agama yang
mereka banggakan..
Kelahiran
dan Masa Kecil Muhammad
Penyerangan
terhadap Banu Qainuqa’
Penyerangan
terhadap Banu Quraiza
![]()
Setelah
serangan 9/11 di Amerika, seorang ibu Amerika mengatakan padaku dengan gundah
bahwa putranya yang berusia 23 tahun telah memeluk Islam. Dia menikahi seorang
Muslimah yang tidak pernah bertemu sebelumnya dalam pernikahan yang diatur oleh
imamnya. Sekarang mereka telah punya seorang bayi. Putranya ingin pergi ke
****
Samaira Nazir adalah wanita warga negara Inggris keturunan
****
Muhammad Ali al-Ayed,
23 tahun, adalah putra jutawan Saudi yang tinggal di Amerika Serikat. Di saat
petang di bulan Agustus, 2003, dia memanggil kawannya seorang Yahudi Maroko
bernama Sellouk untuk bertemu. Keduanya minum di sebuah bar sebelum pergi ke
apartemen Al-Ayed sekitar tengah malam. Al-Ayed mengambil pisau dan menusuk
kawan Yahudinya sampai bagian tubuh kawannya hampir terpisah. Rekan kamar
Al-Ayed berkata pada polisi bahwa kedua orang itu “tidak berdebat sebelum
akhirnya Al-Ayed membunuh Sellouk.” Alasan tindakan pembunuhan darah
dinginnya adalah karena “perbedaan agama”, demikian kata pengacara
Ayed.
****
Mohammad Taheri-azar
berusai 25 tahun dan adalah keturunan
****
Sanao Menghwar dan
istrinya adalah pasangan Hindu yang tinggal
“Menculik gadis2
Hindu sudah jadi tindakan lumrah. Gadis2 ini dipaksa menandatangani kertas
perjanjian bercap yang menyatakn mereka telah jadi Muslim,” kata Laljee,
seorang warga Hindu di Karachi. “Masyarakat Hindu terlalu takut untuk
menunjukkan kemarahannya – mereka takut jadi korban Muslim,”
tambahnya.
Banyak gadis2 Hindu
yang mengalami nasib yang sama di
Ketika seorang gadis
Hindu diIslamkan, ratusan Muslim turun ke jalan dan berteriak2 mengucapkan
slogan2 agama Islam. Jeritan tangis orangtua gadis tersebut tidak didengar
pihak Pemerintah. Gadis
****
Di bulan Oktober 2005,
tiga gadis remaja berjalan di perkebunan coklat dekat
****
Muriel Degauque adalah
orang Belgia yang berusia 38 tahun. Menurut tetangganya yang telah mengenalnya
sejak kecil, Muriel dulu adalah gadis kecil yang “benar2 normal”
yang suka naik papan luncur di salju ketika musim dingin. Dia masuk Islam dan
lalu menikah dengan seorang Muslim. Tak lama setelah itu, dia pergi bersama
suaminya ke Irak melalui
Semua perbuatan2 di
atas adalah gila, tapi yang ironis adalah semua pelaku perbuatan2 itu adalah
orang2 yang waras. Mereka tidak sakit jiwa. Apakah yang membuat mereka
melakukan tindakan2 kriminal yang sedemikian keji? Jawabnya adalah: Islam.
Kejadian2 di atas adalah kejadian2 yang biasa terjadi di dunia Islam. Di mana2
para Muslim sibuk membunuhi orang2 demi kepercayaan mereka.
Mengapa? Apa yang
membuat orang waras melakukan perbuatan demikian keji? Mengapa banyak Muslim
yang sedemikian marahnya terhadap orang lain, sedemikian sukanya berperang
sehingga gampang sekali melakukan kekerasan? Jutaan Muslim melakukan kekacauan
masal, protes keras, dan membunuh orang2 tak berdosa di setiap saat, di mana2,
dan mereka lalu mengutip perkataan2 Muhammad. Tingkah laku ini tidak masuk
akal. Tapi pelakunya adalah orang2 waras. Bagaimana kita menjelaskan hal ini?
Untuk bisa mengerti hal
ini, kita harus tahu bahwa Muslim diharapkan untuk berpikir seperti nabi
mereka. Sehingga akibatnya, sifat, iman, pikiran dan perilaku Muslim
mencerminkan sifat dan pikiran Muhammad. Karena Muhammad adalah contoh segala
kebajikan dalam Islam, maka diharapkan Muslim menirunya pula dalam segala hal,
melakukan apa yang dia lakukan, dan berpikir seperti cara dia berpikir. Secara
keseluruhan akibatnya adalah Muslim mengambil jatidiri Muhammad dan
meninggalkan jatidiri, hati nurani dan kepribadian mereka secara mendalam.
Sewaktu Muslim telah menempati dunia narsistik Muhammad dan secara persis
meniru contoh perbuatannya, mereka menjadi penerus dirinya. Muslim bagaikan
ranting dari pohon Islam dan akar dari pohon ini adalah Muhammad. Muslim
menyerap sifat, kelakukan dan pikiran Muhammad. Bisa dikatakan bahwa setiap
Muslim bagaikan Muhammad sendiri dalam ukuran kecil. Karena itu, untuk bisa
memahami Muslim secar pribadi atau kelompok, kita per-tama2 harus tahu dan mengenal
Muhammad.
Sebenarnya sangat
riskan untuk menyelidiki Muhammad karena para Muslim sangat gampang tersinggung
jika ada orang yang berani mengritik nabi mereka. Komentar apapun yang paling
remeh sekalipun sanggup membuat Muslim mata gelap. Meskipun Muslim tidak
tersinggung jika orang lain mengritik masyarakat Muslim, tapi mereka sangat
menolak segala kritik terhadap nabi mereka.
Tidak mungkin untuk
melakukan pengamatan jiwa secara seksama dari orang yang sudah mati
berabad-abad yang lalu. Akan tetapi, terdapat banyak keterangan rinci tentang
kehidupan Muhammad dan perkataannya dicatat secara seksama. Banyak catatan yang
di-lebih2kan dan penuh hiperbola. Sudah bisa diduga bahwa pengikutnya akan
menaikkan status nabi mereka, dengan mengarang keajaiban2 yang diciptakannya
dan menampakkan dirinya sebagai orang suci. Akan tetapi di biografi Muhammad
(Sirat Rasul Allah), kita juga bisa membaca ribuan keterangan yang tidak
menampakkan dia sebagai orang suci, tapi malah menampakkan dirinya sebagai
orang yang jahat, keji, licik, dan bahkan menderita penyimpangan seksua. Tiada
alasan untuk mengira kisah2 ini dikarang saja tanpa fakta.
Kisah hidup nabi yang
terus-menerus berlangsung disebut sebagai mutawattir. Kisah ini diwariskan ke
generasi berikutnya melalui banyak mata rantai penyampai cerita dari berbagai
kalangan. Tidak mungkin orang2 penyampai cerita yang hidup di tempat yang
berbeda dan punya pemahaman berbeda dapat berkumpul bersama untuk mengarang
kebohongan yang persis sama tentang nabi mereka.
Dengan mempelajari
kisah kehidupan sang nabi (hadis) dan Al-Qur’an, yakni buku yang
dipercayai setiap Muslim berisi kata2 Tuhan secara harafiah, maka kita bisa
mengintip jalan pikir Muhammad untuk mengerti perbuatannya dan mengapa dia
berbuat demikian. Aku akan mengutip pendapat2 dan teori2 dari berbagai ahli
jiwa (psikolog dan psikiatris), dan membandingkan apa yang diperbuat Muhammad
dengan analisa para ahli jiwa. Semua sumber yang kukutip adalah para ahli di
bidang psikopatologi. Apa yang mereka katakan dapat diterima akal sehat dan
diakui oleh kebanyakan para ahli di bidang ini.
Buku ini bukanlah
penelaahan kejiwaan orang yang hidup 1.400 tahun yang lalu tapi lebih bertujuan
untuk mengungkapkan karisma Muhammad. Muhammad bagaikan sebuah misteri bagi
banyak orang, terutama bagi pengikutnya yang menerima dongeng dan pesona
Muhammad secara menyeluruh tapi tidak mau meninjau lebih jauh daripada itu.
Perbuatannya sangat jauh dari perbuatan orang suci, tapi dia menunjukkan semua
tanda2 bahwa dia benar2 percaya akan perbuatannya. Bagaimana mungkin orang yang
begitu penuh dendam, kejam, dan rusak moral bisa memiliki karisma besar yang
tidak hanya menyihir sahabat2nya saja, tapi juga milyaran orang2 dalam waktu
ber-abad2?
Michael Hart dalam
bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History
menempatkan Muhammad di ranking nomer satu, lalu diikuti oleh Isaac Newton,
Yesus Kristus, Buddha, Kong Hu Cu and Paulus. Daftar nama yang dibuat Hart itu
tidak mengindahkan apakah pengaruh tokoh tersebut adalah pengaruh buruk atau
baik. Dalam daftarnya juga tercantum berbagai penguasa kejam seperti Adolph
Hitler, Mao Ze Tung dan Joseph Stalin. Bahkan nama Niccolò Machiavelli
juga tercantum dalam daftar itu. Bagaimana orang seperti Muhammad yang tidak
berkemanusiaan bisa jadi orang yang paling berpengaruh dalam sejarah? Dalam
buku ini aku berusaha mengungkapkan jawaban pertanyaan ini lebih berhubungan
dengan keadaan jiwa manusia daripada apa yang diperbuat Muhammad.
Islam menyebabkan
pertumpahan darah lebih banyak daripada sebab2 lain di dunia. Menurut beberapa
ahli sejarah, di India saja, lebih dari 80 juta orang dibunuh pedang Islam.
Jutaan orang mati dibunuh di
Para Muslim sering
membual, “Kami lebih cinta kematian daripada kehidupan.” Mereka
membuktikannya dengan terjadinya ribuan serangan teroris di tahun2 terakhir. Bagaimana
mungkin Muhammad seorang diri mampu mempengaruhi begitu banyak orang, yang
dengan senang hati mati baginya dan bahkan tidak ragu mengorbankan anak2 mereka
sendiri demi dia? Mengapa 25 dari 28 perang yang sedang berlangsung didunia,
ternyata melibatkan Muslim yang jumlahnya hanya seperlima jumlah manusia
seluruh dunia? Berdasarkan statistik ini, Muslim secara kelompok punya
kecenderungan 33 lipat kali lebih besar untuk menggunakan kekerasan sebagai
jalan keluar suatu masalah dibandingkan manusia2 non-Muslim. Mengapa bisa
demikian?
Islam adalah hasil
pikiran Muhammad. Muslim membaca kata2nya dalam Al-Qur’an dan hadis dan
mengikuti semua perbuatannya secara seksama dalam hidupnya. Bagi mereka, dia
adalah makhluk terbaik, manusia paling sempurna, dan teladan yang patut
dicontoh. Mereka percaya jika Muhammad melakukan sesuatu, tidak peduli sebiadab
apapun, maka itu adalah tindakan yang benar. Tidak ada pertanyaan dan tidak ada
masalah moral yang dipertanyakan.
Buku ini menyampaikan
dua masalah. Yang pertama adalah Muhammad menderita kelainan jiwa narsistik.
Yang kedua adalah Muhammad menderita temporal lobe epilepsi (Adadeh: sebelum
epilepsi terjadi, sang penderita mengalami perasaan gundah atau berkhayal
mendengar suara, mencium bau atau mengecap rasa).
Meskipun buku ini tidak
khusus ditulis bagi kaum Muslim, tapi aku menulisnya bagi mereka. Seperti yang
dikatakan dalam pepatah
(3) Tuhanmu tiada
meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, (4) dan sesungguhnya akhir
itu lebih baik bagimu dari permulaan. (5) Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan
karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (6) Bukankah Dia
mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. (7) Dan Dia
mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (8 )
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan
kecukupan. (Q. 93:3-8)[6]
Marilah kita mulai
dengan kisah Muhammad. Siapakah dia dan apa yang dipikirkannya? Di bab ini
dengan singkat akan dijabarkan kejadian2 penting dalam hidupnya. Islam adalah
sama dengan Muhammadisme. Muslim memang bilang mereka tidak menyembah siapapun
selain Allah, tapi Allah hanyalah alter ego atau alias lain Muhammad, atau
wujud karangannya sendiri. Dalam prakteknya, yang disembah Muslim sebenarnya
adalah Muhammad dan memang itulah yang diinginkan Muhammad. Islam adalah aliran
kepercayaan yang bersumber dari Muhammad. Kita akan baca kata2nya yang
tercantum dalam Qur’an, yang diakuinya sebagai kata2 Tuhan, dan menilai
dirinya melalui kacamata sahabat2 dan istri2nya. Kita akan melihat bagaimana
dia berubah dari pengkhotbah yang tidak dipedulikan orang2 menjadi pemimpin
seluruh Arabia hanya dalam waktu sepuluh tahun, bagaimana dia memecah-belah
orang2 agar bisa menguasai mereka, bagaimana dia membangkitkan keinginan
memberontak dan benci dan marah orang2 untuk mengobarkan perang terhadap orang
lain dan bagaimana dia menggunakan penyerangan2, perkosaan, siksaan, dan
pembunuhan untuk membuat takut korban2nya dan menundukkan mereka. Kita akan
mempelajari tindakan2 pembunuhan masalnya dan kesukaannya menggunakan tipuan
sebagai strategi yang sama yang digunakan para teroris Muslim masa kini. Yang
mereka lakukan persis sama seperti yang dilakukan nabi mereka.
Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad
Di tahun 570 A.D., di Mekah,
Beberapa wanita kaya Arab kadangkala menyewa wanita2 lain untuk menyusui
bayi2 mereka. Hal ini memungkinkan wanita kaya itu untuk tidak menyusui dan
bisa punya anak lagi dengan cepat. Lebih banyak anak berarti lebih tinggi
status sosialnya. Tapi bukan ini yang terjadi pada Amina janda miskin yang
hanya punya satu anak untuk diurus. Abdullah, ayah Muhammad, meninggal enam
bulan sebelum Muhammad lahir. Juga kebiasaan ini tidak terlalu sering
dilakukan. Lihat misalnya Khadijah, istri pertama Muhammad, yang merupakan
wanita terkaya di Mekah. Dia punya tiga anak dari perkawina sebelumnya dan
tujuh anak dari perkawinannya dengan Muhammad, dan dia merawat mereka semua
seorang diri. [7]
Mengapa Amina
menyerahkan anak satu2nya untuk dibesarkan orang lain? Hanya ada sedikit
keterangan bagi kita untuk mengerti tentang ibu Muhammad dan keputusan yang
diambilnya.
Keterangan menarik yang
menunjukkan keadaan psikologi Amina dan hubungannya dengan bayinya adalah Amina
tidak menyusui Muhammad. Setelah Muhammad lahir, dia diserahkan kepada Thueiba,
yang adalah pelayan paman Muhammad yang bernama Abu Lahab (orang yang sama yang
dikutukinya di Sura 111 di Qur’an, sekalian juga dengan istrinya), untuk
disusui. Tidak ada keterangan mengapa Amina tidak menyusui anaknya. Yang bisa
kita lakukan adalah menduga. Apakah dia mengalami tekanan bathin karena
menjanda di usia mudanya? Apakah dia pikir anaknya merupakan halangan baginya
untuk menikah lagi?
Kematian anggota
keluarga dapat mengakibatkan perubahan kimia dalam otak yang mengakibatkan
tekanan jiwa (depresi). Sebab lain yang mengakibatkan dapat wanita mengalami
tekanan jiwa adalah: hidup sendirian, gelisah tentang keadaan janinnya, masalah
perkawinan atau keuangan dan usia muda ibu. Amina baru saja kehilangan
suaminya, dia hidup sendiri, miskin, dan muda. Berdasarkan keterangan yang ada,
dia tampaknya mengalami tekanan jiwa. Hal ini dapat menganggu kemampuan ibu
untuk menumbuhkan ikatan bathin dengan bayinya. Juga, tekanan jiwa selama
mengandung dapat pula mengakibatkan ibu mengalami tekanan jiwa berikutnya
setelah melahirkan bayi (postpartum depression)..[8]
Beberapa penyelidikan
ilmiah menunjukkan bahwa tekanan jiwa yang dialami ibu mengandung dapat
berakibat langsung pada janin. Bayi2 yang lahir biasanya menjadi cepat marah
dan lamban. Bayi2 ini dapat tumbuh menjadi anak2 balita yang lamban belajar dan
tidak bereaksi secara emosional, ditambah masalah kelakuan, misalnya suka
melakukan kekerasan.[9]
Muhammad tumbuh diantara orang2 asing. Sewaktu dia besar, dia sadar
bahwa dirinya bukanlah anggota keluarga yang mengurusnya. Dia semestinya heran
mengapa ibunya, yang hanya mengunjunginya dua kali setahun, tidak
menginginkannya.
Halima adalah wanita yang menyusui Muhammad. Enam puluh tahun berikutnya
terungkap bahwa awalnya Halimah tidak mau mengurus Muhammad karena dia anak
yatim dari janda miskin. Tapi akhirnya Halimah mau mengurus Muhammad karena dia
tidak mendapatkan anak dari keluarga kaya, dan keluarganya sendiri sangat butuh
uang meskipun sedikit sekalipun. Apakah ini tampak pada cara Halimah mengurus bayi
itu? Apakah Muhammad merasa tidak dikasihi di keluarga angkatnya selama tahun2
awal penting yang menentukan sifat seseorang?
Halima melaporkan bahwa Muhammad adalah anak yang penyendiri. Dia suka
hidup dalam dunia khayalannya sendiri dan bercakap-cakap dengan teman2
khayalannya yang tidak bisa dilihat orang lain. Apakah ini reaski dari anak
yang tidak dikasihi di dunia nyata sehingga dia menciptakan khayalannya sendiri
untuk menghibur dirinya dan merasa dikasihi?
Kesehatan mental Muhammad mengkhawatirkan ibu asuhnya sehingga dia
mengembalikan Muhammad kepada ibunya Amina ketika berusia
Ayahnya (ayah dari anak laki Halima satu2nya) berkata kepadaku,
“Aku takut anak ini mengalami serangan jantung, maka bawalah dia kembali
ke keluarganya sebelum terjadi akibat buruk”… Dia (ibu Muhammad)
menanyakan padaku apa yang terjadi dan terus menggangguku sampai aku
menceritakan padanya. Ketika dia bertanya apakah aku takut anaknya (Muhammad)
kerasukan setan, maka kujawab iya. [10]
Adalah normal bagi
anak2 untuk melihat monster di bawah tempat tidur mereka dan bicara dengan
orang2 khayalannya. Tapi kasus Muhammad tentunya langka dan mengkhawatirkan.
Suami Halima berkata, “Aku takut anak ini mengalami serangan
jantung.” Keterangan ini penting. Bertahun-tahun kemudian, Muhammad
bicara tentang pengalaman masa kecilnya yang aneh:
Dua orang berpakaian
putih datang padaku dengan baskom emas penuh salju. Mereka memegangku dan
membelah tubuku dan mengambil dari dalam tubuhku gumpalan hitam yang lalu
mereka buang. Lalu mereka mencuci jantung dan tubuhku dengan salju sampai murni.[11]
Sudah jelas bahwa
kekotoran pikiran tidak tampak sebagai gumpalan dalam jantung. Meskipun
nyatanya anak2 tidak berdosa, dosa sendiri tidak dapat dihilangkan lewat
operasi bedah dan salju bukanlah bahan pembersih yang baik. Cerita ini sudah
jelas hanyalah khayalan dan halusinasi saja.
Muhammad sekarang hidup
lagi bersama ibunya, tapi ini tidak berlangsung lama. Setahun kemudian Amina
meninggal. Muhammad tidak banyak bicara tentang ibunya. Ketika Muhammad
menaklukkan Mekah,
Ini adalah kuburan ibuku;
Tuhan mengijinkanku untuk melawatnya. Aku ingin berdoa baginya, tapi tidak
dikabulkan. Maka aku memanggil ibu untuk mengenangnya dan ingatan lembut
tentang dirinya menyelubungiku, dan aku menangis. [12]
Mengapa Tuhan tidak
mengabulkan Muhammad berdoa bagi ibunya? Apa yang dilakukan Amina sehingga dia
tidak layak untuk dimaafkan? Ini sungguh tidak masuk akal. Sudah jelas Tuhan
tidak ada hubungannya dengan hal ini. Muhammad sendirilah yang tidak bisa
memaafkan ibunya, bahkan separuh abad setelah dia mati. Dia mungkin
mengingatnya sebagai wanita yang dingin dan tidak sayang anak, sehingga
Muhammad tidak menyukainya dan mengalami luka bathin yang tidak pernah sembuh.
Muhammad kemudian hidup
bersama kakeknya selama dua tahun. Kakeknya yang telah ditinggal mati putranya,
sangat memanjakan Muhammad. Ibn Sa’d menulis bahwa Abdul Muttalib sangat
memperhatikan Muhammad lebih banyak daripada memperhatikan putra2nya sendiri.[13] Muir
dalam Biography of Muhammad menulis: “Anak itu dirawat dengan penuh kasih
sayang olehnya. Sebuah karpet biasa dibentang di bawah bayang2 Ka’bah,
dan di situ orang tua (kakek Muhammad) itu berbaring terlindung dari terik
matahari. Di sekitar karpet, dengan jarak yang tidak jauh, duduklah putra2nya.
Muhammad kecil berlari mendekat pada kakeknya dan mengambil karpet tersebut.
Putra2nya hendak mengusirnya pergi, tapi Abdul Muttalib mencegahnya dan
berkata: “Jangan larang putra kecilku.” Dia lalu mengelus
punggungnya karena merasa girang melihat tingkah lakunya yang kekanakan. Anak
laki ini masih diurus ibu asuhnya yang bernama Baraka, tapi Muhammad selalu
lari darinya dan pergi ke tempat tinggal kakeknya, bahkan jika dia sedang
sendirian dan tidur. [14]
Muhammad ingat
perlakuan penuh kasih sayang yang diterimanya dari Abdul Muttalib. Sambil tak
lupa membumbui dengan khayalannya sendiri, dia di kemudian hari berkisah bahwa
kakeknya biasa berkata, “Biarkan dia karena dia punya nasib yang hebat,
dan akan menjadi pewaris kerajaan;” dan berkata pada Baraka, “Awas,
jangan sampai dia jatuh ke tangan orang2 Yahudi dan Kristen, karena mereka
mencarinya dan akan melukainya!”[15] Akan tetapi, tiada seorang pun yang
ingat perkataan ini karena sebenarnya paman2nya tidak percaya perkataannya,
kecuali Hamza yang berusia sepantar dengan Muhammad. Abbas juga di kemudian
hari bergabung dengan Muhammad, tapi itu terjadi setelah bintang Muhammad
bersinar dan dia dan pasukannya berada di depan Mekah untuk siap menyerang.
Nasib sekali lagi tidak berpihak pada Muhammad. Hanya dua tahun setelah
dia hidup bersama kakeknya, sang kakek meninggal dunia di usia delapan puluh
dua tahun dan Muhammad lalu diasuh oleh pamannya Abu Talib.
Muhammad merasa sedih karena kehilangan kakek yang mengasihinya. Ketika
dia berada di penguburan jenazah di Hajun, dia menangis. Bertahun-tahun
kemudian dia masih mengenang kakeknya.
Abu Talib mengasuh Muhammad dengan penuh kasih pula. “Kasih
sayangnya pada Muhammad sama besarnya seperti kasih sayang Abdul Muttalib
padanya,” tulis Muir. “Dia mengijinkannya tidur di atas ranjangnya,
makan di sisinya, dan pergi bersamanya ke luar negeri. Dia terus memperlakukan
Muhammad dengan lembut sampai Muhammad dewasa.” [16]
Ibn Sa’d mengutip Waqidi yang mengisahkan bahwa Abu Talib, meskipun
tidak kaya, mengasuh Muhammad dan mencintainya lebih dari anak sendiri.
Karena kehilangan
orang2 yang dikasihinya secara berturut-turut di masa kecilnya, Muhammad takut
ditinggalkan dan kejadian ini tentunya berdampak emosi kuat. Hal ini tampak
jelas dalam kejadian di waktu dia berusia 12 tahun. Suatu hari, Abu Talib
hendak pergi ke
Meskipun Abu Talib merawatnya
dengan penuh kasih dan terus membela Muhammad sampai ajal, mengasihinya lebih
dari anak sendiri, pada akhirnya Muhammad terbukti sebagai keponakan yang tak
tahu terima kasih. Ketika pamannya hampir ajal di ranjang, Muhammad
menengoknya. Semua putra2 Abu Muttalib juga ada di situ. Abu Talib selalu
memikirkan kebaikan bagi Muhammad dan dia meminta dengan tulus pada saudara2
lakinya untuk melindungi Muhammad yang sekarang berusia 53 tahun. Mereka
berjanji untuk melakukannya, termasuk Abu Lahab, yang dikutuki Muhammad dalam
Qur’an. Setelah itu Muhammad meminta pamannya masuk Islam.
Muhammad sadar bahwa
pengikut2nya adalah orang2 lemah dari kalangan rendah. Untuk mendongkrak
keberadaannya, dia butuh orang berpengaruh masuk Islam. Ibn Ishaq menulis:
“Ketika orang2 datang di perayaan2, atau ketika sang Rasul mendengar ada
orang penting yang hendak berkunjung ke Mekah, dia akan mendatangi orang itu
dan menyampaikan pesannya.”[18] Tulisan sejarah juga mengisahkan pada
kita bahwa Muhammad sangat girang luar biasa ketika Abu Bakr dan Omar menjadi
pengikutnya. Jika Abu Talib bersedia masuk Islam, maka Muhammad akan tampak
lebih terhormat diantara para pamannya dan masyarakat Quraish. Suku Qurasih
adalah suku Arab yang tinggal di Mekah dan penjaga bangunan Ka’abah. Muhammad
sangat butuh pengakuan kebenaran agamanya dari Abu Talib. Akan tetapi sang
paman tersenyum dan berkata bahwa dia lebih memilih mati dengan agama kakek
moyangnya. Maka punahlah harapan Muhammad. Dia lalu meninggalkan ruangan sambil
berkata: “Aku ingin berdoa baginya, tapi Allâh melarangku.”
Sukar dipercaya bahwa
Allah melarang nabinya meminta ampun bagi orang yang membesarkannya,
melindunginya sampai ajal, dan berkorban begitu banyak baginya. Kalau memang
Tuhan berbuat demikian, hal ini akan menurunkan derajat Tuhan sedemikian rupa
sehingga tak layak disembah. Pengorbanan Abu Talib dan keluarganya demi
kepentingan Muhammad sangatlah banyak. Meskipun tidak percaya akan Islam, Abu
Talib berdiri bagaikan batu tegar menghadapi seluruh rakyat Quraish untuk
membela Muhammad dari segala ancaman yang ada dan selama 38 tahun dia terus
menjadi pendukung Muhammad tanpa henti. Meskipun begitu, Muhammad bukanlah
keponakan yang tahu balas budi. Ketika Abu Talib tidak mau masuk Islam,
Muhammad merasa begitu ditolak sehingga dia tidak mau mendoakan pamannya yang
hampir ajal.
Tidak banyak yang
terjadi di masa muda Muhammad dan tidak ada hal yang dianggap penting dicatat
oleh penulis kisah hidupnya. Dia dikabarkan adalah orang yang pemalu, pendiam
dan tidak terlalu suka berhubungan sosial. Meskipun disayang dan dimanja
pamannya, Muhammad tetap peka dengan statusnya sebagai anak yatim piatu.
Kenangan masa kecil yang sepi dan tanpa kasih terus menghantui sepanjang
hidupnya.
Tahun2 berlalu.
Muhammad tetap saja suka menyendiri dan lebih memilih hidup di dunianya
sendiri, bahkan jauh dari orang2 yang dikenalnya. Bukhari[19]
menulis bahwa Muhammad “lebih pemalu daripada perawan wanita
bercadar.”[20] Dia tetap saja
begitu seumur hidupnya, tidak percaya diri dan pemalu. Dia berusaha
mengatasinya dengan membesarkan, menyombongkan dan memuja-muja diri sendiri.
Muhammad tidak melakukan pekerjaan apapun yang penting. Saat2 tertentu
dia menggembalakan kambing, dan ini sebenarnya adalah pekerjaan kaum perempuan
dan dianggap bukan kerjaan lelaki oleh orang2 Arab. Bayarannya rendah dan dia
bergantung pada kemurahan hati pamannya.
Akhirnya, ketika
Muhammad berusia 25, Abu Talib mencarikannya pekerjaan sebagai bendahara di
sebuah perusahaan milik wanita pedagang kaya yang juga masih saudara jauh,
bernama Khadijah. Khadijah berusia 40 tahun, dia adalah seorang janda yang
sukses dalam berdagang. Muhammad melakukan satu perjalanan ke
Muhammad butuh dukungan finansial dan emosional. Baginya, pernikahan
dengan Khadijah merupakan untung besar. Dari Khadijah, dia bisa mendapatkan
kasih sayang keibuan yang tidak didapatkannya sejak kecil, dan juga jaminan
keuangan sehingga dia tidak perlu kerja lagi.
Khadijah dengan senang hati memenuhi segala keperluan suaminya. Dia
merasa bahagia dari melakukan kegiatan memberi, mengasuh, dan mengorbankan
diri.
Muhammad tidak suka bekerja. Dia lebih memilih mengasingkan diri dan
berkhayal dengan pikiran2nya sendiri. Bahkan sewaktu kecil, dia pun menghindari
anak2 lain dan tidak mau berteman dengan mereka. Dia seringkali menyendiri. Dia
tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa bahagia dan menikmati kehidupan. Dia
jarang tertawa, dan jika dia tertawa, dia menutup mulutnya. Dari sinilah
awalnya kebiasaan Muslim menganggap tertawa bukan perbuatan suci.
Dalam dunianya yang penuh khayalan, Muhammad tidak lagi merasa terasing
dan tak diinginkan seperti yang dialaminya ketika kecil, tapi dia merasa
dikasihi, dihormati, dipuji, dan bahkan ditakuti. Ketika dunia nyata terlalu
berat untuk dihadapi dan dia merasa kesepian, maka dia melarikan diri ke dunia
khayalannya, di mana dia bisa menjadi siapapun yang dia inginkan. Tentunya dia
telah melakukan hal ini sejak masih sangat kecil ketika hidup di keluarga
angkatnya dan menghabiskan waktu sendirian di gurun pasir. Dunia fantasinya
yang ideal dan menyenangkan selalu menjadi tempatnya berlindung selama
hidupnya. Baginya, dunia fantasi itu sama dengan dunia nyata, hanya jauh lebih
menyenangkan. Muhammad tidak membantu Khadijah mengurus ke sepuluh anaknya
karena dia lebih memilih menyendiri di gua2 sekitar Mekah, menghabiskan
waktunya seharian di dunianya sendiri, sibuk berkhayal dan bermimpi.
Suatu hari, ketika Muhammad berusia 40 tahun, dan setelah menghabiskan
waktu berhari-hari di sebuah gua seorang diri, Muhammad mengalami pengalaman
yang aneh. Dia mulai mengalami kontraksi otot, sakit perut, dan merasa seperti
dihimpit kuat2, kejang2 otot, kepala dan bibir bergerak-gerak di luar kontrol,
berkeringat, dan jantung berdebar-debar. Dalam keadaan ini, dia mendengar
suara2 dan mengaku melihat hantu.
Dia lari ke rumah ketakutan, gemetar dan berkeringat. “Tutupi aku,
tutupi aku,” pintanya kepada istrinya. “O Khadijah, ada apa dengan
diriku?” Dia menceritakan semua yang terjadi dan berkata, “Aku
takut sesuatu telah terjadi padaku.” Dia mengira kerasukan setan lagi.
Khadijah menenangkannya dan mengatakan padanya untuk tidak merasa takut, karena
dia sebenarnya didatangi seorang malaikat dan dipilih sebagai nabi.
Setelah pertemuannya dengan makhluk halus yang disebut istrinya sebagai
malaikat Jibril, Muhammad yakin akan status nabinya. Kedudukan nabi
menyenangkan hatinya dan memenuhi angan2nya untuk merasa megah diri. Dia pun
mulai berkhotbah.
Lalu apakah isi pesan khotbahnya? Tidak ada pesan apapun. Yang dia tahu
adalah dia telah menjadi seorang rasul. Karena itu, pesan utama hanyalah
menyampaikan berita kerasulannya kepada siapapun dan membuat orang percaya
bahwa dia adalah seorang rasul. Sebagai hasilnya, orang harus menghormatinya,
mencintainya, mentaatinya, dan bahkan takut terhadap dirinya. Setelah
berkhotbah selama 23 tahun, inti pesan Muhammad tetaplah sama. Pesan utama
Islam adalah Muhammad adalah seorang rasul dan orang harus taat padanya.
Siapapun diharapkan untuk menghormatinya, mencintainya, mentaatinya, dan bahkan
takut padanya. Selain dari itu, tiada pesan apapun. Yang tidak mau taat akan
dihukum, baik di dunia fana maupun baka. Keesaan Tuhan yang menjadi dasar agama
Islam, awalnya bukan merupakan bagian pesan Muhammad.
Setelah membuat jengkel masyarakat Mekah selama bertahun-tahun dengan
mengejek agama dan dewa2 mereka, maka masyarakat Mekah akhirnya tidak mau
berhubungan dengan dia dan pengikutnya lagi, termasuk hubungan dagang. Sikap
mendiamkan dan boikot ekonomi mengakibatkan banyak kesusahan pada kaum Muslim
sehingga Muhammad memerintahkan mereka pindah ke
Tak lama kemudian, Muhammad sadar bahwa mengakui putri2 Allâh
sebagai dewi-dewi telah merusak kedudukannya sendiri sebagai satu2nya perantara
bagi Allâh dan manusia, dan membuat agamanya tidak beda dengan agama
pagan, dan karena itu agamanya jadi tak berguna. Maka dia menarik kembali kedua
ayat yang mengakui putri2 Allâh dan menyebutnya sebagai ayat2 setan.
Setelah itu dia mengeditnya dengan “Apa!
Anak2 laki bagimu dan bagiNya anak2 perempuan! Ini jelas pembagian yang tidak
adil!”[22] Artinya, betapa beraninya kamu menyebut
Tuhan punya anak2 perempuan, sedangkan kau sendiri bangga punya anak2 laki?
Kaum wanita dianggap bodoh dan karenanya tidak layak bagi Allâh untuk
punya anak2 perempuan. Memang ini benar2 tidak adil
Beberapa pengikut Muhammad meninggalkannya karena kejadian ini. Untuk
mensahkan pergantian ayat dan mendapatkan kembali kepercayaan pengikutnya, dia
mengaku semua nabi juga kadangkala ditipu setan, yang memberi gagasan secara
licik agar mereka mengucapkan ayat2 setan dan sepertinya itu datang dari Tuhan.
Qur’an Al-Hajj (22) ayat 52-53
(52) Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak
(pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan
pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa
yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (53) agar Dia menjadikan apa yang
dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.
Muhammad wrote these verses because several of his followers, realizing
that he was making the Qur’an up as situation dictated, left him. What these verses essentially say, to
put it even more bluntly, is that even when I, Muhammad goof and you catch me
with my pants down, it is still
your fault because your heart is diseased.
Muhammad menulis ayat2 di atas karena beberapa pengikutnya sadar dia
mengarang Qur’an sesuai situasi dan kondisi, sehingga mereka lalu
meninggalkannya. Yang dikatakan Q 22:52-53 sebenarnya adalah:
Jika aku, Muhammad, ngawur dan tertangkap basah olehmu, maka itu adalah
salahmu sendiri karena hatimu rusak.
Tiga belas tahun telah berlalu dan Muhammad hanya punya sekitar 70
sampai 80 orang pengikut. Istrinya yang tidak hanya menafkahinya, tapi juga
mengaguminya, memujanya, memujinya, dan dia adalah pengikut Muhammad yang
pertama. Posisi sosialnya yang terhormat meyakinkan orang2 lain seperti Abu
Bakar, Othman (Usman) dan Omar untuk bergabung jadi pengikut Muhammad pula.
Selain dari mereka, pengikut Muhammad yang lain adalah budak2 milik orang2 kaya
Quraish, dan beberapa pemuda yang tak punya pengaruh.
Ajakan Muhammad kepada masyarakat Mekah untuk masuk Islam tidak
digubris. Masyarakat Mekah, sama seperti kebanyakan non-Muslim di jaman modern,
bersikap toleran terhadap semua agama. Di jaman itu, tidak ada penindasan
dengan alasan agama. Secara alami, masyarakat polytheis memang umumnya toleran
terhadap agama lain. Memang mereka tersinggung ketika Muhammad menghina dewa2
mereka, tapi mereka tidak melukai Muhammad.
Muhammad mengajak pengikutnya meninggalkan Mekah. Dengan sendirinya,
mereka yang tinggal di Mekah tidak suka akan hal ini. Sanak keluarga Muslim dan
juga majikan2 budak yang memeluk Muslim tidak merasa suka. Beberapa budak
Muslim yang mencoba melarikan diri ditangkap dan dipukuli. Ini tentunya bukan
penindasan agama. Orang2 Mekah hanya ingin mempertahankan apa yang mereka anggap
sebagai harta milik mereka. Contohnya, ketika Bilal (Muslim kulit hitam)
ditangkap, majikannya yang bernama Umaiyah memukuli dan merantainya. Abu Bakr
membeli Bilal dan memerdekakannya. Bilal dihukum majikannya karena mencoba
melarikan diri, dan ini berarti majikannya akan kehilangan budak yang dianggap
harta milik. Jadi Bilal tidak dihukum karena dia memeluk Islam.
Apalagi Ibn Sa’d sendiri juga menyatakan bahwa Bilal adalah martir
yang pertama. Bilal telah lama selamat dari penindasan majikannya, dan dia
kembali lagi ke Mekah saat
Beberapa sumber Islam mengatakan bahwa suami Summayyah yang bernama
Yasir dan putra mereka yang bernama Ammar dibunuh di Mekah. Akan tetapi Muir
juga menunjukkan bahwa setelah Yasir meninggal karena alasan alamiah, Summayyah
menikah dengan budak Yunani bernama Azraq dan dari pria ini dia punya anak yang
bernama Salma.[25] Kalau begitu, bagaimana bisa Summayyah mati
dibunuh? Azraq tinggal di Taif (tak jauh dari Mekah).
Muhammad tidak menentang perbudakan. Di waktu kemudian, setelah dia
berkuasa, dia memaksa ribuan orang yang merdeka untuk diperbudak. Perintahnya
kepada Muslim untuk meninggalkan Mekah mengganggu keadaan sosial dan
mengakibatkan kerusuhan. Karena hal itu dan karena sikapnya yang terus menghina
agama mereka, maka Muhammad jadi orang yang dibenci masyarakatnya sendiri,
yakni masyarakat Quraish. Meskipun demikian, dia dan pengikutnya tidak ditindas
gara2 Islam. Orang2 Muslim menuduh tanpa bukti. Kaum politheis kebanyakan tidak
peduli agama orang lain, karena memang mereka cenderung bersikap pluralistik.
Ka’bah adalah tempat 360 patung berhala, setiap patung mewakili suku
tertentu.
Tidak ada bukti penindasan terhadap Muhammad dan Muslim di Mekah.
Meskipun demikian Muslim menuduh begitu hanya karena Muhammad mengatakannya.
Muslim memang tidak ragu dengan apa yang dikatakan Muhammad. Herannya, beberapa
ahli sejarah non-Muslim yang tidak suka Islam bahkan juga terjebak dan
mengumumkan ketidakbenaran sejarah ini. Muhammad mengaku sebagai korban, tapi
sebenarnya malah dia sendiri yang menindas. Muslim pun melakukan hal yang sama.
Di mana2 Muslimlah yang membunuh, menindas, dan menekan, tapi mereka sendiri
yang menjerit paling keras dan mengaku sebagai korban dan pihak yang ditindas. Untuk
memahami kecenderungan ini, kita harus mengerti keadaan jiwa Muhammad dan
pengikutnya. Ini akan dibahas di bab berikut.
Karena sibuk mengurus sepuluh anak tanpa bantuan dari suami, Khadijah
tidak sempat mengurus bisnisnya, sehingga setelah dia meninggal dunia,
keluarganya jadi miskin. Setelah Khadijah meninggal, pendukung lain Muhammad
yakni pamannya Abu Talib juga meninggal. Karena kehilangan dua pendukung
setianya dan tidak dipedulikan masyarakat Mekah, maka Muhammad mengambil keputusan
hijrah ke
Muhammad sendiri tetap tinggal di Mekah. Lalu di suatu malam, dia
mengaku Allâh memberitahunya bahwa musuh2nya berusaha untuk
mencelakainya. Dia lalu meminta kawan setianya Abu Bakr untuk menemaninya diam2
pergi ke
Q 8:30 Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan
daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Dalam ayat Qur’an ini, tampaknya Allâh menduga2 apa yang
akan direncanakan orang2 Mekah. Bukankah ini jelas hasil dari kecurigaan
Muhammad saja? Muhammad hidup diantara masyarakat Mekah selama 13 tahun,
mengganggun mereka dan menghina agama mereka, sama seperti yang dilakukan
Muslim saat ini terhadap agama2 lain, tapi mereka tetap saja bersikap toleransi
terhadap Muhammad. Selain dari tuduhan Muhammad sendiri, tidak ada catatan
sejarah yang membuktikan mereka ingin mencelakai dirinya.
Dalam sejarah yang ditulis para Muslim sendiri, tidak ada bukti
penindasan terhadap muhammad. Kaum2 tua Quraish yang muak dengan hinaan2
Muhammad melaporkan hal itu kepada pamannya yang sudah tua Abu Talib dan
berkata, “Keponakanmu ini telah mengucapkan kata2 hinaan terhadap dewa2
dan agama kami, dan telah mengatakan kami bodoh, dan mengatakan semua kakek
moyang kami sesat. Sekarang, kau yang berada di pihak kami silakan balas dia;
(karena kau pun mengalami hinaan yang sama), atau jangan lindungi dia agar kami
yang membalasnya.”[27]
Ini bukan ucapan orang2 yang suka menindas. Ini adalah sebuah permintaan
dan peringatan agar Muhammad berhenti menghina dewa2 mereka. Bandingkan dengan
tindakan kaum Muslim modern ketika nabi mereka digambarkan di beberapa kartun.
Muslim2 ini mengamuk dan di tempat2 jauh seperti
Di malam Muhammad ditemani Abu Bakr melarikan diri ke
Muhammad bukanlah orang Arab pertama yang mengaku sebagai nabi. Beberapa
orang lain dari bagian Arab lain telah mengaku diri nabi dan mereka adalah
saingannya. Yang paling terkenal adalah Musailama yang telah mulai khotbah
beberapa tahun sebelum Muhammad mengaku nabi. Tapi tidak seperti Muhammad,
Musailama berhasil diterima di
Masyarakat Arab Medina lebih dapat menerima Muhammad, bukan karena
ajarannya yang intinya hanya percaya bahwa dia itu nabi, tapi karena mereka
bersaing dengan masyarakat Yahudi. Di daerah
Setelah hidup di Yathrib (nama
Ibn Ishaq menulis: “Sekarang Allâh telah mempersiapkan jalan
bagi Islam agar mereka (orang2 Arab) hidup berdampingan dengan kaum Yahudi,
yang adalah para ahli kitab dan pengetahuan, ketika mereka dulu adalah orang2
penyembah banyak dewa dan berhala. Mereka seringkali merampok kaum Yahudi di
daerah2 mereka, dan jika marah kaum Yahudi biasa berkata pada mereka,
‘Seorang nabi akan segera dikirim. Harinya segera tiba. Kami akan
mengikutnya dan membunuh kalian dengan bantuannya…. Jadi ketika mereka
mendengar pesan nabi, mereka berkata satu sama lain: ‘Inilah nabi yang
diperingatkan kaum Yahudi pada kita. Jangan biarkan mereka menemukannya sebelum
kita!” [29]
Sungguh ironis
bahwasanya agama Yudaisme dan kepercayaan akan datangnya Juru Selamat ternyata
jadi dasar kekuatan Islam. Tanpa hal ini, Muhammad tidak akan pernah punya
pengikut dan Islam akan cepat mati sama seperti aliran2 sesat lainnya.
Sekali lagi, hanya
sedikit atau bahkan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan2 Muhammad bahwa
masyarakat Mekah menindas kaum Muslim. Tuduhan ini diulang-ulang terus-menerus
oleh sejarawan2 Muslim maupun non-Muslim. Kemaharan dan sikap permusuhan
terhadap Muslim adalah akibat dari perbuatan Muhammad itu sendiri. Ini jelas
tidak sama dengan apa yang dilakukan Muslim saat ini atau semua penindasan yang
dilakukan Muslim terhadap pengikut2 ajaran non-Islam. Muhammad sendiri, bukan
orang2 Mekah, yang menyuruh Muslim meninggalkan rumah mereka. Muhammad bahkan
menjanjikan ini:
Q 16:41 Dan orang-orang
yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan
tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat
adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui
Orang2 Mekah yang hijrah ke
Q 4:89 Mereka ingin
supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu
menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka
penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika
mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan
janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula)
menjadi penolong,
Apakah arti ayat di atas yang berisi larangan berteman dan ancaman bunuh
yang menuduh kaum Mekah mengusir Muhammad dan pengikutnya meninggalkan tempat
tinggal mereka? Dalam ayat ini, Muhammad mengatakan pada pengikutnya untuk
membunuh Muslim2 lain yang meninggalkannya dan berniat kembali ke Mekah. Hal
ini persis seperti yang terjadi di tempat jemaat Pendeta Jim Jones di Guyana,
di mana Jim Jones memerintahkan orang2nya untuk menembaki siapapun yang
berusaha melarikan diri. Semua ini diciptakan untuk mengasingkan jemaatnya
sehingga dia bisa mengendalikan dan mencuci-otak mereka dengan lebih mudah.
Jika seseorang jauh dari keluarga dan teman2nya, dan bergabung dengan sebuah
aliran yang mengelabui pikirannya, maka orang itu akan sukar berpikir kritis
dan sukar mempertanyakan kekuasaan pemimpinnya.[30]
Meskipun telah mengeluarkan ayat2 panik penuh ancaman bagi mereka yang
berniat meninggalkannya, Muhammad tetap saja harus menemukan jalan untuk
menafkahi pengikut2nya. Dia lalu memerintahkan mereka untuk merampok kafilah2
pedagang Mekah. Dia meyakinkan mereka bahwa masyarakat Mekah telah mengusir
mereka ke luar dari rumah mereka, karena itu sudah jadi hak mereka untuk
merampok orang2 Mekah tersebut
Q.22:39-40 (39) Diizinkan
berperang bagi orang-orang (Islam) yang diperangi (oleh golongan penceroboh),
kerana sesungguhnya mereka telah dianiaya dan sesungguhnya Allâh Amat
Berkuasa untuk menolong mereka (mencapai kemenangan). (40) Iaitu mereka yang
diusir dari kampung halamannya dengan tidak berdasarkan sebarang alasan yang
benar, (mereka diusir) semata-mata kerana mereka berkata: Tuhan kami ialah
Allâh...
Dia juga mengeluarkan banyak ayat2 Qur’an yang membujuk
pengikutnya memerangi non-Muslim.
Q.8:65 Wahai Nabi,
perangsangkanlah orang-orang yang beriman itu untuk berperang. Jika ada di
antara kamu dua puluh yang sabar, nescaya mereka dapat menewaskan dua ratus
orang (dari pihak musuh yang kafir itu) dan jika ada di antara kamu seratus
orang, nescaya mereka dapat menewaskan seribu orang dari golongan yang kafir,
disebabkan mereka (yang kafir itu) orang-orang yang tidak mengerti.
Muhammad menghalalkan serangan2 ini melalui cara yang kita kenal saat
ini sebagai pihak yang jadi korban, sama persis seperti yang dilakukan Muslim
masa kini. Dia mengaku non-Muslim telah menekan kaum Muslim dan melakukan
perang terhadap mereka. Pada kenyataannya, dia sendiri yang memulai permusuhan
dengan merampoki kafilah2 Mekah. Begitu dia mulai cukup tentara yang bersedia
melakukan perintahnya, Muhammad pun memerintahkan mereka membunuhi para
pedagang Quraish pula.
Kebohongan Muhammad sudah jelas tampak. Di satu ayat, Muhammad
memerintahkan para pengikutnya hijrah ke
Simak kata kiasan Arab berikut: Darabani, wa baka; Sabaqani, wa'shtaka
“Dia memukulku dan mulai menangis; lalu dia datang padaku dan menuduhku
memukulnya!” Kiasan ini dengan tepat menggambarkan modus operandi
(siasat)
Muhammad.
Siasat Muhammad ini ternyata sukses sekali. Dia berhasil membuat anak2
laki
berperang melawan ayah2 mereka, mengadu domba saudara kandung lawan
saudara kandung, dan menghancurkan persatuan suku, mencerai-beraikan
masyarakat.
Dengan menggunakan siasat ini, dia akhirnya dapat menguasai seluruh
Beberapa ayah Qur’an memerintahkan para Muslim menyerang orang2
tak berdosa dan merampoki mereka, dengan hadiah di dunia baka dan fana. Q.
48:20 Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang kamu akan
mengambilnya, Untuk mematikan nurani pengikutnya dari rasa bersalah karena
melakukan perampokan, Muhammad membuat Allâh berkata: “Nikmatilah
apa yang kamu ambil dalam perang, sebagai benda yang halal lagi baik”[31]
Banyak kejahatan2 yang dilakukan Muslim selama berabad-abad berasal dari
ayat2 ini dan yang serupa lainnya. Amir Tîmûr-i-lang, yang dikenal
juga dengan nama Tamerlane (1336-1405), adalah seorang kejam yang menjadi
Kaisar melalui tindakan2 banditnya. Dalam autobiografinya yang berjudul Sejarah
Perangku melawan
Tujuan utamaku datang
ke Hindustan (
Bahkan kalaupun kita beranggapan bahwa ke delapan puluh Muslim yang
hijrah memang dipaksa ke luar oleh orang2 Mekah, bagaimana tindakan ini bisa
mengesahkan perampokan kafilah2 tersebut? Harta benda kafilah2 ini belum tentu
milik orang2 yang dulu mengusir Muslim. Apakah setiap orang yang berpikir
dirinya ditindas di suatu
Di
bagian 22, ayat 23 dalam Qur’an, Allâh memberi ijin berperang. Ini
adalah ayat yang sama yang ditulis Osama Bin Laden di suratnya kepada Amerika.
Apakah sekarang kita bisa berkata bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan
terorisme?
Di Medina, pendatang Muslim dari Mekah hanya beberapa orang saja. Agar
lebih berhasil dalam usaha penyerangannya, Muhammad butuh bantuan dari Muslim baru
asal
Akan tetapi, orang2
Q. 2:216 Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah
sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Tak lama kemudian,
usaha sang Nabi mulai berbuah. Terdorong keserakahan ingin dapat harta jarahan
dan janji2 hadiah surgawi, maka Muslim Medina bergabung melakukan perampokan
dan penjarahan. Setelah tentara Muhammad bertambah banyak dan ambisinya semakin
membengkak, dia pun mendongkrak posisinya dengan tidak hanya memerintahkan
pengikutnya berperang baginya “di jalan Allâh” tapi juga
harus bayar biaya perang sekalian.
Q. 2:195 Dan belanjakanlah
(harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.
Perhatikan bagaimana Muhammad menghubungkan “perbuatan baik”
dengan menjarah, meneror, dan membunuh. Dengan memutarbalikkan moralitas
seperti inilah maka Muslim dapat mengesampingkan nurani mereka dan menganut
etika terbalik dalam memperlakukan non-Muslim, yang harus terus dimanfaatkan
demi keuntungan Muslim. Apapun keadaan yang menguntungkan Muslim dianggap baik.
Muhammad membuat pengikutnya percaya bahwa melakukan perang baginya dan
melakukan tindakan terorisme dalam Islam merupakan perbuatan yang menyenangkan
Tuhan
Saat ini, para Muslim yang tidak sanggup berperang, menggantinya dengan
menyumbangkan zakat. Zakat ini tidak untuk membangun rumah sakit, yayasan yatim
piatu, sekolah atau rumah jompo. Sebaliknya, zakat ini digunakan untuk
mengembangkan Islam, untuk membangun mesjid, madrasah, melatih teroris, dan
membiayai jihad. Badan2 sosial Islam membantu kaum miskin hanya demi tujuan
politis semata. Contoh yang tepat bisa dilihat dari banyaknya jumlah uang yang
dibayar Pemerintah
Jika orang2 tidak cukup menyumbang bagi usaha militernya, Muhammad
dengan marah akan menegur mereka:
Q.57:10 Dan mengapa
kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah
yang memusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang
yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka
lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan)
yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dengan cerdik Muhammad menyamakan uang yang dikeluarkan Muslim bagi
usaha militernya sebagai “pinjaman” yang diberikan kepada Tuhan,
dan menjanjikan mereka “bunga illahi” bagi uang mereka:
Q.57:11 Siapakah yang mau
meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan
(balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,
Dengan cara ini, dia membuat pengikutnya percaya bahwa Allâh
berhutang pada mereka karena membantu Muhammad dalam perang2 penjajahannya. Dia
bahkan lebih mempermanis perjanjian utang piutang itu dan membuatnya lebih
menggiurkan lagi dengan janji2 seksual surgawi:
Q. 71:12 dan membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula
di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Meskipun Muhammad membuat Allâh mengatakan pada pengikutnya betapa
besar upah Muslim yang menyumbang usaha militernya, tapi dia tidak mau
pengikutnya bangga terhadap sumbangan dan pengorbanan mereka. Berkorban itu
adalah keberuntungan. Pengikutnyalah yang harus berterima kasih padanya karena
diberi kesempatan melayaninya, dan bukan sebaliknya:
Q. 2:262 Orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak
menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan
mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.
Setelah membangkitkan
semangat mereka untuk mengobarkan perang dan memerintahkan mereka untuk menebas
leher2 kafir, Muhammad meyakinkan pengikutnya bahwa “perbuatan2
baik” mereka tidak akan dilupakan.
Q. 47:4 Apabila kamu
bertemu dengan orang-orang kafir (di
Dengan kata lain,
Allâh dapat membunuh kafir tanpa bantuan Muslim, tapi dia ingin Muslim
melakukannya untuk menguji iman mereka.
Dengan demikian,
Muhammad menggambarkan Allâh sebagai gembong mafia, pemimpin gerombolan
rampok, yang ingin menguji kesetiaan orang2nya dengan menyuruh mereka membunuh.
Dalam Islam, iman Muslim akhirnya diuji dari niat membunuh mereka, kesiapan
mereka untuk membunuh demi Allâh. Maka katanya:
Q. 8:60 Dan siapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan).
Muhammad memberi janji2 kosong bahwa mereka yang berperang (yang
melakukan kegiatan berperang atau yang menyumbang uang) melawan kafir dan
menerima dia sebagai Rasul Allâh akan menerima harta selangit banyaknya
di alam baka. Sewaktu menjelaskan hadiah2 ini, dia membualkan kemulukan luar
biasa. Dia berjanji akan ada berbagai barang indah dan kepuasan seksual tak
terbatas di surga, dan memperingatkan bahaya hukuman bagi mereka yang pedit
menyumbang usaha militernya: [33]
Q. 61:10-11 (10) Hai
orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
Q. 55:53-56 (54) (Di
Surga) Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra.
Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (55) Maka nikmat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (56) Di dalam surga itu ada
bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh
oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka)
dan tidak pula oleh jin.
Q. 78:32-34 (32) (yaitu)
kebun-kebun dan buah anggur, (33) dan gadis-gadis remaja yang sebaya, (34) dan
gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
Q. 57:7 Berimanlah kamu
kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah
telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara
kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.[34]
Ayat2 di atas dan yang
serupa dalam Qur’an dengan mudah menjelaskan mengapa demikian banyak
badan Islam yang mengumpulkan zakat ternyata membiayai kegiatan terorisme.[35] Orang awam akan mengira sumbangan sosial
(zakat) dan kegiatan terorisme adalah dua hal yang bertentangan, tapi Muslim
tidak menganggapnya demikian. Zakat dilakukan untuk menyebarkan Islam dan
mendukung jihad. Bagi orang awam, ini adalah tindakan terorisme; tapi bagi
Muslim, ini adalah perang suci, suatu kewajiban dan tindakan tersuci dalam
pandangan Allâh.
Karena itu, berperang demi Allâh menjadi kewajiban dalam Islam
yang mengikat semua Muslim. Muhammad membuat Muslim Mekah yang hijrah ke
Q. 8:40 Perangi sampai
tiada fitnah (perlawanan) lagi dan agama adalah agama Allâh.
Ketika beberapa
pengikutnya ragu2 untuk berperang, dia menegur mereka untuk taat padanya sambil
“mengeluarkan” ayat2 baru dari Allâh yang mengancam mereka
yang tidak taat.
Q. 47:20 orang-orang yang
beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu
Dari ayat2 ini bisa dilihat bahwa Islam itu adalah agama perang. Selama
orang percaya pada Islam dan mengira Qur’an adalah firman Tuhan,
terorisme Islam akan selalu menang. Muslim yang berusaha memperbaharui Islam,
bersikap toleran, dan mengadakan “dialog antar budaya” dengan mudah
diberangus oleh otoritas Qur’an yang memuat begitu banyak ayat2 yang
memerintahkan Muslim berperang melawan kafir.
Q. 4:84 Maka berperanglah
kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu
sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan
Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan
dan amat keras siksaan (Nya).
Ayat2 ini menjamin
keberhasilan bagi Muslim:
Q. 4:141 … Allah
sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan
orang-orang yang beriman.
Dan janji2 hadiah
illahi:
Q. 9:20 Orang-orang
yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan.[36]
Ilmuwan2 Muslim di
mana2 pun menyuarakan dorongan untuk melakukan kekerasan. Tokoh agama utama
Arab Saudi, sang Mufti Agung, membela semangat jihad atau perang suci sebagai
hak yang diberikan Tuhan. “Penyebaran Islam terjadi dalam beberapa tahap,
rahasia, dan lalu umum, di Mekah dan Medina,” yang adalah kota2 tersuci
dalam Islam, kata Sheikh Abdel Aziz Al Sheikh dalam sebuah pernyataan yang
disiarkan oleh badan berita Pemerintah SPA. “Tuhan memerintahkan Muslim untuk
membela diri dan berperang terhadap siapapun yang menentang mereka, dan ini
merupakan hak yang dihalalkan oleh Tuhan. Ini merupakan hal yang sangat masuk
akal dan tidak dibenci Tuhan,” katanya.[37]
Imam Arab Saudi paling
senior menjelaskan bahwa perang bukanlah pilihan utama Muhammad: “Dia
memberi tiga pilihan: menerima Islam, atau menyerah dan bayar pajak jizya dan
mereka boleh tetap tinggal di tanah mereka dan melakukan ibadah mereka di bawah
perlindungan Muslim.” Pak Mufti Agung memang benar. Kekerasan terhadap
non-Muslim memang merupakan pilihan terakhir, jika non-Muslim tidak mau memeluk
Islam atau menyerah kepada tentara Islam. Ini bukan aturan asli ciptaan
Muhammad. Perampok2 bersenjata lain juga tidak melakukan kekerasan jika korban
mereka menyerah dan tak melawan. Memang para kriminal biasanya menggunakan
kekerasan hanya jika korbannya melawan.
Aku melakukan
perdebatan di internet melawan Pak Javed Ahmed Ghamidi, yang dipandang sebagai
ahli Islam
Orang Muslim biasanya bangga untuk membicarakan “peperangan”
Muhammad. Kebanggaan ini tiada dasarnya. Muhammad menghindari perang
sebenarnya. Dia lebih memilih penyergapan atau penyerangan mendadak sehingga
dia bisa mengalahkan korban2nya yang kaget dan membantainya sewaktu mereka
tidak siap dan tidak bersenjata.
Di sepanjang sepuluh
tahun hidupnya, setelah hijrah ke
Jikalau Muhammad ikut
menyerang, dia selalu berada di bagian belakang tentaranya, dilindungi tentara
khususnya. Tiada keterangan manapun dalam biografi Muhammad yang menuliskan dia
sendiri bertarung melawan musuh.
Di salah satu perang
yang dikenal sebagai Perang Fijar yang terjadi di Mekah, Muhammad ikut perang
diantara paman2nya. Saat itu Muhammad berusia dua puluh tahun, dan usahanya
adalah mengumpulkan panah2 musuh sewaktu gencatan senjata dan menyerahkannya
kepada paman2nya. Muir menulis: “Sikap berani dan mahir bersenjata adalah
hal yang tidak dimiliki Muhammad dalam sepanjang karirnya sebagai nabi.”[40]
Muhammad dan pengikutnya menyerang kota2 dan desa2 tanpa peringatan,
melawan orang2 sipil tak bersenjata, dengan pengecut membacoki mereka sebanyak
mungkin yang bisa dilakukan, mengambil jarahan perang berupa hewan2 ternak,
senjata2 dan semua harta benda korban, termasuk istri2 dan anak2 mereka. Pihak
penyerang Muslim kadangkala menyandera para istri dan anak ini dengan tuntutan
tebusan uang atau menyimpan/menjual mereka sebagai budak. Berikut adalah contoh
kejadian penyerang yang tercatat dalam sejarah Islam:
Sang Nabi tiba2
menyerang Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang tidak siap dan
ternak mereka sedang minum di tempat2 pengambilan air. Orang2 yang melawan
dibunuh dan para wanita dan anak2 mereka ditawan; sang Nabi mendapatkan
Juwairiya di hari itu. Nafi berkata bahwa Ibn Omar memberitahukan kisah itu
padanya dan Ibn ‘Omar adalah salah satu dari tentara tersebut. [41]
Di perang ini, kata
penyampai berita Muslim, “600 orang ditawan oleh tentara Muslim. Diantara
barang jarahan terdapat 2.000 unta dan 5.000 kambing.” [42]
Dunia kaget ketika
teroris2 Muslim membunuh anak2, lalu apologis Muslim dengan cepat mengumumkan
pembunuhan anak2 dilarang Islam. Tapi sebenarnya Muhammad memperbolehkan
pembunuhan anak2 di malam2 penyerangan.
Dilaporkan berdasarkan
wewenang dari Sa’b b. Jaththama bahwa sang Rasul Allâh s.a.w.,
ketika ditanya tentang para wanita dan anak2 pagan yang dibunuh di malam
penyerangan, berkata: Mereka adalah salah satu dari mereka.[43]
Tujuan penyerangan Muhammad adalah untuk menjarah. Beberapa sumber yang
diakui oleh semua Muslim membenarkan agar bisa menang, sang Nabi menyerang
secara tiba2:
Ibn ‘Aun
melaporkan: Aku menulis pada Nafi’ untuk bertanya padanya apakah perlu
menawarkan kafir untuk masuk Islam sebelum diperangi. Dia menulis jawaban
padaku hal ini penting di masa awal Islam. Rasul Allâh s.a.w. menyerang
Banu Mustaliq ketika mereka sedang tidak siap dan memberi minum ternaknya di
tempat pengambilan air. Dia membunuh mereka yang melawan dan menawan lainnya.
Di hari yang sama dia menangkap Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ berkata
kisah ini disampaikan padanya oleh Abdullah b. Omar yang termasuk diantara
tentara yang menyerang..[44]
Untuk mengesahkan serangan2 biadab terhadap orang2 sipil, sejarawan
Muslim seringkali menuduh pihak korban berencana melawan Islam. Akan tetapi,
tiada alasan untuk mempercayai adanya suku Arab yang mencoba menyerang Muslim
yang pada saat itu adalah gerombolan bandit yang kuat. Sebaliknya, banyak suku
yang berdamai dengan Muslim dengan menandatangani perjanjian damai dengan
Muhammad agar tidak diserang. Perjanjian2 damai ini nantinya dilanggar sendiri
oleh Muhammad ketika dia sudah merasa kuat secara militer.
Jarahan tidak hanya memperkaya gerombolan rampoknya. Tapi jarahan juga
termasuk budak2 seks. Juwairiya adalah seorang wanita muda yang suaminya
dibunuh, dan dia jatuh ke tangan seorang Muslim. Aisha, istri Muhammad yang
paling disayangi dan yang termuda (yang menurut sumber Muslim berusia enam tahu
ketika dikawini Muhammad yang saat itu berusia
Ketika sang Nabi – semoga damai
menyertainya – membagi-bagi tawanan Banu Al-Mustaliq, dia (Juwairiya)
jatuh ke tangan Thabit ibn Qyas. Juwairiya menikah dengan sepupunya, yang
dibunuh dalam perang. Dia bersedia memberi Thabit uang sembilan keping emas
untuk kemerdekaannya. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Dia mempesona
setiap pria yang melihatnya. Dia datang meminta tolong kepada Nabi. Begitu aku
melihatnya di pintu kamarku, aku tidak suka padanya, karena aku tidak dia
(Nabi) akan melihatnya sama seperti aku melihatnya. Dia (Juwairiya) masuk dan
berkata padanya tentang siapa dirinya, yakni anak dari al-Harith ibn Dhirar,
yang adalah kepala suku bangsanya. Dia berkata: “kau tahu masalahku. Aku
jatuh ke tangan Thabit, dan berjanji membayar tebusan, dan aku meminta tolong
padamu.” Dia berkata: “maukah kau yang lebih baik dari itu? Aku
bebaskan utangmu, dan menikahimu.” Dia berkata: “Ya”
“Kalau begitu jadilah!” jawab Rasul Allâh.[45]
Penjelasan ini menjawab semua sangkalan
alasan Muhammad sebenarnya atas tindakannya mengawini banyak wanita. Dia dan
orang2nya membunuh suami Juwairiya dalam penyerangan tiba2 tanpa sebab.
Juwairiya adalah anak suku Bani Mustaliq dan seorang putri bangsawan. Dari
bangsawan lalu dijadikan budak dan dimiliki oleh salah seorang bandit pengikut
Muhammad. Akan tetapi, karena dia cantik, maka sang Nabi suci menawarkan
“kemerdekaan” baginya dengan syarat kawin dengan sang Nabi. Apakah
ini kemerdekaan? Punya pilihan apakah Juwairiya? Bahkan jika Muhammad benar2
memerdekakannya, hendak pergi ke mana dia?
Apologis Muslim bersikeras bahwa
kebanyakan istri2 Muhammad adalah kaum janda. Orang awam bisa menyangka
Muhammad mengawini mereka karena ingin menolong. Yang tidak disampaikan Muslim
adalah para wanita yang “janda” ini ternyata muda dan cantik, dan
para suami mereka dibunuh Muhammad. Juwairiya berusia 20 tahun dan Muhammad 58
tahun.
Sejarawan2 Islam mengaku bahwa Muhammad
tidak mau menikahi wanita kecuali jika mereka itu muda, cantik, dan tidak punya
anak. Perkecualian adalah Sauda yang berusia sekitar tiga puluh tahunan ketika
Muhammad menikahinya agar dia bisa mengurus anak2 Muhammad. Berdasarkan sebuah
hadis, Muhammad berhenti tidur dengannya ketika dia memiliki istri2 yang lebih
cantik dan muda,[46]
semua istri2nya berusia remaja atau awal dua puluh tahunan dan dia sendiri
berusia sekitar
Seorang Muslim bernama Jarir ibn
Abdullah mengisahkan suatu kali Muhammad bertanya padanya, “apakah kau
telah menikah?” Dia mengiyakan. Muhammad lalu bertanya, “Perawan
atau janda?” Dia menjawab, “Aku menikahi seorang janda.” Lalu
Muhammad berkata, “Mengapa tidak menikah dengan perawan saja agar kau
bisa bermain dengannya dan dia denganmu?”[49]
Bagi Muhammad, wanita tidak lebih
daripada obyek seks belaka. Wanita tidak lebih daripada barang kepunyaan.
Fungsi wanita adalah untuk menyenangkan suami2 mereka dan melahirkan
anak2nya
Perkosaan
Muhammad mengijinkan
tentaranya untuk memperkosa para wanita yang ditawan dalam penyerangan2 yang
dilakukan Muslim. Akan tetapi, setelah menangkap para wanita itu, para Muslim
menghadapi dilema. Mereka ingin berhubungan seks dengan mereka tapi lalu ingin
mendapat uang tebusan sandera dan tidak ingin membuat wanita2 itu hamil.
Beberapa dari wanita2 ini sudah menikah. Suami2 mereka ada yang berhasil
menyelamatkan diri ketika tiba2 diserang dan mereka masih hidup. Tentara Muslim
berpikir untuk melakukan azl atau coitus interruptus (mengeluarkan sperma di
luar tubuh wanita). Karena tidak yakin apa yang harus dilakukan, mereka datang
kepada Muhammad untuk minta nasehat. Ini yang dilaporkan Bukhari:
Abu Saeed berkata:
“Kami pergi bersama Rasul Allâh ke Ghazwa tempat Banu Al-Mustaliq
dan kami menerima tawanan2 diantar tawanan2 Arab dan kami berhasrat pada
wanita2 dan sukar untuk tidak berhubungan seks dan kami senang melakukan azl.
Maka ketika kami hendak melakukan azl, kami berkata, ‘Bagaimana kami bisa
melakukan azl sebelum bertanya pada Rasul Allâh yang ada diantara
kita?’ Kami lalu bertanya padanya dan dia berkata, ‘Lebih baik
jangan lakukan itu, karena jikalau sebuah jiwa (sampai hari kiamat) telah
ditakdirkan akan ada, maka jiwa itu akan tetap ada.”[50]
Perhatikan bahwa Muhammad tidak melarang
memperkosa wanita yang ditangkap dalam penyerangan. Sebaliknya, dia malah
menjelaskan jika Allâh berniat menciptakan sesuatu, maka tiada yang dapat
mencegahnya. Dengan kata lain, tanpa sperma sekalipun wanita dapat hamil. Jadi
Muhammad memberi tahu orang2nya bahwa melakukan azl/coitus interruptus itu
percuma saja karena itu bagaikan melawan niat Allâh yang tak dapat
dicegah. Muhammad tidak mengatakan sepatah katapun yang melarang pemaksaan
persemaian seksual terhadap tawanan2 wanita itu. Sebaliknya, dengan mengritik
azl, dia malah mendukung pemaksaan persemaian lewat hubungan seks.
Dalam Qur’an, tuhannya Muhammad
menghalalkan untuk berhubungan seks dengan budak2 wanita, yang disebut sebagai
“yang dimiliki tangan kanan,” bahkan sekalipun wanita2 itu telah
menikah sebelum ditawan.[51]
Ibn Ishaq mengisahkan
penaklukkan Khaibar. Dia melaporkan bahwa Muhammad tanpa peringatan apapun
menyerang benteng2
Kinana al-Rabi, yang
menyimpan harta masyarakat Banu Nadir dibawa menghadap kepada sang Rasul yang
menanyakan tentang harta itu. Dia (Kinana) menyangkal mengetahui di mana harta
itu. Seorang Yahudi datang (sejarawan Tabari menulis “dibawa
menghadap”), kepada sang Rasul dan berkata bahwa dia melihat Kinana pergi
ke suatu reruntuhan setiap subuh. Sang Rasul berkata kepada Kinana, “Kau
tahu jika kami menemukan harta itu, aku akan membunuhmu?” Dia berkata,
“Ya.” Sang Rasul memerintahkan reruntuhan itu dibongkar dan
beberapa harta ditemukan. Lalu Rasul bertanya padanya di mana harta yang lain, dan
dia tidak mau menjawab, sehingga Rasul memberi perintah kepada al-Zubayr
Al-Awwam, “Siksa dia sampai mengaku.” Maka dia menyalakan api
dengan batu percik dan besi di atas dada Kinana sampai dia hampir mati. Lalu
sang Rasul menyerahkan Kinana kepada Muhammad b. Maslama yang lalu memancung
kepalanya, sebagai tindakan balas dendam atas kematian saudara lakinya Mahmud.[52]
Di hari yang sama
Muhammad menyiksa sampai mati pemuda Kinana, dia juga mengambil istri Kinana
yang bernama Safiya yang berusia tujuh belas tahun ke dalam sebuah tenda untuk
disetubuhi. Dua tahun sebelumnya, sang Nabi memancung kepala ayah Safiya dan
juga seluruh kaum pria Yahudi Bani Qurayza yang telah tumbuh bulu kemaluan. Ibn
Ishaq menulis:
Sang Rasul menguasai
benteng2 Yahudi satu demi satu, kemudian mengambil tawanan2. Diantara para
tawanan terdapat Safiya, istri Kinana yang adalah kepala masyarakat Khaibar,
dan dua wanita saudara sepupu; sang Rasul memilih Safiya untuk dirinya sendiri.
Tawanan2 lainnya dibagi-bagikan diantara para Muslim. Bilal membawa Safiya kepada
sang Rasul, dan mereka melewati beberapa mayat Yahudi dalam perjalanan itu.
Kawan2 wanita Safiya menangis dan menabur debu di atas kepala mereka. Ketika
Rasul Allâh melihat hal ini, dia berkata, “Singkirkan wanita iblis
ini dari hadapanku.” Tapi dia memerintahkan Safiya untuk tetap tinggal,
dan menyelubungkan jubahnya kepada Safiya. Dengan ini para Muslim tahu bahwa
Muhammad memilih Safiya bagi dirinya sendiri. Sang Rasul menegur Bilal,
“Sudah hilangkah belas kasihanmu sehingga kau bawa wanita2 ini melalui
mayat2 suami mereka?”
Bukhari juga mencatat
beberapa hadis tentang penaklukan Muhammad terhadap Khaibar dan tindakan
perkosaannya terhadap Safiya.
Anas berkata, 'Ketika
Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih
gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang
kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati
jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu
menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki
Thabit bertanya pada
Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?”
Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya
(dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di
perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um
Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.[53]
Dunia
modern kaget ketika mengetahui beberapa Muslim merasa satu2nya cara menghadapi
kritik Islam adalah membunuh pengritiknya. Di tahun 1989, Khomeini mengeluarkan
fatwa untuk membunuh Salman Rushdia karena Rushdie menulis buku berjudul Ayat2
Setan (The Satanic Verses) yang dianggap menghina Islam. Beberapa orang mencela
Khomeini dan menuduhnya sebagai ekstrimis. Herannya, banyak yang menyalahkan
Rushdie yang “tidak peka” terhadap orang Muslim yang mudah
tersinggung. Di tanggal 14 Februari, 2006, kantor berita Pemerintah
Sejak
berkuasa, rezim Islam
Ka’b
bin Ashraf adalah salah satu korban Muhammad. Seperti yang ditulis para
sejarawan Muslim, Ka’b adalah pria muda yang rupawan, penulis sajak
berbakat, dan ketua Banu Nadir, yang adalah salah satu suku2 Yahudi di
“Siapakah yang
mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allâh dan
RasulNya?” Berdirilah Maslama dan berkata,”O Rasul Allâh!
Maukah kamu agar aku membunuhnya?” Sang Nabi berkata,”Iya”.
Maslama berkata, “Maka izinkan saya untuk berkata sesuatu (yang menipu
Ka`b).” Sang Nabi berkata, “Silakan katakan.”
Maslama mengunjungi
Ka`b dan berkata,”Orang itu (Muhammad) menuntut Sadaqa (zakat) darim
kami, dan dia telah menyusahkan kami, dan aku datang untuk meminjam sesuatu
dari kamu.” Ka`b menjawab, “Demi Allâh, engkau akan merasa
lelah berhubungan dengan dia!” Maslama menjawab,”Sekarang karena kami
sudah mengikuti dia, kami tidak mau meninggalkan dia kecuali dan sampai kami
melihat bagaimana nasibnya akhirnya. Sekarang kami mau engkau meminjamkan dua
ekor unta dengan satu atau dua buah bekal makanan….
Maslama dan kawannya
berjanji pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. Dia kembali pada Ka`b
pala malam harinya bersama saudara angkat Ka`b, yakni Abu Na'ila. Ka`b mengajak
mereka ke bentengnya dan dia pergi bersama mereka. Istrinya bertanya,
"Hendak ke manakah kau selarut ini?" Ka`b menjawab,"Maslama dan
saudara (angkat) ku Abu Na'ila telah datang." Istrinya menjawab, "Aku
mendengar suara seperti darah mengucur dari dirinya." Ka`b menjawab,
"Mereka tidak lain adalah saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu
Na'ila. Orang dermawan seharusnya menjawab permintaan (untuk datang) di malam
hari meskipun (permintaan itu) adalah undangan untuk dibunuh."
Maslama pergi dengan
dua orang dan berkata pada mereka, "Jika Ka`b datang, aku akan menyentuh
rambutnya dan mengendusnya (menghirup bau rambutnya), dan jika kalian melihat
aku telah mencengkeram kepalanya, tusuklah dia. Aku akan biarkan kalian
mengendus kepalanya."
Ka`b bin al-Ashraf
datang pada mereka, pakaiannya membungkus badannya dan menebarkan bau parfum.
Maslama berkata, "Aku belum pernah mencium bau yang lebih enak daripada
ini." Ka`b menjawab, "Aku kenal wanita2 Arab yang tahu bagaimana
menggunakan parfum kelas atas." Maslama minta pada ka`b, "Maukah
engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b menjawab, "Boleh."
Maslama mengendusnya dan mengajak kawannya melakukan hal yang sama. Lalu ia
minta pada Ka`b lagi, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus
kepalamu?" Ka`b berkata, "Ya". Ketika Maslama berhasil
mencengkeram kepala Ka`b erat2, dia berkata (pada kawan2nya), "Bunuh
dia!" Lalu mereka membunuhnya dan pergi melaporkan hal itu pada sang Nabi.[54]
Rasul Allâh tidak hanya
menganjurkan pembunuhan, tapi dia juga merancang penipuan dan pengelabuan.
Salah satu korban tindakan pembunuhan Muhammad adalah seorang pria tua bernama
Abu Afak, yang dikabarkan berusia 120 tahun. Dia menulis puisi yang isinya
menangisi orang2 yang jadi pengikut Muhammad. Dia menulis bahwa Muhammad adalah
orang gila yang dengan sesukanya menetapkan larangan dan ijin kepada orang2,
yang mengakibatkan mereka kehilangan akal sehat dan jadi benci satu sama lain.
Ibn Sa’d melaporkan kisahnya sebagai berikut:
Lalu terjadi
“sariyyah” (serangan) oleh Salim Ibn Umayr al-Amri terhadap Abu
Afak, orang Yahudi, di bulan Shawwal di awal bulan ke duapuluh sejak Rasul
Allâh hijrah (pindah dari kota Mekah ke Medina di tahun 622M). Abu Afak
berasal dari masyarakat Banu Amr Ibn Awf, dan dia adalah orang tua yang berusia
seratus dua puluh tahun. Dia adalah orang Yahudi, dan sering membujuk orang
melawan Rasul Allâh, dan menulis puisi tentang Muhammad.
Salim Ibn Umayr adalah
salah seorang yang paling menentangnya dan dia ikut dalam perang Badr, katanya,
“Aku bersumpah akan membunuh Abu Afak atau lebih baik mati di hadapannya.
Dia menunggu kesempatan sampai tiba suatu malam yang panas, dan Abu Afak tidur
di tempat terbuka. Salim Ibn Umayr mengetahui hal itu, jadi dia meletakkan
pedangnya di atas hati Abu Afak dan menekannya sampai menembus tempat tidurnya.
Musuh Allâh menjerit dan orang2 pengikutnya cepat2 membawanya ke dalam
rumahnya dan menguburnya. [55]
Satu2nya
“dosa” orang tua ini adalah menulis puisi yang mengritik Muhammad.
Ketika Asma bint
Marwan, seorang ibu Yahudi yang punya lima anak kecil mendengar hal ini, dia
merasa sangat marah dan lalu menulis puisi mengutuk orang2 Medina yang
mengijinkan orang asing (Muhammad) memecah-belah mereka dan membiarkan dia
membunuh orang tua tak berdaya. Sekali lagi Muhammad datang ke orang2nya dan
mengeluh:
“Siapa yang mau
mengenyahkan anak perempuan Marwan dari hadapanku?” `Umayr bin. `Adiy
al-Khatmi yang saat itu berada di situ mendengarnya, dan di malam itu juga dia
pergi ke rumah Asma dan membunuhnya. Di pagi hari dia datang menghadap sang
Rasul dan memberitahu apa yang diperbuatnya dan Muhammad berkata, “Kau
telah menolong Allâh dan Rasulnya, wahai `Umayr!" Ketika dia
bertanya apakah dia akan menanggung dosa pembunuhan, sang Rasul berkata,
“Dua kambing tidak sudi bertumbukan kepala baginya (Asma).”[56]
Setelah dipuji Muhammad
karena membunuh Asma, sang pembunuh pergi menemui anak2 Asma dan menyombongkan
diri karena membunuh ibu mereka, dan dia mengancam anak2 itu dan masyarakat
suku korban.
Terjadi kegemparan
diantara masyarakat Bani Khatma hari itu tentang pembunuhan terhadap anak
wanita Marwan. Dia punya
Setelah pembunuhan2 ini, para Muslim
Medina jadi semakin sombong dan merasa kuat, karena mereka telah membuat musuh2
mereka takut. Muhammad ingin menyatakan pesan bagi semua yang berani
mengritiknya, hal ini berarti kematian.[58] Ini modus operandi yang persis sama yang
dipakai para muslim saat ini, dimana ancaman harus perlu dilaksanakan. Mereka
mengikuti model dan contoh yang dilakukan nabi mereka, yang mereka anggap
sebagai ahli strategi terbesar. Mereka ingin menciptakan batasan ketakutan agar
mereka bisa mendirikan supremasi mereka melalui teror.
Tidak dapat disangkal lagi dalam pikiran
teroris2 Muslim bahwa strategi pembunuhan seperti ini memang mujarab. Bagi
mereka, nasehat Qur’an untuk “menimbulkan rasa takut di hati
kafir”[59]
memang tampak seperti cara pasti untuk menang. Cara ini berhasil bagi Muhammad.
Dia menyombong, “Aku telah dimenangkan karena teror.”[60] Cara ini berhasil pula di Spanyol ketika
para teroris membunuh dua ratus orang dengan meledakkan kereta2 api bawah tanah
di tanggal 11 Maret, 2004, dan sebagai akibatnya, masyarakat Spanyol memberikan
suara dalam Pemilu untuk memilih seorang pemimpin sosialis yang dengan segera
menerapkan kebijaksanaan yang menguntungkan para Muslim.
Karena
keberhasilan yang ditunjukkan Muhammad dan ajaran ideologinya, para teroris
Muslim yakin bahwa strategi teror akan berhasil di manapun dan kapanpun. Mereka
tidak akan berhenti sampai seluruh dunia takluk atau mereka terbukti salah
karena kalah melawan kekuatan yang lebih besar.
Dunia
Islam adalah dunia yang sakit, dan sudah jelas penyebab sakitnya adalah Islam
itu sendiri. Hampir setiap kejahatan yang dilakukan Muslim dilakukan dan
dihalalkan berdasarkan perkataan dan perbuatan Muhammad. Ini kenyataan pahit
yang menyedihkan, sehingga banyak orang yang memilih tidak mau tahu.
Orang2 Arab yang membunuh dan mencuri
memang harus dihukum, tapi buat apa segala penyiksaan hebat ini? Bukankah
Muhammad sendiri membunuh dan mencuri? Dari mana dia dapat unta2 tersebut?
Bukankah dia mencurinya dari orang lain? Bukankah dia sendiri menyerang dan
membunuh orang2 untuk menjarah harta mereka?
Standard moral ganda/berbeda (double
standard) ini merupakan sifat dunia Muslim sejak awal. Konsep Hukum Emas
(Golden Rule – perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan) tidak
ada dalam pikiran Muslim. Mereka ingin menikmati semua perlakuan khusus di
negara2 non-Muslim, tapi mereka sendiri menyangkal hak2 azasi non-Muslim di
negara2 yang mayoritas Muslim. Mereka dengan tulus beranggapan standard ganda
itu memang wajar.
Terdapat tiga suku Yahudi yang hidup di
sekitar Yathrib (nama lama
Penyerangan terhadap Banu Qainuqa’
Masyarakat Yahudi pertama yang menjadi
korban kebuasan Muhammad adalah Banu Qainuqa’. Mereka hidup di sekitar
Yathrib. Mata pencaharian mereka adalah berkarya seni, membuat kerajinan emas,
peralatan besi, rumah tangga dan senjata2.Mereka tidak mahir dalam berperang
dan mempercayakan masalah keamanan pada bangsa Arab. Hal ini terbukti menjadi
kesalahan fatal bagi keberadaan mereka. Banu Qainuqa’ adalah sekutu suku
Arab Khazraj dan mendukung mereka dalam pertikaian dengan suku Arab saingan Khazraj
yakni Aws.
Kesempatan menyerang suku Yahudi ini
datang ketika pertikaian timbul diantara beberapa Yahudi dan Muslim. Seorang
warga Banu Qainuqa’ bergurau dan menancapkan ke tanah gaun seorang
Muslimah yang sedang jongkok di toko perhiasan di pasar Banu Qainuqa’.
Ketika Muslimah itu berdiri, gaunnya sobek dan dia tampak telanjang. Seorang
Muslim lewat dan orang ini sudah terlebih dahulu benci terhadap orang Yahudi
karena ucapan2 nabinya. Muslim ini menyerang orang Yahudi itu dan membunuhnya.
Anggota keluarga korban lalu membunuh Muslim ini sebagai balasnya.
Ini adalah kesempatan yang
ditunggu-tunggu Muhammad. Bukannya menenangkan keadaan, tapi dia secara tidak
adil menyalahkan seluruh kaum Yahudi, dan memerintahkan mereka menerima Islam,
kalau tidak akan diperangi. Kaum Yahudi menolak dan berlindung di dalam benteng
mereka. Muhammad mengepung mereka, menutup saluran air, dan berjanji membunuh
mereka semua.
Dalam Qur’an 3:12 dapat dibaca
bagaimana Muhammad menyatakan ancamannya: “Katakanlah kepada orang-orang
yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring
ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya" sambil
membual bagaimana dia mengalahkan kaum pagan Quraish di Badr.
Setelah dua minggu, suku Yahudi mencoba
untuk merundingkan usaha menyerah, tapi Muhammad tidak mau. Dia ingin membunuh
mereka semua. Abdullah ibn Ubayy, yang adalah ketua suku Arab Khazraj, memegang
kerah baju Muhammad dan mengatakan padanya dia tidak akan membiarkan Muhammad
membunuh sekutu dan rekan2nya tanpa alasan. Muhammad mengerti bahwa suku
Khazraj menghormati ketuanya. Dia tahu jika suku Khazraj mengepungnya, dia bisa
kalah. Dia mendorong ibn Ubayy dan mukanya kelam karena murka dan setuju untuk
tidak membantai kaum Yahudi asalkan mereka meninggalkan
Banu Qainuqa’ adalah
kaum Yahudi pertama yang melanggar perjanjian dengan sang Rasul dan berperang,
di antara Badr dan Uhud, dan sang Rasul mengepung mereka sampai mereka menyerah
tanpa syarat. `Abdullah b. Ubayy b. Salul pergi menemui sang Rasul ketika
mereka semua sudah berada di bawah kekuasaan Muhammad dan berkata, ‘Wahai
Muhammad, bersikaplah baik terhadap kawan2ku (Yahudi adalah sekutu suku
Khazraj), tapi sang Rasul menolaknya. Dia (`Abdullah) mengulangi perkataannya
sekali lagi, dan sang Rasul menolaknya, maka dia merenggut kerah jubah sang
Rasul; sang Rasul sangat marah sehingga mukanya hampir tampak hitam. Dia
berkata, ‘Terkutuk kau, lepaskan aku.’ Dia (`Abdullah) menjawab,
‘Tidak, demi Tuhan, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berlaku baik
terhadap kawan2ku. Empat ratus orang tanpa
Penulis2 biografi juga menambahkan bahwa Muhammad
dengan bersungut berkata, “Biarkan mereka pergi. Tuhan mengutuk mereka
dan dia juga! Maka Muhammad mengampuni nyawa mereka asal mereka mengasingkan
diri dari tanah mereka. ”[65]
Dia menuntut Banu Qainuqa’
menyerahkan segala kekayaan dan peralatan perang mereka, mengambil seperlima
jarahan bagi dirinya sendiri dan membagi-bagikan sisanya diantara pengikutnya.
Suku Yahudi Banu Qainuqa’ diusir. Sejarawan Muslim menulis bahwa mereka
melarikan diri ke Azru‘a di Syria di mana mereka tinggal sebentar dan
setelah itu musnah.[66]
Berikutnya adalah giliran Banu Nadir,
satu suku Yahudi lainnya di Yathrib. Setelah melihat apa yang dilakukan
Muhammad terhadap Banu Qainuqa’, Ka'b Ibn Ashraf, kepala suku Banu Nadir
mencari perlindungan kaum Quraish dan seperti yang dijelaskan di atas, dia
dibunuh.
Sebelumnya telah perang pembalasan
(Uhud) antara orang-orang Mekah dan Muslim di mana Muslim dikalahkan. Muhammad
perlu mengkompensasi kekalahannya dan menguatkan kembali iman para pengikutnya
bahwa Allah tidak membiarkan mereka kalah. Banu Nadir adalah target yang
gampang.
Sejarahwan Muslim Pakistan dan ahli tafsir
Qur’an dan pencetus ide kebangkitan Islam, Maududi, mengisahkan sebagai
berikut: “Beberapa lama setelah penjatuhan hukuman (pengusiran suku
Qainuqa’ dan pembunuhan sejumlah penyair Yahudi), orang-orang Yahudi
terus dicekam rasa ketakutan dan mereka tidak berani lagi bertindak. Namun
kemudian di bulan Shawaal, tahun ketiga Hijrah, kaum Quraish dengan persiapan
yang matang membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr terhadap Madinah, dan
orang-orang Yahudi melihat hanya ada beberapa ribu orang yang berperang dengan
Nabi Suci (saw) melawan tiga ribu orang Quraish, dan malah 300 orang munafik
melarikan diri kembali ke Medinah. Pengikut Abdullah ibn Ubayy, kepala suku
Khazraj adalah yang pertama-tama melanggar persetujuan perdamaian dengan
menolak bergabung dengan Nabi Suci membela
Sangatlah menakjubkan bahwa kaum Muslim
berpikir bahwa orang-orang Yahudi terikat perjanjian untuk membantu Muhammad
bertarung dalam perang agama melawan orang-orang Mekah, walaupun dia teah
mengusir salah satu suku mereka (Yahudi) dan telah membunuh kepala suku mereka
dan dua penyair mereka. Perang antara Muhammad dan orang-orang Quraish tidak
ada hubungannya dengan orang Yahudi, dan dengan membunuh orang-orang Yahudi dan
mengusir Banu Qainuqa’, Muhammd telah melanggar perjanjian perdamaian
dengan mereka. Dan masih juga, untuk membenarkan kelakukan bejadnya, pembela
Islam menyalahkan orang Yahudi dengan menuduh mereka melanggar perjanjian.
Muhammad sekarang sedang mencari alasan
untuk mengusir Banu Nadir. Mereka memiliki tanah pertanian terbaik di Yathrib
dan taman-taman penuh pohon kurma dan mempekerjakan banyak orang Arab. Karena
itu beberapa Muslim, yang berkat jasa Muhammad telah menjadi bandit ulung, membunuh
dua orang dari Banu Kalb. Suku ini telah menandatangani perjanjian damai dengan
Muhammad, di mana pengikut-pengikut Muhammad tidak boleh merampok atau membunuh
mereka dan sebagai gantinya akan mendapat dukungan dari mereka.
Tiba-tiba dia mendapat
“inspirasi” baru. Dia berdiri dan tanpa mengucap sepatah katapun
kepada para pengikutnya, dia meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah.
Ketika para pengikutnya menanyainya kemudian, dia berkata bahwa malaikat Jibril
memberitahu dia bahwa orang-orang Yahudi bersekongkol untuk menjatuhkan batu ke
kepalanya dari atas dinding di mana mereka sedang duduk. Dengan alasan ini dia
mulai menyiapkan serangannya atas Banu Nadir.
Tidak ada satupun pengikut Muhammad yang
melihat orang memanjat dinding itu atau mendengar rencana pengancaman jiwa
mereka. Namun orang-orang ini yang telah banyak mendapat keuntungan keuangan
dengan mengikuti dia, percaya apa saja yang dikatakannya, tidak punya alasan
ataupun kehendak untuk meragukan apa yang dikatakannya.
Orang berakal yang mana saja bisa
melihat kemustahilan cerita Muhammad. Jika Banu Nadir benar-benar mau dan
berani membunuhnya, mereka tidak perlu memanjat dinding untuk menjatuhkan batu.
Muhammad hanyalah didampingi segelintir pengikutnya, Abu Bakr, Omar, Ali dan
mungkin satu atau dua lainnya lagi. Sangatlah mudah untuk membunuh mereka
semua, jika memang ini yang mereka kehendaki. Tuduhan ini jelas-jelas palsu.
Nabi yang percaya bahwa Allah itu
khairul maakereen (penipu paling ulung), (Q.3:54) sendirinya adalah orang yang
licik. Cerita tentang Jibril memberitahu dia tentang rencana orang Yahudi untuk
mencabut nyawanya sama kredibelnya seperti cerita tentang kunjungannya ke
neraka dan surga. Namun para pengikutnya yang gampang dibodohi itu percaya
padanya dan sangat marah mendengar dongeng karangannya itu. Bersamanya
merekapun maju menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa.
Maududi menutup ceritanya dengan
berkata: “Sekarang tidak ada alasan untuk memberi mereka kemurahan hati
lagi. Nabi suci segera memberi mereka ultimatum bahwa pengkhianatan terencana
mereka terhadapnya telah diketahuinya; dan karena itu mereka harus meninggalkan
Madinah dalam sepuluh hari. Jika mereka terdapati masih tinggal di tempat
tinggal mereka, mereka akan dibunuh dengan pedang.” Maududi memberi
contoh yang sempurna akan logika Muslim dengan menceritakan dongeng
pengkhianatan Muhammad seakan-akan itu hal yang alami dan semestinya orang
bertindak.
Abdullah bin Ubayy berusaha keras
membantu Banu Nadir, tetapi saat itu pengaruhnya terlalu lemah dan
pengikut-pengikut Muhammad telah terbutakan oleh iman mereka. Mereka tidak
mengizinkan bin Ubayy memasuki tenda Muhammad dan malahan menyerangnya dan
melukai wajahnya dengan pedang.
Setelah beberapa hari, Banu Nadir
berunding untuk meninggalkan semua harta benda mereka bagi Muhammad dan
meninggalkan
Walaupun Muhammad membiarkan orang-orang
ini pergi, rencananya yang pertama adalah untuk membantai mereka. Berikut ini
adalah kutipan dari Sirat (Sejarah hidup Muhammad) yang membuat hal ini sangat
jelas:
Mengenai Banu al-Nadir,
Surat al Mujadila diturunkan di mana dikisahkan bagaimana Allah membalas dendam
pada mereka dan memberi Rasulnya kekuasaan atas mereka dan bagaimana Dia
memperlakukan mereka. Allah berkata: “Dia-lah yang mengeluarkan
orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pad saat
pengusiran kali yang pertama. ….Maka ambillah (kejadian itu) untuk
menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jika tidaklah
karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka,” yang merupakan
balas dendam dari Allah. “Benar-benar Allah mengazab mereka di duniaini,
yaitu dengan pedang, dan di akhirat neraka jahanam."[67]
Dalam
pengepungan ini Muhammad memerintahkan penebangan dan pembakaran pohon-pohon
milik Banu Nadir. Kekejian ini tidak pernah dilakukan bahkan oleh orang-orang
primitif Arab. Yang perlu dilakukannya untuk membenarkan kekejiannya ini
hanyalah membuat teman khayalannya menyetujui apa yang telah dia lakukan. Ini
sangat mudah dilakukan jika Allah tunduk pada kehendakmu
Apa saja yang kamu tebang
dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh)
berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah izin Allah; dan karena Dia
hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (Q.
59: 5)
Sangat
mudah membayangkan mengapa di lingkungan kering kerontang padang pasir, para
penghuni padang pasir menganggap penebangan pohon dan peracunan sumur sebagai
kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga melanggar perjanjian perdamaian dan
adat lokal.
Seorang
cendekiawan Muslim, Al-Mubarkpouri, berkata: “Rasul Allah (saw) menyita
senjata mereka, tanah, rumah dan harta kekayaan mereka. Di antara rampasan itu
dia berhasil menyita 50 baju pelindung, 50 helmet dan 340 pedang. Rampasan ini
semuanya milik Nabi semata, karena tidak ada perang yang terlibat dalam
penyitaannya. Dia membagikan rampasan itu sesuai kehendaknya di antara para
Muhajirin dan dua orang miskin Ansar, Abu Dujana dan Suhail bin Haneef. Rasul
Allah menghabiskan sebagian dari harta ini untuk keluarganya untuk kehidupan
mereka sepanjang tahun. Sisanya digunakan untuk melengkapi tentara Muslim
dengan senjata bagi perang-perang berikutnya dalam jalan Allah. Hampir semua
ayat dalam
Seperti
halnya Maududi, Mubarakpouri juga menunjukkan ketidak adanya hati nurani dan
etika yang menjadi ciri khas ummah. Muslim melakukan apa yang nabi mereka
lakukan. Mereka menganggap membakar dan merajah harta orang-orang non Muslim
sebagai tindakan halal dalam perang, karena itu disetujui dan dilakukan sendiri
oleh Muhammad. Berdasarkan tindakan Muhammad, dapat disimpulkan bahwa kekejaman
dalam Islam, dengan sangat disayangkan, bukanlah penyimpangan dari Islam yang
sejati. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan adalah praktek
Islam. Tidak ada yang melampaui batas dalam memajukan agama Allah.
Anehnya,
Seorang
muslim menulis padaku, “Semua
tulisan ini menjadi problematik bagi banyak orang karena pandangan mereka
tentang apa yang benar secara moral dan apa yang salah secara moral. Sumber
penyakit ini adalah mentalitas orang Kristen yang “memberi pipi
lainnya” dan “penebusan penderitaan oleh Kristus” yang
kedua-duanya telah menjadi penyakit dalam akal orang Eropa selama berabad-abad.”
Aku
tidak percaya moralitas dan etika adalah penyakit. Keduanya berasal dari hati
nurani manusia dan merupakan prinsip2 Hukum Emas (Golden Rule). Kita tahu
bedanya yang benar dan yang salah ketika kita mempertimbangkan bagaimana kita
mau diperlakukan orang lain.
Penyerangan terhadap Banu Quraiza
Suku Yahudi terakhir yang menjadi korban
kedendaman Muhammad adalah Banu Quraiza. Tidak lama setelah Perang Parit
(Khandaq) selesai, orang-orang Mekah yang tidak tahan lagi terhadap serangan
terus menerus Muhammad terhadap karavan mereka maju ke gerbang
Sangatlah penting dalam mempelajari
Islam untuk mengerti bahwa panggilan untuk solat adalah juga panggilan untuk
berperang. Kerusuhan-kerusuhan dan penjarahan kaum muslim selalu dimulai di
mesjid setelah mereka bersolat. Mereka paling bersemangat di bulan suci Ramadan
dan pada hari Jumat. Dalam khotbah peringatan hari kelahiran Muhammad di tahun
1981, Ayatollah Khomeini berkata:
Mehrab (Mesjid)) berarti tempat
perang, tempat untuk bertempur. Di luar mehrab, perang harus berlangsung. Seperti
halnya semua perang-perang dalam Islam berlangsung terus di luar mehrab. Nabi
memiliki pedang untuk membunuh orang. Imam-Imam suci kita cukup militan. Mereka
semua adalah pendekar perang. Merka biasa menyandang perang. Mereka biasa
membunuh orang. Yang kita perlukan adalah seorang Kalifah yang akan memotong
tangan, memenggal leher dan merajam orang, seperti halnya rasul Allah biasanya
memotong tangan, memenggal leher dan merajam orang.[70]
Muhammad mengepalai pasukan tentara yang
terdiri dari tiga ribu tentara infantri dan tiga puluh tentara beruda dari
kalangan orang Ansar dan Muhajirin. Banu Quraiza dituduh bersekongkol dengan
orang-orang Quraish melawan kaum Muslim. Pada kenyataannya,
sejarahwan-sejarahwan Muslim membantah tuduhan ini dan berkata bahwa
orang-orang Mekah menarik diri tanpa berperang karena mereka tidak menerima
dukungan dari Banu Quraiza.
Ketika Muhammad mengumumkan niatnya,
Ali, sepupunya yang merupakan pendukung utamnya, bersumpah tidak akan berhenti
hingga dia berhasil menyerbu benteng mereka atau mati. Pengempungan ini
berlangsung selama 25 hari. Akhirnya Banu Quraiza menyerah tanpa syarat.
Muhammad memerintahkan kaum lelaki diikat tangannya dan kaum wanita dan
anak-anak dikurung. Saat itulah suku Aws yang merupakan sekutu Banu Quraiza
datang memohon Muhammad untuk berlembut hati terhadap mereka. Muhammad
menyarankan agar Sa‘d bin Mu‘adh, seorang penjahat bengis di antara
mereka yang telah terluka berat oleh panah untuk menjatuhkan hukuman terhadap
orang-orang Yahudi itu. Sa’d dulunya adalah sekutu Banu Quraiza, tetapi
sejak dia masuk Islam hatinya telah berubah melawan mereka. Dia juga
menyalahkan mereka terhadap luka yang didapatnya ketika seorang Mekah
melontarkan anak panah dalam Perang Parit. Muhammad tahu bagaimana perasaan Sa’d
terhadap Banu Quraiza. Sa’d adalah bodyguard (pelindung)nya dan tidur di
mesjid.
Vonis Sa'd's adalah “semua lelaki
anggota suku yang bertubuh sempurna harus dibunuh, wanita dan anak-anak
dijadikan tawanan dan harta mereka dibagi-bagikan di antara para pendekar
Muslim.”
Muhammad sangat senang mendengar vonis
kejam itu dan berkata, “Sa‘d telah menghakimi berdasarkan Perintah
Allah."[71] Dia sering memakai nama Allah
bagi keputusan-keputusannya sendiri. Kali ini dia memilih Sa’d untuk
mewujudkan keinginannya.
Al-Mubarakpouri menambahkan bahwa
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu pantas mendapat hukuman itu karena
pengkhianatan mereka terhadap Islam, dan sejumlah besar senjata yang mereka
kumpulkan, yang terdiri dari seribu lima ratus pedang, dua ribu tombak, tiga
ratus baju pelindung dan lima ratus perisai, yang semuanya jatuh ke tangan kaum
Muslim.”
Al-Mubarakpouri lupa menyebutkan bahwa
Banu-Quraiza telah meminjamkan senjata-senjata dan juga cangkul-cangkul mereka
kepada kaum Muslim sehingga mereka bisa mengali parit dan membela diri mereka.
Muslim tidak akan pernah berterima kasih kepada orang-orang yang menolong
mereka. Mereka akan menerima pertolonganmu dan akan menikammu dari belakang
begitu mereka tidak memerlukan engkau lagi. Akan kita lihat di bab berikutnya
psikologi dari penyakit ini.
Sejarawan2 Muslim sangat cepat
menjatuhkan tuduhan tak berdasar terhadap Banu Quraiza untuk membenarkan
pembantaian mereka. Merka menuduh Banu Quraiza licik, penghasut, pengkhianat
dan bersiasat melawan Islam. Namun tidak ada bukti spesifik tentang dosa-dosa
itu yang menyebabkan mereka layak menerima hukuman seberat itu dan juga
pembantaian total. Parit-parit digali di bazaar di Madinah dan sekitar 600
– 900 orang dipenggal kepalanya dan badan mereka dibuang ke parit-parit
itu.
Huyai Ibn Akhtab, kepala suku Banu Nadir
yang anak perempuannya yang telah menikah, Safiya, diambil Muhammad sebagai
jatah rampasan perangnya ketika dia menyerang Khaibar, termasuk di antara para
tawanan itu. Dia dibawa menghadap si pemenang perang dengan tangannya diikat di
belakang badannya. Dengan sangat beraninya dia menolak Muhammad dan lebih suka
mati daripada menyerah kepada lelaki bengis itu. Dia diperintahkan untuk
berlutut dan kepalanya dipenggal di tempat.
Untuk menentukan siapa yang harus
dibunuh, anak-anak muda diperiksa. Yang telah tumbuh bulu kelaminnya
dikelompokkan dengan para lelaki dewasa dan dipenggal kepalanya. Atiyyah
al-Quriaz, seorang Yahudi yang berhasil lolos dari pembantaian itu menceritakan
kemudian: “Aku termasuk di antara tawanan Banu Quraiza. Mereka (para
Muslim) memeriksa kami, dan mereka yang telah mulai tumbuh bulu kelaminnya
dibunuh, dan yang belum tidak dibunuh. Aku termasuk yang belum tumbuh bulu
kelamin.”[72]
Muhammad membunuh dan mengusir beberapa
suku Yahudi, termasuk di antaranya B. Qainuqa’, B. Nadir, B. Quraiza. B.
Mustaliq. B. Jaun dan orang-orang Yahudi dari Khaibar. Di saat sekaratnya, dia
memerintahkan para pengikutnya untuk membersihkan Semenanjung Arabia dari semua
orang kafir,[73] perintah
yang kemudian dilaksanakan oleh Omar, Kalifah kedua. Dia memusnahkan
orang-orang Yahudi, Kristen dan pemuja berhala, memaksa mereka masuk Islam,
minggat atau dibunuh.
Sekarang, diperkaya dengan harta
rampokan, Muhammad dapat lebih bermurah hati kepada orang-orang yang percaya
padanya. Anas mengisahkan, “Orang-orang dulunya terbiasa memmberi
beberapa dari kurma mereka kepada Nabi (sebagai hadiah), hingga dia menaklukkan
Banu Quraiza dan Banu An-Nadir, saat mana dia mulai membayar balik kebaikan
mereka.”[74]
Ayat berikut dalam Qur’an
berbicara tentang pembantaian Banu Quraiza dan menyetujui penyembelihan
Muhammad terhadap kaum lelaki mereka dan menjadikan kaum wanita dan anak-anak
sebagai tawanan.
Dan dia menurunkan
orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang
bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati
mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Q. 33: 26)
Di atas kita lihat bagaimana Muhammad
memberi izin kepada para pengikutnya untuk berbohong, dan bahkan untuk
mengatakan hal-hal yang buruk mengenai dirinya, untuk mendapatkan kepercayaan
para korban mereka supaya dapat membunuh mereka. Masih banyak cerita lainnya
mengenai bagaimana kaum Muslim berpura-pura bersahabat dengan orang kafir hanya
untuk kemudian membunuh mereka, begitu mereka dipercayai.
Di Hudaibiyyah, Muhammad menandatangai
perjanjian damai dengan orang-orang Mekah, dan berjanji akan mengembalikan para
pemuda dan budak yang melarikan diri mengikutinya. Ibn Ishaq mengisahkan cerita
tentang Abu Basir, seorang dari Mekah, yang pergi kepada Muhammad setelah
perjanjian ditandatangani. Muhammad merasa diwajibkan oleh perjanjian itu dan
memberitahu Abu Basir, “Pergilah, karena Allah akan memberi kelegaan dan
jalan pelarian bagi mu dan orang-orang tak berdaya denganmu.”
Abu Basir mengerti. Dia kembali dengan
para utusan. Mereka telah pergi sekitar enam mil dari Madinah ketika mereka
berhenti untuk beristirahan. Abu Basir berkata, “Tajamkah pedangmu, wahai
saudaraku?” Ketika orang itu mengiyakan, dia berkata bahwa dia hendak
melihatnya. “Lihatlah jika engkau mau,” jawab orang itu. Abu Basir mengeluarkan
pedang itu dari sarungnya dan menghunuskannya pada orang itu dan membunuhnya.
Lalu dia menghadap Muhammad dan berkata, “Kewajibanmu telah dipenuhi dan
Allah telah melenyapkannya dairmu. Engkau telah menyerahkan aku kepada
orang-orang itu, dan aku telah melindungi diriku dalam agamaku dari
godaan.” Muhammad tidak menghukumnya atas pembunuhan itu, malahan
memerintahkannya untuk pergi ke al-Is, sebuah daerah dekat pantai dalam
perjalanan yang biasanya ditempuh orang-orang Quraish menuju ke Suriah, dan
merampok karavan-karavan Quraish. Muhammad telah menandatangani perjanjian
damai untuk tidak menyerang karavan Quraish, maka dia mencari jalan lainnya.
Ibn Ishaq berkata, “Muslim-muslim yang terkurung di Mekah mendengar bahwa
apa yang dikatakan nabi pada Abu Basir, maka mereka pun bergabung dengannya di
al-Is. Sekitar tujuh puluh orang bergabung dengannya dan mereka menyerang kaum
Quraish, membunuh siapa saja yang mereka bisa dan menghancurkan tiap karavan
yang lewat sehingga orang-orang Quraish menulis surat kepada nabi memohonnya
untuk mengambil orang-orang itu atas dasar persahabatan, karena mereka tidak
berguna lagi bagi orang-orang Quraish di Mekah. Maka Muhammad pun menjemput
mereka dan mereka datang bersamanya ke Madinah.”[75]
Sejarah Islam dipenuhi pengkhianatan dan
penipuan. Orang-orang ini adalah Muslim, dan karena itu mereka adalah tanggung
jawab Muhammad. Tapi dia malahan mencuci tangan dengan mengirim mereka ke
tempat lain untuk merampok orang Mekah. Dia membiarkan, dan bahkan mengizinkan
perampokan itu. Walaupun begitu, Muslim-muslim mengklaim bahwa orang-orang
Mekah lah yang melanggar perjanjian damai. Berikut ini adalah salah satu
contoh:
Ketika orang-orang Mekah, bersama dengan
suku-suku Arab lainnya, telah muak dengan penyerbuan dan pembunuhan Muhammad,
mereka bersatu untuk menghukumnya. Namun, tidak seperti dia yang tidak pernah
mengumumkan rencananya dan menyergap musuhnya tanpa peringatan, orang-orang
non-Muslim ini memberi banyak peringatan kepada musuh mereka untuk
mempersiapkan diri menghadapi perang. Ini member Muhammad cukup waktu untuk
mengali parit di sekitar
Nu’aym melakukan
apa yang diperintahkan Muhamamd kepadanya. Dia pergi kepada Banu Quraiza dengan
siapa dia dulunya berteman dekat, dan mengingatkan mereka akan persahabatan
mereka dan ikatan istimewa di antara mereka. Ketika mereka mengaku tidak
mencurigai dia, dia pun berkata, “Quraysh dan Ghatafan tidak seperti
kalian. Tanah ini milik kalian, harta kalian, anak dan istri kalian ada di
sini. Kalian tidak boleh meninggalkannya dan pergi ke tempat lain. Sekarang
orang-orang Quraysh dan Ghatafan telah datang bertempur melawan Muhammad dan
pengikut-pengikutnya, dan kalian telah membantu mereka melawannya. Tetapi tanah
mereka, harta mereka, dan istri mereka tidak ada di sini. Jadi mereka tidak
seperti kalian. Jikamereka melihat kesempatan, mereka akan memanfaatkannya.
Tetapi jika situasi memburuk, mereka akan kembali ke tempat mereka dan
meninggalkan kalian menghadapi Muhammad di Negara kalian sendiri, dan kalian
tidak akan mampu melakukannya sendirian. Jadi janganlah berperang dengan
orang-orang itu sebelum kalian menyandera kepala suku mereka yang harus tetap berada
di tangan kalian sebagai jaminan keselamatan supaya mereka akan berperang
melawan Muhammad bersama kalian, hingga kalian bisa menghabiskannya.”
Orang-orang Yahudi itu berkata bahwa itu adalah nasihat yang bagus sekali.
Lalu dia pergi kepada
orang-orang Quraish dan berkata kepada Abu Sufyan b. Harb dan pengikutnya,
“Kalian tahu rasa sayangku pada kalian, dan bahwa aku telah meninggalkan
Muhammad. Aku telah mendengar sesuatu yang aku rasa adalah tugasku untuk
memberitahu kalian sebagai peringatan, tetapi rahasiakan itu.” Ketika
mereka setuju untuk merahasiakannya, dia pun melanjutkan, “Dengarlah.
Orang-orang Yahudi menyesal telah melawan Muhammad dan telah mengutus orang
untuk menyampaikan pesan berikut kepadanya, “Sukakah engkau jika kami
menangkap kepala suku kedua suku Quraysh dan Ghatafan dan menyerahkan mereka
kepadamu supaya bisa kau penggal kepala mereka? Lalu kami akan bergabung
denganmu memusnahkan mereka.” Muhammad telah membalas dan menerima
tawaran mereka itu. Maka jika orang-orang Yahudi meminta sandera, jangan kirim
seorangpun.”
Lalu dia pergi kepada
suku Ghatafan dan berkata, “Kalian sedarah daging denganku dan adalah
keluargaku, orang-orang yang paling kukasihi, dan aku rasa kalian tidak akan
mencurigai aku.” Mereka setuju bahwa dia tidak pantas dicurigai, dan dia
pun lalu menceritakan hal yang sama seperti yang diceritakannya kepada suku
Quraysh."[76]
Siasat ini berhasil. Ketika tentara
persekutuan Arab meminta Banu Quraiza untuk bergabung dengan mereka untuk
menyerang, mereka mencari alas an dan malah sebaliknya meminta suku Quraish
meninggalkan beberapa orang sebagai sandera, yang mengkonfirmasikan apa yang
telah Nu’aym katakana. Tentara persekutan Arab menjadi kecil hati dan
pergi tanpa sepatah katapun.
Tipu daya ini menyelamatkan Muslim dari
kekalahan yang sudah pasti. INi menjadi pelajaran bagi kaum Muslim, yang sejak
saat itu memasukkan pengkhianatan dan penipuan sebagai strategi mereka dalam
berjihad. Dalam satu hadist kita baca:
Hajaj Ibn ‘Aalat
berkata: Wahai Rasul Allah. Aku punya harta berlebihan di Mekah dan beberapa
sanak keluarga, dan aku ingin mengambil balik semua itu. Apakah aku diizinkan
untuk berburuk kata tentang engkau (untuk menipu orang-orang
non-Muslim)?” Nabi mengizinkan dia dan berkata, “Katakan apa saja
sesukamu."[77]
Muslim-muslim datang ke Negara barat dan
perpura-pura menjadi Muslim moderat. Mereka mengatakan apa saja yang hendak
kamu dengar, tetapi secara rahasia berkomplotan menghancurkanmu. Mereka
tersenyum dan menjabat tangan; mereka bersahabat dan ramah, bahkan berpura-pura
mencintai negaramu dan bertingkah seakan-akan mereka patriotic. Namun, tujuan
mereka hanyalah untuk membuat Islam dominan. Mereka hanya membual saja, tapi
tidak akan melakukan yang mereka katakan.
Berbohong adalah satu strategi untuk
memajukan Islam yang disebut taqiyyah atau “penipuan suci”. Dalam
taqiyyah, seorang Muslim diizinkan berbohon atau mengatakan sesuatu untuk
menipu orang non Muslim dan memperdayakan mereka.
Salah satu tujuan utama, dan taktik yang
terus menerus dipakai oleh mereka yang ahli bertaqiyyah, adalah meremehkan
ancaman Islam. Tujuannya adalah untuk menipu calon korban bahwa jihad tidak
ditujukan pada mereka. Dalam bukunya, “Tiada tuhan selain Allah”
Reza Aslan menggunakan seni tipu daya Islam, ketika dia berkata, “Yang
terjadi sekarang di Negara Islam adalah konflik internal antara para Muslim,
bukan perang eksternal antara Islam dan Negara Barat.” Lebih lanjut dia
menulis, “Negara barat hanyalah pengamat belaka, yang tidak waspada
tetapi menjadi korban tak sengaja dari permusuhan yang bergejolak dalam Islam
tentang siapakah yang akan menulis bab berikutnya dalam kisahnya.” Maaf,
tampaknya kita telah membangun
Satu taqiyaah lucu yang sering digunakan
lelaki Muslim untuk menggoda wanita barat adalah bahwa “Dalam Islam
wanita diperlakukan seperti ratu.” Aku masih belum pernah melihat di
negara mana ratunya dikatai sebagai kurang dalam kecerdasan, dipukuli, dirajam
dan bahkan dibunuh demi kehormatan keluarga.
Jika seorang muslim tersenyum padamu,
dan memberitahu kamu betapa dia sangat mencintai negaramu dan betapa inginnya
dia menjadi temanmu, ingatlah hadist berikut ini:
(Sesungguhnya)
kami tersenyum pada beberapa orang, sementara hati kami mengutuk orang-orang
(yang sama) itu. [78]
[1] Ibn Warraq. Leaving
Islam. Apostates Speak Out.
[2] Maxime
Rodinson: Islam et communisme, une ressemblance frappante, in Le Figaro
[
[3] B.Russell, Theory and Practice of
Bolshevism,
[4] A.Koestler, et
al, The God That Failed,
Hamish Hamilton,
[5] Ibid. p16
[6] Qur’an
Sura 93: Verses 3-8 (Translations
of the Qur’an in this book are either by Yusuf Ali or by Shakir.)
My
work is not about the sacred scriptures of Islam, but it is based directly on
them. The passages I cite are taken from the Qur’an and the
Hadith. The Qur’an purports to be not the work of any human, but
the very words of Allâh himself, from beginning to end. The Ahadith
(plural for Hadith) are short, collected anecdotes and sayings about Muhammad
regarded by Muslims as essential to the understanding and practice of their
religion. It is not necessary for me, in this book, to discuss the
innumerable questions raised by the Qur’an and the Hadith, their
translation into other languages, or the disputes over subtle nuances in those
texts. For purposes of this book, the passages I cite will mostly speak
for themselves. I have taken them from widely accepted sources."
[7] Muhammad punya empat putri dan tiga putra. Semua anak laki
meninggal waktu masih kecil. Anak2 perempuan mencapai usia dewasa dan menikah,
tapi semuanya meninggal di usia muda. Putrinya yang terkecil meninggalkan dua
orang putra. Putri bungsu ini hanya lebih tua enam bulan daripada usia Muhammad
saat meninggal.
[8] Penelitian2
menunjukkan bahwa bayi2 yang lahir dari ibu yang menderita gejala2 tekanan jiwa
sewaktu mengandung dan setelah melahirkan, mengalami peningkatan jumlah
cortisol dan norepinephrine, rendah jumlah dopamine, dan lebih tidak simetris
EEG kanan depan. Bayi2 dari kelompok penderita depresi sewaktu hamil menujukkan
kecenderungan asimetri EED kanan depan dan lebih tinggi jumlah norepinephrine.
Data ini menyatakan efek psikologi bayi tergantung lebih banyak pada keadaan
jiwa ibu sewaktu mengandung daripada setelah melahirkan tapi juga tergantung
dari lamanya depresi. ncbi.nlm.nih.gov
[9]
www.health.harvard.edu/newsweek/Depression_during_pregnancy_and_after_0405.htm
[10] Sirat Ibn
Ishaq, page 72: Ibn Ishaq (baca Is-haq, nama Arab bagi Isaac) adalah penulis
sejarah Muslim, lahir di
[11]
[12] Tabaqat Ibn Sa'd p. 21 . Ibn Sa'd (784-845) adalah ahli sejarah,
murid dari al Waqidi. Dia membagi tulisannya dalam delapan bagian, dan
menamakannya Tabaqat (kategori2). Yang pertama adalah kisah hidup Muhammad
(Vol. 1), lalu perang2nya (Vol. 2), pengikut2nya di Mekah (Vol. 3),
pengikut2nya di Medinah (Vol. 4), cucu2nya, Hassan dan Hussein dan tokoh2
Muslim yang utama (Vol. 5), pengikut2 dan sahabat2 Muhammad (Vol. 6), pengikut
penting berikutnya (Vol. 7) dan beberapa tokoh Muslimah (Vol. 8 ). Kutipan2
Tabaqat yang digunakan di buku ini diambil dari terjemahan dalam bahasa
[13] Tabaqat Volume 1, page 107
[14] The Life of Muhammad
by Sir. William Muir Volume II
[15] Katib al
Waqidi, p. 22
[16]
[17] The Life of
Muhammad by Sir. William Muir Vol. II
[18] Sirat, Ibn Ishaq page. 195
[19] Abu Abdullah
Muhammad Bukhari (c. 810-870) adalah seorang pengumpul hadis atau sunnah,
(kumpulan perkataan dan perbuatan Muhammad). Buku kumpulan hadisnya dianggap
paling terkemuka. Dia menghabiskan waktu enambelas tahun untuk mengumpulkannya,
dan berhasil mendapat 2.602 hadis (9.082 hadis yang diulang isinya oleh sumber
pencerita lain). Persyaratan yang ditetapkannya untuk menentukan keaslian hadis
sangat ketat dan karenanya kumpulan hadisnya disebut Sahih (tepat, benar).
[20] Bukhari: Volume
4, Book 56, Number 762:
[21] Tabaqat Volume
I, page 191
[22] Qur’an, 53:19-22
[23] Sahih
Bukhari Volume 5, Book 58, Number 207
[24] Al-Dalaa’il, 2/282
[25] Sir William
Muir: The Biography of
Mahomet, and Rise 0f Islam.
Chapter IV page 126
[26] Qur’an
4:97: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan
bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang
tertindas di negeri (Mekah)".
[27] Sir
William Muir, Life of Muhammad, Vol. 2, chap. 5,. p. 162.
[28] Beberapa
jilid puisi yang dikumpulkan oleh Abu al-Faraj Ali dari
[29] Sirat Ibn Ishaq, P.197
[30] Jalal
al-Din al-Suyuti menulis: “sekelompok orang dari Mekah masuk Islam dan
berima; sebagai akibatnya, para sahabat di Mekah menulis
Suyuti
menulis di salah satu Hadis Rasul Allâh berkata, “Tiada Hijra (dari
Mekah ke
Ini
menunjukkan bahwa sebelum Mekah ditaklukan, hijrah ke Mekah merupakan kewajiban
bagi Muslim. Ini merupakan bukti tambahan bahwa Muslim dipaksa Muhammad untuk
meninggalkan rumah2 mereka, sedangkan sanak keluarga mereka berusaha berbagai
cara untuk mencegah orang2 yang mereka kasihi mengikuti Muhammad.
Jalal
al-Din al-Misri al-Suyuti al-Shafi`i al-Ash`ari, yang dikenal juga sebagai Ibn
al-Asyuti (849-911) adalah imam mujtahid imam dan pembahari Islam abad ke 10.
Dia adalah ahli hadis, hukum Islam, Sufi, filologis, dan sejarah. Karyanya
terdapat di setiap ilmu pengetahuan Islam.
[31]
Qur’an, 8:69. Juga lihat Qur’an, 8:74: “Dan orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (untuk membela Islam) dan
orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada
orang-orang Islam yang berhijrah itu), merekalah orang-orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang
mulia..” Orang yang tidak mengenal
[32] Malfuzat-i
Timuri, atau Tuzak-i Timuri, oleh Amir Tîmûr-i-lang dalam The
History of India as Told by its own Historians. The Posthumous Papers of the
Late Sir H. M. Elliot. John Dowson, ed. 1st ed. 1867. 2nd ed.,
[33] Qur’an, Bagian 47, Ayat 38: “Ingatlah, kamu ini
orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di
antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah
kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah
orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan
mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu
(ini)
[34] Lihat
juga Qur’an bagian 63, ayat 10.
[35] Dalam sebuah
laporan yang diumumkan kepada umum oleh Pengadilan Pemerintah di Virginia pada
tanggal 19 Agustus, 2003, menyatakan bahwa badan zakat Muslim menyumbang $3,7
juta kepada BMI, Inc., yang adalah perusahaan investasi Islam swasta di New
Jersey dan perusahaan ini diduga menyalurkan uang kepada kelompok2 teroris.
Uang itu adalah bagian dari sumbangan $10 juta dari berbagai donatur tanpa nama
di Jeddah, Arab Saudi. http://pewforum.org/news/display.php?NewsID=2563
Juga
di tanggal 27 July, 2004, Departemen Pengadilan A.S. mengungkapkan pengumpulan
zakat Muslim terbesar dalam negeri dan tujuh dari tokoh2 utama dituduh
menyalurkan uang sebesar $12,4 juta selama enam tahun kepada orang2 dan
kelompok2 yang berhubungan dengan Gerakan Perlawanan Islam atau Hamas, yang
adalah kelompok Palestina yang dianggap Pemerintah A.S. sebagai organisasi
teroris. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A18257-2004Jul27.html
[36] Juga
lihat Qur’an, Bagian 8, Ayat 72: “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah
… Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Juga
Qur’an Bagian 8, Ayat 74: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah
serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman
dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki
(nikmat) yang mulia.
[37]
http://metimes.com/articles/normal.php?StoryID=20060918-110403-1970r
[38]
http://www.faithfreedom.org/debates/Ghamidip18.htm
[39] Tabaqat,
Vol. 2, pp. 1-2.
[40] William Muir,
Life of Muhammad Volume II, Chapter 2, Page 6.
[41] Sahih
Bukhari, Vol. 3. Book 46, Number
717
[42] Ibid.
[43] Sahih Muslim
Book 019, Number 4321, 4322 and 4323:
[44] Sahih Muslim
Book 019, Number 4292:
[45]
http://66.34.76.88/alsalafiyat/juwairiyah.htm
[46]
Aisha mengisahkan bahwa Sauda melepaskan
jatah gilirannya siang dan malam bagi Aisha untuk bermesraan dengan Rasul
Allâh [Bukhari Volume 3, Book 47, Number 766]
[47] Muhammad ibn Jarir al-Tabari
(838–923) adalah salah satu sejarawan
[48]
Tabari dalam bahasa Persia, Vol. IV, hal. 1298.
[49] Bukhari Volume 3, Book 34, Number 310:
[50] Bukhari,
Volume 5, Buku 59, Nomer 459. Banyak hadis sahih menyatakan bagaimana Muhammad
mengijinkan hubungan seks dengan budak2 wanita, tapi tidak perlu melakukan azl/coitus
interruptus karena jika Allâh memang mau seseorang untuk lahir, maka jiwa
orang itu akan lahir meskipun dilakukan azl/coitus interruptus.
Lihat
juga hadis sahih di bawah ini:
Bukhari
3.34.432: “Dikisahkan oleh Abu Saeed Al-Khudri: ketika dia duduk bersama
Rasul Allâh dia berkata, “Wahai Rasul Allâh! Kami memiliki
tawanan2 wanita sebagai jatah jarahan perang, dan kami ingin tertarik
mengetahui harga mereka, apakah pendapatmu tentang azl/coitus
interruptus?” Sang Nabi berkata, “Apakah kau memang melakukan itu?
Sebaiknya jangan. Jiwa yang sudah ditakdirkan Allâh untuk ada, akan tetap
ada.”
Sahih
Muslim juga dianggap sahih oleh semua Muslim. Inilah hadis Sahih Muslim 8.3381:
“Rasul Allâh (s.a.w.) ditanyai tentang azl/coitus interruptus dan
dia menjawab: Seorang anak tidak terbentuk dari semua cairan (sperma) dan jika
Allâh memang merencanakan menciptakan sesuatu maka tiada yang dapat
mencegahnya.”
Kaum
Muslim juga menganggap hadis Abud Daud sahih. Inilah hadis sahih Abu Daud,
29.29.32.100: “Yahya mengisahkan padaku dari Malik dari Humayd ibn Qays
al-Makki bahwa seorang pria bernama Dhafif berkata bahwa Ibn Abbas ditanyai
tentang azl/coitus interruptus. Dia memanggil seorang budak wanita dan katanya,
‘Katakan pada mereka.’ Budak wanita itu merasa malu. Ibn Abbas
berkata, ‘Baiklah, aku katakan sendiri.’ Malik berkata,
‘Seorang pria tidak melakukan coitus interruptus dengan wanita merdeka
kecuali jika wanita itu mengijinkannya. Tidak ada salahnya melakukan coitus
interruptus dengan seorang budak wanita tanpa ijin darinya. Seseorang mengawini
budak orang lain tidak melakukan coitus interruptus dengannya kecuali jika
kalangan budak wanita itu memberinya ijin.”
Juga
lihat Bukhari 3.46.718, 5.59.459, 7.62.135, 7.62.136, 7.62.137, 8.77.600,
9.93.506 Sahih Muslim 8.3383, 8.3388, 8.3376, 8.3377, dan banyak lagi.
[51] Qur’an, 4:24: “dan (diharamkan juga kamu mengawini)
wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah
menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu..”
Qur’an, 33:50: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah
menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan
hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam
peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu,”
Qur’an, 4:3: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat
berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat
kepada tidak berbuat aniaya.”
[52] Sirat Rasul Allâh, p. 515.
[53] Sahih Bukhari, 1.8.367
Dalam
hadis ini diterangkan bagaimana kaum Muslim menyerang
Setelah
menaklukan
[54] Bukhari,
5.59.369
[55] The
Kitab al Tabaqat al kabir, Vol. 2, p 31
[56] From pp. 675-676 of The Life of Muhammad , which is A.
Guilaume’s translation of Sirat Rasul Allâh.
[57] Ibid.
[58] Ibn
Sa’d menulis versi lain kisah ini: “Bint Marwan, dari Banu Umayyah
ibn Zayd, di hari ke lima bulan Ramadhan, di awal bulan ke sembilan belas
setelah Rasul Allâh hijrah. `Asma adalah istri Yazid ibn Zayd ibn Hisn
al-Khatmi. Dia biasa mengejek Islam, menyinggung sang Nabi dan membujuk orang2
melawannya. Dia menulis puisi. Umayr Ibn Adi datang padanya di suatu malam dan
masuk rumahnya. Anak2nya tidur di sekitarnya.
[59] Qur’an 3:151 “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim.”
[60] Bukhari,
4.52.220.
[62] From
Journal of the Royal Asiatic Society of
[63] Quran, 2:65,
5:60, 7:166
[64] Ibn Ishaq Sirat, p. 363
[65] Ibid.
[66] AR-Raheeq
Al-Makhtum by Saifur Rahman al-Mubarakpuri
http://islamweb.islam.gov.qa/english/sira/raheek/PAGE-26.HTM
[67] Ibn Ishaq
irat, p. 438
[68] AR-Raheeq Al-Makhtum by Saifur Rahman
al-Mubarakpuri
http://islamweb.islam.gov.qa/english/sira/raheek/PAGE-26.HTM
[69] Ibid.
[70] Ayatollah
Khomeini: A speech delivered on the commemoration of the Birth of Muhammad, in
1981.
[71] Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 280:
[72] Sunan
Abu-Dawud Book 38, Number 4390.
Sunan Abu-Dawud is another collection of hadith regarded to be sahih.
[73] Bukhari Volume
4, Book 52, Number 288
[74] Bukhari Volume
4, Book 52, Number 176
[75] This story is
also reported by Tabari, Vol 3, Page 1126
[76] Ibn Ishaq,
Sirat,
[77] Sirah
al-Halabiyyah, v3, p61,
[78] Sahih
al-Bukhari, v7, p102