Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto

ISU KRISTENISASI BIASA DIKUMANDANGKAN OLEH PARA USTADZ UNTUK MENGOBARKAN SEMANGAT ANTI KRISTEN

Seorang netter dari Al-Islah Online menulis begini:

Saya mahasiswi unand. Di Sumatera Barat gaya anak mudanya mayoritas sudah tidak islami lagi, cendrung bergaya kebarat-baratan, dan ini menandakan misi kristenisasi sudah menjamahi mereka. Menurut saya ini karena film-film remaja yang tidak mendidik dan tidak berkualitas yang diputar di TV.

 

Sebuah buletin Islam membuat artikel berikut:

Pada dekade 60-an, kaum Kristen di Indonesia mengambil suatu keputusan yang amat penting, yang merupakan awal kerusuhan politik, dan menjadi konflik Islam-Kristen yang meruncing sampai sekarang ini. Keputusan itu mereka ambil melalui konferensi di Jawa Timur yang intinya adalah : "Pengkristenan Indonesia dalam waktu 50 tahun, dan khusus pulau jawa dalam waktu 30 tahun".

Dengan keputusan itu, kaum Kristen semakin giat, bahkan dapat dikatakan opensif dalam segala lapangan. Kalau pada zaman Nasakom, komunis memaksakan nasakomisasi (menempatkan orang komunis) disetiap lapangan kehidupan, maka di zaman orde baru melalui rezim Suharto sangat terasa adanya kristenisasi dalam segala lapangan kehidupan dalam masyarakat Indonesia. Dimana - mana mereka mendirikan gereja, tanpa memandang apakah di tempat itu ada orang Kristen atau tidak.

DI Aceh umpamanya, mereka mendirikan gereja padahal tidak seorangpun suku aceh yang beragama Nasrani, maka gereja yang baru saja didirikan itupun dibakar rakyat setempat. Di kota - kota besar bermunculan gereja-gereja dengan angkuhnya, terkadang rumah tinggal dan ruko tiba-tiba sudah berubah menjadi gereja. Bahkan dengan sengaja membakar emosional umat Islam di samping masjid mereka bangun gereja, seperti di Masjid Raya Pulo Asem Rawamangun. Bahkan di asrama mahasiswa Indonesia, yang terletak di jalan Pegangsaan Timur Jakarta, dikala itu tiba-tiba sedah berdiri gereja yang megah di atasnya.

Sebuah sekolah perguruan rakyat yang terletak di belakang Rumah Sakit Kristen St. Carolus harus dibongkar karena RS. Kristen tersebut memerlukan perluasan. Betapapu nkerasnya reaksi dari masyarakat luas untuk tetap mempertahankan sekolah tersebut, apalagi karena sekolah itu mempunyai nilai sejarah dalam pergerakan kemerdekaan, harus diratakan dengan tanah demi kepentingan pelebaran RS.Kristen. Sekali lagi demi perubahan peta politik menuju Kristenisasi yang sudah berjalan mantap di bumi Indonesia, semua jalan harus ditempuh "the end justifies the mean". Menghalalkan segala macam cara.

Dnega nkeuangan melimpah yang mengalir dari berbagai donatur, mereka mendirikan gereja megah, rumah sakit mewah, mendirikan sekolah-sekolah mulai dari penitipan anak, TK, SD, SMP, SMA dan Universitas dengan fasilitas bangunan yang megah hingga mengalahkan semua bangunan sekolah yang ada termasuk sekolah-sekolah negeri dan rumah sakit pemerintah.

Mereka juga mengadakan gerakan orng tua angkat melalui Organisasi Orang Tua Angkat. Orang Kristen dari Eropa dan Amerika mempunyai anak-anak angkat di Indonesia. Seperti di Belanda, dengan uang 50 gulden per bulan di tahun 1970-an, mereka sudah mempunyai anak angkat di Indonesia. Dan gerakan itu ditujukan untuk membantu sisa-sisa korban dari peristiwa G30 S PKI. Kaum komunis mendapat santunan dari kaum Kristen. Mereka membagi-bagikan sembako secara berkala, bahkan mereka juga mendapatkan tawaran bantuan modal usaha, dengan perjanjian, bahwa mereka harus menjadi Kristen. Dalam keadaan sangat sulit dan terpaksa, para korban G30 S PKI tsb mau tidak mau harus menerima tawaran itu. Tidak cukup dengan membantu mereka, bahkan mereka diracuni dengan provokasi yang menyesatkan, yaitu menstigmasi umat Islam dengan kata-kata : "Kalian adalah korban pembunuhan dari orang-orang Islam". Dan tidak aneh kalau sekarang naka-anak mereka banyak yang menjadi Kristen Militan.

Dengan peranan dan perencanaan yang sangat matang dari CSIS, DGI, MAWI, dan IGGI kaum Kristen di Indonesia telah berhasil menanamkan kekuasaan di segala sektor kehidupan, baik bidang pemerintahan untuk meraih kekuasaan, orang-orang Kristen juga menduduki posisi-posisi yang penting di masa rezim Orde Baru.


Era Reformasi

Keberhasilan kaum Kristen di zaman Orde Baru membuat kelompok minoritas ini menjadi pongah, mereka lebih loyal pada Vatikan, Eropa Barat dan Amerika. Kita sadar, lepasnya Timor Timur dari Indonesia tidak menafikan adanya peran dari aktor-aktor Kristen. Dengan tuduhan pemerintah Indonesia melakukan pelanggaran HAM berat. Pemerintah terpojok oleh propaganda Kristen yang telah menguasai gerakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Nampaknya, untuk Indonesia Timur mereka terus berusaha melakukan apa yang pernah mereka lakukan di Timor Timur. Kasus Poso, Ambon, Irian Jaya yang terus menghangat, tidak lebih dari makar busuk yang sedang mereka lakukan, karena mustahil kasus Tibo cs yang kriminal, dan tindakannya yang membunuh ratusan umat Islam di Pesantren Walisongo dianggap pahlawan, pembelaan yang dilakukan oleh para aktivis gereja dan Vatikan adalah sebagai tindakan arogansi. Termasuk ketika Paus Benedictus XVI menyurati presiden SBY terkait kasus eksekusi Tibo cs. Padahal tindakan Tibo cs jelas-jelas kriminal, sadis dan biadab.


Kronologi Kejahatan Tibo cs

Bagi pembunuh, seharusnya dikenai hukum qishas. Namun, jika dengan alasan negara atau siapa pun sebagai penegak hukum tidak berhak mengambil nyawa orang lain, sehingga hukuman mati harus dicabut atas Tibo cs. Orang bertanya,: Siapa yang memberi hak kepada Tibo cs untuk membunuh lebih dari 100 santri pesantren Wali Songo di Poso, lima tahun lalu?

Sekedar mengingatkan, betapa biadab dan sadisnya pasukan merah Kristen pimpinan Fabianus Tibo, kita lihat kronologi tragedi Poso yang direkam Forum Silaturahim dan Perjuangan Umat Islam Poso.

Sabtu, 20 Mei 2000

Seorang pemuda muslim dari desa Kelei, Anton Dunggio berhasil meloloskan diri dari massa merah (Kristen) dan menginformasikan tiga hari lagi akan ada penyerangan besar-besaran oleh pasukan merah dari Tentena. Namun, informasi tersebut dinilai provokasi, dan Anton dituduh provokator kemudian diangkap atas perintah Wakapolres Poso, Jhony Siahaan.

Senin, 22 Mei 2000

Pukul 19.30 Waktu Indonesia Timur, atas inisiatif Kapolres Poso, diadakan pertemuan antar unsur pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, untuk membicarakan situasi Poso. Jam 23.30-24.00 Muspika Kota Poso, mengumumkan melalui kendaraan dan berkeliling kota Poso, bahwa tidak akan ada penyerangan dari massa Kristen, dan kepada warga Muslim kota Poso, diminta tenang.

Selasa, 23 Mei 2000

Sejumlah kendaraan berisi pasukan merah Kristen, dengan memakai baju, celana hitam dan ikat kepala merah, hilir mudik sambil berteriak dan mengacungkan senjatanya melewati desa Sintuwulemba. Konvoi pasukan itu sebagian diturunkan di desa Tagulo dan sebagian di desa lain. Dini hari, sekitar jam 03.00 datang pasukan Kelelawar Merah berpakaian ala Ninja, dan Serma Kamarudin Ali tewas ditebas pasukan Kelelawar. Pada waktu yang sama, kakek Muslim Kayamanya dibantai, ketika menuju masjid untuk sholat subuh da nAbdul Syukur lehernya di tebas di Serambi Masjid Moengko.

Massa Putih (Islam) mengejar Pasukan Kelelawar Merah pimpinan Cornelius Tibo alias Fabianus Tibo yang bersembunyi di kompleks Gereja Katholik Moengko. Apart keamanan yang dibantu beberapa orang warga muslim berhasil menagkap Tibo cs. Negosiasi dilakukan ketika itu antara Tibo cs dengan aparat. Sebagai jubir pasukan Kelelawar Merah, Tibo mengatakan siap menyerahkan diri. begitu juga seluruh anggota pasukannya akan menyerahkan diri kepada pihak berwajib, dengan syarat mereka mendapatkan jaminan keamanan aparat sepenuhnya dari peradilan massa atas dirinya dan kelompoknya.

Usai pertemuan, Tibo beranjak dari tempat itu, konon ia minta ijin keluar untuk memanggil seluruh pasukannya guna menyerhakan diri kepada pihak berwajib, dan apartpun percaya saja. Tanpa meminta kesepakatan kepada kelompok kaum muslimin. Nah momentum itulah yang digunakan Tibo untuk melarikan diri, mengkhianati janjinya sendir, lalu menghilang ditengah-tengah semak belukar, tepatnya dibelakang gereja santa Theresia Kelurahan Moengko.

Rabu, 24 Mei 2000

pukul 06.30 terjadi penyerangan Pasukan Merah terhadap warga muslim Sayo, yang mengakibatkan tewasnya Aswin. Pukul 10.000 sebagian pasukan Merah yang kembali dari Togaluke Tentena, dan melepaskan anak peluncur sebanyak empat kali ke arah pesantren Wali Songo, dan melepaskan tembakan senapan angin ke rumah pak sarimah warga Muslim. Pada waktu yang hampir bersamaan di Togalu dan Situwulemba KM. 9 telah terjadi pembantaian dan penyanderaan warga msulim yang dilakukan oleh pasukan merah Kristen.

Pukul 18.30 Pasukan Merah Kristen, melemparkan bom molotov dua kali ke rumah Pak Ahmadi warga Muslim Situwulemba. Sore itu sekitar 1000 oang berpakaian ala ninja merah dengan persenjataan lengkap melakukan pengrusakan san pembakaran rumah-rumah pendudukan di Desa Toyado dan Labuan. Dua orang warga muslim syahid setelah dibakar hidup-hidup oleh pasukan Kristen, dan salah satu korban bernama Rafik Pakaya.

Kamis, 25 Mei 2000

Keluarga Besar Wali Songo memasang rintangan jalan. Setiap kendaraan yang lewat di stop untuk menyampaikan pesan agar mereka jangan mengganggu masyarakat muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo. Terjadilah ketegangan antara Pasukan Merah dengan warga muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo. Akhirnya camat Lage Drs. Minto Ida dan Kapolsek Lage JP.Londa membuat kesepakatan dengan Ustadz Sahudin mewakili Pesantren Wali Songo, yang dihadiri oleh Dominggus mewakili Pasukan Merah, Sudarso Panyipto mewakili Kristen Sintuwulemba dan beberapa tokoh masyarakat Muslim lainnya, dengan menghasilkan beberapa kesepakatan perjanjian antara lain : 1. Rintangan jalan depan pintu gerbang Pesantren Wali Songo harus dihilangkan. 2. Pasukan Merah tidak akan mengganggu warga Muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo.

Jum'at, 26 Mei 2000

Camat dan Kapolsek Lage melarang warga Muslim di desa Sintuwulwmba dan Pondok Pesantren Wali SOngo mengungsi dengan alasan tidak akan terjadi apa-apa dan mereka memberikan jaminan keamanan. Pasukan merah menyerang desa Sintuwulemba dan membantai seluruh warga Muslim yang ditemui. Lebih dari 70 pengurus dan santri Pondok Pesantren Wali Songo dibantai oleh pasukan Merah di dalam masjid. Pasukan merah menebangi pohon di jalan untuk menghambat bantuan pasukan TNI/POLRI dari Makassar dan warga muslim dari Mangkutana dan Bungku.

Sabtu, 27 Mei 2000

Di Tentena, rumah-rumah warga muslim dibakar. Massa dari desa Sanginora yang dipimpin ileh Guntur S.Tarinje, mendatangi kantor kecamatan Poso Pesisir dan dihadiri oleh pemuka-pemuka masyarakat Islam setempat. Dalam pertemuan tersebut disepakati memorandum of understanding yang memuat ikatan perjanjian debagai berikut :

Pertama, pihak Kristen tidak akan saling menyerang dengan pihak muslim di seluruh Poso Pesisir. Adapun perseteruan yang terjadi dalam kerusuhan Poso cukup menjadi persoalan di Poso kota, tidak perlu merambat sampai ke Poso Pesisir. Kedua, semua rintangan di jalan raya yang menghambat kelancara n lalu lintas dan mobilitas umum agar disingkirkan serta dibersihkan sebagaimana keadaan dan kondisi sebelumnya. Ketiga, pasukan kelompok merah yang tidak bermusuhan dengan warga muslim Poso Pesisir tidak boleh saling mengganggu.

Warga muslim mematuhi perjanjian tersebut. Pembersihan jalan Raya sudah dilaksanakan, dimulai dari desa Tabalu, Ratolene, Bega, Patirobajo, Mapane, Toini, Tolana, Landangan, Tonipa. Bahkan sampai kelurahan Moengko dan Kayamanya.

Tetapi karena pihak Kristen mengkhianati perjanjian tersebut akibatnya fatal. Pasukan merah leluasa menghajar saudara mereka, umat Islam yang berada di Poso Kota. Camat Lage, Drs, Mito Ida, Kapolsek Lage JP. Londa dan Babinsa Kec. Lage Serka Darmo mendatangi pesantren Wali Songo untuk meminta agar Wali Songo menyerahkan HT (handy talky), senjata-senjata tajam warga muslim Sintuwulemda dan alat-alat las serta meminta agar warga muslim Sintuwulemba dan Wali Songo tidak balas menyerang meskipun kemarin telah dipeluncur dan dilempar bom molotov warga Kristen.

Minggu, 28 Mei 2000

Mobil-mobil truk beriringan dari arah Napu membawa ribuan pasukan Merah ke arah Kec. Poso Pesisir. Sekitar pukul 08.000 Pasukan Merah mulai melakukan penyerangan, pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah warga msulim di desa Tabalu, Ratulene, Mapane, Bega, patiro bajo, Saatu, Pinedapa, Masani, Tokorondo, Tiwa, Kilo dan Kalora. Pukul 10.000 pesantren Wali Songo diserang. Kemudian mereka mengepung desa Sintuwulembda dari segala penjuru. Warga muslim Sintuwulemba yang masih berada di sana berusaha melakukan perlawanan seadanya karena tidak menduga, pasukan Merah akan menyerang seperti itu. Bukankah sebelumnya sudah ada jaminan dari aparat?

Warga muslim Sintuwulemba bersama sebagian kecil warga Wali Songo terpukul mundur kemudian Ustadz Sahudin mengibarkan bendera kain putih di Masjid Al Hijrah Sintuwulemba, setelah dijanjikan oleh Pasukan Merah apabila mereka (warga muslim) menyerah dan melepaskan senjata tajamnya dijamin aman. Pasuka Merah ingkar janji. Para pengkhianat itu melucuti senjata tajam warga muslim. Setelah itu, Pasukan merah membantai dengan menebas leher warga muslim yang telah terkurung di dalam masjid Al-Hijrah Sintuwulemba dan mencincang-cincangnya baik yang keluar masjid, maupun di tempat-tempat lain dimana saja mereka dapati warga muslim di desa itu. Sebagian pasukan Merah membakar rumah-rumah penduduk warga muslim hingga ludes, kecuali rumah-rumah orang Kristen Sintuwulemba. Korban yang tewas dan yang masih hidup semua diangkut dengan truk entah dibawa kemana.

Menyikapi situasi yang terus kisruh dan meruncing dalam kehidupan antar umat beragama, umat Islam harus tegas dan bijak, bahwa kebiadaban dan pengkhianatan atas janji, agaknya menjadi karakteristik laskar merah Kristen. Orang-orang kristen terbiasa memaksakan kehendak pada negara dengan melanggar hukum, menodai keadilan, dan melukai nurani mayoritas umat Islam di negeri ini. Tidakkah kita berfikir untuk selalu waspada dan berhati - hati atas segala propaganda dan tipu daya musuh-musuh Allah? Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah juga akan menolong kamu. (Ahmad Salimin Dani/Lentera Da'wah)

Klik Tanggapan

Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto

stats

Hosted by T35 Free Web Hosting. Sunglasses Sale - Casino Reviews - Audi Los Angeles - Drug Rehab - Online Colleges - Cheap Hosting - Prada Sneakers - SEO Services