|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
Setia Sampai Mati
Bacaan: Matius 24:3-14
Pada tahun 155 Masehi, orang
Kristen dianggap sebagai orang
yang ateis karena mereka dianggap menyembah Allah yang tidak
kelihatan. Policarpus, pemimpin gereja di Smirna, ditangkap, dan hari
itu juga diputuskan untuk dihukum mati. Dalam perjalanannya menuju ke
pusat kota, seorang tua menasihatinya, "Apa salahnya sich mengakui
kaisar adalah Allah dan mempersembahkan korban baginya, sehingga kau
bisa dibebaskan!" Tapi, bagi Policarpus, Kristus adalah satu-satunya
Allah yang hidup.
Ketika memasuki arena penghukuman, algojo memberikan dia pilihan, untuk
mengutuk nama Kristus dan mempersembahkan korban bagi kaisar, atau untuk
mati dibakar hidup-hidup. "Delapan puluh enam tahun saya telah melayani
Kristus," jawab Policarpus, "Dan Dia tidak pernah berbuat jahat padaku.
Bagaimana sekarang aku bisa menghujat Rajaku yang telah
menyelamatkanku?" lanjutnya dengan gagah berani. Akhirnya, Policarpus
meninggal dunia dengan cara dibakar hidup-hidup.
Kejadian ini membuat rakyat kota Smirna gempar dan berdecak kagum.
Kesetiaan Policarpus hingga mati, telah membuat orang banyak melihat
perbedaan yang bersifat konkret, yang terjadi di dalam diri orang
percaya
dan orang-orang yang tidak percaya. Hal ini menguatkan hidup orang
percaya dan menjadi berita kesaksian bagi mereka yang belum percaya (Edy
Fances, 52 Renungan Reflektif, 175-176).
Saat ini, mungkin kita belum mengalami penderitaan; tetapi, ada orang
percaya yang sudah mengalaminya di tempat yang lain. Ketika kita
mendengar ada orang percaya yang sedang mengalami penderitaan, kita
dapat berdoa kepada Allah untuk mereka. Jika kita mengalami peristiwa
yang sama seperti yang dialami oleh Policarpus, akankah kita tetap setia
pada Tuhan Yesus sampai akhir hidup kita?
Lebih dari 2000 tahun yang lalu, Tuhan
Yesus sudah mengingatkan
murid-murid-Nya, bahwa memasuki zaman akhir (setelah Yesus Kristus naik
ke sorga), akan ada banyak pengajaran sesat yang tidak mengakui Tuhan
Yesus sebagai Juru Selamat. Juga terjadi perang, bencana alam,
penganiayaan, moral kebanyakan orang semakin rusak, manusia tidak lagi
mengasihi Allah dan sesama, tetapi hanya mencintai diri sendiri. Dosa
telah membuat kasih menjadi dingin. Namun, anak-anak Tuhan yang dapat
bertahan sampai akhir, akan diselamatkan. Pada akhirnya, Injil akan
diberitakan di seluruh dunia.
Rentetan peristiwa yang telah dan akan terjadi, seperti yang sudah
disebutkan di atas, dan peristiwa di mana Allah akan menghakimi dunia,
mengajarkan kepada kita agar kita semakin tekun memberitakan Injil. Di
masa-masa seperti inilah, pemberitaan Injil harus menjadi suatu agenda
yang sangat mendesak (urgensi). Di tengah-tengah zaman, yang mana kasih
menjadi semakin dingin, justru kita harus mengobarkan kasih kita kepada
sesama, sekalipun itu adalah musuh
kita. Tuhan Yesus berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu,
yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi
kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua
orang akan tahu, bahwa kamu adalah muridmurid-Ku, yaitu jikalau kamu
saling mengasihi" (Yohanes 13:34-35).
Tentang penderitaan yang akan dialami oleh orang-orang percaya, kita
tidaklah perlu mencari-carinya, atau membuatnya. Namun, jikalau Tuhan
memang mengizinkan kita untuk mengalaminya, percayalah bahwa Dia juga
akan memberikan kekuatan untuk kita dapat menanggungnya. Allah akan
tetap memelihara kita dalam segala keadaan, apa pun itu. Yang penting,
hati kita slap, dan tekad kita bulat untuk tetap setia sampai mati, apa
pun yang akan terjadi.
"Jika Tuhan memang
mengizinkan kita mengalami
penderitaan, biarlah kita dapat melihatnya
sebagai pengujian hidup iman kita."
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |