|
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto
Kisah Shafiyah yang Memilukan
Bukhari 7. 71.58
Di kisah lain, kita baca bahwa “Setelah Muhammad menyerbu benteng2
pertahanan kota Kheibar dan masyarakat tak bersenjata disergap,
prajurit2 Muslim membunuh banyak orang sampai mereka menyerah. Muhammad
mengijinkan mereka meninggalkan tempat tinggalnya, tapi mereka harus
menyerahkan harta benda mereka kepada penakluk. Dengan beberapa orang,
datanglah ke muka Kinana, ketua kaum Yahudi di Kheibar dan keponakannya.
Muhammad menuduh mereka berdua melanggar persetujuan, dengan
menyembunyikan harta, terutama kekayaan Bani Nadhir, yang dimiliki
Kinana sebagai bagian perkawinan dengan istrinya, Safiyah yang adalah
anak ketua suku Nadhir. “Di mana bejana2 emas,” tanya Nabi, “yang kau
gunakan untuk dipinjamkan pada orang2 Mekah?” Mereka protes dan berkata
mereka tidak punya itu lagi. “jika kau menyembunyikan apapun dariku, “
lanjut Muhammad, “dan aku mengetahui akan itu, maka nyawamu dan nyawa
keluargamu akan kucabut.” Mereka berkata biarlah begitu. Seorang
pengkhianat Yahudi membocorkan rahasia pada Muhammad tentang tempat di
mana sebagian harta mereka disimpan. Dia pergi dan mendapatkannya.
Setelah usaha penyembunyian harta ini diketahui, Kinana disiksa secara
kejam, -- “api diletakkan di atas dadanya sampai dia hampir putus nafas,
“ – dengan harapan dia mengatakan di mana sisa hartanya disembunyikan.
Muhammad lalu memberi perintah, dan kepala dua kepala suku Yahudi
dipancung.” [Tabari]
Dikisahkan oleh
'Abdul 'Aziz:
Anas berkata, 'Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan
sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang
kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda
di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat
dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan
kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata,
‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara
maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’
Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang2 ke luar untuk bekerja dan
beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami
berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para
tawanan, dan hartabenda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata,
‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang
Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya
bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah!
Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik
dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang
Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang
bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata
pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’
Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.”
Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi
sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena
dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.”
Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk
(upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai
pengantin sang Nabi. (Sahih Bukhari 1.367)
Dari Hadis di atas kita mengetahui bahwa penyerangan terhadap Khaibar
merupakan serangan mendadak. Orang2 kota tidak diperingatkan lebih
dahulu dan mereka tidak siap menghadapi serangan ini. Ini memang
kebiasaan sang Nabi untuk tidak membiarkan korbannya membela diri. Dia
akan menyerang mereka tidak dengan cara ksatria dan tanpa peringatan.
Pada kenyataannya nama Quzvah berarti “serangan mendadak”. Khaibar tidak
melanggar perjanjian apapun dengan Nabi, dan tidak ada tanda2 apapun
bahwa mereka membahayakan kedudukan orang2 Muslim. Satu2nya alasan sang
Nabi menyerang kota ini, membunuh siapa saja yang berdiri di jalannya
dan merampas wanita yang tercantik sebagai budak pemuas seks-nya adalah
karena dia menginginkan kekayaan masyarakat kota ini.
Sang Nabi
menyerang Kheibar, memperbudak Safiyah dan memperkosanya di hari yang
sama dia membunuh suami, ayah, dan saudara2 Safiyah. Beginikah
seharusnya tingkah laku seorang utusan Tuhan?
Safiyah adalah anak kepala suku orang Yahudi yang
dikenal sebagai Bani Nadir. Nama ayahnya adalah Huyah ibn Akhtab. Bani
Nadir diusir paksa oleh sang Nabi untuk meninggalkan tanah Arab. Sisa
Bani Nadir dan keluarga Huyah ibn Akhtab melarikan diri ke tempat Bani
Qurayza. Tapi Muhammad bersama tentaranya datang pula ke sana dan
menyerang mereka semua.
Ayah Safiyah, Huyah ibn Akhtab, dipancung kepalanya karena menolak masuk
Islam. Suami Safiyah pun dipancung. Pada hari itu sekitar 600-900 orang
Yahudi dipancung kepalanya oleh Muhammad and the gang.
Sewaktu Muhammad melihat Safiyah yang cantik luar biasa, dia pun
mengambilnya untuk melayani nafsu berahinya malam itu juga.
Dinarasikan oleh
'Abdul 'Aziz:
"Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad
dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka
tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang
melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para
wanita menjadi tawanan (Sahih
Bukhari V.5 B.59 N.512).
"budak" tawanan wanita dibagi2 kepada masing2 anggota geng muhammad,
namun karena Safiyah yang tercantik dan seorang anak kepala suku, maka
ia dibawa kehadapan Muhammad sebagai kepala geng. Ketua Geng yang
kemudian birahi melihat kecantikan Safiyah, kemudian memutuskan untuk
menambah koleksi "petutup sarung"-nya, dinikahi tanpa mahar, dan Safiyah
digauli malam itu juga. Malam dimana anggota sukunya, keluarga, dan
suaminya baru saja terbunuh oleh pasukan muslim Muhammad.
Thabit lalu bertanya pada Anas, “apa
mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata” dirinya sendiri
merupakan mahar yang harus dibayar" ketika nabi menikahinya. Di
perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan
malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.” (Sahih
Bukhari 1.367)
Kisah yang membuat kita miris mendengarnya pada jaman sekarang, namun
lagi2 Muhammad
mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan
menerima 2 imbalan. Pertama, dengan
menghindari mahar
karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja,
kedua ia dapat menikahi
gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya.
Dalam salah satu topik
Filsufsufi dan Adheel BAHU MEMBAHU untuk
MEMBENARKAN pernikahan Nabi dan Safiyah .
padahal SUAMI safiyah baru saja DIBUNUH di
KAMPUNGNYA atas perintah NABI(Ingat
bukan mati dalam PERTEMPURAN!!.tapi PENYERANGAN
mendadak ke KAMPUNG tsb)
nah...ke dua muslim tsb BERSIKUKUH utk
mengatakan..bahwa safiyah itu memang akan
DINIKAHIN rasul.berdasarkan bukti berikut :
|
adheel wrote: |
2.Kamu tahu setelah pernikahan Beliau
dengan Syafiah, beliau melihat tanda
bekas Tamparan di pipi Syafiah dan
beliau bertanya :"Apa ini"..?
Syafiah menceritakan bahwa dia bermimpi
bahwa rembulan telah jatuh di kamarnya,
dan kemudian Suaminya menampar
pipinya... (mengisyaratkan mimpi bahwa
ia akan menikah dengan beliau)
|
|
FILSUF sufi
wrote: |
Mengenai perkawinan Nabi saw dengan
Syafiah; hukum yang berlaku pada masa
perang adalah siapa yang kalah dalam
berperang maka perempuan dan lelaki
menjadi tawanan pihak yang menang,
sehingga boleh jadi wanita Syafiah ingin
dinikahkan oleh orang2 muslim secara
baik2, namun waktu itu para sahabat
tidak berani dan merasa tidak pantas
untuk
menikahkan wanita yang berparas sangat
cantiq jelita itu, dan memang
sudah menjadi takdir, bahwa sebelum
terjadi perang dengan kaum Muslimin,
Syafiah
bermimpi ‘tertimpa bulan’,
setelah diceritakan pada suaminya mimpi
itu, ia langsung mendapat tamparan,
karena ta’wil yang dipercaya oleh
suaminya sendiri “kalau begitu engkau
akan menikah dengan Muhammad itu”.
Pernikahan Nabi saw dan Syafiah sudah
mengikuti rukun2 dan syarat2 dari
undang2 yang berlaku pada waktu itu.
|
============
Sepintas mungkin ke 2 aLasan2 itu kayaknya MASUK
AKAL.tp mari kita baca dulu bagaimana MUHAMMAD
menyuruh utk MENYIKSA dan MEMENGGAL kepala dari
suami SAIFYAH ini
mari kita baca dari SIRAH NABAWIYAH ibnu HISYAM
SIRAH TERTUA islam,yaitu
SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM/IBNU ISHAQ,
inilah cerita ttg PEMBANTAIAN suami sAFIYAH tsb
PENYIKSAAN DAN PEMBUNUHAN KINANAH BIN AR_RABIAH
Perihal Kinanah
bin Ar-Rabi'ah dan Kematiannya
Ibnu Ishaq berkata, "Kinanah
bin Ar-Rabi' didatangkan kepada Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam,
karena
kekayaan Bani An-Nadhir ada padanya.
Beliau menanyakan kekayaan tersebut kepada
Kinanah bin Ar-Rabi', namun ia mengaku tidak
mengetahui tempatnya. Setelah itu, salah seorang
Yahudi didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam. Orang Yahudi
tersebut berkata, 'Aku pernah melihat Kinanah
mengelilingi reruntuhan benteng ini setiap
pagi.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda kepada Kinanah bin Ar-Rabi', 'Bagaimana
pendapatmu, kalau kami menemukan kekayaan
tersebut kemudian kami membunuhmu?' Kinanah bin
Ar-Rabi' menjawab, 'Ya.' Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam memerintahkan penggalian
re-runtuhan benteng tersebut hingga akhimya
sebagian kekayaan orang-orang Khaibar dapat
dikeluarkan daripadanya. Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bertanya kepada Kinanah bin
Ar-Rabi' tentang kekayaan lainnya, namun ia
bungkam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda kepada Az-Zubair bin Al-Awwam,
'Siksa dia hingga engkau bisa mendapatkan apa
yang ada padanya.' Az-Zubair bin Al-Awwam
menyalakan api dengan batang kayu di dada
Kinanah bin Ar-Rabi' hingga ia melihatnya,
kemudian
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
mendorong Kinanah bin Ar-Rabi' kepada Muhammad
bin Maslamah yang
kemudian memenggal kepalanya sebagai
pembalasan atas kematian saudaranya yaitu Mahmud
bin Maslamah." |
|
|
DEBAT: A SINA vs
MUHAMAD "RASULULLAH"
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=31
SAFIYAH
Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun
ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai
bagiannya dalam harta rampasan.
Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam
yang terpercaya.
http://www.prophetmuhammed.org/
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun
sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah
dicari dalam hadis).
“Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu 'I-Nadir.
Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang
yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi', pria
yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan
baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari
Sallam ibn Mishkam, yang menceraikannya
(???). Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia
dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik.
Disana mereka berdua bermalam.
Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar,
nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia
menjawab, ”Saya
khawatir tentang wanita ini denganmu.
Anda telah membunuh suami, ayah
dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya
sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”
Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi
yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang
berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak
sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada
hari yang sama suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang
ingin menyetubuhinya. Sikap nabi Allah, yang berumur 57 tahun ini, yang
tak dapat menahan birahi untuk satu hari saja dan mengijinkan gadis muda
ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.
Sejarawan muslim pun mencatat bahwa perkawinan terjadi
satu hari setelah Muhamad menyetubuhinya.
Ini bukanlah masalah untuk nabi karena Allah telah mengeluarkan ayat
yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa perkawinan,
meskipun mereka telah menikah. “dan semua wanita yang telah menikah
(terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki…(Q. 4:24)
Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi tidak mengganggap bahwa budak
mempunyai hak apapun. Anda bisa saja wanita yang telah menikah dan
berbahagia, namun jika Muhamad dan para pengikutnya menyerang kotamu,
kamu akan kehilangan semua hak yang kamu punya dan sementara suamimu
dibunuh atau diperbudak, Anda dapat diberikan pada seorang Mujahidin
Muslim yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho Allah.
Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.
Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata,”Safiyah, ayahmu
selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukumnya.” Dan
Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena
kesalahan orang lain?”
"Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa
pendosa lainnya” Q. 53:38
Ini tentu saja bertolak
belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa
dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah
yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja
tidak pernah mengklaim bahwa Tuhanlah yang membantai kaum Yahudi dalam
PD II.
“Nabi kemudian memberikannya pilihan : bergabung dng sukunya setelah
bebas ATAU menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dgn nabi."
(Tabaqat)
Kami harus ingat bahwa Muhamad membantai kebanyakan sukunya dan mengusir
sisanya yg masih hidup (mungkin karena mereka wanita peot2-ali5196).
Jadi Safiyah tidak punya banyak 'plilihan'.
"Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik.
Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad
(???) iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia
telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia
baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana
pendapatmu tentang dia?”, jawabnya,”Ia adalah benar nabi yang telah
diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang
harus dilakukan?” jawabannya adalah mereka harus menentangnya sekuat
tenaga. " (Tabaqat)
(Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi yang
mengenali Muhamad sebagai orang yang diramalkan dalam kitab mereka
(TAURAT) dan kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA ? LOGISKAH INI ?
Bukan hanya itu, dimanakah dalam Taurat disebut tentang Muhamad ?
Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan
ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum
terpelajar muslim tak mampu menemukannya?)
“Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia
merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai
cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat
jatuhnya Khaibar.” (Tabaqat)
Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim ?
Tadinya ia mengatakan bahwa
Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu
berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, namun ia dibawa ke
hadapan sang nabi karena dia masih muda dan tercantik diantara tawanan
lainnya.
Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran
Khaibar dalam hadis.
Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz:
"Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad
dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka
tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi
membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan
dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan (Sahih Bukhari V.5
B.59 N.512).
Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata,” Oh Nabi Allah!
Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata, “Pergilah
dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint
Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata,” Oh nabi
Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah
istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.”
Maka nabi berkata, "Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama
Safiya, dan nabi berkata, “Carilah budak
perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemudian nabi mengambil dan
mengawini dia.
Thabit lalu bertanya pada Anas, “Apa mahar yang diberikan sebagai mas
kawinnya?” Ia berkata "dirinya sendiri
merupakan mahar yang harus dibayar ketika nabi menikahinya. Di
perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan
malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.” (Sahih
Bukhari 1.367)
Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria
saat pernikahan. Muhamad tidak membayar mahar
karena ia harus membayarnya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang
budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun
memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini
sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorag abi Tuhan.
Dan ... ceritanya belon selesai ... lagi2
Muhammad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah
dia akan menerima dua imbalan. Pertama, dengan menghindari mahar
karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja,
kedua ia dapat 'menikahi' gadis tercantik yang
40 tahun lebih muda darinya.
KESIMPULAN
... Inti permasalahan yang anda lewati adalah bahwa Muhamad mengklaim
diri sebagai nabi Tuhan untuk segala zaman dan
semua bangsa. Ia memperkenalkan diri sebagai Nabi Terakhir dan
Yang Terbaik dari Semuanya. Ia bersikeras bahwa ia mempunyai ”moral
yang maha mulia” 68:4, dan ia adalah, “contoh
yang harus diikuti” 33:21, ”Maha
pengampun semua mahkluk” 21:107 dan ”Nabi
yang paling terhormat” 81.19.
Namun berdasarkan apa yang telah kita telusuri, ternyata tidak begitu
adanya.
Apakah contoh yang diberikan Muhamad dalam kisah Juwairiyah dan Safiyah
sepatutnya diikuti oleh para muslim?
Jika ada menyetujuinya maka para muslim seharusnya menyerang rumah-rumah
non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda
berkata TIDAK dan tindakan Muhamad pada jaman tersebut tidak dapat
diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan
bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.
Yang menjadi masalah adalah bahwa orang2
muslim tidak konsisten. Apakah kita harus mengikuti contohnya apa tidak?
Apakah ia memberi contoh yang baik untuk kemanusiaan untuk diikuti atau
tidak?
Muhamad bukan hanya figur sejarah. Sebelum menjadi Presiden USA,
Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin
tindakan itu dianggap biasa,
namun tidak ada orang
yang mengatakan bahwa tindakannya merupakan contoh yang harus diikuti
UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !
Membahas Kebrutalan si nabi Setan
terhadap Kinanah suami Shafiyah
------------------------------------------------------------------
sumber: http://www.infolink-islam.de/Main//Silas/kinana.htm
Muhammad menyerang dengan agresif beberapa kelompok orang di
sekelilingnya. Salah satu kelompok ini adalah orang Yahudi dari Khaibar.
Muhammad percaya Tuhan yang membawanya menyerang Khaibar. Setelah
Khaibar ditaklukkan, orang Yahudi diperbudakkan, dibunuh atau dibiarkan
hidup di sana asalkan mereka memberi para Muslim separuh dari apa yang
mereka hasilkan. Salah satu tindakan Muhammad yang paling keji adalah
terhadap seorang tawanan bernama Kinana. Kinana adalah salah seorang
pemimpin di Khaibar. Muhammad ingin dia mengungkapkan di mana harta yang
terkubur disembunyikan. Kinana menolak. Muhammad lalu menyiksanya hingga
hampir mati, lalu memerintahkan pemenggalan kepalanya.
...
Pada halaman 515 dari “The Life of Muhammad”, yang merupakan terjemahan
dari buku Ibn Ishaq “Sirat Rasul Allah” (Kehidupan Rasul Allah),
kejadian penaklukan Khaibar ini diperinci. Kejadian ini terjadi sekitar
3 tahun sebelum kematian Muhmaad akibat keracunan. Khaibar adalah tempat
hidup Yahudi yang besar, sekitar 95 mile di utara Medina. Orang Yahudi
di sana umumnya petani. Khaibar terkenal akan kurma-kurmanya yang
terbaik di daerah itu. Orang Yahudi di sana kaya-kaya karena mereka
bekerja keras dan berhasil karenanya.
Sebelum penaklukan Muhammad akan Khaibar, dia baru saja dihentikan orang
Mekka dalam usahanya naik haji ke Mekka. Di luar Mekka, dia juga telah
menandatangani perjanjian yang memperalukannya dihadapan orang Mekka –
perjanjian yang tidak disukai beberapa pengikut utamanya. Untuk
menenangkan mereka, Muhammad lalu mengakui telah menerima “wahyu” bahwa
Tuhan akan memberi mereka harta milik orang Yahudi di Khaibar. Enam
minggu kemudian, dia pun menyerang Khaibar dengan tujuan untuk
menaklukannya dan merampoknya.
Biographi tertua tentang Muhammad disebut “Sirat Rasulallah” – Kehidupan
Nabi Allah. Buku ini ditulis oleh Ibn Ishaq, seorang cendekiawaan Islam
yang taat, yang kemudia direvisi oleh Ibn Hisham. Buku ini ditulis
sebelum adanya usaha pengumpulan Hadist besar-besaran, dan dianggap
sebagai biographi Muhammad yang paling otentik. Terjemahannya dalam
bahasa Inggris oleh A. Guillaume dikenal dengan “The Life of Muhammad.”
Halaman 515 :
"Kinana al-Rabi, yang dipercayai untuk menangani harta kekayaan
(bendahara) Banu Nadir, dibawa menghadap nabi yang menanyai dia tentang
hal itu. Dia membantah tahu di mana harta itu. Seorang Yahudi datang
(menurut Tabari “dibawa menghadap) kepada nabi dan berkata bahwa dia
telah melihat Kinana pergi ke satu reruntuhan pagi-pagi setiap hari.
Ketika nabi bertanya pada Kinana, “Tahukah kamu jika kami menemukannya
kamu akan aku bunuh?” dia menjawab, “Ya.” Nabi lalu memerintahkan agar
reruntuhan itu digali dan beberapa dari harta kekayaan ditemukan. Ketika
dia (nabi) menanyakannya (Kinana) tentang harta lainnya, dia menolak
mengungkapkannya, maka nabi memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam,
"Siksa dia hingga kamu dapat apa yang dia punya." Lalu dia menyalakan
api dengan batu keras dan baja di dadanya hingga dia hampir mati. Lalu
nabi menyerahkannya kepada Muhammad b. Maslama dan dia penggal
kepalanya, sebagai balas dendam bagi saudara lelakinya Mahmud.”
Menurut saya, perintah Muhammad untuk menyiksa Kinana untuk mendapatkan
“harta tertimbun” adalah sama seperti yang dilakukan para penjahat untuk
mendapatkan uang dan harta milik orang. Saya bayangkan anggota gang
mafia memukul orang atau meyiksa mereka supaya mereka berbicara.
“Bicaralah! Katakan dimana uangnya! Atau akan kami bikin tambah sakit!”
Di sini, Muhammad memerintahkan supaya seorang lelaki disiksa untuk
“Bicara!” Akhirnya, setelah dia hampir mati, Muhammad memerintahkan agar
kepalanya ditebas.
QUESTIONS
1) Renungkan kata-kata Muhammad, “Siksa dia hingga kau dapatkan apa yang
dia punya.” Ini adalah tindakan nabi Islam ketika dia punya kekuasaan
dengan pedang. Manusia macam apakah nabi Islam ini? Bagaimana perasaan
anad jika anda menonton laporan berita dan mendengar ini terjadi di
kampung anda?
2) Muslim mengeluh tentang apa yang dilakukan orang Serbia terhadap
Muslim di Bosnia, dan saya setuju dengan Muslim-muslim itu. Tetapi siapa
saja yang mempelajari kelakuan Muhammad ini akan melihat bahwa Muhammad
melakukan hal yang sama kejinya kepada orang-orang. Jika di zaman
sekarang Muslim merasa mereka berhak mengeluh tentang kelakuan orang
Serbia di Bosnia, tidakkah mereka merasa bahwa tindakan Muhammad juga
mesti dikecam?
3) Berapa rampokan akan cukup? Muhammad telah mendapatkan harta kekayaan
Khaibar. Tidak diragukan lagi dia telah mendapat banyak kekayaan.
Mestikah dia lakukan lagi apa yang telah dilakukannya terhadap Kinana?
4) Dengan contoh teladan yang diberikan Muhammad dalam perampokan,
perbudakan, penyiksaan dan pembunuhan ini, apakah mengherankan jika
hal-hal serupa sekarang terjadi di dunia Muslim? Kita semua tahu apa
yang terjadi di Algeria, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Mali dan
Mauritania. Keganasan-keganasan itu tidak dilakukan oleh kelompok
narkoba, atau mafia, atau bahkan kelompok revolusi politk, tetapi oleh
Muslim yang taat. Muslim-muslim ini ingin menegakkan Islam mereka,
seperti yang dilakukan Muhammad. Karena itu mereka percaya mereka berhak
melakukan apa yang telah dilakukan Muhammad. Ingatlah, Muslim diwajibkan
mengikuti cara hidup Muhammad atau apa yang disebut “Sunnah”. Jika
Muhammad diperbolehkan melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap
manusia, hanya untuk mendapat uang, maka Muslim zaman sekarang pun boleh
melakukan hal yang sama. Inikah yang Muslim inginkan sebagai landasan
pembangunan masyarakat?
5) Muslim yang memilih mengikuti Muhammad, memilih untuk menghalalkan
dan mendukung perbuatan jahatnya. Mengapa menaruh keabadian, surga atau
neraka, di tangan seorang seperti Muhammad? Inikah orang yang anda rela
menaruhkan keabadian?
CONCLUSION
Tindakan Muhammad di sini adalah tindakan berdosa. Dipacu oleh ketamakan
dan kebencian. Tindakan-tindakan ini bukanlah tindakan seroang nabi
Tuhan yang sejati, melainkan kelakukan seorang yang berkeras melakukan
apa yang dia mau dan memuaskan nafsunya sendiri.
Ketamakan Muhammad mendorongnya melakukan hal-hal jahat; menyiksa,
kemudian membunuh seorang manusia, hanya untuk memperoleh uang.
Sirat Rasullallah, hal 515
Kinana al-Rabi, yg memegang harta Banu Nadir, dibawa
kehadapan rasul yg menanyainya tentang harta tsb. Dia menyangkal tahu
tentang tempat harta tsb. Seorang yahudi datang (Tabari menulis
“dihadapkan”), pada rasul dan berkata bahwa dia pernah melihat Kinana
pergi kesuatu tempat reruntuhan setiap pagi buta. Ketika rasul berkata
pada Kinana, “Tahukah kau bahwa jika kami menemukan harta itu kami akan
membunuhmu?” Dia bilang, “Ya”. Rasul memberi perintah agar mencari dan
menggali ditempat reruntuhan dan beberapa harta ditemukan. Ketika rasul
bertanya harta lainnya dia menolak mengatakannya, jadi rasul
memerintahkan al Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia sampai dia mengatakannya.”
Dia membakar kayu dan besi dan menempelkan didada kinana sampai dia
hampir mati. Lalu rasul memberikannya pada Muhammad b. Maslama dan dia
memotong kepalanya, sebagai balas dendam akan saudaranya Mahmud.
Berikut ini kisah Shafiya yang telah dimanipulasi
untuk menutupi kebejatan Muhammad.
Biar bagaimana pun juga cerita oleh Profesor Hasan Qaribullah ini sama
sekali tidak bisa dipandang sahih karena tidak berdasarkan Hadist dan
Alquran.
Lady Safiyah, Daughter of
Huyay
By: Grand Shaykh, Professor Hasan Qaribullah
Dean of Umm Durman Islamic University and Sammania Grand Shaykh
Safiyah was the daughter of Huyay from the Jewish tribe of Nadir. She
was quite unlike her father and since early childhood had grown in piety
and become an upright young lady in search of the truth. During her
childhood she had heard stories about the expected coming of a new
prophet and learned that the reason why her ancestors had settled in
Yathrib, as Medina was then called, was because the prophecies foretold
he would appear in that vicinity and each tribe hoped the honor would
belong to their own tribe. Safiyah remembered well the days, when she,
as a young girl, had heard from traders returning from Mecca of a man
claiming to be a prophet and that he denounced idol worship and preached
the Oneness of Allah. She also remembered how it had caused such an
upheaval in her community as the Prophet (sa) was an Arab, a descendant
of Ishmael rather than a Jew descended from Isaac.
She also remembered how, at the age of ten, she had seen both her father
and uncle journey from Medina to prove to themselves that the rumors
where unfounded. Both of them knew the characteristics of the expected
prophet as well as the signs to look for as they had been recorded in
their scriptures and that his expected arrival was a constant topic for
discussion amongst the Jews. Upon their return Safiyah had been unable
to comprehend their reaction and even more so their state of depression.
In the purity of her heart, she had expected them either to return with
the news that he either fulfilled or did not fulfill the conditions in
the scriptures, but they were silent and their silence puzzled her.
Shortly before the Prophet (sa) had set out for Khybar. Huyay had
married the now seventeen-year old Safiyah to Kinanah. To the onlooker
it may have appeared that the marriage was all a young girl could ever
hope for on account of Kinanah's wealth and standing. However, she was a
reluctant bride and far from happy. One night Safiyah had a vision in
which she saw the moon suspended over a city, which she knew to be
Medina. In her vision she saw the moon drift towards Khybar and when it
reached the city it had come to rest in her lap. Innocently, Safiyah
told Kinanah of her vision whereupon, in an uncontrollable burst of
anger, Kinanah struck her violently upon her face saying, "This can mean
but one thing, you desire Muhammad the King of Hijaz!" When Safiyah was
brought before the Prophet (sa) he noticed her badly bruised face and
asked her about it whereupon Safiyah told him of her vision and how
after she had related it to her husband he had struck her. When the
spoils of war were being divided, Safiyah had been given to a man from
the tribe of Kalb by the name if Dihyah. When the Prophet (sa) learned
of her vision he asked him to release her to him and take her cousin
instead. Dihyah agreed and the Prophet (sa) offered her, her freedom
telling her that if she wished she may remain as a Jewess or embrace
Islam. Without hesitation, Safiyah replied, "I choose Allah and His
Messenger (sa)." And so when the time came for the Muslims to leave
Khybar, Safiyah left with the ladies. Soon thereafter the Prophet (sa)
asked Lady Safiyah to marry him and she welcomed the proposal and the
two were married.
Home | Halaman Dalam | Forum Diskusi | Album Foto |