|
Siapakah Yesus? Pengantar Pada waktu Yesus lahir orang Romawi telah memerintah Palestina dengan tangan besi selama beberapa waktu. Dalam sebagian besar sejarahnya bangsa Yahudi merindukan kedatangan Mesias, figur yang telah lama dijanjikan Allah, yang akan membebaskan mereka dari musuh-musuhnya dan memulai kerajaan yang damai dan sejahtera bagi bangsa Israel. Ada banyak gambaran mengenai Mesias, tetapi sebagian besar bangsa Yahudi berharap Mesias adalah seorang pejuang (seseorang yang cukup kuat untuk memimpin mereka meraih kemenangan melawan maha-bangsawan Romawi). Beberapa orang Yahudi yang kehilangan kesabarannya, tidak dapat lagi terlalu lama menunggu pemenuhan janji Allah dan karena itu bergabung dalam suatu kelompok pejuang-pejuang kemerdekaan yang secara diam-diam menyusun rencana untuk menggulingkan penguasa Romawi dengan kekerasan, yaitu kaum Zelot. Kelompok lain yang dikenal sebagai kelompok kaum Esseni bertindak lebih optimis dan kurang berpandangan ekstrem, menarik diri ke padang gurun untuk berdoa, belajar dan menunggu kedatangan Mesias. Kelahiran Yesus Yesus lahir di suatu negara yang keadaannya sangat berubah-ubah. Ia dilahirkan di Betlehem, Yudea, sekitar tahun 4 SM. Oleh karena kota itu sangat padat dengan pengunjung yang mengikuti sensus penduduk yang diselenggarakan oleh pemerintah Romawi, maka Yesus dilahirkan di suatu kandang. Para penulis Injil menerangkan bahwa kelahiran Yesus berbeda dari kelahiran pada umummya. Mereka menjelaskan bagaimana malaikat menyatakan bahwa Ia adalah Juruselamat yang dijanjikan Allah dan juga menjelaskan bahwa Ia dikandung secara ajaib, oleh ibu Yesus yang tetap perawan. Oleh karena itu, Injil menggambarkan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Bingung? Ini adalah mujizat dan kuasa Allah yang maha agung. (klik memahami kuasa Allah) Nama Yesus sendiri berasal dari kata Ibrani Yoshua, yang artinya "Allah adalah Juruselamat kita". Nama lain yang sepadan dengan Yoshua atau Yesus adalah Immanuel. Salah seorang penulis Injil menulis bagaimana Herodes Agung penguasa Yudea, berusaha membunuh kanak-kanak Yesus dengan cara memerintahkan pembunuhan besar-besaran terhadap semua anak laki-laki di bawah umur 2 tahun di daerah itu. Hal ini memaksa Maria dan Yusuf, orang tua Yesus, untuk cepat-cepat membawa Dia ke Mesir. Setelah Herodes mati, keluarga ini kembali ke Nazaret di mana Yesus dibesarkan, mungkin Ia bekerja di perusahaan kayu ayahnya dan akhirnya tampil dan dikenal di muka umum pada usia 30 tahun. Sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Yahudi, Yesus harus disunat pada waktu Ia berumur 8 hari dan ikut melakukan ibadat mingguan di sinagoga setempat pada setiap hari Sabat. Kadang-kadang Ia diikutkan ke Bait Allah di Yerusalem pada pesta hari raya khusus seperti Paskah Yahudi. Pada satu kesempatan seperti itu Yesus tinggal di Bait Allah setelah semua peserta ibadat meninggalkan tempat ibadat untuk bertanya-jawab dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi tentang iman kepercayaan mereka setelah kedua orang tua-Nya pulang ke rumah. Inilah satu-satunya peristiwa yang dicatat di dalam Injil antara masa kanak-kanak dan kemunculan-Nya dari keadaan tidak terkenal sampai menjadi figur publik yang sangat kontroversial, sehingga jelas merupakan hal yang penting. Pembaptisan dan Pencobaan Yesus meminta Yohanes Pembaptis untuk membaptis-Nya dan sesudah itu Allah Bapa dan Roh Kudus memeteraikan pelayanan-Nya yang akan datang. Tanggung jawab Yesus benar-benar diuji oleh pencobaan yang dialami-Nya di padang gurun. Walaupun banyak "orang suci" di Palestina melakukan pembaptisan, tetapi pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis berbeda dengan mereka: pembaptisan yang dilakukannya dimaksudkan untuk pengampunan dosa dan mengandung unsur perwahyuan, untuk mengantisipasi akhir zaman. Orang-orang diberitakan bahwa mereka hanya dapat selamat pada saat pengadilan terakhir yang segera datang itu dengan bertobat dan memohon pengampunan Allah. Yohanes tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Dia bukanlah Mesias yang dijanjikan, sebagaimana banyak orang mengira bahwa dialah orangnya, tetapi dia datang untuk mempersiapkan jalan baginya. Ketika Yesus tampil di tepi sungai Yordan dan meminta untuk dibaptis, Yohanes terkejut dan merasa enggan. Meskipun demikian, Yesus mendesak bahwa memang sudah seharusnya dia melakukannya. Ketika Yesus keluar dari air Ia melihat langit di atas-Nya terbuka dan Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam wujud seekor burung merpati. Ia juga mendengar sabda Allah yang menyatakan bahwa Yesus adalah Putra-Nya. Hal ini mungkin merupakan perwahyuan pribadi kepada Yesus untuk mempersiapkan tugas pelayanan-Nya yang akan datang - suatu kepastian bahwa Ia sungguh ilahi dan terlepas sebagai Mesias Allah. Pada hari-hari antara Yesus dibaptis sampai dan awal pelayanan-Nya di depan umum, para penulis Injil sependapat bahwa Ia dicobai oleh Setan, penguasa kejahatan. Pertentangan antara roh kebaikan dan kuasa jahat terjadi setelah Yesus secara fisik lemah karena puasa yang dijalani-Nya selama 40 hari. Pertentangan ini mencerminkan konflik yang akan sering terjadi sepanjang pelayanan-Nya, sebelum mencapai puncaknya pada kematian-Nya di atas kayu salib. Kematian-Nya merupakan saat yang paling penting bagi kuasa kegelapan. Pada pencobaan pertama, Setan berusaha membujuk Yesus untuk menggunakan kuasa ilahi-Nya supaya memenuhi kebutuhan fisik-Nya mengatasi rasa lapar. Yesus memberikan jawaban dengan mengatakan bahwa hanyalah sabda Allah dalam Alkitab yang benar-benar dapat memuaskan kebutuhan manusia. Pada pencobaan kedua, Setan mendesak Yesus supaya terjun dari bubungan Bait Allah, karena malaikat-malaikat Allah akan melindungi-Nya, tetapi Yesus menolaknya. Akhirnya, Setan menawarkan kepada Yesus seluruh kerajaan dunia kepada-Nya dengan syarat bahwa Ia harus menghentikan misi khusus-Nya dan menyembah Kuasa Kegelapan. Yesus berbeda dengan "mesias-mesias" lain karena Ia menolak menggunakan kuasa-Nya untuk melindungi diri atau menguasai dunia (contoh: Muhammad). Sejak dari permulaan hidup dan pelayanan-Nya Ia memperlihatkan komitmen pada semua orang: Ia hanya dapat menyelesaikan kehendak Allah melalui penolakan, penderitaan, kematian dan kebangkitan. Murid-murid Yesus Kisah pokok dalam Injil adalah pemilihan keduabelas murid dan pengajaran Yesus kepada mereka. Mereka menjadi contoh dari seluruh tahapan pemuridan Kristen karena mereka berjuang untuk memahami Yesus dan sifat kerajaan-Nya. Selama tiga tahun setelah dibaptis Yesus mengajar, berkotbah, menyembuhkan, dan memberikan pelayanan di seluruh Palestina (antara tahun 27M dan 30M). Pada awalnya, Yesus mengumpulkan sekelompok kecil murid-murid di sekeliling-Nya (12 murid), meskipun kelompok yang jauh lebih besar, termasuk banyak perempuan, membentuk kelompok pengikut di luar para rasul. Bangsa Israel dibangun dari 12 suku pada awal mulanya dan pemilihan Yesus kepada para murid-Nya dengan jumlah yang sama bukanlah merupakan hal kebetulan. Komunitas Kristen yang baru ini akan menjadi komunitas Israel yang "baru". Yesus berjanji bahwa pada akhir zaman para rasul akan duduk di atas dua belas takhta untuk mengadili kedua belas suku Israel. Masing-masing Injil menceritakan secara beragam namun juga secara mendetail memberikan penjelasan bagaimana beberapa murid tertentu dipanggil oleh Yesus. Dua pasang nelayan (Simon Petrus dan saudaranya Andreas, serta dua bersaudara Yakobus dan Yohanes) menjadi murid-murid setelah Yesus memanggil mereka di tepi Laut Galilea. Matius, yang kadang-kadang disebut Lewi, sedang mengumpulkan pajak bagi pemerintah Romawi yang sangat dibenci ketika Yesus memanggilnya. Yohanes, di dalamnya Injilnya, mencatat cara khusus bagaimana Filipus dan saudaranya, Natanael, menanggapi panggilan Yesus. Sebagian besar murid lain tetap sama sekali tidak diketahui sekalipun kita memang tahu bahwa salah satu dari antara mereka, Simon yang lain, adalah seorang Zelot. Dua orang sisanya, Yudas Iskariot dan Thomas, akan berperan penting dalam kisah Yesus baik sebelum maupun sesudah penyaliban. Dari waktu ke waktu Yesus menjelaskan dengan rinci kepada kedua belas murid dan pengikut-pengikut lainnya arti sebenarnya menjadi seorang murid. Hidup seorang murid harus di atas segala-galanya, menjadi seseorang yang melayani orang lain. Yesus memperlihatkan hal ini dengan sangat jelas ketika menjelang akhir hidup-Nya, Ia mengambil bejana berisi air dan membasuh kaki para murid (suatu perbuatan yang sungguh-sungguh mewujudkan kerendahan hati. Menjadi murid adalah panggilan untuk mengikuti teladan Yesus, Putra manusia, yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang. Yesus memanggil banyak orang supaya hidup beriman seperti anak kecil yang tidak berdosa. Ia mengatakan kepada anak muda kaya yang ingin menjadi murid-Nya bahwa hanya mereka yang siap mengorbankan segala miliknya yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah Satu tema mendominasi pengajaran Yesus, yaitu tentang Kerajaan Allah. Ketika Ia menjelaskan kepada orang banyak bagaimana mereka dapat masuk Kerajaan Allah Ia membalikkan banyak nilai-nilai yang diterima secara umum. Matius mengatakan kepada kita bahwa apa yang membedakan Yesus dari para ahli hukum Taurat Yahudi ialah bahwa Yesus mengajarkan kepada orang banyak "dengan kuasa-Nya". Di dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas tema pokok pengajaran Yesus adalah Kerajaan Allah. Dalam keempat Injil awal pelayanan Yesus dihubungkan dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, karena keduanya mengatakan kepada mereka bahwa Kerajaan Allah, atau pemerintahan Allah "sudah dekat". Namun demikian, Yesus melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa dengan kedatangan-Nya Kerajaan Allah sungguh-sungguh sudah datang. "Kabar Gembira" tentang Kerajaan Allah adalah kasih dan damai yang ditawarkan Yesus kepada seluruh umat manusia dari segala lapisan. Pengajaran Yesus mengenai Kerajaan Allah mengandung dua hal: 1. Kerajaan Allah adalah realitas moral dan spiritual di dunia saat ini. Para rabi (guru agama) kala itu mengajarkan bahwa seseorang dapat menjadi milik Kerajaan Allah dengan cara mengucapkan dan meyakini Shema, pengakuan iman bangsa Israel akan satu Allah. Akan tetapi, Yesus mengajarkan kepada banyak orang supaya mereka mempersiapkan diri di sini dan sekarang untuk menantikan saat perwujudan Kerajaan Allah secara penuh di dunia ini. Persiapan ini menuntut pertobatan, perubahan hati secara menyeluruh yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk menerima kedatangan Kerajaan Allah sebagai Injil, kabar gembira Allah bagi umat manusia. 2. Kerajaan Allah sangat menanti-nantikan saat ketika Allah akan memberikan kuasa ilahi-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya dan membuktikan kebenaran-Nya. Orang banyak mendengar nada yang mendesak dalam sabda Yesus ketika Ia memulai pelayanan-Nya di depan umum: "Saatnya telah tiba. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Mujizat Ada banyak mujizat (tanda-tanda keajaiban) yang dicatat di dalam Injil. Perbuatan ini merupakan tanda yang nyata bahwa kuasa Allah bekerja di dalam Yesus. Beberapa sekte Gereja masih melanjutkan pelayanan penyembuhan Yesus sekarang ini. Keempat Injil dan Kisah Para Rasul di dalam Perjanjian baru mencatat sejumlah contoh Yesus, dan selanjutnya juga para murid, mengadakan mujizat. Dari pandangan kitab suci mujizat adalah merupakan suatu kejadian di mana Allah bertindak dengan cara yang luar biasa untuk mencapai tujuan yang luar biasa. Di dalam Perjanjian Baru, ada tiga kata yang dapat digunakan untuk memahami mujizat: 1. Orang yang menyaksikannya,
yang menyadari kehadiran Allah di antara mereka. Terdapat banyak sekali mujizat pada masa Perjanjian Lama, dengan bencana-bencana yang luar biasa, air Laut Merah yang terbelah menjadi dua dan pemberian makanan yang menakjubkan kepada bangsa Israel di padang gurun. Mujizat yang dibuat Yesus memulihkan kembali kepercayaan orang banyak bahwa Allah sedang bekerja secara ajaib melalui Dia, sebagaimana Allah telah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya di masa lampau. Mujizat Yesus dimaksud sebagai pewartaan kepada orang banyak bahwa Ia adalah Mesias yang dinanti-nantikan, datang untuk menunjukkan jalan kepada Kerajaan Allah. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus apakah Ia Mesias atau bukan, Yesus menunjukkan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya sebagai jawaban. Berbagai mujizat yang dilakukan Yesus di dalam Perjanjian Baru dapat digolongkan ke dalam tiga kategori: 1. Mujizat alami, seperti
berjalan di atas air atau meredakan angin ribut. Berkaitan dengan semua mujizat itu, mujizat yang paling besar dalam Perjanjian Baru adalah Allah membangkitkan Yesus dari mati. Mujizat-mujizat itu jarang terjadi tanpa pernyataan iman (entah oleh orang yang bersangkutan atau orang lain yang mengantarnya). Misalnya, ketika beberapa orang membawa orang yang menderita sakit lumpuh, iman orang-orang yang mengantar itulah yang dilihat dan dihargai Yesus. Hari-hari Terakhir Sabda dan tindakan Yesus telah mengusik para pemimpin agama pada waktu itu (khususnya orang-orang Farisi dan Saduki). Mereka terutama dibuat cemas oleh pernyataan Yesus bahwa Ia adalah Mesias yang mereka nanti-nantikan dan karena itu mereka membuat rencana untuk menangkap dan membawa-Nya ke depan pengadilan. Pada malam pertama hari raya Paskah Yahudi, Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir bersama para murid dan membagi-bagikan roti dan anggur kepada mereka sebagai tanda kematian-Nya yang segera akan tiba. Dengan melakukan ini, Yesus mewariskan kepada Gereja dua tanda abadi yang akan menjadi kenangan, dan perayaan akan kematian-Nya pada masa yang akan datang. Setelah perjamuan selesai, mereka semua pergi ke Taman Getsemani. Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama Dia. Di taman itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya bahwa jikalau sekiranya mungkin penderitaan-Nya berlalu dari pada-Nya, tetapi biarlah kehendak Allah yang terjadi. Setelah Ia selesai berdoa, Yudas Iskariot, salah seorang murid-Nya, tiba dengan serombongan prajurit Bait Allah, yang akan menangkap Yesus. Para murid lain, termasuk Petrus yang baru saja bersumpah bahwa lebih baik mati daripada meninggalkan Dia, melarikan diri dan meninggalkan Yesus seorang diri. Yesus tinggal sendirian. Injil mengisahkan peristiwa yang terjadi selanjutnya secara berbeda-beda. Setelah ditangkap, Yesus dibawa ke istana Kayafas, Imam Agung. Ketika Yesus menolak untuk mengingkari bahwa Ia adalah Putra Allah, Ia dituduh menghujat Allah (suatu kejahatan besar dalam tradisi masyarakat Yahudi). Dari sana Yesus dibawa ke hadapan Sanhedrin, Mahkamah Agung Yahudi di Yerusalem, tetapi mahkamah ini tidak mempunyai kekuatan untuk menjatuhkan hukuman mati tanpa persetujuan dari gubernur Romawi, Pontius Pilatus. Menurut Injil, hukuman mati ini enggan diputuskan oleh Pilatus tetapi orang banyak yang dibuat meluap-luap amarahnya oleh para pemimpin agama mereka, menuduh bahwa dia bukan lagi sahabat Kaisar jika ia membebaskan Yesus. Pilatus menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus tetapi setelah ia mencuci tangannya sebagai tanda tidak terlibat dalam kesalahan yang akan terjadi. Pontius Pilatus adalah wakil Kekaisaran Romawi di Yudea dari tahun 26 sampai 37. Pendapat modern mengatakan bahwa ia adalah pemimpin pemerintahan yang brutal dan kejam yang mengecewakan orang-orang Yahudi dalam banyak peristiwa. Ia pernah menjarah harta benda Bait Alah dan kemudian, ketika orang-orang Yahudi berkeberatan, ia mengirim prajuritnya yang mengakibatkan pertumpahan darah yang mengerikan. Ada beberapa petunjuk bahwa Pilatus dan istrinya akhirnya menjadi Kristen, dan Gereja Ortodoks Koptik menghormati mereka sebagai orang kudus dan martir. Kematian Yesus Kematian Yesus di atas kayu salib adalah peristiwa tunggal yang paling penting bagi iman Kristen. Dilihat secara sepintas, peristiwa itu tampaknya merupakan tanda kegagalan pada akhir suatu kehidupan yang sebelumnya banyak memberi janji, tetapi, bagi umat Kristen, kematian itu menandai puncak kemenangan atas kuasa kegelapan. Kematian Yesus berarti misi korban penebusan telah digenapi, dan Setan telah terpuaskan. Setan atau Iblis ibarat seorang terpidana mati, yang diberi kepuasan oleh Allah menjelang hari-hari penghukuman kekal di neraka. Korban tebusan Mesias adalah tuntutan Setan yang telah disanggupi oleh Allah, dan dengan digenapinya tuntutan itu telah sahlah keputusan Allah terhadap Setan untuk menghukumnya di dalam neraka kekal selama-lamanya. Ibarat Allah telah mengetukkan palu di atas meja pengadilan-Nya, sejak Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk tebusan bagi umat manusia. Sebelum dihukum mati, Yesus dipukuli oleh prajurit Romawi, seperti halnya orang-orang hukuman lainnya pada masa itu. Setelah mencambuki Yesus para prajurit Romawi mengenakan mahkota duri di kepala Yesus, meletakkan tongkat kerajaan yang terbuat dari buluh di tangan Yesus dan memberi salam ejekan sebagai "raja bangsa Yahudi". Kemudian Ia dibawa ke Golgota, Tempat Tengkorak, untuk dibunuh. Keempat Injil menggambarkan dengan sangat hidup saat-saat terakhir hidup Yesus. Meskipun dibantu oleh seseorang dari antara orang banyak, Simon dari Kirene, untuk ikut memikul salib-Nya ke Golgota, Yesus telah kehabisan tenaga bahkan sebelum Ia dipaku di kayu salib. Ia disalib di antara dua pencuri yang juga dijatuhi hukuman mati. Pemerintah Romawi selalu menyalibkan penjahat di tempat umum sebagai peringatan bagi yang lain, karena mereka memerintah dengan rasa takut. Di bawah kaki Yesus terdapat sedikit pengikut-Nya yang berlutut dan berdoa, sedangkan para prajurit mengundi pakaian Yesus (sebagai penghasilan tambahan atas pelaksanaan tugas yang tanpa upah tersebut). Injil menulis tujuh sabda terakhir Yesus yang diucapkan dari atas kayu salib: 1. Ia meminta kepada Allah supaya
mengampuni orang-orang yang membuat Dia menderita. Kebangkitan Yesus Menurut bukti Injil, ada beratus-ratus orang yang menyaksikan kebangkitan Yesus. Sesudah tiga hari dalam kubur, Yesus menampakkan diri, antara lain kepada Maria Magdalena, Petrus, dua orang murid yang tidak diketahui namanya yang sedang dalam perjalanan pulang, kepada kurang lebih 500 orang di suatu bukit di Galilea, dan kepada sebelas murid lainnya. Penampakan-penampakan ini terjadi dalam waktu 40 hari sebelum kenaikan-Nya ke surga. Bentuk sebenarnya dari "kebangkitan badan" Yesus hanyalah merupakan perkiraan, walaupun sesuatu yang fundamental benar-benar telah berubah: wajah-Nya berubah dan mampu dengan tiba-tiba muncul dan menghilang. Para murid dan pengikut lain juga berubah karena hasil pertemuan dengan Yesus yang bangkit. Sebelum naik ke surga, Yesus memberi kuasa kepada para murid supaya meneruskan tugas-Nya dengan mewartakan Injil baik di dalam maupun di luar Kekaisaran Romawi. Ia berjanji akan mengutus Roh Kudus-Nya kepada mereka untuk menguatkan mereka dalam menunaikan tugas kerasulan. "Kepada-Ku telah diberikan segala
kuasa di sorga dan di bumi.
http://myquran.org/forum/index.php/topic,14888.0/prev_next,prev.html#new Ronde 2: Respon hawari89 thd argumen pembuka Axl
SIAPAKAH YESUS MENURUT ORANG YAHUDI SAAT ITU?
……… Kesimpulan I : Konsensus masyarakat saat itu beliau adalah NABI. Orang-orang Yahudi tentang siapa Yesus: Tidak ada yang salah ketika Para Rasul yang menulis Injil menuliskan bahwa banyak orang Yahudi yang memandang Yesus sebagai nabi. Tapi para rasul juga menuliskan bahwa menurut banyak orang Yahudi, Yesus adalah manusia yang menyamakan diriNya dengan Allah. Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:"Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" (Markus 2:6-7) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yohanes 5:18) Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yohanes 10:33) Karena klaim-klaim keilahianNya-lah Yesus dianggap melakukan salah satu bentuk menghujat Allah karena menyamakan diriNya dengan Allah, dan oleh sebab itu orang Yahudi hendak membunuhNya dengan melempari batu, karena itu adalah salah satu cara dari hukum Taurat (Imamat 24:16) Kesaksian Kayafas, Imam besar Yahudi di depan Sanhedrin tentang Yesus: Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. (Matius 26:65) Sudah menjadi tradisi Yahudi bagi orang yang pertama kali mendengar penghujatan terhadap Allah untuk ‘mengoyak pakaian’-nya, terutama terhadap penghujat yang menyamakan diri dengan Allah dan dengan demikian telah menghina nama YAHWEH. "Whosoever hears the cursing of the name (of God) is obliged to rend, even at the cursing of the surnames he is obliged to rend; and he that hears it from an Israelite, both he that hears, and he that hears from the mouth of him that hears, he is obliged to rend; but he that hears from the mouth of a Gentile, is not obliged to rend;” (Misnah Sanhedrin, chapter 7:5) Lalu sebenarnya apa yang dikatakan Yesus hingga Kayafas harus menuduhNya menghujat Allah karena menyamakan diriNya dengan Allah? Mari lihat ayat sebelumnya: “Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."”(Matius 26:64) Lebih mantap kalau melihat terjemahan Inggris: “Jesus said unto him, Thou hast said: nevertheless I say unto you, Henceforth ye shall see the Son of man sitting at the right hand of Power, and coming on the clouds of heaven.” Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia “duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa”, ini berarti bahwa Ia mencoba mengatakan bahwa Kuasa / Power ada di tanganNya dan bahwa Ia sedang berusaha menyematkan nubuatan Daniel akan Raja Mesianik Ilahi yang memiliki Kuasa memerintah selama2Nya (Daniel 7:13). Dalam banyak tulisan Yahudi (Maccot 24: 1, Horayot 8:1, Debarim Rabba 245:4, Melacim chapter 8:10, dsb, dsb), YAHWEH sering disebut sebagai הגבורה, "The Power", sehingga perkataan Yesus tersebut berarti menyamakan diriNya dengan YAHWEH Elohim. Jadi jelas, menurut KONSENSUS PARA IMAM YAHUDI, Yesus telah menyamakan diriNya dengan Allah.
Kutip
SIAPAKAH YESUS MENURUT PARA MURIDNYA?
Sudah terjawab di postingan ronde 1-ku.Silahkan dibaca kembali bagaimana Para Rasul yang aku kutipkan (Petrus, Yakobus, Yohanes, Tadeus, Paulus) dan para murid mereka mengakui keilahian Yesus Kristus. Dan iman inilah yg dengan setia diteruskan secara turun-temurun kepada Gereja melalui khilafah rasuliah ![]()
Kutip
SIAPAKAH YESUS MENURUT DIRINYA SENDIRI?
Sampai detik ini aku bahkan belum merasa perlu untuk
mengutip berjibun klaim2 Yesus akan keilahianNya. Ini karena logika yang
sederhana:“bahkan ketika para rasul menuliskan sisi kemanusiaan Yesus dalam 4 Injil kanonik dan dokumen2 Perjanjian Baru yg lain, ini tidak mengubah ajaran rasuli mereka bahwa Yesus tidak hanya manusia sepenuh, tapi juga adalah Allah sepenuh”. Tapi secara tidak langsung tnyata aku sudah memberikan satu klaim Yesus di atas (dialog Yesus dengan kayafas).
Kutip
Dari sekian fakta, baik masyarakat, murid-murid
terdekatnya hingga dirinya sendiri bersiteguh bahwa yesus hanyalah
seorang utusan Allah, seorang Nabi….lalu mengapa manusia memaksanya
menjadi lebih dari kedudukan yang dianugerahkan Allah kepada beliau?
Tidak ada yang salah ketika
semua orang mengatakan bahwa Yesus adalah manusia, nabi, dan utusan.
Orang Kristen juga mengakui hal itu.Tapi apakah Yesus hanya sekedar utusan? Dan apakah utusan selalu lebih rendah dari yang mengutus? “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1) Yesus adalah manifestasi dari firman Allah (Yoh 1:14), firman itu senantiasa berdiam dalam diri Allah (Yoh 14:10) dan melalui firman inilah Allah berkarya (Yoh 1:1-4, Kej 1:1-25). Firman ini bukan ciptaan karena tidak ada ciptaan yang mampu menjadikan ciptaan lainnya. Utusan tak mungkin ada tanpa adanya pengutus, begitu juga firman takkan ada tanpa adanya sumber firman. Firman pun tak mungkin menyuarakan kehendak dirinya sendiri TAPI menyuarakan kehendak sumbernya (Yoh 8:42, Yoh 12:49), inilah yang menjadikan Sang Firman SATU dan sekehendak dengan sumberNya (Yoh 10:30). Orang-orang beriman PASTI meyakini, berinteraksi dengan firman Allah adalah ibarat berinteraksi langsung dengan Allah sendiri (Yoh 14:7-9), karena sebagai firman (sesuatu yang pada hakikatnya tak berwujud), meskipun keduanya bisa dibedakan, Firman tidak mungkin dipisahkan dari sumber Firman itu sendiri, keduanya adalah satu pada saat yang bersamaan, karena tidak mungkin sumber Firman pernah ada waktu ketika tidak memiliki Firman (alias bisu). Disinilah letak kesatuan dan kesamaan antara Allah sebagai Pengutus dan kemanusiaan Yesus (Sang Firman) sebagai yang Diutus. Berbeda dengan jika utusan itu adalah manusia lain yang diangkat sebagai utusan/nabi, manusia itu jelaslah berbeda dan terpisah dari Allah karena manusia itu bukan Firman Allah yang menjadi daging. Jadi, apakah benar 'yang diutus' selalu lebih rendah dari 'yang diutus'? Apakah tidak mungkin 'yang diutus' itu sendiri ternyata adalah 'yang memiliki pesan untuk disampaikan'?
|